BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Curcuma mangga Val. memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai
antioksidan dan tabir surya alami karena mengandung golongan flavonoid dan kurkumin. Flavonoid dan kurkumin mampu mengabsorpsi sinar UVA dan UVB.
Tujuan penelitian ini yaitu, memformulasikan ekstrak etanol 96% Curcuma manga menjadi sediaan krim yang memiliki aktivitas antioksidan dan nilai SPF. Formulasi sediaan krim ekstrak etanol 96% rimpang temu mangga Curcuma mangga Val. dengan variasi konsentrasi 5% (F1), 10%(F2), dan 20%(F3). Hasil aktivitas antioksidan ekstrak menghasilkan antioksidan yang kuat dengan nilai IC50 yaitu 84,824 ppm, ekstrak etanol 96% dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dengan mutu fisik yang memenuhi persyaratan yaitu F1 dengan parameter organoleptis, pH, homogenitas, viskositas dan daya sebar. Hasil antioksidan menunjukkan bahwa
sediaan krim yang dibuat dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 20% menghasilkan antioksidan yang lemah dengan nilai IC50 berturut-turut yaitu, 34.058,193 ppm, 31.856,362 ppm, dan 15.052,329 ppm dengan pembanding vitamin C yang memiliki nilai sebesar 3,518. Hasil pengujian Sun Protecting Factor terhadap sediaan krim menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak yang digunakan maka semakin besar nilai SPF yang dihasilkan dengan niali SPF tertinggi yaitu F3 19,242. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak kental
rimpang temu mangga dapat digunakan sebagai antioksidan alami dan memiliki nilai SPF yang baik dalam sediaan sediaan krim.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tanaman salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan tanaman
yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Kulit batang salam mengandung
senyawa alkaloid, tanin, tanin dan flavonoid. Alkaloid dapat menghambat aktivitas
enzim lipase pankreas sehingga meningkatkan sekresi lemak melalui feses, tanin
menghambat penyerapan lemak di usus dengan cara bereaksi dengan protein
mukosa dan sel epitel usus sedangkan fenolik dan flavonoid mengurangi kadar
kolesterol dalam darah dengan menghambat kerja enzim HMG-CoA reduktase.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya aktivitas
antikolesterol dari ekstrak kulit batang salam serta membandingkan pelarut mana
yang lebih baik dalam menurunkan kolesterol. Kulit batang salam dibuat ekstrak
secara maserasi menggunakan pelarut air, etanol dan etil asetat. Masing-masing
ekstrak diuji kandungan fitokimia kemudian diukur penurunan kadar kolesterol
dengan dibuat deret konsentrasi 50-150 ppm. Aktivitas penurunan kadar kolesterol
dilakukan dengan menambahkan pereaksi Lieberman-Buchard dan diukur dengan
Spektrofotometer UV-Vis. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak kulit batang
salam mengandung flavonoid, tanin, triterpenoid, saponin dan fenol. Pada
penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak air, etanol dan etil asetat memiliki
aktivitas antikolesterol secara in vitro. Persen penurunan kadar kolesterol pada
konsentrasi paling rendah (50 ppm) yang paling baik yaitu ekstrak etanol dengan
persentase 73,9% dibandingkan dengan ekstrak air sebesar 70,19% dan ekstrak etil
asetat sebesar 68%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Upaya penurunan kadar kolesterol darah yang tinggi pada penderita
hiperkolesterolmia dapat dilakukan dengan menggunakan bahan alam yang
mengandung zat antikolesterol. Bahan alam yang biasa digunakan sebagai obat
tradisional ialah rimpang kunyit dan daun salam. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis potensi antikolesterol ekstrak etanol 96% rimpang kunyit (Curcuma
longa L.) dan daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) baik ekstrak
tunggal maupun kombinasinya. Ekstrak etanol 96% kedua bahan tanaman diperoleh
dengan metode maserasi. Kandungan golongan senyawa aktif ekstrak diuji secara
kualitatif melalui uji fitokimia. Potensi ekstrak sebagai antikolesterol diuji dengan
pereaksi Lieberman Burchard dan diukur dengan spektrofotometer, hingga
diperoleh nilai konsentrasi ekstrak yang dapat menghambat 50% kolesterol (IC50).
Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak rimpang kunyit dan daun salam
mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Kandungan golongan
senyawa antikolesterol pada ekstrak rimpang kunyit lebih baik (53,25%)
dibandingkan ekstrak daun salam (43,61%). Hasil uji potensi antikolesterol
menunjukkan ekstrak kunyit memiliki potensi antikolesterol (IC50 = 83,179 ppm)
yang lebih baik dari pada ekstrak daun salam (IC50 = 88,288 ppm). Sedang pada
kombinasi ekstrak kunyit dan daun salam 1:1 (IC50 = 82,714 ppm) mempunyai
potensi antikolesterol yang lebih baik daripada kombinasi 1:3 (IC50 = 282,957 ppm)
dan 3:1 (IC50 = 96,713ppm). Secara keseluruhan potensi antikolesterol kombinasi
ekstrak kunyit dan daun salam 1:1 lebih baik dari ekstrak tunggalnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Propionibacterium acnes adalah bakteri yang dapat menyebabkan jerawat melalui
peradangan kronis pada lapisan folikel pilosebasea disertai sumbatan dan
penumpukan bahan keratin. Tujuan penelitian yaitu mengetahui kandungan
metabolit sekunder ekstrak etanol 96% kulit jeruk lemon yang berfungsi sebagai
antibakteri, menentukan aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes
dari ekstrak kulit jeruk lemon dan sediaan serum. Pengujian aktivitas antibakteri
menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak
mengandung flavonoid, fenolik, glikosida, saponin dan tritepenoid. Formulasi
serum ekstrak etanol kulit jeruk lemon dibuat dengan konsentrasi bervariasi 20%,
25% dan 30%. Zona hambat antibakteri yang diperoleh dengan konsentrasi terbaik
ada pada formula 30% adalah sediaan serum dengan nilai 14,40 mm dan ekstrak
kulit jeruk lemon dengan nilai 12,76 mm keduanya masuk dalam kategori kuat
karena >10 mm. Stabilitas fisik dilakukan pada semua formula sediaan serum dan
diuji dengan organoleptik, homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat dan
uji viskositas. Adapun formula yang stabil setelah uji stabilitas adalah formulasi 1
selama 12 hari pada suhu 4°C dan 40°C. Pada penelitian ini dapat diambil
kesimpulan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol 96% kulit jeruk lemon
semakin tinggi diameter zona hambat. Analisis statistik menunjukkan bahwa
peningkatan konsentrasi ekstrak dalam efek formula adalah signifikan (p<0,05)
pada aktivitas antibakteri.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Salah satu bahan alam yang dapat di manfaatkan sebagai alternatif pengobatan
antifungi adalah daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) dan Rimpang Kunyit
(Curcuma domestica). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas
antifungi dari ektrak etanol 96% daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) dan
daun Rimpang Kunyit (Curcuma domestica). dan kombinasinya terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans. Daun Pegagan dan Rimpang Kunyit
diekstraksi dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh
dilakukan uji fitokimia dan penentukan aktivitas antifungi dengan metode sumuran.
