BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah dimana tekanan darah
meningkat melebihi nilai normal yaitu 140/90 mmHg. Prevalensi hipertensi di Jawa
Barat tahun 2018 sebanyak 39,6%. Hipertensi menempati urutan kelima dalam
kasus penyakit tertinggi di Puskesmas Cigudeg. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kesesuaian terapi obat hipertensi berdasarkan Joint National
Committee (JNC) VIII pada pasien hipertensi di Puskesmas Cigudeg Kabupaten
Bogor. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode retrospektif. Data
diperoleh dari rekam medis dengan kategori pasien yang mendapat pengobatan
rutin selama 2 bulan yaitu Juli - Desember 2023. Hasil penelitian berdasarkan total
sampel sebanyak 89 pasien, paling banyak mayoritas perempuan (70%), dengan
usia terbanyak berumur 46-55 tahun (36%). Obat yang paling umum digunakan
adalah amlodipin (93%). Hasil evaluasi kesesuaian terapi yang sesuai sebanyak
(21%), dan tercapainya tujuan terapi sebanyak (38%) berdasarkan Joint National
Committee (JNC) VIII . Hasil analisis statistik dengan menggunakan Chi-square
terdapat adanya hubungan bermakna antara kesesuaian terapi obat berdasarkan JNC
VIII dengan tercapainya target tekanan darah dengan p value (0,000) < (0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Preeklampsia adalah Hipertensi dalam kehamilan yang terjadi diatas 20 minggu
usia kehamilan dan disertai dengan adanya protein dalam urin (proteinuria).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien berdasarkan
pada usia pasien, usia kehamilan, hasil laboratorium protein dalam urin
(proteinuria), status gravida, dan lama rawat. Penelitian ini dilakukan dengan
mengambil data secara retrospektif, sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah 57 sampel. Hasil penelitian didapatkan data sosiodemografi berdasarkan
usia pasien terbanyak adalah usia 26 – 35 tahun sebanyak 27 pasien (47%), usia
kehamilan terbanyak pada usia kehamilan trimester 3 sebanyak 55 pasien (96%),
hasil pemeriksaan laboratorium protein urin terbanyak adalah positif 1 atau
dipstick 1 + sebanyak 50 pasien (89 %), status gravida terbanyak adalah
multigravida sebanyak 43 pasien (75%), jumlah hari perawatan terbanyak yaitu 3-
4 hari sebanyak 95%. Penggunaan obat antihipertensi terbanyak adalah kombinasi
3 obat ( Metildopa + MgSO4 + Nifedipin) sebanyak 36 pasien (36%). Obat
antihipertensi yang memiliki efektivitas tertinggi yaitu kombinasi 4 obat
(Metildopa + MgSO4 + Nifedipin + Nikardipin) karena mampu menurunkan
tekanan darah sistolik dengan rata-rata sebesar 54 mmHg dan tekanan darah
diastolik dengan rata-rata sebesar 14 mmHg. Perbedaan efektivitas obat
antihipertensi berdasarkan SPSS terdapat perbedaan untuk penurunan tekanan
darah sistolik sig 0,000. Hal ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan untuk penurunan tekanan darah sistolik dan tidak ada perbedaan yang
signifikan terhadap penurunan tekanan darah diastol karena hasil SPSS penurunan
tekanan diastolik sig 0,171.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Beberapa orang mulai memilih tanaman herbal sebagai obat alternatif karena
adanya anggapan bahwa obat alami memiliki efek samping yang rendah.
Pemanfaatan tanaman tradisional seperti daun bisbul dapat berpotensi sebagai
obat penurun tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh
ekstrak etanol daun bisbul (Diospyros discolor Willd.) terhadap tekanan darah.
