BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Demam Berdarah merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
dengue tipe 1-4. Virus ini lebih dominan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina
Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Jumlah kasus Demam Berdarah di Indonesia
mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan Rw 05 Kelurahan Cibinong Kabupaten
Bogor berdasarkan karakteristik responden. Desain penelitian ini adalah deskriptif
kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan
metode sample random sampling dengan jumlah sample 100 orang. Teknik analisa
data menggunakan analisis univariate. Hasil dari 100 orang karakteristik
diantaranya mayoritas responden berumur 36-45 tahun sebesar 37%, berjenis
kelamin perempuan berjumlah 57%, pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA)
49%, pekerjaan karyawan swasta 43%. Hasil penilitian ini juga menunjukan bahwa
total keseluruhan masyarakat berada dalam kategori pengetahuan baik (76,48%)
sebesar 54%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah upaya menjaga kesehatan dan salah satu penyakit yang dapat
di swamedikasi adalah demam. Demam merupakan penyakit yang sering dialami
terutama pada anak. Tidak terlepas dari pengaruh media sosial akses informasi
pengobatan dapat menyebabkan terjadinya kesalahan jika tidak dibekali
pengetahuan yang cukup, sehingga masyarakat terutama ibu harus memiliki
pengetahuan yang baik dalam swamedikasi demam. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan paparan media sosial terhadap tingkat pengetahuan
ibu dalam swamedikasi obat demam anak di RW 005 Desa Salabenda Kabupaten
Bogor. Desain penelitian ini adalah prospektif dengan pendekatan cross sectional.
Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner. Dari jumlah populasi sebanyak 278
dengan teknik Cluster random sampling didapat sampel sebanyak 74 responden.
Hasil Penelitian didapat bahwa responden yang paling banyak melakukan
swamedikasi yaitu pada usia 26-35 tahun (45,9%), pendidikan SMA/SMK
(41,9%), dan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (68,9%). Tingkat pengetahuan
ibu dalam swamedikasi demam menunjukan presentase cukup baik yaitu 48,6 %
dan tingkat keterpaparan media sosial menujukan 93,2 % ibu terpapar media
sosial. Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai signifikansi 0,261 (>0,05)
maka dapat tidak ada hubungan signifikan antara paparan media sosial terhadap
tingkat pengetahuan ibu dalam swamedikasi obat demam pada anak.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Hingga saat ini tifoid masih menjadi masalah kesehatan di Negara-negara tropis termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan dampak negatif seperti masalah resistensi dan potensi terjadinya kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan antibiotik seftriakson pada pasien tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan di analisis secara deskriptif dengan data sekunder dari rekam medis pasien. Dari sampel 86 pasien dewasa tifoid menunjukkan bahwa pasien laki-laki sebesar 28% dan perempuan sebesar 72%, jumlah pasien tertinggi berada pada rentang usia 17-25 tahun sebesar 30%. Efektifitas seftriakson dilihat dari lama perawatan 1-3 hari sebesar 87% berdasarkan dua parameter penurunan suhu tubuh dan penurunan kadar leukosit. Kesimpulan yang diperoleh penggunaan antibiotik seftriakson pada tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak sudah efektif.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid disebabkan adanya resistensi terhadap Salmonella typhi, umumnya
pengobatan demam tifoid menggunakan golongan sefalosforin generasi ketiga.
Jenis pengobatan antibiotik pada penelitian ini menggunakan seftriakson dan
sefotaksim. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik
Seftriakson dan sefotaksim di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif observasional. Sampel yang digunakan adalah data rekam medik pasien
demam tifoid selama periode Januari – Desember 2022 dengan jumlah 91 pasien.
Data dianalisis dengan menggunakan perhitungan persentase pada Microsoft excel.
