BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara dengan jumlah
penderita diabetes melitus terbanyak di dunia, dengan meningkatnya prevalensi
penyakit menyebabkan peningkatan penggunaan obat sintetik dengan berbagai efek
samping, maka pengobatan dengan tanaman herbal dapat menjadi alternatif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan golongan senyawa dari daun
stevia (Stevia Rebaudiana Bertoni) dan bunga rosella (Hibiscus Sabdariffa L)
dengan metode meserasi menggunakan pelarut etanol 70% serta menentukan
aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase sebagai antidiabetes menggunakan
instrument microplate reader dengan panjang gelombang 410 nm. Nilai absorbansi
diperoleh untuk menghitung % inhibisi serta nilai IC50. Hasil penelitian ini dengan
uji lanjut Duncan menyatakan bahwa nilai rara-rata % inhibisi kombinasi ekstrak
etanol 70% bunga rosella dan daun stevia pada tiap perbandingan berbeda nyata
dengan kontrol positif yaitu akarbosa. Nilai IC50 yang diperoleh pada ekstrak
tunggal daun stevia 2610,5 ppm, ekstrak tunggal bunga rosella 65229,74 ppm,
kombinasi stevia:rosella perbandingan 1:1 3041,068 ppm, perbandingan 1:3
3791,95 ppm, perbandingan 3:1 2636,741 ppm, dan akarbosa 0,221907 ppm. Nilai
IC50 semua perlakuan ekstrak >100 ppm termasuk dalam kategori tidak aktif
sebagai antidiabetes, dengan demikian ekstrak etanol 70% daun stevia dan bunga
rosella baik tunggal maupun kombinasi ekstrak tergolong tidak aktif sebagai
antidiabetes.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Di seluruh dunia Diabetes Melitus tipe 2 merupakan kategori penyakit
peningkatan kadar glukosa darah yang paling banyak dialami (>90%) oleh
masyarakat. Daun pare (Momordica charantia L) dan daun stevia (Stevia
rebaudiana) dibuat menjadi sediaan teh herbal agar mudah pemakaiannya dan
dapat menjadi alternatif dalam menghambat kerja enzim α-glukosidase. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder, aktivitas inhibisi enzim α-
glukosidase dan perbedaan nyata dengan akarbosa 0,0001% serta penilaian
terhadap formula sediaan kombinasi teh herbal. Teh herbal kombinasi daun pare
(Momordica charantia L) dan daun stevia (Stevia rebaudiana) dibuat menjadi
formula 3,5:0,5, 3:1, 2,5:1,5, 2:2 dan 1,5:2,5 dimasukkan ke dalam kantung teh
celup serta diseduh dengan air panas pada suhu 80-90°C selama ±15 menit untuk
diuji fitokimia, aktivitas daya hambat enzim α-glukosidase menggunakan ELISA
reader pada panjang gelombang 410 nm dan penilaian rasa suka menggunakan
skala hedonik (0-6). Hasil menunjukan bahwa secara umum semua formula
memiliki kandungan flavonoid, saponin dan tanin-polifenol. Formula (I,II,III,IV,V)
1% b/v dan akarbosa 0,0001% menginhibisi enzim α-glukosidase berturut-turut
sebesar 20,03%, 36,73%, 44,26%, 53,84%, 57,91%, 67,95% yang berbeda nyata
nilainya (p-value 0,00<0,05). Berdasarkan penilaian uji kesukaan Formula(IV)
merupakan sediaan teh herbal yang paling disukai oleh panelis dengan nilai
penerimaan keseluruhan 3,35, kemudian Formula(III) senilai 3,25 dan Formula(V)
senilai 3,1.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Di seluruh dunia Diabetes Melitus tipe 2 merupakan kategori penyakit
peningkatan kadar glukosa darah yang paling banyak dialami (>90%) oleh
masyarakat. Daun pare (Momordica charantia L) dan daun stevia (Stevia
rebaudiana) dibuat menjadi sediaan teh herbal agar mudah pemakaiannya dan
dapat menjadi alternatif dalam menghambat kerja enzim α-glukosidase. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder, aktivitas inhibisi enzim α-
glukosidase dan perbedaan nyata dengan akarbosa 0,0001% serta penilaian
terhadap formula sediaan kombinasi teh herbal. Teh herbal kombinasi daun pare
(Momordica charantia L) dan daun stevia (Stevia rebaudiana) dibuat menjadi
formula 3,5:0,5, 3:1, 2,5:1,5, 2:2 dan 1,5:2,5 dimasukkan ke dalam kantung teh
celup serta diseduh dengan air panas pada suhu 80-90°C selama ±15 menit untuk
diuji fitokimia, aktivitas daya hambat enzim α-glukosidase menggunakan ELISA
reader pada panjang gelombang 410 nm dan penilaian rasa suka menggunakan
skala hedonik (0-6). Hasil menunjukan bahwa secara umum semua formula
memiliki kandungan flavonoid, saponin dan tanin-polifenol. Formula (I,II,III,IV,V)
1% b/v dan akarbosa 0,0001% menginhibisi enzim α-glukosidase berturut-turut
sebesar 20,03%, 36,73%, 44,26%, 53,84%, 57,91%, 67,95% yang berbeda nyata
nilainya (p-value 0,00<0,05). Berdasarkan penilaian uji kesukaan Formula(IV)
merupakan sediaan teh herbal yang paling disukai oleh panelis dengan nilai
penerimaan keseluruhan 3,35, kemudian Formula(III) senilai 3,25 dan Formula(V)
senilai 3,1.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes merupakan suatu penyakit kronis dengan gangguan metabolisme yang
ditandai dengan hiperglikemia dikarenakan kelainan sekresi insulin, kerja insulin
maupun keduanya. Terapi yang dapat digunakan untuk mengendalikan kadar glukosa
dalam darah salah satunya dengan penghambatan aktivitas enzim α-glukosidase sehingga
dapat menunda penyerapan glukosa dan mengurangi peningkatan kadar glukosa darah.
Penggunaan bahan alam yang telah lama digunakan dan mempunyai potensi sebagai
antidiabetes adalah daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui aktivitas ekstrak etil asetat daun stevia dan isolat yang diperoleh yang
memiliki potensi sebagai penghambat enzim α-glukosidase. Tahapan penelitian yang
dilakukan meliputi pengujian aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dari ekstrak
etil asetatsecara in vitro, kemudian dilakukan proses isolasi dengan metode kromatografi
yang dipandu dengan penentuan nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak
etil asetat dari hasil partisi memiliki aktivitas sebesar 43,43 ppm sedangkan isolat fraksi
etil asetat dari hasil kromatografi sebesar 39,42 ppm dan keduanya termasuk kedalam
kategori aktif. Hal ini menunjukkan bahwa isolat fraksi etil asetat daun stevia dari hasil
kromatografi memiliki aktivitas yang lebih baik dan berpotensi aktif dalam menghambat
enzim α-glukosidase dibandingkan dengan ekstrak etil asetat dari hasil partisi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Karies gigi merupakan penyakit pada jaringan keras gigi, seperti email,
dentin dan sementum yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans.
Tanaman yang dapat digunakan sebagai antibakteri yaitu rimpang temu putih dan
daun stevia. Oleh karena itu, rimpang temu putih dan daun stevia diformulasikan
kedalam sediaan pasta gigi untuk menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan formulasi
dan stabilitas sediaan pasta gigi yang baik. Ekstraksi rimpang temu putih
dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 96% dan ekstraksi daun
stevia menggunakan cara infusa dengan pelarut air. Ekstrak rimpang temu putih
diformulasikan menjadi 3 konsentrasi, yaitu 15%, 20% dan 25%, sedangkan infus
daun stevia dengan konsentrasi 0,2%. Sediaan pasta gigi ekstrak temu putih dan
infus daun stevia diuji mutu fisik (organoleptik, pH, homogenitas, viskositas dan
pembentukan busa) dan uji antibakteri. Hasil stabilitas pada uji pH dan uji
antibakteri formula 2 (E20% I0,2%) dan formula 4 (I0,2%) selama 28 hari dianalisis
secara statistik dengan metode ANOVA dan Kruskal-wallis, sediaan pasta gigi
ekstrak etanol 96% temu putih dan infus daun stevia 0,2% memiliki mutu fisik
yang memenuhi persyaratan mutu pada SNI 12-3254-1995 dan memiliki stabilitas
yang baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol adalah prekursor dari semua steroid lain di dalam tubuh seperti
kortikosteroid, hormon seks, asam empedu serta pembentukan vitamin D. Banyak
tanaman yang memiliki aktivitas dapat menghambat pembentukan kolesterol,
daun teh dan daun stevia secara tradisional dapat dimanfaatkan sebagai
antikolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit
sekunder dan mengetahui aktivitas dalam menghambat pembentuk kolesterol
ekstrak air daun teh (Camellia sinensis (L) Kuntze) dan daun stevia (Stevia
rebaudiana Bertoni) serta kombinasi keduannya. Ekstrak diperoleh dengan metode
infusa. Pengujian antikolesterol dilakukan secara in vitro dengan mengunakan
metode spektrofotometer UV-Vis pada λ 672 nm absorbansi biasanya untuk
menghitung % inhibisi dan IC50. Kandungan fitokimia ekstrak air daun teh antara
lain Alkaloid Pereaksi Mayer dan Dragendrof, Saponin, Tanin, Flavonoid,
Triterpenoid dan Fenol. Sedangkan untuk ekstrak air daun stevia antar lain
Alkaloid Pereaksi Mayer dan Dragendroff, Saponin, Tanin, Flavonoid, Steroid
dan Fenol. Hasil penelitian yang diperoleh dari nilai IC50 ekstrak tunggal daun teh
sebesar 47,08 ppm dan daun stevia sebesar 354,71 ppm. Sedangkan untuk
kombinasi 1:1, 1:6, dan 6:1 ekstrak air daun teh dan daun stevia diperoleh nilai
IC50 sebesar 82,52 ppm, 104,57 ppm dan 22,90 ppm.