BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang berlangsung sampai
dengan 14 hari yang bersifat kompleks dan heterogen yang disebabkan oleh
berbagai penyebab dan dapat mengenai sepanjang saluran pernafasan. Laporan
Tahunan Puskesmas Kedung Badak Tahun 2021 menunjukan ISPA merupakan
penyakit yang paling banyak. Pengobatan ISPA sering kali menggunakan antibiotik
sehingga memerlukan evaluasi ketepatan pada penggunaan antibiotik untuk ISPA.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik
pada pasien ISPA di Puskemas Kedung Badak pada tahun 2021. Penelitian ini
dilakukan secara retsrospektif dengan berdasarkan Rekam medis pasien tahun
2021. Hasil Penelitian menunjukan bahwa profil pasien ISPA anak bagian atas di
Puskesmas Kedung Badak tahun 2021 berdasarkan karakteristik jenis kelamin
terbanyak kategori laki – laki (56%), karakteristik usia terbanyak kategori 0-5
tahun (64%) dan kategori berat badan terbanyak kategori 10 – 15kg (45%).
Antibiotik yang digunakan adalah Amoxicillin syrup 125 mg/5 ml (100%). Hasil
evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik ISPA anak bagian atas diketahui tepat
indikasi (64%), tepat dosis (67%), tepat frekuensi pemberian (100%), dan tepat
lama pemberian (8%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid disebabkan adanya resistensi terhadap Salmonella typhi, umumnya
pengobatan demam tifoid menggunakan golongan sefalosforin generasi ketiga.
Jenis pengobatan antibiotik pada penelitian ini menggunakan seftriakson dan
sefotaksim. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik
Seftriakson dan sefotaksim di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif observasional. Sampel yang digunakan adalah data rekam medik pasien
demam tifoid selama periode Januari – Desember 2022 dengan jumlah 91 pasien.
Data dianalisis dengan menggunakan perhitungan persentase pada Microsoft excel.
Hasil penelitian ini menunjukan pasien dengan rentang usia paling banyak adalah
17-25 tahun sebanyak 44 pasien (48%), jenis kelamin paling banyak perempuan
sebanyak 53 pasien (58%). Dari hasil penelitian pada pasien demam tifoid di
Rumah Sakit X periode Januari – Desember 2022 dapat disimpulkan persentase
pada pemberian antibiotik seftriakson yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%,
tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian
84%. Sedangkan pada pemberian antibiotik sefotaksim yaitu tepat indikasi 100%,
tepat pasien 100%, tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan
tepat lama pemberian 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Gagal Ginjal (renal atau kidney failure) merupakan kasus penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara akut (kambuhan) maupun kronik (menahun). Gagal kronik gejala awalnya muncul secara bertahap biasanya tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, sehingga penurunan fungsi ginjal tersebut tidak sering dirasakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji ketepatan obat berdasarkan tepat pasien, tepat obat, tepat dosis dan tepat frekuensi, pada pasien rawat jalan penderita gagal
ginjal kronik di RS. RST Dompet Dhuafa. Data yang digunakan adalah data
rekam medik, dengan data yang diambil meliputi , usia, jenis kelamin dan jenis obat yang digunakan pada pasien rawat jalan penderita gagal ginjal kronik periode Januari – Maret 2022. Data dianalisis dengan menggunakan data deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang ketepatan penggunaan obat pada pasien gagal ginjal kronik di RS. RST Dompet Dhuafa. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Sampel yang diambil sebanyak 103 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukan
data sosiodemografi jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 55,3%, usia terbanyak 56-65 tahun 31,1%, berat badan terbanyak 51,60 kg 35%. Distribusi pasien berdasarkan diagnosis penyakit penyerta terbanyak yaitu penyakit hipertensi dengan persentase 72,82%. Evaluasi ketepatan pengobatan berdasarkan tepat pasien diperoleh hasil sebanyak 99%, pada tepat obat sebanyak 98%, pada tepat dosis diperoleh sebanyak 83%, dan tepat frekuensi sebanyak 99%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Diare adalah suatu keadaan buang air besar (BAB) cair atau encer dengan
frekuensi lebih dari tiga kali sehari (atau lebih sering buang air besar daripada
yang normal). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran
sosiodemografi pada terapi pengobatan penyakit diare anak meliputi: usia dan
jenis kelamin di Praktek Dokter Mahyudi dan untuk mengetahui gambaran terapi
pengobatan penyakit diare anak. Desain penelitian yang digunakan adalah
Deskriptif Observasional dengan menganalisis data dengan pendekatan
Retrospektif dari data rekam medis dengan pendekatan secara Cross Sectional.
Hasil penelitian ini kelompok usia terbanyak menderita diare ialah usia 0-5 tahun
43 anak (63%). Jenis kelamin anak penderita diare adalah laki-laki sebanyak 41
anak (60%) dari total sampel 68 sampel dan terapi obat yang sering digunakan di
Praktek Dokter Mahyudi menggunakan Zinc Sulfate Monohydrate sebanyak 49
kasus (72%).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Infeksi saluran ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat
penyakit menular di dunia. Evaluasi ketepatan penggunaan obat ISPA perlu
mendapatkan perhatian khusus agar tidak terjadi penggunaan obat secara tidak
rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui obat-obat ISPA dan
mengevaluasi ketepatan obat, ketepatan dosis dan ketepatan frekuensi dengan
menggunakan metode penelitian secara deskriptif dan pengambilan data secara
retrospektif. Hasil obat-obat ISPA yang digunakan Golongan Antihistamin yaitu
CTM sebanyak 52 pasien (87%), Golongan Kortikosteroid yaitu prednison 54
pasien (90%), Dexamethasone 3 pasien (5%), Triamcinolone 3 pasien (5%),
Golongan analgetik-Antipiretik 59 pasien (98%), Golongan Mukolitik 57 pasien
(95%), Golongan Dekongestan 49 pasien (82%) dan Golongan Obat ekspektoran
30 pasien (50%). Ketepatan obat sebanyak 60 (100%) pasien sudah tepat, ketepatan
dosis sebanyak 60 resep (60 pasien) 100 % dan tepat frekuensi dalam penggunaan
aturan pakai pada resep sesuai yang tertera pada Informasi Spesialite Obat (ISO).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan suatu penyakit degeneratif ditandai dengan
terjadinya peningkatan sistolik di atas 140 dan atau diastolik di atas 90 mmHg.
Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah.
Salah satu pengobatan yang digunakan adalah Amlodipin dan Captopril.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien
hipertensi, gambaran penggunaan obat antihipertensi, gambaran penurunan
tekanan darah dan untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah dari
kedua jenis obat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non observasional
dengan pendekatan cross sectional, pengambilan data dilakukan secara
retrospektif dari data sekunder berupa data dari rekam medis pasien hipertensi di
Puskesmas Curug Jasinga Bogor periode Februari – April 2022. Sampel yang
diambil sebanyak 92 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian
menunjukkan data sosiodemografi terbanyak terjadi pada rentang usia 46–55
tahun (40,22%), dengan jenis kelamin terbanyak pada perempuan (72,83%), dan
kelompok pekerjaan terbanyak pada ibu rumah tangga (52,17%). Obat yang
paling banyak digunakan adalah Amlodipin (51,09%). Pada penggunaan
Amlodipin didapatkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 25,5 mmHg dan
diastolik 17,4 mmHg sedangkan pada penggunaan Captopril rata-rata penurunan
tekanan darah sistolik 11,7 mmHg dan diastolik 8,6 mmHg. Pada uji Mann-
whitney didapatkan nilai P-value 0,000 < 0,05 artinya terdapat perbedaan yang
nyata penurunan tekanan darah antara Amlodipin dan Captopril.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik 90 mmHg untuk dua kali pengukuran dan pasien diukur
pada keadaan tenang. Terdapat lima golongan utama obat antihipertensi yaitu
Antagonis Converting Enzym Inhibitor, Antagonis Reseptor Bloker, beta bloker,
Calcium Chanel Bloker dan diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
karakteristik pasien, penyakit penyerta, gambaran tekanan darah, profil penggunaan
obat dan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan algoritma terapi hipertensi
Joint Commite National Eight (JNC 8)di Klinik Budhi Pratama Gedong periode
Januari – Maret 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan
rancangan cross sectional. Data sekunder pada penelitian ini diambil secara
retrospektif dari rekam medik pasien periode Januari-Maret 2021. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini adalah secara total sampling dengan jumlah
sampel 75 pasien. Hasil penelitian karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis
kelamin terbanyak adalah perempuan 48 pasien (64%), usia terbanyak adalah manula
lebih 65 tahun 30 pasien (40 %), klasifikasi hipertensi terbanyak yaitu hipertensi
stage1 sebanyak 50 pasien (66.67 %) dan pasien hipertensi dengan diabetes mellitus
sebanyak 24 pasien (32%) . Profil penggunaan obat antihipertensi secara tunggal
sebanyak 48 pasien (64%). Evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan pedoman
Joint Commite Nasional Eight (JNC 8) tahun 2014, yaitu sesuai sebanyak 64 pasien
(85.33%) dan tidak sesuai sebanyak 11 pasien (14.67%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam Berdarah Dangue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue biasanya ditandai dengan Demam Berdarah Dengue demam 2-7 hari yang
disertai dengan penurunan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk Mengevaluasi
penggunaan obat pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSU
Jampangkulon Sukabumi meliputi tepat obat, tepat dosis, dan tepat indikasi sesuai
dengan Pedoman Komprehensif untuk Pencegahan dan Pengendalian Demam
Berdarah dan Demam Bedarah Dengue oleh WHO tahun 2011. Penelitian ini
merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional bersifat
deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada periode Juli –
Desember 2021 sebanyak 132 sampel. Hasil dari penelitian ini menunjukan
sosiodemografi pasien jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 53 pasien (53%),
usia terbanyak yaitu 5 – 11 tahun (Kanak – kanak) dengan 39 pasien (39,40%),
Pasien Demam Beradarah Dengue (DBD) juga mendapatkan terapi lainya untuk
mengobati gejala maupun diagnosis yang ada. Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan
penggunaan obat pada pasien DBD diatas sebanyak 99 pasien didapatkan tepat obat
(100 %), tepat dosis (89,89%), dan tepat indikasi (100 %).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diare adalah penyakit dengan meningkatnya frekuensi buang air besar lebih
dari tiga kali sehari disertai perubahan bentuk dan konsistensi feses. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui profil sosiodemografi pasien, mengevaluasi
penggunaan obat antidiare meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi dan tepat
lama pemberian berdasarkan Manajemen Terpadu Balita Sakit 2015, Drug
Information Handbook 2009, Pediatric Drug Doses 2012, MIMS 2019. Penelitian
ini, non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif, dianalisis
secara deskriptif. Sampel diambil sebanyak 63 pasien dengan metode total
sampling. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%),
kelompok usia terbanyak > 1-3 tahun (53%), berat badan terbanyak <10 kg (81%).
Penggunaan terapi obat zink sebanyak (19%), antibiotik dengan probiotik sebanyak
(13%), antibiotik sebanyak (42%). Pemberian antibiotik yang sering digunakan
yaitu kotrimoksazol (71%). Evaluasi ketepatan pemilihan obat zink, probiotik,
antibiotik didapatkan sebanyak (100%). Evaluasi ketepatan dosis zink (68%),
probiotik (70%), antibiotik (94%). Evaluasi ketepatan frekuensi zink (100%),
probiotik (100%), antibiotik (78%). Evaluasi ketepatan lama pemberian zink,
probiotik, antibiotik (100%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi. Demam tifoid terjadi di negara berkembang dengan angka
kejadian yaitu 21 juta dan kematian 700 kasus. Pada penelitian yang berjudul
Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak di
Rumah Sakit Melania Bogor secara retrospektif, memperoleh data periode Juli
sampai dengan Desember dengan jumlah 79 pasien. Data yang diolah meliputi
karakteristik pasien. Maka penelitian ini dapat menarik kesimpulan sebagai berikut
: dari 79 pasien berdasarkan sosiodemografi pasien berdasarkan jenis kelamin
terbanyak adalah laki-laki 44 pasien (56%), sosiodemografi usia terbanyak yaitu
usia 0-5 tahun (Balita) yaitu 52 pasien (66%), sosiodemografi berat badan
terbanyak yaitu kurang dari 15 kg yaitu sebanyak 41 pasien (52%). Profil
penggunaan Obat Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid anak yaitu paling banyak
pada penggunaan Seftriakson dengan jumlah 57 pasien (72%). Berdasarkan hasil
evaluasi ketepatan pengobatan dari analisis di atas didapatkan hasil tepat indikasi
(100%), tepat obat (100%), tepat dosis (94,37%), tepat waktu pemberian obat
(100%) dan tepat lama pemberian (3.79%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan
penggunaan antibiotik dari analisis dengan metode DDD sebanyak 79 pasien
didapatkan angka terbesar pada Seftriakson yaitu 48,35.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Puskesmas merupakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam
pelayanan kesehatan masyarakat. Untuk itu rasionalitas obat sangat penting
digunakan dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Penelitian ini
bertujuan untuk melihat gambaran peresepan, gambaran indikator peresepan
obat rasional, dan kesesuaian indikator peresepan dengan Panduan
Penggunaan Obat Rasional 2011, yang meliputi: Penggunaan Antibiotik pada
ISPA Non Pneumonia, Diare Non Spesifik, Injeksi pada Myalgia, Rerata
Jumlah Item Obat Per Lembar Resep, serta Penggunaan Obat Generik.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan
pendekatan cross sectional, mengunakan data Retrospektif berupa resep pada
Agustus–Oktober 2021 serta metode total sampling dengan jumlah sebanyak
3.965 resep. Hasil penelitian menunjukkan gambaran peresepan pada penyakit
ISPA Non Pneumonia adalah 95 resep (36%) yang menggunakan Antibiotik.
Diare Non Spesifik terdapat 78 resep (66%) yang tidak menggunakan
Antibiotik. Injeksi pada Myalgia berjumlah 0 resep (0%). Indikator POR pada
peresepan Agustus-Oktober 2021 untuk Persentase Antibiotik pada ISPA Non
Pneumonia adalah 57,12%, Diare Non Spesifik 52,33%, Injeksi Pada Myalgia
0%, Rerata jumlah item obat pada tiap lembar resep 2,45. Untuk pemberian
penggunaan Obat Generik 98,47%. Kesesuaian indikator POR untuk
pengunaan antibiotik pada ISPA Non Pneumonia, Diare Non Spesifik
penggunaan obat generik, tidak sesuai, sedangkan pada Injeksi Myalgia,
Rerata jumlah item pada resep sudah sesuai dari pedoman.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diare merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah dan
perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Diare juga
merupakan 3 penyebab terbesar kesakitan dan kematian anak di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien diare anak dan
mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien diare anak yang di
rawat inap dengan metode Gyssens di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020-
Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan dengan data
diambil secara retrospektif yaitu mengambil data rekam medis pada pasien anak
rawat inap dengan diagnosa diare di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020-
Desember 2021. Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan dengan diagram alir
Gyssens, menggunakan standar Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. 8 Tahun
2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit.
Dari 107 kasus yang diperoleh menunjukkan kasus terbanyak terjadi pada anak
usia 28 hari-12 bulan (67%) dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%) dan
berat badan terbanyak pada 5-15 kg sebanyak 85 pasien (79). Antibiotik yang
terbanyak digunakan ceftriaxon injeksi (69%). Hasil evaluasi menggunakan
metode Gyssens kesesuaian penggunaan antibiotik masuk ke dalam kategori 0
sebanyak 48 pasien (44%), kategori IIA sebanyak 34 pasien (31%), kategori IIIB
sebanyak 10 pasien (9%), kategori IIIA sebanyak 7 pasien (7%), kategori IVA
sebanyak 5 pasien (5%), kategori V sebanyak 4 pasien (4%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
ISPA merupakan suatu penyakit menular yang menginfeksi saluran pernapasan
manusia yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus
yang masih menjadi perhatian karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian.
Dalam kenyataannya antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini.
Peresepan antibiotika yang berlebihan dapat menimbulkan peningkatan resistensi
bakteri dan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data
sosiodemografi berupa usia dan jenis kelamin, data profil penyakit ISPA, data profil
penggunaan antibiotik serta data ketepatan penggunaan antibiotik meliputi tepat
indikasi, tepat dosis, tepat obat, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian pasien
penderita ISPA. Penelitian ini bersifat observasional dimana data sekunder
dikumpulkan dari rekam medik pasien periode Januari – Desember 2021 yang
dilakukan secara retrospektif dan dianalisis dengan metode analisa deskriptif di
Klinik Utama dr. Yati Zarnudji Cibinong Kabupaten Bogor. Pada penelitian ini
diperoleh data pasien yang terdiagnosa ISPA bagian atas dan bawah sebanyak 82
pasien terpilih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian
diperoleh pasien ISPA paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 51
pasien (62%). Untuk usia yang paling banyak menderita penyakit ISPA berdasarkan
data sosiodemografi pasien yaitu usia dewasa awal 26 – 35 tahun sebanyak 29 orang
(35%). Penyakit ISPA yang paling banyak diderita yaitu faringitis sebanyak 54
pasien (66%). Untuk antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu cefixime
sebanyak 32 resep (39%). Evaluasi ketepatan indikasi 82 sampel (100%), ketepatan
dosis 65 sampel (79%), ketepatan obat 82 sampel (100%), ketepatan frekuensi 82
sampel (100%) dan ketepatan lama pemberian 40 sampel (49%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Dispepsia adalah penyakit medis yang ditandai dengan nyeri atau ketidaknyamanan di
ulu hati atau perut bagian atas. Salah satu masalah pencernaan yang paling umum.
Salah satu penyebab masalah pencernaan adalah pola makan dan gaya hidup.Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui data sosiodemografi pasien meliputi usia, dan
jenis kelamin, penyakit penyerta, profil penggunaan obat dispepsia, dan ketepatan
penggunaan obat dispepsia meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat
frekuensi yang digunakan pada pasien penderita penyakit dispepsia. Penelitian ini
merupakan penelitian yang bersifat observasional (non eksperimental) yang dilakukan
pada periode Oktober – Desember 2021 secara retrospektif dan dianalisis secara
deskriptif. Data sekunder pada penelitian kali ini menggunakan data penelusuran rekam
medis dan resep. Hasil penelitian ini menunjukan data sosiodemografi dengan usia >
16 – 65 tahun sebanyak 195 orang yang terdiri dari laki
– laki sebanyak 75 orang (38%) dan perempuan sebanyak 120 orang (62%). Usia pasien
terbanyak mengalami Dispepsia pada rentang usia 26 - 35 tahun sebanyak 51 orang
(26%). Penyakit penyerta pasien terbanyak diagnosa Dispepsia dengan demam
sebanyak 85 orang (44%). Penggunaan obat dispepsia terbanyak ranitidin (56,67%).
Ketepatan penggunaan obat tepat pasien, tepat indikasi dan tepat dosis sudah
menunjukan hasil 100%. Tepat frekuensi antasida 71%, ranitidin 100%, omeprazole
93%, kombinasi antasida dengan ranitidin 66%, kombinasi antasida dengan
omeprazole 75%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati
segala keluhan ringan pada diri sendiri atas inisiatif sendiri atau tanpa konsultasi
medis yang berkaitan dengan indikasi, dosis, dan lama penggunaan. Pengetahuan
merupakan salah satu faktor predisposisi yang sangat penting dalam mempengaruhi
terbentuknya perilaku seseorang. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui
hubungan pengetahuan tentang swamedikasi dengan pola penggunaan obat pada
masyarakat RW 006 Desa Mekarsari Kecamatan Cianjur. Desain penelitian ini
adalah deskriptif non eksperimental dengan pendekatan cross-sectional. alat ukur
berupa data primer yaitu menggunakan kuesioner dalam bentuk google form, untuk
mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara
swamedikasi. Pengambilan dilakukan pada 115 orang sampel yang didapat dari
populasi menggunakan metode purposive sampling. Selanjutnya dianalisis
menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa pemberian obat harus beserta dengan informasi yang tepat yaitu
pola penggunaan obat sebagian besar responden menggunakan obat dengan tepat
sebanyak 104 orang (90%). dari tingkat pengetahuan dengan kategori pengetahuan
tinggi sebanyak 104 orang (90%). Analisis hubungan tingkat pengetahuan dengan
pola penggunaan obat menunjukan hasil uji statistik Chi-Square nilai p-value yang
didapat 0,000 (0,05), hasil tersebut menunjukan ada hubungan antara tingkat
pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara swamedikasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup berbahaya di
dunia karena hipertensi merupakan faktor resiko utama yang mengarah kepada
penyakit kardiovaskuler. Sebagai salah satu penyakit yang cukup besar
prevalensinya, penggunaan obat antihipertensi penting diketahui untuk
perencanaan kebutuhan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui
gambaran sosiodemografi dari pasien hipertensi dan mengetahui gambaran
penggunaan obat antihipertensi yang diberikan kepada pasien BPJS di Instalasi
Rawat Jalan RSUD Leuwiliang. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif
dengan alat ukur data rekam medis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan cara Total Sampling. Total sampel yang
didapat sebanyak 393 pasien. Data yang telah didapat kemudian di klasifikasikan
dan diringkas ke dalam tabel, disusun berdasarkan tujuan penelitian. Penderita
essential (primary) hypertension paling banyak diderita oleh perempuan sebesar
67,43% dan pada kelompok usia lansia akhir 56 - 65 tahun yaitu sebesar 36,90%.
Penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak yaitu Amlodipin sebesar
43,30%. Golongan obat yang yang paling banyak digunakan yaitu Antagonis
Kalsium sebesar 43,06%. Penggunaan obat antihipertensi lebih banyak
menggunakan satu jenis obat (monoterapi) sebesar 53,18%. Kombinasi obat
antihipertensi terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kombinasi 2 obat, kombinasi 3
obat, dan kombinasi 4 obat antihipertensi. Kombinasi 2 obat antihipertensi paling
banyak yaitu kombinasi Antagonis Kalsium dengan ACE Inhibitor. Kombinasi
3 obat antihipertensi paling banyak yaitu Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor,
Diuretik dan kombinasi Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker.
Kombinasi 4 obat yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi Antagonis
Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker dan Diuretik.
.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
ISPA merupakan salah satu penyakit utama yang mendapat perawatan rawat
jalan di fasilitas pelayanan kesehatan. Antibiotik merupakan golongan obat yang
paling banyak digunakan untuk mengatasi infeksi ini. Antibiotik hendaknya
digunakan secara rasional karena mempunyai dampak yang besar, salah satunya
yaitu terjadinya resistensi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
gambaran mengenai ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA. Penelitian
ini dilakukan dengan metode deskriptif retrospektif, menggunakan rekam medis
dan resep pasien rawat jalan penderita ISPA yang menerima antibiotik di RS UMMI
Bogor selama periode Juli-November 2021. Data yang diambil meliputi identitas
pasien, diagnosis, antibiotik, dan dosis yang digunakan. Data yang diperoleh
disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 69 pasien yang paling banyak menderita ISPA berdasarkan jenis kelamin
adalah pasien laki-laki (57%), berdasarkan usia adalah anak 0-5 tahun (77%).
Golongan antibiotik yang paling sering diresepkan adalah golongan sefalosporin
yaitu cefixime (71%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan pedoman
Pharmaceutical care 2005 meliputi kriteria tepat indikasi (100%), tepat dosis
(87%), tepat frekuensi (97%), dan tepat lama pemberian (96%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab penyakit utama
morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Evaluasi
Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pada
pasien ISPA, untuk mengetahui penggunaan obat antibiotik, untuk mengetahui
ketepatan indikasi, ketepatan obat, ketepatan dosis, ketepatan frekuensi dan
ketepatan lama pemberian berdasarkan panduan Pharmaceutical Care 2005 dan
IDI 2017. Penelitian ini merupakan non eksperimental dengan mengambil data
secara retrosopektif menggunakan data sekunder rekam medik sebanyak 229
pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan data
sosiodemografi usia paling banyak 17-25 tahun sebanyak 57 pasien (24,57%),
jenis kelamin laki-laki lebih banyakyaitu sebanyak 118 pasien (51,53%),
diagnosa paling banyak yaitu faringitis sebanyak 138 pasien (60,26%). Obat-
obatan ISPA yang digunakan yaitu Amoksisilin (79,40%), Sefadroksil (15,58%),
Cefixime (3.02%), Siprofloksasin (2,01%), Parasetamol (8,54%), Deksametason
(1,83%), CTM (17,58%), Cetirizine (61,59%), Ambroksol (5,49%), Vitamin B
Kompleks (4,88%). Ketepatan Indikasi (89,96%), Ketepatan Obat (82,97%),
Ketepatan Dosis (99,13%), Ketepatan Frekuensi (100,00%), Ketepatan Lama
Pemberian (94,97%).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Infeksi saluran pernapasan atas atau upper Respiratory tract Infections (URI
/ URTI) adalah infeksi yang terjadi pada rongga hidung, sinus, dan tenggorokan.
Beberapa penyakit yang masuk dalam infeksi ini adalah pilek, sinusitis, tonsillitis,
dan faringitis.. ISPA Atas disebabkan karena bakteri, virus, jamur dan ricketsia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui data sosiodemografi pasien, profil
penggunaan antibiotik, dan evaluasi penggunaan antibiotik yang digunakan pada
pasien penderita penyakit ISPA atas dengan ATC/DDD. Metode penelitian ini
menggunakan rancangan deskriptif obsevasional dengan pengambilan data secara
retrospektif, berupa rekam medis di Puskesmas Pulo Armyn Bogor selama
periode Oktober – Desember 2021, berdasarkan kriteria jenis kelamin perempuan
paling banyak dengan persentase yang didapat sebanyak 118 pasien (54,13%)
menggunakan antibiotik, berdasarkan kriteria usia 36-45 tahun paling banyak
menggunakan antibiotik sebanyak 53 pasien (24,31%). Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan pada periode tiga
bulan tahun 2021 adalah Amoksisilin dengan nilai DDD/1000/Pasien/Hari yaitu
752,293 nilai persentase (DU90%) sejumlah 75,23%. Sedangkan untuk
Siprofloksasin dengan nilai DDD/1000/Pasien/Hari yaitu 247,71 nilai persentase
(DU90%) sejumlah 24,77%. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat
meningkatkan kejadian resistensi. Diperlukan kebijakan dalam mengendalikan
penggunaan antibiotik di Puskesmas untuk mengurangi resistensi antibiotik serta
efek samping yang ditimbulkan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Prevalensi penyakit infeksi di Indonesia terus meningkat sehingga menyebabkan
penggunaan antibiotik meningkat. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat
memicu resistensi antibiotik yang berdampak negatif meliputi peningkatan angka
kesakitan dan kematian, biaya dan lama perawatan, serta efek samping. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas penggunaan antibiotik di Depo Rawat
Jalan RSUD Kota Bogor. Penelitian ini termasuk jenis penelitian non
eksperimental (observasi) dengan rancangan deskriptif evaluatif, data berasal dari
resep terdahulu dikumpulkan dan dihitung pada periode Oktober-November 2020.
Hasil dari penelitian ini diperoleh 3 antibiotik terbesar yang dipakai yaitu cefixime
35,31%, cefadroxil 29,38% dan azitromycin 12,48% sedangkan antibiotik
cotrimoxazol sirup adalah antibiotik yang paling sedikit digunakan yaitu 0,16%.
Terdapat ketidaksesuaian DDD hitung dengan DDD WHO. DDD hitung cefixime
1185 sedangkan DDD WHO 400 dan DDD hitung azitromycin 391,67 sedangkan
nilai DDD WHO 300.