Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

9 hasil
Subjek: Metode Gyssens
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS PADA PASIEN PNEUMONIA DI RUANG RAWAT INAP RSJ dr H MARZOEKI MAHDI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Pneumonia adalah infeksi akut atau inflamasi pada jaringan paru-paru yang diakibatkan oleh bermacam mikroorganisme, antara lain bakteri, virus, parasit, jamur, paparan bahan kimia, atau kerusakan fisik paru-paru. Metode Gyssens dipakai untuk mengevaluasi rasionalitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai penggunaan antibiotik pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan retrospektif, dari data sekunder berupa rekam medis pasien. Dari hasil penelitian pasien pneumonia yang di rawat di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Periode Agustus 2022- Agustus 2023 sebanyak 87 pasien. Hasil penelitian memperlihatkan pasien pneumonia paling tinggi dialami oleh Laki-laki sebanyak 50 pasien dengan persentase (57,47%), kelompok usia terbanyak lansia awal 46-60 tahun sebanyak 24 pasien dengan persentase (27,60%). Profil penggunaan antibiotik pasien pneumonia yang digunakan di rawat inap Ceftriaxone (54,02%), Levofloxacine (32,18%), dan Azithromycin (13,79%). Ketepatan penggunaan antibiotik pasien pneumonia rawat inap dengan memakai metode Gyssens, yang termasuk kategori IIIa (durasi pemberian terlalu lama) (5,75%), kategori IIIb (durasi pemberian terlalu singkat) (4,60%), kategori IIa (Dosis tidak tepat) (4,60%) dan kategori 0 (penggunaan antibiotik tepat atau rasional) (89,65%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS PADA PASIEN BALITA PENDERITA DIARE RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT X

2025Koleksi Perpustakaan

Diare merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Penyakit diare termasuk penyakit endemis yang dapat berpotensi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) dan menjadi salah satu faktor kematian tertinggi pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare balita di Rumah Sakit X. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara retrospektif yang berasal dari data rekam medis kemudian data dianalisis secara kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh secara Purposive Sampling sebanyak 85 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukan pasien diare balita terbanyak adalah laki-laki sebanyak 52 pasien (61,18%), dan dikelompok usia terbanyak yaitu usia ke >1-3 tahun sebanyak 42 pasien (49,41%) dan berat badan terbanyak direntang <10 kg sebanyak 39 pasien (45,88%). Antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu Ceftriaxone sebanyak 38 pasien (44,71 %). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens masuk kedalam kategori : Kategori IV C sebanyak 12 kasus (10,81%), kategori III B sebanyak 7 kasus (6,31%), kategori II A sebanyak 48 kasus (43,24%), kategori 0 sebanyak 44 kasus (39,64%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE ANAK DENGAN METODE GYSSENS DI RSUD SEKARWANGI SUKABUMI

2023Koleksi Perpustakaan

Penyakit diare merupakan penyakit endemis yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan masih menjadi penyumbang angka kematian di Indonesia terutama anak. Pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat dengan tatalaksana terapi akan menimbulkan efek samping serta resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare anak di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara retrospektif yang berasal dari data rekam medik kemudian data dianalisis secara kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh dengan cara total sampling sebanyak 77 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukan pasien diare anak terbanyak adalah laki-laki sebanyak 42 pasien (54,55%), dengan kelompok usia 0 - 1 tahun sebanyak 35 pasien (45,45%) dan berat badan terbanyak < 10 kg sebanyak 48 pasien (62,34%). Antibiotik yang terbanyak digunakan adalah Sefotaksim sebanyak 42 kasus (54,54%) dan rute pemberian yang terbanyak digunakan adalah intravena sebanyak 67 peresepan (87,01%). Evaluasi keetepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens masuk ke dalam kategori: Kategori 0 sebanyak 48 pasien (62,34%), Kategori III B sebanyak 13 pasien (16,88%), Kategori II A sebanyak 9 pasien (11,69%), Kategori IVA sebanyak 7 pasien (9,09%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KERASIONALAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BRONKOPNEUMONIA ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RS AZRA BOGOR DENGAN METODE GYSSENS

2023Koleksi Perpustakaan

Bronkopneumonia salah satu jenis pneumonia disebut juga pneumonia loburalis ditandai bercak infiltrat disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur dengan gejala demam tinggi, sesak napas, muntah dan batuk kering sehingga antibiotik merupakan terapi utama pneumonia. Penggunaan antibiotik yang rasional diharapkan dapat meningkatkan efektifitas terapi dan membatasi laju resistensi. Metode Gyssens adalah evaluasi kualitatif untuk mengukur ketepatan pemberian antibiotik. Tujuan penelitian ini untuk melihat kerasionalan penggunaan antibiotik pasien bronkopneumonia anak di instalasi rawat inap RS Azra Bogor dengan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif observasional menggunakan data sekunder dari rekam medis. Hasil penelitian ini berdasarkan data sosiodemografi pasien bronkopneumonia anak yang terbanyak yaitu anak laki-laki sebanyak 57 pasien dengan persentase (62,64%), anak perempuan sebanyak 34 pasien (37,36%), karakteristik umur paling banyak yaitu kategori balita pada usia 0-5 tahun sebanyak 82 pasien (90,11%) dan berat badan paling banyak <10kg sebanyak 38 pasien (41,76%). Penggunaan antibiotik pasien bronkopneumonia anak di RS Azra Bogor terbanyak yaitu seftriakson 64,84%. Evaluasi penggunaan antibiotik menurut Gyssens kategori 0 yaitu penggunaan rasional atau tepat mendapatkan persentase tertinggi sebesar 48,35%, kategori IVC 31,86%, kategori IIIA 6,59%, kategori IIIB 5,49%, kategori IVB 5,49%, dan kategori IIA 2,19%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE ANAK DENGAN METODE GYSSENS DI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Diare merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Diare juga merupakan 3 penyebab terbesar kesakitan dan kematian anak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien diare anak dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien diare anak yang di rawat inap dengan metode Gyssens di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan dengan data diambil secara retrospektif yaitu mengambil data rekam medis pada pasien anak rawat inap dengan diagnosa diare di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan dengan diagram alir Gyssens, menggunakan standar Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit. Dari 107 kasus yang diperoleh menunjukkan kasus terbanyak terjadi pada anak usia 28 hari-12 bulan (67%) dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%) dan berat badan terbanyak pada 5-15 kg sebanyak 85 pasien (79). Antibiotik yang terbanyak digunakan ceftriaxon injeksi (69%). Hasil evaluasi menggunakan metode Gyssens kesesuaian penggunaan antibiotik masuk ke dalam kategori 0 sebanyak 48 pasien (44%), kategori IIA sebanyak 34 pasien (31%), kategori IIIB sebanyak 10 pasien (9%), kategori IIIA sebanyak 7 pasien (7%), kategori IVA sebanyak 5 pasien (5%), kategori V sebanyak 4 pasien (4%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN GASTROENTERITIS AKUT ANAK RAWAT INAP DENGAN METODE GYSSENS DI RUMAH SAKIT ISLAM BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Gastroenteritis Akut merupakan radang lambung dan usus serta dapat menimbulkan gejala diare yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit lebih sering dari biasanya. Gastroenteritis Akut menempati persentase tertinggi sebagai 10 penyakit rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien Gastroenteritis Akut anak rawat inap di RS Islam Bogor berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat deskriptif dan pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu mengambil data dari rekam medis pada pasien anak rawat inap dengan diagnosis gastronteritis akut di RS Islam Bogor periode Januari – Desember 2021. Data sosiodemografi pasien yang menderita gastroenteritis akut terbanyak adalah laki-laki sebanyak 45 pasien (58,44%), dengan kelompok usia 1 - 3 tahun sebanyak 53 pasien (68,83%) dan berat badan paling banyak 10 kg sebanyak 55 pasien (71,43%), Penyakit penyerta terbanyak adalah ISPA sebanyak 11 pasien (14,29%). Jenis penggunaan antibiotik yang terbanyak digunakan adalah seftriakson sebanyak 29 kasus (34,94%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens masuk kedalam kategori: Kategori III B sebanyak 44 pasien (53,01%), Kategori 0 sebanyak 18 pasien (21,69%), Kategori IV A sebanyak 16 pasien (19,28%), Kategori II A sebanyak 3 pasien (3,61%), Kategori IV C sebanyak 2 pasien (2,41%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS PADA PASIEN TIFOID RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH SAREAL TAHUN 2021

2023Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah infeksi akut pada usus halus dengan gangguan saluran cerna dan gejala demam lebih dari seminggu, atau tanpa gangguan kesadaran. Antibiotik yang digunakan pasien demam tifoid yaitu kloramfenikol, thiampenicol, cefixime, amoxicillin, cotrimoxazole, dan ciprofloxacin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan profil pasien demam tifoid dewasa paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 58 pasien dengan persentase (60%) dan rentang usia 17-25 tahun dan 36-45 sebanyak sebanyak 25 pasien (27 %). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal adalah thiampenikol dengan persentase (48%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal dalam kategori III B yaitu penggunaan antibiotik terlalu singkat mendapatkan nilai presentasi tertinggi sebesar 52%, kategori II B 2 %, kategori II A 13%, kategori IV A 6%, kategori IV B 27%.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISIS RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS PADA PASIEN PNEUMONIA RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT AZRA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Pneumonia adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur dan parasit yang menyebabkan peradangan akut parenkim pada paru-paru (PDPI, 2014), sehingga dibutuhkan terapi empiris yaitu agen antibiotik. Pemberian antibiotik yang tidak rasional dapat memberikan dampak negatif, seperti meningkatkan efek samping dan toksisitas, serta resistensi antibiotik terhadap bakteri. Metode Gyssens adalah salah satu indikator untuk menilai ketepatan pemakaian antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kerasionalan penggunaan antibiotik pasien pneumonia rawat inap di RS Azra Bogor dengan menggunakan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif observasional menggunakan data sekunder dari rekam medik. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien pneumonia paling banyak yaitu pasien laki-laki sebanyak 48 orang dengan persentase 62% dan pada usia lansia akhir sebanyak 27 orang dengan persentase 38%. Penggunaan antibiotik pasien pneumonia di RS Azra Bogor yang paling banyak yaitu antibiotik seftriakson dengan persentase 36%. Evaluasi penggunaan antibiotik menggunakan metode gyssens menunjukkan kategori 0 yaitu penggunaan antibiotik yang rasional sebanyak 37 peresepan dengan persentase 48%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK YANG DI RAWAT INAP DI RS AZRA DENGAN METODE GYSSENS

2022Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Thypi, penyakit tifus merupakan masalah kesehatan di daerah tropis terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Gejala umum pada pasien demam tifoid adalah gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang tenggorokan. Antibiotik yang digunakan pada pasein demam tifoid yaitu kloramfenikol, ampisilin, kotrimoksasol, sefriakson dan sefiksim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak di Rawat Inap RS Azra berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien demam tifoid anak paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 49 pasien dengan presentase (58,33%) dan pada rentang usia 0-5 tahun sebanyak 47 pasien dengan presentase (55,95%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid anak di RS Azra adalah seftriakson dengan presentase (82,14%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid anak yang di rawat di RS Azra dalam kategori 0 yaitu penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional mendapat nilai presentasi tertinggi sebesar 58,33%, kategori IIIB 29,77%, kategori IVB 7,14%, kategori IIIA 3,57%, dan kategori IVA 1,19%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail