Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut AND / OR / NOT
AKTIVITAS ANTIKOLESTEROL EKSTRAK ETANOL 96% HERBA SELEDRI (Apium graveolens) DAN DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) SECARA IN VITRO
Kolesterol adalah lemak yang diproduksi oleh tubuh dan juga berasal dari makanan hewani. Kolesterol membantu tubuh memproduksi hormon tertentu, vitamin D, dan asam empedu untuk mencerna lemak. Dalam kadar yang sesuai dapat membantu membangun sel-sel baru agar tubuh bisa tetap berfungsi dengan normal. Peningkatan kadar kolesterol dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitasnya pada ekstrak etanol 96% herba seledri (Apium graveolens) dan daun salam (Syzygium polyanthum) baik tunggal maupun kombinasi. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi. Pengujian antikolesterol dilakukan secara in vitro dengan mengunakan metode spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 670 nm Absorbansi yang diperoleh digunakan untuk menghitung persen inhibisi dan IC50. Kandungan fitokimia ekstrak etanol herba seledri alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan fenol. Sedangkan untuk ekstrak etanol daun salam antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, tanin dan fenol. Hasil penelitian yang diperoleh dari nilai IC50 ekstrak Tunggal herba seledri sebesar 58,38 ppm dan daun salam sebesar 99,61 ppm. Sedangkan untuk kombinasi 1:1, 1:3, dan 3:1 ekstrak etanol tanaman seledri dan daun salam diperoleh nilai IC50 sebesar 78,35 ppm, 140,76 ppm dan 190,57 ppm.
UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP EMBRIO IKAN ZEBRA (Danio rerio)
Daun binahong dan daun sirsak telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional yang bermanfaat membantu pengobatan penyakit sepeti demam, antiinflamasi dan kanker. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui toksisitas, mendapatkan nilai LC50 dari ekstrak etanol 96% daun binahong dan daun sirsak serta kombinasinya, dengan menggunakan metode Zebra Fish Embryo Test (ZFET) dan uji Skrining fitokimia untuk mengetahui adanya senyawa aktif alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan triterpenoid. Pada hasil uji skrining fitokimia menunjukkan daun binahong mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin, sedangkan pada daun sirsak memiliki senyawa aktif alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan tanin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun binahong mempunyai nilai LC50 sebesar 328,144 ppm dengan kategori toksik sedang, pada ekstrak etanol 96% daun sirsak mempunyai nilai LC50 sebesar 0,0050 ppm kategori sangat toksik dan nilai LC50 untuk kombinasi ekstrak etanol 96% daun binahong dan daun sirsak menggunakan perbandingan 1:1, 1:3 dan 3:1 diperoleh nilai LC50 berturut-turut sebesar 4,0891 ppm, 3,4561 ppm dan 82,2403 ppm dengan kategori sangat toksik. Berdasarkan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kelima sampel tersebut memiliki potensi sebagai anti kanker.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL 96% DAUN BINAHONG (Anredera cordofolia (Ten) Steenis) DAN DAUN BABADOTAN (Ageratum conyzoides L.) SERTA KOMBINASINYA
Antioksidan adalah suatu zat yang berperan dalam penundaan atau perlambatan proses oksidasi molekul oleh oksidan sehingga dalam hal ini dapat mencegah terjadinya kerusakan organ atau jaringan akibat stress oksidatif. Tanaman binahong (Anredera cordofolia (Ten) Steenis) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang memiliki kandungan saponin, flavonoid, dan kuersetin. Adanya flavonoid kemungkinan besar daun binahong dapat berkhasiat sebagai antioksidan. Tanaman babadotan (Ageratum conyzoides L.) mengandung flavonoid, alkaloid, minyak atsiri, fenol, dan kumarin. Adanya kandungan senyawa fenol menyebabkan efek antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder, menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 96% daun binahong, daun babadotan dan kombinasi ekstrak keduanya dengan perbandingan 1:1, 1:3, 3:1. Uji akivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Konsentrasi larutan sampel yang digunakan adalah 80 ppm, 100 ppm, 120 ppm, 140 ppm dan 160 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun binahong dan daun babadotan memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Nilai IC50 yang diperoleh pada ekstrak etanol 96% daun binahong sebesar 91,190 ppm dan daun babadotan sebesar 85,45 ppm. Hasil kombinasi ekstrak etanol 96% daun binahong : daun babadotan mempunyai nilai IC50 yang baik pada perbandingan 1:3 yaitu 80,807 ppm.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN KERSEN (Muntingia calabura L. ) DAN DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa Boerl.) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans
Streptococcus mutans merupakan salah satu bakteri penyebab karies gigi. Daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun mahkota dewa (Phaleria macrocarapa Boerl.) diduga mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian yaitu mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun kersen, ekstrak daun mahkota dewa dan ekstrak kombinasi perbandingan 1:1, 1:3, 3:1 serta menentukan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan konsentrasi terbaik. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh dilakukan penapisan fitokimia dan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan pada ekstrak daun kersen, ekstrak daun mahkota dewa, dan ekstrak kombinasi perbandingan 1:1, 1:3, 3:1 dengan menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian aktivitas antibakteri menunjukkan adanya aktivitas terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Ekstrak kombinasi daun kersen dan daun mahkota dewa perbandingan 3:1 pada konsentrasi 40% menunjukkanrespon hambat terbaik terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan rerata diameter zona hambat 19,28 mm dikategorikan dalam respon hambat kuat.
Aktivitas Daun Binahong (Andredera cordifolia(Ten)Steenis) Dan Daun Babadotan (Ageratum conyzoides,L.) Serta Kombinasinya Sebagai Antiinflamasi
Daun binahong dan daun babadotan salah satu tanaman obat tradisional yang banyak digunakan yang secara empiris sejak jaman dahulu dan dimanfaatkan untuk antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa tanaman dan untuk mengetahui adanya efek penyembuhan peradangan pada kulit, pada ekstrak etanol 96% Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) dan Daun Babadotan (Aregatum conyzoides, L.) serta kombinasinya dengan menggunakan hewan uji mencit (Mus musculus). Penelitian ini dibuat dengan 7 kelompok percobaan yaitu tunggal binahong, tunggal babadotan, kombinasi 1:1, 3:1, 1:3, kontrol positif (salep trombophob) dan kontrol negatif (Na-CmC). Pada penelitian ini ekstrak etanol 96% pada daun binahong dan daun babadotan masing-masing mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid. Data diperoleh dengan cara menghitung persen penurunan pada udema mencit Selama 6 jam, hasil data untuk penurunan pembengkakan kontrol positif persen penurunan udem sebesar 83.79%, untuk kontrol negatif persen penurunan sebesar 23,75%, untuk ekstrak etanol 96% daun binahong memiliki persen penurunan sebesar 37,80%, untuk ekstrak etanol 96% daun babadotan persen penurunan sebesar 72.64%, untuk kombinasi 1:1 penurunan persen sebesar 36,87%, untuk kombinasi 3:1 persen penurunan sebesar (79.32% dan untuk kombinasi 1:3 persen penurunan sebesar 57,54%. Kandungan senyawa flavoid yang terdapat pada ekstrak yang berfungsi menurunkan pembengkakan pada mencit.
UJI STABILITAS FISIK NEKTAR SERBUK DARI NIRA KELAPA
Diabetes merupakan suatu keadaan glukosa tidak dapat diserap secara sempurna oleh sel tubuh untuk digunakan sebagai energi sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat, penggunaan gula tebu sangat dihindari penderita diabetes. Gula kelapa dapat dimanfaatkan sebagai pemanis alami karena nilai IG yang rendah menjadikan gula ini bersifat aman untuk dikonsumsi penderita diabetes. Gula kelapa berasal dari nektar atau nira kelapa, produk yang berasal dari bahan alami memiliki kestabilan relatif rendah sehingga bisa merugikan pengguna gula kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data stabilitas fisik berdasarkan variasi suhu simpan nektar serbuk, sesuai dengan yang disyaratkan SNI. Metode penelitian ini adalah pengujian stabilitas fisik mencakup uji organoleptik, uji pH, dan uji kadar air pada nektar serbuk yang disimpan selama 28 hari dalam suhu berbeda-beda yaitu suhu 4oC, 25oC, dan 40oC dengan pengamatan pada hari ke- 0, 7, 14, 21, dan 28. Berdasarkan hasil penelitian nektar serbuk pada suhu 4oC dan 25oC terjadi perubahan tekstur, pada suhu 40oC terjadi perubahan warna, aroma, tekstur. Pengukuran pH diperoleh nilai tertinggi 6,71 di suhu 4oC dan terendah 6,52 di suhu 40oC. Persentase kadar air diperoleh tertinggi 2,62% di suhu 25oC dan terendah 1,24% di suhu 40oC. Pengujian stabilitas fisik suhu penyimpanan semua parameter masih termasuk kriteria SNI.
STABILITAS DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN LOTION EKSTRAK ETANOL DAUN KEJI BELING ( Strobilanthes sp)
Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat okisidasi molekul lain. Daun keji beling (Strobilanthes sp) memiliki senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Kandungan senyawa flavonoid yang terdapat pada daunkeji beling diketahui dapat berperan sebagai antioksidan alami. Lotion adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan untuk pemakaian luar kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% dan ekstrak etanol 96% daun keji beling, antioksidan terbaik di formulasikan kedalam sediaan lotion minyak dalam air, mengetahui stabilitas lotionekstrak daun keji beling. Bahan aktif yang digunakan dalam pembuatan lotion adalah ekstrak etanol 70% karena memiliki nilai IC50 25,178 ppm (sangat kuat), sediaan dibuat dalam 100 mL. Uji stabilitas lotion antioksidan mencakup tiga suhuyang berbeda yaitu suhu 4oC, 27oC dan 40oC yang disimpan selama 4 minggu. Evaluasi stabilitas lotion diuji mutu fisik (organoleptik, homogenitas, daya sebar, pH, dan viskositas) serta uji aktivitas lotion. Hasil evaluasi stabilitas mutu fisik semua sedian lotion memenuhi yaitu berwarna hijau kecoklatan, berbentuk setengah padat, berbau green tea, homogen, daya sebar 4,5 – 6,9, pH 5 - 7, viskositas 6.916 – 10.916 cps. Hasil antioksidan lotion minggu ke 1 dan minggu ke 4 stabil.
PERBANDINGAN STABILITAS DIPERCEPAT PIRACETAM 800 MG TABLET SALUT MENGGUNAKAN PELARUT SALUT ORGANICBASE DAN WATERBASE
Pada saat ini untuk proses pelapisan atau coating sediaan obat sudah banyak beralih menggunakan pelarut salut waterbase ketimbang organicbase. Sehingga banyak industri farmasi yang juga megikuti perubahan ini. Selain dikarenakan cost yang dikeluarkan untuk proses produksi menjadi murah juga untuk tingkat keamanan yang lebih maksimal karena yang digunakan umumnya dichlormethane yang memiliki batas konsumsi 6 mg/hari. Sedangkan untuk mengetahui keefektifan obat diperlukan data stabilitas. Untuk proses registrasi minimal dibutuhkan data stabilitas obat piracetam 800 mg tablet salut dengan menggunakan pelarut salut organicbase dan waterbase. Penelitian ini termasuk penelitian longitudinal atau retrospektif, dimana saat proses pengajuan penelitian, analisa sudah sebagian dilakukan. Analisa yang dilakukan menggunakan waktu stabilitas dipercepat 0, 1, 2, 3 dan 6 bulan. Pemeriksaan kadar mengacu kepada Farmakope China edisi 2014, menggunakan metode analisa HPLC. Sedangkan pemeriksaan disolusi menggunakan metode spektrofotometri yang dilakukan pengembangan internal. Analisis data yang digunakan meliputi data kadar, disolusi dan waktu hancur yang diolah menggunakan SPSS 26. Hasil analisis dari kadar dan waktu hancur menunjukkan data yang berbeda pada sampel waterbase ulangan pertama karena di dapat hasil p-value di bawah 0,05%. Sedangkan pada hasil dissolusi didapatkan data yang homogen karena memiliki nilai p-value di atas 0,05%. Artinya hasil stabilitas piracetam dengan pelarut air dan pelarut organik menunjukkan perbedaan. Hasil kadar, disolusi dan waktu hancur masih memenuhi syarat spesifikasi yang ditetapkan farmakope.