Hasil penelitian ini menunjukan pasien dengan rentang usia paling banyak adalah
17-25 tahun sebanyak 44 pasien (48%), jenis kelamin paling banyak perempuan
sebanyak 53 pasien (58%). Dari hasil penelitian pada pasien demam tifoid di
Rumah Sakit X periode Januari – Desember 2022 dapat disimpulkan persentase
pada pemberian antibiotik seftriakson yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%,
tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian
84%. Sedangkan pada pemberian antibiotik sefotaksim yaitu tepat indikasi 100%,
tepat pasien 100%, tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan
tepat lama pemberian 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi, biasanya melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Penderita dengan gambaran klinis jelas disarankan untuk dirawat di rumah sakit agar pengobatan lebih optimal, proses meminimalisasi komplikasi dan menghindari penularan. Antibiotik akan diberikan segera setelah diagnosis klinis ditegakkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit FMC Bogor berdasarkan pedoman dari WHO 2011 dan Permenkes RI No. 28 Tahun 2021. Metode penelitian menggunakan rancangan analisis deskriptif secara retrospektif yaitu mendeskripsikan atau menguraikan ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak melalui data sekunder rekam medis pasien. Parameter evaluasi meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi pemberian, dan tepat lama
waktu pemberian. Data yang digunakan diambil dari rekam medis 106 pasien yang berusia 0-18 tahun periode Januari – Desember 2022. Dari hasil penelitian, demam tifoid lebih banyak dialami oleh perempuan 54 pasien (51%), dengan usia 5 – 18 tahun 60 pasien (57%) dan lama rawat inap 1-4 hari 92 pasien (87%). Gambaran penggunaan antibiotik terbanyak adalah antibiotik Seftriakson sebanyak 79 pasien (75%). Ketepatan peggunaan obat antibiotik yaitu kategori tepat pasien 100%, tepat
indikasi 100%, tepat obat 100%, tepat dosis untuk seftriakson 40 pasien (37,73%), dan untuk sefotaksim 1 pasien (0,94%), tepat frekuensi pemberian untuk penggunaan seftriakson 49 pasien (46,23%), dan untuk sefotaksim 2 pasien (1,89%), tepat lama pemberian seftriakson 8 pasien (7,54%),
dan untuk sefotaksim 5 pasien (4,71%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau di Indonesia dikenal dengan istilah Demam
Berdarah Dengue (DBD) ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau
Albopictus. Penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) agent, host, Environment.
Acuan yang digunakan di RSUD Al-Mulk ini memiliki alur pengobatan yang dapat
di lihat dari WHO “National Guidelines for Clinical Management of Dengue Fever”
tahun 2015. Metode penelitian ini diolah secara deskriptif menggunakan data rekam
medik pada periode Januari– Desember 2022. Hasil penelitian mengenai
karakteristik pasien Demam Berdarah Dengue (DBD paling banyak laki-laki sebesar
68% dan usia paling banyak 0-5 tahun 45%, dengan kategori tingkat keparahan
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) 44 kasus, penggunaan obat antipiretik
parasetamol infus 23 pasien, parasetamol tablet 2 pasien, parasetamol sirup 4 pasien
dan larutan elektrolit Ringer Laktat 29 pasien. Hasil ketepatan pengobatan
berdasarkan tepat pasien Ringer Laktat dan antipiretik sebesar 100%, parasetamol
sirup 100%, parasetamol tablet 500 mg 100%, tepat indikasi, tepat obat, mendapatkan
100%, tepat frekuensi parasetamol 100%. Tepat dosis Ringer Laktat 62%, tepat dosis
parasetamol infus 70%, serta untuk ketepatan frekuensi Ringer Laktat 79%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pada perkiraan tahun 2019, terdapat 9 juta kasus demam tifoid setiap
tahunnya, yang mengakibatkan sekitar 110.000 kematian per tahun. Risiko tifoid
lebih tinggi terjadi pada populasi yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih
dan sanitasi yang memadai, dan anak-anak mempunyai risiko paling tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil pasien, melihat gambaran penggunaan
antibiotik dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien tifoid
rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari Januari – Juli
2023, meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi
dan tepat lama pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional dengan pengambilan data secara retrospektif pada rekam medik dan
resep anak yang terdiagnosa demam tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari
Kabupaten Bogor periode Januari-Juli 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 96.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik pasien demam tifoid anak di
Klinik Denti Sari Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki sebanyak 57
pasien (58,38%), usia terbanyak pada pasien demam tifoid adalah pada usia 5-11
tahun sebanyak 43 pasien (44,79%). Adapun berdasarkan berat badan lebih banyak
yang memiliki berat badan normal sebanyak 38 pasien (39,59%). Berdasarkan
gambaran penggunaan antibiotik didapatkan hasil penggunaan antibiotik terbanyak
adalah Cotrimoxazole (Sulfametoxazole-Trimethoprim) sebanyak 41 pasien
(42,71%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada demam tifoid anak untuk
tepat pasien sebanyak 96 pasien (100%), tepat indikasi sebanyak 96 pasien (100%),
pada tepat obat sebanyak 96 pasien (98,97%), pada tepat dosis sebanyak 14 pasien
(14,58%), tepat frekuensi sebanyak 83 pasien (86,46%) dan tepat lama pemberian
antibiotik sebanyak 96 pasien (100%) tidak tepat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam Berdarah Dangue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue biasanya ditandai dengan Demam Berdarah Dengue demam 2-7 hari yang
disertai dengan penurunan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk Mengevaluasi
penggunaan obat pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSU
Jampangkulon Sukabumi meliputi tepat obat, tepat dosis, dan tepat indikasi sesuai
dengan Pedoman Komprehensif untuk Pencegahan dan Pengendalian Demam
Berdarah dan Demam Bedarah Dengue oleh WHO tahun 2011. Penelitian ini
merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional bersifat
deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada periode Juli –
Desember 2021 sebanyak 132 sampel. Hasil dari penelitian ini menunjukan
sosiodemografi pasien jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 53 pasien (53%),
usia terbanyak yaitu 5 – 11 tahun (Kanak – kanak) dengan 39 pasien (39,40%),
Pasien Demam Beradarah Dengue (DBD) juga mendapatkan terapi lainya untuk
mengobati gejala maupun diagnosis yang ada. Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan
penggunaan obat pada pasien DBD diatas sebanyak 99 pasien didapatkan tepat obat
(100 %), tepat dosis (89,89%), dan tepat indikasi (100 %).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue.
Penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti yang
terutama menyerang pada anak-anak. Rumah sakit PMI Bogor menjadi tempat
penelitian mengenai DBD, obat yang digunakan adalah Ringer laktat dan
Parasetamol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ketepatan penggunaan cairan
dan antipiretik pada pasien anak demam berdarah dengue (DBD) sudah tepat
indikasi, tepat dosis, tepat obat, dan tepat pasien. Penelitian ini dianalisis secara
deskriptif yang dilakukan secara retrospektif. Data penelitian ini diambil data rekam
medik pasien, dengan periode Januari- Desember 2021. Sampel yang diambil
sebanyak 94 pasien dengan metode total sampling. Adapun hasil penelitian
menunjukkan, usia paling banyak 6-11 tahun sebanyak 60 pasien (63,82%), jenis
kelamin laki-laki sebanyak 52 pasien (55,31%), penggunaan cairan Ringer laktat
dan Parasetamol pada seluruh pasien. Hasil evaluasi penggunaan obat DBD pada
pasien rawat inap; Evaluasi tepat indikasi 100%; Evaluasi tepat obat 100%;
Evaluasi tepat pasien 100%; Evaluasi tepat dosis Parasetamol 90,42% dan tepat
dosis Ringer laktat 88,29%; sudah tepat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi. Demam tifoid terjadi di negara berkembang dengan angka
kejadian yaitu 21 juta dan kematian 700 kasus. Pada penelitian yang berjudul
Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak di
Rumah Sakit Melania Bogor secara retrospektif, memperoleh data periode Juli
sampai dengan Desember dengan jumlah 79 pasien. Data yang diolah meliputi
karakteristik pasien. Maka penelitian ini dapat menarik kesimpulan sebagai berikut
: dari 79 pasien berdasarkan sosiodemografi pasien berdasarkan jenis kelamin
terbanyak adalah laki-laki 44 pasien (56%), sosiodemografi usia terbanyak yaitu
usia 0-5 tahun (Balita) yaitu 52 pasien (66%), sosiodemografi berat badan
terbanyak yaitu kurang dari 15 kg yaitu sebanyak 41 pasien (52%). Profil
penggunaan Obat Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid anak yaitu paling banyak
pada penggunaan Seftriakson dengan jumlah 57 pasien (72%). Berdasarkan hasil
evaluasi ketepatan pengobatan dari analisis di atas didapatkan hasil tepat indikasi
(100%), tepat obat (100%), tepat dosis (94,37%), tepat waktu pemberian obat
(100%) dan tepat lama pemberian (3.79%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan
penggunaan antibiotik dari analisis dengan metode DDD sebanyak 79 pasien
didapatkan angka terbesar pada Seftriakson yaitu 48,35.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah infeksi akut pada usus halus dengan gangguan saluran
cerna dan gejala demam lebih dari seminggu, atau tanpa gangguan kesadaran.
