Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

12 hasil
Subjek: efektivitas
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT INJEKSI OMEPRAZOLE DAN RANITIDINE BERDASARKAN WAKTU HILANGNYA GEJALA PADA PASIEN DISPEPSIA DI KLINIK AL-BAROKAH CIBINONG

2025Koleksi Perpustakaan

Dispepsia adalah kondisi yang ditandai dengan adanya rasa nyeri atau tidak nyaman di wilayah perut bagian atas atau ulu hati. Dispepsia dapat dipicu oleh gaya hidup, konsumsi makanan, dan faktor psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas penggunaan obat dispepsia berdasarkan waktu hilangnya gejala. Jenis penelitian adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional dengan metode pengambilan data secara prospektif yang bersumber dari data rekam medis pada 162 pasien yang berobat di Klinik Al- Barokah Cibinong periode November 2023-Januari 2024. Data yang diambil dari hasil penelitian ini yaitu data sosiodemografi (jenis kelamin, usia dan pekerjaan), obat injeksi dispepsia (injeksi omeprazole dan injeksi ranitidine), dan waktu hilangnya gejala. Dari hasil penelitian ini penyakit dispepsia terbanyak dialami oleh perempuan 90 pasien (56%), rata-rata usia 26-35 tahun 48 pasien (30%), pekerjaan yaitu Swasta 65 pasien (40%). Gambaran penggunaan obat dispepsia yang terbanyak yaitu menggunakan Injeksi Omeprazole yaitu sebanyak 103 pasien (64%). Waktu hilangnya gejala pada pasien dispepsia yang paling terbanyak yaitu selama 30 menit sebanyak 65 pasien (40%). Dari hasil uji Mann-Whitney diperoleh nilai Asym.Sig. 0,000 (<P-Value 0,05) yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan obat injeksi omeprazole dan injeksi ranitidine terhadap waktu hilangnya gejala pada pasien dispepsia di Klinik Al-Barokah Cibinong.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBEDAAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT AMLODIPIN DAN CAPTOPRIL PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS SUKALARANG SUKABUMI

2025Koleksi Perpustakaan

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal yaitu ≥140/90 mmHg. Tujuan dari penelitian ini untuk pengetahui gambaran data sosiodemografi, gambaran jenis obat antihipertensi, efektivitas serta perbedaan efektivitas Amlodipin dan Captoprilpada pasien hipertensi di Puskesmas Sukalarang Sukabumi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif, yaitu penelitian yang didasarkan pada informasi dari berkas pasien yang diperoleh dengan mengolah kejadian sebelumnya. Data yang diambil dari rekam medis dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan pasien hipertensi terbanyak perempuan sebesar 71% dengan rentang usia terbanyak 20-60 tahun sebesar 74%. Penggunaan obat antihipertensi terbanyak amlodipin 62%. Untuk hasil perbedaan Efektifitas menggunakan uji SPSS Mann-Whitney hasilnya Amlodipin lebih efektif memiliki rata-rata penurunan TD sistolik/diastolik sebesar 34,67/7,00 mmHg sedangkan rata-rata penurunan TD sistolik/diastolik obat Captopril sebesar 23,94/7,10 mmHg. Dengan nilai sig amlodipin dan Captopril Ƿ <0.05 yang berarti terdapat perbedaan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik/diastolik pada penggunaan obat Amlodipin dan obat Captopril.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISA EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT PREGABALIN DAN GABAPENTIN PADA PASIEN NEUROPATI DIABETIK DI INSTALASI RAWAT JALAN RS. BMC MAYAPADA BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi kronis yang paling sering ditemukan pada penderita diabetes melitus. Neuropati diabetik terjadi karena hiperglikemia serta dapat melukai saraf di seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi, gambaran nyeri neuropati, lokasi nyeri dan perbedaan efektivitas penggunaan obat pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik di instalasi rawat jalan RS BMC Mayapada Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan pengambilan data primer menggunakan kuesioner Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numerical Rating Scale for Pain (NRS Pain), data sekunder diambil dari data rekam medis yaitu no. RM, profil penyakit dan awal peresepan pregabalin dan gabapentin. Kemudian data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan hasil disajikan dengan bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada penggunaan pregabalin didapatkan penurunan skala nyeri dengan rata-rata sebesar 0,87 dan pada penggunaan gabapentin didapatkan penurunan rata-rata sebesar 0,78. Pada hasil ujistatistik U-Mann-Whitney nilai P-value = 0,000 (p<0,05), hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan efektivitas pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik selama 2 minggu.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SEMAX DAN CITICOLINE SEBAGAI NEUROPROTEKTOR PADA PASIEN STROKE DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR DENGAN METODE GLASGLOW COMA SCALE