Senyawa fitokimia yang terkandung dalam Pegagan adalah tanin, saponin dan
flavanoid. Sedangkan Rimpang Kunyit terdapat kandungan senyawa fitokimia
flavanoid, alkoloid, tannin, dan saponin. Diameter zona hambat ekstrak etanol daun
Pegagan dan Rimpang kunyit yang tertinggi pada konsentrasi 40% dan 40% dengan
nilai 13,26 mm (kategori kuat) dan 13,36 mm (kategori kuat). Aktivitas antifungi
terhadap Candida albicans terbaik pada kombinasi ekstrak etanol daun
Pegagan:dan Rimpang Kunyit (2:1) dengan nilai 13,36 mm (kategori kuat). Oleh
karena itu, ekstrak etanol daun pegagan dan dan Rimpang Kunyit mempunyai
potensi antifungi terhadap Candida albicans.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Tumbuhan mimba (Azadirachta indica A.Juss) yang berasal dari India, banyak
ditanam di pulau Jawa, Madura, Bali dan Nusa Tenggara, karena hampir semua bagian
tumbuhannya dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat untuk berbagai
penyakit. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan daun mimba mengandung senyawa
golongan terpenoid, flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, asam lemak, steroid dan
triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan total fenol dan
flavonoid serta profil metabolit sekunder pada ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol
96% daun mimba daerah Bogor. Ekstrak ketiga pelarut daun mimba diperoleh dengan
metode maserasi serbuk simplisia, kandungan metabolit sekunder ekstraknya secara
kualitatif diidentifikasi melalui uji fitokimia dan secara kuantitatif kadar total flavonoid
dan fenol ditetapkan dengan metode spektrofotometri, dan profil senyawa metabolit
sekundernya diidentifikasi dengan metode Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan
Liquid Chromatography Mass Spectrometry (LCMS). Hasil penelitian menunjukkan
ekstrak etanol 96% daun mimba mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, tannin, dan
steroid. Ekstrak etil asetat memiliki kandungan yang hampir sama dengan ekstrak
etanol, tetapi tidak mengandung tanin dan memiliki triterpenoid. Sedang ekstrak n-
Heksan hanya memiliki kandungan senyawa alkaloid dan fenol. Kadar total fenol pada
ekstrak etanol 96% (142,2 mg GAE/gram) lebih besar dari pada ekstrak etil asetat
(113,9 mgGAE/g), dan ekstrak n-Heksan (65,1 mgGAE/g). Sedang kadar flavonoid
ekstrak etanol 96% (67,1 mgQE/g) lebih besar dari pada ekstrak etil asetat (61,4
mgQE/g) dan ekstrak n-Heksan (49,5 mgGE/g). Kelarutan fenol dan flavonoid semakin
tinggi pada pelarut yang bersifat polar. Hasil analisis dengan FTIR pada ekstrak etanol
96% profil daun mimba menunjukkan banyaknya spektrum gugus -OH, diikuti oleh
adanya C-H3, C=C, C-O. Sedang hasil analisis dengan LCMS diperoleh masa molekul
sebesar 566 dengan formula C30H56N5O5 yang mencerminkan dominasi senyawa
alkohol.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh
ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi insulin yang ditandai dengan
hiperglikemia. Salah satu terapi yang digunakan untuk menurunkan kadar glukosa
darah adalah dengan menggunakan obat-obatan yang memiliki mekanisme kerja
dengan menghambat enzim α-glukosidase, sehingga dapat menunda penyerapan
glukosa di saluran pencernaan. Salah satu tanaman yang berpotensi menghambat
enzim α-glukosidase adalah daun salam. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui aktivitas ekstrak etil asetat dan fraksi kromatografi kolom daun salam
dalam menghambat enzim α-glukosidase. Ekstrak etil asetat diperoleh melalui
proses partisi cair-cair dari ekstrak etanol 96%. Ekstrak etil asetat dipisahkan
dengan fraksinasi menggunakan kromatografi kolom dan KLT dengan substrat
pNPG dan kontrol positif acarbose. Pengujian aktivitas penghambatan enzim α-
glukosidase menggunakan ELISA reader dengan panjang gelombang 405 nm. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas penghambatan
enzim α-glukosidase dengan IC50 sebesar 87,93 ppm. Fraksi F-5.5 merupakan fraksi
terbaik dengan nilai IC50 sebesar 18,99 ppm. Aktivitas akarbosa dalam menghambat
enzim α-glukosidase memiliki nilai IC50 sebesar 18,05 ppm. Disimpulkan bahwa
fraksi F-5.5 memiliki aktivitas yang lebih baik dibandingkan ekstrak etil asetat
dalam menghambat enzim -glukosidase.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Eye shadow compact powder adalah sediaan kosmetik untuk mewarnai
kelopak mata dengan sentuhan artistic. Ekstrak mahkota kembang sepatu
(Hibiscus rosa sinensis L) mengandung pigmen alami antosianin yang berwarna
merah keunguan. Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan ekstrak mahkota
kembang sepatu sebagai pewarna pada formulasi eye shadow dalam bentuk
compact powder dan melakukan uji kesukan serta uji iritasi pada panelis.