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL-OFF DARI EKSTRAK DAUN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN
Daun bayam merah (Amarantus tricolor L.) mengandung komponen antioksidan termasuk betalain (pigmen warna nabati), karotenoid, vitamin C, flavonoid dan polifenol. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai IC50 pada ekstrak daun bayam merah dan memformulasikan ekstrak etanol daun bayam merah menjadi sediaan masker gel peel-off dengan mutu fisik yang baik dan memilki aktivitas antioksidan. Daun bayam merah dimaserasi dengan pelarut etanol 96% hingga diperoleh ekstrak, sediaan masker gel peel-off dibuat dengan variasi konsentrasi yaitu 1%(FI), 1,25%(FII) dan 1,50%(FIII). FI dan FII memiliki nilai IC50 termasuk dalam kategori lemah sedangkan FIII memiliki nilai IC50 yang termasuk dalam kategori sedang. Nilai IC50 ekstrak, FI, FII, dan FIII berturut-turut adalah 128,279, 291,346, 270,624 dan 245,695 ppm. Berhubungan dengan diantara ketiga formula pada FI memiliki mutu fisik yang baik dari parameter uji organoleptis, pH, daya lekat, daya sebar, viskositas, homogenitas dan waktu mengering. Sedangkan sediaan dengan aktivitas antioksidan tertinggi adalah FIII.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN SIRIH HUTAN (Piper aduncum (L.)), DAN KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP Streptococcus mutans
Streptococcus mutans merupakan bakteri yang dapat menyebabkan karies gigi. Daun sirih hutan dan kulit buah nanas madu diduga mengandung golongan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian yaitu mengetahui kandungan metabolit sekunder dari ekstrak etanol 96% daun sirih hutan dan kulit buah nanas madu serta menentukan aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans dari masing-masing ekstrak dan kombinasinya. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan kedua ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan tritepenoid. Zona hambat ekstrak etanol 96% daun sirih hutan konsentrasi 10% dan 20% termasuk kategori sedang, sementara konsentrasi 40% hingga 100% termasuk kategori kuat. Zona hambat ekstrak etanol 96% kulit buah nanas madu konsentrasi 10% hingga 100% termasuk kategori kuat. Kombinasi diambil dari masing-masing konsentrasi ekstrak 40%. Zona hambat kombinasi ekstrak etanol 96% daun sirih hutan dan kulit buah nanas madu perbandingan 1:1; 1:3; dan 3:1 masing-masing sebesar 15,627 mm; 17,387 mm; dan 14,527 mm, semua termasuk kategori kuat. Kombinasi 1:3 menunjukkan zona hambat terbesar, namun berdasarkan analisis statistik nilainya masih lebih kecil dan berbeda bermakna (p<0,05) dibandingkan zona hambat kontrol positif chlorhexidine 0,2% sebesar 22,472 mm.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK KULIT BUAH JERUK PURUT (Citrus hystrix D C), MINYAK BIJI PALA (Myristica fragrans Houtt) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP Streptococcus mutans
Penggunaan tumbuh-tumbuhan alami tanaman obat sedang populer pada saat ini. Salah satu bahan yang berpotensi adalah kulit buah jeruk purut dan biji pala yang digunakan sebagai antibakteri. Minyak atsiri yang terkandung pada kulit buah jeruk purut dan minyak biji pala mengandung senyawa turunan fenol dan terpenoid yang dimana pada kulit buah jeruk purut terbentuk kompleks protein fenol yaitu sitroneal sedangkan biji pala terdapat β-pinen senyawa terpenoid, yang memiliki aktivitas antibakteri. Maka dari itu perlu adanya pengujian untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak kulit buah jeruk purut (citrus hystrix d c), minyak biji pala (myristica fragrans houtt) serta kombinasinya terhadap Streptococcus mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan difusi cakram. Data diperoleh berupa uji karakteristik minyak atsiri, analisis data dengan Gas Kromatografi dan mendapatkan nilai rata-rata zona hambat yang didapatkan dari tiga pengulangan pada sampel tunggal minyak kulit buah jeruk purut dan biji pala pada konsentrasi 1%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 100%. Kontrol positif mengunakan chlorhexidine 0,2% dan kontrol negative DMSO 10%. Sampel kombinasi diambil dari masing-masing sampel tunggal 4%, dengan nilai zona hambat tungga minyak kulit buah jeruk purut 11,290 mm dan tunggal minyak biji pala 14,203 mm, serta pada kombinasi 1:1, 1:3 dan 3:1 dengan nilai zona hambatnya yang paling tinggi 1:3 yaitu 17,387 mm, jika dilihat pada ketiga konsentrasi tersebut masuk kedalam kategori zona hambat kuat.
FORMULASI SEDIAAN EYE SHADOW DALAM BENTUK COMPACT POWDER DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK MAHKOTA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L)
Eye shadow compact powder adalah sediaan kosmetik untuk mewarnai kelopak mata dengan sentuhan artistic. Ekstrak mahkota kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L) mengandung pigmen alami antosianin yang berwarna merah keunguan. Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan ekstrak mahkota kembang sepatu sebagai pewarna pada formulasi eye shadow dalam bentuk compact powder dan melakukan uji kesukan serta uji iritasi pada panelis. Formulasi sediaan eye shadow yang dibuat dengan menggunakan zat warna ekstrak mahkota kembang sepatu dengan konsentrasi 4% (F1), 6% (F2) dan 8% (F3) dengan bahan tembahan talcum, titanium oksida, kaolin, parafin liquid, nipasol, oleum rose. Pengujian yang dilakukan antara lain adalah uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH (derajat keasaman), uji daya oles,uji kesukaan dan uji iritasi. Pemeriksaan organoleptis menunjukkan bahwa aroma keseluruhan sediaan eye shadow adalah aroma oleum rose dan bentuk formulasi eye shadow adalah berbentuk padat (compact powder) dengan warna F1 berwarna abu-abu muda, F2 berwarna abu-abu, F3 berwarna abu-abu tua. Untuk F3 adanya ketidak stabilan warna pada saat 30 menit setelah dijadikan formulasi. Hasil uji kesukaan menunjukkan F3 lebih disukai pada tekstur, aroma dan kecerahan warn. Hasil uji iritasi bahwa pada sediaan eye shadow dengan ekstrak mahkota kembang sepatu dalam bentuk compact powder tidak menunjukkan adanya iritasi pada keseluruhan formulasi. Kesimpulan yang di dapat setelah di lakukan penelitian bahwa ekstrak mahkota kembang sepatu dapat dijadikan formulasi eyeshadow dengan menggunakan ekstrak mahkota kembang sepatu dalam bentuk compact powder. Dan formulasi yang dibuat tidak menunjukkan adanya iritasi pada panelis.
AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAUN RAMBUTAN RAPIAH (Nephelium Lappaceum L) TERHADAP PERTUMBUHAN RAMBUT KELINCI PUTIH JANTAN
Selain pengobatan kimia, salah satu bahan alam secara empiris telah digunakan sebagai penumbuh rambut adalah daun rambutan. Untuk memperoleh data karakteristik ekstrak etanol 96% daun rambutan meliputi uji fitokimia, organoleptis, dan pH. Aktivitas pertumbuhan dari ekstrak daun rambutan terhadap kelinci putih jantan dengan parameter uji tesktur, warna, panjang dan bobot rambut Penelitian ini diperlukan tiga ekor kelinci yang masing- masing diperlakukan sama dan di bagi menjadi 5 kelompok pengujian yaitu kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak 5%,10%,15%. perlakuan dilakukan sehari 2x pagi dan sore dijam yang samapengamatan tekstur rambut kelinci memiliki tekstur yang kasar, warna rambut kelinci yang berubah menjadi kecoklatan setelah diolesi esktrak daun rambutan selama 21 hari rata- rata panjang rambut hari ke-21 ekstrak 15% rata- rata memiliki kemampuan pertumbuhan 16,57±5,62 mm dari perpanjangan rambut setiap perlakuan terlihat bahwa pada hari ke- 21 hasil penimbangan bobot rambut ekstrak daun rambutan mempunyai kenaikan bobot pada disetiap kelinci. Karakteristik ekstrak etanol 96% daun rambutan memiliki pH 5,5, pada uji organoleptis ekstrak daun rambutan memiliki bau khas, warna hijau kecoklatan dan homogen. Pengujian fitokimia dari ekstrak daun rambutan positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil pengukuran bobot rambut masing- masing ekstrak memiliki bobot lebih baik dibandingkan kontrol negatif tetapi tidak lebih berat dibandingkan kontrol positif.
Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% umbi bengkuang (pachyhzius erosus) dam umbi ubi jalar ungu (ipomoae batatas) serta kombinasinya
ENKAPSULASI BAKTERI PROBIOTIK Lactobacillus fermentum DENGAN TERLAPIS KITOSAN
Kelangsungan hidup probiotik dalam produk pangan dan seluruh pencernaan saat ini masih rendah. Untuk meningkatkan peran probiotik dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan maka probiotik yang terdapat dalam makanan perlu dilindungi dan dipertahankan jumlahnya melalui enkapsulasi probiotik dengan material enkapsulasi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk enkapsulasi bakteri Lactobacillus fermentum dengan terlapis kitosan, mengetahui efisiensi enkapsulasi, dan viabilitas bakteri setelah enkapsul bakterinya direndam dalam cairan asam lambung, serta mengetahui bentuk dan keadaan permukaan kapsul bakteri melalui analisis Scanning Electrone Microscope (SEM). Hasil penelitian menunjukkan enkapsulasi bakteri L. fermentum terlapis kitosan dapat dilakukan pada matriks enkapsulasi natrium alginat 1%, 2%, dan 3% dengan masa kapsul berturut-turut 23,02 gram, 13,85 gram, dan 19,5 gram dan memiliki jumlah koloni bakteri 3,2 x 107 CFU/gram, 8,9 x 107 CFU/gram, dan 3,1 x 107 CFU/g. Efisiensi enkapsulasi yang terbaik didapatkan pada matriks natrium alginat 2%, yaitu 45,18%. Viabilitas enkapsulasi bakteri setelah direndam dalam cairan simulasi asam lambung pH 6,0 adalah 64%. Analisis morfologi enkapsulasi probiotik bakteri Lactobacillus fermentum dengan SEM menunjukkan butiran kapsul yang membulat dengan kerutan bergelombang, butiran terlapis kitosan lebih besar (θ =1400μm – 1600μm) dengan permukaan lebih kasar dari pada butiran tak terlapis kitosan (θ = 450μm – 800μm).
AKTIVITAS PENGHAMBATAN ENZIM α-AMILASE EKSTRAK ETANOL 70% BUAH TIN (Ficus carica L.) SECARA IN VITRO
Buah tin merupakan sumber penting komponen bioaktif mengandung senyawa fenol, benzaldehida, terpenoid, flavonoid, dan alkaloid yang memiliki sifat antioksidan. Ekstrak buah tin memiliki aktivitas antioksidan dan antidiabetes baik terhadap penghambatan enzim α-amilase. Tujuan penelitian untuk pengujian kualitatif dan kuantitatif buah tin yang dapat menghambat enzim α-amilase sehingga dapat mengurangi kadar gula darah pada penderita diabetes melitus yang menggunakan kontrol positif akarbosa sebagai pembanding. Buah tin yang dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, hasil maserasi buah tin yang didapatkan diuji fitokimia nya. Hasil aktivitas inhibisi ekstrak etanol 70% buah tin dihitung untuk mendapatkan nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan buah tin mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, terpenoid dan steroid. Dalam uji aktivitas penghambatan ekstrak etanol 70% buah tin pada enzim α-amilase didapatkan IC50 sebesar 40,2572 ppm dan nilai IC50 untuk akarbosa adalah 47,9769 ppm. Dengan demikian buah tin memiliki aktivitas penghambatan pada enzim α-amilase dengan antioksidan yang sangat kuat