BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Hingga saat ini tifoid masih menjadi masalah kesehatan di Negara-negara tropis termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan dampak negatif seperti masalah resistensi dan potensi terjadinya kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan antibiotik seftriakson pada pasien tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan di analisis secara deskriptif dengan data sekunder dari rekam medis pasien. Dari sampel 86 pasien dewasa tifoid menunjukkan bahwa pasien laki-laki sebesar 28% dan perempuan sebesar 72%, jumlah pasien tertinggi berada pada rentang usia 17-25 tahun sebesar 30%. Efektifitas seftriakson dilihat dari lama perawatan 1-3 hari sebesar 87% berdasarkan dua parameter penurunan suhu tubuh dan penurunan kadar leukosit. Kesimpulan yang diperoleh penggunaan antibiotik seftriakson pada tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak sudah efektif.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan
hiperglikemia dimana tubuh menjadi resisten tehadap insulin. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien, gambaran obat yang digunakan
pasien, gambaran perubahan kadar gula darah dan perbedaan efektivitas obat
antidiabetes berdasarkan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu (GDS) pada
pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kota Bogor. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif menggunakan data yang diambil secara retrospektif dilakukan
pengamatan melalui sumber data rekam medik. Penelitian ini dilakukan terhadap 80
pasien penderita Diabetes Melitus Tipe 2 tanpa penyakit penyerta menggunakan
metode purposive sampling. Hasil penelitian ini diperoleh data sosiodemografi paling
tinggi pada jenis kelamin perempuan sebanyak 55 pasien (68,8%), pada usia 56-65
tahun sebanyak 34 pasien (42,%), dan berdasarkan pekerjaan adalah Ibu Rumah
Tangga yaitu sebanyak 25 pasien (31,3%). Penggunaan obat tertinggi pada penelitian
ini obat antidiabetes metformin sebanyak 55 pasien (68,75%) dan obat antidiabetes
yang menurunkan kadar glukosa darah sewaktu adalah obat metformin sebanyak 23
pasien (28,75%). Perbandingan efektifitas obat menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan efektifitas yang signifikan antara pemberian obat antidiabetes melitus
terhadap penurunan kadar glukosa darah sewaktu di RSUD Kota Bogor Periode
Tahun 2021 berdasarkan uji Kruskal wallis dengan nilai signifikasi >0,05 yaitu 0,757.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Hipertensi merupakan gangguan metabolisme
yang ditandai dengan hiperglikemia dimana tubuh menjadi resisten terhadap
insulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien,
gambaran penggunaan obat, dan perbedaan efektivitas penggunaan obat
antidiabetik berdasarkan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (GDP)
pada pasien DM tipe 2 Puskesmas Pulo Armyn. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif.
Penelitian ini dilakukan terhadap profil 80 pasien penderita Diabetes Melitus Tipe
2 dengan penyakit penyerta hipertensi menggunakan metode total sampling. Hasil
penelitian ini memiliki data sosiodemografi paling banyak pada usia 56 – 65
tahun sebanyak 32 pasien (40%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 52 pasien
(65%). Penggunan obat terbanyak merupakan Obat Antidiabetik metformin
sebanyak 44 pasien (55%). Perbandingan efektifitas obat menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan bermakna dari penggunaan obat antidiabetik oral tunggal
metformin dengan kombinasi metformin dengan glimepiride pada pasien Diabetes
Melitus Tipe 2 di Puskesmas Pulo Armyn periode Oktober - Desember 2021,
berdasarkan analisis Mann – Whitney dengan (p = 0,278).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
DM tipe 2 merupakan merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan
hiperglikemia dimana tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien, gambaran penggunaan obat,
dan perbedaan efektivitas penggunaan obat antidiabetik berdasarkan hasil
pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (GDP) pada pasien DM tipe 2 Puskesmas
Bogor Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dan
pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Penelitian dilakukan dari bulan
Oktober - Desember 2021 di Puskesmas Bogor Selatan. Penelitian dilakukan
terhadap 70 pasien penderita diabetes melitus tipe 2 menggunakan metode total
sampling. Hasil penelitian ini memiliki data sosiodemografi paling tinggi pada
usia 56 – 65 tahun sebanyak 29 pasien (41,4%), berjenis kelamin perempuan
sebanyak 38 pasien (54,3%), DM tipe 2 dengan hipertensi sebanyak 38 pasien
(54,3%). Penggunan obat tertinggi merupakan OAT metformin sebanyak 38
pasien (54,3%). Perbandingan efektifitas obat menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan bermakna dari efektivitas penggunaan obat antidiabetik oral tunggal
metformin dengan kombinasi metformin dengan glimepirid pada pasien DM tipe
2 di Puskesmas Bogor Selatan periode Oktober - Desember 2021 (p = 0,521).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Penyakit ISPA merupakan suatu masalah kesehatan utama di indonesia
yang disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur. Obat yang digunakan dalam
menanggulangi ISPA dengan penggunaan antibiotik.Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran karakteristik pasien, pola terapi, dan evaluasi efektifitas
penggunaan antibiotik untuk pasien rawat jalan ISPA di Puskesmas Nanggung.
Data pasien rawat jalan ISPA diperoleh dari data rekam medis pasien rawat jalan
sebanyak 100 pasien. Hasil penelitian dari sosiodemografi pasien berdasarkan
jenis kelamin laki-laki sebanyak 45 pasien (45%) dan perempuan sebanyak 55
pasien (55%). Pasien ISPA berdasarkan usia yang lebih besar adalah pasien Balita
sebanyak 60 pasien (60%). Pola terapi yang digunakan pada pasien ISPA
Amoxicillin 75 (75%), Cotrimoxazole 25 (25%). Efektifitas penggunaan
antibiotik yang lebih efektif dalam pengobatan ISPA adalah penggunaan obat
antibiotik Amoxicillin yaitu sebanyak 74 (74%). Dari hasil uji Chi-Square P sig
0,000 menunjukan bahwa adannya hubungan yang signifikan antara efektifitas
terhadap penggunaan antibiotik Amoxicillin dan Cotrimoxazole