BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah dalam jangka
waktu yang lama, yang dapat menyebabka] n kematian. Pada penyakit hipertensi
membutuhkan pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan resiko terjadinya
interaksi obat hipertensi dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat interaksi obat hipertensi di Klinik Gema
Medical Center Cicurug periode bulan Januari – Maret 2023. Jenis penelitian ini
merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan
secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara
total sampling. Hasil penelitian terhadap 84 pasien menunjukan, sebagian besar
pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 53 pasien (63,09%) dengan rentang
usia 46 – 55 tahun sebanyak 36 pasien (42,85%). Penyakit penyerta terbanyak yang
diderita adalah Myalgia sebanyak 44 pasien (27,16%). Sebanyak 47 pasien
(55,95%) mendapatkan 4 obat dengan obat hipertensi paling banyak diresepkan
yaitu amlodipin sebanyak 77 pasien (94%). Obat penyakit penyerta yang paling
banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 37 pasien (15%). Obat yang
berpotensi terjadi interaksi paling banyak yaitu amlodipin dengan ibuprofen
sebanyak 24 pasien (30,76%). Kejadian interaksi obat yang terjadi pada pasien,
yaitu amlodipine dengan ibuprofen sebanyak 7 kasus (18%), amlodipin dengan
asam mefenamat sebanyak 6 kasus (16%), amlodipin dengan meloxicam sebanyak
4 kasus (22%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 1 kasus (21%) dan
amlodipin dengan captropil sebanyak 1 kasus (30%). Kejadian interaksi obat yang
terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberkulosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) dan
obat non anti tuberkulosis (Non OAT) dalam penggunaanya dilakukan dalam
waktu bersamaan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi obat. Penelitian
ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan OAT dan Non OAT. Potensi
terjadinya interaksi obat antar OAT, antar OAT dengan Non OAT dan antar Non
OAT dalam peresepan pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Sukabumi. Jenis
penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan
deskriptif dan bersifat retrospektif. Pengambilan data berdasarkan data resep
elektronik pasien ditinjau secara teoritis dari studi literatur Drugs Interaction
Checeker. Terdapat 95 sampel pasien TB paru. Jenis kelamin terbanyak adalah
Laki-laki (66,3%). Usia pasien terbanyak rentang usia 26-35 tahun (dewasa awal)
(27,4%). Jenis OAT terbanyak digunakan adalah rifampisin (30,6%), dan
isoniazid (30,6%). Jenis Non OAT terbanyak digunakan adalah golongan obat
vitamin dan suplemen (27,8%). Terdapat (56,6%) obat yang mengalami potensi
interaksi, dan (43,4%) tidak mengalami potensi interaksi. Potensi interaksi obat
antar OAT terbanyak yaitu interaksi pada rifampisin dengan isoniazid (44,2%),
dan rifampisin dengan pyrazinamide (27,8%) dengan level keparahan terbanyak
Major (72,1%). Potensi interaksi obat antar OAT dan Non OAT terbanyak yaitu
interaksi pada isoniazid dengan paracetamol (51,7%) dengan level keparahan
terbanyak Moderate (55,8%). Sedangkan potensi interaksi obat antar Non OAT
terbanyak yaitu interaksi pada methylprednisolon dengan salbutamol (28,6%)
dengan level keparahan terbanyak Minor (38,1%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yaitu penyakit infeksi yang dapat menyerang salah
satu atau lebih bagian dari saluran pernafasan. ISPA atas terdiri dari rhinitis, faringitis,
sinusitis, otitis media, tonsilitis, dan laringitis. ISPA disebabkan oleh bakteri dapat diterapi
menggunakan obat antibiotik. Pemberian obat antibiotik yang tidak rasional dan tidak
memenuhi dosis regimen dapat meningkatkan resistensi antibiotik. Kerasionalan penggunaan
antibiotik dianalisis dengan metode Gyssens. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
kerasionalan penggunaan obat antibiotik pada pasien penderita ISPA dengan metode Gyssens
di Klinik Nayaka Husada 02 Gatot Subroto Jakarta Selatan. Jenis penelitian ini menggunakan
metode deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 101 data rekam
medik pasien rawat jalan selama bulan Juli-Desember 2022. Pengambilan sampel
menggunakan Total Sampling. Kesimpulan dari penelitian ini, jenis kelamin pasien yang
menderita ISPA faringitis terbanyak adalah laki-laki 59% dan usia 26-35 tahun sebanyak
37%. Jenis antibiotik yang terbanyak digunakan pada pasien penderita ISPA faringitis adalah
Cefixime sebanyak 46%. Terdapat kategori 0 (rasional) sebanyak 88% dan pada kategori III
B (Penggunaan antibiotik terlalu singkat) sebanyak 12%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Salah satu standar pelayanan kefarmasian rumah sakit adalah kesesuaian
penulisan resep sesuai dengan Formularium Rumah Sakit. Kesesuaian penulisan
resep dengan formularium rumah sakit berpengaruh terhadap mutu pelayanan
rumah sakit, dimana dapat menyebabkan adanya penumpukan stok obat yang
sudah masuk kedalam formularoium namun tidak diresepkan oleh dokter, selain
itu bisa menyebabkan adanya penurunan pendapatan rumah sakit. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian penulisan resepl pasien umuml di depo
rawat jalanl dengan Formularium Rumahl Sakit Karya Bhakti Pratiwi. Penelitianl
ini merupakan penelitianl deskriptip dengan pengambilanl data secara retrospektifl
dimana data sampel yang dipakai merupakan sampel resepl pasien umuml di depo
rawat jalanl periode Oktober-Desember 2021 sebanyakl 377 lembar lresep. Resep
dianggap sesuail dengan Formulariuml Rumah Sakitl apabila dalam satu lembar
resepl tersebut seluruh item obatnya terdapat dalam Formularium Rumah Sakit.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kesesuaian penulisan resep pasien umum
depo rawat jalan dengan Formularium Rumah Sakit pada periode Oktober-
Desember 2021 sebesar 94,57%. dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
persentasi kesesuaian resep Rumah Sakit masih belum memenuhi standar
pelayanan minimal rumah sakit, yaitu standar kesesuaian resep berdasarkan
Formularium Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi maupun sesuai dengan
Formularium Nasional sebesar 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pelayanan kefarmasian adalah pelayanan yang dilakukan secara langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien, berkaitan dengan sediaan farmasi untuk
mencapai hasil terapi yang pasti dalam meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Kualitas pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang dapat
menimbulkan kepuasan pada setiap pasien. Kepuasan menjadi bagian penting
dalam pelayanan kesehatan sebab kepuasan pasien tidak dapat dipisahkan kualitas
pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan
kefarmasian di Depo Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor. Jenis penelitian
yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data prospektif,
teknik mengumpulkan data menggunakan menggunakan kuesioner lalu data
diolah menggunakan aplikasi Microsoft Excell. Populasi adalah pasien yang
menebus resep dokter di Depo Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor pada bulan
Maret-April 2022 sebanyak 3886 pasien dan dan sampel yang diperoleh sebanyak
98 responden. Berdasarkan hasil penelitian ini dinyatakan bahwa responden
merasa sangat puas terhadap pelayanan yang telah diterima atas pelayanan yang
diberikan oleh petugas farmasi di Depo Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor.
Jika dilihat dari standar yang telah di tetapkan oleh Kepmenkes RI Nomor 129
Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit adalah penilaian
pada kepuasan pelanggan 80%. Berdasarkan analisis dengan menggunakan
metode perhitungan statistik untuk katagori keandalan 80,00%, ketanggapan 84,
69%, jaminan 84,90%, empati 88,37%, dan bukti fisik 87,96% dan rata-rata
keseluruhan adalah 85,18 % yang berati bahwa pelayanan kefarmasian di Depo
Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor sudah memenuhi Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu pelayanan resep adalah tenggang waktu mulai dari pasien
menyerahkan resep sampai dengan menerima obat. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui Evaluasi ketepatan waktu tunggu pelayanan resep rawat
jalan di Instalasi Farmasi RS Azra. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
dengan pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data dimulai dari bulan
Januari – Maret tahun 2022 dengan subjek penelitian adalah resep pasien rawat
jalan di Rumah Sakit Azra Bogor. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara
purposive sampling yakni dengan cara mengamati sampel sebanayak 346 lembar
resep pasien rawat jalan yang berobat ke dokter spesialis di Rs Azra. Analisis data
dilakukan dengan cara melihat waktu tunggu pelayanan resep , baik resep racikan
maupun resep non racikan. Kemudian hasil yang didapat dihitung rata-rata waktu
tunggu pelayanan resep menggunakan microsoft Excell. Hasil penelitian dengan
indikator jenis resep terbanyak adalah resep non racikan sebanyak 194 resep
dengan persentase 56,07 %. Resep racikan sebanyak 152 resep dengan persentase
43,93%. Untuk indikator waktu tunggu pelayanan resep racikan memperoleh rata-
rata waktu tunggu 54 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤60 menit) dan
untuk obat non racikan memperoleh hasil rata- rata waktu tunggu pelayanan
sebesar 29 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤30 menit), Sedangkan
persentase kesesuaian waktu tunggu terhadap obat racikan sebanyak 61,18% dan
untuk non racikan 61,86%. Hasil ini menunjukan bahwa waktu tunggu pelayanan
resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RS Azra sudah memenuhi standar
pelayanan minimal waktu tunggu pelayanan resep
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup berbahaya di
dunia karena hipertensi merupakan faktor resiko utama yang mengarah kepada
penyakit kardiovaskuler. Sebagai salah satu penyakit yang cukup besar
prevalensinya, penggunaan obat antihipertensi penting diketahui untuk
perencanaan kebutuhan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui
gambaran sosiodemografi dari pasien hipertensi dan mengetahui gambaran
penggunaan obat antihipertensi yang diberikan kepada pasien BPJS di Instalasi
Rawat Jalan RSUD Leuwiliang. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif
dengan alat ukur data rekam medis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan cara Total Sampling. Total sampel yang
didapat sebanyak 393 pasien. Data yang telah didapat kemudian di klasifikasikan
dan diringkas ke dalam tabel, disusun berdasarkan tujuan penelitian. Penderita
essential (primary) hypertension paling banyak diderita oleh perempuan sebesar
67,43% dan pada kelompok usia lansia akhir 56 - 65 tahun yaitu sebesar 36,90%.
Penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak yaitu Amlodipin sebesar
43,30%. Golongan obat yang yang paling banyak digunakan yaitu Antagonis
Kalsium sebesar 43,06%. Penggunaan obat antihipertensi lebih banyak
menggunakan satu jenis obat (monoterapi) sebesar 53,18%. Kombinasi obat
antihipertensi terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kombinasi 2 obat, kombinasi 3
obat, dan kombinasi 4 obat antihipertensi. Kombinasi 2 obat antihipertensi paling
banyak yaitu kombinasi Antagonis Kalsium dengan ACE Inhibitor. Kombinasi
3 obat antihipertensi paling banyak yaitu Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor,
Diuretik dan kombinasi Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker.
Kombinasi 4 obat yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi Antagonis
Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker dan Diuretik.
.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Mutu pelayanan resep adalah kesesuaian pelayanan resep dengan standar yang
berlaku untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui mutu pelayanan resep rawat jalan pasien BPJS di Instalasi
Farmasi RSUD R Syamsudin S.H berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Farmasi di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data dimulai dari Oktober-
Desember 2021 dengan subjek penelitian adalah resep pasien rawat jalan BPJS di
RSUD R Syamsudin S.H kota Sukabumi. Teknik pengambilan sampel dilakukan
secara purposive sampling yakni dengan cara mengamati sampel sebanyak 386
lembar resep pasien rawat jalan BPJS yang masuk ke Depo Farmasi Rawat Jalan.
Analisis terhadap data sampel dilakukan dengan melihat waktu tunggu pelayanan
resep, baik resep non racikan maupun racikan serta kesesuaian penulisan resep
dengan formularium. Kemudian hasil yang didapat dihitung rata-rata waktu tunggu
pelayanan resep dan persentase kesesuaian penulisan resep terhadap Formularium
Nasional dengan menggunakan Microsoft Excell. Hasil penelitian dengan indikator
waktu tunggu pelayanan resep non racikan memperoleh rata-rata waktu tunggu
21,57 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤ 30 menit) dan untuk indikator
waktu tunggu pelayanan resep racikan memperoleh hasil rata-rata waktu tunggu
pelayanan sebesar 47,06 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤ 60 menit),
sedangkan untuk indikator kesesuaian penulisan resep terhadap Formularium
Nasional memperoleh persentase kesesuaian sebesar 73% artinya hasil ini belum
memenuhi standar SPM, dimana standar SPM yang ditetapkan adalah 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertiroid adalah penyakit akibat kadar hormon tiroid terlalu tinggi di dalam
tubuh. Pasien dengan peningkatan kadar hormon tiroid yang tidak diobati akan
beresiko menurunnya kualitas hidup, oleh karena itu diperlukan terapi untuk
mengontrol kadar hormon tiroid pada batas normal dan meminimalkan gejala dari
hipertiroid, salah satunya dengan obat antitiroid. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran penggunaan obat anti tiroid pada pasien hipertiroid di
Klinik Permata Sukabumi terhadap jenis kelamin, pekerjaan, usia serta obat
tambahan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan
data secara retrospektif dengan menggunakan rekam medik pasien periode
oktober-desember 2021 di rawat jalan Klinik Permata Sukabumi. Dari sebanyak
370 pasien Pasien Hipertiroid didominasi oleh Perempuan 68,1% (252 orang)
dari pada Laki-Laki 31,9% (118). Usia paling banyak untuk pasien hipertiroid
adalah pada usia lansia awal (46-55 tahun) sebanyak 99 orang (26,76%). Untuk
Pekerjaan, Ibu Rumah Tangga memiliki persentase paling besar pengidap
hipertiroid yaitu sebanyak 132 pasien (35,7%) dan untuk obat tambahan yang
sering digunakan untuk pasien hiperteiroid adalah bisoprolol yaitu sebanyak
59,5% (220 Orang).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskular yang paling
banyak ditemukan dibandingkan dengan penyakit sistem kardiovaskular lainnya.
Pada hipertensi pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya
interaksi obat dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat antihipertensi di Puskesmas
Tanah Sareal periode Januari–Desember 2021. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara
retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara
purposive sampling. Hasil penelitian terhadap 290 pasien menunjukkan, sebagian
besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 192 pasien (66,21%) dengan
rentang usia terbanyak 56–65 tahun sebanyak 117 pasien (40%). Penyakit penyerta
terbanyak adalah myalgia sebanyak 73 pasien (20%). Pasien mayoritas
mendapatkan 2–4 obat dengan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan,
yaitu amlodipin sebanyak 284 pasien (91,03%), sedangkan obat penyakit penyerta
yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 171 pasien (17%).
Kejadian interaksi obat terjadi pada 29,70% dari obat antihipertensi maupun obat-
obat penyakit penyerta. Interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipin
dengan ibuprofen sebanyak 16 kasus (27%), amlodipin dengan natrium diklofenak
sebanyak 26 kasus (38%), dan amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 7
kasus (44%). Ketiga kejadian interaksi obat terjadi secara farmakodinamik dengan
level keparahan moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan kelainan sistem sirkulasi darah yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat diatas normal atau kurang dari 140/90 mmHg. Dalam
penatalaksanaan hipertensi di Puskesmas Kedung Badak, obat yang digunakan
terdiri dari amlodipin dan kaptopril. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi
penggunaan obat antihipertensi melalui ketepatan penggunaan obat dan
kesesuaian target tekanan darah. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif, dan
bersifat observasi yang dilakukan secara retrospektif. Data penelitian ini diambil
dari data sekunder berupa data rekam medik pasien, dengan periode September –
November 2021. Sampel yang diambil sebanyak 83 pasien dengan metode
purposive sampling. Adapun hasil penelitian menunjukkan, usia paling banyak
46-55 tahun sebanyak 39 pasien (47%), jenis kelamin perempuan sebanyak 69
pasien (75%), penggunaan amlodipin sebanyak 79 pasien (95%), dan obat
kaptopril yang diubah menjadi amlodipin sebanyak 4 pasien (5%). Hasil evaluasi
penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi rawat jalan; Evaluasi tepat
pemilihan obat 51% sudah tepat; Evaluasi tepat pemberian dosis 100% tepat
dosis; Evaluasi tepat pasien 100%; Evaluasi tepat interval/frekuensi 95% sudah
tepat; Waspada efek samping 5% ada efek samping. Kesesuaian target tekanan
darah berdasarkan JNC VIII 33 pasien (40%) sudah sesuai target.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Salah satu pelayanan farmasi yang harus memenuhi standar dirumah sakit adalah
waktu tunggu. Belum tercapainya waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat
jalan di instalasi farmasi menyebabkan masih banyaknya komplain pasien atau
keluarga pasien yang merasa tidak puas dengan waktu tunggu pelayanan resep,
sehingga menjadi masalah bagi mutu pelayanan Farmasi Rumah Sakit Jiwa
Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang
didukung metode retrodeskriptif kualitatif, dengan mengambil data waktu tunggu
pelayanan resep pada bulan Desember 2020. Hasil penelitian menunjukan rata-
rata waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat jalan dengan jaminan BPJS di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor selama 40,77 menit
untuk resep non racikan dan 66,54 menit untuk resep racikan sehingga belum
memenuhi standar Kepmenkes RI No 129/Menkes/SK/II/2008.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Kepuasan pasien merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan pelayanan kefarmasian. Pasien yang puas terhadap
pelayanan yang diberikan oleh tenaga kefarmasian menunjukkan bahwa
pelayanan yang diberikan tersebut sesuai dengan yang diharapkan pasien atau
bahkan lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran data
sosidemografi dan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien BPJS rawat jalan
terhadap pelayanan kefarmasian di Instalasi Farmasi RS Medika Dramaga Bogor.
Penelitian ini bersifat prospektif observasional, dimana data yang digunakan
adalah data primer berupa kuesioner, kemudian diolah dengan menggunakan
aplikasi spss versi 17. Berdasarkan hasil penelitian dari 100 reseponden
menunjukkan jenis kelamin perempuan sebanyak 65%, usia 36 – 45 tahun
sebanyak 45%, tingkat pendidikan tertinggi SMA/SMK 47% dan responden
pedagang sebanyak 23%. Data menggunakan analisis univariat menunjukkan
kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian bahwa dimensi keandalan
sebesar (89%), ketanggapan (79%), empati (78%), jaminan (80%), dan bukti
langsung (75%). Rata–rata tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan
kefarmasian di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RS Medika Dramaga Bogor 2020
pasien merasa puas sebesar (80%).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah unit pelaksana fungsional yang
menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit.
Tugas Instalasi Farmasi adalah menyelenggarakan, mengkoordinasikan,
mengatur, mengawasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian yang optimal dan
professional serta sesuai dengan prosedur dan etik farmasi. penelitian ini untuk
mengetahui Pengaruh manajemen obat terhadap kualitas pelayanan instalasi
farmasi rawat jalan di rumah sakit umum daerah palabuhanratu,menggunalan
metode cross sectional dan pendekatan langsung ke pegawai serta pasien dengan
pengumpulan data berupa kuisioner dengan menggunakan metode linkert, jumlah
sampel dihutungan berdasarkan metode slovin dengan jumlah sampel untuk
pasien 100 orang dan karyawan 50 orang. Data dianalisis dengan metode
univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian metode univariate didapatkan
kehandalan ( sangat puas 12%, puas 46%, cukup puas 40%, kurang puas 2% ),
ketanggapan ( sangat puas 13%, puas 26%, cukup puas 54, kurang puas 6%,
sangat tidak puas 1%%),jaminan (sangat puas 3%, puas 45%, puas 45%, kurang
puas 7%, sangat tidak puas 0%), empaty ( sangat puas 8%, puas 34%, cukup puas
56%, kurang puas 1%, sangat tidak puas 1%), wujud/nyata ( sangat puas 5%, puas
36%, cukup puas 55%, kurang puas 4%), hasil analisis bivariate terdapat 4
variabel yang memiliki hubungan antara manajemen obat dengan kualiatas
pelayanan yang ditunjukan ( p-value <0,05) adalah perencanaan (p-value 0,035),
pengadaan (p-value 0,024), distribusi (p-value 0,044), dan pengendalian (p-value
0,020). Hasil analisis mualtivaiate dari 4 variabel yang memiliki hubungan antara
manajemen obat dengan kualitas pelayanan yang memiliki pengaruh paling tinggi
adalah pengendalian yang ditunjukan dengan nilai Exp B tertinggi yaitu 2,685
hasil ini menunjukan bahwa pengendalian memilik pengaruh 2 kali lebih besar.