BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Dispepsia adalah kondisi yang ditandai dengan adanya rasa nyeri atau tidak nyaman
di wilayah perut bagian atas atau ulu hati. Dispepsia dapat dipicu oleh gaya hidup,
konsumsi makanan, dan faktor psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui perbandingan efektivitas penggunaan obat dispepsia berdasarkan
waktu hilangnya gejala. Jenis penelitian adalah deskriptif observasional dengan
pendekatan cross sectional dengan metode pengambilan data secara prospektif
yang bersumber dari data rekam medis pada 162 pasien yang berobat di Klinik Al-
Barokah Cibinong periode November 2023-Januari 2024. Data yang diambil dari
hasil penelitian ini yaitu data sosiodemografi (jenis kelamin, usia dan pekerjaan),
obat injeksi dispepsia (injeksi omeprazole dan injeksi ranitidine), dan waktu
hilangnya gejala. Dari hasil penelitian ini penyakit dispepsia terbanyak dialami oleh
perempuan 90 pasien (56%), rata-rata usia 26-35 tahun 48 pasien (30%), pekerjaan
yaitu Swasta 65 pasien (40%). Gambaran penggunaan obat dispepsia yang
terbanyak yaitu menggunakan Injeksi Omeprazole yaitu sebanyak 103 pasien
(64%). Waktu hilangnya gejala pada pasien dispepsia yang paling terbanyak yaitu
selama 30 menit sebanyak 65 pasien (40%). Dari hasil uji Mann-Whitney diperoleh
nilai Asym.Sig. 0,000 (<P-Value 0,05) yang artinya terdapat perbedaan yang
signifikan antara penggunaan obat injeksi omeprazole dan injeksi ranitidine
terhadap waktu hilangnya gejala pada pasien dispepsia di Klinik Al-Barokah
Cibinong.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal yaitu ≥140/90 mmHg. Tujuan dari penelitian ini untuk pengetahui gambaran data sosiodemografi, gambaran jenis obat antihipertensi, efektivitas serta perbedaan efektivitas Amlodipin dan Captoprilpada pasien hipertensi di Puskesmas Sukalarang Sukabumi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif, yaitu penelitian yang didasarkan pada informasi dari berkas pasien yang diperoleh dengan mengolah kejadian sebelumnya. Data yang diambil dari rekam medis dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan pasien hipertensi terbanyak perempuan sebesar 71% dengan rentang usia terbanyak 20-60 tahun sebesar 74%. Penggunaan obat antihipertensi terbanyak amlodipin 62%. Untuk hasil perbedaan Efektifitas menggunakan uji SPSS Mann-Whitney hasilnya Amlodipin lebih efektif memiliki rata-rata penurunan TD sistolik/diastolik sebesar 34,67/7,00 mmHg sedangkan rata-rata penurunan TD sistolik/diastolik obat Captopril sebesar 23,94/7,10 mmHg. Dengan nilai sig amlodipin dan Captopril Ƿ <0.05 yang berarti terdapat perbedaan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik/diastolik pada penggunaan obat Amlodipin dan obat Captopril.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi kronis yang paling sering ditemukan pada penderita diabetes melitus. Neuropati diabetik terjadi karena hiperglikemia serta dapat melukai saraf di seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi, gambaran nyeri neuropati, lokasi nyeri dan perbedaan efektivitas penggunaan obat pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik di instalasi rawat jalan RS BMC Mayapada Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan pengambilan data primer menggunakan kuesioner Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numerical Rating Scale for Pain (NRS Pain), data sekunder diambil dari data rekam medis yaitu no. RM, profil penyakit dan awal peresepan pregabalin dan gabapentin. Kemudian data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan hasil disajikan dengan bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada penggunaan pregabalin didapatkan penurunan
skala nyeri dengan rata-rata sebesar 0,87 dan pada penggunaan gabapentin didapatkan penurunan rata-rata sebesar 0,78. Pada hasil ujistatistik U-Mann-Whitney nilai P-value = 0,000 (p<0,05), hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan efektivitas pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik selama
2 minggu.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Dampak yang dapat terjadi pada pasien stroke salah satunya adalah terjadinya
kerusakan neurologis. Semax dan Citicoline merupakan neuroprotektor yang dapat
memperbaiki kerusakan otak dan meningkatkan kemampuan kognisi serta memori
pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas
penggunaaan Semax dan Citicoline pada pasien stroke menggunakan parameter
nilai GCS (Glasglow Coma Scale) di Rumah Sakit PMI Bogor. Desain penelitian
adalah penelitian deskriptif bersifat observasional yang dilakukan dengan
pendekatan restropektif dari data Rekam Medik pasien stroke periode Juli –
Desember 2019 dengan sampel sebanyak 64 sampel. Hasil penelitian menunjukan
profil pasien terbanyak berdasarkan jenis kelamin laki-laki 38 pasien (59.38%),
usia 46-59 tahun 26 pasien (40,63%). Lama perawatan lebih dari 5 hari 21 pasien
(65.63%) menggunakan Semax dan kurang dari 5 hari 20 pasien (62.50%)
menggunakan Citicoline. Profil penggunaan neuroprotektor terdapat 32 pasien
(50%) menggunakan Semax dan 32 pasien (50%) menggunakan Citicoline. Hasil
gambaran efektivitas penggunaan berdasarkan seilisih nilai GCS (Glasglow Coma
Scale) menunjukan Semax (29.89%) dan Citicoline (10.90%). Hasil analisis
statistik untuk mengetahui selisih perbedaan nilai GCS (Glasglow Coma Scale)
awal dan akhir terapi pada Semax dan Citicoline dengan uji Wilcoxon diperoleh
hasil bahwa ada perbedaan bermakna pada efek perbaikan neurologis antara terapi
Semax dan Citicoline dengan nilai 0.000 (P<0.05). Hasil analisis statistik untuk
mengetahui persentase kenaikan nilai GCS (Glasglow Coma Scale) pada terapi
Semax dan Citicoline diperoleh hasil bahwa ada perbedaan menggunakan terapi
Semax lebih efektif (35.89%) sebagai neuroprotektor dan menggunakan terapi
Citicoline (13.72%) yang dikuatkan dengan analisis statistik dengan uji Mann
Withney dimana ada perbedaan bermakna antara terapi Semax dan Citicoline
dengan nilai 0.000 (P<0.05).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Glaukoma adalah penyakit mata akibat kerusakan saraf mata dan dapat
menyempitkan lapang pandang serta hilangnya fungsi penglihatan. Faktorpenyebab
utama glaukoma adalah peningkatan tekanan intraokular (TIO) pada mata. Timolol
dan Latanoprost adalah obat yang sering digunakan dalam terapi penyakit ini.
Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan efektivitas obat Timolol dan
Timolol-Latanoprost. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non
eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif selama 1 tahun dengan
menggunakan data rekam medis pada pasien glaukoma sudut terbuka. Pengambilan
sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah 78 orang. Data
dianalisis dengan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian ini
menunjukkan pasien rentang usia paling banyak pada penggunaan obat Timolol dan
kombinasi Timolol-Latanoprost usia 56-65 tahun sebanyak 14 pasien (36%), jenis
kelamin paling banyak yaitu perempuan sebanyak 20 pasien (51%) pada obat
Timolol dan sebanyak 21 pasien (54%) pada obat Timolol-Latanoprost. Gambaran
rata-rata perubahan penurunan TIO pada obat Timolol 29,3% dan kombinasi
Timolol-Latanoprost 32,7%. Gambaran efektivitas Timolol 67% dan obat
kombinasi Timolol-Latanoprost 62%, sehingga tidak ada perbedaan efektivitas
antara obat Timolol dan kombinasi Timolol-Latanoprost dengan nilai P-value > (P-
value = 0,639).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Dispepsia merupakan suatu sindroma berupa nyeri atau rasa tidak nyaman
pada ulu hati, mual, kembung, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, dan perut
merasa penuh. Obat golongan Penghambat Pompa Proton menjadi salah satu obat
yang paling umum diresepkan di RS PMI Bogor, yaitu Omeprazole dan
Pantoprazole. Golongan obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim H
+
/K+
-
ATPase yang ada di dinding lambung, sehingga produksi asam lambung bisa
berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif
dalam penggunaan obat Omeprazole dan Pantoprazole. Penelitian ini menggunakan
metode Cross Sectional terhadap data sekunder pengambilan data secara
Retrospektif dan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling data
diambil dari rekam medik pasien dispepsia dengan total 80 pasien. Hasil yang
didapat dari penelitian ini yaitu pasien dispepsia instalasi rawat inap di RS PMI
Bogor yang terbanyak berjenis kelamin perempuan yaitu 50 pasien (62,50%),
dengan pasien rentang usia terbanyak 46-55 tahun yaitu 25 pasien (31,25%) dan
pasien yang mengalami hilang gejala dengan menggunakan omeprazole lebih
banyak yaitu 39 pasien (55,71%) yang berarti lebih efektif dibandingkan pasien
yang menggunakan pantoprazole hanya 31 pasien (44,29%). Hubungan dapat
dilihat dari hasil analisis statistik menggunakan Chi Square yang menunjukkan
bahwa p< 0,05 dengan nilai signifikasi 0,001 yang berarti adanya hubungan antara
penggunaan obat dengan efektivitas.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi ditandai dengan pengukuran tekanan darah yang menunjukan tekanan
sistolik sebesar > 140 mmHg dan tekanan diastolik sebesar > 90 mmHg. Tujuan
penelitian ini untuk membandingkan efektivitas obat Amlodipin dan Captopril
terhadap tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Parung. Penelitian ini
dilakukan menggunakan metode deskriptif yang bersifat retrospektif. Data dari
penelitian ini diambil dari data sekunder resep dan Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas (SIMPUS) periode September - Desember 2022. Sampel yang diambil
sebanyak 78 sampel menggunakan metode purposive sampling dengan penggunaan
Amlodipin 40 pasien dan Captopril 38 pasien. Hasil penelitian ini rentang usia
terbanyak masa lansia awal 46-55 tahun yaitu sebanyak 34 pasien (43,59%), dan
jenis kelamin terbanyak perempuan sebanyak 52 pasien (66,67%). Penggunaan obat
hipertensi yang paling banyak digunakan di Puskesmas Parung yaitu Amlodipin
sebanyak 40 pasien (51,28%) sedangkan Captopril sebanyak 38 pasien (48,72%).
