Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

27 hasil
Subjek: Penggunaan
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT BAGIAN ATAS ( ISPAa ) ANAK DI PUSKESMAS KEDUNG BADAK

2025Koleksi Perpustakaan

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari yang bersifat kompleks dan heterogen yang disebabkan oleh berbagai penyebab dan dapat mengenai sepanjang saluran pernafasan. Laporan Tahunan Puskesmas Kedung Badak Tahun 2021 menunjukan ISPA merupakan penyakit yang paling banyak. Pengobatan ISPA sering kali menggunakan antibiotik sehingga memerlukan evaluasi ketepatan pada penggunaan antibiotik untuk ISPA. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA di Puskemas Kedung Badak pada tahun 2021. Penelitian ini dilakukan secara retsrospektif dengan berdasarkan Rekam medis pasien tahun 2021. Hasil Penelitian menunjukan bahwa profil pasien ISPA anak bagian atas di Puskesmas Kedung Badak tahun 2021 berdasarkan karakteristik jenis kelamin terbanyak kategori laki – laki (56%), karakteristik usia terbanyak kategori 0-5 tahun (64%) dan kategori berat badan terbanyak kategori 10 – 15kg (45%). Antibiotik yang digunakan adalah Amoxicillin syrup 125 mg/5 ml (100%). Hasil evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik ISPA anak bagian atas diketahui tepat indikasi (64%), tepat dosis (67%), tepat frekuensi pemberian (100%), dan tepat lama pemberian (8%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN RAWAT INAP DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT X

2025Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid disebabkan adanya resistensi terhadap Salmonella typhi, umumnya pengobatan demam tifoid menggunakan golongan sefalosforin generasi ketiga. Jenis pengobatan antibiotik pada penelitian ini menggunakan seftriakson dan sefotaksim. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik Seftriakson dan sefotaksim di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional. Sampel yang digunakan adalah data rekam medik pasien demam tifoid selama periode Januari – Desember 2022 dengan jumlah 91 pasien. Data dianalisis dengan menggunakan perhitungan persentase pada Microsoft excel. Hasil penelitian ini menunjukan pasien dengan rentang usia paling banyak adalah 17-25 tahun sebanyak 44 pasien (48%), jenis kelamin paling banyak perempuan sebanyak 53 pasien (58%). Dari hasil penelitian pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit X periode Januari – Desember 2022 dapat disimpulkan persentase pada pemberian antibiotik seftriakson yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian 84%. Sedangkan pada pemberian antibiotik sefotaksim yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian 100%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK INSTALASI RAWAT JALAN RS. RST DOMPET DHUAFA KAB. BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Gagal Ginjal (renal atau kidney failure) merupakan kasus penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara akut (kambuhan) maupun kronik (menahun). Gagal kronik gejala awalnya muncul secara bertahap biasanya tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, sehingga penurunan fungsi ginjal tersebut tidak sering dirasakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji ketepatan obat berdasarkan tepat pasien, tepat obat, tepat dosis dan tepat frekuensi, pada pasien rawat jalan penderita gagal ginjal kronik di RS. RST Dompet Dhuafa. Data yang digunakan adalah data rekam medik, dengan data yang diambil meliputi , usia, jenis kelamin dan jenis obat yang digunakan pada pasien rawat jalan penderita gagal ginjal kronik periode Januari – Maret 2022. Data dianalisis dengan menggunakan data deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang ketepatan penggunaan obat pada pasien gagal ginjal kronik di RS. RST Dompet Dhuafa. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Sampel yang diambil sebanyak 103 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukan data sosiodemografi jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 55,3%, usia terbanyak 56-65 tahun 31,1%, berat badan terbanyak 51,60 kg 35%. Distribusi pasien berdasarkan diagnosis penyakit penyerta terbanyak yaitu penyakit hipertensi dengan persentase 72,82%. Evaluasi ketepatan pengobatan berdasarkan tepat pasien diperoleh hasil sebanyak 99%, pada tepat obat sebanyak 98%, pada tepat dosis diperoleh sebanyak 83%, dan tepat frekuensi sebanyak 99%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN TERAPI PENGOBATAN PENYAKIT DIARE ANAK DI PRAKTEK DOKTER MAHYUDI

2024Koleksi Perpustakaan

Diare adalah suatu keadaan buang air besar (BAB) cair atau encer dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari (atau lebih sering buang air besar daripada yang normal). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pada terapi pengobatan penyakit diare anak meliputi: usia dan jenis kelamin di Praktek Dokter Mahyudi dan untuk mengetahui gambaran terapi pengobatan penyakit diare anak. Desain penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Observasional dengan menganalisis data dengan pendekatan Retrospektif dari data rekam medis dengan pendekatan secara Cross Sectional. Hasil penelitian ini kelompok usia terbanyak menderita diare ialah usia 0-5 tahun 43 anak (63%). Jenis kelamin anak penderita diare adalah laki-laki sebanyak 41 anak (60%) dari total sampel 68 sampel dan terapi obat yang sering digunakan di Praktek Dokter Mahyudi menggunakan Zinc Sulfate Monohydrate sebanyak 49 kasus (72%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ISPA RACIKAN PADA PASIEN ANAK DI KLINIK BRUDER GLORIEUX CIOMAS-BOGOR

2024Koleksi Perpustakaan

Infeksi saluran ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat penyakit menular di dunia. Evaluasi ketepatan penggunaan obat ISPA perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak terjadi penggunaan obat secara tidak rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui obat-obat ISPA dan mengevaluasi ketepatan obat, ketepatan dosis dan ketepatan frekuensi dengan menggunakan metode penelitian secara deskriptif dan pengambilan data secara retrospektif. Hasil obat-obat ISPA yang digunakan Golongan Antihistamin yaitu CTM sebanyak 52 pasien (87%), Golongan Kortikosteroid yaitu prednison 54 pasien (90%), Dexamethasone 3 pasien (5%), Triamcinolone 3 pasien (5%), Golongan analgetik-Antipiretik 59 pasien (98%), Golongan Mukolitik 57 pasien (95%), Golongan Dekongestan 49 pasien (82%) dan Golongan Obat ekspektoran 30 pasien (50%). Ketepatan obat sebanyak 60 (100%) pasien sudah tepat, ketepatan dosis sebanyak 60 resep (60 pasien) 100 % dan tepat frekuensi dalam penggunaan aturan pakai pada resep sesuai yang tertera pada Informasi Spesialite Obat (ISO).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN DARAH ANTARA OBAT AMLODIPIN DAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS CURUG JASINGA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan suatu penyakit degeneratif ditandai dengan terjadinya peningkatan sistolik di atas 140 dan atau diastolik di atas 90 mmHg. Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah. Salah satu pengobatan yang digunakan adalah Amlodipin dan Captopril. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien hipertensi, gambaran penggunaan obat antihipertensi, gambaran penurunan tekanan darah dan untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah dari kedua jenis obat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non observasional dengan pendekatan cross sectional, pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data sekunder berupa data dari rekam medis pasien hipertensi di Puskesmas Curug Jasinga Bogor periode Februari – April 2022. Sampel yang diambil sebanyak 92 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan data sosiodemografi terbanyak terjadi pada rentang usia 46–55 tahun (40,22%), dengan jenis kelamin terbanyak pada perempuan (72,83%), dan kelompok pekerjaan terbanyak pada ibu rumah tangga (52,17%). Obat yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin (51,09%). Pada penggunaan Amlodipin didapatkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 25,5 mmHg dan diastolik 17,4 mmHg sedangkan pada penggunaan Captopril rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 11,7 mmHg dan diastolik 8,6 mmHg. Pada uji Mann- whitney didapatkan nilai P-value 0,000 < 0,05 artinya terdapat perbedaan yang nyata penurunan tekanan darah antara Amlodipin dan Captopril.

Hipertensi merupakan suatu penyakit degeneratif ditandai dengan terjadinya peningkatan sistolik di atas 140 dan atau diastolik di atas 90 mmHg. Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah. Salah satu pengobatan yang digunakan adalah Amlodipin dan Captopril. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien hipertensigambaran penggunaan obat antihipertensigambaran penurunan tekanan darah dan untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah dari kedua jenis obat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non observasional dengan pendekatan cross sectionalpengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data sekunder berupa data dari rekam medis pasien hipertensi di Puskesmas Curug Jasinga Bogor periode Februari – April 2022. Sampel yang diambil sebanyak 92 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan data sosiodemografi terbanyak terjadi pada rentang usia 46–55 tahun (4022%)dengan jenis kelamin terbanyak pada perempuan (7283%)dan kelompok pekerjaan terbanyak pada ibu rumah tangga (5217%). Obat yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin (5109%). Pada penggunaan Amlodipin didapatkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 255 mmHg dan diastolik 174 mmHg sedangkan pada penggunaan Captopril rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 117 mmHg dan diastolik 86 mmHg. Pada uji Mann- whitney didapatkan nilai P-value 0000 < 005 artinya terdapat perbedaan yang nyata penurunan tekanan darah antara Amlodipin dan Captopril.
1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DENGAN ALGORITMA TERAPI HIPERTENSI JNC 8 DI KLINIK BUDHI PRATAMA GEDONG JAKARTA TIMUR

2023Koleksi Perpustakaan

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg untuk dua kali pengukuran dan pasien diukur pada keadaan tenang. Terdapat lima golongan utama obat antihipertensi yaitu Antagonis Converting Enzym Inhibitor, Antagonis Reseptor Bloker, beta bloker, Calcium Chanel Bloker dan diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, penyakit penyerta, gambaran tekanan darah, profil penggunaan obat dan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan algoritma terapi hipertensi Joint Commite National Eight (JNC 8)di Klinik Budhi Pratama Gedong periode Januari – Maret 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan rancangan cross sectional. Data sekunder pada penelitian ini diambil secara retrospektif dari rekam medik pasien periode Januari-Maret 2021. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah secara total sampling dengan jumlah sampel 75 pasien. Hasil penelitian karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 48 pasien (64%), usia terbanyak adalah manula lebih 65 tahun 30 pasien (40 %), klasifikasi hipertensi terbanyak yaitu hipertensi stage1 sebanyak 50 pasien (66.67 %) dan pasien hipertensi dengan diabetes mellitus sebanyak 24 pasien (32%) . Profil penggunaan obat antihipertensi secara tunggal sebanyak 48 pasien (64%). Evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan pedoman Joint Commite Nasional Eight (JNC 8) tahun 2014, yaitu sesuai sebanyak 64 pasien (85.33%) dan tidak sesuai sebanyak 11 pasien (14.67%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) RAWAT INAP DI RSU JAMPANGKULON SUKABUMI

2023Koleksi Perpustakaan

Demam Berdarah Dangue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue biasanya ditandai dengan Demam Berdarah Dengue demam 2-7 hari yang disertai dengan penurunan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk Mengevaluasi penggunaan obat pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSU Jampangkulon Sukabumi meliputi tepat obat, tepat dosis, dan tepat indikasi sesuai dengan Pedoman Komprehensif untuk Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah dan Demam Bedarah Dengue oleh WHO tahun 2011. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada periode Juli – Desember 2021 sebanyak 132 sampel. Hasil dari penelitian ini menunjukan sosiodemografi pasien jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 53 pasien (53%), usia terbanyak yaitu 5 – 11 tahun (Kanak – kanak) dengan 39 pasien (39,40%), Pasien Demam Beradarah Dengue (DBD) juga mendapatkan terapi lainya untuk mengobati gejala maupun diagnosis yang ada. Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan penggunaan obat pada pasien DBD diatas sebanyak 99 pasien didapatkan tepat obat (100 %), tepat dosis (89,89%), dan tepat indikasi (100 %).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANTIDIARE PADA PASIEN DIARE BALITA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT X BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Diare adalah penyakit dengan meningkatnya frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari disertai perubahan bentuk dan konsistensi feses. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil sosiodemografi pasien, mengevaluasi penggunaan obat antidiare meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian berdasarkan Manajemen Terpadu Balita Sakit 2015, Drug Information Handbook 2009, Pediatric Drug Doses 2012, MIMS 2019. Penelitian ini, non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif, dianalisis secara deskriptif. Sampel diambil sebanyak 63 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%), kelompok usia terbanyak > 1-3 tahun (53%), berat badan terbanyak <10 kg (81%). Penggunaan terapi obat zink sebanyak (19%), antibiotik dengan probiotik sebanyak (13%), antibiotik sebanyak (42%). Pemberian antibiotik yang sering digunakan yaitu kotrimoksazol (71%). Evaluasi ketepatan pemilihan obat zink, probiotik, antibiotik didapatkan sebanyak (100%). Evaluasi ketepatan dosis zink (68%), probiotik (70%), antibiotik (94%). Evaluasi ketepatan frekuensi zink (100%), probiotik (100%), antibiotik (78%). Evaluasi ketepatan lama pemberian zink, probiotik, antibiotik (100%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI RUMAH SAKIT MELANIA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Demam tifoid terjadi di negara berkembang dengan angka kejadian yaitu 21 juta dan kematian 700 kasus. Pada penelitian yang berjudul Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak di Rumah Sakit Melania Bogor secara retrospektif, memperoleh data periode Juli sampai dengan Desember dengan jumlah 79 pasien. Data yang diolah meliputi karakteristik pasien. Maka penelitian ini dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : dari 79 pasien berdasarkan sosiodemografi pasien berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki 44 pasien (56%), sosiodemografi usia terbanyak yaitu usia 0-5 tahun (Balita) yaitu 52 pasien (66%), sosiodemografi berat badan terbanyak yaitu kurang dari 15 kg yaitu sebanyak 41 pasien (52%). Profil penggunaan Obat Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid anak yaitu paling banyak pada penggunaan Seftriakson dengan jumlah 57 pasien (72%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan pengobatan dari analisis di atas didapatkan hasil tepat indikasi (100%), tepat obat (100%), tepat dosis (94,37%), tepat waktu pemberian obat (100%) dan tepat lama pemberian (3.79%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dari analisis dengan metode DDD sebanyak 79 pasien didapatkan angka terbesar pada Seftriakson yaitu 48,35.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI INDIKATOR PERESEPAN PADA PENGGUNAAN OBAT RASIONAL DI PUSKESMAS BUNAR KECAMATAN CIGUDEG KABUPATEN BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Puskesmas merupakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Untuk itu rasionalitas obat sangat penting digunakan dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran peresepan, gambaran indikator peresepan obat rasional, dan kesesuaian indikator peresepan dengan Panduan Penggunaan Obat Rasional 2011, yang meliputi: Penggunaan Antibiotik pada ISPA Non Pneumonia, Diare Non Spesifik, Injeksi pada Myalgia, Rerata Jumlah Item Obat Per Lembar Resep, serta Penggunaan Obat Generik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan pendekatan cross sectional, mengunakan data Retrospektif berupa resep pada Agustus–Oktober 2021 serta metode total sampling dengan jumlah sebanyak 3.965 resep. Hasil penelitian menunjukkan gambaran peresepan pada penyakit ISPA Non Pneumonia adalah 95 resep (36%) yang menggunakan Antibiotik. Diare Non Spesifik terdapat 78 resep (66%) yang tidak menggunakan Antibiotik. Injeksi pada Myalgia berjumlah 0 resep (0%). Indikator POR pada peresepan Agustus-Oktober 2021 untuk Persentase Antibiotik pada ISPA Non Pneumonia adalah 57,12%, Diare Non Spesifik 52,33%, Injeksi Pada Myalgia 0%, Rerata jumlah item obat pada tiap lembar resep 2,45. Untuk pemberian penggunaan Obat Generik 98,47%. Kesesuaian indikator POR untuk pengunaan antibiotik pada ISPA Non Pneumonia, Diare Non Spesifik penggunaan obat generik, tidak sesuai, sedangkan pada Injeksi Myalgia, Rerata jumlah item pada resep sudah sesuai dari pedoman.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE ANAK DENGAN METODE GYSSENS DI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Diare merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Diare juga merupakan 3 penyebab terbesar kesakitan dan kematian anak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien diare anak dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien diare anak yang di rawat inap dengan metode Gyssens di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan dengan data diambil secara retrospektif yaitu mengambil data rekam medis pada pasien anak rawat inap dengan diagnosa diare di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan dengan diagram alir Gyssens, menggunakan standar Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit. Dari 107 kasus yang diperoleh menunjukkan kasus terbanyak terjadi pada anak usia 28 hari-12 bulan (67%) dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%) dan berat badan terbanyak pada 5-15 kg sebanyak 85 pasien (79). Antibiotik yang terbanyak digunakan ceftriaxon injeksi (69%). Hasil evaluasi menggunakan metode Gyssens kesesuaian penggunaan antibiotik masuk ke dalam kategori 0 sebanyak 48 pasien (44%), kategori IIA sebanyak 34 pasien (31%), kategori IIIB sebanyak 10 pasien (9%), kategori IIIA sebanyak 7 pasien (7%), kategori IVA sebanyak 5 pasien (5%), kategori V sebanyak 4 pasien (4%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA DI KLINIK UTAMA dr. YATI ZARNUDJI CIBINONG KABUPATEN BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

ISPA merupakan suatu penyakit menular yang menginfeksi saluran pernapasan manusia yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus yang masih menjadi perhatian karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Dalam kenyataannya antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini. Peresepan antibiotika yang berlebihan dapat menimbulkan peningkatan resistensi bakteri dan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data sosiodemografi berupa usia dan jenis kelamin, data profil penyakit ISPA, data profil penggunaan antibiotik serta data ketepatan penggunaan antibiotik meliputi tepat indikasi, tepat dosis, tepat obat, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian pasien penderita ISPA. Penelitian ini bersifat observasional dimana data sekunder dikumpulkan dari rekam medik pasien periode Januari – Desember 2021 yang dilakukan secara retrospektif dan dianalisis dengan metode analisa deskriptif di Klinik Utama dr. Yati Zarnudji Cibinong Kabupaten Bogor. Pada penelitian ini diperoleh data pasien yang terdiagnosa ISPA bagian atas dan bawah sebanyak 82 pasien terpilih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian diperoleh pasien ISPA paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 pasien (62%). Untuk usia yang paling banyak menderita penyakit ISPA berdasarkan data sosiodemografi pasien yaitu usia dewasa awal 26 – 35 tahun sebanyak 29 orang (35%). Penyakit ISPA yang paling banyak diderita yaitu faringitis sebanyak 54 pasien (66%). Untuk antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu cefixime sebanyak 32 resep (39%). Evaluasi ketepatan indikasi 82 sampel (100%), ketepatan dosis 65 sampel (79%), ketepatan obat 82 sampel (100%), ketepatan frekuensi 82 sampel (100%) dan ketepatan lama pemberian 40 sampel (49%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK LIMUS PRATAMA MEDIKA

2023Koleksi Perpustakaan

Dispepsia adalah penyakit medis yang ditandai dengan nyeri atau ketidaknyamanan di ulu hati atau perut bagian atas. Salah satu masalah pencernaan yang paling umum. Salah satu penyebab masalah pencernaan adalah pola makan dan gaya hidup.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui data sosiodemografi pasien meliputi usia, dan jenis kelamin, penyakit penyerta, profil penggunaan obat dispepsia, dan ketepatan penggunaan obat dispepsia meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat frekuensi yang digunakan pada pasien penderita penyakit dispepsia. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional (non eksperimental) yang dilakukan pada periode Oktober – Desember 2021 secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data sekunder pada penelitian kali ini menggunakan data penelusuran rekam medis dan resep. Hasil penelitian ini menunjukan data sosiodemografi dengan usia > 16 – 65 tahun sebanyak 195 orang yang terdiri dari laki – laki sebanyak 75 orang (38%) dan perempuan sebanyak 120 orang (62%). Usia pasien terbanyak mengalami Dispepsia pada rentang usia 26 - 35 tahun sebanyak 51 orang (26%). Penyakit penyerta pasien terbanyak diagnosa Dispepsia dengan demam sebanyak 85 orang (44%). Penggunaan obat dispepsia terbanyak ranitidin (56,67%). Ketepatan penggunaan obat tepat pasien, tepat indikasi dan tepat dosis sudah menunjukan hasil 100%. Tepat frekuensi antasida 71%, ranitidin 100%, omeprazole 93%, kombinasi antasida dengan ranitidin 66%, kombinasi antasida dengan omeprazole 75%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN POLA PENGGUNAAN OBAT SECARA SWAMEDIKASI PADA MASYARAKAT RW 006 DESA MEKARSARI KECAMATAN CIANJUR

2023Koleksi Perpustakaan

Swamedikasi adalah penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati segala keluhan ringan pada diri sendiri atas inisiatif sendiri atau tanpa konsultasi medis yang berkaitan dengan indikasi, dosis, dan lama penggunaan. Pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang sangat penting dalam mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang swamedikasi dengan pola penggunaan obat pada masyarakat RW 006 Desa Mekarsari Kecamatan Cianjur. Desain penelitian ini adalah deskriptif non eksperimental dengan pendekatan cross-sectional. alat ukur berupa data primer yaitu menggunakan kuesioner dalam bentuk google form, untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara swamedikasi. Pengambilan dilakukan pada 115 orang sampel yang didapat dari populasi menggunakan metode purposive sampling. Selanjutnya dianalisis menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian obat harus beserta dengan informasi yang tepat yaitu pola penggunaan obat sebagian besar responden menggunakan obat dengan tepat sebanyak 104 orang (90%). dari tingkat pengetahuan dengan kategori pengetahuan tinggi sebanyak 104 orang (90%). Analisis hubungan tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat menunjukan hasil uji statistik Chi-Square nilai p-value yang didapat 0,000 (0,05), hasil tersebut menunjukan ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara swamedikasi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN BPJS DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD LEUWILIANG BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup berbahaya di dunia karena hipertensi merupakan faktor resiko utama yang mengarah kepada penyakit kardiovaskuler. Sebagai salah satu penyakit yang cukup besar prevalensinya, penggunaan obat antihipertensi penting diketahui untuk perencanaan kebutuhan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran sosiodemografi dari pasien hipertensi dan mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi yang diberikan kepada pasien BPJS di Instalasi Rawat Jalan RSUD Leuwiliang. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan alat ukur data rekam medis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara Total Sampling. Total sampel yang didapat sebanyak 393 pasien. Data yang telah didapat kemudian di klasifikasikan dan diringkas ke dalam tabel, disusun berdasarkan tujuan penelitian. Penderita essential (primary) hypertension paling banyak diderita oleh perempuan sebesar 67,43% dan pada kelompok usia lansia akhir 56 - 65 tahun yaitu sebesar 36,90%. Penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak yaitu Amlodipin sebesar 43,30%. Golongan obat yang yang paling banyak digunakan yaitu Antagonis Kalsium sebesar 43,06%. Penggunaan obat antihipertensi lebih banyak menggunakan satu jenis obat (monoterapi) sebesar 53,18%. Kombinasi obat antihipertensi terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kombinasi 2 obat, kombinasi 3 obat, dan kombinasi 4 obat antihipertensi. Kombinasi 2 obat antihipertensi paling banyak yaitu kombinasi Antagonis Kalsium dengan ACE Inhibitor. Kombinasi 3 obat antihipertensi paling banyak yaitu Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor, Diuretik dan kombinasi Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker. Kombinasi 4 obat yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi Antagonis Kalsium, ACE Inhibitor, b-blocker dan Diuretik. .

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS AKUT (ISPaA) ANAK DI INSTALASI RAWAT JALAN RS UMMI BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

ISPA merupakan salah satu penyakit utama yang mendapat perawatan rawat jalan di fasilitas pelayanan kesehatan. Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan untuk mengatasi infeksi ini. Antibiotik hendaknya digunakan secara rasional karena mempunyai dampak yang besar, salah satunya yaitu terjadinya resistensi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif retrospektif, menggunakan rekam medis dan resep pasien rawat jalan penderita ISPA yang menerima antibiotik di RS UMMI Bogor selama periode Juli-November 2021. Data yang diambil meliputi identitas pasien, diagnosis, antibiotik, dan dosis yang digunakan. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 69 pasien yang paling banyak menderita ISPA berdasarkan jenis kelamin adalah pasien laki-laki (57%), berdasarkan usia adalah anak 0-5 tahun (77%). Golongan antibiotik yang paling sering diresepkan adalah golongan sefalosporin yaitu cefixime (71%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan pedoman Pharmaceutical care 2005 meliputi kriteria tepat indikasi (100%), tepat dosis (87%), tepat frekuensi (97%), dan tepat lama pemberian (96%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI PUSKESMAS TANAH SAREAL KOTA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab penyakit utama morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pada pasien ISPA, untuk mengetahui penggunaan obat antibiotik, untuk mengetahui ketepatan indikasi, ketepatan obat, ketepatan dosis, ketepatan frekuensi dan ketepatan lama pemberian berdasarkan panduan Pharmaceutical Care 2005 dan IDI 2017. Penelitian ini merupakan non eksperimental dengan mengambil data secara retrosopektif menggunakan data sekunder rekam medik sebanyak 229 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan data sosiodemografi usia paling banyak 17-25 tahun sebanyak 57 pasien (24,57%), jenis kelamin laki-laki lebih banyakyaitu sebanyak 118 pasien (51,53%), diagnosa paling banyak yaitu faringitis sebanyak 138 pasien (60,26%). Obat- obatan ISPA yang digunakan yaitu Amoksisilin (79,40%), Sefadroksil (15,58%), Cefixime (3.02%), Siprofloksasin (2,01%), Parasetamol (8,54%), Deksametason (1,83%), CTM (17,58%), Cetirizine (61,59%), Ambroksol (5,49%), Vitamin B Kompleks (4,88%). Ketepatan Indikasi (89,96%), Ketepatan Obat (82,97%), Ketepatan Dosis (99,13%), Ketepatan Frekuensi (100,00%), Ketepatan Lama Pemberian (94,97%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TERHADAP PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) ATAS DI PUSKESMAS PULO ARMYN BOGOR

2022Koleksi Perpustakaan

Infeksi saluran pernapasan atas atau upper Respiratory tract Infections (URI / URTI) adalah infeksi yang terjadi pada rongga hidung, sinus, dan tenggorokan. Beberapa penyakit yang masuk dalam infeksi ini adalah pilek, sinusitis, tonsillitis, dan faringitis.. ISPA Atas disebabkan karena bakteri, virus, jamur dan ricketsia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui data sosiodemografi pasien, profil penggunaan antibiotik, dan evaluasi penggunaan antibiotik yang digunakan pada pasien penderita penyakit ISPA atas dengan ATC/DDD. Metode penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif obsevasional dengan pengambilan data secara retrospektif, berupa rekam medis di Puskesmas Pulo Armyn Bogor selama periode Oktober – Desember 2021, berdasarkan kriteria jenis kelamin perempuan paling banyak dengan persentase yang didapat sebanyak 118 pasien (54,13%) menggunakan antibiotik, berdasarkan kriteria usia 36-45 tahun paling banyak menggunakan antibiotik sebanyak 53 pasien (24,31%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan pada periode tiga bulan tahun 2021 adalah Amoksisilin dengan nilai DDD/1000/Pasien/Hari yaitu 752,293 nilai persentase (DU90%) sejumlah 75,23%. Sedangkan untuk Siprofloksasin dengan nilai DDD/1000/Pasien/Hari yaitu 247,71 nilai persentase (DU90%) sejumlah 24,77%. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan kejadian resistensi. Diperlukan kebijakan dalam mengendalikan penggunaan antibiotik di Puskesmas untuk mengurangi resistensi antibiotik serta efek samping yang ditimbulkan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI DEPO RAWAT JALAN RSUD KOTA BOGOR DENGAN METODE ATC/DDD

2022Koleksi Perpustakaan

Prevalensi penyakit infeksi di Indonesia terus meningkat sehingga menyebabkan penggunaan antibiotik meningkat. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat memicu resistensi antibiotik yang berdampak negatif meliputi peningkatan angka kesakitan dan kematian, biaya dan lama perawatan, serta efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas penggunaan antibiotik di Depo Rawat Jalan RSUD Kota Bogor. Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental (observasi) dengan rancangan deskriptif evaluatif, data berasal dari resep terdahulu dikumpulkan dan dihitung pada periode Oktober-November 2020. Hasil dari penelitian ini diperoleh 3 antibiotik terbesar yang dipakai yaitu cefixime 35,31%, cefadroxil 29,38% dan azitromycin 12,48% sedangkan antibiotik cotrimoxazol sirup adalah antibiotik yang paling sedikit digunakan yaitu 0,16%. Terdapat ketidaksesuaian DDD hitung dengan DDD WHO. DDD hitung cefixime 1185 sedangkan DDD WHO 400 dan DDD hitung azitromycin 391,67 sedangkan nilai DDD WHO 300.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail