BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Jarak pagar (Jatropha curcas L) telah banyak digunakan masyarakat luas untuk
dijadikan tanaman berkhasiat bagi kesehatan. Senyawa bersifat antibakteri,
sehingga daun jarak pagar ini dapat dijadikan sebagai obat tradisional. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa fitokimia dan aktivitas
antibakteri. Ekstrak daun jarak pagar diformulasikan dalam sediaan lotion untuk
menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acne, Stoplycocccus
epidermidis dengan 3 konsentrasi 10,15 dan 20%. Metode penelitian menggunakan
difusi cakram, hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 96% daun jarak pagar
mengandung flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, fenol. Hasil penelitian
aktivitas bakteri Propionibacterium acne pada esktrak etanol daun jarak pagar
(Jatropha curcas L) memiliki daya hambat 9,23 mm, 11,13 mm dan bakteri
Stoplycocccus epidermidis memiliki daya hambat 5,6 mm, 10,83 mm, 12,7 mm.
Sediaan lotion esktrak daun jarak pagar pada formula 1 memiliki daya hambat
19,89 mm, formula 2 21,46 mm, formula 3 memiliki daya hamba 19,74 mm,
formula 2 memiliki zona hambat paling besar dan lanjut untuk diujimutu fisik
(organoleptik, homogenitas, pH, dan viskositas). Hasil evaluasi stabilitas mutu fisik
sediaan lotion memenuhi syarat mutu fisik yaitu berwarna coklat kehijauan, aroma
khas ekstrak, tekstur lotion, homogen, pH 6.Hasil analisa menunjukan bahwa data
normal dan homogen, dilakukan uji One Way ANOVA. Hasil uji One Way Anova
diperoleh (p<0,05) yang menunjukan semua sample memiliki perbedaan.
Berdasarkan hasil penelitian aktivitas zona hambat paling terbaik pada formula F2.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus berkembang
dari waktu ke waktu dan membahayakan kesehatan manusia dan hewan yang
disebabkan oleh mikroorganisme seperti salah satunya bakteri Staphylococcus
aureus. Bidara putsa (Ziziphus mauritiana Lam.) merupakan salah satu tanaman
yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui golongan
metabolit sekunder dalam rebusan daun bidara putsa yang ditetapkan melalui uji
fitokimia serta mengetahui aktivitas antibakteri dari rebusan daun bidara putsa
terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini rebusan daun bidara
putsa dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 30% (%b/v) diekstraksi dengan cara
perebusan pada suhu 90oC selama 15 menit dan ditentukan golongan senyawa
fitokimia secara kualitatif. Selanjutnya diuji aktivitas antibakteri terhadap
Staphylococcus aureus dengan metode difusi cakram. Metabolit sekunder yang
terkandung dalam rebusan daun bidara putsa konsentrasi 30% adalah alkaloid,
flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rebusan daun bidara putsa dengan konsentrasi 30% memiliki aktivitas terbaik
dengan diameter zona hambat 13,22 mm. Namun, aktivitas antibakteri rebusan daun
bidara putsa 30% masih rendah dan berbeda nyata (α<0,05) dengan kontrol positif
kloramfenikol 0,1%. Berdasarkan diameter zona hambat tersebut dapat
disimpulkan bahwa rebusan daun bidara putsa memiliki potensi untuk menghambat
bakteri Staphylococcus aureus.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kombucha merupakan suatu produk minuman hasil fermentasi larutan teh dan
gula dengan menambahkan starter mikroba kombucha yaitu Acetobacter xylinum
dan beberapa jenis khamir atau jamur kombucha. Penelitian ini untuk menentukan
aktivitas kombucha daun salam terhadap penghambatan pertumbuhan Escherichia
coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini akan membuat kombucha daun
salam dengan variasi konsentrasi daun salam. Kombucha daun salam yang
diperoleh akan diuji komponen golongan senyawa kimia, pH, dan aktivitas