2025Koleksi Perpustakaan

Dampak yang dapat terjadi pada pasien stroke salah satunya adalah terjadinya kerusakan neurologis. Semax dan Citicoline merupakan neuroprotektor yang dapat memperbaiki kerusakan otak dan meningkatkan kemampuan kognisi serta memori pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas penggunaaan Semax dan Citicoline pada pasien stroke menggunakan parameter nilai GCS (Glasglow Coma Scale) di Rumah Sakit PMI Bogor. Desain penelitian adalah penelitian deskriptif bersifat observasional yang dilakukan dengan pendekatan restropektif dari data Rekam Medik pasien stroke periode Juli – Desember 2019 dengan sampel sebanyak 64 sampel. Hasil penelitian menunjukan profil pasien terbanyak berdasarkan jenis kelamin laki-laki 38 pasien (59.38%), usia 46-59 tahun 26 pasien (40,63%). Lama perawatan lebih dari 5 hari 21 pasien (65.63%) menggunakan Semax dan kurang dari 5 hari 20 pasien (62.50%) menggunakan Citicoline. Profil penggunaan neuroprotektor terdapat 32 pasien (50%) menggunakan Semax dan 32 pasien (50%) menggunakan Citicoline. Hasil gambaran efektivitas penggunaan berdasarkan seilisih nilai GCS (Glasglow Coma Scale) menunjukan Semax (29.89%) dan Citicoline (10.90%). Hasil analisis statistik untuk mengetahui selisih perbedaan nilai GCS (Glasglow Coma Scale) awal dan akhir terapi pada Semax dan Citicoline dengan uji Wilcoxon diperoleh hasil bahwa ada perbedaan bermakna pada efek perbaikan neurologis antara terapi Semax dan Citicoline dengan nilai 0.000 (P<0.05). Hasil analisis statistik untuk mengetahui persentase kenaikan nilai GCS (Glasglow Coma Scale) pada terapi Semax dan Citicoline diperoleh hasil bahwa ada perbedaan menggunakan terapi Semax lebih efektif (35.89%) sebagai neuroprotektor dan menggunakan terapi Citicoline (13.72%) yang dikuatkan dengan analisis statistik dengan uji Mann Withney dimana ada perbedaan bermakna antara terapi Semax dan Citicoline dengan nilai 0.000 (P<0.05).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TIMOLOL DAN KOMBINASI TIMOLOL-LATANOPROST PADA PASIEN GLAUKOMA SUDUT TERBUKA DI KLINIK MATA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Glaukoma adalah penyakit mata akibat kerusakan saraf mata dan dapat menyempitkan lapang pandang serta hilangnya fungsi penglihatan. Faktorpenyebab utama glaukoma adalah peningkatan tekanan intraokular (TIO) pada mata. Timolol dan Latanoprost adalah obat yang sering digunakan dalam terapi penyakit ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan efektivitas obat Timolol dan Timolol-Latanoprost. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif selama 1 tahun dengan menggunakan data rekam medis pada pasien glaukoma sudut terbuka. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah 78 orang. Data dianalisis dengan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien rentang usia paling banyak pada penggunaan obat Timolol dan kombinasi Timolol-Latanoprost usia 56-65 tahun sebanyak 14 pasien (36%), jenis kelamin paling banyak yaitu perempuan sebanyak 20 pasien (51%) pada obat Timolol dan sebanyak 21 pasien (54%) pada obat Timolol-Latanoprost. Gambaran rata-rata perubahan penurunan TIO pada obat Timolol 29,3% dan kombinasi Timolol-Latanoprost 32,7%. Gambaran efektivitas Timolol 67% dan obat kombinasi Timolol-Latanoprost 62%, sehingga tidak ada perbedaan efektivitas antara obat Timolol dan kombinasi Timolol-Latanoprost dengan nilai P-value > (P- value = 0,639).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT PANTOPRAZOLE DAN OMEPRAZOLE PADA PASIEN DISPEPSIA INSTALASI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Dispepsia merupakan suatu sindroma berupa nyeri atau rasa tidak nyaman pada ulu hati, mual, kembung, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, dan perut merasa penuh. Obat golongan Penghambat Pompa Proton menjadi salah satu obat yang paling umum diresepkan di RS PMI Bogor, yaitu Omeprazole dan Pantoprazole. Golongan obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim H + /K+ - ATPase yang ada di dinding lambung, sehingga produksi asam lambung bisa berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif dalam penggunaan obat Omeprazole dan Pantoprazole. Penelitian ini menggunakan metode Cross Sectional terhadap data sekunder pengambilan data secara Retrospektif dan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling data diambil dari rekam medik pasien dispepsia dengan total 80 pasien. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu pasien dispepsia instalasi rawat inap di RS PMI Bogor yang terbanyak berjenis kelamin perempuan yaitu 50 pasien (62,50%), dengan pasien rentang usia terbanyak 46-55 tahun yaitu 25 pasien (31,25%) dan pasien yang mengalami hilang gejala dengan menggunakan omeprazole lebih banyak yaitu 39 pasien (55,71%) yang berarti lebih efektif dibandingkan pasien yang menggunakan pantoprazole hanya 31 pasien (44,29%). Hubungan dapat dilihat dari hasil analisis statistik menggunakan Chi Square yang menunjukkan bahwa p< 0,05 dengan nilai signifikasi 0,001 yang berarti adanya hubungan antara penggunaan obat dengan efektivitas.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS AMLODIPIN DAN CAPTOPRIL TERHADAP TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS PARUNG

2023Koleksi Perpustakaan

Hipertensi ditandai dengan pengukuran tekanan darah yang menunjukan tekanan sistolik sebesar > 140 mmHg dan tekanan diastolik sebesar > 90 mmHg. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan efektivitas obat Amlodipin dan Captopril terhadap tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Parung. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif yang bersifat retrospektif. Data dari penelitian ini diambil dari data sekunder resep dan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) periode September - Desember 2022. Sampel yang diambil sebanyak 78 sampel menggunakan metode purposive sampling dengan penggunaan Amlodipin 40 pasien dan Captopril 38 pasien. Hasil penelitian ini rentang usia terbanyak masa lansia awal 46-55 tahun yaitu sebanyak 34 pasien (43,59%), dan jenis kelamin terbanyak perempuan sebanyak 52 pasien (66,67%). Penggunaan obat hipertensi yang paling banyak digunakan di Puskesmas Parung yaitu Amlodipin sebanyak 40 pasien (51,28%) sedangkan Captopril sebanyak 38 pasien (48,72%). Efektivitas menurut target JNC VIII, amlodipin sistolik 40 pasien (100%) efektif dan diastolik 38 pasien (95%) efektif, 2 pasien (5%) tidak efektif, pada Captopril sistolik 30 pasien (78,90%) efektif, 8 pasien (21,10%) tidak efektif dan diastolik 36 pasien (94,70%) efektif, 2 pasien (5,30%) tidak efektif. Terdapat perbedaan bermakna pada efektivitas tekanan darah sistolik (p=0.000) dan tidak terdapat perbedaan bermakna pada efektivitas tekanan darah diastolik (p= 0.426).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS EFEKTIVITAS-BIAYA OBAT KAPTOPRIL DAN AMLODIPIN PADA PASIEN HIPERTENSI DI KLINIK RAWAT JALAN PERTIWI 1 KOTA DEPOK

2023Koleksi Perpustakaan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik dari 90 mmHg. Penelitian farmakoekonomi merupakan proses identifikasi, pengukuruan dan perbandingan biaya, akibat dan keuntungan suatu program pelayanan dan terapi, serta menentukan pilihan mana yang memberikan outcomes kesehatan terbaik untuk sumber yang diinvestasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril, biaya terapi yang dikeluarkan pasien, dan antihipertensi yang paling efektif biaya. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif, subyek penelitian adalah pasien hipertensi yang menggunakan terapi Amlodipin dan Kaptopril sebanyak 102 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data diolah menggunakan ACER dan ICER Hasil penelitian ini menunjukan terdapat perbedaan sosiodemografik pada pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 44 pasien dengan presentase 43,1% dan perempuan sebanyak 58 pasien dengan presentase 58,9%. Dengan usia terbanyak usia >65 sebanyak 41 pasien dengan presentase 40,2 %. Efektivitas pengobatan Amlodipin 74 % dan Kaptopril 58%. Berdasarkan nilai rasio efektivitas biaya rata-rata (ACER) yang paling cost effective terdapat pada kelompok terapi amlodipin dengan nilai Rp.7.901 dan rasio efektivitas biaya tambahan (ICER) yaitu Rp.6.811. Dapat disimpulkan bahwa terapi Amlodipin lebih cost effective.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT GABAPENTIN PADA PASIEN NEUROPATI DIABETIK DI INSTALASI RAWAT JALAN RS BMC MAYAPADA

2023Koleksi Perpustakaan

Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi kronis yang paling sering ditemukan pada penderita diabetes melitus. Neuropati diabetik terjadi karena hiperglikemia serta dapat melukai saraf di seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi, gambaran karakteristik nyeri neuropati, gambaran bagian anggota tubuh yang nyeri, gambaran pengukuran skala nyeri dan efektivitas penggunaan obat gabapentin terhadap pasien neuropati diabetik di instalasi rawat jalan RS BMC Mayapada. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan pengambilan data primer menggunakan kuesioner Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numerical Rating Scale for Pain (NRS Pain), data sekunder diambil dari data rekam medis yaitu no. RM, profil penyakit dan awal peresepan gabapentin. kemudian data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan hasil disajikan dengan bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik nyeri neuropati diabetik yang paling banyak dirasakan adalah nyeri seperti tertusuk serta efek terapi gabapentin sebelum dan sesudah pemberian pada 47 pasien neuropati diabetik menunjukan adanya penurunan skala nyeri dengan penurunan rata-rata sebesar 3,72. Pada hasil uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test nilai P-value = 0,000 (p<0,05), hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah minum obat gabapentin selama 2 minggu.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN INSULIN KOMBINASI TERHADAP PENURUNAN GULA DARAH PUASA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 PROLANIS APOTEK KIMIA FARMA 317 CIANJUR

2023Koleksi Perpustakaan

DM tipe 2 adalah salah satu penyakit terbanyak yang diderita pasien Prolanis di Apotek Kimia Farma 317 Cianjur. Insulin kombinasi banyak digunakan sebagai pilihan dalam terapi pengobatan DM tipe 2 meliputi insulin kerja panjang dan insulin kerja cepat dengan insulin kerja panjang dan insulin campuran tetap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas kedua insulin kombinasi terebut terhadap persentase penurunan gula darah puasa pasien DM tipe 2. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional non eksperimental dengan metode pengambilan data secara retrospektif yang bersumber dari 68 pasien DM tipe 2 Prolanis di Apotek Kimia Farma 317 Cianjur periode Juli-Desember 2021. Dari hasil penelitian ini, DM tipe 2 terbanyak dialami perempuan (60,9%) pada kategori usia lansia akhir (39,7%) disertai dengan penyakit penyerta (80,9%). Penggunaan insulin kombinasi terbanyak adalah insulin kerja panjang dan insulin campuran tetap (54,4%). Berdasarkan dari rata-rata penurunan gula darah puasa insulin kerja panjang dan insulin campuran tetap (32,31%) dinilai lebih efektif dibanding dengan insulin kerja panjang dan insulin kerja cepat (22,96%). Dari hasil uji T Independent kedua insulin kombinasi memiliki perbedaan yang signifikan dengan nilai Asym.Sig. 0,002 < 0,05.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN TERAPI OBAT ANTIVIRUS FAVIPIRAVIR DAN OSELTAMIVIR TERHADAP PASIEN POSITIF COVID-19 DI RSUD KOTA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Penggunaan antivirus untuk pasien COVID-19 mempunyai efektivitas yang berbeda. Antivirus yang digunakan di Indonesia khususnya di RSUD Kota Bogor adalah Favipiravir 200mg tablet dan Oseltamivir 75mg kapsul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas antivirus favipiravir 200mg tablet dan oseltamivir 75mg kapsul. Penelitian ini dilakukan pada 88 pasien yang di rawat di ruang Sempur RSUD Kota Bogor dan telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan menggunakan metode analisis data uji Mann Whitney test, dengan pengambilan data Retrospektif pada periode Desember 2020 sampai Februari 2021. Data yang di ambil meliputi, usia, jenis kelamin, catatan antivirus pasien, dan hasil RT-PCR nilai CT-Value pasien. Hasil dari penelitian ini didapatkan sebanyak (69%) pasien dengan jenis kelamin perempuan terkonfirmasi positif COVID-19, kategori usia pada lansia awal 46-55 tahun sebanyak (40%), sedangkan penggunaan antivirus yang banyak digunakan yaitu oseltamivir sebanyak (57%), pasien dinyatakan sembuh dengan nilai CT-Value di atas 38-40 sebanyak (59%). Berdasarkan hasil statistika menggunakan uji Kolmograv-Smirnov test dan uji Mann whitney test nilai p (asymp sig.(2-tailed) menunjukkan hasil P-value < 0,05 (P= 0,000) artinya ada perbedaan efektivitas antivirus favipirapir dan oseltamivir pada pasien COVID-19 di RSUD Kota Bogor.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS METFORMIN DAN GLIBENKLAMID TERHADAP PENURUNAN GULA DARAH PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS CISAAT KABUPATEN SUKABUMI

2022Koleksi Perpustakaan

Diabetes melitus adalah suatukelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Penyakit DM tipe 2 merupakan lima penyakit dengan jumlah penderita terbanyak yang ditangani oleh Puskesmas Cisaat Kabupaten Sukabumi. Metformin dan Glibenklamid merupakan dua obat antidiabetik oral dengan mekanisme yang berbeda tetapi menjadi pilihan untuk terapi DM tipe 2 sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektifitas kedua obat tersebut terhadap penurunan gula darah puasa pasien DM tipe 2. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan metode pengambilan data secara retrospektif yang bersumber dari pasien DM tipe 2 yang menjalani rawat jalan di Puskesmas Cisaat Kabupaten Sukabumi periode Oktober-Desember 2020. Dari penelitian ini diperoleh hasil pasien berjenis kelamin perempuan (59%), dengan kategori usia lansia akhir (40%), dan dengan IMT normal (85,86%). Pengobatan terapi antidiabetik oral metformin lebih banyak diberikan pada pasien berjenis kelamin perempuan (51%), dengan kategori usia lansia akhir (63,89%) dan IMT normal (52,50%). sedangkan glibenklamid lebih banyak diberikan pada pasien berjenis kelamin perempuan (49%), dengan kategori usia lansia awal (36,11%) dan IMT normal (47,50%). Hasil uji Independent Sample T-test menunjukan nilai Asym.Sig. 0,00 < 0,05 yang berarti ada perbedaan bermakna antara efektivitas metformin dan glibenklamid terhadap penurunan gula darah puasa pasien DM tipe 2. Berdasarkan persentase rata-rata efektivitas obat, glibenklamid (91%) dinilai lebih efektif dibandingkan dengan metformin (73%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail