BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol merupakan suatu alkohol steroid atau sterol utama yang
tersebar luas di dalam semua sel tubuh khususnya pada jaringan saraf, dimana
berperan penting sebagai pembentuk membran plasma, vitamin D, dan asam
empedu. Beberapa tumbuhan seperti daun salam dan daun stevia dinilai tepat
sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi terbaik dari seduhan teh
daun salam (Syzygium polyanthum (Wight.)Walp) dan daun stevia (Stevia
rebaudiana) dalam menghambat pembentukan kolesterol baik secara tunggal atau
kombinasi. Pengujian aktivitas antikolesterol dilakukan secara in vitro dengan
menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada 670 nm, nilai absorbansi yang
diperoleh digunakan untuk menghitung % inhibisi dan IC50. Sampel diperoleh
dengan metode seduhan. Kandungan fitokimia pada daun salam antara lain
Alkaloid pereaksi Mayer dan Dragendorff, Saponin, Tanin, Fenol, Flavonoid,
Triterpenoid, dan Steroid. Sedangkan untuk daun stevia antara lain senyawa
Alkaloid pereaksi Mayer dan Dragendorff, Saponin, Fenol, Flavonoid,
Triterpenoid, dan Steroid. Hasil penelitian aktivitas antikolesterol yang diperoleh
dari nilai IC50 seduhan tunggal daun salam dan daun stevia sebesar 85,15ppm dan
100,2ppm. Sedangkan kombinasi terbaik dalam perbandingan masing-masing 1
:1, 1:3, dan 3:1 terdapat pada kombinasi daun salam dan daun stevia 1:1 dengan
nilai IC50 sebesar 60,8ppm.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tanaman salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan tanaman
yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Kulit batang salam mengandung
senyawa alkaloid, tanin, tanin dan flavonoid. Alkaloid dapat menghambat aktivitas
enzim lipase pankreas sehingga meningkatkan sekresi lemak melalui feses, tanin
menghambat penyerapan lemak di usus dengan cara bereaksi dengan protein
mukosa dan sel epitel usus sedangkan fenolik dan flavonoid mengurangi kadar
kolesterol dalam darah dengan menghambat kerja enzim HMG-CoA reduktase.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya aktivitas
antikolesterol dari ekstrak kulit batang salam serta membandingkan pelarut mana
yang lebih baik dalam menurunkan kolesterol. Kulit batang salam dibuat ekstrak
secara maserasi menggunakan pelarut air, etanol dan etil asetat. Masing-masing
ekstrak diuji kandungan fitokimia kemudian diukur penurunan kadar kolesterol
dengan dibuat deret konsentrasi 50-150 ppm. Aktivitas penurunan kadar kolesterol
dilakukan dengan menambahkan pereaksi Lieberman-Buchard dan diukur dengan
Spektrofotometer UV-Vis. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak kulit batang
salam mengandung flavonoid, tanin, triterpenoid, saponin dan fenol. Pada
penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak air, etanol dan etil asetat memiliki
aktivitas antikolesterol secara in vitro. Persen penurunan kadar kolesterol pada
konsentrasi paling rendah (50 ppm) yang paling baik yaitu ekstrak etanol dengan
persentase 73,9% dibandingkan dengan ekstrak air sebesar 70,19% dan ekstrak etil
asetat sebesar 68%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol adalah lemak yang diproduksi oleh tubuh dan juga berasal dari
makanan hewani. Dalam kadar yang sesuai dapat membantu membangun sel-sel baru
agar tubuh bisa tetap berfungsi dengan normal. Peningkatan kadar kolesterol dapat
menyebabkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Untuk menurunkan
kolesterol dalam tubuh bisa menggunakan tanaman tradisional seperti daun sambiloto
(Andrographis paniculata) dan daun salam (Syzygium polyanthum). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kombinasi terbaik infus daun sambiloto dan daun salam
yang memiliki aktivitas antikolesterol yang lebih baik dari infus tunggal. Ekstrak
diperoleh dengan metode infusa. Pengujian antikolesterol dilakukan dengan pereaksi
Lieberman-Burchard secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis
pada λ 670 nm. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam infus daun
sambiloto yaitu Flavonoid dan Tanin sedangkan untuk infus daun salam yaitu
Alkaloid, Flavonoid, Saponin, dan Tanin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Kombinasi infus 3:1 (Sambiloto : Salam) yaitu sebesar 47,16% lebih baik
dibandingkan infus tunggal sambiloto yaitu sebesar 21,87% dan infus tunggal salam
yaitu sebesar 16,15% dan hasil uji Kruskal-Wallis antara infus salam, kombinasi 1:1
dan 1:3 dengan infus sambiloto dan kombinasi 3:1 nilainya berbeda nyata (p-value
0,01 < 0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Upaya penurunan kadar kolesterol darah yang tinggi pada penderita
hiperkolesterolmia dapat dilakukan dengan menggunakan bahan alam yang
mengandung zat antikolesterol. Bahan alam yang biasa digunakan sebagai obat
tradisional ialah rimpang kunyit dan daun salam. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis potensi antikolesterol ekstrak etanol 96% rimpang kunyit (Curcuma
longa L.) dan daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) baik ekstrak
tunggal maupun kombinasinya. Ekstrak etanol 96% kedua bahan tanaman diperoleh
dengan metode maserasi. Kandungan golongan senyawa aktif ekstrak diuji secara
kualitatif melalui uji fitokimia. Potensi ekstrak sebagai antikolesterol diuji dengan
pereaksi Lieberman Burchard dan diukur dengan spektrofotometer, hingga
diperoleh nilai konsentrasi ekstrak yang dapat menghambat 50% kolesterol (IC50).
Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak rimpang kunyit dan daun salam
mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Kandungan golongan
senyawa antikolesterol pada ekstrak rimpang kunyit lebih baik (53,25%)
dibandingkan ekstrak daun salam (43,61%). Hasil uji potensi antikolesterol
menunjukkan ekstrak kunyit memiliki potensi antikolesterol (IC50 = 83,179 ppm)
yang lebih baik dari pada ekstrak daun salam (IC50 = 88,288 ppm). Sedang pada
kombinasi ekstrak kunyit dan daun salam 1:1 (IC50 = 82,714 ppm) mempunyai
potensi antikolesterol yang lebih baik daripada kombinasi 1:3 (IC50 = 282,957 ppm)
dan 3:1 (IC50 = 96,713ppm). Secara keseluruhan potensi antikolesterol kombinasi
ekstrak kunyit dan daun salam 1:1 lebih baik dari ekstrak tunggalnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi merupakan penyakit paling
umum di Indonesia. Prevalensi penyakit karies di Indonesia menunjukkan angka
yang tinggi. Penyebab utama terjadinya karies gigi adalah adanya bakteri
Streptococcus mutans. Daun sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) dan daun salam
(Syzygium polyanthum (Wight) W.) adalah daun yang mengandung senyawa
flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas antibakeri. Penelitian ini
bertujuan untuk memperoleh konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak
tunggal etanol 96% daun sereh wangi dan daun salam yang akan digunakan untuk
membuat kombinasi. Serta mengetahui perbandingan ekstrak etanol 96% daun
sereh wangi dan daun salam yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans. Secara tunggal atau kombinasi masing-masing dimaserasi
dengan etanol 96%. Kemudian ekstrak dibuat 3 konsentrasi dan 3 perbandingan
diuji dengan menggunakan metode kertas cakram. Hasil menunjukkan bahwa
ekstrak etanol daun sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 30%, dan 60% beturut-
turut sebesar 8,09 mm, 9,45 mm dan 11,18 mm. dan untuk ekstrak daun etanol
salam dengan konsentrasi 15%, 30%, dan 60% beturut-turut sebesar 10,82 mm,
12,27 mm dan 13,05 mm. Dari masing-masing ekstrak konsentrasi terbaik untuk
dibuat kombinasi yaitu pada konsentrasi 60%. dengan diameter zona hambat rata-
rata sebesar 11,18 mm untuk daun sereh wangi dan 13,05 mm untuk daun salam
yang menunjukkan memiliki aktivitas antibakteri yang kuat. Dan untuk kombinasi
yang memiliki nilai diameter zona hambat terbesar pada perbandingan 1:3
(sereh:salam) dengan diameter zona hambat rata-rata 15,64 mm yang berarti
memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh
ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi insulin yang ditandai dengan
hiperglikemia. Salah satu terapi yang digunakan untuk menurunkan kadar glukosa
darah adalah dengan menggunakan obat-obatan yang memiliki mekanisme kerja
dengan menghambat enzim α-glukosidase, sehingga dapat menunda penyerapan
glukosa di saluran pencernaan. Salah satu tanaman yang berpotensi menghambat
enzim α-glukosidase adalah daun salam. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui aktivitas ekstrak etil asetat dan fraksi kromatografi kolom daun salam
dalam menghambat enzim α-glukosidase. Ekstrak etil asetat diperoleh melalui
proses partisi cair-cair dari ekstrak etanol 96%. Ekstrak etil asetat dipisahkan
dengan fraksinasi menggunakan kromatografi kolom dan KLT dengan substrat
pNPG dan kontrol positif acarbose. Pengujian aktivitas penghambatan enzim α-
glukosidase menggunakan ELISA reader dengan panjang gelombang 405 nm. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas penghambatan
enzim α-glukosidase dengan IC50 sebesar 87,93 ppm. Fraksi F-5.5 merupakan fraksi
terbaik dengan nilai IC50 sebesar 18,99 ppm. Aktivitas akarbosa dalam menghambat
enzim α-glukosidase memiliki nilai IC50 sebesar 18,05 ppm. Disimpulkan bahwa
fraksi F-5.5 memiliki aktivitas yang lebih baik dibandingkan ekstrak etil asetat
dalam menghambat enzim -glukosidase.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat mencegah dan
memperlambat kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas melalui
penghambatan mekanisme oksidatif. Daun salam memiliki aktivitas antioksidan
dengan kandungan senyawa flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh nilai IC50 dari ekstrak etil asetat fraksi etil asetat daun salam
(Syzygium polyanthum (Wigh) Walp.). Metode yang digunakan pada penetuan
antioksidan adalah metode peredaman radikal 2,2 difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH).
Pada penelitian ini daun salam diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol
96% kemudian dipartisi dengan etil asetat dan air. Ektrak etil asetat daun salam
diuji aktivitas antioksidannya serta dilakukan pemisahan dengan metode
kromatografi Lapis Tipis dan Kolom, hingga diperoleh fraksi dan sub fraksi
terbaik berdasarkan persen hambatnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa
ekstrak etil asetat memiliki nilai IC50 sebesar 72,54 ppm (kuat) dan F.5.6
merupakan fraksi terbaik sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 7,33 ppm
(sangat kuat). Pembanding yang digunakan yaitu vitamin C menunjukan nilai IC50
sebesar 5,52 ppm (sangat kuat). Antioksidan setelah fraksinasi memiliki aktivitas
lebih kuat dari ekstrak dengan katagori sangat kuat dan setara dengan vitamin C.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif dengan
gangguan metabolik kronis yang dapat menyebabkan pankreas gagal
memproduksi cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau
glukosa). Pada umunya pengobatan diabetes melitus menggunakan terapi
insulin dan berbagai obat-obatan sintetik, namun pengobatan tersebut
memiliki efek samping, maka perlu dicari alternatif lain dengan pengobatan
herbal. Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) adalah salah satu
jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai inhibitor α-glukosidase.
Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menentukan kadar β-
sitosterol dari fraksi etil asetat daun salam yang memiliki aktivitas
penghambatan enzim α-glukosidase. Ekstrak diperoleh dengan metode
maserasi menggunakan etanol 96%. Kemudian dipartisi dengan pelarut etil
asetat dan air (1:1), setelah itu dilakukan pencarian sub fraksi etil asetat
dipisahkan dengan metode kromatografi kolom dan KLT serta dipandu
dengan aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase hingga diperoleh
isolat. Isolat diidentifikasi menggunakan spektro UV-Vis dan IR serta
ditentukan kadarnya. Hasil penelitian menujukkan bahwa isolat 4.5
merupakan β-sitosterol yang memiliki aktivitas IC50 sebesar 93,7 ppm
dalam menghambat enzim α-glukosidase, dengan kadar β-sitosterol 177,13
mg/gram.