antibakteri dengan metode difusi cakram. Kombucha daun salam mengandung
flavonoid, saponin, dan tanin. Kombucha daun salam 1,25%-5% memiliki kisaran
pH 2,90-3,17. Kombucha daun salam konsentrasi 1,25% - 5% memiliki kisaran
diameter zona hambat antara 5,51 mm (kategori sedang) - 8,81 mm (kategori
sedang) terhadap Escherichia coli. Diameter zona hambat kombucha daun salam
konsentrasi 1,25% - 5% terhadap Staphylococcus aureus berkisar 4,97 (kategori
lemah) -7,25 mm (kategori sedang). Oleh sebab itu, kombucha daun salam dengan
konsentrasi 1,25%, 2,5%, 3,75%, dan 5% (b/v) dapat menghambat pertumbuhan
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Streptococcus mutans merupakan salah satu bakteri penyebab karies gigi. Daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun mahkota dewa (Phaleria macrocarapa Boerl.) diduga mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian yaitu mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun kersen, ekstrak daun mahkota dewa dan ekstrak kombinasi perbandingan 1:1, 1:3, 3:1 serta menentukan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan konsentrasi terbaik. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh dilakukan penapisan fitokimia dan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan pada ekstrak daun kersen, ekstrak daun mahkota dewa, dan ekstrak
kombinasi perbandingan 1:1, 1:3, 3:1 dengan menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian aktivitas antibakteri menunjukkan adanya aktivitas terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Ekstrak kombinasi daun kersen dan daun mahkota dewa perbandingan 3:1 pada konsentrasi 40% menunjukkanrespon hambat terbaik terhadap bakteri
Streptococcus mutans dengan rerata diameter zona hambat 19,28 mm dikategorikan
dalam respon hambat kuat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Karies gigi adalah penyakit pada daerah mulut gigi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans . Salah satu tanaman yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans adalah tanaman jahe merah (Zingiber Officinale Roscoe) karena mengandung alkaloid dan saponin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan formulasi obat kumur herbal jahe merah yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans . Pengujian stabilitas obat kumur pada F1 (30%), F2 (40%), dan F3 (50%), dilakukan pada suhu rendah (4oC), suhu ruang (27oC), dan suhu tinggi (40oC) selama 28 hari. Pengujian ini meliputi uji aktivitas antibakteri menggunakan metode cakram, uji mutu fisik sediaan, pH dan viskositas. Aktivitas antibakteri pada awal uji stabilitas F1, F2, dan F3 berturut-turut menunjukkan zona hambat sebesar 8,56; 10,56; dan 15,20mm, dan pada minggu ke-4 stabilitas pada suhu 4oC (8,30; 9,50; dan 10,87 mm) suhu 27oC (7,80; 9,33; dan 9,73 mm) dan suhu 40oC (7,53; 9,13; dan 8,30 mm). Hasil uji stabilitas pH untuk ketiga formulasi tidak memenuhi syarat mutu pada kisaran 8,5,-9,1 (persyaratan pH 5-7). Hasil uji kestabilan viskositas menunjukkan nilai viskositas pada kisaran 0,81-2,38 cps. Pada suhu 4oC viskositas tidak memenuhi syarat dikarenakan lebih besar dari viskositas air.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. Salah satu bakteri penyebab penyakit gigi tersebut adalah bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakakah kombinasi ekstrak etanol 96% kulit buah jeruk purut (Citrus hystrix D.C) dan ekstrak etanol 96% daun saga (Abrus precatorius L.) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Metode penelitian yang dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan etanol 96% secara maserasi. Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui zat aktif yang terkandung dari masing-masing ekstrak. Uji aktivitas antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit buah jeruk purut dan ekstrak etanol 96% daun saga memiliki kandungan, flavonoid, saponon, tanin, streoid dan triterpenoid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Straptococcus muntans. Kombinasi ekstrak etanol 96% kulit buah jeruk purut dan ekstrak etanol 96% daun saga dalam perbandingan konsentrasi 1:1 menghasilkan rata-rata diameter 7,48 mm, perbandingan 1:3 diperoleh zona hambatan sebesar 8,31 mm dan pada konsentrasi 3:1 diperoleh diameter sebesar 7,85 mm. Hasil kombinasi ekstrak etanol 96% kulit buah jeruk purut dan ekstrak etanol 96% daun saga dengan perbandingan 1:1, 1:3, 3:1 menghasilkan zona hambat tertinggi pada perbandingan 1:3. Perlu dilakukan uji konsentrasi hambat minimum dan pengembangan dalam bentuk sediaan sehingga didapatkan informasi lebih lanjut terkait aktivitas antibakteri yang dihasilkan pada ekstrak etanol 96% kulit
buah jeruk purut dan ekstrak etanol 96% daun saga.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dan daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) telah diteliti aktivitas antibakterinya. Bunga rosella mengandung senyawa flavonoid dan tanin yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Daun stevia mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin yang dapat dijadikan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% bunga rosella dan daun stevia serta kombinasinya. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan cara sumuran dan inkubasi dalam
suhu 37oC selama 24 jam terhadap Streptococcus mutans. Hasil pengujian antibakteri pada kombinasi 2 yaitu 2,5mL ekstrak bunga rosella konsentrasi 5% dan 7,5mL ekstrak daun stevia konsentrasi 60% menghasilkan nilai rata-rata zona hambat terbaik dengan diameter sebesar 14,77±0,124mm yang termasuk kategori kuat. Hasil analisis statistika menunjukan kombinasi 2 memberikan hasil yang lebih
besar berbeda nyata dengan kontrol positif Obat Kumur Minosep (klorheksidin 0,2%) yang menghasilkan diameter zona hambat sebesar 11,25±0,043mm.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Daun kelor dan daun stevia merupakan tanaman obat tradisional yang
secara empiris dimanfaatkan untuk dijadikan antibakteri alami sebagai alternatif pengganti bahan sintesis dalam mencegah infeksi bakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui golongan senyawa tanaman, mendapatkan sediaan obat kumur kombinasi infusa daun kelor dan daun stevia, dan mendapakan nilai zona hambat sediaan obat kumur dari kombinasi infusa daun kelor dan daun stevia dengan menggunakan bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini dibuat dengan 6 formulasi dan 1 sediaan pembanding yaitu infusa daun kelor, infusa daun stevia,
kombinasi infusa daun kelor dan daun stevia perbandingan 1:1, 1:3 dan 3:1,
sediaan pembanding adalah obat kumur enkasari sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Pada penelitian ini masing-masing mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid dan tanin. Data diperoleh dari hasil uji organoleptis, uji pH, dan pengujian antibakteri dengan diukur zona hambat dari sediaan infusa. Hasil data antibakteri kontrol positif (19,58 mm), kontrol negatif (0 mm), infusa daun kelor (19,526 mm), infusa daun stevia (13,126 mm), kombinasi 1:1 (14,463 mm), kombinasi 1:3 (17,387 mm) dan kombinasi 3:1 (22,386 mm). Kandungan senyawa seperti flavonoid, saponin dan tanin yang berperan sebagai antibakteri.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Skeletonema costatum merupakan salah satu jenis diatom yang dominan
di laut dan tumbuh subur diperairan sekitar pantai terutama setelah musim hujan.
Skeletonema costatum mempunyai potensi menghasilkan senyawa antibakteri.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteriterbaik
dari ekstrak etanol 96%, n-heksana dan etil asetat mikroalga S.costatum terhadap
E.coli dan S.aureus dan identifikasi fraksi terbaik dari ekstrak mikroalga
S.costatum. S.costatum diekstraksi dengan etanol kemudian dipartisi dengan n-
heksana dan etil asetat. Masing-masing ekstrak diuji aktivitasnya hingga
diperoleh fraksi terbaik serta didentifikasi senyawa menggunakan GCMS. Hasil
pengukuran bahwa ekstrak etil asetat terbaik dalammenghambat E.coli dan
S.aureus dengan zona hambatsebesar 8,31 mm, 8,91mm, 9,9 mm dan 6,93 mm,
7,63 mm, 8,33 mm. Hasil Kromatografi kolom didapatkan 83 fraksi dan hasil
KLT didapatkan 11 fraksi hanya 2 fraksi yang menunjukan aktivitas antibakteri.
Dari hasil zona hambat antibakteri dipilih ekstrak etil asetat adalah fraksi 2 dan
fraksi 11 dianalisis dengan GC-MS. Hasil GC-MS menunjukan ekstrak etil asetat
pada fraksi 2 diduga mengandung senyawa Neophytadiene dengan kemiripan 95
% dan fraksi 11 diduga mengandung senyawa n-Hexadecanoid acid dengan
persantese kemiripan 99 %.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Skeletonema costatum merupakan salah satu jenis diatom yang dominan
di laut dan tumbuh subur diperairan sekitar pantai terutama setelah musim hujan.
Skeletonema costatum mempunyai potensi menghasilkan senyawa antibakteri.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteriterbaik
dari ekstrak etanol 96%, n-heksana dan etil asetat mikroalga S.costatum terhadap
E.coli dan S.aureus dan identifikasi fraksi terbaik dari ekstrak mikroalga
S.costatum. S.costatum diekstraksi dengan etanol kemudian dipartisi dengan n-
heksana dan etil asetat. Masing-masing ekstrak diuji aktivitasnya hingga
diperoleh fraksi terbaik serta didentifikasi senyawa menggunakan GCMS. Hasil
pengukuran bahwa ekstrak etil asetat terbaik dalammenghambat E.coli dan
S.aureus dengan zona hambatsebesar 8,31 mm, 8,91mm, 9,9 mm dan 6,93 mm,
7,63 mm, 8,33 mm. Hasil Kromatografi kolom didapatkan 83 fraksi dan hasil
KLT didapatkan 11 fraksi hanya 2 fraksi yang menunjukan aktivitas antibakteri.
Dari hasil zona hambat antibakteri dipilih ekstrak etil asetat adalah fraksi 2 dan
fraksi 11 dianalisis dengan GC-MS. Hasil GC-MS menunjukan ekstrak etil asetat
pada fraksi 2 diduga mengandung senyawa Neophytadiene dengan kemiripan 95
% dan fraksi 11 diduga mengandung senyawa n-Hexadecanoid acid dengan
persantese kemiripan 99 %.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Masalah kesehatan mulut dapat disebabkan oleh berbagai macam bakteri. Karies
gigi dapat disebabkan oleh bakteri gram positif yaitu Streptococcus mutans dan
Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas
antibakteri ekstrak etanol 96% herba meniran hijau terhadap bakteri gram positif
penyebab karies gigi yaitu Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus.
Sampel ekstrak kental dilakukan penapisan fitokimia untuk mengetahui kandungan
metabolit sekunder yang dikandung setelah itu dilakukan uji aktivitas antibakteri
menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer. Hasil penelitian penapisan
fitokimia pada ekstrak etanol 96% herba meniran hijau mengandung flavonoid,
saponin, tanin dan triterpenoid. Hasil nilai rata-rata zona hambat yang dilakukan
secara triplo pada uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans
yaitu pada ekstrak 5% menghasilkan zona hambat sebesar 20,70 mm (kuat), ekstrak
2,5% sebesar 19,45 mm (kuat), ekstrak 1,25% sebesar 13,50 mm (kuat) dan pada
kontrol positif amoxicillin menghasilkan zona hambat sebesar 23,55mm (sangat
kuat). Pada pengujian Staphylococcus aureus yaitu pada ekstrak 5% menghasilkan
zona hambat sebesar 12,40 mm (kuat), ekstrak 2,5% sebesar 10.27 mm (sedang),
ekstrak 1,25% sebesar 9,65 mm (sedang) dan pada kontrol positif amoxicillin
menghasilkan zona hambat sebesar 16,45 mm (kuat). Ekstrak etanol 96% herba
meniran hijau memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro terhadap bakteri gram
positif penyebab karies gigi yaitu bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus
aureus.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Bakteri Escherichia coli menyebabkan diare dan bakteri Staphylococcus aureus
menyebabkan infeksi kulit. Tumbuhan mimba dapat diambil khasiatnya dengan diolah
menjadi ekstrak, minyak, atau direbusan airnya. Daun mimba memiliki sifat antibakteri
yang kuat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan pelarut dalam
pembuatan simplisia yang berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun
mimba. Mengetahui kandungan zat bioaktif dalam ekstrak etanol 96%, etil asetat, dan
n-heksan yang ditetapkan melalui uji fitokimia. Mengetahui aktivitas antibakteri
ekstrak n-Heksan, ekstrak etil asetat, dan etanol 96% pada konsentrasi ekstrak yang
digunakan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimental laboratorium meliputi maserasi daun mimba
dalam n-Heksan, etil asetat, etanol 96%. Kemudian diuji aktivitas antibakteri
menggunakan metode difusi cakram dengan kontrol positif, kontrol negatif, variabel
bebas (konsentrasi ekstrak daun mimba yang diujikan) , variabel terikat (pertumbuhan
koloni dari Escherichia coli dan Staphylococcus aureus) didapatkan hasil aktivitas
antibakteri terdapat perbedaan antara Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang
menunjukkan hasil rata-rata pada bakteri Escherichia coli pelarut etanol 96%
didapatkan nilai terbesar 12,20 mm (kuat), etil asetat 13,33 mm (kuat), n-heksan 16,27
mm (kuat) pada bakteri Staphylococcus aureus pelarut etanol 96% didapatkan nilai
terbesar 11,80 mm (kuat), etil asetat 13,56 mm (kuat), n-heksan 16,27 mm (kuat).
setelah didapatkan data zona hambatnya data diolah menggunakan spss versi 26 dan
didapatkan hasil zona hambat berdistribusi tidak normal dengan nilai signifikan uji
kruskal wallis 0.011 < 0.05. Sehingga disimpulkan adanya perbedaan signifikan rata-
rata persentase zona hambat pada masing-masing koloni dan pelarut ekstrak.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Tanaman jinten (Coleus amboinicus Lour.) merupakan salah satu tanaman
penghasil minyak atsiri yang dapat tumbuh di daerah pegunungan atau tempat
lain. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil senyawa metabolit sekunder
yang terkandung dalam minyak atsiri daun jinten dan aktivitas antibakteri
terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Minyak atsiri daun jinten diperoleh
secara metode destilasi uap dan air. Rendemen minyak atsiri yang diperoleh
sebesar 0,066% mL/gram. Minyak atsiri yang diperoleh selanjutnya dianalisis
karakteristik fisik berupa pengukuran bobot jenis dan penetapan nilai Rf melalui
kromatografi lapis tipis (KLT), analisis profil senyawa menggunakan Gas
Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) dan aktivitas antibakteri
menggunakan metode sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak
atsiri daun jinten memiliki karakteristik fisik bobot jenis sebesar 0,937 dan nilai
Rf 0,71. Senyawa mayor minyak atsiri daun jinten yang terdeteksi pada GC-MS
yaitu Durenol (40,43%), γ-Terpinene (12,50%), o-Cymene (11,33%),
Caryophyllene (5,00%), 2-Carene (3,97%), Terpinen-4-ol (3,44%), Trans-α-
Bergamotene (3,29%), Caryophyllene oxide (2,53%), β-Myrcene (2,20%), dan
Humulene (1,81%). Pada uji antibakteri minyak atsiri daun jinten memberikan
zona hambat pada konsentrasi 1%, 2%, 4% dan 6% secara berurutan sebesar 1,361
mm (lemah), 1,733 mm (lemah), 3,339 mm (lemah) dan 5,033 mm (sedang).
Minyak atsiri daun jinten konsentrasi 6% memberikan nilai zona hambat tidak
berbeda nyata dengan kontrol positif (P > 0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Streptococcus mutans merupakan bakteri yang dapat menyebabkan karies gigi.
Daun sirih hutan dan kulit buah nanas madu diduga mengandung golongan senyawa
metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian yaitu
mengetahui kandungan metabolit sekunder dari ekstrak etanol 96% daun sirih hutan
dan kulit buah nanas madu serta menentukan aktivitas antibakteri terhadap
Streptococcus mutans dari masing-masing ekstrak dan kombinasinya. Pengujian
aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian
menunjukkan kedua ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan
tritepenoid. Zona hambat ekstrak etanol 96% daun sirih hutan konsentrasi 10% dan
20% termasuk kategori sedang, sementara konsentrasi 40% hingga 100% termasuk
kategori kuat. Zona hambat ekstrak etanol 96% kulit buah nanas madu konsentrasi
10% hingga 100% termasuk kategori kuat. Kombinasi diambil dari masing-masing
konsentrasi ekstrak 40%. Zona hambat kombinasi ekstrak etanol 96% daun sirih
hutan dan kulit buah nanas madu perbandingan 1:1; 1:3; dan 3:1 masing-masing
sebesar 15,627 mm; 17,387 mm; dan 14,527 mm, semua termasuk kategori kuat.
Kombinasi 1:3 menunjukkan zona hambat terbesar, namun berdasarkan analisis
statistik nilainya masih lebih kecil dan berbeda bermakna (p<0,05) dibandingkan
zona hambat kontrol positif chlorhexidine 0,2% sebesar 22,472 mm.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan tumbuh-tumbuhan alami tanaman obat sedang populer pada saat ini.
Salah satu bahan yang berpotensi adalah kulit buah jeruk purut dan biji pala yang
digunakan sebagai antibakteri. Minyak atsiri yang terkandung pada kulit buah
jeruk purut dan minyak biji pala mengandung senyawa turunan fenol dan
terpenoid yang dimana pada kulit buah jeruk purut terbentuk kompleks protein
fenol yaitu sitroneal sedangkan biji pala terdapat β-pinen senyawa terpenoid, yang
memiliki aktivitas antibakteri. Maka dari itu perlu adanya pengujian untuk
mengetahui aktivitas antibakteri minyak kulit buah jeruk purut (citrus hystrix d c),
minyak biji pala (myristica fragrans houtt) serta kombinasinya terhadap
Streptococcus mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan
uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan difusi cakram. Data diperoleh berupa uji
karakteristik minyak atsiri, analisis data dengan Gas Kromatografi dan
mendapatkan nilai rata-rata zona hambat yang didapatkan dari tiga pengulangan
pada sampel tunggal minyak kulit buah jeruk purut dan biji pala pada konsentrasi
1%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 100%. Kontrol positif mengunakan chlorhexidine 0,2%
dan kontrol negative DMSO 10%. Sampel kombinasi diambil dari masing-masing
sampel tunggal 4%, dengan nilai zona hambat tungga minyak kulit buah jeruk
purut 11,290 mm dan tunggal minyak biji pala 14,203 mm, serta pada kombinasi
1:1, 1:3 dan 3:1 dengan nilai zona hambatnya yang paling tinggi 1:3 yaitu 17,387
mm, jika dilihat pada ketiga konsentrasi tersebut masuk kedalam kategori zona
hambat kuat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi merupakan penyakit paling
umum di Indonesia. Prevalensi penyakit karies di Indonesia menunjukkan angka
yang tinggi. Penyebab utama terjadinya karies gigi adalah adanya bakteri
Streptococcus mutans. Daun sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun salam
(Syzygium polyanthum (Wight) W.) adalah daun yang mengandung senyawa
flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas antibakeri. Penelitian ini
bertujuan untuk memperoleh konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak
tunggal etanol 96% daun sereh wangi dan daun salam yang akan digunakan untuk
membuat kombinasi. Serta mengetahui perbandingan ekstrak etanol 96% daun
sereh wangi dan daun salam yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans. Secara tunggal atau kombinasi masing-masing dimaserasi
dengan etanol 96%. Kemudian ekstrak dibuat 3 konsentrasi dan 3 perbandingan
diuji dengan menggunakan metode kertas cakram. Hasil menunjukkan bahwa
ekstrak etanol daun sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 30%, dan 60% beturut-
turut sebesar 8,09 mm, 9,45 mm dan 11,18 mm. dan untuk ekstrak daun etanol
salam dengan konsentrasi 15%, 30%, dan 60% beturut-turut sebesar 10,82 mm,
12,27 mm dan 13,05 mm. Dari masing-masing ekstrak konsentrasi terbaik untuk
dibuat kombinasi yaitu pada konsentrasi 60%. dengan diameter zona hambat rata-
rata sebesar 11,18 mm untuk daun sereh wangi dan 13,05 mm untuk daun salam
yang menunjukkan memiliki aktivitas antibakteri yang kuat. Dan untuk kombinasi
yang memiliki nilai diameter zona hambat terbesar pada perbandingan 1:3
(sereh:salam) dengan diameter zona hambat rata-rata 15,64 mm yang berarti
memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Streptococcus mutans adalah bakteri gram positif yang dapat kita temukan pada
rongga mulut manusia yang dapat menjadikan gangguan mulut hingga karies pada
gigi, karies gigi ini keadaan yang merusak jaringan pembentukan gigi oleh bakteri
Streptococcus mutans. Kulit Jeruk Purut (Citrus hystrix) (KJP) dan Daun Jambu biji
(Psidium guajava) (DJB) yang berfungsi sebagai antibakteri untuk bakteri
Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini untuk menghambat pertumbuhan bakteri
oleh ekstrak KJP dan DJB tunggal & pengkombinasian ekstrak untuk menghambat
bakteri Streptococcus mutans. Ekstrak tunggal dan kombinasi KJP dan DJB yang
digunakan adalah 20%, DMSO sebagai kontrol negatif serta Klorheksidin sebagai
kontrol positif. Hasil uji fitokimia untuk ekstrak KJP positif memiliki kandungan
alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan terpenoid. Aktivitas ekstrak tunggal
KJP dan DJB tunggal ekstrak dengan konsentrasi 20%, memiliki potensi untuk
menghambat bakteri dengan kategori kekuatan daya hambat dari 15,55 ± 0,025 mm
dan11,25 ± 0,037 mm golongan kuat untuk menghambat bakteri Streptococcus
mutans. Aktivitas ekstrak kombinasi mendapatkan hasil yang lebih sangat kuat
dengan daya hambat 28,33 ± 0,251 mm pada kombinasi KJP:DJB 3:1 untuk
menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Bakteri Propionibcaterium acnes merupakan bakteri anaerob fakultatif
yang dapat menyebabkan jerawat. Daun sirih hijau (Piper betle L.) merupakan salah
satu tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri
Propionibcaterium acnes. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa
ekstrak etanol 96% daun sirih hijau memiliki kandungan golongan senyawa
metabolit sekunder, larutan uji memiliki aktivitas antibakteri dan ada perbedaan
aktivitas antibakteri dari lama penyimpanan larutan uji terhadap bakteri
Propionibaterium acnes. Metode meliputi serbuk simplisia daun sirih hijau
diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 96% dan pengujian aktivitas
antibakteri menggunakan difusi cakram. Larutan uji dengan konsentrasi 5%, 7,5%
dan 10% disimpan dalam waktu 0, 3, 7 dan 10 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun sirih hijau mengandung alkaloid,
flavonoid, tanin, saponin, steroid dan fenol. Larutan uji memiliki daya hambat
terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Diameter zona hambat terbesar
ditunjukkan oleh larutan uji konsentrasi 10% berbeda signifikan dibandingkan
konsentrasi 5% dan 7,5%. Pengaruh lama penyimpanan selama 3, 7 dan 10 hari
terjadi penurunan aktivitas antibakteri menunjukkan diameter zona hambat semakin
kecil. Larutan uji konsentrasi 10% pada hari ke-0, 3, 7 dan 10 berturut-turut sebesar
16,92 mm, 14,39 mm, 11,86 mm dan 10,98 mm, menurun dari kategori kuat sampai
sedang.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Tanaman jahe merah (Zingiber officinale Roscoe) merupakan salah satu tumbuhan
yang memiliki senyawa komponen flavonoid, steroid, alkaloid, tanin, saponin, dan
polifenol yang merupakan zat antibakteri alami. Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui stabilitas karakteristik gel hand sanitizer dan aktivitas antibakteri
terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan variasi konsentrasi
ekstrak jahe merah pada formulasi hand sanitizer Formula 1(0,1%); Formula 2
(0,3%); dan Formula 3 (0,5%). Uji karakteristik gel yang dilakukan yaitu
organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, homogenitas, dan konsistensi. Hasil
penelitian menunjukkan hand sanitizer F1 memiliki karakteristik gel dan aktivitas
antibakteri terbaik yaitu pH 5,8; viskositas 2241cPs; daya sebar 60,08 mm; zona
hambat S.aureus 17,79 mm; zona hambat Echerichia coli 15,57 mm. Untuk
mengetahui stabilitas produk, hand sanitizer Formula 1 disimpan selama 28 hari
dengan suhu 4°C, 25°C, dan 40°C kemudian dilakukan pengujian kembali. Hasil
penelitian menunjukkan karakteristik dan aktivitas antibakteri hand sanitizer
Formula 1 terhadap Staphylococcus aureus dan Echerichia coli memiliki stabilitas
yang baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Karies gigi merupakan penyakit pada jaringan keras gigi, seperti email,
dentin dan sementum yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans.
Tanaman yang dapat digunakan sebagai antibakteri yaitu rimpang temu putih dan
daun stevia. Oleh karena itu, rimpang temu putih dan daun stevia diformulasikan
kedalam sediaan pasta gigi untuk menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan formulasi
dan stabilitas sediaan pasta gigi yang baik. Ekstraksi rimpang temu putih
dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 96% dan ekstraksi daun
stevia menggunakan cara infusa dengan pelarut air. Ekstrak rimpang temu putih
diformulasikan menjadi 3 konsentrasi, yaitu 15%, 20% dan 25%, sedangkan infus
daun stevia dengan konsentrasi 0,2%. Sediaan pasta gigi ekstrak temu putih dan
infus daun stevia diuji mutu fisik (organoleptik, pH, homogenitas, viskositas dan
pembentukan busa) dan uji antibakteri. Hasil stabilitas pada uji pH dan uji
antibakteri formula 2 (E20% I0,2%) dan formula 4 (I0,2%) selama 28 hari dianalisis
secara statistik dengan metode ANOVA dan Kruskal-wallis, sediaan pasta gigi
ekstrak etanol 96% temu putih dan infus daun stevia 0,2% memiliki mutu fisik
yang memenuhi persyaratan mutu pada SNI 12-3254-1995 dan memiliki stabilitas
yang baik.