Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut AND / OR / NOT
FORMULASI, UJI HEDONIK DAN UJI STABILITAS YOGURT DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG BEKATUL BERAS MERAH (Oryza sativa L.)
Yogurt merupakan salah satu produk probiotik berupa susu fermentasi yang dapat memberikan manfaat kesehatan melalui peningkatan keseimbangan mikroflora usus. Substitusi tepung bekatul beras merah pada yogurt selain meningkatkan nutrisi, juga meningkatkan sifat fisik yogurt. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan formula yogurt yang ditambah tepung bekatul beras merah, uji hedonik dan uji stabilitas yogurt yang dihasilkan. Tepung bekatul beras merah setelah diayak, disterilisasi dan dipanaskan. Formulasi yogurt dilakukan dengan cara mempasteurisasi susu full cream (F1), low fat (F2), skimmed (F3) dan fresh (F4) dengan penambahan susu bubuk skim 5%, sukrosa 5% dan tepung bekatul beras merah 1% kemudian difermentasi selama 8 jam. Organoleptik F1, F2, F3, F4 kental, homogen, F2 lebih disukai dalam segi penampakan, tekstur dan rasa, sedang F1 lebih disukai dalam segi aroma. Seluruh formula stabil selama penyimpanan dan memenuhi standar SNI 2981:2009 tentang yogurt.
POTENSI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 96% RIMPANG KUNYIT (Curcuma longa L.) DAN DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) SEBAGAI ANTIKOLESTEROL
Upaya penurunan kadar kolesterol darah yang tinggi pada penderita hiperkolesterolmia dapat dilakukan dengan menggunakan bahan alam yang mengandung zat antikolesterol. Bahan alam yang biasa digunakan sebagai obat tradisional ialah rimpang kunyit dan daun salam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi antikolesterol ekstrak etanol 96% rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dan daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) baik ekstrak tunggal maupun kombinasinya. Ekstrak etanol 96% kedua bahan tanaman diperoleh dengan metode maserasi. Kandungan golongan senyawa aktif ekstrak diuji secara kualitatif melalui uji fitokimia. Potensi ekstrak sebagai antikolesterol diuji dengan pereaksi Lieberman Burchard dan diukur dengan spektrofotometer, hingga diperoleh nilai konsentrasi ekstrak yang dapat menghambat 50% kolesterol (IC50). Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak rimpang kunyit dan daun salam mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Kandungan golongan senyawa antikolesterol pada ekstrak rimpang kunyit lebih baik (53,25%) dibandingkan ekstrak daun salam (43,61%). Hasil uji potensi antikolesterol menunjukkan ekstrak kunyit memiliki potensi antikolesterol (IC50 = 83,179 ppm) yang lebih baik dari pada ekstrak daun salam (IC50 = 88,288 ppm). Sedang pada kombinasi ekstrak kunyit dan daun salam 1:1 (IC50 = 82,714 ppm) mempunyai potensi antikolesterol yang lebih baik daripada kombinasi 1:3 (IC50 = 282,957 ppm) dan 3:1 (IC50 = 96,713ppm). Secara keseluruhan potensi antikolesterol kombinasi ekstrak kunyit dan daun salam 1:1 lebih baik dari ekstrak tunggalnya.
PENGEMBANGAN TEPUNG RUMPUT LAUT COKLAT (Turbinaria ornata) SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL BERBENTUK FLAKES UNTUK MENURUNKAN KADAR KOLESTEROL TOTAL
Hiperkolesterolemia adalah keadaan yang ditandai oleh adanya peningkatan kadar lemak dalam darah yang berbahaya bagi tubuh khususnya sering di jumpai adalah penyakit jantung koroner .Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya pola makan yang dapat mencegah dan mengatasi masalah kardiovaskuler, antara lain dengan menggunakan bahan tradisional yang harganya lebih terjangkau. Salah satu pengobatan alternatif menggunakan senyawa bahan alam untuk penanganan hiperkolesterolemia adalah serat. Mengonsumsi serat dapat menurunkan kadar kolesterol, salah satunya dengan cara menurunkan kadar kolesterol dalam plasma darah melalui mekanisme peningkatan eksresi asam empedu ke feses serta meningkatkan konversi kolesterol plasma menjadi asam empedu dalam hati. Serat yang digunakan yaitu rumput laut coklat (Turbinaria ornata). Rumput laut coklat (Turbinaria ornata) dibuat menjadi tepung untuk komposisi pembuatan flakes cereal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar kolesterol total pada mencit putih melalui adanya pemberian asupan flakes cereal rumput laut coklat (Turbinaria ornata). Adapun hewan uji yang digunakan yaitu sebanyak 25 ekor yang di induksi kuning telur puyuh dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan.Formulasi flakes cereal dibuat menjadi 3 formula dengan konsentrasi 15 %, 35%, 55%. Hasil pengujian didapat pada formula ke 2 yaitu 35% memiliki efektivitas hampir sama dengan kontrol positif yaitu Cholstiramide.
KADAR TOTAL FENOL DAN FLAVONOID FRAKSI ETIL ASETAT DAUN SALAM ( Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) YANG MEMILIKI AKTIVITAS SUN PROTECTING FACTOR (SPF)
Tanaman salam ( Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) adalah salah satu tumbuhan yang berkhasiat diantaranya sebagai antioksidan. Daun salam diketahui mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, steroid penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar total fenol dan falavonoid serta penetapan kadar sun protecting factor pada ekstrak etil asetat daun salam ( Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% hasil ekstrak kental kemudian di partisi dengan pelarut etil asetat dan air (1:1) fraksi etil asetat tersebut di uji kadar total fenol dan flavonoid serta SPF menggunakan Spektrofotometer UV-Vis Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun salam mengandung total fenol sebesar 534,285 mg GAE/gram dan total flavonoid pada fraksi etil asetat sebesar 419,66 mg GAE/gram serta Sun Frotecting Factor (SPF) dari fraksi etil asetat daun salam sebesar 39,27 yang termasuk kategori ultra sebagai tabir surya, kesimpulan penelitian ini bahwa fraksi etil asetat daun salam memiliki kemampuan SPF ultra dan dapat dijadikan sediaan tabir surya.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAUN MIMBA (Azadirachta indica A. Juss) DENGAN PELARUT ETANOL 96%,ETIL ASETAT, DAN n-HEKSAN TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus
Bakteri Escherichia coli menyebabkan diare dan bakteri Staphylococcus aureus menyebabkan infeksi kulit. Tumbuhan mimba dapat diambil khasiatnya dengan diolah menjadi ekstrak, minyak, atau direbusan airnya. Daun mimba memiliki sifat antibakteri yang kuat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan pelarut dalam pembuatan simplisia yang berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun mimba. Mengetahui kandungan zat bioaktif dalam ekstrak etanol 96%, etil asetat, dan n-heksan yang ditetapkan melalui uji fitokimia. Mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak n-Heksan, ekstrak etil asetat, dan etanol 96% pada konsentrasi ekstrak yang digunakan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium meliputi maserasi daun mimba dalam n-Heksan, etil asetat, etanol 96%. Kemudian diuji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan kontrol positif, kontrol negatif, variabel bebas (konsentrasi ekstrak daun mimba yang diujikan) , variabel terikat (pertumbuhan koloni dari Escherichia coli dan Staphylococcus aureus) didapatkan hasil aktivitas antibakteri terdapat perbedaan antara Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang menunjukkan hasil rata-rata pada bakteri Escherichia coli pelarut etanol 96% didapatkan nilai terbesar 12,20 mm (kuat), etil asetat 13,33 mm (kuat), n-heksan 16,27 mm (kuat) pada bakteri Staphylococcus aureus pelarut etanol 96% didapatkan nilai terbesar 11,80 mm (kuat), etil asetat 13,56 mm (kuat), n-heksan 16,27 mm (kuat). setelah didapatkan data zona hambatnya data diolah menggunakan spss versi 26 dan didapatkan hasil zona hambat berdistribusi tidak normal dengan nilai signifikan uji kruskal wallis 0.011 < 0.05. Sehingga disimpulkan adanya perbedaan signifikan rata- rata persentase zona hambat pada masing-masing koloni dan pelarut ekstrak.
PENETAPAN KADAR TOTAL FENOL DAN FLAVONOID SERTA PROFIL METABOLIT SEKUNDER PADA EKSTRAK n-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN ETANOL 96% DAUN MIMBA (Azadirachta indica A. Juss)
Tumbuhan mimba (Azadirachta indica A.Juss) yang berasal dari India, banyak ditanam di pulau Jawa, Madura, Bali dan Nusa Tenggara, karena hampir semua bagian tumbuhannya dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat untuk berbagai penyakit. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan daun mimba mengandung senyawa golongan terpenoid, flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, asam lemak, steroid dan triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan total fenol dan flavonoid serta profil metabolit sekunder pada ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol 96% daun mimba daerah Bogor. Ekstrak ketiga pelarut daun mimba diperoleh dengan metode maserasi serbuk simplisia, kandungan metabolit sekunder ekstraknya secara kualitatif diidentifikasi melalui uji fitokimia dan secara kuantitatif kadar total flavonoid dan fenol ditetapkan dengan metode spektrofotometri, dan profil senyawa metabolit sekundernya diidentifikasi dengan metode Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan Liquid Chromatography Mass Spectrometry (LCMS). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 96% daun mimba mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, tannin, dan steroid. Ekstrak etil asetat memiliki kandungan yang hampir sama dengan ekstrak etanol, tetapi tidak mengandung tanin dan memiliki triterpenoid. Sedang ekstrak n- Heksan hanya memiliki kandungan senyawa alkaloid dan fenol. Kadar total fenol pada ekstrak etanol 96% (142,2 mg GAE/gram) lebih besar dari pada ekstrak etil asetat (113,9 mgGAE/g), dan ekstrak n-Heksan (65,1 mgGAE/g). Sedang kadar flavonoid ekstrak etanol 96% (67,1 mgQE/g) lebih besar dari pada ekstrak etil asetat (61,4 mgQE/g) dan ekstrak n-Heksan (49,5 mgGE/g). Kelarutan fenol dan flavonoid semakin tinggi pada pelarut yang bersifat polar. Hasil analisis dengan FTIR pada ekstrak etanol 96% profil daun mimba menunjukkan banyaknya spektrum gugus -OH, diikuti oleh adanya C-H3, C=C, C-O. Sedang hasil analisis dengan LCMS diperoleh masa molekul sebesar 566 dengan formula C30H56N5O5 yang mencerminkan dominasi senyawa alkohol.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica A. Juss) MENGGUNAKAN METODE PENAMBATAN RADIKAL BEBAS
Hampir semua bagian tumbuhan mimba (Azadirachta indica A. Juss) memiliki banyak kegunaan bahan obat alami untuk berbagai penyakit, seperti antiinflamasi, antirematik, antipiretik, antikanker, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder dan menentukan aktivitas antioksidan pada ekstrak daun mimba. Ekstrak daun mimba diperoleh melalui maserasi bertingkat serbuk simplisia daun mimba dengan pelarut etanol 96%, etil asetat, dan n-heksan. Kandungan metabolit sekunder tiap ekstrak diidentifikasi melalui uji fitokimia dan aktivitas antiokiden tiap ekstrak ditetapkan dengan metode penambatan radikal bebas atau metode DPPH (2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl). Hasil penelitian menunjukkan uji fitokimia pada ekstrak etanol 96% pada akhir maserasi bertingkat positif lebih banyak mengandung jenis metabolit sekunder bersifat polar (alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, dan tanin) dari pada yang non polar (triterpenoid dan steroid). Sebagian metabolit sekunder polar juga sudah terekstrak lebih dahulu oleh pelarut etil asetat dan n-eksan (alkaloid dan fenol). Hasil penetapan aktivitas antioksidan daun mimba pada ekstrak etanol 96%, etil asetat dan n-heksan berturut-turut memiliki nilai IC50 sebesar 79,918 ppm, 81,238 ppm, dan 73,952 ppm. Nilai IC50 semua ekstrak tergolong kuat. Sedang nilai IC50 Vitamin C yang menjadi pembanding sebesar 3,738 ppm tergolong sangat kuat.
KADAR FENOLIK DAN FLAVONOID EKSTRAK ETANOL 70% DAUN TEH (Camellia sinensis L. Kuntze) DARI TAWANGMANGU DAN POTENSINYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN SUN PROTECTION FACTOR (SPF)
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN GEL DARI BIJI BUAH AREN (Arenga pinnata (Wurmb) Merr)
Biji buah aren atau endosperm buah aren yang biasanya dikenal masyarakat dengan sebutan kolang-kaling. Pada kolang-kaling terkandung senyawa alkaloid dan flavonoid yang mempunyai aktivitas sebagai analgetik dan antiinflamasi. Penelitian ini dilakukan karena sediaan gel dari kolang-kaling memiliki potensi untuk dijadikan produk paten yang dapat dikembangkan sebagai obat di ranah industri kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan formula sediaan gel dari kolang-kaling dengan mutu fisik yang baik selama pengujian stabilitas metode dipercepat dari variasi konsentrasi kolang-kaling F1(10%), F2(20%), dan F3(30%). Dilakukan pengujian stabilitas fisik yang meliputi: Organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan viskositas dengan waktu penyimpanan selama 28 hari pada suhu 4°C, 25°C, dan 40°C. Hasil pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa kolang-kaling dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel dan menghasilkan formula dengan mutu fisik yang baik selama pengujian stabilitas yaitu pada F1 konsentrasi kolang-kaling 10% terhadap suhu 4°C dan 25°C selama 28 hari penyimpanan.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN
Krim merupakan bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui stabilitas sediaan krim ekstrak daun mengkudu (Morinda citrifolia L) dengan metode cycling test dan untuk evaluasi sediaan krim ekstrak etanol daun mengkudu (Morinda citrifolia L) sebagai antioksidan. Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi, Maserasi bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat oleh pelarut, dengan prinsip meode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Krim antioksidan dibuat menjadi 3 formulasi dengan konsentrasi ekstrak yang berbeda-beda yaitu Formulasi 1 (0,5g) Formulasi 2 (1g) Formulasi 3 (1,5g). Formulasi krim ektrak etanol daun mengkudu memenuhi persyaratan evaluasi krim, meliputi pengujian kadar air, organoleptik, homogenitas, pH, daya lekat, diameter globul, kecuali uji daya sebar. Formulasi krim ekstrak etanol daun mengkudu dengan uji evaluasi sediaan memiliki hasil: kadar air 3,64%, homogenitas: homogen, pH 5,34, daya sebar 3,53 cm, daya lekat 30,90 detik, diameter globul 2,851, antioksidan 24,56ppm. Hasil uji stabilitas (Cycling test) homogenitas dan organoleptis pada F1,F2,dan F3 yaitu warna coklat kehijauan, bau khas aromatik, Bentuk kental/semi solid, homogenitas homogen, pH cycling test F1 5,04, F2 4,98, F3 4,99 . Hasil uji antioksidan yaitu kontrol negatif 730ppm, F1 71,41ppm, F2 59,13ppm, F3 24,56ppm, dan kontrol negatif 10,48ppm.
VALIDASI METODE ANALISA PENETAPAN KADAR CITRUS BIOFLAVANOID DAN PUREWAY C DALAM LOCO PROVE-C KSS SECARA HPLC
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevaliditasan metode analisis Citrus Bioflavanoid dan Pureway C secara HPLC. Karena metode analisa kadar dengan HPLC ini masih baru dan dikembangkan maka diperlukan validasi metode. Karena validasi metode analisis berguna untuk mengetahui dan menjamin metode analisis tersebut tepat atau valid untuk digunakan. Parameter validasi metode yang dilakukan meliputi uji presisi, akurasi, linearitas, limit deteksi, selektivitas , spesifitas, rugedness dan stabilitas .Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode HPLC dengan menggunakan fase gerak methanol dan aquadest yang dicampurkan dengan perbandingan (70:30) dengan panjang gelombang UV 280 nm. Kolom yang digunakan adalah jenis C18 dengan menginjeksikan sampel dan standar dengan volume injek 10 μl. Hasil uji kesesuaian sistem yang meliputi lempeng teoritis, asimetrisitas dan RSD memenuhi syarat . Hasil dari presisi kadar Citrus Bioflavanoid adalah sebesar 103,92% dan untuk Pureway C adalah sebesar 101,23% dengan nilai SBR sebesar 0,40 dan 0,60 . Hasil perolehan kembali dalam akurasi Citrus Bioflavanoid yaitu 99,99 % - 101,72% , dan perolehan kembali Pureway C yaitu 100,43%-101,84%. Metode ini memberikan linearitas yang baik dengan nilai korelasi untuk Citrus Bioflavanoid ( r2 = 0,9997) dan nilai korelasi untuk Pureway C ( r2 = 0,9999). Hasil SBR stabilitas untuk Citrus Bioflavanoid dari jam ke 0 hingga jam ke 12 sebesar 0,255 dan jam ke 12 hingga jam ke 24 sebesar 0,255 . Hasil SBR stabilitas untuk Pureway C dari jam ke 0 hingga jam ke 12 sebesar 0,346 dan jam ke 12 hingga jam ke 24 sebesar 0,940 dan nilai LOD dan LOQ untuk Citrus Bioflavanoid sebesar 0,00103 mg/mL dan 0,00345 mg/mL dan nilai LOD dan LOQ untuk Pureway C sebesar 0,00143 mg/mL dan 0,00426 mg/mL . Karena persyaratan validasi metode meliputi uji kesesuaian sistem , presisi ,akurasi, linearitas, spesifitas, selektivitas, stabilitas, rugedness, LOD dan LOQ sudah memenuhi syarat maka Metode analisa ini valid dan dapat digunakan untuk mengukur kadar Citrus Bioflavanoid dan Pureway C menggunakan HPLC
AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) HASIL MASERASI BERTINGKAT DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN KOLESTEROL
Asupan makanan dengan kandungan kolesterol tinggi secara teratur dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Beberapa tumbuhan obat yang dianggap memiliki khasiat anti kolesterol adalah Syzygium polyantum (Wight) Walp. Daun salam mengandung metabolit sekunder, antara lain flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penghambatan pembentukan kolesterol, kadar total fenol, flavonoid dan steroid ekstrak daun salam. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil asetat, etanol 96% dan air dengan metode dekok. Kemudian dilakukan uji aktivitas dan penapisan fitokimia. Hasil fitokimia menunjukan bahwa fraksi etanol 96% memiliki aktivitas tinggi dalam penghambatan pembentukan kolesterol dengan % inhibisi ekstrak etanol 96% sebesar 56,14%, n-heksan 45,88%, etil asetat 27,51 dan air 30,34%. Hasil IC50 93,94 ppm. Dengan kandungan flavonoid, tannin, saponin serta fenol. Ekstrak etanol 96% mengandung kadar total fenol sebesar 40,2 mg GAE/g, flavonoid 0,57 mg QE/g dan steroid 368,82 mg/g.
STANDARISASI FRAKSI AIR DARI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN TEH (Camellia sinensis L. Kuntze)
Camellia sinensis L. Kuntze yaitu daun teh, mempunyai khasiat sebagai antioksidan, antidiabetes, antibakteri, dan antijamur. Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas pada fraksi air dari ekstrak etanol 96% daun teh, terdiri dari parameter spesifik dan parameter non spesifik, berdasarkan aturan BPOM dan Farmakope Herbal Indonesia. Fraksi air daun teh diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 96% kemudian dipartisi menggunakan etil asetat dan air, fraksi air daun teh dilakukan pengujian parameter spesifik dan parameter non spesifik. Hasil penelitian yang diperoleh pada fraksi air daun teh berbentuk kental, warna coklat kehitaman dan bau yang khas, kadar sari larut air 77,92%, kadar sari larut etanol 61,14%, kadar air 15,3%, bobot jenis 1,0441746 g/mL, kadar abu total 1,562%, kadar abu yang tidak larut asam 0,28%, kadar abu larut air 99,672%, tidak tercemar logam Cd dan Hg, logam Pb 0,43 ppm, pada cemaran mikroba ALT sebesar2,5 101 cfu/gram, kapang dan khamir < 10 cfu/gram, kadar total fenol 419,286 mg GAE/ gram, kadar total flavonoid 270 mg/QE/gram. Fraksi air dari ekstrak etanol 96% daun teh memiliki standar mutu yang baik untuk dijadikan bahan obat yaitu ekstrak terstandar.
PENGHAMBATAN PEMBENTUKAN KOLESTEROL OLEH EKSTRAK DAUN TEH (Camellia sinensis (L.) Kuntze) DENGAN METODE MASERASI BERTINGKAT
Daun teh (Camellia sinensis L.) mengandung bahan aktif yang dapat digunakan sebagai bahan obat. Daun teh diketahui mengandung flavonoid dan polifenol tinggi yang diduga memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan dapat menghambat pembentukan kolesterol secara in vitro. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun teh sebagai penghambatan pembentukan kolesterol dan mengetahui kadar total fenol, total flavonoid dan total sterol dalam ekstrak daun teh. Pengujian penghambatan kolesterol dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada λ 672 nm absorbansi yang diperoleh untuk menghitung % inhibisi dan IC50. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas penghambatan kolesterol yang paling aktif sebesar 53,61% dan memiliki nilai IC50 sebesar 54,79 ppm. Kemudian dilanjutkan dengan uji kadar total fenol didapatkan hasil sebesar 295,328 mgGAE/g, kadar total flavonoid sebesar 73,947 mgQE/g dan kadar total sterol sebesar 165,41 mg/g.
UJI TOKSISITAS KOMBUCHA DAUN SALAM (Syzigium polyantha Wigh Walp) DENGAN METODE Brine Shrimp Lethality Test
Kombucha adalah minuman ringan dari china yang merupakan hasil fermentasi teh yang bermanfaat bagi kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk uji toksisitas kombucha daun salam (Syzigium polyantha (Wigh) Walp) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Kombucha daun salam dibuat melalui fermentasi hasil infusa daun salam dan gula dengan SCOBY (Symbotic Culture of Bacteria Yeast). Kombucha daun salam yang diperoleh di uji fitokimia dan ditetapkan nilai pH nya. Uji toksisitas kombucha dilakukan dengan metode BSLT untuk mendapatkan nilai LC50. Hasil penelitian menunjukkan kombucha daun salam mengandung senyawa bioaktif flavonoid, saponin dan tanin, serta bersifat masam dengan nilai pH 3,09-3,17. Dalam Uji toksisitas diperoleh Nilai LC50 kombucha daun salam pada konsentrasi 0,625%, 1,25%, 1,875%, 2,5% dan 3,75% secara berturut-turut sebesar 476,43 ppm, 439,54 ppm, 434,51 ppm, 373,25 ppm, dan 370,68 ppm. Dengan demikian kombucha daun salam termasuk dalam kategori toksik yang berpotensi potensi sebagai antikanker.
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL-OFF DARI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam)
Daun kelor (Moringa oleifera Lam) merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai antioksidan. Daun kelor mengandung senyawa metabolit sekunder antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid. Flavonoid dalam daun kelor mampu mengurangi efek buruk radikal bebas penyebab kerusakan kulit. Tujuan penelitian ini membuat formulasi sediaan masker gel peel-off dari ekstrak etanol 70% daun kelor serta mengevaluasi sediaan masker gel peel-off melalui uji mutu fisik yang menjadi persyaratan masker gel peel-off yang baik. Ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% selama 3×24 jam, lalu diuapkan menjadi ekstrak kental dan dibuat formulasi masker gel peel-off dengan variasi konsentrasi ekstrak 3% (F1), 5% (F2), dan 7% (F3). Pengujian mutu fisik yang dilakukan yaitu uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, dan uji waktu kering. Hasil evaluasi menunjukkan ketiga formulasi telah memenuhi persyaratan mutu fisik, F2 dengan konsentrasi ekstrak daun kelor 5% merupakan formulasi terbaik dengan nilai pH 5,0, viskositas 2700 Cps, daya sebar 5,79 cm dan waktu kering selama 25 menit.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBUCHA KOMBINASI DAUN JAMBU MAWAR (Syzygium jambos) DAN DAUN JAMBU BOL (Syzygium malaccense) DENGAN METODE DPPH (2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL)
Senyawa antioksidan dapat menghambat oksidasi dengan cara menangkap radikal bebas. Salah satu sumber antioksidan adalah kombucha yang merupakan hasil fermentasi cairan teh dan gula. Tujuan penelitian ini untuk menentukan aktivitas antioksidan dari kombucha kombinasi daun jambu mawar (Syzygium jambos) dan daun jambu bol (Syzygium malaccense) (1:3) dengan variasi waktu fermentasi. Kombinasi serbuk simplisia diekstraksi dengan cara infusa dan difermentasi dengan SCOBY (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) selama 4, 6 dan 8 hari. Kombucha, masing-masing hasil fermentasi diuji komponen fitokimia secara kualitatif dan aktivitas antioksidannya diuji dengan metode DPPH. Hasil uji fitokimia menunjukkan semua hasil fermentasi kombinasi daun jambu mawar dan daun jambu bol (1:3) mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tannin, sedang hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan hasil fermentasi kombucha kombinasi daun jambu mawar dan daun jambu bol (1:3) pada hari ke -6 lebih tinggi (43,59%) dari pada hari ke-8 (39,86%) dan hari ke-4 (9,23%).
FORMULASI BODY GEL EKSTRAK ETANOL 70% DAUN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L.)
Daun ubi jalar ungu diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder golongan flavonoid dan tanin yang mempunyai efektivitas antioksidan yang besar. Oleh karena itu ekstrak daun ubi jalar ungu dapat dibuat menjadi sediaan topikal yang dapat melindungi kulit. Formulasi body gel ekstrak etanol daun ubi jalar ungu sampai saat ini belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat formula body gel tabir surya dari ekstrak etanol 70% daun ubi jalar ungu dan mengevaluasi karakteristik fisiknya. Ekstrak kental etanol 70% daun ubi jalar ungu diperoleh melalui metode maserasi dengan pelarut etanol 70% dan dievaporasi dengan rotary evaporator suhu 50oC hingga didapatkan ekstrak dan ekstrak yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan waterbath suhu 40oC sehingga diperoleh ekstrak kental. Sediaan body gel tabir surya dibuat dalam tiga formula (F1, F2, F3) yang mengandung 1%, 2%, dan 3% ekstrak kental etanol 70% daun ubi jalar ungu, dan juga formula kontrol tanpa ekstrak (K(-)). Karakteristik fisik sediaan body gel tabir surya yang diperoleh dievaluasi melalui uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar serta daya lekat. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 70% daun ubi jalar ungu dapat diformulasikan sebagai body gel dengan konsentrasi 1%, 2%, 3% dan semua formula yang didapatkan memiliki karakteristik fisik yang memenuhi syarat body gel yang baik, kecuali pada daya sebar. Dari ketiga formula, F3 dengan konsentrasi 3% termasuk formula gel yang baik dengan nilai viskositas 3.900, pH 6,3, daya lekat 03,56 detik.
FORMULASI DAN STABILITAS GEL EKSTRAK ETANOL DAUN GAHARU (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) DENGAN METODE CYCLING TEST
Daun gaharu (Gyrinop verteegii (Gilg) Domke) adalah suatua tanaman yang diketahui mempunyai aktivitas antioksidan yang mengandung senyawa flavonoid‚ tanin dan polifenol. Tujuaan penelitian ini membuat formulasi sediaan gel ekstrak etanol daun gaharu (Gyrinop verteegii (Gilg) Domke) serta stabilitas sediaan gel dengan metode cycling test dan uji kimia dengan pengukuran kadar flavonoid total yang menjadi persyaratan sediaan gel yang baik. Sediaan gel dibuat 3 formulasi dengan konsentrasi ekstrak 2%‚ 4% dan 8%. Menguji mutu fisik termasuk uji organoleptik, viskositas, homogenitas, pH, daya sebar serta pengukuran kadar flavonoid total sebagai uji kimia. Hasil uji stabilitas menunjukan sediaan gel stabil ditinjau dari parameter pH, daya sebar serta homogenitas tapi tidak stabil ditinjau dari parameter organoleptik karena terjadi perubahan warna sediaan gel setelah proses cycling test dan dari parameter viskositas karena tidak memenuhi syarat nilai viskositas gel setelah cycling test. . Hasil pengukuran kadar flavonoid total sediaan gel pada formula 3 sebelum cycling test 5,477% dan setelah cycling test 3,180%.