BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Skizofrenia adalah penyakit gangguan jiwa berat dapat mempengaruhi pikiran,
perasaan, dan perilaku individu dengan gejala positif dan negatif. Obat yang diberikan
dapat berupa obat tunggal maupun kombinasi. Penggunaan kombinasi obat antipsikotik
dalam pengobatan skizofrenia meningkatkan potensi interaksi obat. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis kelamin dan usia, penggunaan kombinasi
obat, kejadian interaksi, tingkat keparahan dan mekanisme potensi interaksi. Penelitian
dilakukan di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada bulan November 2023
– Mei 2024. Sampel penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien skizofrenia
yang masuk ke dalam kriteria inklusi berupa pasien rawat inap skizofrenia, menerima obat
antipsikotik, berusia 20-60 tahun. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan
Microsoft Excel. Hasil penelitian dari 49 sampel menunjukkan bahwa pasien skizofrenia
terbanyak merupakan pasien laki-laki 38 pasien (77%), dan rentang usia terbanyak di 26-
35 tahun yaitu 19 pasien (39%). Pemberian antipsikotik sejumlah 6 pasien (12%)
mendapatkan kombinasi 2 obat, 27 pasien (55%) dengan kombinasi 3 obat, dan 16 pasien
(33%) sisanya mendapatkan kombinasi 4 obat. Ditemukan seluruhnya berpotensi
mengalami kejadian interaksi obat sejumlah 153 kejadian (100%). Mekanisme potensi
interaksi obat yang ditemukan sebanyak 24 (14%) potensi kejadian farmakokinetik dan
129 (86%) potensi kejadian farmakodinamik. Tingkat keparahan potensi interaksi
sebanyak 19 (12%) termasuk ke dalam kategori mayor dan 134 (88%) kejadian berpotensi
memiliki interaksi moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain
yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan
atau menurunkan efeknya. Pasien skizofrenia menggunakan obat dalam jangka
panjang sehingga ketika terjadi penyakit lain terdapat tambahan obat lain yang
berpotensi menyebabkan peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi. Yang
dapat memperberat efek samping, dan meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi interaksi
obat pada pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode
pengambilan sampel secara total sampling berdasarkan data rekam medis dari 108
pasien memenuhi kriteria iklusi dan ekslusi. Hasil ini menunjukan penderita
penyakit skizofrenia terbanyak yaitu pria (51%) dengan usia terbanyak 36-45 tahun
(29%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (87,96%). Penggunaan
obat skizofrenia golonggan tunggal (27%), dua obat kombinasi (62%), dan tiga obat
kombinasi (11%). Obat golongan tipikal terbanyak yaitu obat Haloperidol (56,48%)
dan obat golongan atipikal terbanyak yaitu Risperidone (35%). Penggunaan obat
selain skizofrenia terbanyak yaitu golongan obat CCB (Calcium Channel Blockers)
(amlodipine) (49%). Terdapat 48 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi
terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (77%) dan level keparahan major (70%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah dalam jangka
waktu yang lama, yang dapat menyebabka] n kematian. Pada penyakit hipertensi
membutuhkan pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan resiko terjadinya
interaksi obat hipertensi dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat interaksi obat hipertensi di Klinik Gema
Medical Center Cicurug periode bulan Januari – Maret 2023. Jenis penelitian ini
merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan
secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara
total sampling. Hasil penelitian terhadap 84 pasien menunjukan, sebagian besar
pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 53 pasien (63,09%) dengan rentang
usia 46 – 55 tahun sebanyak 36 pasien (42,85%). Penyakit penyerta terbanyak yang
diderita adalah Myalgia sebanyak 44 pasien (27,16%). Sebanyak 47 pasien
(55,95%) mendapatkan 4 obat dengan obat hipertensi paling banyak diresepkan
yaitu amlodipin sebanyak 77 pasien (94%). Obat penyakit penyerta yang paling
banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 37 pasien (15%). Obat yang
berpotensi terjadi interaksi paling banyak yaitu amlodipin dengan ibuprofen
sebanyak 24 pasien (30,76%). Kejadian interaksi obat yang terjadi pada pasien,
yaitu amlodipine dengan ibuprofen sebanyak 7 kasus (18%), amlodipin dengan
asam mefenamat sebanyak 6 kasus (16%), amlodipin dengan meloxicam sebanyak
4 kasus (22%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 1 kasus (21%) dan
amlodipin dengan captropil sebanyak 1 kasus (30%). Kejadian interaksi obat yang
terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi secara menahun yang
disebabkan gangguan pada metabolik ditandai kadar gula dalam darah meningkat.
Beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki penyakit penyerta sehingga
membutuhkan kombinasi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat pada pasien
diabetes melitu tipe 2 pada pasien rawat jalan di RS FMC Bogor periode Januari-
Maret 2023. Penelitian merupakan penelitian dekriptif-observasional dengan
pengambilan data secara retrospektif dari data sekunder rekam medis dan resep
sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan
website drug.com dan Medscape diolah dengan Microsoft excel. Hasil penelitian ini
menunjukkan pasien diabetes melitus tipe 2 terbanyak perempuan (70%) dengan
rentang usia 56-65 tahun (41%). Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi
(51,92%). Jumlah obat terbanyak adalah 2-3 jenis obat sebanyak (39%). Obat
antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak (45,14%)
dan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu amlodipine (17,37%). Potensi interaksi
terjadi sebanyak 201 kasus, mekanisme terbanyak farmakodinamik (91%) dengan
level keparahan moderate (96%). Kejadian interaksi terjadi sebanyak 29 kasus
(14,43%) dengan mekanisme farmakodinamik dan level keparahan moderate dan
kasus terbanyak pada metformin dengan sucralfate syr sebanyak 6 kasus (20,68%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik
kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2
membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai
dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu
atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan
kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara
deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan
pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data
rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian
menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia
terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi
(71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat
(9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat
Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat
dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%)
dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36
kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik
(97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat
progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal
dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat
kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit
(toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan
terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan
penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau
kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada
pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional.
Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling
berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan
(53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta
paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi
terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain
antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%).
Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu
interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta
kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak
yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberkulosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) dan
obat non anti tuberkulosis (Non OAT) dalam penggunaanya dilakukan dalam
waktu bersamaan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi obat. Penelitian
ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan OAT dan Non OAT. Potensi
terjadinya interaksi obat antar OAT, antar OAT dengan Non OAT dan antar Non
OAT dalam peresepan pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Sukabumi. Jenis
penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan
deskriptif dan bersifat retrospektif. Pengambilan data berdasarkan data resep
elektronik pasien ditinjau secara teoritis dari studi literatur Drugs Interaction
Checeker. Terdapat 95 sampel pasien TB paru. Jenis kelamin terbanyak adalah
Laki-laki (66,3%). Usia pasien terbanyak rentang usia 26-35 tahun (dewasa awal)
(27,4%). Jenis OAT terbanyak digunakan adalah rifampisin (30,6%), dan
isoniazid (30,6%). Jenis Non OAT terbanyak digunakan adalah golongan obat
vitamin dan suplemen (27,8%). Terdapat (56,6%) obat yang mengalami potensi
interaksi, dan (43,4%) tidak mengalami potensi interaksi. Potensi interaksi obat
antar OAT terbanyak yaitu interaksi pada rifampisin dengan isoniazid (44,2%),
dan rifampisin dengan pyrazinamide (27,8%) dengan level keparahan terbanyak
Major (72,1%). Potensi interaksi obat antar OAT dan Non OAT terbanyak yaitu
interaksi pada isoniazid dengan paracetamol (51,7%) dengan level keparahan
terbanyak Moderate (55,8%). Sedangkan potensi interaksi obat antar Non OAT
terbanyak yaitu interaksi pada methylprednisolon dengan salbutamol (28,6%)
dengan level keparahan terbanyak Minor (38,1%).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi secara menahun yang
disebabkan gangguan pada metabolik ditandai kadar gula dalam darah meningkat.
Beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki penyakit penyerta sehingga
membutuhkan kombinasi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat pada pasien
diabetes melitu tipe 2 pada pasien rawat jalan di RS FMC Bogor periode Januari-
Maret 2023. Penelitian merupakan penelitian dekriptif-observasional dengan
pengambilan data secara retrospektif dari data sekunder rekam medis dan resep
sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan
website drug.com dan Medscape diolah dengan Microsoft excel. Hasil penelitian ini
menunjukkan pasien diabetes melitus tipe 2 terbanyak perempuan (70%) dengan
rentang usia 56-65 tahun (41%). Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi
(51,92%). Jumlah obat terbanyak adalah 2-3 jenis obat sebanyak (39%). Obat
antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak (45,14%)
dan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu amlodipine (17,37%). Potensi interaksi
terjadi sebanyak 201 kasus, mekanisme terbanyak farmakodinamik (91%) dengan
level keparahan moderate (96%). Kejadian interaksi terjadi sebanyak 29 kasus
(14,43%) dengan mekanisme farmakodinamik dan level keparahan moderate dan
kasus terbanyak pada metformin dengan sucralfate syr sebanyak 6 kasus (20,68%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain
yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan
atau menurunkan efeknya. Penderita HIV/AIDS memerlukan pengobatan
menggunakan Antiretroviral (ARV). Umumnya terapi ARV diberikan dalam
bentuk kombinasi obat sehingga dapat menimbulkan potensi interaksi obat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat ARV dan non-ARV,
dan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat. Penelitian ini dilakukan
dengan jenis penelitian observasional yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data
dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medik periode Oktober -
Desember 2022. Interaksi obat HIV/AIDS dianalisis menggunakan aplikasi
drugs.com , Medscape dan buku Stockley. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pasien dengan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki 96 pasien (72,73%), rentang
usia terbanyak yaitu 36-45 tahun dengan 54 pasien (40,91%), penyakit penyerta
terbanyak adalah TBC dengan 58 pasien (48,74%), penggunaan jumlah obat
terbanyak yaitu 5 jumlah obat sebanyak 49 pasien (37,12%). Obat ARV yang paling
banyak digunakan yaitu Tenofovir 3 in 1 (TDF + 3TC + EFV) 67 pasien (50,76%),
obat non-ARV paling banyak yaitu golongan OAT 182 obat (52,45%). Terdapat
potensi interaksi obat pada 104 pasien (78,79%) dengan kasus terbanyak
lamivudine + Efavirenz 69 kasus. Level keparahan terbanyak moderate 252 kasus
(83,17%) dan mekanisme interaksi terbanyak farmakokinetik 301 kasus (99,34%)
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara kronis. Beberapa pasien
hipertensi memiliki penyakit penyerta ataupun komplikasi sehingga membutuhkan
kombinasi obat yang dapat meningkatkan risiko interaksi obat yang dapat
mempengaruhi hasil terapi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa
interaksi obat potensial pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RS Swasta
X Tangerang periode Oktober – Desember 2021. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif-observasional berdasarkan data retrospektif dari data sekunder
yang diambil dari rekam medis dan resep elektronik sebanyak 85 pasien dengan
metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan website drugs.com dan
medscape.com serta diolah dengan Microsoft Excel. Hasil penelitian ini
menunjukkan pasien hipertensi terbanyak adalah laki - laki sejumlah 69% dengan
rentang usia terbanyak ialah >65 tahun sejumlah 36%. Penyakit penyerta terbanyak
adalah Coronary Artery Disease (CAD) sejumlah 40%. Jumlah terapi obat
terbanyak adalah 5 jenis obat sebanyak 51%. Golongan obat yang paling sering
digunakan adalah Angiotensin Receptor Blocker (ARB) sebanyak 60 kasus. Terapi
obat penyakit penyerta terbanyak adalah Atorvastatin sebanyak 61 resep. Terdapat
80% interaksi obat potensial, dengan interaksi obat potensial terbanyak antara
Amlodipin dan Atorvastatin sebanyak 35 kasus. Tingkat keparahan terbanyak yaitu
moderat sejumlah 78%. Mekanisme interaksi terbanyak adalah interaksi
farmakokinetik sejumlah 59%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Potensi interaksi obat yaitu suatu kemungkinan interaksi yang terjadi ketika
efek dari satu obat berubah karena penggunaan bersamaan dengan obat lain.
Penggunaan obat dalam jumlah yang banyak adalah salah satu faktor potensi
interaksi obat. Pasien dengan penyakit Systemic Erythematosus Lupus (SLE)
merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan kerusakan jaringan dan sel
oleh autoantibodi patogen dan kompleks imun, dimana selalu mendapatkan obat
lebih dari satu sehingga berisiko terjadinya interaksi obat. Tujuan penelitian ini
yaitu mengetahui pola penggunaan obat dan potensi interaksi obat pada pasien SLE
rawat jalan di apotek Kimia Farma RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Observasional pengambilan data
dilakukan secara retrospektif yaitu menggunakan data rekam medis pasien. Jumlah
sampel yang diambil yaitu 291 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa pola penggunaan obat pada pasien SLE
terdiri dari terapi utama dan terapi lain. Terapi utama yang digunakan pasien SLE
di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta yaitu obat golongan kortikosteroid
(15%); NSAID (3,1%) dan antibiotik (1,7%), sedangkan terapi lain yang digunakan
yaitu kalsium karbonat (12,1%); vitamin B complex (0,3%), vitamin B6 (0,3%)
kolkatriol (4,4%) calcium laktat (0,1%). Dari 291 pasien yang berpotensi interaksi
obat, diketahui terjadi 217 pasien yang mengalami interaksi obat. Berdasarkan
tingkat keparahannya diketahui 3,3% Major, 56% moderat, dan 40,5% Minor.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskular yang paling
banyak ditemukan dibandingkan dengan penyakit sistem kardiovaskular lainnya.
Pada hipertensi pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya
interaksi obat dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat antihipertensi di Puskesmas
Tanah Sareal periode Januari–Desember 2021. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara
retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara
purposive sampling. Hasil penelitian terhadap 290 pasien menunjukkan, sebagian
besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 192 pasien (66,21%) dengan
rentang usia terbanyak 56–65 tahun sebanyak 117 pasien (40%). Penyakit penyerta
terbanyak adalah myalgia sebanyak 73 pasien (20%). Pasien mayoritas
mendapatkan 2–4 obat dengan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan,
yaitu amlodipin sebanyak 284 pasien (91,03%), sedangkan obat penyakit penyerta
yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 171 pasien (17%).
Kejadian interaksi obat terjadi pada 29,70% dari obat antihipertensi maupun obat-
obat penyakit penyerta. Interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipin
dengan ibuprofen sebanyak 16 kasus (27%), amlodipin dengan natrium diklofenak
sebanyak 26 kasus (38%), dan amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 7
kasus (44%). Ketiga kejadian interaksi obat terjadi secara farmakodinamik dengan
level keparahan moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain
yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan, akibat yang tidak dikehendaki
dari peristiwa interaksi ini ada dua kemungkinan yakni meningkatkannya efek
toksik atau efek samping obat atau berkurangnya efek klinis yang diharapkan.
Coronary Artery Disease (CAD) merupakan penyakit terbanyak dan menduduki
peringkat pertama pada tahun 2019 di RSUD R.Syamsudin S.H Kota Sukabumi.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil pasien CAD, mengetahui profil
penggunaan obat, dan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat dengan
obat, yang terjadi pada pasien yang menderita penyakit CAD di Instalasi Rawat
Jalan RSUD R.Syamsudin S.H Kota Sukabumi. Penelitian ini dilakukan dengan
desain observasi dengan metode analisis deskriptif, interaksi obat CAD dianalisis
menggunakan aplikasi lexicomp untuk menganalisis potensi interaksi obat dengan
mengambil data resep obat terapi CAD secara retrospektif pada bulan Januari-
Desember 2019. Hasil penelitian dari 377 resep secara systematic random
sampling diperoleh : pasien dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 277 pasien
(73,47%); obat untuk terapi CAD yang paling banyak digunakan yaitu aspirin
sebanyak 214 resep (14,11%); Jumlah interaksi obat dalam satu resep paling
banyak yaitu 1 kejadian (36,07%). Hasil penelitian menunjukan jumlah interaksi
obat secara potensial sebanyak 261 kejadian interaksi; potensi interaksi obat
berdasarkan tingkat keparahan yaitu kejadian moderate sebanyak 183 (64,66%),
major sebanyak 63 (22,26%), minor sebanyak 37 (13,07%).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Interaksi obat adalah keadaan saat suatu zat berpengaruh terhadap aktivitas
obat yang akan menimbulkan peningkatan efek atau penurunan, atau mungkin
akan menimbulkan efek baru. Interaksi ini akan terjadi dari kesalahan dalam
penggunaan yang disengaja atau karena kurangnya pengetahuann mengenai
bahan-bahan aktif yang terkandung dalam zat tersebut. Tujuan penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui sosiodemografi pasien dan profil penggunaan obat
Hipertensi dan Analgetik AINS secara bersamaan, dan tingkat keparahan interaksi
obat potensial yang terjadi di Puskesmas Cipaku Bogor. Penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data secara
retrospektif pada bulan Juli sampai Agustus 2020. Hasil penelitian dari 141 data
menunjukan, jenis kelamin pada pasien paling banyak terjadi pada perempuan
sebesar 105 (74%) dan usia tertinggi terjadi pada 56-65 tahun sebanyak 50 pasien
(36%), dan pekerjaan paling banyak sebagai IRT sebanyak 104 pasien (73,76%).
Obat hipertensi yang paling banyak digunakan yaitu amlodipin sebanyak 129
(91%) dan obat analgetik AINS yang paling banyak digunakan yaitu natrium
diklofenak sebesar 107 (76%). Hasil penelitian jumlah interaksi obat potensial
sebanyak 141 kejadian interaksi dengan tingkat keparahan (100%) moderat,
kejadian yang paling banyak terjadi pada kombinasi amlodipin dengan natrium
diklofenak sebanyak 97 kejadian (68.8%).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Pemberian terapi obat lebih dari satu zat sering kali menimbulkan masalah
salah satunya pada pasien geriatri dalam upaya pengobatan suatu penyakit,
dimana obat – obatan yang digunakan tersebut dapat menyebabkan terjadinya
interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran potensi interaksi obat
polifarmasi yang terjadi pada pasien geriatri di Klinik Insani periode Juni-
Desember 2019. Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive
sampling dimana sampel memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 83
pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 pasien terdapat 29 (34,93%)
pasien laki laki dan 54 (65,06%) pasien perempuan. Usia paling banyak pada usia
55 – 65 tahun 48 pasien (57,14%) dan >65 tahun 36 pasien (42,85%). Polifarmasi yang
sering diberikan pada pasien geriatri adalah 5 jenis obat 68 pasien (81,92%), 6
jenis obat 12 pasien (14,45%), dan 7 jenis obat 3 pasien (3,61%). Obat yang
paling banyak diresepkan adalah amlodipin sebanyak 38 (17,67%). Penyakit
terbanyak adalah dispepsia sebanyak 28 pasien (40%). Potensi terjadi interaksi
obat sebanyak 79 pasien (95,18%) dan sebanyak 4 pasien (4,81%) tidak
berpotensi terjadi interaksi obat. Mekanisme interaksi tertinggi adalah
farmakodinamik yaitu 133 (72,28%) dan farmakokinetik 51 (27,71%). Level
keparahan interaksi obat paling banyak terjadi adalah moderate 127 (69,02%%),
minor 54 (29,34%), dan mayor 3 (1,63%).