BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Nyeri merupakan perasaan tidak menyenangkan terkait adanya kerusakan
jaringan. Nyeri dapat diobati dengan swamedikasi. Pada pelaksanaannya,
swamedikasi perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya kesalahan
pengobatan akibat terbatasnya pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran perilaku swamedikasi
obat analgetika di apotek Wynetta Kabupaten Bogor mencakup gambaran
sosiodemografi, profil swamedikasi konsumen yang membeli obat analgetika,
gambaran perilaku pada aspek pengetahuan, sikap dan tindakan. Penelitian ini
bersifat deskriptif dengan metode survei. Pengambilan data dilakukan dengan
kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Jumlah sampel sebanyak 89
responden menggunakan teknik Purposive Sampling. Data dianalisis secara
Univariat pada aplikasi Statistic Product and Servicer Solution (SPSS) versi 26.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil mayoritas responden yang melakukan
swamedikasi obat analgetika di apotek Wynetta Kabupaten Bogor adalah berusia
36-45 tahun (38%) berjenis kelamin perempuan (60%), berpendidikan SMA (48%),
bekerja sebagai karyawan swasta (45%), memiliki keluhan sakit kepala (30%)
memilih obat parasetamol (37%) ,memilih tempat swamedikasi di apotek (82%),
mendapat sumber Informasi dari pengalaman (44%). Konsumen di apotek Wynetta
memiliki pengetahuan baik (65%), cukup 19 % , kurang 16 % , memiliki sikap baik
57%, cukup 37% , kurang 6% , dan memiliki tindakan baik 63%, cukup 28%,
kurang 9%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah Pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk
mengurangi gejala penyakit yang bersifat ringan tanpa nasehat dokter. Diare
merupakan buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari
dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.Pada pelaksanaannya
swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan karena keterbatasan
pengetahuan masyarakat akan obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
gambaran sosiodemografi serta tingkat pengetahuan masyarakat tentang
swamedikasi diare di Kampung Wangun Tengah RW 03. Jenis Penelitian ini adalah
desktriptif observasional. Sampel pada penelitian merupakan masyarakat yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah 94 responden. Pengambilan
data dilakukan dengan memberikan kuisioner, data diolah menggunakan Statistical
Program for Social Science (SPSS) versi 26. Hasil Penelitian menunjukan
responden terbanyak berdasarkan usia pada usia di 36-45 tahun sebanyak 32
responden (34,04%), responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin perempuan
sebanyak 57 responden (60,64%), responden terbanyak pada tingkat SMA/SMK
berjumlah 56 responden (59,57%), responden penelitian ibu rumah tangga yaitu
senbanyak 28 responden (29,79%). Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 94
responden masyarakat di Kampung Wangun Tengah RW 03 memiliki tingkat
pengetahuan baik sebanyak 61 responden (64,9%), tingkat pengetahuan cukup
sebanyak 30 responden (31,9%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 3
responden (3,2%). Berdasarkan data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas
Kampung Wangun Tengah RW03 kota Bogor mempunyai tingkat pengetahuan
yang baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah perilaku mengkonsumsi obat sendiri berdasarkan diagnosis terhadap gejala sakit yang dialami. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi penyakit ringan seperti diare. Menurut data Kemenkes pada tahun 2020 Kabupaten Bogor menempati urutan pertama penemuan kasus diare pada balita seJawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu tentang swamedikasi penyakit diare pada balita, karena diare masih jadi penyumbang angka kematian pada balita di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan Cross sectional dan pengambilan sampel menggunakan teknik Stratified Random Sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan program SPPS versi 26. Hasil penelitian, usia responden terbanyak dalam melakukan swamedikasi diare pada balita adalah usia 26-35 tahun yaitu 54%. Latar belakang pendidikan 57,61% lulusan SMA, dan pekerjaan paling banyak sebagai Ibu Rumah Tangga 64%. Memiliki anak dengan usia paling banyak 2-5 tahun sebesar 51,09%. Sebesar 47,83% responden dengan tingkat pengetahuan cukup baik tentang swamedikasi diare pada balita. Alasan ibu melakukan swamedikasi diare 75% untuk menghemat waktu dan biaya. Obat yang digunakan untuk swamedikasi diare paling banyak yaitu Lacto-B 48,91%. Sumber informasi yang didapat responden 73,91% mengikuti resep yang pernah didapat sebelumnya dari dokter. Sebanyak 76,09% responden mendapatkan obat untuk swamedikasi di Apotek.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah upaya menjaga kesehatan dan salah satu penyakit yang dapat
di swamedikasi adalah demam. Demam merupakan penyakit yang sering dialami
terutama pada anak. Tidak terlepas dari pengaruh media sosial akses informasi
pengobatan dapat menyebabkan terjadinya kesalahan jika tidak dibekali
pengetahuan yang cukup, sehingga masyarakat terutama ibu harus memiliki
pengetahuan yang baik dalam swamedikasi demam. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan paparan media sosial terhadap tingkat pengetahuan
ibu dalam swamedikasi obat demam anak di RW 005 Desa Salabenda Kabupaten
Bogor. Desain penelitian ini adalah prospektif dengan pendekatan cross sectional.
Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner. Dari jumlah populasi sebanyak 278
dengan teknik Cluster random sampling didapat sampel sebanyak 74 responden.
Hasil Penelitian didapat bahwa responden yang paling banyak melakukan
swamedikasi yaitu pada usia 26-35 tahun (45,9%), pendidikan SMA/SMK
(41,9%), dan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (68,9%). Tingkat pengetahuan
ibu dalam swamedikasi demam menunjukan presentase cukup baik yaitu 48,6 %
dan tingkat keterpaparan media sosial menujukan 93,2 % ibu terpapar media
sosial. Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai signifikansi 0,261 (>0,05)
maka dapat tidak ada hubungan signifikan antara paparan media sosial terhadap
tingkat pengetahuan ibu dalam swamedikasi obat demam pada anak.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi menurut World Health Organization (WHO), adalah
pemilihan dan penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati penyakit
atau gejala yang dikenali sendiri. Parasetamol merupakan obat analgetik non-
narkotik dengan cara menghambat sintesis prostaglandin, terutama di sistem syaraf
pusat (SSP). Obat ini digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang serta
sebagai antipiretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat
pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi parasetamol. Metode yang digunakan
dalam penelitian yaitu metode penelitian dengan cross-sectional, yang dilakukan
secara prospektif. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang
sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian diperoleh mayoritas
responden adalah wanita (51,59%). Kategori remaja akhir (17-25 tahun) sebanyak
63,69%. Pekerjaan terbanyak adalah mahasiswa/pelajar, (42,68%). Pendidikan
terbanyak SMA (45,86%). Adapun tingkat pengetahuan terbanyak adalah tinggi
(49,68%) dan perilaku swamedikasi parasetamol tebanyak perilaku yang baik
(42,68%) dalam swamedikasi parasetamol. Hasil dari uji Chi-square menujukan
terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan terhadap perilaku
swamedikasi parasetamol di RT 01 RW 03 Desa Jabon Mekar Kabupaten Bogor
dengan hasil p value sebesar 0,000 (<0,005).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah praktik dimana individu mengobati diri sendiri tanpa perlu
bantuan atau resep dokter. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi
keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat. Analgesik
antipiretik adalah jenis obat yang memiliki dua fungsi utama yaitu analgesik untuk
meredakan rasa sakit dan antipiretik untuk menurunkan demam. Pengetahuan
menjadi dominan paling penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, maka dari
itu perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan bertahan lama dibandingkan
perilaku yang tidak didasari ilmu pengetahuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui gambaran sosiodemografi, tingkat pengetahuan, perilaku, dan
hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku masyarakat Kelurahan Gunung
Batu Kecamatan Bogor Barat pada bulan Oktober tahun 2022. Pendekatan dalam
penelitian ini yaitu jenis penelitian deskriptif observasional menggunakan data
prospektif berdasarkan kuisioner. Sosiodemografi di dominasi 58,76% oleh
perempuan, 38,94% usia 26-35 tahun, 49,15% pendidikan SMA, dan 37,29%
pekerjaan IRT. Tingkat pengetahuan swamedikasi termasuk dalam kategori baik
dengan persentase sebesar 59,66%, kategori cukup dengan persentase sebesar
32,95%, dan kategori kurang dengan persentase sebesar 7,39%. Perilaku
swamedikasi termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 48,30%,
kategori cukup dengan persentase sebesar 28,98%, dan kategori kurang dengan
persentase sebesar 23,30%. Hasil analisis Spearman Rho menunjukan bahwa nilai
sig 0,00 < 0,05, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel
tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi dengan korelasi sebesar 0,570
dimana hasil ini memiliki hubungan dengan kategori sedang.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diare ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasanya, Diare salah satu gejala penyakit yang dapat diatasi dengan swamedikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik sosiodemografi, gambaran tingkat pengetahuan swamedikasi dan hubungan karakteristik sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan swamedikasi diare balita di Apotek
Sehat Susukan Cirebon. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan data primer berupa kuesioner pada responden diare balita di Apotek Sehat Susukan Cirebon yang dilakukan pada April-Juni 2023 dengan jumlah sampel 100 responden, dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan karakteristik sosiodemografi responden bedasarkan jenis
kelamin perempuan sebanyak 58%, usia 17-25 tahun sebesar 58%, pegawai swasta sebanyak 44% dengan tingkat Pendidikan 52% lulusan SMA dan memiliki hasil tingkat pengetahuan swamedikasi diare balita pada balita sebesar 96% dengan kategori baik. Hasil hubungan antara usia dan tingkat pengetahuan responden swamedikasi diare balita di uji dengan uji Chi-Square dengan nilai p-value (0,014)<0,05 artinya ada hubungan bermakna antara usia dengan tingkat pengetahuan responden swamedikasi diare balita, hasil hubungan antara jenis kelamin dengan nilai p-value (0,481)> 0,05, Pendidikan dengan nilai p-value (0,878)> 0,05, pekerjaan dengan nilai p-value (0,852)> 0,05 artinya tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin, Pendidikan dan pekerjaan dengan tingkat pengetahuan responden swamedikasi diare balita di Apotek Sehat Susukan Cirebon.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Nyeri gigi adalah nyeri yang disebabkan oleh berbagai masalah pada gigi dan rahang yang biasanya merujuk kepada rasa sakit di sekitar gigi atau rahang terutama sebagai akibat dari kondisi gigi. Pengobatan sendiri kerap pula disebut sebagai swamedikasi, yang merupakan alternatif yang ditempuh oleh masyarakat dalam meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan swamedikasi nyeri gigi di Apotek Gamma Bogor periode April-September 2023. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi 1.054 pasien swamedikasi nyeri gigi di Apotek Gamma Bogor dengan jumlah sampel 92 pasien, hasil dianalisa menggunakan SPSS 26 dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukan gambaran sosiodemografi pasien swamedikasi nyeri gigi di Apotek Gamma Bogor yaitu sebagian besar berusia 17-25 tahun sebanyak 37 pasien (40,2%), jenis kelamin perempuan sebanyak 61 pasien (66,3%), tamatan SMA sebanyak 44 pasien (47,8%) bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 41 pasien (44,6%). Gambaran tingkat pengetahuan pasien mengenai swamedikasi nyeri gigi di Apotek Gamma Bogor memiliki pengetahuan baik sebanyak 61 pasien (66,3%). Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan pendidikan dengan pengetahuan pasien swamedikasi nyeri gigi di Apotek Gamma Bogor dengan p value 0,000 pada variabel usia dengan pengetahuan dan p value 0,000 pada variabel pendidikan dengan
pengetahuan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi merupakan upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi gejala yang dialami dengan menggunakan obat tanpa resep. Dalam pelaksanaannya, swamedikasi dapat menimbulkan masalah terkait obat jika tidak dilakukan dengan benar. Masalah terjadi karena keterbatasan pengetahuan dalam penggunaan obat untuk swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, perilaku, dan hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku mengenai
swamedikasi nyeri gigi di Apotek Bunda 2 Karadenan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 90 sampel/responden didapatkan melalui teknik Total sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien memiliki tingkat pengetahuan baik (76%). Perilaku masyarakat termasuk ke dalam kategori baik (66%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku masyarakat mengenai swamedikasi nyeri gigi dengan
nilai signifikansi p value 0,002.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah Pengobatan yang banyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan ringan atau gejala penyakit, sebelum memutuskan mencari pertolongan pada tenaga kesehatan. Gastritis merupakan terjadinya inflamasi yang diakibatkan oleh faktor iritasi dan infeksi pada mukosa dan submukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik sosiodemografi, dengan tingkat pengetahuan pasien swamedikasi gastritis di Apotek Askia Bogor. Metode yang digunakan adalah deksriptif analitik dengan pendekatan Prospektif
yang menggambarkan fenomena untuk diteliti yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu, dengan model penelitian yang menggunakan metode cross-sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara karakteristik, risiko dengan efek, serta cara pendekatan, observasional, atau pengumpulan data. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa gambaran karakteristik sosiodemografi
Apotek Askia Bogor periode Agustrus-September 2022 menunjukan presentase terbesar pada usia 18-25 tahun sekitar (35%), jenis kelamin tebanyak yaitu perempuan (60%), pendidikan terbanyak yaitu perguruan tinggi (48%), pekerjaan terbanyak yaitu karyawan swasta (36%), dan pendapatan terbanyak yaitu kurang 2- 4 juta (37%). Karakteristik sosiodemografi yang meliputi (Usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat
pengetahuan swamedikasi gastritis dengan nilai 0,05. Sedangkan karakteristik sosiodemografi pada (Jenis kelamin) tidak memiliki hubungan siginifikan terhadap tingkat pengetahuan swamedikasi gastritis dengan nilai ≥0,05.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Nyeri haid adalah rasa sakit atau nyeri hebat pada bagian bawah perut yang terjadi
saat wanita mengalami siklus menstruasi. Nyeri haid merupakan penyakit ringan yang
dapat disembuhkan dengan swamedikasi. Swamedikasi berarti mengobati segala
keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat sederhana yang dibeli bebas di apotik atau
toko obat, atas inisiatif sendiri tanpa nasihat dokter. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui gambaran sosiodemografi swamedikasi nyeri haid, gambaran tingkat
pengetahuan, gambaran perilaku, dan hubungan tingkat pengetahuan dengan
perilaku swamedikasi nyeri haid pada siswi SMK Insan Medika Kota Depok.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan desain penelitian cross
sectional dengan pendekatan prospektif. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan
Februari – Mei tahun 2023. Tempat penelitian dilaksanakan di SMK Insan Medika
Kota Depok. Alat ukur berupa kuesioner, dengan jumlah sampel 85 secara Purposive
Sampling. Responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu siswi yang mengalami
nyeri haid dan pernah melakukan swamedikasi nyeri haid. Hasil penelitian
menunjukan sosiodemografi: usia paling banyak yaitu kategori remaja awal (12-16
tahun) sebesar 64,71%, kelas dengan responden terbanyak kelas X sebesar
(52,94%), gambaran tingkat pengetahuan dengan kategori tinggi sebesar(85,88%), dan
gambaran perilaku dengan kategori perilaku cukup baik sebesar (82,35%).
Pengujian hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku menggunakan uji chi-square
diperoleh hasil signifikansi dengan nilai p-value yaitu sebesar 0,791 dimana p –
Value > α (0,05) yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
pengetahuan dengan perilaku swamedikasi nyeri haid.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Nyeri haid adalah rasa sakit atau nyeri hebat pada bagian bawah perut yang terjadi
saat wanita mengalami siklus menstruasi. Nyeri haid merupakan penyakit ringan yang
dapat disembuhkan dengan swamedikasi. Swamedikasi berarti mengobati segala
keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat sederhana yang dibeli bebas di apotik atau
toko obat, atas inisiatif sendiri tanpa nasihat dokter. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui gambaran sosiodemografi swamedikasi nyeri haid, gambaran tingkat
pengetahuan, gambaran perilaku, dan hubungan tingkat pengetahuan dengan
perilaku swamedikasi nyeri haid pada siswi SMK Insan Medika Kota Depok.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan desain penelitian cross
sectional dengan pendekatan prospektif. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan
Februari – Mei tahun 2023. Tempat penelitian dilaksanakan di SMK Insan Medika
Kota Depok. Alat ukur berupa kuesioner, dengan jumlah sampel 85 secara Purposive
Sampling. Responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu siswi yang mengalami
nyeri haid dan pernah melakukan swamedikasi nyeri haid. Hasil penelitian
menunjukan sosiodemografi: usia paling banyak yaitu kategori remaja awal (12-16
tahun) sebesar 64,71%, kelas dengan responden terbanyak kelas X sebesar
(52,94%), gambaran tingkat pengetahuan dengan kategori tinggi sebesar(85,88%), dan
gambaran perilaku dengan kategori perilaku cukup baik sebesar (82,35%).
