Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

13 hasil
Subjek: Demam
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN PENGETAHUAN DEMAM BERDARAH DI LINGKUNGAN RW 05 KELURAHAN KARADENAN CIBINONG BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Demam Berdarah merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue tipe 1-4. Virus ini lebih dominan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Jumlah kasus Demam Berdarah di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan Rw 05 Kelurahan Cibinong Kabupaten Bogor berdasarkan karakteristik responden. Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan metode sample random sampling dengan jumlah sample 100 orang. Teknik analisa data menggunakan analisis univariate. Hasil dari 100 orang karakteristik diantaranya mayoritas responden berumur 36-45 tahun sebesar 37%, berjenis kelamin perempuan berjumlah 57%, pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) 49%, pekerjaan karyawan swasta 43%. Hasil penilitian ini juga menunjukan bahwa total keseluruhan masyarakat berada dalam kategori pengetahuan baik (76,48%) sebesar 54%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN PAPARAN MEDIA SOSIAL TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN IBU DALAM SWAMEDIKASI OBAT DEMAM ANAK DI RW 005 DESA SALABENDA KABUPATEN BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Swamedikasi adalah upaya menjaga kesehatan dan salah satu penyakit yang dapat di swamedikasi adalah demam. Demam merupakan penyakit yang sering dialami terutama pada anak. Tidak terlepas dari pengaruh media sosial akses informasi pengobatan dapat menyebabkan terjadinya kesalahan jika tidak dibekali pengetahuan yang cukup, sehingga masyarakat terutama ibu harus memiliki pengetahuan yang baik dalam swamedikasi demam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan paparan media sosial terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam swamedikasi obat demam anak di RW 005 Desa Salabenda Kabupaten Bogor. Desain penelitian ini adalah prospektif dengan pendekatan cross sectional. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner. Dari jumlah populasi sebanyak 278 dengan teknik Cluster random sampling didapat sampel sebanyak 74 responden. Hasil Penelitian didapat bahwa responden yang paling banyak melakukan swamedikasi yaitu pada usia 26-35 tahun (45,9%), pendidikan SMA/SMK (41,9%), dan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (68,9%). Tingkat pengetahuan ibu dalam swamedikasi demam menunjukan presentase cukup baik yaitu 48,6 % dan tingkat keterpaparan media sosial menujukan 93,2 % ibu terpapar media sosial. Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan nilai signifikansi 0,261 (>0,05) maka dapat tidak ada hubungan signifikan antara paparan media sosial terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam swamedikasi obat demam pada anak.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSON PADA PASIEN TIFOID DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA CISALAK

2025Koleksi Perpustakaan

Tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Hingga saat ini tifoid masih menjadi masalah kesehatan di Negara-negara tropis termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan dampak negatif seperti masalah resistensi dan potensi terjadinya kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan antibiotik seftriakson pada pasien tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan di analisis secara deskriptif dengan data sekunder dari rekam medis pasien. Dari sampel 86 pasien dewasa tifoid menunjukkan bahwa pasien laki-laki sebesar 28% dan perempuan sebesar 72%, jumlah pasien tertinggi berada pada rentang usia 17-25 tahun sebesar 30%. Efektifitas seftriakson dilihat dari lama perawatan 1-3 hari sebesar 87% berdasarkan dua parameter penurunan suhu tubuh dan penurunan kadar leukosit. Kesimpulan yang diperoleh penggunaan antibiotik seftriakson pada tifoid dewasa di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak sudah efektif.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN RAWAT INAP DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT X

2025Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid disebabkan adanya resistensi terhadap Salmonella typhi, umumnya pengobatan demam tifoid menggunakan golongan sefalosforin generasi ketiga. Jenis pengobatan antibiotik pada penelitian ini menggunakan seftriakson dan sefotaksim. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik Seftriakson dan sefotaksim di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional. Sampel yang digunakan adalah data rekam medik pasien demam tifoid selama periode Januari – Desember 2022 dengan jumlah 91 pasien. Data dianalisis dengan menggunakan perhitungan persentase pada Microsoft excel. Hasil penelitian ini menunjukan pasien dengan rentang usia paling banyak adalah 17-25 tahun sebanyak 44 pasien (48%), jenis kelamin paling banyak perempuan sebanyak 53 pasien (58%). Dari hasil penelitian pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit X periode Januari – Desember 2022 dapat disimpulkan persentase pada pemberian antibiotik seftriakson yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian 84%. Sedangkan pada pemberian antibiotik sefotaksim yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 100%, tepat dosis 100%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian 100%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT FMC BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi, biasanya melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Penderita dengan gambaran klinis jelas disarankan untuk dirawat di rumah sakit agar pengobatan lebih optimal, proses meminimalisasi komplikasi dan menghindari penularan. Antibiotik akan diberikan segera setelah diagnosis klinis ditegakkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit FMC Bogor berdasarkan pedoman dari WHO 2011 dan Permenkes RI No. 28 Tahun 2021. Metode penelitian menggunakan rancangan analisis deskriptif secara retrospektif yaitu mendeskripsikan atau menguraikan ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak melalui data sekunder rekam medis pasien. Parameter evaluasi meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi pemberian, dan tepat lama waktu pemberian. Data yang digunakan diambil dari rekam medis 106 pasien yang berusia 0-18 tahun periode Januari – Desember 2022. Dari hasil penelitian, demam tifoid lebih banyak dialami oleh perempuan 54 pasien (51%), dengan usia 5 – 18 tahun 60 pasien (57%) dan lama rawat inap 1-4 hari 92 pasien (87%). Gambaran penggunaan antibiotik terbanyak adalah antibiotik Seftriakson sebanyak 79 pasien (75%). Ketepatan peggunaan obat antibiotik yaitu kategori tepat pasien 100%, tepat indikasi 100%, tepat obat 100%, tepat dosis untuk seftriakson 40 pasien (37,73%), dan untuk sefotaksim 1 pasien (0,94%), tepat frekuensi pemberian untuk penggunaan seftriakson 49 pasien (46,23%), dan untuk sefotaksim 2 pasien (1,89%), tepat lama pemberian seftriakson 8 pasien (7,54%), dan untuk sefotaksim 5 pasien (4,71%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KETEPATAN PENGOBATAN PADA PASIEN ANAK DEMAM BERDARAH DENGUE DI RSUD AL-MULK KOTA SUKABUMI

2025Koleksi Perpustakaan

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau di Indonesia dikenal dengan istilah Demam Berdarah Dengue (DBD) ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Albopictus. Penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) agent, host, Environment. Acuan yang digunakan di RSUD Al-Mulk ini memiliki alur pengobatan yang dapat di lihat dari WHO “National Guidelines for Clinical Management of Dengue Fever” tahun 2015. Metode penelitian ini diolah secara deskriptif menggunakan data rekam medik pada periode Januari– Desember 2022. Hasil penelitian mengenai karakteristik pasien Demam Berdarah Dengue (DBD paling banyak laki-laki sebesar 68% dan usia paling banyak 0-5 tahun 45%, dengan kategori tingkat keparahan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) 44 kasus, penggunaan obat antipiretik parasetamol infus 23 pasien, parasetamol tablet 2 pasien, parasetamol sirup 4 pasien dan larutan elektrolit Ringer Laktat 29 pasien. Hasil ketepatan pengobatan berdasarkan tepat pasien Ringer Laktat dan antipiretik sebesar 100%, parasetamol sirup 100%, parasetamol tablet 500 mg 100%, tepat indikasi, tepat obat, mendapatkan 100%, tepat frekuensi parasetamol 100%. Tepat dosis Ringer Laktat 62%, tepat dosis parasetamol infus 70%, serta untuk ketepatan frekuensi Ringer Laktat 79%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA DEMAM TIFOID ANAK DI KLINIK DENTI SARI KABUPATEN BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Pada perkiraan tahun 2019, terdapat 9 juta kasus demam tifoid setiap tahunnya, yang mengakibatkan sekitar 110.000 kematian per tahun. Risiko tifoid lebih tinggi terjadi pada populasi yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai, dan anak-anak mempunyai risiko paling tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil pasien, melihat gambaran penggunaan antibiotik dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari Januari – Juli 2023, meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pengambilan data secara retrospektif pada rekam medik dan resep anak yang terdiagnosa demam tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari-Juli 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 96. Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik pasien demam tifoid anak di Klinik Denti Sari Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki sebanyak 57 pasien (58,38%), usia terbanyak pada pasien demam tifoid adalah pada usia 5-11 tahun sebanyak 43 pasien (44,79%). Adapun berdasarkan berat badan lebih banyak yang memiliki berat badan normal sebanyak 38 pasien (39,59%). Berdasarkan gambaran penggunaan antibiotik didapatkan hasil penggunaan antibiotik terbanyak adalah Cotrimoxazole (Sulfametoxazole-Trimethoprim) sebanyak 41 pasien (42,71%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada demam tifoid anak untuk tepat pasien sebanyak 96 pasien (100%), tepat indikasi sebanyak 96 pasien (100%), pada tepat obat sebanyak 96 pasien (98,97%), pada tepat dosis sebanyak 14 pasien (14,58%), tepat frekuensi sebanyak 83 pasien (86,46%) dan tepat lama pemberian antibiotik sebanyak 96 pasien (100%) tidak tepat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) RAWAT INAP DI RSU JAMPANGKULON SUKABUMI

2023Koleksi Perpustakaan

Demam Berdarah Dangue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue biasanya ditandai dengan Demam Berdarah Dengue demam 2-7 hari yang disertai dengan penurunan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk Mengevaluasi penggunaan obat pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSU Jampangkulon Sukabumi meliputi tepat obat, tepat dosis, dan tepat indikasi sesuai dengan Pedoman Komprehensif untuk Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah dan Demam Bedarah Dengue oleh WHO tahun 2011. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada periode Juli – Desember 2021 sebanyak 132 sampel. Hasil dari penelitian ini menunjukan sosiodemografi pasien jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 53 pasien (53%), usia terbanyak yaitu 5 – 11 tahun (Kanak – kanak) dengan 39 pasien (39,40%), Pasien Demam Beradarah Dengue (DBD) juga mendapatkan terapi lainya untuk mengobati gejala maupun diagnosis yang ada. Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan penggunaan obat pada pasien DBD diatas sebanyak 99 pasien didapatkan tepat obat (100 %), tepat dosis (89,89%), dan tepat indikasi (100 %).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN CAIRAN DAN ANTIPIRETIK PADA PASIEN ANAK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue. Penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti yang terutama menyerang pada anak-anak. Rumah sakit PMI Bogor menjadi tempat penelitian mengenai DBD, obat yang digunakan adalah Ringer laktat dan Parasetamol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ketepatan penggunaan cairan dan antipiretik pada pasien anak demam berdarah dengue (DBD) sudah tepat indikasi, tepat dosis, tepat obat, dan tepat pasien. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif yang dilakukan secara retrospektif. Data penelitian ini diambil data rekam medik pasien, dengan periode Januari- Desember 2021. Sampel yang diambil sebanyak 94 pasien dengan metode total sampling. Adapun hasil penelitian menunjukkan, usia paling banyak 6-11 tahun sebanyak 60 pasien (63,82%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 52 pasien (55,31%), penggunaan cairan Ringer laktat dan Parasetamol pada seluruh pasien. Hasil evaluasi penggunaan obat DBD pada pasien rawat inap; Evaluasi tepat indikasi 100%; Evaluasi tepat obat 100%; Evaluasi tepat pasien 100%; Evaluasi tepat dosis Parasetamol 90,42% dan tepat dosis Ringer laktat 88,29%; sudah tepat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI RUMAH SAKIT MELANIA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Demam tifoid terjadi di negara berkembang dengan angka kejadian yaitu 21 juta dan kematian 700 kasus. Pada penelitian yang berjudul Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak di Rumah Sakit Melania Bogor secara retrospektif, memperoleh data periode Juli sampai dengan Desember dengan jumlah 79 pasien. Data yang diolah meliputi karakteristik pasien. Maka penelitian ini dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : dari 79 pasien berdasarkan sosiodemografi pasien berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki 44 pasien (56%), sosiodemografi usia terbanyak yaitu usia 0-5 tahun (Balita) yaitu 52 pasien (66%), sosiodemografi berat badan terbanyak yaitu kurang dari 15 kg yaitu sebanyak 41 pasien (52%). Profil penggunaan Obat Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid anak yaitu paling banyak pada penggunaan Seftriakson dengan jumlah 57 pasien (72%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan pengobatan dari analisis di atas didapatkan hasil tepat indikasi (100%), tepat obat (100%), tepat dosis (94,37%), tepat waktu pemberian obat (100%) dan tepat lama pemberian (3.79%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dari analisis dengan metode DDD sebanyak 79 pasien didapatkan angka terbesar pada Seftriakson yaitu 48,35.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS PADA PASIEN TIFOID RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH SAREAL TAHUN 2021

2023Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah infeksi akut pada usus halus dengan gangguan saluran cerna dan gejala demam lebih dari seminggu, atau tanpa gangguan kesadaran. Antibiotik yang digunakan pasien demam tifoid yaitu kloramfenikol, thiampenicol, cefixime, amoxicillin, cotrimoxazole, dan ciprofloxacin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan profil pasien demam tifoid dewasa paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 58 pasien dengan persentase (60%) dan rentang usia 17-25 tahun dan 36-45 sebanyak sebanyak 25 pasien (27 %). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal adalah thiampenikol dengan persentase (48%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal dalam kategori III B yaitu penggunaan antibiotik terlalu singkat mendapatkan nilai presentasi tertinggi sebesar 52%, kategori II B 2 %, kategori II A 13%, kategori IV A 6%, kategori IV B 27%.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PENGETAHUAN TENTANG SWAMEDIKASI DEMAM PADA MASYARAKAT DI DESA SANJA KECAMATAN CITEUREUP KABUPATEN BOGOR

2022Koleksi Perpustakaan

Swamedikasi merupakan salah satu dari upaya masyarakat untuk menjaga kesehatannya sendiri. Dasar hukum swamedikasi yaitu peraturan Menteri Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993 tentang standar obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter. Sebagian besar masyarakat dapat mengatasi demam dengan cara melakukan pengobatan sendiri di rumah dengan menggunakan obat yang dijual bebas di pasaran. Oleh karena itu, pentingnya pengetahuan pasien tentang swamedikasi mengenai demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan swamedikasi demam berdasarkan sosiodemografi pada masyarakat RT.02 di Desa Sanja Kecamatan Citeureup. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan tipe penelitian deskriptif dan pendekatan prospektif. Besar sampel minimal dihitung menggunakan teknik Slovin. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas karakteristik sosiodemografi responden yaitu perempuan (122 responden, 64,2%), usia lansia awal (46-55 tahun) (55 responden, 28,9%), pendidikan terakhir SMA (149 responden, 78,4%), serta pekerjaan karyawan (88 responden, 46,3%). Gambaran pengetahuan responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik (skor 76-100%) sebanyak 96 responden (50,5%), cukup (skor 60-75%) sebanyak 67 responden (35,3%), dan kurang (skor <60%) sebanyak 27 responden (14,2%). Gambaran tingkat pengetahuan swamedikasi demam berdasarkan sosiodemografi yang memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu laki-laki (68 responden, 52,94%), usia lansia awal (46-55 tahun) (69,90%), perguruan tinggi (84,38%), serta PNS (87,50%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK YANG DI RAWAT INAP DI RS AZRA DENGAN METODE GYSSENS

2022Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Thypi, penyakit tifus merupakan masalah kesehatan di daerah tropis terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Gejala umum pada pasien demam tifoid adalah gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang tenggorokan. Antibiotik yang digunakan pada pasein demam tifoid yaitu kloramfenikol, ampisilin, kotrimoksasol, sefriakson dan sefiksim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak di Rawat Inap RS Azra berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien demam tifoid anak paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 49 pasien dengan presentase (58,33%) dan pada rentang usia 0-5 tahun sebanyak 47 pasien dengan presentase (55,95%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid anak di RS Azra adalah seftriakson dengan presentase (82,14%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid anak yang di rawat di RS Azra dalam kategori 0 yaitu penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional mendapat nilai presentasi tertinggi sebesar 58,33%, kategori IIIB 29,77%, kategori IVB 7,14%, kategori IIIA 3,57%, dan kategori IVA 1,19%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail