BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Rekonstitusi obat merupakan kegiatan pencampuran atau peracikan obat
dengan tujuan menghasilkan dosis dan volume yang diinginkan. Pada sediaan
obat rekonstitusi yang perlu diperhatikan yaitu suhu penyimpanan pada obat
rekonstitusi dan Beyond Use Date (BUD) obat rekonstitusi dimana BUD
merupakan batas akhir penggunaan obat rekonstitusi. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui gambaran bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi
,mengetahuai gambaran kesesuaian suhu penyimpanan dan Beyond Use Date
(BUD) obat rekonstitusi di ruang perinatologi berdasarkan standar stabilitas obat
rekonstitusi di RSUD Kota Bogor. Penelitian ini bersifat desktiptif observasional
dimana data yang diambil merupakan hasil dari pengamatan langsung pada obat
rekonstitusi di ruang perinatologi periode 26 Januri–26 Februari 2024. Pengolahan
data dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan dicatat. Jumlah sampel
penelitian sebanyak 97 obat yang sudah melalui proses rekonstitusi hasil ini di
dapat dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukan bahwa
persentase bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi injeksi dasar 69% dengan
jumlah 56 obat rekonstitusi, injeksi hight alert 24% dengan jumlah 19 obat
rekonstitusi, injeksi psikotropika 7% dengan jumlah 6 obat rekonstitusi, infus
dasar 19% dengan jumlah 3 obat rekonstitusi, infus nutrisi 37% dengan jumlah 6
obat rekonstitusi dan infus hight 44% dengan jumlah 7 obat rekonstitusi.
Kesesuaian suhu penyimpanan obat rekonstitusi dan kesesuaian Beyond Use
(BUD) sudah sesuai dengan standar stabilitas obat rekonstitusi di RSUD Kota
Bogor yaitu 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan obat tidak daat dipisahkan dari seluruh operasional kefarmasian bak
apotek rumah sakit atau apotek komunitas. Penyimpanana adalah suatu kegiatan
menyimpan dan memelihara obat yang diterima pada tempat yang dianggap aman
dan dapat menjaga mutu obat. Apotek Kimia Farma Juanda merupakan salah satu
apotek besar dan cukup ramai di kota Bogor dengan beragam obat yang
disediakan yang tentunya penyimpan obatnya perlu diperhatikan. Penelitian ini
memiliki tujuan untuk mengetahui cara penyimpanan obat dan kesesuaian cara
penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma Juanda berdasarkan Permenkes No. 73
Tahun 2016. Penelitian dilakukan dengan metode observasi kemudian hasilnya
dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Apotek Kimia
Farma Juanda Bogor telah memenuhi cara penyimpanan obat berdasarkan data
ceklist Permenkes No. 73 Tahun 2016. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa cara penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma Juanda Bogor telah 100 %
sesuai dan memenuhi atuaran yang tercantum dalan Peraturan Menteri Kesehatan
No. 73 Tahun 2016.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pengelolahan vaksin yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan
kerusakan vaksin dan mengurangi potensinya. Kegagalan rantai distribusi atau
penyimpanan vaksin pada suhu yang tidak sesuai adalah salah satu dari banyak
penyebab masalah ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan
kesesuaian distribusi dan penyimpanan vaksin di instalasi farmasi RSIA Pasutri
Bogor sesuai dengan pedoman pengelolaan vaksin di Fasyankes tahun 2021.
Dengan menggunakan metode penelitian cross-sectional, penelitian observasional
deskriptif ini narasumber di wawancarai melalui kuesioner dari lembar checklist
dan observasi secara langsung. Sebagai hasil dari penelitian yang dilakukan di
ruang gudang farmasi, instalasi farmasi dan poliklinik. Tiga indikator menunjukkan
kesesuaian distribusi dan penyimpanan vaksin di RSIA Pasutri Bogor. Yaitu
Indikator kegiatan distribusi vaksin, keadaan lemari es dan pemeliharaan rantai
dingin (cold chain) yang berada dalam kategori baik dan sangat baik dengan
presentase antara 80 % - 100 %. Namun demikian, masih ada kekurangan. seperti
petugas yang tidak memiliki pelatihan yang cukup, peralatan yang tidak memadai,
pencatatan yang tidak lengkap, dan ruang yang tidak memadai. Kemudian, tidak
ada laporan atau catatan yang menunjukkan bahwa setiap orang yang bertanggung
jawab telah melakukan distribusi dan penyimpanan vaksin. Kesimpulan yang
diperoleh dari gambaran kesesuaian distribusi dan penyimpanan vaksin di instalasi
farmasi RSIA Pasutri Bogor sudah sesuai dengan pedoman pengelolaan vaksin di
Fasyankes tahun 2021.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Obat high alert adalah obat yang harus diwaspadai karena dapat menyebabkan
kesalahan serius (sentinel event). Dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien,
Rumah Sakit harus membuat kebijakan dalam pengelolaan obat salah satunya obat high
alert sesuai yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun
2016, tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, terutama untuk obat
yang memiliki resiko tinggi yang dapat menyebabkan efek yang serius jika terjadi
kesalahan dalam penggunaannya. Memperbaiki sistem penyimpanannya adalah salah
satu cara yang paling efektif untuk mengurangi kesalahan pemberian obat high alert.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan kesesuaian penyimpanan obat
high alert di Depo Farmasi Rawat Inap RSUD Cimacan. Penelitian ini merupakan
penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif kualitatif dengan metode
observasional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh obat high alert
yang ada di Depo Farmasi Rawat Inap RSUD Cimacan. Sistem penyimpanan obat high
alert di Depo Farmasi Rawat Inap RSUD Cimacan terdiri dari 3 golongan yaitu obat
dengan resiko tinggi/high alert dengan rata-rata presentase 99% termasuk kriteria
sangat baik, pada high alert kategori LASA dengan presentase rata-rata 88% dengan
kriteria sangat baik, dan high alert kategori elektrolit konsentrat tinggi dengan
presentase rata-rata 93% dengan kriteria sangat baik. Secara keseluruhan sistem
penyimpanan obat high alert di Depo Farmasi Rawat Inap RSUD Cimacan sudah
sesuai dengan peraturan menteri kesehatan No, 72 Tahun 2016.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Obat high alert adalah obat yang memiliki resiko tinggi membahayakan keselamatan
pada pasien jika tidak digunakan secara tepat. Menurut Permenkes No. 72 Tahun 2016
kategori high alert menjadi 3 diantaranya LASA (Look Alike Sound Alike), Elektrolit
konsentrasi tinggi dan sitostatik, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran
dan kesesuaian penyimpanan obat high alert di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan
Anak Pasutri Bogor.
Penelitian ini bersifat deskriptif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah
seluruh obat high alert yang ada di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak
Pasutri Bogor. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, karena semua
populasi dijadikan sampel. Alat penelitian pengumpulan data yang digunakan pada
hasil penelitian ini adalah lembar observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian
menunjukkan penyimpanan obat high alert sesuai dengan standar prosedur
operasional Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor dengan prosentase kesesuaian
100% pada penyimpanan obat high alert, penyimpanan obat LASA (Look Alike Sound
Alike) atau NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) dan penyimpanan obat
Elektrolit Konsentrat Pekat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi standar pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinik. Penyimpanan merupakan salah satu standar pengelolaan sediaan farmasi. Indikator penyimpanan obat adalah parameter yang digunakan untuk menilai kualitas dan efektivitas pengelolaan obat di gudang farmasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penyimpanan obat di Gudang Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Leuwiliang dengan menggunakan standar penyimpanan Permenkes RI No 72 Tahun 2016 dan indikator penyimpanan Satibi 2014.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan observasional dengan
pengumpulan data secara retrospektif. Sampel penelitian sebanyak 292 item obat. Evaluasi penyimpanan obat di gudang farmasi RSUD Leuwiliang
menunjukkan telah sesuai menurut Permenkes RI No 72 Tahun 2016 dengan
rata-rata nilai untuk persentase persyaratan penyimpanan, komponen
penyimpanan, sistem penyimpanan dan peralatan penyimpanan adalah 100% sedangkan persentase metode penyimpanan adalah 87.71 %. Hasil indikator penyimpanan menurut indikator Satibi 2014 persentase untuk ketepatan data jumlah obat pada kartu stok sebesar 98.63%, nilai TOR 4.64x/tahun, persentase stok mati 0.68% dan persentase stok kosong 1.71% menunjukkan belum sesuai sedang persentase sistem penataan gudang 100% menjalankan prinsip FEFO dan FIFO dan persentase obat kadaluarsa 0% menunjukkan telah sesuai dengan indikator Satibi 2014.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan obat farmasi di apotek yang bervariasi memerlukan
manajemen pengelolaan yang baik, agar obat farmasi terjaga kualitas dan
keamanannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis obat, sistem
penyimpanan obat di Apotek Mutiara Farma Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif
dengan data observasional. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar observasi
data yang berupa form ceklis. Sampel yang digunakan adalah seluruh obat farmasi
yang terdapat di Apotek Mutiara Farma Bogor dengan jumlah 520 produk obat
OTC, Keras dan LASA. Hasil penelitian ini menunjukkan persentase kesesuaian
wadah dengan informasi yang jelas untuk obat OTC sebesar 94,40 %, berdasarkan
stabilitas sebesar 86,21%, berdasarkan kelas terapi sebesar 77,16%, berdasarkan
bentuk sediaan sebesar 100%, berdasarkan alfabetis 0%, kesesuaian FIFO/FEFO
0%, persentase kesesuaian wadah dengan informasi yang jelas untuk obat Ethical
sebesar 86,81%, berdasarkan stabilitas sebesar 100%, berdasarkan kelas terapi 0%,
berdasarkan bentuk sediaan 100%, berdasarkan alfabetis 31,25%, kesesuaian
FIFO/FEFO 0%, persentase kesesuaian wadah dengan informasi yang jelas untuk
obat LASA 87,32%, berdasarkan stabilitas sebesar 100%, berdasarkan kelas terapi
0%, berdasarkan bentuk sediaan 100%, berdasarkan alfabetis 45,07%, kesesuaian
FIFO/FEFO 0%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Depo farmasi rawat jalan harus dilengkapi fasilitas yang cukup dan sistem
penyimpanan obat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem
penyimpanan obat, kesesuaian jumlah obat dengan kartu stok, persentase obat
kedaluwarsa, dan persentase obat yang tidak bergerak di RS. Ummi Bogor.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observatif dengan menggunakan
data retrospektif dan concurrent. Data penyajian yang diperoleh berupa laporan
obat kedaluwarsa, dan laporan obat yang tidak bergerak (dead stock). Instrumen
penelitian ini menggunakan lembar observasi data penyimpanan sediaan farmasi
berupa form ceklis kesesuaian penyimpanan. Sampel yang digunakan adalah
seluruh sediaan farmasi dengan jumlah 626 item. Hasil penelitian menunjukan
persentase kesesuaian metode penyimpanan berdasarkan bentuk sediaan dan
alfabetis 100%, berdasarkan stabilitas 99%, berdasarkan FIFO/FEFO 91%,
berdasarkan kelas terapi 10%, kesesuaian jumlah obat dengan kartu stok 43%, obat
kedaluwarsa 10%, obat yang tidak bergerak 29%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Diabetes merupakan suatu keadaan glukosa tidak dapat diserap secara
sempurna oleh sel tubuh untuk digunakan sebagai energi sehingga kadar glukosa
dalam darah meningkat, penggunaan gula tebu sangat dihindari penderita
diabetes. Gula kelapa dapat dimanfaatkan sebagai pemanis alami karena nilai IG
yang rendah menjadikan gula ini bersifat aman untuk dikonsumsi penderita
diabetes. Gula kelapa berasal dari nektar atau nira kelapa, produk yang berasal
dari bahan alami memiliki kestabilan relatif rendah sehingga bisa merugikan
pengguna gula kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data stabilitas
fisik berdasarkan variasi suhu simpan nektar serbuk, sesuai dengan yang
disyaratkan SNI. Metode penelitian ini adalah pengujian stabilitas fisik mencakup
uji organoleptik, uji pH, dan uji kadar air pada nektar serbuk yang disimpan
selama 28 hari dalam suhu berbeda-beda yaitu suhu 4oC, 25oC, dan 40oC dengan
pengamatan pada hari ke- 0, 7, 14, 21, dan 28. Berdasarkan hasil penelitian nektar
serbuk pada suhu 4oC dan 25oC terjadi perubahan tekstur, pada suhu 40oC terjadi
perubahan warna, aroma, tekstur. Pengukuran pH diperoleh nilai tertinggi 6,71 di
suhu 4oC dan terendah 6,52 di suhu 40oC. Persentase kadar air diperoleh tertinggi
2,62% di suhu 25oC dan terendah 1,24% di suhu 40oC. Pengujian stabilitas fisik
suhu penyimpanan semua parameter masih termasuk kriteria SNI.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan obat adalah bagian dari pengelolaan obat yang sangat penting
dalam memelihara mutu obat-obatan, menjaga kelangsungan persediaan, dan
memudahkan pencarian dan pengawasan. Obat (Look alike sound alike) LASA
merupakan obat yang berpotensi untuk membingungkan staf pelaksana, sehingga
menjadi salah satu penyebab medication error yang sering terjadi. Penandaan obat
yang tergolong LASA dilakukan untuk lebih menegaskan bahwa dalam rak obat
terdapat obat LASA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian
penyimpanan obat LASA di Apotek Ummi Bogor dengan Berdasarkan Peraturan
BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Nomor 24 Tahun 2021. Penelitian
ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan propekstif terhadap
penyimpanan obat LASA di Apotek Ummi dengan populasi pada penelitian ini
yaitu seluruh obat LASA di Apotek Ummi Bogor sejumlah 92 obat. Hasil penelitian
menunjukan bahwa penyimpanan golongan Obat Bebas LASA di Apotek Ummi
termasuk dalam kriteria cukup dengan hasil persentase 53,33%. Penyimpanan
golongan Obat Bebas Terbatas LASA di Apotek Ummi termasuk dalam kriteria
cukup dengan hasil persentase 42,8%. Penyimpanan golongan Obat Keras LASA
di Apotek Ummi termasuk dalam kriteria baik dengan hasil persentase 70,68%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara
menempatkan sediaan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari
pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu sediaan farmasi. Untuk
mengetahui kesesuaian gambaran penyimpanan obat berdasarkan bentuk sediaan.
Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan metode observasi. Penelitian
metode observasi ini dengan mengamati langsung dan kegiatan yang berjalan
dalam penyimpanan obat untuk memperoleh gambaran objek adanya fakta di
ruang obat. Pengambilan data dilakukan dengan cara menggunakan Formulir
checklist. Tata letak penyimpanan obat diruang obat hal yang penting, karena rak
penyimpanan obat di ruang obat klinik pratama rawat inap nabiya medika tidak
memadai. Penyimpanan obat berdasarkan bentuk sediaan obat di Klinik Pratama
Rawat Inap Nabiya Medika. Di peroleh hasil ketidaksesuaian penyimpanan
bentuk sediaan solid, sediaan semi solid, dan sediaan liquid 21,73%. Hal ini
menandakan bahwa penyimpanan obat berdasarkan jenis sediaan di Ruang Obat
Klinik Pratama Rawat Inap Nabiya Medika belum sesuai dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 34 Tahun 2021 tentang standar
pelayanan kefarmasian.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan
cara menempatkan obat dan perbekalan kesehatan yang diterima pada tempat yang
dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat dan
perbekalan kesehatan. Studi pendahuluan yang dilakukan di Apotek Kimia Farma
110 Kebon Pedes ditemukan beberapa obat yang tidak keluar dan beberapa yang
berakhir menjadi kadaluarsa, juga sering terjadi kekosongan obat. Pentingnya
penyimpanan yang baik karena banyak nya obat kadaluarsa di khawatirkan terjadi
kesalahan saat pemberian ke pasien. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efisiensi
penyimpanan obat berdasarkan Indikator Efisiensi Pudjaningsih 1996. Desain
penelitian observasional yang bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data secara
retrospektif yaitu dari bulan januari sampai dengan desember 2020. Hasil dari
penelitian ini menunjukan bahwa efisiensi penyimpanan obat pada indikator
kecocokan obat dengan kartu stok mendapatkan hasil sebesar 55,46 %. Pada
indikator TOR atau perputaran barang mendapatkan hasil 4 kali. Pada indikator
sistem penataan obat menerapkan sistem FEFO dan FIFO sebesar 100%. Pada
indikator persentase obat yang kadaluarsa atau rusak memproleh hasil sebesar 1,40
%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa penyimpanan di Apotek
Kimia Farma 110 Kota Bogor belum efisien.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan penyimpanan dan memeliharaan cara
menempatkan sediaan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari
pencuri serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu sediaan farmasi. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpanan obat dan alat kesehatan di RS
Azra Bogor berdasarkan Permenkes RI No. 72 Tahun 2016. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif melalui pengumpulan data dan dokumentasi yang
dilakukan secara observatif sebagai evaluasi dan analisis kesesuaian. Pengambilan
data dimulai dari bulan Maret - April 2022 dengan tehnik total sampling dengan
subjek penelitian adalah obat dan alat kesehatan di RS Azra Bogor. Hasil penelitian
dari kesesuaian Permenkes RI No. 72 Tahun 2016 antara persyaratan penyimpanan
di IFRS Azra Bogor mencapai 100% yang berarti memenuhi standar, lalu antara
metode penyimpanan di IFRS Azra Bogor mencapai 60% yang berarti belum
maksimalnya metode penyimpanan obat dan alkes di IFRS Azra Bogor, lalu antara
peralatan penyimpanan di IFRS Azra Bogor mencapai 90% yang berarti sudah
memenuhi standar. Kesesuaian penyimpanan obat dan alat kesehatan dengan
standar Permenkes RI No. 72 Tahun 2016 menunjukan bahwa belum maksimalnya
penyimpanan obat dan alat kesehatan dengan standar tersebut.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Bagian yang penting untuk terlaksananya kegiatan di bidang kefarmasian
adalah pengelolaan obat. Penyimpanan obat adalah serangkaian kegiatan yang
bertujuan untuk melindungi obat yang disimpan dari risiko kehilangan, kerusakan,
pencurian, dan cacat fisik yang dapat mempengaruhi kualitas obat. Penyimpanan
adalah salah satu hal yang penting dalam pengelolaan obat di klinik. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian penyimpanan obat dan alat kesehatan di
ruang pelayanan klinik dengan Peraturan CMenteri Kesehatan. Penelitian ini
termasuk jenis penelitian observasi dengan cara mengamati objek dan hasilnya
dipaparkan secara deskriptif, dan pengambilan data dilakukan secara dokumentasi
dan dikonfirmasi pada pengelola dan penanggung jawab klinik GMC Cicurug.
Hasil penelitian menunjukan penyimpanan obat dan alat kesehatan di Klinik GMC
Cicurug di pelayanan dipisahkan berdasarkan bentuk sediaan serta khasiatnya.
Penyimpanan obat di ruang pelayanan mencapai persentase 50% dan alat
kesehatan di ruang pelayanan mencapai persentase 38,46% yang sesuai dengan
Permenkes No. 34 Tahun 2021 tentang standar pelayanan kefarmaisan di Klinik
dan Permenkes No. 4 Tahun 2014 tentang cara distribusi alat kesehatan yang baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Produk farmasi di apotek yang bervariasi memerlukan manajemen
pengelolaan yang baik, agar produk farmasi terjaga kualitas dan keamanannya.
Salah satu proses manajemen produk farmasi yaitu penyimpanan obat. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui jenis obat, sistem penyimpanan obat di Apotek 99
Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan data observasional. Instrumen
penelitian ini menggunakan lembar observasi data yang berupa form ceklis.
Sampel yang digunakan adalah seluruh produk farmasi yang terdapat di Apotek
99 Bogor dengan jumlah 773 produk. Hasil penelitian ini menunjukkan persentase
kesesuaian wadah dengan informasi yang jelas sebesar 96,25%, berdasarkan
stabilitasnya sebesar 93,53%, berdasarkan kelas terapi sebesar 65,98%,
berdasarkan bentuk sediaan obat sebesar 100%, kesesuaian FIFO/FEFO 0%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Bakteri Propionibcaterium acnes merupakan bakteri anaerob fakultatif
yang dapat menyebabkan jerawat. Daun sirih hijau (Piper betle L.) merupakan salah
satu tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri
Propionibcaterium acnes. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa
ekstrak etanol 96% daun sirih hijau memiliki kandungan golongan senyawa
metabolit sekunder, larutan uji memiliki aktivitas antibakteri dan ada perbedaan
aktivitas antibakteri dari lama penyimpanan larutan uji terhadap bakteri
Propionibaterium acnes. Metode meliputi serbuk simplisia daun sirih hijau
diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 96% dan pengujian aktivitas
antibakteri menggunakan difusi cakram. Larutan uji dengan konsentrasi 5%, 7,5%
dan 10% disimpan dalam waktu 0, 3, 7 dan 10 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun sirih hijau mengandung alkaloid,
flavonoid, tanin, saponin, steroid dan fenol. Larutan uji memiliki daya hambat
terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Diameter zona hambat terbesar
ditunjukkan oleh larutan uji konsentrasi 10% berbeda signifikan dibandingkan
konsentrasi 5% dan 7,5%. Pengaruh lama penyimpanan selama 3, 7 dan 10 hari
terjadi penurunan aktivitas antibakteri menunjukkan diameter zona hambat semakin
kecil. Larutan uji konsentrasi 10% pada hari ke-0, 3, 7 dan 10 berturut-turut sebesar
16,92 mm, 14,39 mm, 11,86 mm dan 10,98 mm, menurun dari kategori kuat sampai
sedang.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Berdasarkan Permenkes RI No.73 tahun 2016 penyimpanan sediaan obat
disusun memakai sistem FEFO dan FIFO untuk meminimalkan kerusakan serta
hilangnya jenis obat. Selain itu obat disusun berdasarkan alfabetis untuk
memudahkan dalam pengawasan serta pencarian jenis obat ketika dalam distribusi
obat ke pasien. Penyimpanan obat yang tidak tepat dapat menimbulkan kerusakan
pada obat, kadaluwarsa dan mutu obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
gambaran penyimpanan obat dan kesesuaian penyimpanan obat di Apotek Sartika
Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan teknik pengumpulan
data secara prospektif pada bulan Maret 2021. Hasil penelitian ini menerangkan
bahwa sistem penyimpanan obat di Apotek Sartika berdasarkan kelas terapi,
bentuk sediaan, suhu dan alfabetis. Penyimpanan obat bebas mencapai persentase
98,6%, penyimpanan obat bebas terbatas mencapai 97,8% dan penyimpanan obat
tradisional mencapai persentase 80% sehingga sudah sesuai dengan Permenkes
No 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang
sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau
berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein
rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lainnya, yang bila diberikan kepada
seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit
tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sistem penyimpanan dan
distribusi vaksin BCG dan DPT berdasarkan Permenkes No. 12 Tahun 2017 di
Puskesmas Ratu Jaya dengan 3 kategori untuk penyimpanan vaksin yaitu cara
sarana dan prasarana, keadaan lemari es dan pengelolaan dalam penyimpanan
vaksin, serta melihat data suhu cold chain dan vaccine carrier. Jenis penelitian ini
adalah accidental sampling dan pengamatan langsung menggunakan lembar
observasi. Hasil penelitian diperoleh persentase untuk sistem penyimpanan, yaitu
kategori sarana dan prasarana dengan persentase 90%, keadaan lemari es dengan
persentase 89,47%, pengelolaan dalam penyimpanan vaksin dengan persentase
94,44%, dan suhu cold chain dengan persentase 100%. Untuk sistem
pendistribusian vaksin diperoleh persentase 81,25% dan suhu vaccine carrier
dengan persentase 100%. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa kesesuaian
sistem penyimpanan vaksin Puskesmas Ratu Jaya dengan persentase 93,48% dan
kesesuaian pendistribusian vaksin BCG dan DPT di Puskesmas Ratu Jaya dengan
persentase 90,62% dinyatakan baik atau sesuai dengan Permenkes No. 12 Tahun
2017.