BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pengelolaan obat yang tidak efisien menyebabkan tingginya obat kedaluwarsa,
obat rusak dan obat stok mati. Faktor lain penyebab terjadinya karena human
error saat penerimaan barang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
penyebab terjadinya obat kedaluwarsa dan rusak serta stok mati agar dapat
menjadi rekomendasi kebijakan untuk perbaikan pengelolaan obat di Apotek
Tunggilis Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif. Sampel
yang digunakan untuk mengetahui obat kedaluwarsa, obat rusak dan stok mati
yaitu seluruh obat di Apotek Tunggilis Kota Bogor periode tahun 2021 – 2022.
Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan berupa perhitungan persentase
kemudian dibandingkan dengan indikator penelitian. Hasil penelitian menunjukan
bahwa persentase obat kedaluwarsa pada tahun 2021 sebesar 2,28% dengan total
kerugian sebesar Rp 2,433,765 dan pada tahun 2022 sebesar 1,49% dengan total
kerugian Rp 1,316,573. Persentase obat rusak pada tahun 2021 sebesar 0,26%
dengan total kerugian Rp 139,700 dan pada tahun 2022 sebesar 0%. Persentase
obat stok mati pada tahun 2021 sebesar 0,40% dengan total Kerugian Rp 719,904
dan pada tahun 2022 dengan total kerugian sebesar 0,61% Rp 705,276.
Kesimpulannya adalah persentase obat kedaluwarsa tahun, obat rusak tahun 2021
dan obat stok mati tidak sesuai.dengan indikator penelitian, sedangkan persentase
obat rusak tahun 2022 sesuai dengan indikator penelitian sehingga dengan temuan
ini perlu ditingkatkan proses pengelolaan, pengadaan obat untuk meminimalisir
terjadinya obat kedaluwarsa, obat rusak dan obat stok mati.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
PBF merupakan penyalur sediaan farmasi ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Kekosongan dan keterlambatan dapat menyebabkan tidak tersedianya sediaan
farmasi di Apotek Sukahati sehingga dapat menghambat pelayanan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui proses pengadaan obat, evaluasi pengadaan obat
berdasarkan kinerja pelayanan PBF, mengetahui kesesuaian jenis pesanan, jumlah
pesanan dan lead time berdasarkan Service Level Supplier dan mengetahui faktor
penyebabnya. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data
sekunder secara retrospektif, dengan mengumpulkan data dari surat pesanan serta
faktur. Hasil penelitian menunjukan proses pengadaan dilakukan melalui PBF
resmi setiap selasa dan jumat , evaluasi pengadaan berdasarkan Service Level
Supplier terhadap jenis pesanan berkisar antara 76% - 93%, jumlah pesanan
berkisar antara 60% - 92%, dan terhadap lead time 60% - 95%. Diperoleh hasil 5
PBF) dengan kinerja baik ( 83% - 88%) dan 5 PBF dengan kinerja tidak baik
(67% - 80%.). Evaluasi pengadaan obat berdasarkan kinerja pelayanan PBF
belum semua baik menurut Service Level Supplier yang ditetapkan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Rekonstitusi obat merupakan kegiatan pencampuran atau peracikan obat
dengan tujuan menghasilkan dosis dan volume yang diinginkan. Pada sediaan
obat rekonstitusi yang perlu diperhatikan yaitu suhu penyimpanan pada obat
rekonstitusi dan Beyond Use Date (BUD) obat rekonstitusi dimana BUD
merupakan batas akhir penggunaan obat rekonstitusi. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui gambaran bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi
,mengetahuai gambaran kesesuaian suhu penyimpanan dan Beyond Use Date
(BUD) obat rekonstitusi di ruang perinatologi berdasarkan standar stabilitas obat
rekonstitusi di RSUD Kota Bogor. Penelitian ini bersifat desktiptif observasional
dimana data yang diambil merupakan hasil dari pengamatan langsung pada obat
rekonstitusi di ruang perinatologi periode 26 Januri–26 Februari 2024. Pengolahan
data dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan dicatat. Jumlah sampel
penelitian sebanyak 97 obat yang sudah melalui proses rekonstitusi hasil ini di
dapat dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukan bahwa
persentase bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi injeksi dasar 69% dengan
jumlah 56 obat rekonstitusi, injeksi hight alert 24% dengan jumlah 19 obat
rekonstitusi, injeksi psikotropika 7% dengan jumlah 6 obat rekonstitusi, infus
dasar 19% dengan jumlah 3 obat rekonstitusi, infus nutrisi 37% dengan jumlah 6
obat rekonstitusi dan infus hight 44% dengan jumlah 7 obat rekonstitusi.
Kesesuaian suhu penyimpanan obat rekonstitusi dan kesesuaian Beyond Use
(BUD) sudah sesuai dengan standar stabilitas obat rekonstitusi di RSUD Kota
Bogor yaitu 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan obat tidak daat dipisahkan dari seluruh operasional kefarmasian bak
apotek rumah sakit atau apotek komunitas. Penyimpanana adalah suatu kegiatan
menyimpan dan memelihara obat yang diterima pada tempat yang dianggap aman
dan dapat menjaga mutu obat. Apotek Kimia Farma Juanda merupakan salah satu
apotek besar dan cukup ramai di kota Bogor dengan beragam obat yang
disediakan yang tentunya penyimpan obatnya perlu diperhatikan. Penelitian ini
memiliki tujuan untuk mengetahui cara penyimpanan obat dan kesesuaian cara
penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma Juanda berdasarkan Permenkes No. 73
Tahun 2016. Penelitian dilakukan dengan metode observasi kemudian hasilnya
dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Apotek Kimia
Farma Juanda Bogor telah memenuhi cara penyimpanan obat berdasarkan data
ceklist Permenkes No. 73 Tahun 2016. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa cara penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma Juanda Bogor telah 100 %
sesuai dan memenuhi atuaran yang tercantum dalan Peraturan Menteri Kesehatan
No. 73 Tahun 2016.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Obat high alert adalah obat yang memiliki resiko tinggi membahayakan keselamatan
pada pasien jika tidak digunakan secara tepat. Menurut Permenkes No. 72 Tahun 2016
kategori high alert menjadi 3 diantaranya LASA (Look Alike Sound Alike), Elektrolit
konsentrasi tinggi dan sitostatik, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran
dan kesesuaian penyimpanan obat high alert di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan
Anak Pasutri Bogor.
Penelitian ini bersifat deskriptif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah
seluruh obat high alert yang ada di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak
Pasutri Bogor. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, karena semua
populasi dijadikan sampel. Alat penelitian pengumpulan data yang digunakan pada
hasil penelitian ini adalah lembar observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian
menunjukkan penyimpanan obat high alert sesuai dengan standar prosedur
operasional Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor dengan prosentase kesesuaian
100% pada penyimpanan obat high alert, penyimpanan obat LASA (Look Alike Sound
Alike) atau NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) dan penyimpanan obat
Elektrolit Konsentrat Pekat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana peningkatan darah sistolik
berada di atas batas normal yaitu lebih dari 140/90 mmHg. Berdasarkan data
Riskesdas pada tahun 2018, sebesar 32,3% angka kejadian hipertensi di Indonesia
disebabkan karena ketidakpatuhan meminum obat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran kepatuhan minum obat pasien hipertensi dan pengobatan
pasien hipertensi di Klinik Medistira 2. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan
pendekatan prospektif. Dengan jumlah populasi sebanyak 150 pasien dan sampel
sebanyak 110 responden. Data yang diambil adalah data tingkat kepatuhan minum
obat dengan menggunakan kuesioner MMAS-8. Hasil kuesioner tingkat kepatuhan
minum obat dengan kategori rendah sebesar 57,3% dan obat hipertensi yang paling
banyak digunakan adalah golongan CCB (Calcium Channel Blocker) amlodipin
sebanyak 93,6%. Kesimpulannya tingkat kepatuhan minum obat pasien hipertensi
di Klinik Medistira 2 masih rendah dengan persentase 57,3%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Manajemen pengelolaan obat yang kurang baik dapat mengakibatkan persediaan
obat mengalami kelebihan persediaan obat dan kekurangan persediaan obat. Obat
yang mengalami kelebihan persediaan obat beresiko kadaluarsa dan kerusakan
bila tidak disimpan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui prioritas barang yang perlu diadakan berdasarkan kontribusinya
terhadap penjualan di Apotek Askia. Jenis Penelitian ini merupakan penelitian
Deskriptif Retrospektif untuk melihat gambaran suatu keadaan secara objektif
dengan melihat data ke belakang. Populasi dalam penelitian ini dari data
penjualan di Apotek Askia pada periode Oktober 2021-Oktober 2022 kemudian
dilakukan analisis data dengan metode Analisis ABC Penjualan. Hasil penelitian
ini menunjukan bahwa dari total 2592 item barang, yang masuk pada kelompok A
memiliki jumlah 551 item 21,26% dengan nilai penjualan sebesar 79,98%. Obat
yang masuk kelompok B memiliki jumlah 786 item 30,32% dengan nilai
penjualan sebesar 15,02%. Obat yang masuk kelompok C memiliki jumlah 1.255
item 48,42% dengan nilai penjualan sebesar 5,00%. Diharapkan Apotek Askia
dapat menerapkan metode analisis ABC penjualan untuk menentukan prioritas
obat yang akan diadakan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
ingkat minat merujuk pada keinginan yang timbul di dalam diri seseorang
sebelum melakukan pembelian terhadap suatu produk atau layanan, yang
dipertimbangkan secara seksama sebelum proses pembelian dimulai. Obat generik
merupakan obat yang menggunakan nama sesuai dengan International
Nonproprietary Names Modified yang telah ditetapkan oleh Badan Kesehatan
Dunia (WHO). Sementara itu, obat generik bermerek ialah obat yang memiliki
nama merek dagang yang mengandung zat aktif dengan rute pemberian, komposisi,
kekuatan, bentuk sediaan, indikasi, dan dosis yang sama dengan obat asli yang telah
disetujui di Indonesia.Tujuan penelitian ini yaitu untuk membandingkan tingkat
minat konsumen terhadap obat generik dan generik bermerek dalam swamedikasi.
Metode pada penelitian ini ialah kuantitatif dengan menggunakan menggunakan
kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Dari hasil penelitian
diperoleh 90 responden dengan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki dengan
58,89%, usia terbanyak yaitu remaja akhir dan dewasa awal dengan persentase
40,0% serta pendidikan terbanyak yaitu SMA/sederajat atau 60%, dan tingkat minat
konsumen terhadap obat generik paling banyak yaitu dengan kategori tingkat minat
cukup berarti (17-49%) sebanyak 31,1% responden, sedangkan pada generik
bermerek tingkat minat paling banyak yaitu kategori tinggi atau kuat (50-80%)
sebanyak 63,3% responden. Adapun perbandingan tingkat minat obat generik
dalam swamedikasi sebanyak 24,76% dan generik bermerek sebanyak 75,24%.
Hasil dari uji man-whitney menujukan terdapat perbedaan tingkat minat konsumen
terhadap obat generik dan generik bermerek dalam swamedikasi di Apotek
Kemang Farma Bogor bulan Desember 2023 dengan hasil p value sebesar 0,00
(<0,005).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif progresif, tidak teratur, yang
disebabkan oleh kerusakan biokimia pada tulang rawan artikular (tulang rawan
hialin) lutut.Penyakit ini ditandai dengan degenerasi tulang rawan artikular dan
terbentuknya tulang baru (osteofit) di ujung sendi. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui karakteristik pasien osteoarthritis di Rumah Sakit Pajajaran
Bogor dan mengetahui perbedaan penurunan skor WOMAC dengan pemberian
obat antinyeri. Desain penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Kuesioner dan rekam medis akan digunakan sebagai
bahan evaluasi. Sebanyak 91 responden diwawancarai dengan menggunakan
metodologi survei sumatif. Berdasarkan pertimbangan tersebut, mayoritas
responden yang mengikuti survei Western Ontario and McMaster Universities
Osteoarthritis Index (WOMAC) berusia 65 tahun ke atas (47,25%) dan berjenis
kelamin perempuan (78,02%). Skor keparahan osteoartritis tertinggi adalah grade
3 (38,46%) dengan pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga (51,65%), oat
antinyeri yang paling direkomendasikan adalah meloxicam (41,76%), dan skor
standar survei WOMAC yang diperoleh setelah pengobatan dengan obat adalah
“sedang” (73,63%). Standar setelah pengobatan adalah “ringan” (84,62%).
Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis untuk perbedaan penurunan skor kuesioner
WOMAC ditentukan nilai kritis sebesar 0,537 (>0,05) sehingga tidak terdapat
perbedaan efikasi yang signifikan antara terapi obat antinyeri pada pasien penderita
osteoartritis di Rumah Sakit Mulia Pajajaran Bogor.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan obat tradisional semakin berkembang di dunia, baik digunakan
sebagai terapi alternatif maupun terapi utama pengobatan. Tingginya penggunaan
obat tradisional ditunjukan pada fenomena COVID-19, kecenderungan masyarakat
memilih pengobatan tergantung pada kepercayaan itu sendiri. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui gambaran dan hubungan sosiodemografi (usia, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, pendapatan) dengan tingkat kepercayaan dan pengalaman
masyarakat terhadap penggunaan obat tradisional. Jenis penelitian observasional
menggunakan desain Cross Sectional dilakukan di RW 04 Kampung Manggis
Dramaga Kabupaten Bogor menggunakan alat bantu kuesioner. Pengambilan
sampel dilakukan secara Stratified Proportional Random Sampling terhadap 110
orang dengan kriteria inklusi. Analisis data menggunakan analisis statistika
Somers’d dan Cramer’s V. Hasil analisis sosiodemografi yaitu mayoritas
responden dengan usia 36-45 tahun (30,0%), jenis kelamin laki-laki dan
perempuan (50%), pendidikan akhir SMA (50,9%), pekerjaan ibu rumah tangga
(40,9%), dan pendapatan rendah < 3.000.000 (68,2%). Tingkat kepercayaan
terhadap obat tradisional sebanyak 67 orang (60,9%) responden percaya dan
mayoritas responden memiliki pengalaman menggunakan obat tradisional
(94,5%). Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan signifikan antara
sosiodemografi usia dengan tingkat kepercayaan (p-value = 0,015 < 0,05),
sedangkan sosiodemografi jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan tidak
ada hubungan signifikan dengan tingkat kepercayaan dan terdapat hubungan
signifikan pengalaman menggunakan obat tradisonal dengan Tingkat kepercayaan
(p-value = 0,000 < 0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
TBC (tuberkulosis) adalah penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi bakteri
mycobacterium tubeculosis. Pengobatan tuberkulosis biasanya memerlukan waktu
yang cukup lama, seringkali paling tidak selama enam bulan atau lebih tergantung
seberapa baik pasien patuh terhadap meminum obat. Hasil pengobatan tuberkulosis
paru meliputi sembuh, pengobatan lengkap, gagal, meninggal, putus berobat, dan tidak
evaluasi. dikatakan sembuh apabila pasien tuberkulosis paru dengan hasil pemeriksaan
bakteriologis positif pada awal pengobatan yang hasil pemeriksaan bakteriologis pada
akhri pengobatan menjadi negatif. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan
tingkat kepatuhan minum obat terhadap hasil pengobatan pasien tuberkulosis paru di
Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini menggunakan cross sectional . Teknik
pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden 80
sampel. Pengumpulan data menggunakan instrument kuesioner dan rekam medik.
Analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji phi cramer’s V.
hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan signifikan antara hubungan tingkat
kepatuhan minum obat terhadap hasil pengobatan pasien tuberkulosis paru di
Puskesmas Bogor Timur dengan nilai signifikan 0,000.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Skizofrenia adalah penyakit gangguan jiwa berat dapat mempengaruhi pikiran,
perasaan, dan perilaku individu dengan gejala positif dan negatif. Obat yang diberikan
dapat berupa obat tunggal maupun kombinasi. Penggunaan kombinasi obat antipsikotik
dalam pengobatan skizofrenia meningkatkan potensi interaksi obat. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis kelamin dan usia, penggunaan kombinasi
obat, kejadian interaksi, tingkat keparahan dan mekanisme potensi interaksi. Penelitian
dilakukan di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada bulan November 2023
– Mei 2024. Sampel penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien skizofrenia
yang masuk ke dalam kriteria inklusi berupa pasien rawat inap skizofrenia, menerima obat
antipsikotik, berusia 20-60 tahun. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan
Microsoft Excel. Hasil penelitian dari 49 sampel menunjukkan bahwa pasien skizofrenia
terbanyak merupakan pasien laki-laki 38 pasien (77%), dan rentang usia terbanyak di 26-
35 tahun yaitu 19 pasien (39%). Pemberian antipsikotik sejumlah 6 pasien (12%)
mendapatkan kombinasi 2 obat, 27 pasien (55%) dengan kombinasi 3 obat, dan 16 pasien
(33%) sisanya mendapatkan kombinasi 4 obat. Ditemukan seluruhnya berpotensi
mengalami kejadian interaksi obat sejumlah 153 kejadian (100%). Mekanisme potensi
interaksi obat yang ditemukan sebanyak 24 (14%) potensi kejadian farmakokinetik dan
129 (86%) potensi kejadian farmakodinamik. Tingkat keparahan potensi interaksi
sebanyak 19 (12%) termasuk ke dalam kategori mayor dan 134 (88%) kejadian berpotensi
memiliki interaksi moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain
yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan
atau menurunkan efeknya. Pasien skizofrenia menggunakan obat dalam jangka
panjang sehingga ketika terjadi penyakit lain terdapat tambahan obat lain yang
berpotensi menyebabkan peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi. Yang
dapat memperberat efek samping, dan meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi interaksi
obat pada pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode
pengambilan sampel secara total sampling berdasarkan data rekam medis dari 108
pasien memenuhi kriteria iklusi dan ekslusi. Hasil ini menunjukan penderita
penyakit skizofrenia terbanyak yaitu pria (51%) dengan usia terbanyak 36-45 tahun
(29%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (87,96%). Penggunaan
obat skizofrenia golonggan tunggal (27%), dua obat kombinasi (62%), dan tiga obat
kombinasi (11%). Obat golongan tipikal terbanyak yaitu obat Haloperidol (56,48%)
dan obat golongan atipikal terbanyak yaitu Risperidone (35%). Penggunaan obat
selain skizofrenia terbanyak yaitu golongan obat CCB (Calcium Channel Blockers)
(amlodipine) (49%). Terdapat 48 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi
terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (77%) dan level keparahan major (70%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah dalam jangka
waktu yang lama, yang dapat menyebabka] n kematian. Pada penyakit hipertensi
membutuhkan pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan resiko terjadinya
interaksi obat hipertensi dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat interaksi obat hipertensi di Klinik Gema
Medical Center Cicurug periode bulan Januari – Maret 2023. Jenis penelitian ini
merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan
secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara
total sampling. Hasil penelitian terhadap 84 pasien menunjukan, sebagian besar
pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 53 pasien (63,09%) dengan rentang
usia 46 – 55 tahun sebanyak 36 pasien (42,85%). Penyakit penyerta terbanyak yang
diderita adalah Myalgia sebanyak 44 pasien (27,16%). Sebanyak 47 pasien
(55,95%) mendapatkan 4 obat dengan obat hipertensi paling banyak diresepkan
yaitu amlodipin sebanyak 77 pasien (94%). Obat penyakit penyerta yang paling
banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 37 pasien (15%). Obat yang
berpotensi terjadi interaksi paling banyak yaitu amlodipin dengan ibuprofen
sebanyak 24 pasien (30,76%). Kejadian interaksi obat yang terjadi pada pasien,
yaitu amlodipine dengan ibuprofen sebanyak 7 kasus (18%), amlodipin dengan
asam mefenamat sebanyak 6 kasus (16%), amlodipin dengan meloxicam sebanyak
4 kasus (22%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 1 kasus (21%) dan
amlodipin dengan captropil sebanyak 1 kasus (30%). Kejadian interaksi obat yang
terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Preeklampsia adalah Hipertensi dalam kehamilan yang terjadi diatas 20 minggu
usia kehamilan dan disertai dengan adanya protein dalam urin (proteinuria).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien berdasarkan
pada usia pasien, usia kehamilan, hasil laboratorium protein dalam urin
(proteinuria), status gravida, dan lama rawat. Penelitian ini dilakukan dengan
mengambil data secara retrospektif, sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah 57 sampel. Hasil penelitian didapatkan data sosiodemografi berdasarkan
usia pasien terbanyak adalah usia 26 – 35 tahun sebanyak 27 pasien (47%), usia
kehamilan terbanyak pada usia kehamilan trimester 3 sebanyak 55 pasien (96%),
hasil pemeriksaan laboratorium protein urin terbanyak adalah positif 1 atau
dipstick 1 + sebanyak 50 pasien (89 %), status gravida terbanyak adalah
multigravida sebanyak 43 pasien (75%), jumlah hari perawatan terbanyak yaitu 3-
4 hari sebanyak 95%. Penggunaan obat antihipertensi terbanyak adalah kombinasi
3 obat ( Metildopa + MgSO4 + Nifedipin) sebanyak 36 pasien (36%). Obat
antihipertensi yang memiliki efektivitas tertinggi yaitu kombinasi 4 obat
(Metildopa + MgSO4 + Nifedipin + Nikardipin) karena mampu menurunkan
tekanan darah sistolik dengan rata-rata sebesar 54 mmHg dan tekanan darah
diastolik dengan rata-rata sebesar 14 mmHg. Perbedaan efektivitas obat
antihipertensi berdasarkan SPSS terdapat perbedaan untuk penurunan tekanan
darah sistolik sig 0,000. Hal ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan untuk penurunan tekanan darah sistolik dan tidak ada perbedaan yang
signifikan terhadap penurunan tekanan darah diastol karena hasil SPSS penurunan
tekanan diastolik sig 0,171.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Obat-obatan merupakan salah satu factor terpenting sebagai penunjang pelayanan kesehatan
pada pasien di Puskesmas, oleh karena itu jika terjadi permasalahan pada persediaan
perbekalan farmasi akan mengakibatkan tidak tercapainya keberhasilan terapi. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui gambatan pengelompokan obat berdasarkan ABC nilai
pemakaian, nilai investasi, nilai kritis, dan nilai indeks kritis. Desain penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kuantitatif dengan pengambilan data secara retrospektif berdasarkan
penggunaan obat di tahun 2020 serta kuesioner dengan daftar ceklis obat. Sampel dalam
penelitian ini menggunakan metode total sampling sebanyak 66 item obat. Hasil dari penelitian
ini adalah nilai kelompok A terdapat 16 item dengan total pemakaian 61.214, kelompok B
terdapat 15 item dengan total pemakaian 11.467, dan kelompok C terdapat 36 item dengan total
pemakaian 4.475, pada nilai investasi kelompok A total investasi Rp 23.352.841, kelompok B
total investasi Rp 4.326.020, dan kelompok C total investasi Rp 1.590.313, pada nilai kritis
kelompok A sebanyak 17 item, kelompok B sebanyak 40 item, dan kelompok C sebanyak 9
item, dan berdasarkan analisis ABC indeks kritis didapatkan kelompok A terdapat 13 item
(19,70%), kelompok B terdapat 42 item (63,63%), dan kelompok C terdapat 11 item (16,67%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan jumlah dan periode pengadaan
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan habis pakai untuk menjamin terpenuhinya kriteria
tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu. Analisa perencanaan obat di rumah sakit dilakukan dengan metode kombinasi ABC-VEN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai investasi dan pengelompokan obat dengan metode ABC, metode VEN dan menganalisis perencanaan dengan metode Kombinasi ABC-VEN untuk mengetaui prioritas pembeian barang. Penelitian ini bersifat non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dianalisa dengan deskriptif, sample yang diambil dengan metode total sampling. Sampel pada penelitian adalah data obat periode Januari – desember 2022 dengan jumlah sebanyak 1251 item obat. Hasil Pengelompokan Metode ABC berdasarkan nilai investasi 71% sebanyak 166 item(11%), kelompok B dengan nilai investasi 20% sebanyak 528 item(35%), dan kelompok C dengan nilai 9% sebanyak 827 item (54%), hal ini sudah sesuai dengan prinsip pareto. Hasil Pengelompokan Metode VEN diperoleh sebanyak 241 item
(20%) Kelompok V, 344 item (28%) Kelompok E, dan 633 item (52%) Kelompok N. Hasil Analisis Perencanaan ABC-VEN diperoleh kelompok Prioritas yaitu VA 2,64%,VB 5,76% ,dan VC 16,71%, kategori Utama yaitu EA 3,83%, EB 5,75%, EC 17,98%, dan kategori Tambahan yaitu NA 6,79%, NB 11,59%, NC 34,77%, yang dapat mengidentifikasi prioritas pengadaan obat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Karies gigi adalah penyakit pada daerah mulut gigi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans . Salah satu tanaman yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans adalah tanaman jahe merah (Zingiber Officinale Roscoe) karena mengandung alkaloid dan saponin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan formulasi obat kumur herbal jahe merah yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans . Pengujian stabilitas obat kumur pada F1 (30%), F2 (40%), dan F3 (50%), dilakukan pada suhu rendah (4oC), suhu ruang (27oC), dan suhu tinggi (40oC) selama 28 hari. Pengujian ini meliputi uji aktivitas antibakteri menggunakan metode cakram, uji mutu fisik sediaan, pH dan viskositas. Aktivitas antibakteri pada awal uji stabilitas F1, F2, dan F3 berturut-turut menunjukkan zona hambat sebesar 8,56; 10,56; dan 15,20mm, dan pada minggu ke-4 stabilitas pada suhu 4oC (8,30; 9,50; dan 10,87 mm) suhu 27oC (7,80; 9,33; dan 9,73 mm) dan suhu 40oC (7,53; 9,13; dan 8,30 mm). Hasil uji stabilitas pH untuk ketiga formulasi tidak memenuhi syarat mutu pada kisaran 8,5,-9,1 (persyaratan pH 5-7). Hasil uji kestabilan viskositas menunjukkan nilai viskositas pada kisaran 0,81-2,38 cps. Pada suhu 4oC viskositas tidak memenuhi syarat dikarenakan lebih besar dari viskositas air.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi pengetahuan pasien, diantaranya pemberian informasi mengenai batas waktu konsumsi obat setelah kemasannya dibuka. Batas waktu penggunaan obat setelah kemasannya dibuka disebut Beyond Use Date (BUD). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh PIO terhadap tingkat pengetahuan responden mengenai BUD pada sediaan sirup dan suspensi oral di Apotek Kimia Farma Yarahmah Bogor. Metode penelitian ini bersifat deskriptif non eksperimental dengan jumlah sampel sebanyak 81 orang yang diambil secara purposive sampling. Penelitian ini
menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah PIO. Hasil data sosiodemografi responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan 74,07%, berdasarkan usia yaitu 26-35 tahun 29,63%, berdasarkan pendidikan yaitu SMA 58,02%, dan berdasarkan pekerjaan yaitu karyawan/buruh 37,04%. Rata-rata tingkat pengetahuan BUD responden sebelum PIO sebesar 46,88%, sedangkan sesudah PIO 80,24%. Hasil normalitas data berdistribusi normal dengan nilai signifikansi 0,07 > 0,05. Hasil uji t berpasangan (Paired Samples t-Test) terdapat pengaruh PIO yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan Beyond Use Date
(BUD) sirup dan suspensi oral responden dengan nilai p-value 0,001 < 0,05 dan memiliki pengaruh yang sangat besar dengan nilai effect size 2,485.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia (FI) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Penggunaan obat generik di masyarakat masih dipandang sebelah mata, hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat tentang obat generik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sosiodemografi dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan pelanggan obat generik di Apotek Madina Sentul. Penelitian ini
menggunakan jenis penelitian kuantitatif non eksperimental menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Alat ukur berupa kuesioner dengan menggunakan purposive sampling, dengan jumlah sampel 91 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosiodemografi paling banyak yaitu berusia 17-25 tahun sebesar (45,1%), jenis kelamin paling banyak perempuan sebesar (60,4%). Pendidikan paling banyak perguruan tinggi sebesar (50,5%), pekerjaan paling
banyak tidak bekerja sebesar (75,8%). Tingkat pengetahuan pelanggan mengenai obat generik yaitu paling banyak responden memiliki pengetahuan kurang sebesar (41,8%), cukup (38,4%) dan tinggi (19,8%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan pengetahuan (p value 0.805), serta jenis kelamin dengan pengetahuan (p value 0,861), dimana p-value α > 0,05. Sedangkan terdapat hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan dan
pekerjaan dengan pengetahuan obat generik dengan p-value 0,000 dimana p-value α < 0,05.