Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

103 hasil
Subjek: obat
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI OBAT KEDALUWARSA OBAT RUSAK DAN OBAT STOK MATI DI APOTEK TUNGGILIS KOTA BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Pengelolaan obat yang tidak efisien menyebabkan tingginya obat kedaluwarsa, obat rusak dan obat stok mati. Faktor lain penyebab terjadinya karena human error saat penerimaan barang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab terjadinya obat kedaluwarsa dan rusak serta stok mati agar dapat menjadi rekomendasi kebijakan untuk perbaikan pengelolaan obat di Apotek Tunggilis Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif. Sampel yang digunakan untuk mengetahui obat kedaluwarsa, obat rusak dan stok mati yaitu seluruh obat di Apotek Tunggilis Kota Bogor periode tahun 2021 – 2022. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan berupa perhitungan persentase kemudian dibandingkan dengan indikator penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase obat kedaluwarsa pada tahun 2021 sebesar 2,28% dengan total kerugian sebesar Rp 2,433,765 dan pada tahun 2022 sebesar 1,49% dengan total kerugian Rp 1,316,573. Persentase obat rusak pada tahun 2021 sebesar 0,26% dengan total kerugian Rp 139,700 dan pada tahun 2022 sebesar 0%. Persentase obat stok mati pada tahun 2021 sebesar 0,40% dengan total Kerugian Rp 719,904 dan pada tahun 2022 dengan total kerugian sebesar 0,61% Rp 705,276. Kesimpulannya adalah persentase obat kedaluwarsa tahun, obat rusak tahun 2021 dan obat stok mati tidak sesuai.dengan indikator penelitian, sedangkan persentase obat rusak tahun 2022 sesuai dengan indikator penelitian sehingga dengan temuan ini perlu ditingkatkan proses pengelolaan, pengadaan obat untuk meminimalisir terjadinya obat kedaluwarsa, obat rusak dan obat stok mati.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGADAAN OBAT BERDASARKAN KINERJA PELAYANAN PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) DI APOTEK SUKAHATI CIBINONG TAHUN 2023

2025Koleksi Perpustakaan

PBF merupakan penyalur sediaan farmasi ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kekosongan dan keterlambatan dapat menyebabkan tidak tersedianya sediaan farmasi di Apotek Sukahati sehingga dapat menghambat pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengadaan obat, evaluasi pengadaan obat berdasarkan kinerja pelayanan PBF, mengetahui kesesuaian jenis pesanan, jumlah pesanan dan lead time berdasarkan Service Level Supplier dan mengetahui faktor penyebabnya. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data sekunder secara retrospektif, dengan mengumpulkan data dari surat pesanan serta faktur. Hasil penelitian menunjukan proses pengadaan dilakukan melalui PBF resmi setiap selasa dan jumat , evaluasi pengadaan berdasarkan Service Level Supplier terhadap jenis pesanan berkisar antara 76% - 93%, jumlah pesanan berkisar antara 60% - 92%, dan terhadap lead time 60% - 95%. Diperoleh hasil 5 PBF) dengan kinerja baik ( 83% - 88%) dan 5 PBF dengan kinerja tidak baik (67% - 80%.). Evaluasi pengadaan obat berdasarkan kinerja pelayanan PBF belum semua baik menurut Service Level Supplier yang ditetapkan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

"GAMBARAN KESESUAIAN SUHU PENYIMPANAN DAN BUD (Beyond Use Date) OBAT REKONSTITUSI DI RUANG PERINATOLOGI BERDASARKAN STANDAR STABILITAS OBAT REKONSTITUSI DI RSUD KOTA BOGOR"

2025Koleksi Perpustakaan

Rekonstitusi obat merupakan kegiatan pencampuran atau peracikan obat dengan tujuan menghasilkan dosis dan volume yang diinginkan. Pada sediaan obat rekonstitusi yang perlu diperhatikan yaitu suhu penyimpanan pada obat rekonstitusi dan Beyond Use Date (BUD) obat rekonstitusi dimana BUD merupakan batas akhir penggunaan obat rekonstitusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi ,mengetahuai gambaran kesesuaian suhu penyimpanan dan Beyond Use Date (BUD) obat rekonstitusi di ruang perinatologi berdasarkan standar stabilitas obat rekonstitusi di RSUD Kota Bogor. Penelitian ini bersifat desktiptif observasional dimana data yang diambil merupakan hasil dari pengamatan langsung pada obat rekonstitusi di ruang perinatologi periode 26 Januri–26 Februari 2024. Pengolahan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan dicatat. Jumlah sampel penelitian sebanyak 97 obat yang sudah melalui proses rekonstitusi hasil ini di dapat dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi injeksi dasar 69% dengan jumlah 56 obat rekonstitusi, injeksi hight alert 24% dengan jumlah 19 obat rekonstitusi, injeksi psikotropika 7% dengan jumlah 6 obat rekonstitusi, infus dasar 19% dengan jumlah 3 obat rekonstitusi, infus nutrisi 37% dengan jumlah 6 obat rekonstitusi dan infus hight 44% dengan jumlah 7 obat rekonstitusi. Kesesuaian suhu penyimpanan obat rekonstitusi dan kesesuaian Beyond Use (BUD) sudah sesuai dengan standar stabilitas obat rekonstitusi di RSUD Kota Bogor yaitu 100%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

"EVALUASI PENYIMPANAN OBAT ETHICAL DI APOTEK KIMIA FARMA JUANDA BOGOR BERDASARKAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO.73 TAHUN 2016"

2025Koleksi Perpustakaan

Penyimpanan obat tidak daat dipisahkan dari seluruh operasional kefarmasian bak apotek rumah sakit atau apotek komunitas. Penyimpanana adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara obat yang diterima pada tempat yang dianggap aman dan dapat menjaga mutu obat. Apotek Kimia Farma Juanda merupakan salah satu apotek besar dan cukup ramai di kota Bogor dengan beragam obat yang disediakan yang tentunya penyimpan obatnya perlu diperhatikan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui cara penyimpanan obat dan kesesuaian cara penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma Juanda berdasarkan Permenkes No. 73 Tahun 2016. Penelitian dilakukan dengan metode observasi kemudian hasilnya dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Apotek Kimia Farma Juanda Bogor telah memenuhi cara penyimpanan obat berdasarkan data ceklist Permenkes No. 73 Tahun 2016. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cara penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma Juanda Bogor telah 100 % sesuai dan memenuhi atuaran yang tercantum dalan Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN PENYIMPANAN OBAT HIGH ALERT DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PASUTRI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Obat high alert adalah obat yang memiliki resiko tinggi membahayakan keselamatan pada pasien jika tidak digunakan secara tepat. Menurut Permenkes No. 72 Tahun 2016 kategori high alert menjadi 3 diantaranya LASA (Look Alike Sound Alike), Elektrolit konsentrasi tinggi dan sitostatik, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan kesesuaian penyimpanan obat high alert di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh obat high alert yang ada di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, karena semua populasi dijadikan sampel. Alat penelitian pengumpulan data yang digunakan pada hasil penelitian ini adalah lembar observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan penyimpanan obat high alert sesuai dengan standar prosedur operasional Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor dengan prosentase kesesuaian 100% pada penyimpanan obat high alert, penyimpanan obat LASA (Look Alike Sound Alike) atau NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) dan penyimpanan obat Elektrolit Konsentrat Pekat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN HIPERTENSI DI KLINIK MEDISTIRA 2

2025Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana peningkatan darah sistolik berada di atas batas normal yaitu lebih dari 140/90 mmHg. Berdasarkan data Riskesdas pada tahun 2018, sebesar 32,3% angka kejadian hipertensi di Indonesia disebabkan karena ketidakpatuhan meminum obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan minum obat pasien hipertensi dan pengobatan pasien hipertensi di Klinik Medistira 2. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan prospektif. Dengan jumlah populasi sebanyak 150 pasien dan sampel sebanyak 110 responden. Data yang diambil adalah data tingkat kepatuhan minum obat dengan menggunakan kuesioner MMAS-8. Hasil kuesioner tingkat kepatuhan minum obat dengan kategori rendah sebesar 57,3% dan obat hipertensi yang paling banyak digunakan adalah golongan CCB (Calcium Channel Blocker) amlodipin sebanyak 93,6%. Kesimpulannya tingkat kepatuhan minum obat pasien hipertensi di Klinik Medistira 2 masih rendah dengan persentase 57,3%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS ABC PENJUALAN DI APOTEK ASKIA KOTA BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Manajemen pengelolaan obat yang kurang baik dapat mengakibatkan persediaan obat mengalami kelebihan persediaan obat dan kekurangan persediaan obat. Obat yang mengalami kelebihan persediaan obat beresiko kadaluarsa dan kerusakan bila tidak disimpan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prioritas barang yang perlu diadakan berdasarkan kontribusinya terhadap penjualan di Apotek Askia. Jenis Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Retrospektif untuk melihat gambaran suatu keadaan secara objektif dengan melihat data ke belakang. Populasi dalam penelitian ini dari data penjualan di Apotek Askia pada periode Oktober 2021-Oktober 2022 kemudian dilakukan analisis data dengan metode Analisis ABC Penjualan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari total 2592 item barang, yang masuk pada kelompok A memiliki jumlah 551 item 21,26% dengan nilai penjualan sebesar 79,98%. Obat yang masuk kelompok B memiliki jumlah 786 item 30,32% dengan nilai penjualan sebesar 15,02%. Obat yang masuk kelompok C memiliki jumlah 1.255 item 48,42% dengan nilai penjualan sebesar 5,00%. Diharapkan Apotek Askia dapat menerapkan metode analisis ABC penjualan untuk menentukan prioritas obat yang akan diadakan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN TINGKAT MINAT KONSUMEN TERHADAP OBAT GENERIK DAN GENERIK BERMEREK DALAM SWAMEDIKASI DI APOTEK KEMANG FARMА BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

ingkat minat merujuk pada keinginan yang timbul di dalam diri seseorang sebelum melakukan pembelian terhadap suatu produk atau layanan, yang dipertimbangkan secara seksama sebelum proses pembelian dimulai. Obat generik merupakan obat yang menggunakan nama sesuai dengan International Nonproprietary Names Modified yang telah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sementara itu, obat generik bermerek ialah obat yang memiliki nama merek dagang yang mengandung zat aktif dengan rute pemberian, komposisi, kekuatan, bentuk sediaan, indikasi, dan dosis yang sama dengan obat asli yang telah disetujui di Indonesia.Tujuan penelitian ini yaitu untuk membandingkan tingkat minat konsumen terhadap obat generik dan generik bermerek dalam swamedikasi. Metode pada penelitian ini ialah kuantitatif dengan menggunakan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Dari hasil penelitian diperoleh 90 responden dengan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki dengan 58,89%, usia terbanyak yaitu remaja akhir dan dewasa awal dengan persentase 40,0% serta pendidikan terbanyak yaitu SMA/sederajat atau 60%, dan tingkat minat konsumen terhadap obat generik paling banyak yaitu dengan kategori tingkat minat cukup berarti (17-49%) sebanyak 31,1% responden, sedangkan pada generik bermerek tingkat minat paling banyak yaitu kategori tinggi atau kuat (50-80%) sebanyak 63,3% responden. Adapun perbandingan tingkat minat obat generik dalam swamedikasi sebanyak 24,76% dan generik bermerek sebanyak 75,24%. Hasil dari uji man-whitney menujukan terdapat perbedaan tingkat minat konsumen terhadap obat generik dan generik bermerek dalam swamedikasi di Apotek Kemang Farma Bogor bulan Desember 2023 dengan hasil p value sebesar 0,00 (<0,005).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBEDAAN SELISIH PENURUNAN SKOR WOMAC PADA TERAPI ANTINYERI PASIEN OSTEOARTRITIS DI RUMAH SAKIT MULIA PAJAJARAN BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif progresif, tidak teratur, yang disebabkan oleh kerusakan biokimia pada tulang rawan artikular (tulang rawan hialin) lutut.Penyakit ini ditandai dengan degenerasi tulang rawan artikular dan terbentuknya tulang baru (osteofit) di ujung sendi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien osteoarthritis di Rumah Sakit Pajajaran Bogor dan mengetahui perbedaan penurunan skor WOMAC dengan pemberian obat antinyeri. Desain penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Kuesioner dan rekam medis akan digunakan sebagai bahan evaluasi. Sebanyak 91 responden diwawancarai dengan menggunakan metodologi survei sumatif. Berdasarkan pertimbangan tersebut, mayoritas responden yang mengikuti survei Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) berusia 65 tahun ke atas (47,25%) dan berjenis kelamin perempuan (78,02%). Skor keparahan osteoartritis tertinggi adalah grade 3 (38,46%) dengan pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga (51,65%), oat antinyeri yang paling direkomendasikan adalah meloxicam (41,76%), dan skor standar survei WOMAC yang diperoleh setelah pengobatan dengan obat adalah “sedang” (73,63%). Standar setelah pengobatan adalah “ringan” (84,62%). Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis untuk perbedaan penurunan skor kuesioner WOMAC ditentukan nilai kritis sebesar 0,537 (>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan efikasi yang signifikan antara terapi obat antinyeri pada pasien penderita osteoartritis di Rumah Sakit Mulia Pajajaran Bogor.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN TINGKAT KEPERCAYAAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL DI RW 04 KAMPUNG MANGGIS DRAMAGA KABUPATEN BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Penggunaan obat tradisional semakin berkembang di dunia, baik digunakan sebagai terapi alternatif maupun terapi utama pengobatan. Tingginya penggunaan obat tradisional ditunjukan pada fenomena COVID-19, kecenderungan masyarakat memilih pengobatan tergantung pada kepercayaan itu sendiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan hubungan sosiodemografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan) dengan tingkat kepercayaan dan pengalaman masyarakat terhadap penggunaan obat tradisional. Jenis penelitian observasional menggunakan desain Cross Sectional dilakukan di RW 04 Kampung Manggis Dramaga Kabupaten Bogor menggunakan alat bantu kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan secara Stratified Proportional Random Sampling terhadap 110 orang dengan kriteria inklusi. Analisis data menggunakan analisis statistika Somers’d dan Cramer’s V. Hasil analisis sosiodemografi yaitu mayoritas responden dengan usia 36-45 tahun (30,0%), jenis kelamin laki-laki dan perempuan (50%), pendidikan akhir SMA (50,9%), pekerjaan ibu rumah tangga (40,9%), dan pendapatan rendah < 3.000.000 (68,2%). Tingkat kepercayaan terhadap obat tradisional sebanyak 67 orang (60,9%) responden percaya dan mayoritas responden memiliki pengalaman menggunakan obat tradisional (94,5%). Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan signifikan antara sosiodemografi usia dengan tingkat kepercayaan (p-value = 0,015 < 0,05), sedangkan sosiodemografi jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan tidak ada hubungan signifikan dengan tingkat kepercayaan dan terdapat hubungan signifikan pengalaman menggunakan obat tradisonal dengan Tingkat kepercayaan (p-value = 0,000 < 0,05).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT TERHADAP HASIL PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR

2025Koleksi Perpustakaan

TBC (tuberkulosis) adalah penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tubeculosis. Pengobatan tuberkulosis biasanya memerlukan waktu yang cukup lama, seringkali paling tidak selama enam bulan atau lebih tergantung seberapa baik pasien patuh terhadap meminum obat. Hasil pengobatan tuberkulosis paru meliputi sembuh, pengobatan lengkap, gagal, meninggal, putus berobat, dan tidak evaluasi. dikatakan sembuh apabila pasien tuberkulosis paru dengan hasil pemeriksaan bakteriologis positif pada awal pengobatan yang hasil pemeriksaan bakteriologis pada akhri pengobatan menjadi negatif. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan minum obat terhadap hasil pengobatan pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini menggunakan cross sectional . Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden 80 sampel. Pengumpulan data menggunakan instrument kuesioner dan rekam medik. Analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji phi cramer’s V. hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan signifikan antara hubungan tingkat kepatuhan minum obat terhadap hasil pengobatan pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Bogor Timur dengan nilai signifikan 0,000.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN RAWAT INAP DENGAN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Skizofrenia adalah penyakit gangguan jiwa berat dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku individu dengan gejala positif dan negatif. Obat yang diberikan dapat berupa obat tunggal maupun kombinasi. Penggunaan kombinasi obat antipsikotik dalam pengobatan skizofrenia meningkatkan potensi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis kelamin dan usia, penggunaan kombinasi obat, kejadian interaksi, tingkat keparahan dan mekanisme potensi interaksi. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada bulan November 2023 – Mei 2024. Sampel penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien skizofrenia yang masuk ke dalam kriteria inklusi berupa pasien rawat inap skizofrenia, menerima obat antipsikotik, berusia 20-60 tahun. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian dari 49 sampel menunjukkan bahwa pasien skizofrenia terbanyak merupakan pasien laki-laki 38 pasien (77%), dan rentang usia terbanyak di 26- 35 tahun yaitu 19 pasien (39%). Pemberian antipsikotik sejumlah 6 pasien (12%) mendapatkan kombinasi 2 obat, 27 pasien (55%) dengan kombinasi 3 obat, dan 16 pasien (33%) sisanya mendapatkan kombinasi 4 obat. Ditemukan seluruhnya berpotensi mengalami kejadian interaksi obat sejumlah 153 kejadian (100%). Mekanisme potensi interaksi obat yang ditemukan sebanyak 24 (14%) potensi kejadian farmakokinetik dan 129 (86%) potensi kejadian farmakodinamik. Tingkat keparahan potensi interaksi sebanyak 19 (12%) termasuk ke dalam kategori mayor dan 134 (88%) kejadian berpotensi memiliki interaksi moderat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT INAP SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan atau menurunkan efeknya. Pasien skizofrenia menggunakan obat dalam jangka panjang sehingga ketika terjadi penyakit lain terdapat tambahan obat lain yang berpotensi menyebabkan peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi. Yang dapat memperberat efek samping, dan meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi interaksi obat pada pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode pengambilan sampel secara total sampling berdasarkan data rekam medis dari 108 pasien memenuhi kriteria iklusi dan ekslusi. Hasil ini menunjukan penderita penyakit skizofrenia terbanyak yaitu pria (51%) dengan usia terbanyak 36-45 tahun (29%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (87,96%). Penggunaan obat skizofrenia golonggan tunggal (27%), dua obat kombinasi (62%), dan tiga obat kombinasi (11%). Obat golongan tipikal terbanyak yaitu obat Haloperidol (56,48%) dan obat golongan atipikal terbanyak yaitu Risperidone (35%). Penggunaan obat selain skizofrenia terbanyak yaitu golongan obat CCB (Calcium Channel Blockers) (amlodipine) (49%). Terdapat 48 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (77%) dan level keparahan major (70%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK GEMA MEDICAL CENTER CICURUG

2025Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah dalam jangka waktu yang lama, yang dapat menyebabka] n kematian. Pada penyakit hipertensi membutuhkan pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan resiko terjadinya interaksi obat hipertensi dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat interaksi obat hipertensi di Klinik Gema Medical Center Cicurug periode bulan Januari – Maret 2023. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara total sampling. Hasil penelitian terhadap 84 pasien menunjukan, sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 53 pasien (63,09%) dengan rentang usia 46 – 55 tahun sebanyak 36 pasien (42,85%). Penyakit penyerta terbanyak yang diderita adalah Myalgia sebanyak 44 pasien (27,16%). Sebanyak 47 pasien (55,95%) mendapatkan 4 obat dengan obat hipertensi paling banyak diresepkan yaitu amlodipin sebanyak 77 pasien (94%). Obat penyakit penyerta yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 37 pasien (15%). Obat yang berpotensi terjadi interaksi paling banyak yaitu amlodipin dengan ibuprofen sebanyak 24 pasien (30,76%). Kejadian interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipine dengan ibuprofen sebanyak 7 kasus (18%), amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 6 kasus (16%), amlodipin dengan meloxicam sebanyak 4 kasus (22%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 1 kasus (21%) dan amlodipin dengan captropil sebanyak 1 kasus (30%). Kejadian interaksi obat yang terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMPSIA DI INSTALASI RAWAT INAP DI RSKIA SAWOJAJAR BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Preeklampsia adalah Hipertensi dalam kehamilan yang terjadi diatas 20 minggu usia kehamilan dan disertai dengan adanya protein dalam urin (proteinuria). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien berdasarkan pada usia pasien, usia kehamilan, hasil laboratorium protein dalam urin (proteinuria), status gravida, dan lama rawat. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data secara retrospektif, sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 57 sampel. Hasil penelitian didapatkan data sosiodemografi berdasarkan usia pasien terbanyak adalah usia 26 – 35 tahun sebanyak 27 pasien (47%), usia kehamilan terbanyak pada usia kehamilan trimester 3 sebanyak 55 pasien (96%), hasil pemeriksaan laboratorium protein urin terbanyak adalah positif 1 atau dipstick 1 + sebanyak 50 pasien (89 %), status gravida terbanyak adalah multigravida sebanyak 43 pasien (75%), jumlah hari perawatan terbanyak yaitu 3- 4 hari sebanyak 95%. Penggunaan obat antihipertensi terbanyak adalah kombinasi 3 obat ( Metildopa + MgSO4 + Nifedipin) sebanyak 36 pasien (36%). Obat antihipertensi yang memiliki efektivitas tertinggi yaitu kombinasi 4 obat (Metildopa + MgSO4 + Nifedipin + Nikardipin) karena mampu menurunkan tekanan darah sistolik dengan rata-rata sebesar 54 mmHg dan tekanan darah diastolik dengan rata-rata sebesar 14 mmHg. Perbedaan efektivitas obat antihipertensi berdasarkan SPSS terdapat perbedaan untuk penurunan tekanan darah sistolik sig 0,000. Hal ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan untuk penurunan tekanan darah sistolik dan tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah diastol karena hasil SPSS penurunan tekanan diastolik sig 0,171.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN OBAT DENGAN METODE ABC INDEKS KRITIS DI PUSKESMAS KEMANG KABUPATEN BOGOR TAHUN 2020

2025Koleksi Perpustakaan

Obat-obatan merupakan salah satu factor terpenting sebagai penunjang pelayanan kesehatan pada pasien di Puskesmas, oleh karena itu jika terjadi permasalahan pada persediaan perbekalan farmasi akan mengakibatkan tidak tercapainya keberhasilan terapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambatan pengelompokan obat berdasarkan ABC nilai pemakaian, nilai investasi, nilai kritis, dan nilai indeks kritis. Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pengambilan data secara retrospektif berdasarkan penggunaan obat di tahun 2020 serta kuesioner dengan daftar ceklis obat. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode total sampling sebanyak 66 item obat. Hasil dari penelitian ini adalah nilai kelompok A terdapat 16 item dengan total pemakaian 61.214, kelompok B terdapat 15 item dengan total pemakaian 11.467, dan kelompok C terdapat 36 item dengan total pemakaian 4.475, pada nilai investasi kelompok A total investasi Rp 23.352.841, kelompok B total investasi Rp 4.326.020, dan kelompok C total investasi Rp 1.590.313, pada nilai kritis kelompok A sebanyak 17 item, kelompok B sebanyak 40 item, dan kelompok C sebanyak 9 item, dan berdasarkan analisis ABC indeks kritis didapatkan kelompok A terdapat 13 item (19,70%), kelompok B terdapat 42 item (63,63%), dan kelompok C terdapat 11 item (16,67%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS PERENCANAAN OBAT BERDASARKAN METODE KOMBINASI ABC-VEN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT SWASTA X BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan jumlah dan periode pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan habis pakai untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu. Analisa perencanaan obat di rumah sakit dilakukan dengan metode kombinasi ABC-VEN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai investasi dan pengelompokan obat dengan metode ABC, metode VEN dan menganalisis perencanaan dengan metode Kombinasi ABC-VEN untuk mengetaui prioritas pembeian barang. Penelitian ini bersifat non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dianalisa dengan deskriptif, sample yang diambil dengan metode total sampling. Sampel pada penelitian adalah data obat periode Januari – desember 2022 dengan jumlah sebanyak 1251 item obat. Hasil Pengelompokan Metode ABC berdasarkan nilai investasi 71% sebanyak 166 item(11%), kelompok B dengan nilai investasi 20% sebanyak 528 item(35%), dan kelompok C dengan nilai 9% sebanyak 827 item (54%), hal ini sudah sesuai dengan prinsip pareto. Hasil Pengelompokan Metode VEN diperoleh sebanyak 241 item (20%) Kelompok V, 344 item (28%) Kelompok E, dan 633 item (52%) Kelompok N. Hasil Analisis Perencanaan ABC-VEN diperoleh kelompok Prioritas yaitu VA 2,64%,VB 5,76% ,dan VC 16,71%, kategori Utama yaitu EA 3,83%, EB 5,75%, EC 17,98%, dan kategori Tambahan yaitu NA 6,79%, NB 11,59%, NC 34,77%, yang dapat mengidentifikasi prioritas pengadaan obat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

FORMULASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale Roscoe) TERHADAP BAKTERI Strepcoccus mutans

2025Koleksi Perpustakaan

Karies gigi adalah penyakit pada daerah mulut gigi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans . Salah satu tanaman yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans adalah tanaman jahe merah (Zingiber Officinale Roscoe) karena mengandung alkaloid dan saponin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan formulasi obat kumur herbal jahe merah yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans . Pengujian stabilitas obat kumur pada F1 (30%), F2 (40%), dan F3 (50%), dilakukan pada suhu rendah (4oC), suhu ruang (27oC), dan suhu tinggi (40oC) selama 28 hari. Pengujian ini meliputi uji aktivitas antibakteri menggunakan metode cakram, uji mutu fisik sediaan, pH dan viskositas. Aktivitas antibakteri pada awal uji stabilitas F1, F2, dan F3 berturut-turut menunjukkan zona hambat sebesar 8,56; 10,56; dan 15,20mm, dan pada minggu ke-4 stabilitas pada suhu 4oC (8,30; 9,50; dan 10,87 mm) suhu 27oC (7,80; 9,33; dan 9,73 mm) dan suhu 40oC (7,53; 9,13; dan 8,30 mm). Hasil uji stabilitas pH untuk ketiga formulasi tidak memenuhi syarat mutu pada kisaran 8,5,-9,1 (persyaratan pH 5-7). Hasil uji kestabilan viskositas menunjukkan nilai viskositas pada kisaran 0,81-2,38 cps. Pada suhu 4oC viskositas tidak memenuhi syarat dikarenakan lebih besar dari viskositas air.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN BEYOND USE DATE SIRUP DAN SUSPENSI ORAL DI APOTEK KIMIA FARMA YARAHMAH BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi pengetahuan pasien, diantaranya pemberian informasi mengenai batas waktu konsumsi obat setelah kemasannya dibuka. Batas waktu penggunaan obat setelah kemasannya dibuka disebut Beyond Use Date (BUD). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh PIO terhadap tingkat pengetahuan responden mengenai BUD pada sediaan sirup dan suspensi oral di Apotek Kimia Farma Yarahmah Bogor. Metode penelitian ini bersifat deskriptif non eksperimental dengan jumlah sampel sebanyak 81 orang yang diambil secara purposive sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah PIO. Hasil data sosiodemografi responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan 74,07%, berdasarkan usia yaitu 26-35 tahun 29,63%, berdasarkan pendidikan yaitu SMA 58,02%, dan berdasarkan pekerjaan yaitu karyawan/buruh 37,04%. Rata-rata tingkat pengetahuan BUD responden sebelum PIO sebesar 46,88%, sedangkan sesudah PIO 80,24%. Hasil normalitas data berdistribusi normal dengan nilai signifikansi 0,07 > 0,05. Hasil uji t berpasangan (Paired Samples t-Test) terdapat pengaruh PIO yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan Beyond Use Date (BUD) sirup dan suspensi oral responden dengan nilai p-value 0,001 < 0,05 dan memiliki pengaruh yang sangat besar dengan nilai effect size 2,485.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN PELANGGAN OBAT GENERIK DI APOTEK MADINA SENTUL KABUPATEN BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia (FI) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Penggunaan obat generik di masyarakat masih dipandang sebelah mata, hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat tentang obat generik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sosiodemografi dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan pelanggan obat generik di Apotek Madina Sentul. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif non eksperimental menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Alat ukur berupa kuesioner dengan menggunakan purposive sampling, dengan jumlah sampel 91 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosiodemografi paling banyak yaitu berusia 17-25 tahun sebesar (45,1%), jenis kelamin paling banyak perempuan sebesar (60,4%). Pendidikan paling banyak perguruan tinggi sebesar (50,5%), pekerjaan paling banyak tidak bekerja sebesar (75,8%). Tingkat pengetahuan pelanggan mengenai obat generik yaitu paling banyak responden memiliki pengetahuan kurang sebesar (41,8%), cukup (38,4%) dan tinggi (19,8%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan pengetahuan (p value 0.805), serta jenis kelamin dengan pengetahuan (p value 0,861), dimana p-value α > 0,05. Sedangkan terdapat hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan dan pekerjaan dengan pengetahuan obat generik dengan p-value 0,000 dimana p-value α < 0,05.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail