Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

60 hasil
Subjek: Fe
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

"KARAKTERISTIK DAN KADAR ASAM KLOROGENAT DARI KOPI HIJAU JENIS ROBUSTA (Coffea Canephora)"

2025Koleksi Perpustakaan

Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia, karena hasil perkebunan kopinya cukup melimpah dan memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan. Kopi banyak diminati oleh masyarakat Indonesia sebagai minuman yang dikonsumsi setiap hari. Minat masyarakat terhadap minuman kopi semakin tinggi terutama kalangan muda karena salahsatu manfaatnya yaitu mampu membakar lemak dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakteristik dan kandungan asam klorogenat pada kopi hijau jenis robusta yang didapatkan di BALITRO dan di pasaran. Adapun uji yang dilakukan yaitu uji organoleptik, uji kadar air, uji pH, skrining fitokimia, dan penetapan kadar asam klorogenat pada kopi hijau jenis robusta. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu pada uji penentuan kadar air sampel serbuk, biji kopi, dan biji kopi di pasaran berturut-turut sebesar 8,54%, 12,3% dan 10,6%. Pada pengujian skrining fitokimia, senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam sampel antara lain Alkaloid, Saponin, dan Tanin. Pada penetapan kadar asam klorogenat yang terkandung dalam seduhan sampel serbuk, biji kopi, dan biji kopi di pasaran berturut-turut sebesar 3,20%; 0,64%; dan 1,28%. Hasil perbandingan dari ketiga sampel tersebut disimpulkan bahwa seduhan kopi hijau dalam bentuk serbuk memiliki kandungan asam klorogenat paling tinggi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS EKSTRAK BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) TERHADAP PENURUNAN KOLESTEROL PADA MENCIT DENGAN DIET TINGGI LEMAK

2025Koleksi Perpustakaan

Biji kopi robusta merupakan bagian dari tanaman yang memiliki aktivitas sebagai penurun kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder dari ekstrak etanol 96% biji kopi robusta dan menganalisis aktivitas penurunan kadar kolesterol total darah pada mencit putih jantan yang telah di induksi dengan kuning telur puyuh. Ekstrak etanol 96% biji kopi dosis 200 mg/kgBB (P1), 400 mg/kgBB (P2), 600 mg/kgBB (P3), dan simvastatin dosis 0,026 mg/kgBB diberikan pada mencit putih jantan selama 14 hari sebagai kontrol positif. Kadar kolesterol total darah mencit diukur setelah dilakukan perlakuan selama 14 hari. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak biji kopi Robusta mengandung flavonoid, tanin, dan saponin, serta steroid dan terpenoid. Rerata persentase penurunan kadar kolesterol dari kelompok P1, P2, P3, dan kontrol positif yaitu masing-masing sebesar 25,45%, 24,93%, 29,19%, dan 27,80%. Pemberian ekstrak etanol 96% biji kopi selama 14 hari kepada mencit berpotensi untuk menurunkan kadar kolesterol. Penurunan kadar kolesterol dari P2 dan P3 tidak berbeda bermakna dibandingkan kontrol positif. Dosis yang berpotensi paling baik dalam menurunkan kadar kolesterol yaitu 600 mg/kgBB.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

KESESUAIAN TERAPI INFEKSI OPORTUNISTIK PADA PASIEN HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Penyakit infeksi yang menyebabkan kematian salah satunya ialah infeksi yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Apabila sel limfosit T-helper rusak menyebabkan imun tubuh manusia menjadi lemah. Infeksi oportunistik (IO) adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan tubuh. IO dapat menyebabkan kematian lebih dari 90% pasien HIV/AIDS. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian penatalaksanaan terapi infeksi oportunistik pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor periode Januari – Desember 2023. Metode yang digunakan observasional yang bersifat deskriptif, pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Adapun data yang diteliti diantaranya data sosiodemografi (umur dan jenis kelamin), data infeksi oportunistik, data pengobatan, dan penatalaksanaan terapi infeksi oportunistik. Penelitian ini memiliki manfaat untuk lebih mengetahui kesesuaian terapi obat infeksi oportunistik dari penyakit HIV/AIDS. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 130 pasien HIV/AIDS rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor periode Januari - Desember 2023 dapat disimpulkan bahwa pasien HIV/AIDS terbanyak adalah laki-laki 101 pasien (78%) sedangkan perempuan 29 pasien (22%) semua dalam rentang usia 26-35 tahun. Terapi obat infeksi oportunistik yang banyak digunakan oleh pasien HIV/AIDS yaitu antibiotik (56%). Jenis infeksi oportunistik terbanyak adalah Isosporiasis 54 pasien (37,76%), Kandidiasis 50 pasien (34,97%), Toxoplamosis 24 pasien (16,78%) dan Pneumonia 15 pasien (10,49%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN KEJADIAN EFEK SAMPING TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT ISLAM BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pengobatan TB dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan aturan minum obat yang ketat guna mencegah efek samping dan terjadinya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kejadian efek samping terhadap kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis paru. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah penelitian observasional rancangan cross sectional study dengan cara mengumpulkan data primer pada kuesioner. Metode perhitungan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 88 pasien kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian pasien tuberkulosis paru dengan kategori usia terbanyak 36-45 (dewasa akhir) sebanyak 26 pasien (29,55%), jenis kelamin terbanyak pada laki- laki 58 pasien (65,91%), pekerjaan terbanyak pegawai swasta 29 pasien (32,95%), dan pendidikan terbanyak SMA/Sederajat 40 pasien (45,45%). Kejadian efek samping OAT yang paling banyak pada kategori ringan sebanyak 48 responden (54,55%), kejadian kepatuhan minum OAT yang paling banyak yaitu kepatuhan sedang sebanyak 49 responden (55,68%). Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara kejadian efek samping terhadap kepatuhan minum obat anti tuberkulosis (OAT) dengan nilai p-value < 0,05 yaitu 0,019.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT INJEKSI OMEPRAZOLE DAN RANITIDINE BERDASARKAN WAKTU HILANGNYA GEJALA PADA PASIEN DISPEPSIA DI KLINIK AL-BAROKAH CIBINONG

2025Koleksi Perpustakaan

Dispepsia adalah kondisi yang ditandai dengan adanya rasa nyeri atau tidak nyaman di wilayah perut bagian atas atau ulu hati. Dispepsia dapat dipicu oleh gaya hidup, konsumsi makanan, dan faktor psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas penggunaan obat dispepsia berdasarkan waktu hilangnya gejala. Jenis penelitian adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional dengan metode pengambilan data secara prospektif yang bersumber dari data rekam medis pada 162 pasien yang berobat di Klinik Al- Barokah Cibinong periode November 2023-Januari 2024. Data yang diambil dari hasil penelitian ini yaitu data sosiodemografi (jenis kelamin, usia dan pekerjaan), obat injeksi dispepsia (injeksi omeprazole dan injeksi ranitidine), dan waktu hilangnya gejala. Dari hasil penelitian ini penyakit dispepsia terbanyak dialami oleh perempuan 90 pasien (56%), rata-rata usia 26-35 tahun 48 pasien (30%), pekerjaan yaitu Swasta 65 pasien (40%). Gambaran penggunaan obat dispepsia yang terbanyak yaitu menggunakan Injeksi Omeprazole yaitu sebanyak 103 pasien (64%). Waktu hilangnya gejala pada pasien dispepsia yang paling terbanyak yaitu selama 30 menit sebanyak 65 pasien (40%). Dari hasil uji Mann-Whitney diperoleh nilai Asym.Sig. 0,000 (<P-Value 0,05) yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan obat injeksi omeprazole dan injeksi ranitidine terhadap waktu hilangnya gejala pada pasien dispepsia di Klinik Al-Barokah Cibinong.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT BAGIAN ATAS ( ISPAa ) ANAK DI PUSKESMAS KEDUNG BADAK

2025Koleksi Perpustakaan

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari yang bersifat kompleks dan heterogen yang disebabkan oleh berbagai penyebab dan dapat mengenai sepanjang saluran pernafasan. Laporan Tahunan Puskesmas Kedung Badak Tahun 2021 menunjukan ISPA merupakan penyakit yang paling banyak. Pengobatan ISPA sering kali menggunakan antibiotik sehingga memerlukan evaluasi ketepatan pada penggunaan antibiotik untuk ISPA. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA di Puskemas Kedung Badak pada tahun 2021. Penelitian ini dilakukan secara retsrospektif dengan berdasarkan Rekam medis pasien tahun 2021. Hasil Penelitian menunjukan bahwa profil pasien ISPA anak bagian atas di Puskesmas Kedung Badak tahun 2021 berdasarkan karakteristik jenis kelamin terbanyak kategori laki – laki (56%), karakteristik usia terbanyak kategori 0-5 tahun (64%) dan kategori berat badan terbanyak kategori 10 – 15kg (45%). Antibiotik yang digunakan adalah Amoxicillin syrup 125 mg/5 ml (100%). Hasil evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik ISPA anak bagian atas diketahui tepat indikasi (64%), tepat dosis (67%), tepat frekuensi pemberian (100%), dan tepat lama pemberian (8%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP EMBRIO IKAN ZEBRA (Danio rerio)

2025Koleksi Perpustakaan

Daun binahong dan daun sirsak telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional yang bermanfaat membantu pengobatan penyakit sepeti demam, antiinflamasi dan kanker. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui toksisitas, mendapatkan nilai LC50 dari ekstrak etanol 96% daun binahong dan daun sirsak serta kombinasinya, dengan menggunakan metode Zebra Fish Embryo Test (ZFET) dan uji Skrining fitokimia untuk mengetahui adanya senyawa aktif alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan triterpenoid. Pada hasil uji skrining fitokimia menunjukkan daun binahong mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin, sedangkan pada daun sirsak memiliki senyawa aktif alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan tanin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun binahong mempunyai nilai LC50 sebesar 328,144 ppm dengan kategori toksik sedang, pada ekstrak etanol 96% daun sirsak mempunyai nilai LC50 sebesar 0,0050 ppm kategori sangat toksik dan nilai LC50 untuk kombinasi ekstrak etanol 96% daun binahong dan daun sirsak menggunakan perbandingan 1:1, 1:3 dan 3:1 diperoleh nilai LC50 berturut-turut sebesar 4,0891 ppm, 3,4561 ppm dan 82,2403 ppm dengan kategori sangat toksik. Berdasarkan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kelima sampel tersebut memiliki potensi sebagai anti kanker.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSON PADA PASIEN TIFOID DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA CISALAK

2025Koleksi Perpustakaan

Tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Hingga saat ini tifoid masih menjadi masalah kesehatan di Negara-negara tropis termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan dampak negatif seperti masalah resistensi dan potensi terjadinya kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan antibiotik seftriakson pada pasien tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan di analisis secara deskriptif dengan data sekunder dari rekam medis pasien. Dari sampel 86 pasien dewasa tifoid menunjukkan bahwa pasien laki-laki sebesar 28% dan perempuan sebesar 72%, jumlah pasien tertinggi berada pada rentang usia 17-25 tahun sebesar 30%. Efektifitas seftriakson dilihat dari lama perawatan 1-3 hari sebesar 87% berdasarkan dua parameter penurunan suhu tubuh dan penurunan kadar leukosit. Kesimpulan yang diperoleh penggunaan antibiotik seftriakson pada tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak sudah efektif.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PENDERITA ISPA NON PNEUMONIADI PUSKESMAS SIMPENAN KABUPATEN SUKABUMI

2025Koleksi Perpustakaan

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. ISPA merupakan suatu penyakit menular yang dapat menyerang semua umur dan masih menjadi masalah kesehatan baik di negara maju maupun negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketepatan obat berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan tepat frekuensi, pada pasien di Puskesmas Simpenan Kabupaten Sukabumi. Data yang digunakan adalah data rekam medik, dengan data yang diambil meliputi nama, usia, nomor rekam medik, jenis kelamin dan jenis obat yang digunakan pada pasien ISPA periode September- Desember 2022. Data dianalisis secara deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Sampel yang diambil sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan data sosiodemografi jenis kelamin terbanyak adalah perempuan dengan persentase 51%, kemudian klasifikasi usia terbanyak yaitu pada usia 0-5 tahun dengan persentase 43%. Distribusi pasien ISPA berdasarkan diagnosis terbanyak yaitu faringitis dengan persentase 66,7%. Evaluasi ketepatan pengobatan berdasarkan tepat indikasi diperoleh hasil sebanyak 100%, pada tepat obat sebanyak 97,8%, pada tepat dosis diperoleh sebanyak 97,8%, dan tepat frekuensi sebanyak 100%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KUALITAS SPERMA PADA PRIA INFERTILITAS SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN N- ACETYLSISTEIN DI KLINIK X

2025Koleksi Perpustakaan

Infertilitas merupakan gangguan kesehatan reproduksi. Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan menghasilkan konsepsi setelah hubungan teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi setelah satu tahun. Sebanyak 30% penyebab pria infertilitas adalah kualitas spermatozoa yang abnormal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas sperma pria infertil sebelum dan sesudah menggunakan N-Acetylsistein. Desain penelitian retrospektif observational pada pasien infertil di klinik X pada periode Januari- Oktober 2019 dan diolah dengan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien pria infertilitas yang menggunakan NAC mayoritas pada rentang usia dewasa awal 26-35 tahun sebanyak 67%. Gambaran kualitas sperma pada parameter makroskopis sebelum dan sesudah NAC meliputi warna semen, bau, dan viskositas didapatkan hasil normal 100% dengan warna putih keruh, bau yang khas dan viskositas pada rentang 1.0 – 5.0.Pemeriksaan pH normal 90% rentang pH 7,2 – 7,8. Hasil pemeriksaan Volume menunjukan nilai normal sebesar 85% volume diatas 2ml. Gambaran mikroskopis meliputi total sperma yang diperoleh sebelum terapi NAC normal 37% dan sesudah normal 7%, total sperma bergerak sebelum terapi NAC normal 55% dan sesudah normal 5%, pada total sperma tidak bergerak sebelum diterapi NAC normal 47% dan sesudah normal 90%. Tidak terdapat perbedaan bermakna sebelum dan sesudah terapi NAC pada parameter makroskopik dengan p value > 0,05 dan terdapat perbedaan pada parameter mikroskopik dengan p value < 0,05.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI KLINIK DERA AS-SYIFA KABUPATEN BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Infeksi saluran pernafasan merupakan salah satu penyakit menular utama yang menyebabkan kesakitan dan kematian di seluruh dunia (Firda, 2018). Infeksi ISPA merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dan menurut data RISKEDAS pada tahun 2018, total terdapat 1.017290 orang yang terinfeksi ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk melihat data sosiodemografi pasien , mengetahui jenis antibiotik dan ketetapan penggunaan antibiotik berdasarka Pharmaceutical Care 2005 di Klinik Dera As-Syifa periode Januari - Maret 2023. Metode pengumpulan data adalah observasi pengumpulan data secara retrospektif terhadap seluruh data resep pasien dewasa awal dan dewasa akhir yang mendapatkan antibiotik selama periode pengambilan data di Klinik Dera As-Syifa. Dari penelitian ini diperoleh data pasien yang terdiagnosis ISPA dari resep sebanyak 86 pasien yang menjalani pengobatan di Klinik Dera As-Syifa periode Januari- Maret 2023 yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil Penelitia menyimpulkan gambaran data sosiodemografi pasien ISPA di Klinik Dera As-Syifa paling banyak yang berjenis dengan jumlah laki-laki 49 pasien ( 57%), kemudian sosiodemografi usia 36-45 tahun berjumlah 44 pasien . Penggunaan antibiotik yang paling banyak dipakai yakni antibiotik Cefadroxil 51 orang (59%) dari pada antibiotik Ciprofloxacin 20 orang (23%) dan Amoxycillin 15 orang (18%). Ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA: benar pasien hingga 100%, benar indikasi hingga 100%, benar dosis hingga 100%, benar agen hingga 100%, benar frekuensi hingga 100%, dan salah Evaluasi jangka waktunya. Hingga 100% manajemen.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBEDAAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT AMLODIPIN DAN CAPTOPRIL PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS SUKALARANG SUKABUMI

2025Koleksi Perpustakaan

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal yaitu ≥140/90 mmHg. Tujuan dari penelitian ini untuk pengetahui gambaran data sosiodemografi, gambaran jenis obat antihipertensi, efektivitas serta perbedaan efektivitas Amlodipin dan Captoprilpada pasien hipertensi di Puskesmas Sukalarang Sukabumi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif, yaitu penelitian yang didasarkan pada informasi dari berkas pasien yang diperoleh dengan mengolah kejadian sebelumnya. Data yang diambil dari rekam medis dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan pasien hipertensi terbanyak perempuan sebesar 71% dengan rentang usia terbanyak 20-60 tahun sebesar 74%. Penggunaan obat antihipertensi terbanyak amlodipin 62%. Untuk hasil perbedaan Efektifitas menggunakan uji SPSS Mann-Whitney hasilnya Amlodipin lebih efektif memiliki rata-rata penurunan TD sistolik/diastolik sebesar 34,67/7,00 mmHg sedangkan rata-rata penurunan TD sistolik/diastolik obat Captopril sebesar 23,94/7,10 mmHg. Dengan nilai sig amlodipin dan Captopril Ƿ <0.05 yang berarti terdapat perbedaan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik/diastolik pada penggunaan obat Amlodipin dan obat Captopril.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

FORMULASI DAN STABILITAS GRANUL EFFERVESCENT EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb) SEBAGAI ANTIOKSIDAN

2025Koleksi Perpustakaan

Sediaan granul effervescent yaitu kombinasi senyawa asam dan basa jika ditambahkan air (H2O) bereaksi melepaskan karbondioksida (CO2) menjadi buih, mudah dikonsumsi, larut dalam air dan menyegarkan. Temulawak (Curcuma xanthorriza. Roxb) dibuat simplisia dan diperoleh kadar air 3,268%. Maserasi 250 gram simplisia dengan 2500 mL etanol 96%. Ekstrak kental 27,59 gram, rendemen 11,036%, mengandung senyawa kimia alkaloid pereaksi wagner, flavonoid, dan terpenoid. Granul effervescent dibuat dengan granulasi basah. Formulasi ke 3 masuk dalam karakteristik serta stabil pada suhu penyimpanan. Aktivitas antioksidan minggu ke-0 suhu 4 ̊,28 ̊, dan 40 ̊ nilai IC50 sebesar 2,396 ppm kategori sangat kuat. Minggu ke-4 IC50 meningkat, suhu 4 ̊C sebesar 5,071 ppm, suhu 28 ̊C sebesar 6,509 ppm, suhu 40 ̊C sebesar 6,098 ppm kategori sangat kuat. Kadar air granul suhu 4 ̊C dan 28 ̊C masuk kriteria 5-6%, suhu 40 ̊C melebihi kriteria, waktu alir antara 4-5 detik dan sudut istirahat antara 25°-30°, waktu larut 2-5 menit dengan pH 5-7.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISA EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT PREGABALIN DAN GABAPENTIN PADA PASIEN NEUROPATI DIABETIK DI INSTALASI RAWAT JALAN RS. BMC MAYAPADA BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi kronis yang paling sering ditemukan pada penderita diabetes melitus. Neuropati diabetik terjadi karena hiperglikemia serta dapat melukai saraf di seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi, gambaran nyeri neuropati, lokasi nyeri dan perbedaan efektivitas penggunaan obat pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik di instalasi rawat jalan RS BMC Mayapada Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan pengambilan data primer menggunakan kuesioner Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numerical Rating Scale for Pain (NRS Pain), data sekunder diambil dari data rekam medis yaitu no. RM, profil penyakit dan awal peresepan pregabalin dan gabapentin. Kemudian data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan hasil disajikan dengan bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada penggunaan pregabalin didapatkan penurunan skala nyeri dengan rata-rata sebesar 0,87 dan pada penggunaan gabapentin didapatkan penurunan rata-rata sebesar 0,78. Pada hasil ujistatistik U-Mann-Whitney nilai P-value = 0,000 (p<0,05), hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan efektivitas pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik selama 2 minggu.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS BEBAN KERJA PETUGAS FARMASI DAN INSIDEN PATIENT SAFETY DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA BHAKTI PRATIWI

2025Koleksi Perpustakaan

Insiden keselamatan pasien di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi dapat terjadi karena beban kerja yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beban kerja petugas farmasi yang dapat mengakibatkan insiden di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi. Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan total sampling. Alat ukur berupa data sekunder yaitu menggunakan dokumen Sumber Daya Manusia dan dokumen Komite Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi. Data dianalisis menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes). Hasil penelitian menunjukan kebutuhan petugas farmasi di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi berdasarkan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes) diperoleh hasil kebutuhan yaitu 19 orang sedangkan petugas yang tersedia yaitu 14 orang. Hasil penelitian patient safety Kejadian Nyaris Cedera (KNC) terjadi sebanyak 2 insiden dan Kejadian Potensial Cedera (KPC) terjadi sebanyak 1 insiden.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI EFEKTIVITAS PENERAPAN CLINICAL PATHWAY TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER (DHF) RAWAT INAP DI RS X BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Infeksi Dengue merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue pada manusia. DHF ditandai dengan adanya kebocoran plasma seperti peningkatan hematokrit, efusi pleura, hipoalbuminemia (Kemenkes, 2020). Clinical pathway digunakan sebagai kendali mutu dan biaya dalam pelayanan kesehatan yang dapat dilihat dari rata-rata lama rawat dan outcomes terapi. Kasus DHF masuk dalam daftar 10 besar penyakit rawat inap di RS X Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan rata-rata lama rawat dan outcomes terapi pasien DHF antara sebelum dan setelah clinical pathway. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif observasional rancangan penelitian cross sectional, data dikumpulkan secara retrospektif menggunakan catatan rekam medis. Persentase terbesar pasien DHF rawat inap mendapatkan masa pengobatan cepat atau lama rawat 5 hari, sebanyak 51 pasien (70%) dengan mean 4,68 hari pada tahun 2017 dan 61 pasien (67%) dengan mean 3,75 hari pada tahun 2018. Persentase outcomes terapi terbesar pasien DHF rawat inap adalah sembuh sebanyak 38 pasien (52%) pada tahun 2017 dan 45 pasien (62%) pada tahun 2018. Hasil ujistatistik lama rawat yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,051), uji statistik outcomes terapi yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,244), tidak terdapat perbedaan bermakna antara sebelum dengan sesudah clinical pathway pada kedua kategori.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SEMAX DAN CITICOLINE SEBAGAI NEUROPROTEKTOR PADA PASIEN STROKE DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR DENGAN METODE GLASGLOW COMA SCALE

2025Koleksi Perpustakaan

Dampak yang dapat terjadi pada pasien stroke salah satunya adalah terjadinya kerusakan neurologis. Semax dan Citicoline merupakan neuroprotektor yang dapat memperbaiki kerusakan otak dan meningkatkan kemampuan kognisi serta memori pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas penggunaaan Semax dan Citicoline pada pasien stroke menggunakan parameter nilai GCS (Glasglow Coma Scale) di Rumah Sakit PMI Bogor. Desain penelitian adalah penelitian deskriptif bersifat observasional yang dilakukan dengan pendekatan restropektif dari data Rekam Medik pasien stroke periode Juli – Desember 2019 dengan sampel sebanyak 64 sampel. Hasil penelitian menunjukan profil pasien terbanyak berdasarkan jenis kelamin laki-laki 38 pasien (59.38%), usia 46-59 tahun 26 pasien (40,63%). Lama perawatan lebih dari 5 hari 21 pasien (65.63%) menggunakan Semax dan kurang dari 5 hari 20 pasien (62.50%) menggunakan Citicoline. Profil penggunaan neuroprotektor terdapat 32 pasien (50%) menggunakan Semax dan 32 pasien (50%) menggunakan Citicoline. Hasil gambaran efektivitas penggunaan berdasarkan seilisih nilai GCS (Glasglow Coma Scale) menunjukan Semax (29.89%) dan Citicoline (10.90%). Hasil analisis statistik untuk mengetahui selisih perbedaan nilai GCS (Glasglow Coma Scale) awal dan akhir terapi pada Semax dan Citicoline dengan uji Wilcoxon diperoleh hasil bahwa ada perbedaan bermakna pada efek perbaikan neurologis antara terapi Semax dan Citicoline dengan nilai 0.000 (P<0.05). Hasil analisis statistik untuk mengetahui persentase kenaikan nilai GCS (Glasglow Coma Scale) pada terapi Semax dan Citicoline diperoleh hasil bahwa ada perbedaan menggunakan terapi Semax lebih efektif (35.89%) sebagai neuroprotektor dan menggunakan terapi Citicoline (13.72%) yang dikuatkan dengan analisis statistik dengan uji Mann Withney dimana ada perbedaan bermakna antara terapi Semax dan Citicoline dengan nilai 0.000 (P<0.05).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS BEBAN KERJA PETUGAS FARMASI DAN INSIDEN PATIENT SAFETY DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA BHAKTI PRATIWI

2024Koleksi Perpustakaan

Insiden keselamatan pasien di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi dapat terjadi karena beban kerja yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beban kerja petugas farmasi yang dapat mengakibatkan insiden di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi. Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan total sampling. Alat ukur berupa data sekunder yaitu menggunakan dokumen Sumber Daya Manusia dan dokumen Komite Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi. Data dianalisis menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes). Hasil penelitian menunjukan kebutuhan petugas farmasi di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi berdasarkan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes) diperoleh hasil kebutuhan yaitu 19 orang sedangkan petugas yang tersedia yaitu 14 orang. Hasil penelitian patient safety Kejadian Nyaris Cedera (KNC) terjadi sebanyak 2 insiden dan Kejadian Potensial Cedera (KPC) terjadi sebanyak 1 insiden.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI EFEKTIVITAS PENERAPAN CLINICAL PATHWAY TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER (DHF) RAWAT INAP DI RS X BOGOR

2024Koleksi Perpustakaan

Infeksi Dengue merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue pada manusia. DHF ditandai dengan adanya kebocoran plasma seperti peningkatan hematokrit, efusi pleura, hipoalbuminemia (Kemenkes, 2020). Clinical pathway digunakan sebagai kendali mutu dan biaya dalam pelayanan kesehatan yang dapat dilihat dari rata-rata lama rawat dan outcomes terapi. Kasus DHF masuk dalam daftar 10 besar penyakit rawat inap di RS X Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan rata-rata lama rawat dan outcomes terapi pasien DHF antara sebelum dan setelah clinical pathway. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif observasional rancangan penelitian cross sectional, data dikumpulkan secara retrospektif menggunakan catatan rekam medis. Persentase terbesar pasien DHF rawat inap mendapatkan masa pengobatan cepat atau lama rawat 5 hari, sebanyak 51 pasien (70%) dengan mean 4,68 hari pada tahun 2017 dan 61 pasien (67%) dengan mean 3,75 hari pada tahun 2018. Persentase outcomes terapi terbesar pasien DHF rawat inap adalah sembuh sebanyak 38 pasien (52%) pada tahun 2017 dan 45 pasien (62%) pada tahun 2018. Hasil ujistatistik lama rawat yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,051), uji statistik outcomes terapi yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,244), tidak terdapat perbedaan bermakna antara sebelum dengan sesudah clinical pathway pada kedua kategori.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN DARAH ANTARA OBAT AMLODIPIN DAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS CURUG JASINGA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan suatu penyakit degeneratif ditandai dengan terjadinya peningkatan sistolik di atas 140 dan atau diastolik di atas 90 mmHg. Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah. Salah satu pengobatan yang digunakan adalah Amlodipin dan Captopril. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien hipertensi, gambaran penggunaan obat antihipertensi, gambaran penurunan tekanan darah dan untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah dari kedua jenis obat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non observasional dengan pendekatan cross sectional, pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data sekunder berupa data dari rekam medis pasien hipertensi di Puskesmas Curug Jasinga Bogor periode Februari – April 2022. Sampel yang diambil sebanyak 92 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan data sosiodemografi terbanyak terjadi pada rentang usia 46–55 tahun (40,22%), dengan jenis kelamin terbanyak pada perempuan (72,83%), dan kelompok pekerjaan terbanyak pada ibu rumah tangga (52,17%). Obat yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin (51,09%). Pada penggunaan Amlodipin didapatkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 25,5 mmHg dan diastolik 17,4 mmHg sedangkan pada penggunaan Captopril rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 11,7 mmHg dan diastolik 8,6 mmHg. Pada uji Mann- whitney didapatkan nilai P-value 0,000 < 0,05 artinya terdapat perbedaan yang nyata penurunan tekanan darah antara Amlodipin dan Captopril.

Hipertensi merupakan suatu penyakit degeneratif ditandai dengan terjadinya peningkatan sistolik di atas 140 dan atau diastolik di atas 90 mmHg. Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah. Salah satu pengobatan yang digunakan adalah Amlodipin dan Captopril. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien hipertensigambaran penggunaan obat antihipertensigambaran penurunan tekanan darah dan untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah dari kedua jenis obat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non observasional dengan pendekatan cross sectionalpengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data sekunder berupa data dari rekam medis pasien hipertensi di Puskesmas Curug Jasinga Bogor periode Februari – April 2022. Sampel yang diambil sebanyak 92 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan data sosiodemografi terbanyak terjadi pada rentang usia 46–55 tahun (4022%)dengan jenis kelamin terbanyak pada perempuan (7283%)dan kelompok pekerjaan terbanyak pada ibu rumah tangga (5217%). Obat yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin (5109%). Pada penggunaan Amlodipin didapatkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 255 mmHg dan diastolik 174 mmHg sedangkan pada penggunaan Captopril rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 117 mmHg dan diastolik 86 mmHg. Pada uji Mann- whitney didapatkan nilai P-value 0000 < 005 artinya terdapat perbedaan yang nyata penurunan tekanan darah antara Amlodipin dan Captopril.
1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail