BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol adalah lemak yang diproduksi oleh tubuh dan juga berasal
dari makanan hewani. Kolesterol membantu tubuh memproduksi hormon
tertentu, vitamin D, dan asam empedu untuk mencerna lemak. Dalam kadar yang
sesuai dapat membantu membangun sel-sel baru agar tubuh bisa tetap berfungsi
dengan normal. Peningkatan kadar kolesterol dapat menyebabkan penyempitan
pembuluh darah (aterosklerosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kandungan metabolit sekunder dan aktivitasnya pada ekstrak etanol 96% herba
seledri (Apium graveolens) dan daun salam (Syzygium polyanthum) baik tunggal
maupun kombinasi. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi. Pengujian
antikolesterol dilakukan secara in vitro dengan mengunakan metode
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 670 nm Absorbansi yang
diperoleh digunakan untuk menghitung persen inhibisi dan IC50. Kandungan
fitokimia ekstrak etanol herba seledri alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan
fenol. Sedangkan untuk ekstrak etanol daun salam antara lain alkaloid,
flavonoid, saponin, steroid, tanin dan fenol. Hasil penelitian yang diperoleh dari
nilai IC50 ekstrak Tunggal herba seledri sebesar 58,38 ppm dan daun salam
sebesar 99,61 ppm. Sedangkan untuk kombinasi 1:1, 1:3, dan 3:1 ekstrak etanol
tanaman seledri dan daun salam diperoleh nilai IC50 sebesar 78,35 ppm, 140,76
ppm dan 190,57 ppm.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tanaman salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan tanaman
yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Kulit batang salam mengandung
senyawa alkaloid, tanin, tanin dan flavonoid. Alkaloid dapat menghambat aktivitas
enzim lipase pankreas sehingga meningkatkan sekresi lemak melalui feses, tanin
menghambat penyerapan lemak di usus dengan cara bereaksi dengan protein
mukosa dan sel epitel usus sedangkan fenolik dan flavonoid mengurangi kadar
kolesterol dalam darah dengan menghambat kerja enzim HMG-CoA reduktase.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya aktivitas
antikolesterol dari ekstrak kulit batang salam serta membandingkan pelarut mana
yang lebih baik dalam menurunkan kolesterol. Kulit batang salam dibuat ekstrak
secara maserasi menggunakan pelarut air, etanol dan etil asetat. Masing-masing
ekstrak diuji kandungan fitokimia kemudian diukur penurunan kadar kolesterol
dengan dibuat deret konsentrasi 50-150 ppm. Aktivitas penurunan kadar kolesterol
dilakukan dengan menambahkan pereaksi Lieberman-Buchard dan diukur dengan
Spektrofotometer UV-Vis. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak kulit batang
salam mengandung flavonoid, tanin, triterpenoid, saponin dan fenol. Pada
penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak air, etanol dan etil asetat memiliki
aktivitas antikolesterol secara in vitro. Persen penurunan kadar kolesterol pada
konsentrasi paling rendah (50 ppm) yang paling baik yaitu ekstrak etanol dengan
persentase 73,9% dibandingkan dengan ekstrak air sebesar 70,19% dan ekstrak etil
asetat sebesar 68%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol merupakan suatu lemak yang bersifat amfipatik yang memiliki
komponen struktural, senyawa ini banyak berasal dari jaringan KoA, kolesterol
dalam darah dan limfe. Sacha Inchi (Plukenetia volbilis L) dikenal sebagai kacang
inka atau kacang gunung yaitu kacang yang berasal dari hutan tropis amazon. Kadar
kolesterol total dapat dikategorikan normal apabila kolesterol < 200 mg/dl,
menghawatirkan 200-239 mg/dl, tinggi > 240 mg/dl. Identifikasi masalah dari
penelitian ini untuk melihat berapa jumlah konsentrasi ekstrak etanol 96% kacang
sacha inchi yang paling aktif sebagai menurunkan kolesterol secara in vitro . Tujuan
dari penelitian ini untuk memperoleh memperoleh data aktivitas ekstrak etanol 96%
sebagai penghambat kolesterol secara In vitro. Hasil uji kadar air yang didapat yaitu
sebesar 6%. Hasil positif pengujian kandungan fitokimia yang terdapat pada ekstrak
etanol 96% daun sacha inchi yaitu saponin, tanin, dan flavonoid. Hasil pengujian
aktivitas kolesterol ekstrak etanol 96% daun sacha inchi pada panjang gelombang
maksimum 670 nm dan operating time 20 menit dengan konsentrasi 10, 20, 40, 80,
didapatkan hasil nilai % inhibisi tertinggi pada 57,56% dengan IC50 33,43 ppm dan
hasil kontrol positif dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm didapatkan hasil
nilai % inhibisi tertingg yaitu 46,30% dengan IC50 -398,11.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol adalah lemak yang diproduksi oleh tubuh dan juga berasal dari
makanan hewani. Dalam kadar yang sesuai dapat membantu membangun sel-sel baru
agar tubuh bisa tetap berfungsi dengan normal. Peningkatan kadar kolesterol dapat
menyebabkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Untuk menurunkan
kolesterol dalam tubuh bisa menggunakan tanaman tradisional seperti daun sambiloto
(Andrographis paniculata) dan daun salam (Syzygium polyanthum). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kombinasi terbaik infus daun sambiloto dan daun salam
yang memiliki aktivitas antikolesterol yang lebih baik dari infus tunggal. Ekstrak
diperoleh dengan metode infusa. Pengujian antikolesterol dilakukan dengan pereaksi
Lieberman-Burchard secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis
pada λ 670 nm. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam infus daun
sambiloto yaitu Flavonoid dan Tanin sedangkan untuk infus daun salam yaitu
Alkaloid, Flavonoid, Saponin, dan Tanin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Kombinasi infus 3:1 (Sambiloto : Salam) yaitu sebesar 47,16% lebih baik
dibandingkan infus tunggal sambiloto yaitu sebesar 21,87% dan infus tunggal salam
yaitu sebesar 16,15% dan hasil uji Kruskal-Wallis antara infus salam, kombinasi 1:1
dan 1:3 dengan infus sambiloto dan kombinasi 3:1 nilainya berbeda nyata (p-value
0,01 < 0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Asupan makanan dengan kandungan kolesterol tinggi secara teratur dapat
menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Beberapa tumbuhan obat
yang dianggap memiliki khasiat anti kolesterol adalah Syzygium polyantum (Wight)
Walp. Daun salam mengandung metabolit sekunder, antara lain flavonoid, alkaloid,
saponin dan tanin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penghambatan
pembentukan kolesterol, kadar total fenol, flavonoid dan steroid ekstrak daun
salam. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi bertingkat
dengan pelarut n-heksan, etil asetat, etanol 96% dan air dengan metode dekok.
Kemudian dilakukan uji aktivitas dan penapisan fitokimia. Hasil fitokimia
menunjukan bahwa fraksi etanol 96% memiliki aktivitas tinggi dalam
penghambatan pembentukan kolesterol dengan % inhibisi ekstrak etanol 96%
sebesar 56,14%, n-heksan 45,88%, etil asetat 27,51 dan air 30,34%. Hasil IC50
93,94 ppm. Dengan kandungan flavonoid, tannin, saponin serta fenol. Ekstrak
etanol 96% mengandung kadar total fenol sebesar 40,2 mg GAE/g, flavonoid 0,57
mg QE/g dan steroid 368,82 mg/g.