BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu pelayanan resep adalah tenggang waktu mulai dari pasien
menyerahkan resep sampai dengan menerima obat. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui Evaluasi ketepatan waktu tunggu pelayanan resep rawat
jalan di Instalasi Farmasi RS Azra. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
dengan pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data dimulai dari bulan
Januari – Maret tahun 2022 dengan subjek penelitian adalah resep pasien rawat
jalan di Rumah Sakit Azra Bogor. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara
purposive sampling yakni dengan cara mengamati sampel sebanayak 346 lembar
resep pasien rawat jalan yang berobat ke dokter spesialis di Rs Azra. Analisis data
dilakukan dengan cara melihat waktu tunggu pelayanan resep , baik resep racikan
maupun resep non racikan. Kemudian hasil yang didapat dihitung rata-rata waktu
tunggu pelayanan resep menggunakan microsoft Excell. Hasil penelitian dengan
indikator jenis resep terbanyak adalah resep non racikan sebanyak 194 resep
dengan persentase 56,07 %. Resep racikan sebanyak 152 resep dengan persentase
43,93%. Untuk indikator waktu tunggu pelayanan resep racikan memperoleh rata-
rata waktu tunggu 54 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤60 menit) dan
untuk obat non racikan memperoleh hasil rata- rata waktu tunggu pelayanan
sebesar 29 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤30 menit), Sedangkan
persentase kesesuaian waktu tunggu terhadap obat racikan sebanyak 61,18% dan
untuk non racikan 61,86%. Hasil ini menunjukan bahwa waktu tunggu pelayanan
resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RS Azra sudah memenuhi standar
pelayanan minimal waktu tunggu pelayanan resep
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Kasus kegawatdaruratan yang ditangani secepat mungkin meningkatkan
keberhasilan penanganan dan mengurangi mortalitas. Untuk mendukung efektifitas
penanganan kegawatdaruratan di Rumah Sakit Melania, disediakan troli emergensi
yang berisi peralatan dan perlengkapan penanganan gawat darurat. Oleh karena itu
dituntut peran aktif dari instalasi farmasi untuk mengelola obat-obat emergensi
yang disimpan di ruangan mulai daftar standar obat emergensi yang boleh disimpan
dan cara pengelolaanya yang terdiri dari penyimpanan dan penggantian. Tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian jenis obat dan alat kesehatan serta
pengelolaan pada troli emergensi di ruang HCU Rumah Sakit Melania dengan
Standar Operasional Prosedur yang ada di Rumah Sakit Melania. Hasil evaluasi
diperoleh berdasarkan hasil pengamatan langsung dan hasil wawancara dengan
petugas yang menangani troli emergensi. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk
persentase. Kesimpulan yang di dapat pada evaluasi kesesuaian obat dan ALKES
troli emergensi di ruang HCU Rumah Sakit Melania menunjukan hasil rata – rata
93 % sesuai dengan daftar obat dan ALKES pada SOP Rumah Sakit Melania dan
untuk yang tidak sesuai dengan SOP Rumah Sakit Melania menunjukan hasil rata
–rata 7 %. Pada hasil penelitian evaluasi kesesuaian penyimpanan obat maupun
ALKES troli emerensi HCU Rumah Sakit Melania menunjukan hasil rata – rata 84
% sesuai dengan SOP Rumah Sakit Melania dan untuk yang tidak sesuai dengan
SOP Rumah Sakit Melania menunjukan hasil rata –rata 16 %. Pada hasil penelitian
evaluasi kesesuaian penggantian obat maupun ALKES troli emerensi HCU
menunjukan hasil rata – rata 88 % sesuai dengan SOP Rumah Sakit Melania dan
untuk yang tidak sesuai dengan SOP Rumah Sakit Melania menunjukan hasil rata
–rata 12 %.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah upaya yang paling sering dilakukan oleh masyarakat untuk
mengatasi gejala penyakit sebelum mencari bantuan dari tenaga kesehatan.
Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan- keluhan dan penyakit
ringan seperti batuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
tingkat pengetahuan swamedikasi santri Madrasah Aliyah terhadap penyakit batuk
di Pondok Pesantren Miftahul Huda Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada 86 responden
dengan kriteria pernah melakukan swamedikasi batuk. Kuesioner terdiri dari 20
item pernyataan pilihan benar salah yang terbagi menjadi 8 indikator. Pengambilan
sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan
menggunakan persentase dan pembahasan. Hasil penelitian ini adalah 39,5%
berjenis kelamin laki-laki, 60,5% berjenis kelamin perempuan, usia paling banyak
16-19 tahun 70,9%, tingkat kelas paling banyak 11 Aliyah 57%, pengetahuan
swamedikasi batuk responden berdasar indikator yang menjawab dengan benar
tentang definisi batuk (70,9%), jenis - jenis batuk (97,65%), penyebab dan cara
mencegah batuk (93,9%), aturan minum obat batuk (91,06%), terapi farmakologis
dan non farmakologis (93,96%), stabilitas obat (84,85%), penyakit lain yang
berhubungan dengan batuk (95,35%) dan efek samping obat batuk (88,4%). Dari
hasil 8 indikator yang diperoleh menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat
pengetahuan baik tentang swamedikasi batuk sebesar 96,5%, dan responden dengan
tingkat pengetahuan cukup sebesar 3,5 %.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami
gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk
sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat
menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai
manusia. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran peresepan psikotropika
yang meliputi gambaran usia, jenis kelamin, diagnosis, jenis obat, dan jumlah
item obat dalam resep pada pasien jiwa di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit
Umum Daerah Leuwiliang periode Januari-Maret 2020. Gambaran peresepan
dapat diketahui dengan melihat data pada rekam medik. Data dikumpulkan
dengan cara retrospektif kemudian dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti
sebanyak 90 sampel. Dari analisis data yang dilakukan diperoleh hasil sebagai
berikut: pasien dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 52% dan jenis kelamin
perempuan 48%. Berdasarkan gambaran usia paling tinggi yaitu usia 26-35 tahun
27,78%. Diagnosis terbanyak yaitu skizofrenia sebesar 51,11% dengan
penggunaan obat psikotropika yang paling banyak diresepkan yaitu clobazam
(72%) dengan jumlah peresepan terbanyak sejumlah 30 tablet (53 resep dari 90
resep).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan