BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pertolongan pertama adalah penanganan yang diberikan saat kejadian atau
bencana terjadi di tempat kejadian, sedangkan tujuan dari pertolongan pertama
adalah menyelamatkan kehidupan, mencegah kesakitan makin parah, dan
meningkatkan pemulihan. Luka bakar adalah kerusakan pada kulit atau jaringan
dalam yang dapat disebabkan oleh sinar matahari, cairan panas, api, listrik, atau
bahan kimia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
pengetahuan masyarakat tentang penanganan pertama luka bakar. Metode
penelitian ini berupa survei dengan menyebarkan kuesioner yang dari setiap data
akan diolah dan diuraikan dalam bentuk jumlah dan presentasenya dimana
penetapan jumlah sampel dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian
menunjukan bahwa sebanyak 3% yang masih memiliki pengetahuan kurang, 56%
berpengetahuan cukup, dan 41% berpengetahuan baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah Pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk
mengurangi gejala penyakit yang bersifat ringan tanpa nasehat dokter. Diare
merupakan buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari
dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.Pada pelaksanaannya
swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan karena keterbatasan
pengetahuan masyarakat akan obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
gambaran sosiodemografi serta tingkat pengetahuan masyarakat tentang
swamedikasi diare di Kampung Wangun Tengah RW 03. Jenis Penelitian ini adalah
desktriptif observasional. Sampel pada penelitian merupakan masyarakat yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah 94 responden. Pengambilan
data dilakukan dengan memberikan kuisioner, data diolah menggunakan Statistical
Program for Social Science (SPSS) versi 26. Hasil Penelitian menunjukan
responden terbanyak berdasarkan usia pada usia di 36-45 tahun sebanyak 32
responden (34,04%), responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin perempuan
sebanyak 57 responden (60,64%), responden terbanyak pada tingkat SMA/SMK
berjumlah 56 responden (59,57%), responden penelitian ibu rumah tangga yaitu
senbanyak 28 responden (29,79%). Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 94
responden masyarakat di Kampung Wangun Tengah RW 03 memiliki tingkat
pengetahuan baik sebanyak 61 responden (64,9%), tingkat pengetahuan cukup
sebanyak 30 responden (31,9%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 3
responden (3,2%). Berdasarkan data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas
Kampung Wangun Tengah RW03 kota Bogor mempunyai tingkat pengetahuan
yang baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tekanan darah tinggi atau yang biasa dikenal sebagai hipertensi merupakan
peningkatan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg dan tekanan darah
sistolik lebih dari 140 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan tingkat pengetahuan tentang hipertensi terhadap tingkat kepatuhan
minum obat pasien hipertensi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode penelitian prosfektif observational. Data yang diambil adalah
data tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan pasien hipertensi dengan
menggunakan kuesioner HK-LS dan kuesioner MMAS-8. Jumlah populasi
sebanyak 390 dan sampel sebanyak 80 responden berdasarkan teknik purposive
sampling yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan hasil penelitian
sosiodemografi pasien penderita hipertensi mayoritas berjenis kelamin perempuan
sebanyak 48 responden (60,0%), pendidikan terakhir tamat SMA sebanyak 33
responden (41,3%), usia 56-65 tahun sebanyak 28 responden (35,0%), dan
pekerjaan pasien ibu rumah tangga sebanyak 37 responden (46,3%). Berdasarkan
tingkat pengetahuan terbanyak yaitu kategori baik 37 responden (46,3%), dan
hasil kuesioner tingkat kepatuhan terbanyak kategori rendah 39 responden
(48,8%). Hasil analisis uji korelasi Somers’d didapatkan nilai signifikasi p
value<0,05 (p-value 0,000) artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan
tentang hipertensi terhadap tingkat kepatuhan dengan tingkat keeratan hubungan
kuat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi menurut World Health Organization (WHO), adalah
pemilihan dan penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati penyakit
atau gejala yang dikenali sendiri. Parasetamol merupakan obat analgetik non-
narkotik dengan cara menghambat sintesis prostaglandin, terutama di sistem syaraf
pusat (SSP). Obat ini digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang serta
sebagai antipiretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat
pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi parasetamol. Metode yang digunakan
dalam penelitian yaitu metode penelitian dengan cross-sectional, yang dilakukan
secara prospektif. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang
sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian diperoleh mayoritas
responden adalah wanita (51,59%). Kategori remaja akhir (17-25 tahun) sebanyak
63,69%. Pekerjaan terbanyak adalah mahasiswa/pelajar, (42,68%). Pendidikan
terbanyak SMA (45,86%). Adapun tingkat pengetahuan terbanyak adalah tinggi
(49,68%) dan perilaku swamedikasi parasetamol tebanyak perilaku yang baik
(42,68%) dalam swamedikasi parasetamol. Hasil dari uji Chi-square menujukan
terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan terhadap perilaku
swamedikasi parasetamol di RT 01 RW 03 Desa Jabon Mekar Kabupaten Bogor
dengan hasil p value sebesar 0,000 (<0,005).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah praktik dimana individu mengobati diri sendiri tanpa perlu
bantuan atau resep dokter. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi
keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat. Analgesik
antipiretik adalah jenis obat yang memiliki dua fungsi utama yaitu analgesik untuk
meredakan rasa sakit dan antipiretik untuk menurunkan demam. Pengetahuan
menjadi dominan paling penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, maka dari
itu perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan bertahan lama dibandingkan
perilaku yang tidak didasari ilmu pengetahuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui gambaran sosiodemografi, tingkat pengetahuan, perilaku, dan
hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku masyarakat Kelurahan Gunung
Batu Kecamatan Bogor Barat pada bulan Oktober tahun 2022. Pendekatan dalam
penelitian ini yaitu jenis penelitian deskriptif observasional menggunakan data
prospektif berdasarkan kuisioner. Sosiodemografi di dominasi 58,76% oleh
perempuan, 38,94% usia 26-35 tahun, 49,15% pendidikan SMA, dan 37,29%
pekerjaan IRT. Tingkat pengetahuan swamedikasi termasuk dalam kategori baik
dengan persentase sebesar 59,66%, kategori cukup dengan persentase sebesar
32,95%, dan kategori kurang dengan persentase sebesar 7,39%. Perilaku
swamedikasi termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 48,30%,
kategori cukup dengan persentase sebesar 28,98%, dan kategori kurang dengan
persentase sebesar 23,30%. Hasil analisis Spearman Rho menunjukan bahwa nilai
sig 0,00 < 0,05, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel
tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi dengan korelasi sebesar 0,570
dimana hasil ini memiliki hubungan dengan kategori sedang.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Dismenorea adalah salah satu kondisi nyeri haid yang terjadi pada masa menstruasi
sebagian besar wanita. Penyuluhan adalah salah satu dari sekian banyak Langkah
yang dilakukan guna meningkatkan pengetahuan manusia. Penyuluhan dilakukan
dengan memberikan informasi tentang dismenorea. Tujuan penelitian yang
dilakukan adalah untuk melihat apakah antara sebelum dan sesudah penyuluhan
tentang dismenorea pada siswi di SMK Farmasi Bhakti Kencana Bogor
menyebabkan peningkatan level pengetahuan pada partisipan. Penelitian ini
menggunakan penelitian Kuantitatif Observasional yang bersifat prospektif.
Teknik Pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dengan jumlah
responden 170 sampel. Pengumpulan data menggunakan instrument kuesioner.
Hasil penelitian menunjukan sosiodemografi: usia kategori remaja awal(12-16
tahun) sebesar 97%, kelas dengan responden terbanyak kelas XI (sebelas) 52%.
Tingkat pengetahuan sebelum penyuluhan diperoleh yaitu 27 responden (16%)
memiliki pengetahuan baik, sebanyak 112 responden (66%) memiliki pengetahuan
cukup, dan sebanyak 31 responden (18%) memiliki pengetahuan baik. Tingkat
pengetahuan sesudah penyuluhan diperoleh 118 responden (69%) memiliki
pengetahuan baik, dan sebanyak 52 responden (31%) memiliki pengetahuan cukup
Analisis data menggunakan metode Wilcoxon dengan taraf signifikan 0,05.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan terdapat perbedaan signifikan antara
tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan dengan memberikan
informasi mengenai dismenorea, dilihat dari nilai p value 0,000 (<0,05). Sehingga
dapat disimpulkan bahwa penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan siswi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah Pengobatan yang banyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan ringan atau gejala penyakit, sebelum memutuskan mencari pertolongan pada tenaga kesehatan. Gastritis merupakan terjadinya inflamasi yang diakibatkan oleh faktor iritasi dan infeksi pada mukosa dan submukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik sosiodemografi, dengan tingkat pengetahuan pasien swamedikasi gastritis di Apotek Askia Bogor. Metode yang digunakan adalah deksriptif analitik dengan pendekatan Prospektif
yang menggambarkan fenomena untuk diteliti yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu, dengan model penelitian yang menggunakan metode cross-sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara karakteristik, risiko dengan efek, serta cara pendekatan, observasional, atau pengumpulan data. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa gambaran karakteristik sosiodemografi
Apotek Askia Bogor periode Agustrus-September 2022 menunjukan presentase terbesar pada usia 18-25 tahun sekitar (35%), jenis kelamin tebanyak yaitu perempuan (60%), pendidikan terbanyak yaitu perguruan tinggi (48%), pekerjaan terbanyak yaitu karyawan swasta (36%), dan pendapatan terbanyak yaitu kurang 2- 4 juta (37%). Karakteristik sosiodemografi yang meliputi (Usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat
pengetahuan swamedikasi gastritis dengan nilai 0,05. Sedangkan karakteristik sosiodemografi pada (Jenis kelamin) tidak memiliki hubungan siginifikan terhadap tingkat pengetahuan swamedikasi gastritis dengan nilai ≥0,05.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah terjadinya peningkatan tekanan
darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg dalam dua kali
pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan istirahat atau tenang.
Penelitian ini bersifat prospektif data yang digunakan adalah data primer yaitu hasil
pemberian kuesioner, jumlah sampel 59 responden yang diperoleh dengan teknik
total sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi, tingkat pengetahuan
diukur menggunakan kuesioner HK-LS dan tingkat kepatuhan diukur menggunakan
kuesioner MMAS-8. Hasil penelitian pasien hipertensi mayoritas berjenis kelamin
perempuan sebanyak 38 responden (64%), usia 56-65 tahun (lansia akhir) sebanyak
17 responden (29%), pendidikan terakhir Tamat SMA/SMK sebanyak 26
responden (44%), dan pekerjaan Ibu Rumah Tangga sebanyak 26 responden (44%).
Hasil kuesioner tingkat pengetahuan pasien dengan tingkat pengetahuan baik
sebanyak 46 responden (78%), dan hasil tingkat kepatuhan minum obat
antihipertensi dengan tingkat kepatuhan sedang sebanyak 30 responden (51%).
Hasil analisis data statistik Ada hubungan tingkat pengetahuan pasien terhadap
tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi di Klinik Siti Aksar Depok yang dapat
dilihat dari uji Chi Square dengan nilai Signifikasi p value 0,011 < 0,05 yang berarti
H0 ditolak, H1 diterima.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi merupakan pengobatan diri sendiri yang dilakukan untuk
mengatasi masalah kesehatan. Sedangkan batuk merupakan keluhan yang sering
dialami masyarakat, dan dianggap ringan sehingga masyarakat lebih memilih
untuk melakukan swamedikasi dalam menanganinya. Namun pada
pelaksanaannya swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan
pengobatan karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan
penggunannya. Sehingga masyarakat harus memiliki pengetahuan yang baik
dalam swamedikasi batuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan faktor sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan swamedikasi batuk
di Apotek Mekarwangi Kota Bogor. Desain penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kuantitatif dengan pendekatan prospektif dengan model penelitian
menggunakan metode cross sectional. Alat ukur berupa data primer yang
menggunakan kuisioner. Pengambilan sampel sebanyak 76 responden yang di
dapat dari populasi menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian di
dapat bahwa responden yang paling banyak melakukan swamedikasi yaitu pada
usia 26-35 tahun (42%), jenis kelamin laki-laki (55%), pendidikan perguruan
tinggi (51%), pekerjaan karyawan swasta (45%), pendapatan <3 juta (46%).
tingkat pengetahuan pasien swamedikasi batuk di Apotek Mekarwangi Kota
Bogor menunjukan presentasi 84% baik. Hasil chi square diperoleh nilai
signifikan >0,05. sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh faktor
sosiodemografi tidak memiliki hubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan
swamedikasi batuk.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penularan COVID-19 begitu cepat karena mekanisme penyebarannya
melalui udara (air bone), Dalam upaya pencegahan dan perawatan infeksi
COVID-19 Badan Pengawas Obat dan Makanan menerbitkan buku pedoman
penggunaan herbal dan suplemen kesehatan dalam menghadapi COVID-19,
suplemen berperan penting dalam menjaga sistem imun dari serangan virus.
Dibutuhkan pengetahuan untuk mengonsumsi suplemen kesehatan agar
penggunaan sesuai dengan kebutuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran faktor sosiodemografi (usia, jenis kelamin, pekerjaan dan
pendikan terakhir) dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan penggunaan
suplemen kesehatan di Desa Bojong Baru Kecamatan Bojong Gede Kabupaten
Bogor dalam periode April hinga Juli 2022. Metode penelitian analitik dengan
pendekatan cross sectional sample penelitian ditetapkan menggunakan metode
purposive sampling. Gambaran sosiodemografi responden paling tinggi usia
dewasa awal 43%, jenis kelamin wanita 66%, pekerjaan pegawai swasta 63% dan
pendidikan terakhir SMA 67%, pengetahuan kategori baik 41%. Hasil uji analisis
bivariat antara usia dengan tingkat pengetahuan menunjukan nilai signifikasi
sebesar 0,608<0,05 menunjukan tidak ada hubungan, tidak terdapat hubungan
antara jenis kelamin dengan pengetahuan (p-value=0,352<0,05), pekerjaan dengan
tingkat pengetahuan tidak terdapat hubungan (p-value=0,565<0,05), terdapat
hubungan antara pendidikan terakhir dengan tingkat pengetahuan (p-
value=0,044<0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pengelolaan obat di masyarakat mulai dari prosedur mendapatkan,
menggunakan, menyimpan, dan membuang sisa obat tidak boleh dianggap remeh,
karena jika salah melakukan pengelolaan obat, maka akan berakibat sangat fatal
bagi diri kita sendiri atau konsumen obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran sosiodemografi dan gambaran tingkat pengetahuan
masyarakat tentang mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang obat
sediaan sirup di Kelurahan Jayaraksa Kota Sukabumi. meliputi Pengetahuan obat
tentang: mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang (DAGUSIBU)
obat sirup. Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Observasional, dengan
teknik Purposive Sampling dan metode yang dipilih Cross Sectional. Dari
penelitian yang dilakukan dari 130 responden didapatkan hasil: Gambaran
sosiodemografinya adalah jenis kelamin 52,31% (perempuan), umur 40,77% (17-
25 tahun), tingkat pendidikan 42,31% (perguruan tinggi) dan pekerjaan 21,54%
(PNS). Gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara mendapatkan
adalah baik 37,69% (49 responden), cara menggunakan adalah kategori baik
40,77% (53 responden), cara menyimpan adalah kategori kurang 36,92% (48
responden) dan cara membuang obat sediaan sirup adalah kategori cukup 36,92%
(48 responden).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi merupakan salah satu dari upaya masyarakat untuk menjaga
kesehatannya sendiri. Dasar hukum swamedikasi yaitu peraturan Menteri
Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993 tentang standar obat yang dapat
diserahkan tanpa resep dokter. Sebagian besar masyarakat dapat mengatasi
demam dengan cara melakukan pengobatan sendiri di rumah dengan
menggunakan obat yang dijual bebas di pasaran. Oleh karena itu, pentingnya
pengetahuan pasien tentang swamedikasi mengenai demam. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan swamedikasi demam
berdasarkan sosiodemografi pada masyarakat RT.02 di Desa Sanja Kecamatan
Citeureup. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan tipe
penelitian deskriptif dan pendekatan prospektif. Besar sampel minimal dihitung
menggunakan teknik Slovin. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan
program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas karakteristik
sosiodemografi responden yaitu perempuan (122 responden, 64,2%), usia lansia
awal (46-55 tahun) (55 responden, 28,9%), pendidikan terakhir SMA (149
responden, 78,4%), serta pekerjaan karyawan (88 responden, 46,3%). Gambaran
pengetahuan responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik (skor 76-100%)
sebanyak 96 responden (50,5%), cukup (skor 60-75%) sebanyak 67 responden
(35,3%), dan kurang (skor <60%) sebanyak 27 responden (14,2%). Gambaran
tingkat pengetahuan swamedikasi demam berdasarkan sosiodemografi yang
memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu laki-laki (68 responden, 52,94%), usia
lansia awal (46-55 tahun) (69,90%), perguruan tinggi (84,38%), serta PNS
(87,50%).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah upaya yang paling sering dilakukan oleh masyarakat untuk
mengatasi gejala penyakit sebelum mencari bantuan dari tenaga kesehatan.
Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan- keluhan dan penyakit
ringan seperti batuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
tingkat pengetahuan swamedikasi santri Madrasah Aliyah terhadap penyakit batuk
di Pondok Pesantren Miftahul Huda Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada 86 responden
dengan kriteria pernah melakukan swamedikasi batuk. Kuesioner terdiri dari 20
item pernyataan pilihan benar salah yang terbagi menjadi 8 indikator. Pengambilan
sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan
menggunakan persentase dan pembahasan. Hasil penelitian ini adalah 39,5%
berjenis kelamin laki-laki, 60,5% berjenis kelamin perempuan, usia paling banyak
16-19 tahun 70,9%, tingkat kelas paling banyak 11 Aliyah 57%, pengetahuan
swamedikasi batuk responden berdasar indikator yang menjawab dengan benar
tentang definisi batuk (70,9%), jenis - jenis batuk (97,65%), penyebab dan cara
mencegah batuk (93,9%), aturan minum obat batuk (91,06%), terapi farmakologis
dan non farmakologis (93,96%), stabilitas obat (84,85%), penyakit lain yang
berhubungan dengan batuk (95,35%) dan efek samping obat batuk (88,4%). Dari
hasil 8 indikator yang diperoleh menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat
pengetahuan baik tentang swamedikasi batuk sebesar 96,5%, dan responden dengan
tingkat pengetahuan cukup sebesar 3,5 %.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga teknis kefarmasian mengenai penggunaan
antibiotik dapat mencegah terjadinya peningkatan risiko terhadap keamanan pasien,
pengobatan yang kurang tepat dan kurang efektif, dan perluasan resistensi. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tenaga teknis
kefarmasian tentang antibiotik berserta hubungannya dengan faktor sosiodemografi
di wilayah Kecamatan Beji Depok. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif
dengan pengambilan data secara prospektif dengan teknik pengambilan sampel
yang digunakan yaitu purposive sampling dengan memberikan kuesioner secara
online menggunakan Google Form yang disebarkan kepada 171 tenaga teknis
kefarmasian di wilayah Kecamatan Beji Depok. Pertanyaan kuesioner
menggunakan standar Permenkes RI No 2406, 2011 tentang pedoman umum
tentang antibiotik. Data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan Microsoft Excel
dengan hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa 62% tenaga teknis kefarmasian memiliki tingkat pengetahuan
yang baik mengenai antibiotik. Hasil uji Pearson Chi-Square menunjukkan adanya
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan wilayah kerja dengan tingkat
pengetahuan tenaga teknis kefarmasian mengenai antibiotik. Hasil uji lanjut
Bonferroni menunjukkan terdapat hubungan yang signfikan pada jenis kelamin
laki-laki dengan tingkat pengetahuan antiobiotik pada tingkatan kurang dan wilayah
kerja di Beji dan Kemiri Muka dengan tingkat pengetahuan antibotik pada tingkatan
kurang.