Pengujian hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku menggunakan uji chi-square
diperoleh hasil signifikansi dengan nilai p-value yaitu sebesar 0,791 dimana p –
Value > α (0,05) yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
pengetahuan dengan perilaku swamedikasi nyeri haid.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah perilaku manusia yang biasanya dilakukan masyarakat
untuk mendapatkan solusi terkait masalah kesehatan, untuk alasan ini
swamedikasi harus diawasi oleh apoteker. Masyarakat membutuhkan pengetahuan
yang sesuai untuk mendapatkan perilaku yang tepat dalam swamedikasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan gambaran pengetahuan dan perilaku
swamedikasi siswi SMK Farmasi Cipto kota Cirebon dalam menghilangkan nyeri
haid (dismenore). Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dan
pengambilan data secara prospektif. Sampel yang digunakan sebanyak 66
responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan November – Desember 2020.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 97% siswi SMK farmasi cipto kota
cirebon mengalami dismenore,
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi merupakan pengobatan diri sendiri yang dilakukan untuk
mengatasi masalah kesehatan. Sedangkan batuk merupakan keluhan yang sering
dialami masyarakat, dan dianggap ringan sehingga masyarakat lebih memilih
untuk melakukan swamedikasi dalam menanganinya. Namun pada
pelaksanaannya swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan
pengobatan karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan
penggunannya. Sehingga masyarakat harus memiliki pengetahuan yang baik
dalam swamedikasi batuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan faktor sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan swamedikasi batuk
di Apotek Mekarwangi Kota Bogor. Desain penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kuantitatif dengan pendekatan prospektif dengan model penelitian
menggunakan metode cross sectional. Alat ukur berupa data primer yang
menggunakan kuisioner. Pengambilan sampel sebanyak 76 responden yang di
dapat dari populasi menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian di
dapat bahwa responden yang paling banyak melakukan swamedikasi yaitu pada
usia 26-35 tahun (42%), jenis kelamin laki-laki (55%), pendidikan perguruan
tinggi (51%), pekerjaan karyawan swasta (45%), pendapatan <3 juta (46%).
tingkat pengetahuan pasien swamedikasi batuk di Apotek Mekarwangi Kota
Bogor menunjukan presentasi 84% baik. Hasil chi square diperoleh nilai
signifikan >0,05. sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh faktor
sosiodemografi tidak memiliki hubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan
swamedikasi batuk.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan upaya masyarakat dalam
menangani keluhan penyakit yang dialami. Dalam prakteknya, pengobatan sendiri
akan menimbulkan masalah terhadap obat (Drug related problem), hal tersebut
dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai obat dan fungsinya. Tingkat
pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempermudah perilaku
swamedikasi yang tepat. Salah satu penyakit yang sering diswamedikasi adalah
nyeri gigi dengan menggunakan obat analgetik. Analgetik merupakan golongan
obat untuk mengatasi rasa nyeri ringan hingga berat. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan konsumen terhadap penggunaan
analgetik pada swamedikasi nyeri gigi di Apotek Kimia Farma Siliwangi Depok.
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 103 responden. Pengambilan sampel dilakukan
dengan dengan metode total sampling. Hasil penelitian diperoleh data
sosiodemografi berdasarkan jenis kelamin terbesar adalah laki-laki sebanyak
51,5%, usia 26-35 tahun sebanyak 35,8%, pendidikan S-1 sebanyak 49,5%,
pekerjaan pegawai swasta sebanyak 49,5%, obat analgetik yang sering dibeli
untuk swamedikasi nyeri gigi adalah asam mefenamat sebesar 36,9%, tempat
pembelian obat di apotek sebanyak 88,3%, dan sebanyak 83,5% tidak
mengalami efek samping. Hasil penelitian ini menunjukan responden memiliki
pengetahuan tergolong kurang sebesar 11,7%, 32% responden tergolong cukup,
dan 56,3% tergolong baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati
segala keluhan ringan pada diri sendiri atas inisiatif sendiri atau tanpa konsultasi
medis yang berkaitan dengan indikasi, dosis, dan lama penggunaan. Pengetahuan
merupakan salah satu faktor predisposisi yang sangat penting dalam mempengaruhi
terbentuknya perilaku seseorang. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui
hubungan pengetahuan tentang swamedikasi dengan pola penggunaan obat pada
masyarakat RW 006 Desa Mekarsari Kecamatan Cianjur. Desain penelitian ini
adalah deskriptif non eksperimental dengan pendekatan cross-sectional. alat ukur
berupa data primer yaitu menggunakan kuesioner dalam bentuk google form, untuk
mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara
swamedikasi. Pengambilan dilakukan pada 115 orang sampel yang didapat dari
populasi menggunakan metode purposive sampling. Selanjutnya dianalisis
menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa pemberian obat harus beserta dengan informasi yang tepat yaitu
pola penggunaan obat sebagian besar responden menggunakan obat dengan tepat
sebanyak 104 orang (90%). dari tingkat pengetahuan dengan kategori pengetahuan
tinggi sebanyak 104 orang (90%). Analisis hubungan tingkat pengetahuan dengan
pola penggunaan obat menunjukan hasil uji statistik Chi-Square nilai p-value yang
didapat 0,000 (0,05), hasil tersebut menunjukan ada hubungan antara tingkat
pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara swamedikasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi merupakan salah satu dari upaya masyarakat untuk menjaga
kesehatannya sendiri. Dasar hukum swamedikasi yaitu peraturan Menteri
Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993 tentang standar obat yang dapat
diserahkan tanpa resep dokter. Sebagian besar masyarakat dapat mengatasi
demam dengan cara melakukan pengobatan sendiri di rumah dengan
menggunakan obat yang dijual bebas di pasaran. Oleh karena itu, pentingnya
pengetahuan pasien tentang swamedikasi mengenai demam. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan swamedikasi demam
berdasarkan sosiodemografi pada masyarakat RT.02 di Desa Sanja Kecamatan
Citeureup. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan tipe
penelitian deskriptif dan pendekatan prospektif. Besar sampel minimal dihitung
menggunakan teknik Slovin. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan
program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas karakteristik
sosiodemografi responden yaitu perempuan (122 responden, 64,2%), usia lansia
awal (46-55 tahun) (55 responden, 28,9%), pendidikan terakhir SMA (149
responden, 78,4%), serta pekerjaan karyawan (88 responden, 46,3%). Gambaran
pengetahuan responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik (skor 76-100%)
sebanyak 96 responden (50,5%), cukup (skor 60-75%) sebanyak 67 responden
(35,3%), dan kurang (skor <60%) sebanyak 27 responden (14,2%). Gambaran
tingkat pengetahuan swamedikasi demam berdasarkan sosiodemografi yang
memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu laki-laki (68 responden, 52,94%), usia
lansia awal (46-55 tahun) (69,90%), perguruan tinggi (84,38%), serta PNS
(87,50%).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah upaya yang paling sering dilakukan oleh masyarakat untuk
mengatasi gejala penyakit sebelum mencari bantuan dari tenaga kesehatan.
Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan- keluhan dan penyakit
ringan seperti batuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
tingkat pengetahuan swamedikasi santri Madrasah Aliyah terhadap penyakit batuk
di Pondok Pesantren Miftahul Huda Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada 86 responden
dengan kriteria pernah melakukan swamedikasi batuk. Kuesioner terdiri dari 20
item pernyataan pilihan benar salah yang terbagi menjadi 8 indikator. Pengambilan
sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan
menggunakan persentase dan pembahasan. Hasil penelitian ini adalah 39,5%
berjenis kelamin laki-laki, 60,5% berjenis kelamin perempuan, usia paling banyak
16-19 tahun 70,9%, tingkat kelas paling banyak 11 Aliyah 57%, pengetahuan
swamedikasi batuk responden berdasar indikator yang menjawab dengan benar
tentang definisi batuk (70,9%), jenis - jenis batuk (97,65%), penyebab dan cara
mencegah batuk (93,9%), aturan minum obat batuk (91,06%), terapi farmakologis
dan non farmakologis (93,96%), stabilitas obat (84,85%), penyakit lain yang
berhubungan dengan batuk (95,35%) dan efek samping obat batuk (88,4%). Dari
hasil 8 indikator yang diperoleh menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat
pengetahuan baik tentang swamedikasi batuk sebesar 96,5%, dan responden dengan
tingkat pengetahuan cukup sebesar 3,5 %.