Antibiotik yang digunakan pasien demam tifoid yaitu kloramfenikol, thiampenicol,
cefixime, amoxicillin, cotrimoxazole, dan ciprofloxacin. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid
dewasa di Puskesmas Tanah Sareal berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini
bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil
penelitian yang telah dilakukan berdasarkan profil pasien demam tifoid dewasa
paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 58 pasien dengan persentase
(60%) dan rentang usia 17-25 tahun dan 36-45 sebanyak sebanyak 25 pasien (27
%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid dewasa di
Puskesmas Tanah Sareal adalah thiampenikol dengan persentase (48%). Evaluasi
penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid
dewasa di Puskesmas Tanah Sareal dalam kategori III B yaitu penggunaan
antibiotik terlalu singkat mendapatkan nilai presentasi tertinggi sebesar 52%,
kategori II B 2 %, kategori II A 13%, kategori IV A 6%, kategori IV B 27%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi merupakan salah satu dari upaya masyarakat untuk menjaga
kesehatannya sendiri. Dasar hukum swamedikasi yaitu peraturan Menteri
Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993 tentang standar obat yang dapat
diserahkan tanpa resep dokter. Sebagian besar masyarakat dapat mengatasi
demam dengan cara melakukan pengobatan sendiri di rumah dengan
menggunakan obat yang dijual bebas di pasaran. Oleh karena itu, pentingnya
pengetahuan pasien tentang swamedikasi mengenai demam. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan swamedikasi demam
berdasarkan sosiodemografi pada masyarakat RT.02 di Desa Sanja Kecamatan
Citeureup. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan tipe
penelitian deskriptif dan pendekatan prospektif. Besar sampel minimal dihitung
menggunakan teknik Slovin. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan
program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas karakteristik
sosiodemografi responden yaitu perempuan (122 responden, 64,2%), usia lansia
awal (46-55 tahun) (55 responden, 28,9%), pendidikan terakhir SMA (149
responden, 78,4%), serta pekerjaan karyawan (88 responden, 46,3%). Gambaran
pengetahuan responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik (skor 76-100%)
sebanyak 96 responden (50,5%), cukup (skor 60-75%) sebanyak 67 responden
(35,3%), dan kurang (skor <60%) sebanyak 27 responden (14,2%). Gambaran
tingkat pengetahuan swamedikasi demam berdasarkan sosiodemografi yang
memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu laki-laki (68 responden, 52,94%), usia
lansia awal (46-55 tahun) (69,90%), perguruan tinggi (84,38%), serta PNS
(87,50%).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella Thypi, penyakit tifus merupakan masalah kesehatan di daerah
tropis terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Gejala umum pada
pasien demam tifoid adalah gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran
ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang
tenggorokan. Antibiotik yang digunakan pada pasein demam tifoid yaitu
kloramfenikol, ampisilin, kotrimoksasol, sefriakson dan sefiksim. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam
tifoid anak di Rawat Inap RS Azra berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini
bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil
penelitian yang telah dilakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien demam
tifoid anak paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 49 pasien dengan
presentase (58,33%) dan pada rentang usia 0-5 tahun sebanyak 47 pasien dengan
presentase (55,95%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam
tifoid anak di RS Azra adalah seftriakson dengan presentase (82,14%). Evaluasi
penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid anak
yang di rawat di RS Azra dalam kategori 0 yaitu penggunaan antibiotik yang tepat
dan rasional mendapat nilai presentasi tertinggi sebesar 58,33%, kategori IIIB
29,77%, kategori IVB 7,14%, kategori IIIA 3,57%, dan kategori IVA 1,19%.