BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
hernia inguinalis adalah penonjolan organ intra abdomen melalui fossa
atau lubang yang berada didalam rongga abdomen sehingga benjolan tidak
tampak dari luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik
pada pasien operasi hernia di Rumah Sakit Ummi Bogor. Menggunakan data
sosiodemografi yaitu jenis kelamin, usia, pekerjaan dan penggunaan antibiotik.
dilakukan secara deskriptif observasional dengan pengambilan data secara
retrospektif dari data sekunder berupa rekam medik pasien, penelitian ini diambil
dengan total sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan jenis
kelamin yang paling banyak yaitu laki-laki sebesar 95,2 % (119 pasien), dan
berdasarkan usia yang paling banyak 45-55 tahun sebesar 66,4% (83 pasien),
Bedasarkan status pekerjaan yang paling banyak yaitu buruh sebesar 37,6% (47
pasien), Berdasarkan jenis obat antibiotik yang banyak digunakan yaitu
seftriaxone sebesar 54,4% (68 pasien).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atas meliputi rhinitis, sinusitis, otitis media, faringitis, laringitis, dan tonsilitis. Balita dan anak-anak paling rentan terkena ISPA. Tingginya prevalensi penyakit ISPA berdampak pada peresepan dan konsumsi antibiotik yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita ISPA meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat frekuensi, dan tepat lama pemberian. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif, dengan menggunakan data rekam medis pasien anak dengan usia 0 – 11 tahun yang terdiagnosis ISPA dan mendapatkan terapi antibiotik di Klinik Al- Barokah Bogor periode Februari - Juli 2023. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling sehingga jumlah sampel 81 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang paling banyak menderita ISPA berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki 46 pasien (56,8%), rentang usia 0 - 5 tahun 44 pasien (54,3%), rentang berat badan (BB) 14-30 kg 55 pasien (67,90%), dan jenis ISPA faringitis 31 pasien (38,3%). Antibiotik yang paling sering diresepkan yaitu amoxicillin 71 pasien (87,70%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik meliputi tepat indikasi 81 (100%), tepat obat 81 (100%), tepat pasien 81 (100%), tepat dosis 63 (77,8%), tepat frekuensi 80 (98,80%), dan tepat lama pemberian 18 (22,2%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pneumonia adalah infeksi akut atau inflamasi pada jaringan paru-paru yang
diakibatkan oleh bermacam mikroorganisme, antara lain bakteri, virus, parasit,
jamur, paparan bahan kimia, atau kerusakan fisik paru-paru. Metode Gyssens
dipakai untuk mengevaluasi rasionalitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk
menilai penggunaan antibiotik pada pasien yang dirawat di rumah sakit.
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan retrospektif, dari
data sekunder berupa rekam medis pasien. Dari hasil penelitian pasien pneumonia
yang di rawat di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Periode Agustus 2022-
Agustus 2023 sebanyak 87 pasien. Hasil penelitian memperlihatkan pasien
pneumonia paling tinggi dialami oleh Laki-laki sebanyak 50 pasien dengan
persentase (57,47%), kelompok usia terbanyak lansia awal 46-60 tahun sebanyak
24 pasien dengan persentase (27,60%). Profil penggunaan antibiotik pasien
pneumonia yang digunakan di rawat inap Ceftriaxone (54,02%), Levofloxacine
(32,18%), dan Azithromycin (13,79%). Ketepatan penggunaan antibiotik pasien
pneumonia rawat inap dengan memakai metode Gyssens, yang termasuk kategori
IIIa (durasi pemberian terlalu lama) (5,75%), kategori IIIb (durasi pemberian
terlalu singkat) (4,60%), kategori IIa (Dosis tidak tepat) (4,60%) dan kategori 0
(penggunaan antibiotik tepat atau rasional) (89,65%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang berlangsung sampai
dengan 14 hari yang bersifat kompleks dan heterogen yang disebabkan oleh
berbagai penyebab dan dapat mengenai sepanjang saluran pernafasan. Laporan
Tahunan Puskesmas Kedung Badak Tahun 2021 menunjukan ISPA merupakan
penyakit yang paling banyak. Pengobatan ISPA sering kali menggunakan antibiotik
sehingga memerlukan evaluasi ketepatan pada penggunaan antibiotik untuk ISPA.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik
pada pasien ISPA di Puskemas Kedung Badak pada tahun 2021. Penelitian ini
dilakukan secara retsrospektif dengan berdasarkan Rekam medis pasien tahun
2021. Hasil Penelitian menunjukan bahwa profil pasien ISPA anak bagian atas di
Puskesmas Kedung Badak tahun 2021 berdasarkan karakteristik jenis kelamin
terbanyak kategori laki – laki (56%), karakteristik usia terbanyak kategori 0-5
tahun (64%) dan kategori berat badan terbanyak kategori 10 – 15kg (45%).
Antibiotik yang digunakan adalah Amoxicillin syrup 125 mg/5 ml (100%). Hasil
evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik ISPA anak bagian atas diketahui tepat
indikasi (64%), tepat dosis (67%), tepat frekuensi pemberian (100%), dan tepat
lama pemberian (8%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Hingga saat ini tifoid masih menjadi masalah kesehatan di Negara-negara tropis termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan dampak negatif seperti masalah resistensi dan potensi terjadinya kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan antibiotik seftriakson pada pasien tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan di analisis secara deskriptif dengan data sekunder dari rekam medis pasien. Dari sampel 86 pasien dewasa tifoid menunjukkan bahwa pasien laki-laki sebesar 28% dan perempuan sebesar 72%, jumlah pasien tertinggi berada pada rentang usia 17-25 tahun sebesar 30%. Efektifitas seftriakson dilihat dari lama perawatan 1-3 hari sebesar 87% berdasarkan dua parameter penurunan suhu tubuh dan penurunan kadar leukosit. Kesimpulan yang diperoleh penggunaan antibiotik seftriakson pada tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak sudah efektif.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid disebabkan adanya resistensi terhadap Salmonella typhi, umumnya
pengobatan demam tifoid menggunakan golongan sefalosforin generasi ketiga.
Jenis pengobatan antibiotik pada penelitian ini menggunakan seftriakson dan
sefotaksim. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik
Seftriakson dan sefotaksim di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif observasional. Sampel yang digunakan adalah data rekam medik pasien
demam tifoid selama periode Januari – Desember 2022 dengan jumlah 91 pasien.
Data dianalisis dengan menggunakan perhitungan persentase pada Microsoft excel.
Hasil penelitian ini menunjukan pasien dengan rentang usia paling banyak adalah
17-25 tahun sebanyak 44 pasien (48%), jenis kelamin paling banyak perempuan
sebanyak 53 pasien (58%). Dari hasil penelitian pada pasien demam tifoid di
Rumah Sakit X periode Januari – Desember 2022 dapat disimpulkan persentase
pada pemberian antibiotik seftriakson yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%,
tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian
84%. Sedangkan pada pemberian antibiotik sefotaksim yaitu tepat indikasi 100%,
tepat pasien 100%, tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan
tepat lama pemberian 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diare merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi
masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Penyakit diare termasuk penyakit endemis yang dapat berpotensi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) dan menjadi salah satu faktor kematian tertinggi pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare balita di Rumah Sakit X. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara
retrospektif yang berasal dari data rekam medis kemudian data dianalisis secara kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh secara Purposive Sampling sebanyak 85 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukan pasien diare balita terbanyak adalah laki-laki sebanyak 52 pasien (61,18%), dan dikelompok usia terbanyak yaitu usia ke >1-3 tahun sebanyak 42 pasien (49,41%) dan berat badan terbanyak direntang <10 kg sebanyak 39 pasien (45,88%). Antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu Ceftriaxone sebanyak 38 pasien (44,71 %). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens masuk kedalam kategori : Kategori IV C sebanyak 12 kasus (10,81%),
kategori III B sebanyak 7 kasus (6,31%), kategori II A sebanyak 48 kasus (43,24%), kategori 0 sebanyak 44 kasus (39,64%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi, biasanya melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Penderita dengan gambaran klinis jelas disarankan untuk dirawat di rumah sakit agar pengobatan lebih optimal, proses meminimalisasi komplikasi dan menghindari penularan. Antibiotik akan diberikan segera setelah diagnosis klinis ditegakkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit FMC Bogor berdasarkan pedoman dari WHO 2011 dan Permenkes RI No. 28 Tahun 2021. Metode penelitian menggunakan rancangan analisis deskriptif secara retrospektif yaitu mendeskripsikan atau menguraikan ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak melalui data sekunder rekam medis pasien. Parameter evaluasi meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi pemberian, dan tepat lama
waktu pemberian. Data yang digunakan diambil dari rekam medis 106 pasien yang berusia 0-18 tahun periode Januari – Desember 2022. Dari hasil penelitian, demam tifoid lebih banyak dialami oleh perempuan 54 pasien (51%), dengan usia 5 – 18 tahun 60 pasien (57%) dan lama rawat inap 1-4 hari 92 pasien (87%). Gambaran penggunaan antibiotik terbanyak adalah antibiotik Seftriakson sebanyak 79 pasien (75%). Ketepatan peggunaan obat antibiotik yaitu kategori tepat pasien 100%, tepat
indikasi 100%, tepat obat 100%, tepat dosis untuk seftriakson 40 pasien (37,73%), dan untuk sefotaksim 1 pasien (0,94%), tepat frekuensi pemberian untuk penggunaan seftriakson 49 pasien (46,23%), dan untuk sefotaksim 2 pasien (1,89%), tepat lama pemberian seftriakson 8 pasien (7,54%),
dan untuk sefotaksim 5 pasien (4,71%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi saluran pernafasan merupakan salah satu penyakit menular utama
yang menyebabkan kesakitan dan kematian di seluruh dunia (Firda, 2018). Infeksi ISPA merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dan menurut data RISKEDAS pada tahun 2018, total terdapat 1.017290 orang yang terinfeksi ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk melihat data sosiodemografi pasien , mengetahui jenis antibiotik dan ketetapan penggunaan antibiotik berdasarka Pharmaceutical Care 2005 di Klinik Dera As-Syifa periode Januari - Maret 2023.
Metode pengumpulan data adalah observasi pengumpulan data secara retrospektif terhadap seluruh data resep pasien dewasa awal dan dewasa akhir yang mendapatkan antibiotik selama periode pengambilan data di Klinik Dera As-Syifa. Dari penelitian ini diperoleh data pasien yang terdiagnosis ISPA dari resep sebanyak 86 pasien yang menjalani pengobatan di Klinik Dera As-Syifa periode Januari- Maret 2023 yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil Penelitia menyimpulkan gambaran data sosiodemografi pasien ISPA di Klinik Dera As-Syifa paling banyak yang berjenis dengan jumlah laki-laki 49 pasien ( 57%), kemudian sosiodemografi usia 36-45 tahun berjumlah 44 pasien . Penggunaan
antibiotik yang paling banyak dipakai yakni antibiotik Cefadroxil 51 orang (59%) dari pada antibiotik Ciprofloxacin 20 orang (23%) dan Amoxycillin 15 orang (18%). Ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA: benar pasien hingga 100%, benar indikasi hingga 100%, benar dosis hingga 100%, benar agen hingga 100%, benar frekuensi hingga 100%, dan salah Evaluasi jangka waktunya. Hingga 100% manajemen.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi bakteri. Antibiotik diresepkan pada pasien, tetapi pemakaiannya sering disalahgunakan. Penggunaan antibiotik akan menguntungkan dan memberikan efek bila diresepkan dan dikonsumsi sesuai aturan. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai pada mengakibatkan resiko terjadinya resistensi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan terhadap
tingkat pengetahuan responden tentang antibiotik di Klinik Medistira 2 Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Jenis penelitian merupakan deskriptif dengan metode cross sectional. Alat ukur menggunakan data primer yaitu menggunakan kuesioner, dengan jumlah sampel 100 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini menunjukan data sosiodemografi responden paling banyak berusia 46-55 tahun sebesar 40 responden (40%), jenis kelamin yang paling banyak responden perempuan sebesar 55 responden (55%),
mayoritas pekerjaan responden adalah karyawan swasta sebesar 41 responden (41%), dan tingkat pendidikan responden mayoritas adalah lulusan SMA sebesar 35 responden (35%). Tingkat pengetahuan responden tentang penggunaan antibiotik dikategorikan cukup sebesar 41%. Terdapat hubungan yang bermakna antara usia, pekerjaan, dan tingkat pendidikan terhadap tingkat pengetahuan responden tentang antibiotik dilihat dari nilai p value usia 0,030, pekerjaan 0,049, dan tingkat pendidikan 0,033. Sedangkan pada jenis kelamin tidak terdapat hubungan yang bermakna dilihat dari nilai p value 0,385.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Resistensi didefinisikan sebagai tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri dengan
pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis normal yang seharusnya atau
kadar hambat minimalnya. Penggunaan antibiotik didasarkan pada aspek infeksi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sosiodemografi dengan tingkat
pengetahuan penggunaan antibiotik di instalasi farmasi rawat jalan RS Annisa
Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observative dengan
pengambilan data primer menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan
penggunaan antibiotik. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 152
responden. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Data dianalisis
dengan SPSS versi 26 dengan di uji ststistik menggunakan distribusi frekuensi
dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan data sosiodemografi responden usia
terbanyak 26-35 tahun 36,2%, jenis kelamin terbanyak perempuan 76,3%,
pendidikan terbanyak SMA 92,1% dan pekerjaan terbanyak karyawan swasta
47,4%. Berdasarkan Uji chi square sosiodemografi diperoleh nilai p-value usia
0,562, jenis kelamin 0,720, pendidikan 0,386 dan pekerjaan 0,201. Tidak ada
hubungan sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan penggunaan antibiotik di
Rumah Sakit Annisa Bogor.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pada perkiraan tahun 2019, terdapat 9 juta kasus demam tifoid setiap
tahunnya, yang mengakibatkan sekitar 110.000 kematian per tahun. Risiko tifoid
lebih tinggi terjadi pada populasi yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih
dan sanitasi yang memadai, dan anak-anak mempunyai risiko paling tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil pasien, melihat gambaran penggunaan
antibiotik dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien tifoid
rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari Januari – Juli
2023, meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi
dan tepat lama pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional dengan pengambilan data secara retrospektif pada rekam medik dan
resep anak yang terdiagnosa demam tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari
Kabupaten Bogor periode Januari-Juli 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 96.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik pasien demam tifoid anak di
Klinik Denti Sari Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki sebanyak 57
pasien (58,38%), usia terbanyak pada pasien demam tifoid adalah pada usia 5-11
tahun sebanyak 43 pasien (44,79%). Adapun berdasarkan berat badan lebih banyak
yang memiliki berat badan normal sebanyak 38 pasien (39,59%). Berdasarkan
gambaran penggunaan antibiotik didapatkan hasil penggunaan antibiotik terbanyak
adalah Cotrimoxazole (Sulfametoxazole-Trimethoprim) sebanyak 41 pasien
(42,71%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada demam tifoid anak untuk
tepat pasien sebanyak 96 pasien (100%), tepat indikasi sebanyak 96 pasien (100%),
pada tepat obat sebanyak 96 pasien (98,97%), pada tepat dosis sebanyak 14 pasien
(14,58%), tepat frekuensi sebanyak 83 pasien (86,46%) dan tepat lama pemberian
antibiotik sebanyak 96 pasien (100%) tidak tepat.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Resistensi didefinisikan sebagai tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri dengan
pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis normal yang seharusnya atau
kadar hambat minimalnya. Penggunaan antibiotik didasarkan pada aspek infeksi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sosiodemografi dengan tingkat
pengetahuan penggunaan antibiotik di instalasi farmasi rawat jalan RS Annisa
Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observative dengan
pengambilan data primer menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan
penggunaan antibiotik. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 152
responden. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Data dianalisis
dengan SPSS versi 26 dengan di uji ststistik menggunakan distribusi frekuensi
dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan data sosiodemografi responden usia
terbanyak 26-35 tahun 36,2%, jenis kelamin terbanyak perempuan 76,3%,
pendidikan terbanyak SMA 92,1% dan pekerjaan terbanyak karyawan swasta
47,4%. Berdasarkan Uji chi square sosiodemografi diperoleh nilai p-value usia
0,562, jenis kelamin 0,720, pendidikan 0,386 dan pekerjaan 0,201. Tidak ada
hubungan sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan penggunaan antibiotik di
Rumah Sakit Annisa Bogor.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil dan usus
besar dari saluran gastrointestinal dengan gejala diare, mual atau muntah,
serta ketidaknyamanan abdomen. Pada gastroenteritis, diare merupakan suatu
keadaan dengan peningkatan frekuensi, konsistensi feses yang lebih cair,
feses dengan kandungan air yang banyak, dan feses bisa disertai dengan
darah atau lendir. Gastroenteritis ditandai dengan mual, muntah, diare dan
kram perut. Gejala lain termasuk demam, sakit kepala, darah atau nanah dalam
feses, kehilangan nafsu makan, kembung, lesu dan nyeri tubuh. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui karakteristik, pengunaan obat dan ketepatan
dengan melihat tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis, tepat lama pemberian,
dan tepat frekuensi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non
observasional, pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data rekam
medik. Sampel yang diambil 151 pasien dengan teknik total sampling. Hasil
penelitian menunjukan karakteristik terbanyak terjadi pada usia 0-5 tahun
(94%), jenis kelamin terbanyak pada laki-laki sebanyak 90 pasien (60%), berat
badan yang paling banyak ditemui yaitu <10 kg (53%), dan lama hari rawat
yang paling banyak yaitu 1-3 hari (78%). Hasil evaluasi ketepatan penggunaan
obat antibiotik yaitu ceftriaxone, cefixime, cefadroxil, dan cefotaxime (100%)
tepat obat, tepat dosis sebanyak 98 obat (65%), tepat frekuensi (100%), tepat
lama pemberian sebanyak 106 pasien (70%) tidak tepat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Covid-19 adalah penyakit infeksi jenis baru yang disebabkan oleh Severe Acute
Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS-CoV-2). Penelitian bertujuan untuk
mengetahui profil penggunaan dan kuantitas penggunaan antibiotik yang diberikan
pada pasien Covid-19 di ruang Mawar 1 RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode
Januari-Desember 2022. Data diambil secara retrospektif meneliti kebelakang
dengan menggunakan data sekunder malalui rekam medik pasien Covid-19 tahun
2022. Data dianalisis secara deskriptif dengan metode ATC/DDD/100 patient-days
dan Drug Utilization (DU) 90% menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian
menunjukkan dari 171 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi,
didapatkan karakteristik pasien Covid–19 terbanyak yaitu jenis kelamin laki–laki
sebanyak 88 pasien (51%), usia pasien usia manula >65 tahun sebanyak 48 pasien
(28%), derajat keparahan sedang sebanyak 131pasien (77%), satu komborbid
sebanyak 63 pasien (36,84%), hipertensi sebanyak 56 pasien (32% ), rute
pemberian parentral sebanyak 157 pasien (65 %), kombinasi sebanyak 104 pasien
(60,82%) kuantitas penggunaan antibiotik yang paling banyak adalah golongan
sefalosporin yakni seftriaxon dengan nilai DDD sebesar 49,29 DDD/100 patient
days. Antibiotik yang termasuk dalam segmen diatas DU 90% pada penelitian ini
adalah seftriaxon (49,29) DDD/100 patient days), semakin tinggi nilai DDD maka
semakin tinggi kuantitas antibiotik yang digunakan maka semakin besar
kemungkinan resistensi antibiotik terjadi.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yaitu penyakit infeksi yang dapat menyerang salah
satu atau lebih bagian dari saluran pernafasan. ISPA atas terdiri dari rhinitis, faringitis,
sinusitis, otitis media, tonsilitis, dan laringitis. ISPA disebabkan oleh bakteri dapat diterapi
menggunakan obat antibiotik. Pemberian obat antibiotik yang tidak rasional dan tidak
memenuhi dosis regimen dapat meningkatkan resistensi antibiotik. Kerasionalan penggunaan
antibiotik dianalisis dengan metode Gyssens. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
kerasionalan penggunaan obat antibiotik pada pasien penderita ISPA dengan metode Gyssens
di Klinik Nayaka Husada 02 Gatot Subroto Jakarta Selatan. Jenis penelitian ini menggunakan
metode deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 101 data rekam
medik pasien rawat jalan selama bulan Juli-Desember 2022. Pengambilan sampel
menggunakan Total Sampling. Kesimpulan dari penelitian ini, jenis kelamin pasien yang
menderita ISPA faringitis terbanyak adalah laki-laki 59% dan usia 26-35 tahun sebanyak
37%. Jenis antibiotik yang terbanyak digunakan pada pasien penderita ISPA faringitis adalah
Cefixime sebanyak 46%. Terdapat kategori 0 (rasional) sebanyak 88% dan pada kategori III
B (Penggunaan antibiotik terlalu singkat) sebanyak 12%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diare akut pada anak adalah buang air besar pada bayi atau anak yang lebih dari 3
kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa
lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Penggunaan obat yang
tidak rasional sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. Peresepan obat tanpa
indikasi yang jelas, penentuan dosis, cara, dan lama pemberian yang keliru, serta
peresepan obat yang mahal merupakan sebagian contoh dari ketidakrasionalan
peresepan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi
pasien meliputi umur, jenis kelamin dan berat badan, profil pengobatan, ketepatan
pengobatan meliputi tepat indikasi, tepat pemilihan obat, tepat cara pasien, tepat
dosis, tepat lama pemberian obat dan tepat frekuensi obat pada pasien diare anak di
Klinik Utama dr. Yati Zarnudji periode 2021 – Juli 2022. Hasil penelitian diperoleh
pasien penderita diare didominasi oleh umur batita 2-3 tahun yaitu sebanyak 47
pasien dengan persentase 54% dan berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak
65%. Antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu cotrimoxazole sebanyak 53%.
Evaluasi ketepatan obat yaitu 62%, ketepatan dosis yaitu 100%, evaluasi ketepatan
obat yaitu 100% dan evaluasi ketepatan indikasi 100% dan evaluasi ketepatan
frekuensi 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Ketidaktepatan penggunaan antibiotik banyak ditemukan di masyarakat luas. Hal
ini dapat menjadi penyebab terjadinya resiko buruk seperti resistensi
antibiotik. Dalam pelaksanaan pengobatan sendiri banyak sering terjadi kesalahan
dalam pengobatan, dimana kesalahan ini disebabkan karena kurangnya ilmu
pengetahuan dari masyarakat terhadap cara penggunaan obat, informasi lain terkait
obat yang digunakan maupun melakukan pengobatan secara mandiri dengan
antibiotik tanpa resep dokter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap perilaku penggunaan antibiotik
di Kelurahan Kebon Pedes Sukabumi. Desain penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif observasional dengan menggunakan metode cross sectional.
Pengambilan data menggunakan data primer dilakukan dengan menggunakan
kuesioner, untuk mengetahui hubungan pengetahuan masyarakat terhadap perilaku
penggunaan antibiotik. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dari
jumlah populasi 1.790 menggunakan metode purposive sampling. kemudian
dianalisis menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini
menunjukan tingkat pengetahuan tentang antibiotik sebagian besar berkategori
cukup yaitu sebanyak 63% dan tingkat perilaku penggunaan antibiotik sebagian
besar berkategori cukup sebanyak 76%. Dari hasil uji Chi-square diperoleh p-value
0,032 (<0,05). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan terdapat hubungan
signifikan antara tingkat pengetahuan masyarakat terhadap perilaku penggunaan
antibiotik.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi. Demam tifoid terjadi di negara berkembang dengan angka
kejadian yaitu 21 juta dan kematian 700 kasus. Pada penelitian yang berjudul
Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak di
Rumah Sakit Melania Bogor secara retrospektif, memperoleh data periode Juli
sampai dengan Desember dengan jumlah 79 pasien. Data yang diolah meliputi
karakteristik pasien. Maka penelitian ini dapat menarik kesimpulan sebagai berikut
: dari 79 pasien berdasarkan sosiodemografi pasien berdasarkan jenis kelamin
terbanyak adalah laki-laki 44 pasien (56%), sosiodemografi usia terbanyak yaitu
usia 0-5 tahun (Balita) yaitu 52 pasien (66%), sosiodemografi berat badan
terbanyak yaitu kurang dari 15 kg yaitu sebanyak 41 pasien (52%). Profil
penggunaan Obat Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid anak yaitu paling banyak
pada penggunaan Seftriakson dengan jumlah 57 pasien (72%). Berdasarkan hasil
evaluasi ketepatan pengobatan dari analisis di atas didapatkan hasil tepat indikasi
(100%), tepat obat (100%), tepat dosis (94,37%), tepat waktu pemberian obat
(100%) dan tepat lama pemberian (3.79%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan
penggunaan antibiotik dari analisis dengan metode DDD sebanyak 79 pasien
didapatkan angka terbesar pada Seftriakson yaitu 48,35.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyakit diare merupakan penyakit endemis yang berpotensi menimbulkan
Kejadian Luar Biasa (KLB) dan masih menjadi penyumbang angka kematian di
Indonesia terutama anak. Pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat dengan
tatalaksana terapi akan menimbulkan efek samping serta resistensi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan
mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare anak di RSUD Sekarwangi
Sukabumi. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara
retrospektif yang berasal dari data rekam medik kemudian data dianalisis secara
kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh dengan cara total sampling
sebanyak 77 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian
menunjukan pasien diare anak terbanyak adalah laki-laki sebanyak 42 pasien
(54,55%), dengan kelompok usia 0 - 1 tahun sebanyak 35 pasien (45,45%) dan
berat badan terbanyak < 10 kg sebanyak 48 pasien (62,34%). Antibiotik yang
terbanyak digunakan adalah Sefotaksim sebanyak 42 kasus (54,54%) dan rute
pemberian yang terbanyak digunakan adalah intravena sebanyak 67 peresepan
(87,01%). Evaluasi keetepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens
masuk ke dalam kategori: Kategori 0 sebanyak 48 pasien (62,34%), Kategori III
B sebanyak 13 pasien (16,88%), Kategori II A sebanyak 9 pasien (11,69%),
Kategori IVA sebanyak 7 pasien (9,09%).