Efektivitas menurut target JNC VIII, amlodipin sistolik 40 pasien (100%) efektif
dan diastolik 38 pasien (95%) efektif, 2 pasien (5%) tidak efektif, pada Captopril
sistolik 30 pasien (78,90%) efektif, 8 pasien (21,10%) tidak efektif dan diastolik 36
pasien (94,70%) efektif, 2 pasien (5,30%) tidak efektif. Terdapat perbedaan
bermakna pada efektivitas tekanan darah sistolik (p=0.000) dan tidak terdapat
perbedaan bermakna pada efektivitas tekanan darah diastolik (p= 0.426).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik dari 90 mmHg. Penelitian
farmakoekonomi merupakan proses identifikasi, pengukuruan dan perbandingan
biaya, akibat dan keuntungan suatu program pelayanan dan terapi, serta
menentukan pilihan mana yang memberikan outcomes kesehatan terbaik untuk
sumber yang diinvestasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
penggunaan antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril, biaya terapi yang
dikeluarkan pasien, dan antihipertensi yang paling efektif biaya. Penelitian ini
bersifat deskriptif analitik non-eksperimental dengan pengambilan data secara
retrospektif, subyek penelitian adalah pasien hipertensi yang menggunakan terapi
Amlodipin dan Kaptopril sebanyak 102 pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
Data diolah menggunakan ACER dan ICER Hasil penelitian ini menunjukan
terdapat perbedaan sosiodemografik pada pasien hipertensi berdasarkan jenis
kelamin yaitu laki-laki sebanyak 44 pasien dengan presentase 43,1% dan
perempuan sebanyak 58 pasien dengan presentase 58,9%. Dengan usia terbanyak
usia >65 sebanyak 41 pasien dengan presentase 40,2 %. Efektivitas pengobatan
Amlodipin 74 % dan Kaptopril 58%. Berdasarkan nilai rasio efektivitas biaya
rata-rata (ACER) yang paling cost effective terdapat pada kelompok terapi
amlodipin dengan nilai Rp.7.901 dan rasio efektivitas biaya tambahan (ICER)
yaitu Rp.6.811. Dapat disimpulkan bahwa terapi Amlodipin lebih cost effective.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi kronis yang paling sering
ditemukan pada penderita diabetes melitus. Neuropati diabetik terjadi karena
hiperglikemia serta dapat melukai saraf di seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui gambaran sosiodemografi, gambaran karakteristik nyeri
neuropati, gambaran bagian anggota tubuh yang nyeri, gambaran pengukuran
skala nyeri dan efektivitas penggunaan obat gabapentin terhadap pasien neuropati
diabetik di instalasi rawat jalan RS BMC Mayapada. Penelitian ini merupakan
penelitian prospektif observasional dengan pengambilan data primer
menggunakan kuesioner Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan pengukuran
skala nyeri menggunakan Numerical Rating Scale for Pain (NRS Pain), data
sekunder diambil dari data rekam medis yaitu no. RM, profil penyakit dan awal
peresepan gabapentin. kemudian data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan hasil
disajikan dengan bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian menunjukan bahwa
karakteristik nyeri neuropati diabetik yang paling banyak dirasakan adalah nyeri
seperti tertusuk serta efek terapi gabapentin sebelum dan sesudah pemberian pada
47 pasien neuropati diabetik menunjukan adanya penurunan skala nyeri dengan
penurunan rata-rata sebesar 3,72. Pada hasil uji statistik Wilcoxon Signed Ranks
Test nilai P-value = 0,000 (p<0,05), hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan
yang signifikan antara sebelum dan sesudah minum obat gabapentin selama 2
minggu.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
DM tipe 2 adalah salah satu penyakit terbanyak yang diderita pasien Prolanis di
Apotek Kimia Farma 317 Cianjur. Insulin kombinasi banyak digunakan sebagai
pilihan dalam terapi pengobatan DM tipe 2 meliputi insulin kerja panjang dan
insulin kerja cepat dengan insulin kerja panjang dan insulin campuran tetap.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas kedua insulin kombinasi terebut
terhadap persentase penurunan gula darah puasa pasien DM tipe 2. Jenis penelitian
ini adalah penelitian observasional non eksperimental dengan metode pengambilan
data secara retrospektif yang bersumber dari 68 pasien DM tipe 2 Prolanis di
Apotek Kimia Farma 317 Cianjur periode Juli-Desember 2021. Dari hasil penelitian
ini, DM tipe 2 terbanyak dialami perempuan (60,9%) pada kategori usia lansia
akhir (39,7%) disertai dengan penyakit penyerta (80,9%). Penggunaan insulin
kombinasi terbanyak adalah insulin kerja panjang dan insulin campuran tetap
(54,4%). Berdasarkan dari rata-rata penurunan gula darah puasa insulin kerja
panjang dan insulin campuran tetap (32,31%) dinilai lebih efektif dibanding
dengan insulin kerja panjang dan insulin kerja cepat (22,96%). Dari hasil uji T
Independent kedua insulin kombinasi memiliki perbedaan yang signifikan dengan
nilai Asym.Sig. 0,002 < 0,05.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan antivirus untuk pasien COVID-19 mempunyai efektivitas yang
berbeda. Antivirus yang digunakan di Indonesia khususnya di RSUD Kota Bogor
adalah Favipiravir 200mg tablet dan Oseltamivir 75mg kapsul. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas antivirus favipiravir 200mg
tablet dan oseltamivir 75mg kapsul. Penelitian ini dilakukan pada 88 pasien yang
di rawat di ruang Sempur RSUD Kota Bogor dan telah memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi. Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan
menggunakan metode analisis data uji Mann Whitney test, dengan pengambilan
data Retrospektif pada periode Desember 2020 sampai Februari 2021. Data yang
di ambil meliputi, usia, jenis kelamin, catatan antivirus pasien, dan hasil RT-PCR
nilai CT-Value pasien. Hasil dari penelitian ini didapatkan sebanyak (69%) pasien
dengan jenis kelamin perempuan terkonfirmasi positif COVID-19, kategori usia
pada lansia awal 46-55 tahun sebanyak (40%), sedangkan penggunaan antivirus
yang banyak digunakan yaitu oseltamivir sebanyak (57%), pasien dinyatakan
sembuh dengan nilai CT-Value di atas 38-40 sebanyak (59%). Berdasarkan hasil
statistika menggunakan uji Kolmograv-Smirnov test dan uji Mann whitney test
nilai p (asymp sig.(2-tailed) menunjukkan hasil P-value < 0,05 (P= 0,000) artinya
ada perbedaan efektivitas antivirus favipirapir dan oseltamivir pada pasien
COVID-19 di RSUD Kota Bogor.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus adalah suatukelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
keduanya. Penyakit DM tipe 2 merupakan lima penyakit dengan jumlah penderita
terbanyak yang ditangani oleh Puskesmas Cisaat Kabupaten Sukabumi.
Metformin dan Glibenklamid merupakan dua obat antidiabetik oral dengan
mekanisme yang berbeda tetapi menjadi pilihan untuk terapi DM tipe 2 sehingga
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektifitas kedua obat
tersebut terhadap penurunan gula darah puasa pasien DM tipe 2. Jenis penelitian
ini adalah penelitian observasional dengan metode pengambilan data secara
retrospektif yang bersumber dari pasien DM tipe 2 yang menjalani rawat jalan di
Puskesmas Cisaat Kabupaten Sukabumi periode Oktober-Desember 2020. Dari
penelitian ini diperoleh hasil pasien berjenis kelamin perempuan (59%), dengan
kategori usia lansia akhir (40%), dan dengan IMT normal (85,86%). Pengobatan
terapi antidiabetik oral metformin lebih banyak diberikan pada pasien berjenis
kelamin perempuan (51%), dengan kategori usia lansia akhir (63,89%) dan IMT
normal (52,50%). sedangkan glibenklamid lebih banyak diberikan pada pasien
berjenis kelamin perempuan (49%), dengan kategori usia lansia awal (36,11%)
dan IMT normal (47,50%). Hasil uji Independent Sample T-test menunjukan nilai
Asym.Sig. 0,00 < 0,05 yang berarti ada perbedaan bermakna antara efektivitas
metformin dan glibenklamid terhadap penurunan gula darah puasa pasien DM tipe
2. Berdasarkan persentase rata-rata efektivitas obat, glibenklamid (91%) dinilai
lebih efektif dibandingkan dengan metformin (73%).