BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atas meliputi rhinitis, sinusitis, otitis media, faringitis, laringitis, dan tonsilitis. Balita dan anak-anak paling rentan terkena ISPA. Tingginya prevalensi penyakit ISPA berdampak pada peresepan dan konsumsi antibiotik yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita ISPA meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat frekuensi, dan tepat lama pemberian. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif, dengan menggunakan data rekam medis pasien anak dengan usia 0 – 11 tahun yang terdiagnosis ISPA dan mendapatkan terapi antibiotik di Klinik Al- Barokah Bogor periode Februari - Juli 2023. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling sehingga jumlah sampel 81 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang paling banyak menderita ISPA berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki 46 pasien (56,8%), rentang usia 0 - 5 tahun 44 pasien (54,3%), rentang berat badan (BB) 14-30 kg 55 pasien (67,90%), dan jenis ISPA faringitis 31 pasien (38,3%). Antibiotik yang paling sering diresepkan yaitu amoxicillin 71 pasien (87,70%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik meliputi tepat indikasi 81 (100%), tepat obat 81 (100%), tepat pasien 81 (100%), tepat dosis 63 (77,8%), tepat frekuensi 80 (98,80%), dan tepat lama pemberian 18 (22,2%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang berlangsung sampai
dengan 14 hari yang bersifat kompleks dan heterogen yang disebabkan oleh
berbagai penyebab dan dapat mengenai sepanjang saluran pernafasan. Laporan
Tahunan Puskesmas Kedung Badak Tahun 2021 menunjukan ISPA merupakan
penyakit yang paling banyak. Pengobatan ISPA sering kali menggunakan antibiotik
sehingga memerlukan evaluasi ketepatan pada penggunaan antibiotik untuk ISPA.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik
pada pasien ISPA di Puskemas Kedung Badak pada tahun 2021. Penelitian ini
dilakukan secara retsrospektif dengan berdasarkan Rekam medis pasien tahun
2021. Hasil Penelitian menunjukan bahwa profil pasien ISPA anak bagian atas di
Puskesmas Kedung Badak tahun 2021 berdasarkan karakteristik jenis kelamin
terbanyak kategori laki – laki (56%), karakteristik usia terbanyak kategori 0-5
tahun (64%) dan kategori berat badan terbanyak kategori 10 – 15kg (45%).
Antibiotik yang digunakan adalah Amoxicillin syrup 125 mg/5 ml (100%). Hasil
evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik ISPA anak bagian atas diketahui tepat
indikasi (64%), tepat dosis (67%), tepat frekuensi pemberian (100%), dan tepat
lama pemberian (8%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama kesakitan dan
kematian di dunia. ISPA merupakan suatu penyakit menular yang dapat menyerang
semua umur dan masih menjadi masalah kesehatan baik di negara maju maupun
negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketepatan obat
berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan tepat frekuensi, pada pasien
di Puskesmas Simpenan Kabupaten Sukabumi. Data yang digunakan adalah data
rekam medik, dengan data yang diambil meliputi nama, usia, nomor rekam medik,
jenis kelamin dan jenis obat yang digunakan pada pasien ISPA periode September-
Desember 2022. Data dianalisis secara deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel
dan diagram. Sampel yang diambil sebanyak 90 pasien dengan metode purposive
sampling. Hasil penelitian menunjukan data sosiodemografi jenis kelamin
terbanyak adalah perempuan dengan persentase 51%, kemudian klasifikasi usia
terbanyak yaitu pada usia 0-5 tahun dengan persentase 43%. Distribusi pasien ISPA
berdasarkan diagnosis terbanyak yaitu faringitis dengan persentase 66,7%. Evaluasi
ketepatan pengobatan berdasarkan tepat indikasi diperoleh hasil sebanyak 100%,
pada tepat obat sebanyak 97,8%, pada tepat dosis diperoleh sebanyak 97,8%, dan
tepat frekuensi sebanyak 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi di dunia. Demikian pula, ISPA
merupakan salah satu penyebab utama rawat jalan atau rawat inap di institusi pelayanan kesehatan, terutama di sektor perawatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien terdiagnosa ISPA anak, gambaran jenis penyakit ISPA anak, gambaran penggunaan obat ISPA, dan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan obat pada pasien ISPA anak meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi, dan tepat lama pemberian dengan panduan Pharmaceutical
Care 2005. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deksriptif yang bersifat retrospektif dengan pendekatan cross sectional. Data penelitian ini diambil dari data sekunder berupa data rekam medik pasien, dengan periode Oktober – Desember 2022. Sampel yang diambil sebanyak 104 pasien dengan metode total sampling. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan, rentang usia yang paling banyak 3 – 5 tahun sebanyak (52%), jenis kelamin yang paling banyak laki-laki sebanyak (63%), rentang berat badan terbanyak 13 – 19 kg sebanyak (33%). Jenis ISPA terdapat rhinitis sebanyak (14%), tonsilitis sebanyak (48%), faringitis sebanyak (38%), obat yang paling banyak digunakan amoksisilin sebanyak (76%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan obat diperoleh tepat obat 100%, tepat dosis 89,4%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian 62,5%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Infeksi saluran ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat
penyakit menular di dunia. Evaluasi ketepatan penggunaan obat ISPA perlu
mendapatkan perhatian khusus agar tidak terjadi penggunaan obat secara tidak
rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui obat-obat ISPA dan
mengevaluasi ketepatan obat, ketepatan dosis dan ketepatan frekuensi dengan
menggunakan metode penelitian secara deskriptif dan pengambilan data secara
retrospektif. Hasil obat-obat ISPA yang digunakan Golongan Antihistamin yaitu
CTM sebanyak 52 pasien (87%), Golongan Kortikosteroid yaitu prednison 54
pasien (90%), Dexamethasone 3 pasien (5%), Triamcinolone 3 pasien (5%),
Golongan analgetik-Antipiretik 59 pasien (98%), Golongan Mukolitik 57 pasien
(95%), Golongan Dekongestan 49 pasien (82%) dan Golongan Obat ekspektoran
30 pasien (50%). Ketepatan obat sebanyak 60 (100%) pasien sudah tepat, ketepatan
dosis sebanyak 60 resep (60 pasien) 100 % dan tepat frekuensi dalam penggunaan
aturan pakai pada resep sesuai yang tertera pada Informasi Spesialite Obat (ISO).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang disebabkan
oleh virus ataupun bakteri yang sering menyerang saluran pernafasan baik saluran
pernafasan atas maupun bawah, umumnya terjadi pada anak. Penggunaan
antibiotik pada ISPA harus diperhatikan dengan benar, terutama pada anak karena
penggunaan yang tidak sesuai dapat menyebabkan resistensi. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengetahui profil sosiodemografi, mengetahui gambaran
penyakit ISPA anak, mengetahui gambaran penggunaan antibiotik, mengetahui
ketepatan penggunaan antibiotik dengan melihat tepat obat, tepat dosis, tepat
frekuensi, tepat lama pemberian dengan panduan Pharmaceutical Care 2005.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non observasional, pengambilan
data dilakukan secara retrospektif dari data sekunder berupa data dari rekam
medik. Sampel yang diambil 222 pasien dengan (total sampling). Hasil penelitian
menunjukkan data sosiodemografi terbanyak terjadi pada rentang usia 0-5 tahun
(55%), jenis kelamin terbanyak pada laki-laki sebanyak 137 pasien (62%), dan
berat badan yang paling banyak ditemui yaitu 9,7-19 kg (48%). Jenis ISPA di
Puskesmas Curug Bogor terdapat 167 pasien (75%) faringitis dan 55 pasien (25%)
tonsilitis, Penggunaan antibiotik adalah amoksisilin pada seluruh pasien ISPA
(100%). Hasil evaluasi ketepatan penggunaan amoksisilin 100% tepat obat, tepat
dosis sebanyak 162 pasien (73%), tepat frekuensi 100%, dan tepat lama
pemberian 0% tidak tepat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yaitu penyakit infeksi yang dapat menyerang salah
satu atau lebih bagian dari saluran pernafasan. ISPA atas terdiri dari rhinitis, faringitis,
sinusitis, otitis media, tonsilitis, dan laringitis. ISPA disebabkan oleh bakteri dapat diterapi
menggunakan obat antibiotik. Pemberian obat antibiotik yang tidak rasional dan tidak
memenuhi dosis regimen dapat meningkatkan resistensi antibiotik. Kerasionalan penggunaan
antibiotik dianalisis dengan metode Gyssens. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
kerasionalan penggunaan obat antibiotik pada pasien penderita ISPA dengan metode Gyssens
di Klinik Nayaka Husada 02 Gatot Subroto Jakarta Selatan. Jenis penelitian ini menggunakan
metode deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 101 data rekam
medik pasien rawat jalan selama bulan Juli-Desember 2022. Pengambilan sampel
menggunakan Total Sampling. Kesimpulan dari penelitian ini, jenis kelamin pasien yang
menderita ISPA faringitis terbanyak adalah laki-laki 59% dan usia 26-35 tahun sebanyak
37%. Jenis antibiotik yang terbanyak digunakan pada pasien penderita ISPA faringitis adalah
Cefixime sebanyak 46%. Terdapat kategori 0 (rasional) sebanyak 88% dan pada kategori III
B (Penggunaan antibiotik terlalu singkat) sebanyak 12%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
ISPA merupakan suatu penyakit menular yang menginfeksi saluran pernapasan
manusia yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus
yang masih menjadi perhatian karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian.
Dalam kenyataannya antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini.
Peresepan antibiotika yang berlebihan dapat menimbulkan peningkatan resistensi
bakteri dan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data
sosiodemografi berupa usia dan jenis kelamin, data profil penyakit ISPA, data profil
penggunaan antibiotik serta data ketepatan penggunaan antibiotik meliputi tepat
indikasi, tepat dosis, tepat obat, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian pasien
penderita ISPA. Penelitian ini bersifat observasional dimana data sekunder
dikumpulkan dari rekam medik pasien periode Januari – Desember 2021 yang
dilakukan secara retrospektif dan dianalisis dengan metode analisa deskriptif di
Klinik Utama dr. Yati Zarnudji Cibinong Kabupaten Bogor. Pada penelitian ini
diperoleh data pasien yang terdiagnosa ISPA bagian atas dan bawah sebanyak 82
pasien terpilih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian
diperoleh pasien ISPA paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 51
pasien (62%). Untuk usia yang paling banyak menderita penyakit ISPA berdasarkan
data sosiodemografi pasien yaitu usia dewasa awal 26 – 35 tahun sebanyak 29 orang
(35%). Penyakit ISPA yang paling banyak diderita yaitu faringitis sebanyak 54
pasien (66%). Untuk antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu cefixime
sebanyak 32 resep (39%). Evaluasi ketepatan indikasi 82 sampel (100%), ketepatan
dosis 65 sampel (79%), ketepatan obat 82 sampel (100%), ketepatan frekuensi 82
sampel (100%) dan ketepatan lama pemberian 40 sampel (49%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
ISPA merupakan salah satu penyakit utama yang mendapat perawatan rawat
jalan di fasilitas pelayanan kesehatan. Antibiotik merupakan golongan obat yang
paling banyak digunakan untuk mengatasi infeksi ini. Antibiotik hendaknya
digunakan secara rasional karena mempunyai dampak yang besar, salah satunya
yaitu terjadinya resistensi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
gambaran mengenai ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA. Penelitian
ini dilakukan dengan metode deskriptif retrospektif, menggunakan rekam medis
dan resep pasien rawat jalan penderita ISPA yang menerima antibiotik di RS UMMI
Bogor selama periode Juli-November 2021. Data yang diambil meliputi identitas
pasien, diagnosis, antibiotik, dan dosis yang digunakan. Data yang diperoleh
disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 69 pasien yang paling banyak menderita ISPA berdasarkan jenis kelamin
adalah pasien laki-laki (57%), berdasarkan usia adalah anak 0-5 tahun (77%).
Golongan antibiotik yang paling sering diresepkan adalah golongan sefalosporin
yaitu cefixime (71%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan pedoman
Pharmaceutical care 2005 meliputi kriteria tepat indikasi (100%), tepat dosis
(87%), tepat frekuensi (97%), dan tepat lama pemberian (96%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab penyakit utama
morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Evaluasi
Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pada
pasien ISPA, untuk mengetahui penggunaan obat antibiotik, untuk mengetahui
ketepatan indikasi, ketepatan obat, ketepatan dosis, ketepatan frekuensi dan
ketepatan lama pemberian berdasarkan panduan Pharmaceutical Care 2005 dan
IDI 2017. Penelitian ini merupakan non eksperimental dengan mengambil data
secara retrosopektif menggunakan data sekunder rekam medik sebanyak 229
pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan data
sosiodemografi usia paling banyak 17-25 tahun sebanyak 57 pasien (24,57%),
jenis kelamin laki-laki lebih banyakyaitu sebanyak 118 pasien (51,53%),
diagnosa paling banyak yaitu faringitis sebanyak 138 pasien (60,26%). Obat-
obatan ISPA yang digunakan yaitu Amoksisilin (79,40%), Sefadroksil (15,58%),
Cefixime (3.02%), Siprofloksasin (2,01%), Parasetamol (8,54%), Deksametason
(1,83%), CTM (17,58%), Cetirizine (61,59%), Ambroksol (5,49%), Vitamin B
Kompleks (4,88%). Ketepatan Indikasi (89,96%), Ketepatan Obat (82,97%),
Ketepatan Dosis (99,13%), Ketepatan Frekuensi (100,00%), Ketepatan Lama
Pemberian (94,97%).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang
melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian
bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan
menyerang apabila ketahanan tubuh (immunitas) menurun. Dalam
penatalaksanaan ISPA balita yang menjalani pengobatan akan berdampak
munculnya masalah dalam pemberian obat obat Drug Related Problems (DRPs)
di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Azra Bogor pada periode 1 Januari 2019
sampai 31 Maret 2020. Dengan teknik pengumpulan data secara retrospektif dan
dianalisi secara deskriktif, metode yang dipakai menggunakan rumus Slovin dan
didapat sampel sebanyak 109 sampel pasien dengan rentan 0-5 tahun. Hasil
pengumpulan dan pengolahan data menunjukan bahwa pasien di Rumah Sakit
Azra Bogor Jenis kelamin laki-laki 60 pasien dan perempuan 49 pasien. Terapi
obat yang banyak diterima oleh penderita ISPA adalah obat tremenza,
triamcinolon, ketotifen, paracetamol, salbutamol. Sedangkan obat lain yang
digunakan bersamaan dengan obat ISPA untuk terapi ISPA adalah antibiotik.
Hasil evaluasi menunjukan DRPs, yaitu interaksi obat 94 pasien, terapi tanpa
indikasi 18 pasien, indikasi tanpa terapi 4 pasein, overdosis 6 pasien, dosis
subterapeutik 8 pasien, pemilihan obat yang kurang tepat 0 pasien, reaksi obat
yang dikehendaki 0 Pasien, kegagalan menerima obat 2 pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi saluran
pernapasan akut yang menyerang saluran pernapasan bagian atas dan saluran
pernapasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis angka kejadian DRP pada
penatalaksanaan pasien ISPA di Klinik Azka Kecamatan Cicurug Sukabumi.
Penelitian ini bersifat retrospektif dilakukan dengan menggunakan data yang
dikumpulkan dari rekam medis pasien ISPA di Klinik Azka Kecamatan Cicurug
Sukabumi periode Juni – Agustus 2021 menggunakan metode deskriptif dan
analisis dengan menggunakan klasifikasi DRP menurut Pharmaceutical Care
Practice : The Clinician’s Guide yang telah dimodifikasi yaitu dosis rendah, dosis
tinggi, obat tanpa indikasi dan indikasi tanpa obat. Hasil penelitian menunjukan
bahwa Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi adalah dosis rendah sebanyak
18,19%, dosis tinggi sebanyak 33,33%, obat tanpa indikasi sebanyak 48,48% dan
indikasi tanpa obat sebanyak 0%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa telah
terjadi Drug Related Problems (DRPs) pada pengobatan infeksi saluran pernapasan
akut terhadap pasien anak di Klinik Azka Kecamatan Cicurug Sukabumi periode
Juni – Agustus 2021.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan
atas atau bawah, sebagian besar terjadi pada anak di bawah 5 tahun. Pengobatan
ISPA meliputi pemberian antibiotik dan tanpa antibiotik. Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan obat ISPA bagian atas pada pasien anak
di Apotek Kimia Farma 202 Kejayaan Depok periode Oktober-Desember 2021.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional bersifat deskriptif dengan
pengambilan data sekunder rekam medik dan resep secara retrospektif sebanyak 88
pasien dengan metode total sampling. Data dianalisis sesuai kriteria pedoman
Pharmaceutical Care 2005, Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter 2014 dan MIMS
2019. Hasil penelitian ini menunjukan pasien anak paling banyak adalah laki-laki
57 pasien (65%), usia paling banyak >5-11 tahun 36 pasien (41%), berat badan
paling banyak >15kg 46 pasien (52%). Penggunaan terapi antibiotik sebanyak 37
resep (42%) berupa sefiksim 59%, sefadroksil 38%, azitromisin 3%. Sedangkan
tanpa antibiotik sebanyak 51 resep (58%) berupa setirizin 33%, ambroksol 15%,
parasetamol dan metisoprinol 14%, karbosistein 10%, metilprednisolon 6%,
ibuprofen dan nystatin 4% . Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dengan
kriteria tepat obat 95%, tepat dosis 62%, tepat frekuensi 62%, tepat lama pemberian
obat 0%. Sedangkan evaluasi ketepatan penggunaan tanpa antibiotik dengan
kriteria tepat obat 69%, tepat dosis 86% dan tepat frekuensi 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Indonesia adalah negara dengan iklim tropis. Sebagai daerah tropis, Indonesia
mempunyai potensi menjadi wilayah endemik lantaran berbagai macam penyakit
infeksi. Salah satunya yaitu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Infeksi saluran
napas sesuai wilayah infeksinya yaitu infeksi saluran napas atas dan bawah. Bila
tidak diatasi dengan baik infeksi saluran napas atas bisa bertumbuh mengakibatkan
infeksi saluran napas bawah. Antibiotik adalah obat yang sangat umum
dipergunakan dan disalahgunakan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa
menyebabkan resistensi kuman meningkat sehingga mengakibatkan morbiditas
serta mortalitas yang bermakna. Tujuan penelitian ini mengevaluasi ketepatan
penggunaan antibiotik pada pasien anak ISPA bagian atas di Klinik Insani.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara
retrospektif. Lokasi penelitian bertempat di Klinik Insani Citeureup. Sampel pada
penelitian ini seluruh pasien anak usia 0–11 tahun dengan diagnosis ISPA bagian
atas yang menggunakan antibiotik pada periode Juli–Desember 2020. Teknik
pengumpulan data menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan
sampel 96 pasien, 54.17% merupakan pasien laki-laki dan 45.83% pasien
perempuan. Gambaran profil penggunaan antibiotik yang seringkali digunakan
adalah amoxicillin yaitu sebesar 83.33%. Untuk hasil penelitian ketepatan
penggunaan obat antibiotika diperoleh hasil tepat indikasi 47.92%, tepat obat
36.46%, tepat dosis 76.04%, tepat frekuensi waktu pemberian 98.95% dan tepat
lama pemberian 93.75%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Indonesia memiliki angka kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup
20%-30% dari seluruh kematian anak. Berdasarkan Prevalensi ISPA di Indonesia
tahun 2018 sebanyak 9,3%. ISPA Non Pneumonia merupakan infeksi yang terjadi
pada saluran pernapasan bagian atas yang dengan gejala batuk pilek biasa,
demam, tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas
cepat. Salah satu pengobatan ISPA adalah Antibiotik. Penggunaan antibiotik yang
tidak rasional dapat menyebabkan resistensi, reaksi alergi, toksisitas dan
perubahan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan
antibiotik ISPA Non Pneumonia pada pasien balita meliputi tepat obat, tepat
pasien, tepat indikasi dan tepat dosis. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif dengan metode observasional dengan cara pengambilan data dari rekam
medis pasien balita dengan diagnosa ISPA Non Pneumonia bulan Juli – Desember
2020 di Puskesmas Cipaku Bogor. Dari 48 sampel diperoleh 56,35% pasien
perempuan dan 43,75% pasien laki-laki, Antibiotik yang sering digunakan
amoxicillin 93,75%, diagnosa terbanyak adalah Commond Cold 68,75%.
Kerasionalan penggunaan obat antibiotik diperoleh hasil tepat pasien 100%, tepat
indikasi 100%, tepat obat 93,75% dan tepat dosis 6,25%. Persentase penggunaan
antibiotik 20% yang dimana hasil sesuai standar indikator POR yaitu ≤ 20%.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Penyakit ISPA merupakan suatu masalah kesehatan utama di indonesia
yang disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur. Obat yang digunakan dalam
menanggulangi ISPA dengan penggunaan antibiotik.Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran karakteristik pasien, pola terapi, dan evaluasi efektifitas
penggunaan antibiotik untuk pasien rawat jalan ISPA di Puskesmas Nanggung.
Data pasien rawat jalan ISPA diperoleh dari data rekam medis pasien rawat jalan
sebanyak 100 pasien. Hasil penelitian dari sosiodemografi pasien berdasarkan
jenis kelamin laki-laki sebanyak 45 pasien (45%) dan perempuan sebanyak 55
pasien (55%). Pasien ISPA berdasarkan usia yang lebih besar adalah pasien Balita
sebanyak 60 pasien (60%). Pola terapi yang digunakan pada pasien ISPA
Amoxicillin 75 (75%), Cotrimoxazole 25 (25%). Efektifitas penggunaan
antibiotik yang lebih efektif dalam pengobatan ISPA adalah penggunaan obat
antibiotik Amoxicillin yaitu sebanyak 74 (74%). Dari hasil uji Chi-Square P sig
0,000 menunjukan bahwa adannya hubungan yang signifikan antara efektifitas
terhadap penggunaan antibiotik Amoxicillin dan Cotrimoxazole