Profil penulis
Sofyan Ramani
44 karya publik ditemukan.
AKTIVITAS PENGHAMBATAN ENZIM a-AMALASE KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L) DAN DAUN STEVIA (Stevia rebaudiana Bertoni) SEBAGAI ANTIDIABETES
AKTIVITAS ANTIKOLESTEROL EKSTRAK ETANOL 96% HERBA SELEDRI (Apium graveolens) DAN DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) SECARA IN VITRO
Kolesterol adalah lemak yang diproduksi oleh tubuh dan juga berasal dari makanan hewani. Kolesterol membantu tubuh memproduksi hormon tertentu, vitamin D, dan asam empedu untuk mencerna lemak. Dalam kadar yang sesuai dapat membantu membangun sel-sel baru agar tubuh bisa tetap berfungsi dengan normal. Peningkatan kadar kolesterol dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitasnya pada ekstrak etanol 96% herba seledri (Apium graveolens) dan daun salam (Syzygium polyanthum) baik tunggal maupun kombinasi. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi. Pengujian antikolesterol dilakukan secara in vitro dengan mengunakan metode spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 670 nm Absorbansi yang diperoleh digunakan untuk menghitung persen inhibisi dan IC50. Kandungan fitokimia ekstrak etanol herba seledri alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan fenol. Sedangkan untuk ekstrak etanol daun salam antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, tanin dan fenol. Hasil penelitian yang diperoleh dari nilai IC50 ekstrak Tunggal herba seledri sebesar 58,38 ppm dan daun salam sebesar 99,61 ppm. Sedangkan untuk kombinasi 1:1, 1:3, dan 3:1 ekstrak etanol tanaman seledri dan daun salam diperoleh nilai IC50 sebesar 78,35 ppm, 140,76 ppm dan 190,57 ppm.
PENAMBATAN MOLEKULER 25 SENYAWA AKTIF DARI JAHE (Zingiber officinale) SEBAGAI PENGHAMBAT AKTIVITAS HMG-KoA
Kolesterol merupakan salah satu golongan lemak padat seperti lilin, penumpukan lemak padat secara berlebih disebut dengan penyakit kolesterol. Salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Pemanfaatan tanaman herbal banyak digunakan oleh masyarakat dalam mengobati penyakit salah satunya kolesterol, pemanfaatan tanaman jahe salah satunya diteliti secara in vitro dan in silico sebagai acuan pembuktian terbuktinya adanya aktivitas biologis sebagai penghambat aktivitas HMG-KoA dari jahe sebagai anti kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 25 senyawa aktif dalam jahe yang memiliki aktivitas penghambat aktivitas HMG- KoA sebagai anti kolesterol secara in silico menggunakan aplikasi Molegro Virtual Docker. Data diperoleh dengan dua tahapan, tahapan pertama pengambilan reseptor protein dari situ Protein Data Bank (PDB) yang memiliki aktivitas anti kolesterol kemudian divalidasi hingga memiliki nilai validasi < 2Å. Tahapan kedua 25 senyawa aktif yang terkandung dalam jahe dan ligan pembanding di docking kemudian diuji sifat fisikokimia berdasarkan Lipinski rule’s of five , ADME dan toksisitas. Hasil dari penelitian menunjukkan kode reseptor yang digunakan yaitu 1HW9, 2Q6C, dan 1DQA dengan nilai validasi <2Å. Kemudian 25 senyawa dilakukan docking dibandingkan dengan Simvastatin sebagai ligan pembanding dengan nilai paling baik senyawa gingerenon dengan kode 1DQA dengan nilai Rerank score -104,397 kkal/mol dan memiliki kategori absorpsi, distribusi, metabolisme dan toksisitas yang baik.
UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN BAYAM BRAZIL (Althernanthera sisso) DAN DAUN MURBEI (Morus alba L.) DENGAN PENGHAMBATAN RADIKAL BEBAS BERSERTA KOMBINASINYA
Bayam brazil (Althernanthera sisso) mengandung karetenoid, vitamin C, vitamin K, vitamin B6, asam folat, zat besi, kalsium dalam jumlah tinggi dan berfungsi sebagai antioksidan yang membantu mencegah fungsi neuronal dan kognitif otak. Daun Murbei (Morus alba L.) mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, dan polifenol. Antioksidan berperan penting dalam menangkal radikal bebas, mencegah penyakit-penyakit degeneratif seperti kardiovaskular, karsinogenik dan penyakit lainnya. Bayam brazil dan daun murbei dibuat dalam bentuk ekstrak etanol 96% yang dimana metode yang digunakan adalah peredaman radikal bebas dengan DPPH (2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl). Tujuannya untuk melihat aktivitas antioksidan terbaik, diantara tunggal dan kombinasinya yang nilai perbandinganya adalah (1:1), (1:3) dan (3:1) diantara daun murbei dan bayam brazil. Pengujian direaksikan dimana sampel dan larutan DPPH sebagai radikal bebas yang diinkubasi selama 30 menit dan dilihat nilai absorbansinya dengan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukan bahwa ektrak kombinasi daun murbei dan bayam brazil menghasilkan aktivitas antioksidan kategori sangat kuat yang dimana IC50 dari masing-masing perbandingan berturut-turut (1:1) 12,78 ppm, (1:3) 6,37 ppm, (3:1) 8,29 ppm yang menurut Molyneux berada di konsentrasi kurang dari 50 ppm. Begitupun dengan ekstrak tunggalnya yang berada dikategori sangat kuat dengan nilai IC50 daun murbei 6,70 ppm dan bayam brazil 4,98 ppm. Semakin tinggi konsentrasi sampel, semakin besar kemampuan untuk menghambat radikal bebas dengan menurunnya nilai absorbansi .
FORMULASI TABLET KOMBINASI EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcumma domestica) DAN DAUN SALAM (Syzigium polyanthum) DENGAN GELATIN SEBAGAI BAHAN PENGIKAT
Rimpang kunyit (Curcuma domestica) mengandung senyawa kurkumin yang berkhasiat sebagai antikolesterol. Daun salam (Syzygium polyanthum) memiliki kandungan flavanoid, saponin, tanin, vitamin C, B3, A, dan E yang berpotensi sebagai antikolesterol. Sediaan tablet memiliki keuntungan seperti pemberian dosis yang lebih tepat dan mudah dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik tablet kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun salam dengan variasi konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat. Tablet dibuat menggunakan metode granulasi basah dengan perbandingan ekstrak 1 : 1 menggunakan konsentrasi gelatin 5% (F1) : 7,5% (F2) : 10% (F3). Evaluasi tablet yang dilakukan meliputi uji keseragaman bobot, uji keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji kerapuhan dan uji waktu hancur tablet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tablet kombinasi rimpang kunyit dan daun salam dengan konsentrasi gelatin 5% menghasilkan mutu tablet terbaik berdasarkan evaluasi keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Penggunaan variasi konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat mempengaruhi kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Semakin besar konsentrasi gelatin maka semakin besar nilai kekerasan, semakin kecil nilai kerapuhan dan semakin lama waktu hancur tablet.
EVALUASI PENERAPAN CPOB PADA SALAH SATU GUDANG FINISHED GOODS INDUSTRI FARMASI OBAT GENERIK DI CIKARANG
Warehouse merupakan infrastruktur penting dalam bisnis farmasi yang berfungsi untuk menyimpan berbagai komponen seperti bahan baku, bahan awal, bahan pengemas, dan obat jadi. Karena pentingnya penerapan CPOB, maka perlu dilakukan evaluasi penerapan CPOB dengan kesesuaian proses disalah satu industri farmasi Obat Generik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui flow proses dan kesesuaian proses gudang finished goods terhadap standar CPOB edisi 5 tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dengan cara melakukan observasi menggunakan lembaran ceklist berdasarkan CPOB dan dibandingkan terhadap standar yang berlaku di gudang industri farmasi obat generik yang kemudian dihitung presentase kesesuaiannya menggunakan rumus perhitungan skor. Hasil penelitian yaitu sebanyak 8 aspek mendapatkan nilai presentase 100%, hanya satu aspek yang mendapatkan nilai presentase dibawah 100%, yaitu pada aspek Bangunan dan Fasilitas Penyimpanan dengan total presentase 71.4%. Kesimpulan penelitian ini, penerapan CPOB di gudang finished goods di gudang industri farmasi obat generik tersebut sudah berjalan baik. Namun masih ada yang perlu dilakukan perbaikan pada luas penyimpanan yang belum memadai. pencahayaan area penyimpanan yang masih kurang dari standar CPOB yang telah ditetapkan yaitu 100 Lux.
AKTIVITAS ANTIDIABETES NEKTAR KRISTAL DENGAN METODE PENGHAMBATAN ENZIM α-GLUKOSIDASE SECARA IN VITRO
Enzim α-glukosidase merupakan enzim yang berperan penting dalam pemecahan karbohidrat menjadi glukosa dalam sistem pencernaan. Nektar kelapa sama dengan gula kelapa mempunyai indeks glikemik yang rendah, yaitu hanya 35. Nilai indeks glikemik rendah sangat aman untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes. Senyawa metabolit sekunder di dalam nektar kristal dapat menghambat enzim α-glukosidase yaitu flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai IC50 dari nektar kristal yang dapat menghambat enzim α- glukosidase. Nektar kristal dilakukan skrining fitokimia dan aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase. Nektar kristal dibuat deret konsentrasi 20, 40, 60, 80, dan 100 ppm untuk memperoleh nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nektar kristal memiliki kandungan flavonoid dan triterpenoid. Aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dengan nilai IC50 38,04 ppm termasuk kedalam kategori aktif sebagai antidiabetes. Jika dibandingkan dengan nektar kristal, akarbosa memiliki nilai IC50 paling kecil sebesar 9,92 ppm termasuk kedalam kategori sangat aktif sebagai antidiabetes.
EVALUASI PENERAPAN CPOB PADA SALAH SATU GUDANG FINISHED GOODS INDUSTRI FARMASI OBAT GENERIK DI CIKARANG
Warehouse merupakan infrastruktur penting dalam bisnis farmasi yang berfungsi untuk menyimpan berbagai komponen seperti bahan baku, bahan awal, bahan pengemas, dan obat jadi. Karena pentingnya penerapan CPOB, maka perlu dilakukan evaluasi penerapan CPOB dengan kesesuaian proses disalah satu industri farmasi Obat Generik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui flow proses dan kesesuaian proses gudang finished goods terhadap standar CPOB edisi 5 tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dengan cara melakukan observasi menggunakan lembaran ceklist berdasarkan CPOB dan dibandingkan terhadap standar yang berlaku di gudang industri farmasi obat generik yang kemudian dihitung presentase kesesuaiannya menggunakan rumus perhitungan skor. Hasil penelitian yaitu sebanyak 8 aspek mendapatkan nilai presentase 100%, hanya satu aspek yang mendapatkan nilai presentase dibawah 100%, yaitu pada aspek Bangunan dan Fasilitas Penyimpanan dengan total presentase 71.4%. Kesimpulan penelitian ini, penerapan CPOB di gudang finished goods di gudang industri farmasi obat generik tersebut sudah berjalan baik. Namun masih ada yang perlu dilakukan perbaikan pada luas penyimpanan yang belum memadai. pencahayaan area penyimpanan yang masih kurang dari standar CPOB yang telah ditetapkan yaitu 100 Lux.
FORMULASI TABLET KOMBINASI EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcumma domestica) DAN DAUN SALAM (Syzigium polyanthum) DENGAN GELATIN SEBAGAI BAHAN PENGIKAT
Rimpang kunyit (Curcuma domestica) mengandung senyawa kurkumin yang berkhasiat sebagai antikolesterol. Daun salam (Syzygium polyanthum) memiliki kandungan flavanoid, saponin, tanin, vitamin C, B3, A, dan E yang berpotensi sebagai antikolesterol. Sediaan tablet memiliki keuntungan seperti pemberian dosis yang lebih tepat dan mudah dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik tablet kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun salam dengan variasi konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat. Tablet dibuat menggunakan metode granulasi basah dengan perbandingan ekstrak 1 : 1 menggunakan konsentrasi gelatin 5% (F1) : 7,5% (F2) : 10% (F3). Evaluasi tablet yang dilakukan meliputi uji keseragaman bobot, uji keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji kerapuhan dan uji waktu hancur tablet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tablet kombinasi rimpang kunyit dan daun salam dengan konsentrasi gelatin 5% menghasilkan mutu tablet terbaik berdasarkan evaluasi keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Penggunaan variasi konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat mempengaruhi kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Semakin besar konsentrasi gelatin maka semakin besar nilai kekerasan, semakin kecil nilai kerapuhan dan semakin lama waktu hancur tablet.
UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN BAYAM BRAZIL (Althernanthera sisso) DAN DAUN MURBEI (Morus alba L.) DENGAN PENGHAMBATAN RADIKAL BEBAS BERSERTA KOMBINASINYA
Bayam brazil (Althernanthera sisso) mengandung karetenoid, vitamin C, vitamin K, vitamin B6, asam folat, zat besi, kalsium dalam jumlah tinggi dan berfungsi sebagai antioksidan yang membantu mencegah fungsi neuronal dan kognitif otak. Daun Murbei (Morus alba L.) mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, dan polifenol. Antioksidan berperan penting dalam menangkal radikal bebas, mencegah penyakit-penyakit degeneratif seperti kardiovaskular, karsinogenik dan penyakit lainnya. Bayam brazil dan daun murbei dibuat dalam bentuk ekstrak etanol 96% yang dimana metode yang digunakan adalah peredaman radikal bebas dengan DPPH (2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl). Tujuannya untuk melihat aktivitas antioksidan terbaik, diantara tunggal dan kombinasinya yang nilai perbandinganya adalah (1:1), (1:3) dan (3:1) diantara daun murbei dan bayam brazil. Pengujian direaksikan dimana sampel dan larutan DPPH sebagai radikal bebas yang diinkubasi selama 30 menit dan dilihat nilai absorbansinya dengan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukan bahwa ektrak kombinasi daun murbei dan bayam brazil menghasilkan aktivitas antioksidan kategori sangat kuat yang dimana IC50 dari masing-masing perbandingan berturut-turut (1:1) 12,78 ppm, (1:3) 6,37 ppm, (3:1) 8,29 ppm yang menurut Molyneux berada di konsentrasi kurang dari 50 ppm. Begitupun dengan ekstrak tunggalnya yang berada dikategori sangat kuat dengan nilai IC50 daun murbei 6,70 ppm dan bayam brazil 4,98 ppm. Semakin tinggi konsentrasi sampel, semakin besar kemampuan untuk menghambat radikal bebas dengan menurunnya nilai absorbansi .
POTENSI SENYAWA FLAVONOID SEBAGAI TERAPI PENYAKIT PARKINSON MELALUI PENDEKATAN PENAMBATAN MOLEKUL
Penyakit Parkinson merupakan gangguan neurologis progresif yang ditandai oleh degenerasi neuron penghasil dopamin di otak. Pilihan pengobatan yang tersedia saat ini terbatas dan seringkali menimbulkan efek samping, sehingga menekankan perlunya strategi terapeutik baru. Flavonoid, senyawa alami yang ditemukan dalam berbagai tumbuhan, telah menunjukkan potensi dalam melindungi sel-sel saraf dan memiliki sifat antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa flavonoid yang memiliki manfaat terapi untuk penyakit Parkinson melalui pendekatan penambatan molekul. Penelitian dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Autodock Vina yang merupakan suatu program yang dapat melakukan penambatan molekul ligan pada makromolekul reseptor. Kemudian divisualisasikan menggunakan Discovery Studi 2021 serta dilakukan analisis Lipinski’s Rule of Five, ADMET menggunakan situs pkCSM online tool dan Toxtree lalu dilakukan analisis simulasi dinamika molekuler menggunakan perangkat lunak Desmond. Hasil penelitian menunjukkan reseptor 6CM4, 2V5Z dan 3BWM dinyatakan valid dan memiliki nilai RMSD < 2 Å. Dilanjutkan proses penambatan dengan 100 senyawa flavonoid. 75 senyawa memenuhi aturan Lipinski dan diperoleh 3 senyawa terbaik yaitu daidzin, silibinin dan fisetin yang memiliki nilai afinitas pengikatan yang lebih rendah dibandingkan dengan native ligannya. Ketiga senyawa memiliki aktivitas farmakokinetika yang baik serta toksisitas masuk ke dalam kelas 3 kategori creamer rules yang artinya dapat menyebabkan toksik bila digunakan dalam dosis tinggi. Berdasarkan hasil simulasi dinamika molekuler, senyawa daidzin dan silibinin memiliki kestabilan yang baik pada waktu simulasi 100 ns.
STABILITAS DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN LOTION EKSTRAK ETANOL DAUN KEJI BELING ( Strobilanthes sp)
Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat okisidasi molekul lain. Daun keji beling (Strobilanthes sp) memiliki senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Kandungan senyawa flavonoid yang terdapat pada daunkeji beling diketahui dapat berperan sebagai antioksidan alami. Lotion adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan untuk pemakaian luar kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% dan ekstrak etanol 96% daun keji beling, antioksidan terbaik di formulasikan kedalam sediaan lotion minyak dalam air, mengetahui stabilitas lotionekstrak daun keji beling. Bahan aktif yang digunakan dalam pembuatan lotion adalah ekstrak etanol 70% karena memiliki nilai IC50 25,178 ppm (sangat kuat), sediaan dibuat dalam 100 mL. Uji stabilitas lotion antioksidan mencakup tiga suhuyang berbeda yaitu suhu 4oC, 27oC dan 40oC yang disimpan selama 4 minggu. Evaluasi stabilitas lotion diuji mutu fisik (organoleptik, homogenitas, daya sebar, pH, dan viskositas) serta uji aktivitas lotion. Hasil evaluasi stabilitas mutu fisik semua sedian lotion memenuhi yaitu berwarna hijau kecoklatan, berbentuk setengah padat, berbau green tea, homogen, daya sebar 4,5 – 6,9, pH 5 - 7, viskositas 6.916 – 10.916 cps. Hasil antioksidan lotion minggu ke 1 dan minggu ke 4 stabil.
PERBANDINGAN STABILITAS DIPERCEPAT PIRACETAM 800 MG TABLET SALUT MENGGUNAKAN PELARUT SALUT ORGANICBASE DAN WATERBASE
Pada saat ini untuk proses pelapisan atau coating sediaan obat sudah banyak beralih menggunakan pelarut salut waterbase ketimbang organicbase. Sehingga banyak industri farmasi yang juga megikuti perubahan ini. Selain dikarenakan cost yang dikeluarkan untuk proses produksi menjadi murah juga untuk tingkat keamanan yang lebih maksimal karena yang digunakan umumnya dichlormethane yang memiliki batas konsumsi 6 mg/hari. Sedangkan untuk mengetahui keefektifan obat diperlukan data stabilitas. Untuk proses registrasi minimal dibutuhkan data stabilitas obat piracetam 800 mg tablet salut dengan menggunakan pelarut salut organicbase dan waterbase. Penelitian ini termasuk penelitian longitudinal atau retrospektif, dimana saat proses pengajuan penelitian, analisa sudah sebagian dilakukan. Analisa yang dilakukan menggunakan waktu stabilitas dipercepat 0, 1, 2, 3 dan 6 bulan. Pemeriksaan kadar mengacu kepada Farmakope China edisi 2014, menggunakan metode analisa HPLC. Sedangkan pemeriksaan disolusi menggunakan metode spektrofotometri yang dilakukan pengembangan internal. Analisis data yang digunakan meliputi data kadar, disolusi dan waktu hancur yang diolah menggunakan SPSS 26. Hasil analisis dari kadar dan waktu hancur menunjukkan data yang berbeda pada sampel waterbase ulangan pertama karena di dapat hasil p-value di bawah 0,05%. Sedangkan pada hasil dissolusi didapatkan data yang homogen karena memiliki nilai p-value di atas 0,05%. Artinya hasil stabilitas piracetam dengan pelarut air dan pelarut organik menunjukkan perbedaan. Hasil kadar, disolusi dan waktu hancur masih memenuhi syarat spesifikasi yang ditetapkan farmakope.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI FORMULASI SERUM EKSTRAK ETANOL 96% KULIT BUAH JERUK LEMON (Citrus limon (L.) Osbeck) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acne
Propionibacterium acnes adalah bakteri yang dapat menyebabkan jerawat melalui peradangan kronis pada lapisan folikel pilosebasea disertai sumbatan dan penumpukan bahan keratin. Tujuan penelitian yaitu mengetahui kandungan metabolit sekunder ekstrak etanol 96% kulit jeruk lemon yang berfungsi sebagai antibakteri, menentukan aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dari ekstrak kulit jeruk lemon dan sediaan serum. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak mengandung flavonoid, fenolik, glikosida, saponin dan tritepenoid. Formulasi serum ekstrak etanol kulit jeruk lemon dibuat dengan konsentrasi bervariasi 20%, 25% dan 30%. Zona hambat antibakteri yang diperoleh dengan konsentrasi terbaik ada pada formula 30% adalah sediaan serum dengan nilai 14,40 mm dan ekstrak kulit jeruk lemon dengan nilai 12,76 mm keduanya masuk dalam kategori kuat karena >10 mm. Stabilitas fisik dilakukan pada semua formula sediaan serum dan diuji dengan organoleptik, homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat dan uji viskositas. Adapun formula yang stabil setelah uji stabilitas adalah formulasi 1 selama 12 hari pada suhu 4°C dan 40°C. Pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol 96% kulit jeruk lemon semakin tinggi diameter zona hambat. Analisis statistik menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak dalam efek formula adalah signifikan (p<0,05) pada aktivitas antibakteri.
KADAR TOTAL FENOL DAN FLAVONOID EKSTRAK ETANOL 70%DAUN SALAM (Syzygium polyanthum [Wight] Walp.) YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN SPF
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI ETIL ASETAT DAUN TEH (Camellia sinensis (L.) Kuntze) TAWANGMANGU
Formulasi Sediaan Lotion Ekstrak Etanol 96% Daun Bidara (Ziziphus Spina-Christi(L) Desf) Sebagai Antioksidan
Formulasi Sediaan Lotion Ekstrak Etanol 96% Bunga Telang Sebagai Antioksidan
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI ETIL ASETAT DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.)
Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat mencegah dan memperlambat kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas melalui penghambatan mekanisme oksidatif. Daun salam memiliki aktivitas antioksidan dengan kandungan senyawa flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nilai IC50 dari ekstrak etil asetat fraksi etil asetat daun salam (Syzygium polyanthum (Wigh) Walp.). Metode yang digunakan pada penetuan antioksidan adalah metode peredaman radikal 2,2 difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Pada penelitian ini daun salam diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 96% kemudian dipartisi dengan etil asetat dan air. Ektrak etil asetat daun salam diuji aktivitas antioksidannya serta dilakukan pemisahan dengan metode kromatografi Lapis Tipis dan Kolom, hingga diperoleh fraksi dan sub fraksi terbaik berdasarkan persen hambatnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etil asetat memiliki nilai IC50 sebesar 72,54 ppm (kuat) dan F.5.6 merupakan fraksi terbaik sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 7,33 ppm (sangat kuat). Pembanding yang digunakan yaitu vitamin C menunjukan nilai IC50 sebesar 5,52 ppm (sangat kuat). Antioksidan setelah fraksinasi memiliki aktivitas lebih kuat dari ekstrak dengan katagori sangat kuat dan setara dengan vitamin C.