Simplisia daun bisbul diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol
70% dan dilakukan uji tidak langsung (non-invasive blood preassure). Daun
bisbul mengandung senyawa flavonoid, dimana senyawa ini memiliki
kemampuan untuk mengatasi hipertensi. Terdapat lima kelompok uji yang terdiri
dari lima ekor tikus jantan Sprague dawley yaitu kelompok kontrol positif
kaptopril 25 mg/kgBB, kontrol negatif aquadest, dan tiga kelompok perlakuan
ekstrak dengan dosis 250, 500 dan 750 mg/kg BB. Persentase penurunan tekanan
darah pada tikus jantan dengan ekstrak etanol 70% sebanyak 30,51% (± 2,95).
Tekanan darah setiap kelompok dibandingkan secara statistik menggunakan
analisis one-way ANOVA dengan ketentuan tingkat kepercayaan 95% dengan
taraf a 0,01. Hasil dari variasi ketiga dosis tidak memiliki pengaruh yang
bermakna terhadap penurunan tikus model hipertensi yang diinduksi NaCl 8%
(p=0,850;p=0,924).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg serta tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg dengan pemeriksaan berulang. Jika penderita hipertensi tidak diobati maka terjadi komplikasi. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan kesesuaian terapi obat antihipertensi dengan keberhasilan terapi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 di RS Pena 98 Bogor. Penelitian ini, bersifat deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan secara cross sectional menggunakan data sekunder yang diambil secara retrospektif dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) berupa rekam medik dan resep obat sebanyak 80 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian ini, menunjukan usia
paling banyak 56 – 65 tahun sebanyak 36 pasien (45%), jenis kelamin paling banyak perempuan sebanyak 53 pasien (66,25%). Hipertensi tanpa penyakit penyerta sebanyak 55 pasien (68,75%). Golongan obat paling banyak calcium channel blockers (CCB) sebanyak 23 pasien (28,75%). Obat yang terbanyak digunakan yaitu Amlodipin sebanyak 23 pasien (28,75%). Kesesuaian terapi berdasarkan JNC VIII tahun 2014, yang sesuai sebanyak 73 pasien (91,25%). Keberhasilan terapi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 yang berhasil 65 pasien (81,25%). Hasil statistika, uji Chi-square nilai menunjukan ada hubungan yang signifikan antara kesesuaian terapi dengan keberhasilan terapi pasien hipertensi dengan nilai P. value
sig. 0,000 ≤ 0,05.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu peningkatan tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Terdapat
lima golongan utama obat antihipertensi yaitu ACEI, ARB, beta bloker, CCB dan
diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dan
evaluasi ketepatan penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukalarang
Sukabumi periode Juli – Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan
pengambilan data sekunder dari rekam medik. Pengambilan sampel menggunakan
rumus Slovin dengan teknik purposive sampling dengan tingkat kepercayaan 90%.
Populasi sebanyak 697 pasien, diambil sampel sebanyak 88 pasien. Hasil penelitian
karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah
perempuan 59 pasien (67%), usia terbanyak adalah lansia akhir 56 – 65 tahun 30
pasien (34%), klasifikasi hipertensi terbanyak yaitu hipertensi derajat 1 sebanyak
42 pasien (48%) dan pasien tanpa penyakit penyerta 61%. Penggunaan obat
antihipertensi lebih banyak secara monoterapi sebesar 68% dibandingkan obat
kombinasi sebesar 32%. Monoterapi terbanyak adalah amlodipin sebesar 42%
sedangkan kombinasi terbanyak adalah captopril – amlodipin sebesar 24%.
Kemudian dilakukan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan pedoman
Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi (PERHI) tahun 2019, yaitu tepat indikasi
100%, tepat pasien 100%, tepat obat 76%, tepat dosis 100% dan tepat frekuensi
waktu pemberian obat 91%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan suatu penyakit degeneratif ditandai dengan
terjadinya peningkatan sistolik di atas 140 dan atau diastolik di atas 90 mmHg.
Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah.
Salah satu pengobatan yang digunakan adalah Amlodipin dan Captopril.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien
hipertensi, gambaran penggunaan obat antihipertensi, gambaran penurunan
tekanan darah dan untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah dari
kedua jenis obat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non observasional
dengan pendekatan cross sectional, pengambilan data dilakukan secara
retrospektif dari data sekunder berupa data dari rekam medis pasien hipertensi di
Puskesmas Curug Jasinga Bogor periode Februari – April 2022. Sampel yang
diambil sebanyak 92 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian
menunjukkan data sosiodemografi terbanyak terjadi pada rentang usia 46–55
tahun (40,22%), dengan jenis kelamin terbanyak pada perempuan (72,83%), dan
kelompok pekerjaan terbanyak pada ibu rumah tangga (52,17%). Obat yang
paling banyak digunakan adalah Amlodipin (51,09%). Pada penggunaan
Amlodipin didapatkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 25,5 mmHg dan
diastolik 17,4 mmHg sedangkan pada penggunaan Captopril rata-rata penurunan
tekanan darah sistolik 11,7 mmHg dan diastolik 8,6 mmHg. Pada uji Mann-
whitney didapatkan nilai P-value 0,000 < 0,05 artinya terdapat perbedaan yang
nyata penurunan tekanan darah antara Amlodipin dan Captopril.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik 90 mmHg untuk dua kali pengukuran dan pasien diukur
pada keadaan tenang. Terdapat lima golongan utama obat antihipertensi yaitu
Antagonis Converting Enzym Inhibitor, Antagonis Reseptor Bloker, beta bloker,
Calcium Chanel Bloker dan diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
karakteristik pasien, penyakit penyerta, gambaran tekanan darah, profil penggunaan
obat dan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan algoritma terapi hipertensi
Joint Commite National Eight (JNC 8)di Klinik Budhi Pratama Gedong periode
Januari – Maret 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan
rancangan cross sectional. Data sekunder pada penelitian ini diambil secara
retrospektif dari rekam medik pasien periode Januari-Maret 2021. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini adalah secara total sampling dengan jumlah
sampel 75 pasien. Hasil penelitian karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis
kelamin terbanyak adalah perempuan 48 pasien (64%), usia terbanyak adalah manula
lebih 65 tahun 30 pasien (40 %), klasifikasi hipertensi terbanyak yaitu hipertensi
stage1 sebanyak 50 pasien (66.67 %) dan pasien hipertensi dengan diabetes mellitus
sebanyak 24 pasien (32%) . Profil penggunaan obat antihipertensi secara tunggal
sebanyak 48 pasien (64%). Evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan pedoman
Joint Commite Nasional Eight (JNC 8) tahun 2014, yaitu sesuai sebanyak 64 pasien
(85.33%) dan tidak sesuai sebanyak 11 pasien (14.67%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensisalah satu penyakit yang ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah
yang >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg. Faktor risiko hipertensi yaitu pada
umur, jenis kelamin, keturunan, kegemukan, merokok, kurang aktivitas fisik
ataupun mengkonsumsi garam berlebih sehingga terjadinya penyakit hipertensi.
Acuan yang digunakan di Rumah Sakit Melania Bogor ini menggunakan Guideline
Join National Committee (JNC) VIII. Di JNC VIII ini memiliki alur pengobatan
yang dapat dilihat dari tekanan darah seseorang dan penyakit penyerta yang dimiliki
sehingga dapat menentukan pengobatan untuk pasien dengan tujuan tekanan darah
berdasarkan JNC VIII. Metode penelitian ini diolah secara deskriptif menggunakan
data rekam medik pada periode Agustus – Desember 2022. Hasil penelitian
mengenai karakteristik pasien hipertensi perempuan paling banyak sebesar 59%
dan usia paling banyak 56-65 tahun 36%, dengan penyakit penyerta Diabetes
Melitus (DM) sebesar 10 % dan Chronic Kidney Disease (CKD) 4%, obat paling
banyak yang digunakan gologan Calcium Channel Blocker (CCB) tunggal 44%
dan kombinasi Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) + Calcium
Channel Blocker (CCB) 16% dan memiliki hasil kesesuaian terapi berdasarkan
JNC VIII 86%, tingkat keberhasilan tujuan JNC VIII 89%. Hasil penelitian Analisis
menggunakan SPSS versi 26 dengan pengujian Chi-Square dengan hasil p-value
0,000 yang memiliki keputusan terdapat hubungan signifikan kesesuaian obat
berdasarkan JNC VIII keberhasilan target tekanan darah JNC VIII.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg dengan pemeriksaan
yang berulang. Dalam keberhasilan terapi, penggunaan obat rasional sangat penting.
Keberhasilan terapi ditandai dengan penurunan tekanan darah sesuai dengan standar
Joint National Committee (JNC) 8 yaitu usia >60 tahun keberhasilannya <150/90
mmHg dan usia <60 tahun keberhasilannya <140/90 mmHg. Penelitian ini bertujan
untuk melihat gambaran sosiodemografi pasien, profil penggunaan obat
antihipertensi, ketepatan penggunaan obat antihipertensi dan keberhasilan terapi obat
antihipertensi berdasarkan JNC 8 di Puskesmas Ciambar Sukabumi. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif Observasional dengan pendekatan secara
retrospektif mengumpulkan data sekunder dari rekam medik dan resep sebanyak 99
pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian, usia paling banyak 46-55
tahun sebanyak 43 pasien (43,43%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 81 pasien
(81,82%). Penggunaan Obat terbanyak yaitu kombinasi sebanyak 47 pasien
(47.47%). Ketepatan penggunaan, Tepat obat, dosis, indikasi menunjukkan hasil
100% tepat dan tepat frekuensi 79 pasien (79,80%) tepat, 20 pasien (20,20%) tidak
tepat. Keberhasilan terapi berdasarkan JNC 8, 17 pasien (17,17%) berhasil, 82 pasien
(82,83%) tidak berhasil.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup berbahaya di
dunia karena hipertensi merupakan faktor resiko utama yang mengarah kepada
penyakit kardiovaskuler. Sebagai salah satu penyakit yang cukup besar
prevalensinya, penggunaan obat antihipertensi penting diketahui untuk
perencanaan kebutuhan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui
gambaran sosiodemografi dari pasien hipertensi dan mengetahui gambaran
penggunaan obat antihipertensi yang diberikan kepada pasien BPJS di Instalasi
Rawat Jalan RSUD Leuwiliang. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif
dengan alat ukur data rekam medis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan cara Total Sampling. Total sampel yang
didapat sebanyak 393 pasien. Data yang telah didapat kemudian di klasifikasikan
dan diringkas ke dalam tabel, disusun berdasarkan tujuan penelitian. Penderita
essential (primary) hypertension paling banyak diderita oleh perempuan sebesar
67,43% dan pada kelompok usia lansia akhir 56 - 65 tahun yaitu sebesar 36,90%.
Penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak yaitu Amlodipin sebesar
43,30%. Golongan obat yang yang paling banyak digunakan yaitu Antagonis
Kalsium sebesar 43,06%. Penggunaan obat antihipertensi lebih banyak
menggunakan satu jenis obat (monoterapi) sebesar 53,18%. Kombinasi obat
antihipertensi terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kombinasi 2 obat, kombinasi 3
obat, dan kombinasi 4 obat antihipertensi. Kombinasi 2 obat antihipertensi paling
banyak yaitu kombinasi Antagonis Kalsium dengan ACE Inhibitor. Kombinasi
3 obat antihipertensi paling banyak yaitu Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor,
Diuretik dan kombinasi Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker.
Kombinasi 4 obat yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi Antagonis
Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker dan Diuretik.
.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara kronis. Beberapa pasien
hipertensi memiliki penyakit penyerta ataupun komplikasi sehingga membutuhkan
kombinasi obat yang dapat meningkatkan risiko interaksi obat yang dapat
mempengaruhi hasil terapi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa
interaksi obat potensial pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RS Swasta
X Tangerang periode Oktober – Desember 2021. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif-observasional berdasarkan data retrospektif dari data sekunder
yang diambil dari rekam medis dan resep elektronik sebanyak 85 pasien dengan
metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan website drugs.com dan
medscape.com serta diolah dengan Microsoft Excel. Hasil penelitian ini
menunjukkan pasien hipertensi terbanyak adalah laki - laki sejumlah 69% dengan
rentang usia terbanyak ialah >65 tahun sejumlah 36%. Penyakit penyerta terbanyak
adalah Coronary Artery Disease (CAD) sejumlah 40%. Jumlah terapi obat
terbanyak adalah 5 jenis obat sebanyak 51%. Golongan obat yang paling sering
digunakan adalah Angiotensin Receptor Blocker (ARB) sebanyak 60 kasus. Terapi
obat penyakit penyerta terbanyak adalah Atorvastatin sebanyak 61 resep. Terdapat
80% interaksi obat potensial, dengan interaksi obat potensial terbanyak antara
Amlodipin dan Atorvastatin sebanyak 35 kasus. Tingkat keparahan terbanyak yaitu
moderat sejumlah 78%. Mekanisme interaksi terbanyak adalah interaksi
farmakokinetik sejumlah 59%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana peningkatan darah sistolik
melebihi batas normal 140 mmHg dan tekanan darah diastolik melebihi 90 mmHg.
Penggunaan obat pada penyakit hipertensi haruslah tepat dan efektif. Dampak
negatif dari pemilihan obat antihipertensi yang salah dapat mempersulit
pengontrolan tekanan darah dan menimbulkan penyakit lain seperti stroke dan
penyakit ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian
penatalaksanaan terapi pada pasien hipertensi di Puskesmas Tanah Sareal
berdasarkan Guideline Joint National Committee (JNC) VIII. Penelitian ini
dilakukan secara retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dengan kategori
pasien melakukan kontrol sebanyak 3 kali pada periode Januari – Desember 2021.
Hasil penelitian dari total pasien sebanyak 290 pasien, paling banyak berjenis
kelamin perempuan sebesar 74,48%, kelompok usia terbanyak dengan usia 46-55
tahun sebesar 36,55%, kelompok pekerjaan terbanyak yaitu Ibu Rumah Tangga
(IRT) sebesar 66,90%. Berdasarkan tingkatan hipertensi terbanyak yaitu hipertensi
stage 1 dengan rata-rata sebesar 57,47%. Obat yang paling banyak digunakan
adalah Amlodipine sebesar 97,36%. Hasil evaluasi kesesuaian berdasarkan
Guideline Joint National Committee (JNC) VIII, pada pasien hipertensi tanpa
penyakit penyerta sebesar 60,05% sudah sesuai dengan tatalaksana JNC VIII.
Sedangkan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus sebesar 64,10% sudah
sesuai dengan tatalaksana JNC VIII.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Preeklampsia didefinisikan sebagai suatu sindrom yang ditandai dengan
peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90
mmHg dengan proteinuria yang terjadi sejak kehamilan minggu ke-20 atau lebih.
Dalam penatalaksanaan preeklampsia pada ibu hamil obat yang digunakan terdiri
dari obat tunggal dan kombinasi. Tujuan penelitian ini mengetahui kesesuaian
penatalaksanaan penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia di
Instalasi Rawat Inap RS PMI Bogor berdasarkan pedoman dari Perkumpulan
Obsetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Penelitian ini dilakukan menggunakan
metode deskriptif yang bersifat retrospektif dengan pendekatan cross sectional.
Data penelitian ini diambil dari data sekunder berupa data rekam medik pasien
dengan periode 2019-2021. Sampel yang diambil sebanyak 97 pasien dengan
metode total sampling. Adapun hasil penelitian menunjukan usia paling banyak
20 – 35 tahun (63%), usia kehamilan trimester III (98%), derajat preeklampsia
berat (87%), status multigravida (73%), kadar proteinuria dipstick 3+ (38%),
penggunaan obat tunggal nifedipin (57%), tungal metildopa (2%), kombinasi
nifedipin & metildopa (40%), kombinasi nifedipin & amlodipin (1%). Evaluasi
penatalaksanaan obat antihipertensi yang sesuai menurut POGI (2016)
mendapatkan persentase sebesar 78,29%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg serta
tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg dengan pemeriksaan yang berulang.
Dalam hal meningkatkan keberhasilan terapi, penggunaan obat yang rasional sangat
penting. Jika penderita hipertensi tidak diobati maka terjadi komplikasi. Untuk
pasien hipertensi harus meminum obat antihipertensi untuk mencapai efek
terapinya. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran sosiodemografi pasien,
gambaran pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus, gambaran
penggunaan obat antihipertensi, mengetahui kesesuaian, keberhasilan dan
hubungan terapi obat antihipertensi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 di Puskesmas
Bogor Selatan. Penelitian ini, non-eksperimental dengan pendekatan cross
sectional menggunakan data retrospektif dengan data sekunder yang diambil dari
SIMPUS berupa rekam medik dan resep obat sebanyak 80 pasien dengan metode
total sampling. Hasil penelitian ini, usia paling tinggi 56 – 65 tahun sebanyak 38
pasien (47,5%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 68 pasien (85%). Hipertensi
tanpa diabetes melitus sebanyak 70 pasien (87,5%). Obat yang terbanyak digunakan
yaitu Amlodipin sebanyak 79 pasien (98,75%). Kesesuaian terapi berdasarkan JNC
VIII tahun 2014 sebanyak 41 pasien (51,25%). Keberhasilan terapi berdasarkan
JNC VIII tahun 2014 yang berhasil sebanyak 26 pasien (32,5%). Hasil statistika,
uji Chi-square nilai sig. 0,000 ≤ 0,05 yaitu ada hubungan yang signifikan antara
kesesuaian dengan keberhasilan terapi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskular yang paling
banyak ditemukan dibandingkan dengan penyakit sistem kardiovaskular lainnya.
Pada hipertensi pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya
interaksi obat dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat antihipertensi di Puskesmas
Tanah Sareal periode Januari–Desember 2021. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara
retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara
purposive sampling. Hasil penelitian terhadap 290 pasien menunjukkan, sebagian
besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 192 pasien (66,21%) dengan
rentang usia terbanyak 56–65 tahun sebanyak 117 pasien (40%). Penyakit penyerta
terbanyak adalah myalgia sebanyak 73 pasien (20%). Pasien mayoritas
mendapatkan 2–4 obat dengan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan,
yaitu amlodipin sebanyak 284 pasien (91,03%), sedangkan obat penyakit penyerta
yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 171 pasien (17%).
Kejadian interaksi obat terjadi pada 29,70% dari obat antihipertensi maupun obat-
obat penyakit penyerta. Interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipin
dengan ibuprofen sebanyak 16 kasus (27%), amlodipin dengan natrium diklofenak
sebanyak 26 kasus (38%), dan amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 7
kasus (44%). Ketiga kejadian interaksi obat terjadi secara farmakodinamik dengan
level keparahan moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan kelainan sistem sirkulasi darah yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat diatas normal atau kurang dari 140/90 mmHg. Dalam
penatalaksanaan hipertensi di Puskesmas Kedung Badak, obat yang digunakan
terdiri dari amlodipin dan kaptopril. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi
penggunaan obat antihipertensi melalui ketepatan penggunaan obat dan
kesesuaian target tekanan darah. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif, dan
bersifat observasi yang dilakukan secara retrospektif. Data penelitian ini diambil
dari data sekunder berupa data rekam medik pasien, dengan periode September –
November 2021. Sampel yang diambil sebanyak 83 pasien dengan metode
purposive sampling. Adapun hasil penelitian menunjukkan, usia paling banyak
46-55 tahun sebanyak 39 pasien (47%), jenis kelamin perempuan sebanyak 69
pasien (75%), penggunaan amlodipin sebanyak 79 pasien (95%), dan obat
kaptopril yang diubah menjadi amlodipin sebanyak 4 pasien (5%). Hasil evaluasi
penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi rawat jalan; Evaluasi tepat
pemilihan obat 51% sudah tepat; Evaluasi tepat pemberian dosis 100% tepat
dosis; Evaluasi tepat pasien 100%; Evaluasi tepat interval/frekuensi 95% sudah
tepat; Waspada efek samping 5% ada efek samping. Kesesuaian target tekanan
darah berdasarkan JNC VIII 33 pasien (40%) sudah sesuai target.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan
kenaikan tekanan darah di atas normal (Kemenkes, 2018). Menurut data World
Health Organization (WHO) tahun 2019, prevalensi hipertensi secara global
sebesar 22% dari total penduduk dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
ketepatan pengobatan pasien hipertensi meliputi tepat obat, tepat pasien, tepat
indikasi, tepat dosis dan tepat frekuensi. Penelitian ini bersifat observasional
dimana data sekunder dikumpulkan dari rekam medik pasien yang dilakukan secara
retrospektif pada periode November – Desember 2020. Hasil penelitian
berdasarkan jenis kelamin paling banyak perempuan sebanyak 72%. Berdasarkan
kelompok usia paling banyak pada usia 56 – 65 tahun sebanyak 34% yaitu pada
masa lansia akhir. Mayoritas tingkat pendidikan SMA sebanyak 72%. Mayoritas
pekerjaan pada IRT sebanyak 62%. Berdasarkan tingkat hipertensi paling banyak
pada hipertensi stage 1 sebanyak 48,9%. Pola pengobatan pasien paling banyak
menggunakan obat terapi tunggal sebanyak 96,3%. Golongan paling banyak pada
Calcium Channel Blocker yaitu Amlodipin sebanyak 90,4%, jenis obat paling
banyak digunakan pada obat kombinasi captopril + amlodipin sebanyak 2,2%. Pada
evaluasi tepat penggunaan obat, berdasarkan tepat pasien (100%), tepat indikasi
(100%), tepat obat (100%) tepat dosis (84,4%) dan tepat frekuensi (98,1%).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu factor resiko utama penyebab kematian
nomor satu di dunia dan nomor tiga di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kuantitas penggunaan obat antihipertensi oral dengan metode
Anatomical Theurapetic Chemical (ATC)/ Defined Daily Dose (DDD) serta untuk
mengetahui obat-obat antihipertensi oral apa saja yang masuk dalam segmen Drug
Unilization (DU) 90%. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data
rekam medis pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
pengumpulan data secara retrospektif. Data penggunaan antihipertensi oral dan
data kunjungan rawat inap diperoleh dari Instalasi Rekam Medik. Semua data
tersebt diolah untuk mengetahui kuantitas pengunaan antihipertensi oral dalam
satuan DDD/100 patient-days dan profil DU90%. Hasil penelitian menunjukan
bahwa obat antihipertensi oral yang digunakan pada pasien hipertensi yang
dirawat inap di RS Harapan Depok selama tahun 2019 adalah amlodipin 46,8 %, captopril 22,10 %, furosemid 10,9%, ramipril 7,6%, bisoprolol 5,2%, candesartan
2,7%, spironolacton 2,2%, nifedipin 1,6%, valsartan 0,9%. Dari tabel DU90%
obat yang masuk dalam segmen DU90% adalah amlodipin, captopril, furosemid
dan ramipril.