Formulasi sediaan eye shadow yang dibuat dengan menggunakan zat warna
ekstrak mahkota kembang sepatu dengan konsentrasi 4% (F1), 6% (F2) dan 8%
(F3) dengan bahan tembahan talcum, titanium oksida, kaolin, parafin liquid,
nipasol, oleum rose. Pengujian yang dilakukan antara lain adalah uji organoleptik,
uji homogenitas, uji pH (derajat keasaman), uji daya oles,uji kesukaan dan uji
iritasi. Pemeriksaan organoleptis menunjukkan bahwa aroma keseluruhan sediaan
eye shadow adalah aroma oleum rose dan bentuk formulasi eye shadow adalah
berbentuk padat (compact powder) dengan warna F1 berwarna abu-abu muda, F2
berwarna abu-abu, F3 berwarna abu-abu tua. Untuk F3 adanya ketidak stabilan
warna pada saat 30 menit setelah dijadikan formulasi. Hasil uji kesukaan
menunjukkan F3 lebih disukai pada tekstur, aroma dan kecerahan warn. Hasil uji
iritasi bahwa pada sediaan eye shadow dengan ekstrak mahkota kembang sepatu
dalam bentuk compact powder tidak menunjukkan adanya iritasi pada keseluruhan
formulasi. Kesimpulan yang di dapat setelah di lakukan penelitian bahwa ekstrak
mahkota kembang sepatu dapat dijadikan formulasi eyeshadow dengan
menggunakan ekstrak mahkota kembang sepatu dalam bentuk compact powder.
Dan formulasi yang dibuat tidak menunjukkan adanya iritasi pada panelis.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hampir semua bagian tumbuhan mimba (Azadirachta indica A. Juss) memiliki
banyak kegunaan bahan obat alami untuk berbagai penyakit, seperti
antiinflamasi, antirematik, antipiretik, antikanker, dan sebagainya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder dan menentukan
aktivitas antioksidan pada ekstrak daun mimba. Ekstrak daun mimba diperoleh
melalui maserasi bertingkat serbuk simplisia daun mimba dengan pelarut etanol
96%, etil asetat, dan n-heksan. Kandungan metabolit sekunder tiap ekstrak
diidentifikasi melalui uji fitokimia dan aktivitas antiokiden tiap ekstrak
ditetapkan dengan metode penambatan radikal bebas atau metode DPPH (2,2-
diphenyl-1-picrylhydrazyl). Hasil penelitian menunjukkan uji fitokimia pada
ekstrak etanol 96% pada akhir maserasi bertingkat positif lebih banyak
mengandung jenis metabolit sekunder bersifat polar (alkaloid, fenol, flavonoid,
saponin, dan tanin) dari pada yang non polar (triterpenoid dan steroid). Sebagian
metabolit sekunder polar juga sudah terekstrak lebih dahulu oleh pelarut etil
asetat dan n-eksan (alkaloid dan fenol). Hasil penetapan aktivitas antioksidan
daun mimba pada ekstrak etanol 96%, etil asetat dan n-heksan berturut-turut
memiliki nilai IC50 sebesar 79,918 ppm, 81,238 ppm, dan 73,952 ppm. Nilai IC50
semua ekstrak tergolong kuat. Sedang nilai IC50 Vitamin C yang menjadi
pembanding sebesar 3,738 ppm tergolong sangat kuat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Salah satu bahan alam yang dapat di manfaatkan sebagai alternatif pengobatan
antifungi adalah daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dan daun sirih merah
(Piper cf. fragile Benth). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan
aktivitas antifungi dari ektrak etanol 96% daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi
L.) dan daun sirih merah (Piper cf. fragile Benth) dan kombinasinya terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans. Daun belimbing wuluh dan daun sirih merah
diekstraksi dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh
dilakukan uji fitokimia dan penentukan aktivitas antifungi dengan metode sumuran.
Senyawa fitokimia yang terkandung dalam belimbing wuluh adalah tanin, saponin
dan flavanoid. Sedangkan daun sirih merah terdapat kandungan senyawa fitokimia
flavanoid, alkaloid, tannin, dan saponin. Diameter zona hambat ekstrak etanol daun
belimbing wuluh dan daun sirih merah yang tertinggi pada konsentrasi 40% dan
45% dengan nilai 13,38 mm (kategori kuat) dan 13,28 mm (kategori kuat). Aktivitas
antifungi terhadap Candida albicans terbaik pada kombinasi ekstrak etanol daun
belimbing wuluh : daun sirih merah (2:1) dengan nilai 16,78 mm (kategori kuat).
Oleh karena itu, ekstrak etanol daun belimbing wuluh dan daun sirih merah
mempunyai potensi antifungi terhadap Candida albicans.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Selain pengobatan kimia, salah satu bahan alam secara empiris telah digunakan
sebagai penumbuh rambut adalah daun rambutan. Untuk memperoleh data
karakteristik ekstrak etanol 96% daun rambutan meliputi uji fitokimia, organoleptis,
dan pH. Aktivitas pertumbuhan dari ekstrak daun rambutan terhadap kelinci putih
jantan dengan parameter uji tesktur, warna, panjang dan bobot rambut Penelitian ini
diperlukan tiga ekor kelinci yang masing- masing diperlakukan sama dan di bagi
menjadi 5 kelompok pengujian yaitu kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak
5%,10%,15%. perlakuan dilakukan sehari 2x pagi dan sore dijam yang
samapengamatan tekstur rambut kelinci memiliki tekstur yang kasar, warna rambut
kelinci yang berubah menjadi kecoklatan setelah diolesi esktrak daun rambutan
selama 21 hari rata- rata panjang rambut hari ke-21 ekstrak 15% rata- rata memiliki
kemampuan pertumbuhan 16,57±5,62 mm dari perpanjangan rambut setiap
perlakuan terlihat bahwa pada hari ke- 21 hasil penimbangan bobot rambut ekstrak
daun rambutan mempunyai kenaikan bobot pada disetiap kelinci. Karakteristik
ekstrak etanol 96% daun rambutan memiliki pH 5,5, pada uji organoleptis ekstrak
daun rambutan memiliki bau khas, warna hijau kecoklatan dan homogen. Pengujian
fitokimia dari ekstrak daun rambutan positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil pengukuran bobot rambut masing- masing ekstrak memiliki bobot lebih baik dibandingkan kontrol negatif tetapi tidak lebih berat dibandingkan kontrol positif.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Streptococcus mutans adalah bakteri gram positif yang dapat kita temukan pada
rongga mulut manusia yang dapat menjadikan gangguan mulut hingga karies pada
gigi, karies gigi ini keadaan yang merusak jaringan pembentukan gigi oleh bakteri
Streptococcus mutans. Kulit Jeruk Purut (Citrus hystrix) (KJP) dan Daun Jambu biji
(Psidium guajava) (DJB) yang berfungsi sebagai antibakteri untuk bakteri
Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini untuk menghambat pertumbuhan bakteri
oleh ekstrak KJP dan DJB tunggal & pengkombinasian ekstrak untuk menghambat
bakteri Streptococcus mutans. Ekstrak tunggal dan kombinasi KJP dan DJB yang
digunakan adalah 20%, DMSO sebagai kontrol negatif serta Klorheksidin sebagai
kontrol positif. Hasil uji fitokimia untuk ekstrak KJP positif memiliki kandungan
alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan terpenoid. Aktivitas ekstrak tunggal
KJP dan DJB tunggal ekstrak dengan konsentrasi 20%, memiliki potensi untuk
menghambat bakteri dengan kategori kekuatan daya hambat dari 15,55 ± 0,025 mm
dan11,25 ± 0,037 mm golongan kuat untuk menghambat bakteri Streptococcus
mutans. Aktivitas ekstrak kombinasi mendapatkan hasil yang lebih sangat kuat
dengan daya hambat 28,33 ± 0,251 mm pada kombinasi KJP:DJB 3:1 untuk
menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Luka menyebabkan rasa tidak nyaman pada kulit sehingga saat terjadi luka
orang akan segera mengobati lukanya baik menggunakan obat sintetik maupun obat
tradisional. Daun gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) mengandung
senyawa flavonoid dan tanin yang dapat berkhasiat sebagai penyembuhan luka.
Penelitian ini bertujuan untuk uji efektivitas gel ekstrak etanol daun gaharu terhadap
luka sayat pada tikus putih jantan. Sampel uji dalam penelitian ini adalah ekstrak
kental etanol daun gaharu yang diperoleh dengan cara maserasi dan diformulasikan
dalam bentuk sediaan gel. Hasil uji Fitokimia pada ekstrak etanol daun gaharu
adanya senyawa Flavonid dan Tanin bersifat sebagai anti inflamasi, antialergi,
mencegah proses oksidasi, dan antioksidan. Flavonoid mencegah oksidasi dan
menghambat zat yang bersifat racun yang bisa timbul pada luka. Hasil penelitian
menunjukan sediaan gel ekstrak etanol daun gaharu berwarna hitam kecoklatan,
berbentuk gel yang homogen. Efektivitas penyembuhan luka sayat dari sediaan gel
ekstrak etanol daun gaharu dengan konsentrasi 4%, 6%, dan 8%. dimana luka
tertutup sempurna yaitu dengan ekstrak dengan konsentrasi 8% pada hari ke-5, luka
tertutup sempurna dengan ekstrak dengan konsentrasi 6% pada hari ke-7, luka
tertutup sempurna dengan ekstrak konsentrasi 4% pada hari ke-6, luka tertutup
sempurna pada kontrol positif (Bioplacenton) dan kontrol negatif (Basis Gel) pada
hari ke-8. Namun setelah dilakukan uji statistik menggunakan Kruskal Wallis
menunjukan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan p-
value 0,803 (P-value < 0,05). Dalam menyembuhkan luka sayat, ekstrak yang
paling baik menyembuhkan luka sayat adalah ekstrak dengan konsentrasi 8%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat mencegah dan
memperlambat kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas melalui
penghambatan mekanisme oksidatif. Daun salam memiliki aktivitas antioksidan
dengan kandungan senyawa flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh nilai IC50 dari ekstrak etil asetat fraksi etil asetat daun salam
(Syzygium polyanthum (Wigh) Walp.). Metode yang digunakan pada penetuan
antioksidan adalah metode peredaman radikal 2,2 difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH).
Pada penelitian ini daun salam diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol
96% kemudian dipartisi dengan etil asetat dan air. Ektrak etil asetat daun salam
diuji aktivitas antioksidannya serta dilakukan pemisahan dengan metode
kromatografi Lapis Tipis dan Kolom, hingga diperoleh fraksi dan sub fraksi
terbaik berdasarkan persen hambatnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa
ekstrak etil asetat memiliki nilai IC50 sebesar 72,54 ppm (kuat) dan F.5.6
merupakan fraksi terbaik sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 7,33 ppm
(sangat kuat). Pembanding yang digunakan yaitu vitamin C menunjukan nilai IC50
sebesar 5,52 ppm (sangat kuat). Antioksidan setelah fraksinasi memiliki aktivitas
lebih kuat dari ekstrak dengan katagori sangat kuat dan setara dengan vitamin C.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Pengobatan herbal telah digunakan sebagai pengobatan utama oleh 95% populasi
pada sebagian negara berkembang. Penelitian mengenai tanaman herbal terus
mengalami perkembangan terutama pada tanaman yang memiliki potensi aktivitas
antioksidan. Daun Garcinia mengandung senyawa tanin dan flavonoid yang
memiliki aktivitas antioksidan. Antioksidan erat kaitannya dalam memelihara dan
menjaga kesehatan manusia dengan cara menangkap radikal bebas. Radikal bebas
dapat secara signifikan menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit
kardiovaskular, kanker, disfungsi otak dan diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui aktivitas antioksidan esktrak etanol daun hijau dan daun gugur
dari tanaman Garcinia forbesii King, serta untuk mengetahui perbedaan aktivitas
antioksidan dari kedua jenis sampel daun. Pengujian aktivitas antioksidan
dilakukan menggunakan metode DPPH dengan instrumen pengukuran yang
digunakan yaitu Spektrofotometer UV-Vis. Masing-masing simplisia daun hijau
dan daun gugur diesktraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol
70%. Masing-masing ekstrak kemudian dilakukan pengujian fitokimia untuk
mengetahui metabolit sekunder yang terkandung didalamnya. Keduanya
memberikan hasil positif untuk beberapa golongan senyawa kimia yaitu alkaloid,
flavonoid, tanin, dan saponin. Uji aktivitas antioksidan esktrak etanol daun hijau
memberikan hasil IC50 sebesar 98,657 μg/mL dan ekstrak etanol daun gugur
memberikan hasil IC50 sebesar 106,637 μg/mL. Berdasarkan analisis data % inhibisi
kedua ekstrak menggunakan uji statistik t-Test, perbedaan kondisi daun hijau dan
daun gugur tidak memiliki dampak signifikan terhadap aktivitas antioksidan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Krim merupakan bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi kental
mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui stabilitas sediaan krim ekstrak daun
mengkudu (Morinda citrifolia L) dengan metode cycling test dan untuk evaluasi
sediaan krim ekstrak etanol daun mengkudu (Morinda citrifolia L) sebagai
antioksidan. Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi, Maserasi
bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat oleh pelarut, dengan prinsip meode
pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Krim antioksidan dibuat menjadi 3
formulasi dengan konsentrasi ekstrak yang berbeda-beda yaitu Formulasi 1 (0,5g)
Formulasi 2 (1g) Formulasi 3 (1,5g). Formulasi krim ektrak etanol daun mengkudu
memenuhi persyaratan evaluasi krim, meliputi pengujian kadar air, organoleptik,
homogenitas, pH, daya lekat, diameter globul, kecuali uji daya sebar. Formulasi
krim ekstrak etanol daun mengkudu dengan uji evaluasi sediaan memiliki hasil:
kadar air 3,64%, homogenitas: homogen, pH 5,34, daya sebar 3,53 cm, daya lekat
30,90 detik, diameter globul 2,851, antioksidan 24,56ppm. Hasil uji stabilitas
(Cycling test) homogenitas dan organoleptis pada F1,F2,dan F3 yaitu warna coklat
kehijauan, bau khas aromatik, Bentuk kental/semi solid, homogenitas homogen, pH
cycling test F1 5,04, F2 4,98, F3 4,99 . Hasil uji antioksidan yaitu kontrol negatif
730ppm, F1 71,41ppm, F2 59,13ppm, F3 24,56ppm, dan kontrol negatif 10,48ppm.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Daun sirsak merupakan tumbuhan suku Annonaceae dan daun johar merupakan tumbuhan suku Fabaceae yang mempunyai potensi sebagai obat antikanker, karena pada daun sirsak dan daun johar mengandung senyawa flavonoid, flavonoid adalah senyawa Fenolik yang terdapat pada pigmen tumbuh- tumbuhan yang diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakanuntuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari masing-masing ekstrak dan kombinasi antara daun
sirsak dan daun johar. Uji toksisitas menggunakan metode (BSLT) Brine Shrimp Lethality Test dengan Artemia Salina L sebagai bioindikator. Parameter yang digunakan adalah LC50 (Lethality concentration). Nilai LC50 dari ekstrak tunggal daun sirsak dan daun johar yang diperoleh sebesar 297,16 ppm, 256,44 ppm, dan untuk kombinasi 1:1,1:3,3:1, diperoleh sebesar 129,41; 172,16 dan 67,764 ppm. Hasil penelitian ini menunjukan masing-masing ekstrak tunggal dan kombinasi 1:1,1:3 termasuk kategori toksik sedang, untuk kombinasi 3:1 termasuk kategori sangat toksik. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kelima sampel tersebut memiliki potensi sebagai antikanker.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Daun yakon merupakan tanaman yang berasal dari pegunungan Andes yang
memiliki khasiat sebagai anti diabetes, anti oksidan, dan lain-lain, daun yakon dapat
digunakan sebagai bahan baku untuk obat herbal alternatif. agar bahan baku
tersebut sesuai dengan persyaratan mutu, maka dilakukan standardisasi. Tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui nilai standar mutu serta identitas dari ekstrak etanol
96% daun yakon yang mengacu kepada Farmakope Herbal Indonesia. Metode yang
dilakukan meliputi beberapa tahap antara lain, persiapan simplisia, ekstraksi dengan
metode maserasi, perhitungan rendemen, penapisan fitokimia, perhitungan bobot
jenis ekstrak, penetapan kadar air dengan metode gravimetri, pengujian angka
logam berat Pb dan Cd menggunakan metode spektrofotometri, dan pengujian
cemaran mikroba angka lempeng total dan angka kapang khamir. Hasil dari
penelitian ini menyebutkan bahwa ekstrak etanol daun yakon memiliki kandungan
fitokimia alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid dengan nilai
rendemen 9,59%, kadar total flavonoid sebesar 8,432 mg QE/g Ekstrak, kadar abu
total sebanyak 5,59%, kadar air 3,6%, kadar logam Pb dan Cd tidak terdeteksi,
angka lempeng total dan angka kapang khamir negatif. Kesimpulan dari penelitian
ini bahwa ekstrak etanol 96% daun yakon yang berasal dari perkebunan di
Wonosobo memenuhi standar mutu untuk dapat dijadikan sebagai bahan obat
herbal.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Kulit merupakan penghalang untuk melindungi tubuh dari dunia luar, dan
kelembaban bibir dijaga oleh kulit. Salah satu penyebab bibir menjadi kering dan
pecah-pecah adalah karena perlindungan bibir yang buruk. Lip balm merupakan
sediaan kosmetik dekoratif yang melembabkan bibir dan membantu mencegahnya
mengering dan pecah-pecah. Diantara tanaman yang bisa digunakan sebagai
pewarna alami adalah bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) karena mempunyai
kandungan antosianin. Eksperimen ini bertujuan untuk membuat formulasi
sediaan Lip Balm yang mengandung ekstrak bunga rosella sebagai pewarna alami
dengan mempunyai mutu fisik dan stabilitas yang baik. Sediaan Lip Balm dibuat
dengan variasi ekstrak bunga rosella 5%, 10%, dan 15%. Formulasi yang
dihasilkan kemudian di evaluasi sediaan dan dilakukan stabilitas dengan metode
Cycling Test selama 6 siklus. Evaluasi tersebut meliputi uji orgnoleptis, uji pH, uji
homogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat, uji titik lebur dan uji daya oles. Hasil
penelitian sebelum dan setelah dilakukan stabilitas menunjukkan bahwa sediaan
Lip balm degan konsentasi ekstrak 15% mempunyai mutu fisik dan stabilitas yang
baik, kecuali pada pH dan daya sebar yang tidak memenuhi persyaratan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Lip balm yaitu pelembab bibir dalam bentuk sediaan semi solid dalam bentuk
bahan utama yaitu minyak, lemak dan lilin serta berfungsi untuk memberikan
perawatan pada kulit bibir dengan anggapan akan memberikan wajah yang lebih
percaya diri. Lip balm sendiri yaitu sediaan kosmetik dengan basis hamper sama
dengan formulasi lipstick, namun tanpa adanya warna atau trasparan. Banyaknya
lip balm yang sudah terdapat warna di mendorong peneliti membuat sediaan lip
balm ekstrak kayu secang sebagai pewarna alami dari ekstrak kayu secang
(Caesalpinia Sappan L) untuk menghindari pewarna sintetik. Tujuan dari penelitian
kali ini membuat sediaan lip balm dengan metode infusa dan konsentrasi warna
alami. Dibuat 3 formulasi yaitu 0,3%, 0,6% dan 0,9% dengan ekstrak kering kayu
secang lalu dilakukan evalusi sediaan meliputi uji homogenitas, uji pH, uji daya
lekat, uji organoleptik dan uji kesukaan. Hasil pengujian evaluasi menunjukan hasil
yang baik denganp pengamatan selama 14 hari dan hasil uji kesukaan menunjukan
konsentrasi 0,6% yang paling disukai.