Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Lama Rawat
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI EFEKTIVITAS PENERAPAN CLINICAL PATHWAY TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER (DHF) RAWAT INAP DI RS X BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Infeksi Dengue merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue pada manusia. DHF ditandai dengan adanya kebocoran plasma seperti peningkatan hematokrit, efusi pleura, hipoalbuminemia (Kemenkes, 2020). Clinical pathway digunakan sebagai kendali mutu dan biaya dalam pelayanan kesehatan yang dapat dilihat dari rata-rata lama rawat dan outcomes terapi. Kasus DHF masuk dalam daftar 10 besar penyakit rawat inap di RS X Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan rata-rata lama rawat dan outcomes terapi pasien DHF antara sebelum dan setelah clinical pathway. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif observasional rancangan penelitian cross sectional, data dikumpulkan secara retrospektif menggunakan catatan rekam medis. Persentase terbesar pasien DHF rawat inap mendapatkan masa pengobatan cepat atau lama rawat 5 hari, sebanyak 51 pasien (70%) dengan mean 4,68 hari pada tahun 2017 dan 61 pasien (67%) dengan mean 3,75 hari pada tahun 2018. Persentase outcomes terapi terbesar pasien DHF rawat inap adalah sembuh sebanyak 38 pasien (52%) pada tahun 2017 dan 45 pasien (62%) pada tahun 2018. Hasil ujistatistik lama rawat yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,051), uji statistik outcomes terapi yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,244), tidak terdapat perbedaan bermakna antara sebelum dengan sesudah clinical pathway pada kedua kategori.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI EFEKTIVITAS PENERAPAN CLINICAL PATHWAY TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER (DHF) RAWAT INAP DI RS X BOGOR

2024Koleksi Perpustakaan

Infeksi Dengue merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue pada manusia. DHF ditandai dengan adanya kebocoran plasma seperti peningkatan hematokrit, efusi pleura, hipoalbuminemia (Kemenkes, 2020). Clinical pathway digunakan sebagai kendali mutu dan biaya dalam pelayanan kesehatan yang dapat dilihat dari rata-rata lama rawat dan outcomes terapi. Kasus DHF masuk dalam daftar 10 besar penyakit rawat inap di RS X Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan rata-rata lama rawat dan outcomes terapi pasien DHF antara sebelum dan setelah clinical pathway. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif observasional rancangan penelitian cross sectional, data dikumpulkan secara retrospektif menggunakan catatan rekam medis. Persentase terbesar pasien DHF rawat inap mendapatkan masa pengobatan cepat atau lama rawat 5 hari, sebanyak 51 pasien (70%) dengan mean 4,68 hari pada tahun 2017 dan 61 pasien (67%) dengan mean 3,75 hari pada tahun 2018. Persentase outcomes terapi terbesar pasien DHF rawat inap adalah sembuh sebanyak 38 pasien (52%) pada tahun 2017 dan 45 pasien (62%) pada tahun 2018. Hasil ujistatistik lama rawat yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,051), uji statistik outcomes terapi yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,244), tidak terdapat perbedaan bermakna antara sebelum dengan sesudah clinical pathway pada kedua kategori.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIVIRUS OSELTAMIVIR DAN FAVIPIRAVIR PADA PASIEN COVID-19 DI INSTALASI RAWAT INAP RS AZRA PERIODE 2021

2023Koleksi Perpustakaan

Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Bberapa jenis Coronavirus diketahui menyebabkan saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Servere Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan COVID-19. Berdasarkan buku panduan protokol tatalaksana COVID-19 di Indonesia, antivirus jenis oseltamivir dan favipiravir dapat diberikan bagi pasien COVID-19 dengan gejala ringan, sedang, berat, hingga kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antivirus oseltamivir dan favipiravir pada pasien COVID-19 di Instalasi Rawat Inap RS Azra Periode 2021. Penelitian ini bersifat retrospektif observasional menggunakan data sekunder dari rekam medik. Dari hasil penelitian yang telah di lakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien COVID-19 paling banyak yaitu 57% dan usia lansia awal (46 – 55 Tahun) sebanyak 28%. Penggunaan antivirus terbanyak pasien COVID-19 di RS Azra Bogor yaitu antivirus favipiravir sebanyak 64% dan penggunaan antivirus favipiravir dan oseltamivir terhadap lama rawat inap pasien COVID-19 di RS Azra Bogor rata-rata lama rawat tersingkat yaitu 7,75 hari dengan menggunakan terapi favipiravir, sedangkan penggunaan oseltamivir rata- rata lama rawat inap 9,73 hari.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN LAMA RAWAT INAP PADA PASIEN YANG MENGGUNAKAN OBAT DISPEPSIA DI RSUD DEPOK TAHUN 2019

2023Koleksi Perpustakaan

Dispepsia merupakan gangguan saluran pencernaan atas terutama dibagian epigastrium meliputi rasa mual atau muntah, perut kembung, sendawa dan perut terasa penuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sosiodemografi pasien dispepsia rawat inap RSUD Kota Depok serta membandingkan lama rawat inap pasien yang menggunakan obat dispepsia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif melalui rekam medis pasien dispepsia periode Januari-Desember 2019. Terdapat 97 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data disajikan dalam bentuk diagram maupun grafik. Obat tunggal yang paling banyak digunakan adalah PPI (24%). Obat Kombinasi yang paling banyak digunakan adalah PPI + Antasida (21%). Obat tunggal yang digunakan berdasarkan lama rawat inap pasien dispepsia paling cepat adalah Antasida (3,3 hari) dan paling lama PPI (3,87 hari). Sedangkan obat kombinasi paling cepat adalah Antagonis Reseptor H2 + Sitoprotektif (3,5 hari) dan paling lama PPI + Prokinetik + Sitoprotektif (6 hari), PPI + Antasida + Prokinetik (6 hari), Antasida + Antagonis Reseptor H2 + Sitoprotektif (6 hari). Hasil perbandingan lama rawat inap pada pasien yang menggunakan obat dispepsia Januari-Desember 2019 tidak terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan lama hari rawat dengan P-Value 0,253 pada uji Kruskal-Wallis.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail