BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L) mengandung antosianin dan
betasianin merupakan pigmen merah atau ungu-merah yang dapat digunakan
sebagai pewarna alam. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak
umbi bit merah (Beta vulgaris L) menjadi sediaan lip tint yang memiliki stabilitas
mutu fisik yang baik, disukai responden dan tidak menimbulkan iritasi. Sebelum
ya dibuat sediaan lip tint dengan variasi ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L)
15g (F1), 20g (F2), 25g (F3). Dilakukan uji antosianin terhadap ekstrak umbi bit
merah (Beta vulgaris L), uji stabilitas mutu fisik sediaan lip tint dilakukan secara
cycling test dengan parameter uji homogenitas, pH, viskositas dan uji daya oles,
selain itu dilakukan uji kesukaan dan uji iritasi. Hasil uji stabilitas mutu fisik
sediaan lip tint menunjukan bahwa sediaan stabil dan tidak menimbulkan iritasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Antioksidan merupakan sebagai inhibitor yang bekerja menghambat
oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif yang membentuk
radikal bebas tidak reaktif yang stabil. Daun jambu biji merah mengandung
aktivitas antioksidan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin.Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik sediaan gel dan mengetahui nilai IC50
yang terbaik dari sediaan gel ekstrak etil asetat daun jambu biji merah. Daun
Jambu Biji Merah (Psidium guajava L.) di ekstraksi dengan metode maserasi
menggunakan pelarut etil asetat dan dibuat sediaan gel menggunakan variasi
konsentrasi ekstrak pada formula I, II, dan III berturut-turut 2%, 4%, dan 6%.
Dilakukan evaluasi karakteristik fisik meliputi organoleptik, pH, daya sebar,
viskositas. Uji aktivitas antioksidannya terhadap DPPH dan dihitung rata-rata nilai
IC50 pada formulasi I, II, dan III berturut-turut 78,56 ppm, 71,62 ppm dan 77,91
ppm. Dari ketiga formulasi yang paling efektif aktivitas antioksidannya yaitu pada
formulasi II. Pengukuran aktivitas antioksidan mengggunakan spektrofotometri
UV-Vis dan dilakukan cycling test dengan formulasi yang terbaik menggunakan
metode 6 siklus didapatkan hasil IC50 81,21 ppm.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hand sanitizer cair adalah sediaan dengan berbagai kandungan yang cepat
membunuh mikroorganisme yang ada di kulit tangan. Ekstrak etanol daun jambu
air (Syzygium aqueum (Burm.f) Alston) sudah diketahui berpotensi besar sebagai
antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula sediaan hand
sanitizer ekstrak daun jambu air yang menghasilkan mutu fisik dan stabilitas
terbaik dari variasi konsentrasi ekstrak. Metode penelitian ini adalah pengujian
fitokimia daun jambu air dan formulasi hand sanitizer cair ekstrak etanol 96%
daun jambu air Syzygium aquem (Brum.f) Alston) dengan lima formulasi sediaan
hand sanitizer yaitu F1 (kontrol negatif), F2 (5%), F3 (10%), F4 (15%), dan F5
(kontrol positif). Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap sediaan hand sanitizer
cair meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, cycling test, dan stabilitas pada
suhu penyimpanan. Berdasarkan hasil penelitian ekstrak daun jambu air
mengandung senyawa flavonoid, saponin, fenol, dan tannin. Pada F2 dengan
konsentrasi 5% menghasilkan pH yaitu sebesar 4,5 memenuhi syarat standar pH
kulit, sedangkan pada pengujian homogenitas tidak ada yang memenuhi
persyataran homogenitas. Pada uji stabilitas dengan metode cycling test dan
stabilitas suhu penyimpanan semua parameter pengujian mutu fisik menghasilkan
tidak ada perubahan secara signifikan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Daun gaharu (Gyrinop verteegii (Gilg) Domke) adalah suatua tanaman yang
diketahui mempunyai aktivitas antioksidan yang mengandung senyawa flavonoid‚
tanin dan polifenol. Tujuaan penelitian ini membuat formulasi sediaan gel ekstrak
etanol daun gaharu (Gyrinop verteegii (Gilg) Domke) serta stabilitas sediaan gel
dengan metode cycling test dan uji kimia dengan pengukuran kadar flavonoid
total yang menjadi persyaratan sediaan gel yang baik. Sediaan gel dibuat 3
formulasi dengan konsentrasi ekstrak 2%‚ 4% dan 8%. Menguji mutu fisik
termasuk uji organoleptik, viskositas, homogenitas, pH, daya sebar serta
pengukuran kadar flavonoid total sebagai uji kimia. Hasil uji stabilitas
menunjukan sediaan gel stabil ditinjau dari parameter pH, daya sebar serta
homogenitas tapi tidak stabil ditinjau dari parameter organoleptik karena terjadi
perubahan warna sediaan gel setelah proses cycling test dan dari parameter
viskositas karena tidak memenuhi syarat nilai viskositas gel setelah cycling test. .
Hasil pengukuran kadar flavonoid total sediaan gel pada formula 3 sebelum
cycling test 5,477% dan setelah cycling test 3,180%.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri yang sering
mengakibatkan penyakit akibat pola makan dan pola hidup yang tidak bersih.
Staphylococcus aureus mengakibatkan penyakit bisul, abses kulit dan infeksi
kulit, sedangkan Escherichia coli dapat mengakibatkan demam, mual dan muntah,
serta diare dengan tingkat keparahan ringan hingga parah, dan bahkan berdarah.
Untuk mencegah terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperlukan sediaan gel yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Rimpang Jahe Emprit (Zingiber
Officinale Rosc) memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui aktivitas ekstrak rimpang jahe untuk menghambat pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Rimpang jahe emprit di
ekstrak menggunakan etanol 96%. Ekstrak kental rimpang jahe emprit dari hasil
ekstraksi didapatkan 56,19 gram lalu dilakukan uji fitokimia, dan hasil uji
fitokimia pada ekstrak rimpang jahe menunjukkan hasil positif untuk alkaloid,
flavonoid, saponin, tanin dan terpen/steroid. Ekstrak kental rimpang jahe emprit
dibuat 4 sediaan gel yaitu : basis, konsentrasi 5%, konsentrasi 10% dan
konsentrasi 15%. Sediaan yang dibuat dilakukan uji stabilitas dengan uji
organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji homogenitas, uji daya sebar dan uji
antibakteri. Uji stabilitas yang dilakukan pada sediaan menggunakan metode
cycling test, metode ini dilakukan dengan cara menyimpan sediaan gel pada suhu
4
oC selama 24 jam lalu dipindahkan ke dalam oven dengan suhu 40oC selama 24
jam. Perlakuan ini disebut dengan 1 siklus , dan dilakukan sebanyak 6 siklus.