BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus berkembang
dari waktu ke waktu dan membahayakan kesehatan manusia dan hewan yang
disebabkan oleh mikroorganisme seperti salah satunya bakteri Staphylococcus
aureus. Bidara putsa (Ziziphus mauritiana Lam.) merupakan salah satu tanaman
yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui golongan
metabolit sekunder dalam rebusan daun bidara putsa yang ditetapkan melalui uji
fitokimia serta mengetahui aktivitas antibakteri dari rebusan daun bidara putsa
terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini rebusan daun bidara
putsa dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 30% (%b/v) diekstraksi dengan cara
perebusan pada suhu 90oC selama 15 menit dan ditentukan golongan senyawa
fitokimia secara kualitatif. Selanjutnya diuji aktivitas antibakteri terhadap
Staphylococcus aureus dengan metode difusi cakram. Metabolit sekunder yang
terkandung dalam rebusan daun bidara putsa konsentrasi 30% adalah alkaloid,
flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rebusan daun bidara putsa dengan konsentrasi 30% memiliki aktivitas terbaik
dengan diameter zona hambat 13,22 mm. Namun, aktivitas antibakteri rebusan daun
bidara putsa 30% masih rendah dan berbeda nyata (α<0,05) dengan kontrol positif
kloramfenikol 0,1%. Berdasarkan diameter zona hambat tersebut dapat
disimpulkan bahwa rebusan daun bidara putsa memiliki potensi untuk menghambat
bakteri Staphylococcus aureus.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kombucha merupakan suatu produk minuman hasil fermentasi larutan teh dan
gula dengan menambahkan starter mikroba kombucha yaitu Acetobacter xylinum
dan beberapa jenis khamir atau jamur kombucha. Penelitian ini untuk menentukan
aktivitas kombucha daun salam terhadap penghambatan pertumbuhan Escherichia
coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini akan membuat kombucha daun
salam dengan variasi konsentrasi daun salam. Kombucha daun salam yang
diperoleh akan diuji komponen golongan senyawa kimia, pH, dan aktivitas
antibakteri dengan metode difusi cakram. Kombucha daun salam mengandung
flavonoid, saponin, dan tanin. Kombucha daun salam 1,25%-5% memiliki kisaran
pH 2,90-3,17. Kombucha daun salam konsentrasi 1,25% - 5% memiliki kisaran
diameter zona hambat antara 5,51 mm (kategori sedang) - 8,81 mm (kategori
sedang) terhadap Escherichia coli. Diameter zona hambat kombucha daun salam
konsentrasi 1,25% - 5% terhadap Staphylococcus aureus berkisar 4,97 (kategori
lemah) -7,25 mm (kategori sedang). Oleh sebab itu, kombucha daun salam dengan
konsentrasi 1,25%, 2,5%, 3,75%, dan 5% (b/v) dapat menghambat pertumbuhan
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus dapat menyebabkan metabolisme di dalam tubuh terganggu sehingga kekebalan tubuh menurun dan rentan terinfeksi mikroorganisme seperti bakteri yang berasal dari lingkungan sekitar. Bakteri yang ada di dalam tubuh dengan sistem imun rendah tersebut akan berkembang biak dengan mudah dan menyebabkan komplikasi pada penderita diabetes melitus. Salah satu tanaman obat yang memiliki efek antidiabetes dan antibakteri yaitu adalah krokot (Portulaca
oleracea L.). Senyawa flavonoid pada krokot memiliki sifat antibakteri dan sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar total flavonoid, penghambatan pada enzim α-glukosidase, dan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Eschericia coli pada ekstrak etanol 96%, metanol, akuades, etil asetat, dan n-heksan herba krokot. Pengujian kadar total flavonoid dihitung dengan metode AlCl3, inhibisi α-glukosidase dilakukan secara in vitro menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 410 nm, serta aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai total flavonoid tertinggi terdapat pada ekstrak metanol herba krokot yaitu 4,547 mgQE/g BK, penghambatan enzim α-glukosidase tertinggi terdapat pada ekstrak metanol herba krokot 10.000 ppm yaitu 30,825%, serta diameter zona hambat terbesar 4,37 mm terdapat pada rata-rata pengujian terhadap bakteri Escherichia coli dengan ekstrak etil asetat herba krokot konsentrasi 30%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Masalah kesehatan mulut dapat disebabkan oleh berbagai macam bakteri. Karies
gigi dapat disebabkan oleh bakteri gram positif yaitu Streptococcus mutans dan
Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas
antibakteri ekstrak etanol 96% herba meniran hijau terhadap bakteri gram positif
penyebab karies gigi yaitu Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus.
Sampel ekstrak kental dilakukan penapisan fitokimia untuk mengetahui kandungan
metabolit sekunder yang dikandung setelah itu dilakukan uji aktivitas antibakteri
menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer. Hasil penelitian penapisan
fitokimia pada ekstrak etanol 96% herba meniran hijau mengandung flavonoid,
saponin, tanin dan triterpenoid. Hasil nilai rata-rata zona hambat yang dilakukan
secara triplo pada uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans
yaitu pada ekstrak 5% menghasilkan zona hambat sebesar 20,70 mm (kuat), ekstrak
2,5% sebesar 19,45 mm (kuat), ekstrak 1,25% sebesar 13,50 mm (kuat) dan pada
kontrol positif amoxicillin menghasilkan zona hambat sebesar 23,55mm (sangat
kuat). Pada pengujian Staphylococcus aureus yaitu pada ekstrak 5% menghasilkan
zona hambat sebesar 12,40 mm (kuat), ekstrak 2,5% sebesar 10.27 mm (sedang),
ekstrak 1,25% sebesar 9,65 mm (sedang) dan pada kontrol positif amoxicillin
menghasilkan zona hambat sebesar 16,45 mm (kuat). Ekstrak etanol 96% herba
meniran hijau memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro terhadap bakteri gram
positif penyebab karies gigi yaitu bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus
aureus.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Bakteri Escherichia coli menyebabkan diare dan bakteri Staphylococcus aureus
menyebabkan infeksi kulit. Tumbuhan mimba dapat diambil khasiatnya dengan diolah
menjadi ekstrak, minyak, atau direbusan airnya. Daun mimba memiliki sifat antibakteri
yang kuat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan pelarut dalam
pembuatan simplisia yang berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun
mimba. Mengetahui kandungan zat bioaktif dalam ekstrak etanol 96%, etil asetat, dan
n-heksan yang ditetapkan melalui uji fitokimia. Mengetahui aktivitas antibakteri
ekstrak n-Heksan, ekstrak etil asetat, dan etanol 96% pada konsentrasi ekstrak yang
digunakan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimental laboratorium meliputi maserasi daun mimba
dalam n-Heksan, etil asetat, etanol 96%. Kemudian diuji aktivitas antibakteri
menggunakan metode difusi cakram dengan kontrol positif, kontrol negatif, variabel
bebas (konsentrasi ekstrak daun mimba yang diujikan) , variabel terikat (pertumbuhan
koloni dari Escherichia coli dan Staphylococcus aureus) didapatkan hasil aktivitas
antibakteri terdapat perbedaan antara Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang
menunjukkan hasil rata-rata pada bakteri Escherichia coli pelarut etanol 96%
didapatkan nilai terbesar 12,20 mm (kuat), etil asetat 13,33 mm (kuat), n-heksan 16,27
mm (kuat) pada bakteri Staphylococcus aureus pelarut etanol 96% didapatkan nilai
terbesar 11,80 mm (kuat), etil asetat 13,56 mm (kuat), n-heksan 16,27 mm (kuat).
setelah didapatkan data zona hambatnya data diolah menggunakan spss versi 26 dan
didapatkan hasil zona hambat berdistribusi tidak normal dengan nilai signifikan uji
kruskal wallis 0.011 < 0.05. Sehingga disimpulkan adanya perbedaan signifikan rata-
rata persentase zona hambat pada masing-masing koloni dan pelarut ekstrak.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan daun alpukat (Persea americana Mill)
merupakan tanaman yang mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, tanin,
saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui daya hambat ekstrak tunggal daun jambu biji dan daun alpukat serta
kombinasi keduanya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Uji aktivitas antibakteri
dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak tunggal daun jambu
biji dan daun alpukat dibuat ke dalam konsentrasi 10%, 30% dan 50%. Kemudian hasil
terbaiknya dibuat kombinasi dengan perbandingan 1:1, 1:2, dan 2:1 yang selanjutnya
di uji aktivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasilnya menunjukan
bahwa pada daun jambu biji dan daun alpukat menunjukan aktivitas terbaiknya pada
konsentrasi 50% dengan diameter daya hambat sebesar 16,7 mm dan 18,59 mm yang
termasuk kedalam kategori kuat. Selanjutnya dari konsentrasi 50% tersebut dibuat
perbandingan, hasil perbandingan terbaik yaitu pada perbandingan 1:2 (daun jambu biji
: daun alpukat) yang memberikan efek sinergis dengan diameter daya hambat sebesar
20 mm yang termasuk kategori antibakteri kuat
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Buah sawo duren (Chrysophyllum cainito) merupakan tumbuhan yang dapat
digunakan sebagai antimikroba dan obat alternatif dalam pengobatan atau kontrol
infeksi bakteri enterik. Sawo duren memiliki kandungan senyawa tanin, alkaloid,
flavonoid, steroid dan glikosida jantung yang berasal dari ekstrak jus buah dan
biji. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak etil
asetat, etanol 96%, dan air dari buah segar sawo duren. Uji aktivitas antibakteri ini
dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumuran. Ekstrak etil asetat, etanol
96% dan air dari buah segar sawo duren yang akan diuji dibuat ke dalam
konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50% yang selanjutnya dilakukan uji aktivitas
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil uji aktivitas antibakteri
ekstrak etil asetat, etanol 96% dan air dari buah segar sawo duren terhadap
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli di dapat hasil penghambatan
pertumbuhan pada bakteri Staphylococcus aureus terdapat pada ekstrak akuades
yaitu pada konsentrasi 50%, dengan nilai aktivitas terbaik 20,3 mm.
Penghambatan terbaik pada pertumbuhan bakteri Escherichia coli terdapat pada
ekstrak etil asetat yaitu pada konsentrasi 50%, dengan nilai 17,8 mm.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri yang sering
mengakibatkan penyakit akibat pola makan dan pola hidup yang tidak bersih.
Staphylococcus aureus mengakibatkan penyakit bisul, abses kulit dan infeksi
kulit, sedangkan Escherichia coli dapat mengakibatkan demam, mual dan muntah,
serta diare dengan tingkat keparahan ringan hingga parah, dan bahkan berdarah.
Untuk mencegah terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperlukan sediaan gel yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Rimpang Jahe Emprit (Zingiber
Officinale Rosc) memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui aktivitas ekstrak rimpang jahe untuk menghambat pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Rimpang jahe emprit di
ekstrak menggunakan etanol 96%. Ekstrak kental rimpang jahe emprit dari hasil
ekstraksi didapatkan 56,19 gram lalu dilakukan uji fitokimia, dan hasil uji
fitokimia pada ekstrak rimpang jahe menunjukkan hasil positif untuk alkaloid,
flavonoid, saponin, tanin dan terpen/steroid. Ekstrak kental rimpang jahe emprit
dibuat 4 sediaan gel yaitu : basis, konsentrasi 5%, konsentrasi 10% dan
konsentrasi 15%. Sediaan yang dibuat dilakukan uji stabilitas dengan uji
organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji homogenitas, uji daya sebar dan uji
antibakteri. Uji stabilitas yang dilakukan pada sediaan menggunakan metode
cycling test, metode ini dilakukan dengan cara menyimpan sediaan gel pada suhu
4
oC selama 24 jam lalu dipindahkan ke dalam oven dengan suhu 40oC selama 24
jam. Perlakuan ini disebut dengan 1 siklus , dan dilakukan sebanyak 6 siklus.