BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pneumonia adalah infeksi akut atau inflamasi pada jaringan paru-paru yang
diakibatkan oleh bermacam mikroorganisme, antara lain bakteri, virus, parasit,
jamur, paparan bahan kimia, atau kerusakan fisik paru-paru. Metode Gyssens
dipakai untuk mengevaluasi rasionalitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk
menilai penggunaan antibiotik pada pasien yang dirawat di rumah sakit.
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan retrospektif, dari
data sekunder berupa rekam medis pasien. Dari hasil penelitian pasien pneumonia
yang di rawat di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Periode Agustus 2022-
Agustus 2023 sebanyak 87 pasien. Hasil penelitian memperlihatkan pasien
pneumonia paling tinggi dialami oleh Laki-laki sebanyak 50 pasien dengan
persentase (57,47%), kelompok usia terbanyak lansia awal 46-60 tahun sebanyak
24 pasien dengan persentase (27,60%). Profil penggunaan antibiotik pasien
pneumonia yang digunakan di rawat inap Ceftriaxone (54,02%), Levofloxacine
(32,18%), dan Azithromycin (13,79%). Ketepatan penggunaan antibiotik pasien
pneumonia rawat inap dengan memakai metode Gyssens, yang termasuk kategori
IIIa (durasi pemberian terlalu lama) (5,75%), kategori IIIb (durasi pemberian
terlalu singkat) (4,60%), kategori IIa (Dosis tidak tepat) (4,60%) dan kategori 0
(penggunaan antibiotik tepat atau rasional) (89,65%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diare merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi
masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Penyakit diare termasuk penyakit endemis yang dapat berpotensi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) dan menjadi salah satu faktor kematian tertinggi pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare balita di Rumah Sakit X. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara
retrospektif yang berasal dari data rekam medis kemudian data dianalisis secara kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh secara Purposive Sampling sebanyak 85 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukan pasien diare balita terbanyak adalah laki-laki sebanyak 52 pasien (61,18%), dan dikelompok usia terbanyak yaitu usia ke >1-3 tahun sebanyak 42 pasien (49,41%) dan berat badan terbanyak direntang <10 kg sebanyak 39 pasien (45,88%). Antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu Ceftriaxone sebanyak 38 pasien (44,71 %). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens masuk kedalam kategori : Kategori IV C sebanyak 12 kasus (10,81%),
kategori III B sebanyak 7 kasus (6,31%), kategori II A sebanyak 48 kasus (43,24%), kategori 0 sebanyak 44 kasus (39,64%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyakit diare merupakan penyakit endemis yang berpotensi menimbulkan
Kejadian Luar Biasa (KLB) dan masih menjadi penyumbang angka kematian di
Indonesia terutama anak. Pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat dengan
tatalaksana terapi akan menimbulkan efek samping serta resistensi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan
mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare anak di RSUD Sekarwangi
Sukabumi. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara
retrospektif yang berasal dari data rekam medik kemudian data dianalisis secara
kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh dengan cara total sampling
sebanyak 77 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian
menunjukan pasien diare anak terbanyak adalah laki-laki sebanyak 42 pasien
(54,55%), dengan kelompok usia 0 - 1 tahun sebanyak 35 pasien (45,45%) dan
berat badan terbanyak < 10 kg sebanyak 48 pasien (62,34%). Antibiotik yang
terbanyak digunakan adalah Sefotaksim sebanyak 42 kasus (54,54%) dan rute
pemberian yang terbanyak digunakan adalah intravena sebanyak 67 peresepan
(87,01%). Evaluasi keetepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens
masuk ke dalam kategori: Kategori 0 sebanyak 48 pasien (62,34%), Kategori III
B sebanyak 13 pasien (16,88%), Kategori II A sebanyak 9 pasien (11,69%),
Kategori IVA sebanyak 7 pasien (9,09%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Bronkopneumonia salah satu jenis pneumonia disebut juga pneumonia loburalis
ditandai bercak infiltrat disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur dengan gejala
demam tinggi, sesak napas, muntah dan batuk kering sehingga antibiotik
merupakan terapi utama pneumonia. Penggunaan antibiotik yang rasional
diharapkan dapat meningkatkan efektifitas terapi dan membatasi laju resistensi.
Metode Gyssens adalah evaluasi kualitatif untuk mengukur ketepatan pemberian
antibiotik. Tujuan penelitian ini untuk melihat kerasionalan penggunaan antibiotik
pasien bronkopneumonia anak di instalasi rawat inap RS Azra Bogor dengan
metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif observasional menggunakan
data sekunder dari rekam medis. Hasil penelitian ini berdasarkan data
sosiodemografi pasien bronkopneumonia anak yang terbanyak yaitu anak laki-laki
sebanyak 57 pasien dengan persentase (62,64%), anak perempuan sebanyak 34
pasien (37,36%), karakteristik umur paling banyak yaitu kategori balita pada usia
0-5 tahun sebanyak 82 pasien (90,11%) dan berat badan paling banyak <10kg
sebanyak 38 pasien (41,76%). Penggunaan antibiotik pasien bronkopneumonia
anak di RS Azra Bogor terbanyak yaitu seftriakson 64,84%. Evaluasi penggunaan
antibiotik menurut Gyssens kategori 0 yaitu penggunaan rasional atau tepat
mendapatkan persentase tertinggi sebesar 48,35%, kategori IVC 31,86%, kategori
IIIA 6,59%, kategori IIIB 5,49%, kategori IVB 5,49%, dan kategori IIA 2,19%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diare merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah dan
perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Diare juga
merupakan 3 penyebab terbesar kesakitan dan kematian anak di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien diare anak dan
mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien diare anak yang di
rawat inap dengan metode Gyssens di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020-
Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan dengan data
diambil secara retrospektif yaitu mengambil data rekam medis pada pasien anak
rawat inap dengan diagnosa diare di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020-
Desember 2021. Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan dengan diagram alir
Gyssens, menggunakan standar Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. 8 Tahun
2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit.
Dari 107 kasus yang diperoleh menunjukkan kasus terbanyak terjadi pada anak
usia 28 hari-12 bulan (67%) dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%) dan
berat badan terbanyak pada 5-15 kg sebanyak 85 pasien (79). Antibiotik yang
terbanyak digunakan ceftriaxon injeksi (69%). Hasil evaluasi menggunakan
metode Gyssens kesesuaian penggunaan antibiotik masuk ke dalam kategori 0
sebanyak 48 pasien (44%), kategori IIA sebanyak 34 pasien (31%), kategori IIIB
sebanyak 10 pasien (9%), kategori IIIA sebanyak 7 pasien (7%), kategori IVA
sebanyak 5 pasien (5%), kategori V sebanyak 4 pasien (4%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Gastroenteritis Akut merupakan radang lambung dan usus serta dapat
menimbulkan gejala diare yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit lebih
sering dari biasanya. Gastroenteritis Akut menempati persentase tertinggi sebagai
10 penyakit rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien Gastroenteritis Akut anak rawat
inap di RS Islam Bogor berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat
deskriptif dan pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu mengambil data
dari rekam medis pada pasien anak rawat inap dengan diagnosis gastronteritis akut
di RS Islam Bogor periode Januari – Desember 2021. Data sosiodemografi pasien
yang menderita gastroenteritis akut terbanyak adalah laki-laki sebanyak 45 pasien
(58,44%), dengan kelompok usia 1 - 3 tahun sebanyak 53 pasien (68,83%) dan berat
badan paling banyak 10 kg sebanyak 55 pasien (71,43%), Penyakit penyerta
terbanyak adalah ISPA sebanyak 11 pasien (14,29%). Jenis penggunaan antibiotik
yang terbanyak digunakan adalah seftriakson sebanyak 29 kasus (34,94%).
Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens masuk
kedalam kategori: Kategori III B sebanyak 44 pasien (53,01%), Kategori 0
sebanyak 18 pasien (21,69%), Kategori IV A sebanyak 16 pasien (19,28%),
Kategori II A sebanyak 3 pasien (3,61%), Kategori IV C sebanyak 2 pasien
(2,41%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah infeksi akut pada usus halus dengan gangguan saluran
cerna dan gejala demam lebih dari seminggu, atau tanpa gangguan kesadaran.
Antibiotik yang digunakan pasien demam tifoid yaitu kloramfenikol, thiampenicol,
cefixime, amoxicillin, cotrimoxazole, dan ciprofloxacin. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid
dewasa di Puskesmas Tanah Sareal berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini
bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil
penelitian yang telah dilakukan berdasarkan profil pasien demam tifoid dewasa
paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 58 pasien dengan persentase
(60%) dan rentang usia 17-25 tahun dan 36-45 sebanyak sebanyak 25 pasien (27
%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid dewasa di
Puskesmas Tanah Sareal adalah thiampenikol dengan persentase (48%). Evaluasi
penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid
dewasa di Puskesmas Tanah Sareal dalam kategori III B yaitu penggunaan
antibiotik terlalu singkat mendapatkan nilai presentasi tertinggi sebesar 52%,
kategori II B 2 %, kategori II A 13%, kategori IV A 6%, kategori IV B 27%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pneumonia adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme
seperti bakteri, virus, jamur dan parasit yang menyebabkan peradangan akut
parenkim pada paru-paru (PDPI, 2014), sehingga dibutuhkan terapi empiris yaitu
agen antibiotik. Pemberian antibiotik yang tidak rasional dapat memberikan
dampak negatif, seperti meningkatkan efek samping dan toksisitas, serta resistensi
antibiotik terhadap bakteri. Metode Gyssens adalah salah satu indikator untuk
menilai ketepatan pemakaian antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat
kerasionalan penggunaan antibiotik pasien pneumonia rawat inap di RS Azra Bogor
dengan menggunakan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif
observasional menggunakan data sekunder dari rekam medik. Dari hasil penelitian
yang telah dilakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien pneumonia paling
banyak yaitu pasien laki-laki sebanyak 48 orang dengan persentase 62% dan pada
usia lansia akhir sebanyak 27 orang dengan persentase 38%. Penggunaan antibiotik
pasien pneumonia di RS Azra Bogor yang paling banyak yaitu antibiotik seftriakson
dengan persentase 36%. Evaluasi penggunaan antibiotik menggunakan metode
gyssens menunjukkan kategori 0 yaitu penggunaan antibiotik yang rasional
sebanyak 37 peresepan dengan persentase 48%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella Thypi, penyakit tifus merupakan masalah kesehatan di daerah
tropis terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Gejala umum pada
pasien demam tifoid adalah gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran
ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang
tenggorokan. Antibiotik yang digunakan pada pasein demam tifoid yaitu
kloramfenikol, ampisilin, kotrimoksasol, sefriakson dan sefiksim. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam
tifoid anak di Rawat Inap RS Azra berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini
bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil
penelitian yang telah dilakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien demam
tifoid anak paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 49 pasien dengan
presentase (58,33%) dan pada rentang usia 0-5 tahun sebanyak 47 pasien dengan
presentase (55,95%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam
tifoid anak di RS Azra adalah seftriakson dengan presentase (82,14%). Evaluasi
penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid anak
yang di rawat di RS Azra dalam kategori 0 yaitu penggunaan antibiotik yang tepat
dan rasional mendapat nilai presentasi tertinggi sebesar 58,33%, kategori IIIB
29,77%, kategori IVB 7,14%, kategori IIIA 3,57%, dan kategori IVA 1,19%.