BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penyakit jantung merupakan suatu kondisi dimana jantung tidak berfungsi
secara maksimal sehingga menghambat sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh.
Hal ini dapat disebabkan oleh kelemahan otot jantung atau adanya celah antara
serambi kiri dan kanan jantung sehingga mengakibatkan terganggunya peredaran
darah bersih dan darah kotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
karakteristik sosiodemografi pasien jantung rawat jalan di fasilitas farmasi rumah
sakit. Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong menentukan pola peresepan obat
jantung bagi pasien rawat jalan yang terdiagnosis penyakit jantung di fasilitas ini
selama Desember 2023 berdasarkan usia dan jenis kelamin. Usia pasien jantung
tertinggi pada usia 56-65 tahun sebanyak 38,10 %. Proporsi pasien laki-laki sangat
tinggi yaitu 60,95%. Golongan obat yang paling banyak digunakan oleh pasien
BPJS yaitu antiplatelet sebesar 19,75%, dan golongan obat pasien non-BPJS yaitu
beta-blocker sebesar 30,77%. Jenis obat yang paling banyak digunakan pasien
BPJS yaitu bisoprolol sebanyak 17,75 % dan jenis obat yang paling banyak
digunakan pasien non BPJS adalah bisoprolol sebanyak 23,08 %. Jumlah item obat
dalam resep yang digunakan pasien BPJS yaitu 4-6 item dengan persentase 67,34%
sedangkan jumlah item obat dalam resep yang digunakan pasien non-BPJS yaitu
1-3 item dengan persentase 100 %. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pola
peresepan obat jantung di fasilitas farmasi rawat jalan RS. Sentra Medika Cibinong
disesuaikan dengan kebutuhan individu berdasarkan kondisi spesifik pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu pelayanan obat racikan dan non racikan merupakan tenggang
waktu mulai dari pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat dengan
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yaitu ≤ 30 menit untuk Obat Non Racikan
dan ≤ 60 menit untuk Obat Racikan. Waktu tunggu pelayanan obat merupakan salah
satu indikator yang berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini
bertujuan mengkaji durasi layanan resep bagi pemegang kartu BPJS di Unit Farmasi
Rawat Jalan RS Karya Bhakti Pratiwi, untuk menilai kesesuaiannya dengan standar
yang berlaku. Studi ini mengadopsi pendekatan Deskriptif Observasional,
menggunakan metode pengumpulan data Retrospektif. Sampel yang dianalisis
terdiri dari 100 lembar resep racikan dan 100 lembar resep non-racikan. Hasil
analisis menunjukkan bahwa 46 resep racikan dan 28 resep non-racikan memenuhi
kriteria waktu tunggu yang ditetapkan. Rata-rata durasi pelayanan untuk resep
racikan tercatat 63 menit 43 detik, sementara untuk resep non-racikan adalah 47
menit 43 detik. Hal ini menunujukan bahwa rata-rata waktu tunggu pelayanan resep
di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi Tidak
memenuhi Persyaratan regulasi yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2008 serta Pedoman Standar
Pelayanan Minimal untuk Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi dimana untuk resep
racikan ≤ 60 menit dan non racikan ≤ 30 menit.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator mutu yang menilai
setiap jenis pelayanan yang diberikan. Pelayanan resep yang lama dapat
menyebabkan ketidakpuasan bagi pasien dan bisa berdampak buruk bagi rumah
sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asal dan jumlah resep
farmasi rawat jalan pasien umum dan jaminan perusahaan, mengetahui gambaran
waktu tunggu pada tiap tahapan proses pelayanan dan mengevaluasi waktu tunggu
resep farmasi rawat jalan pasien umum dan jaminan perusahaan. Penelitian ini
bersifat deskriptif menggunakan metode observasi dengan jumlah sampel sebanyak
100 sampel menggunakan rumus slovin. Hasil penelitian menunjukan gambaran
asal resep pasien umum 73% , pasien jaminan perusahaan 27%, jumlah resep pasien
umum obat jadi 54%, racikan 19% dan jumlah resep pasien jaminan perusahaan
obat jadi 18%, racikan 9%, Gambaran waktu tunggu pada tiap tahapan yang paling
lama pada saat proses ambil rata-rata 6,5 menit, evaluasi waktu resep racikan pasien
umum rata-rata 31 menit, racikan pasien perusahaan rata-rata 22 menit dan obat jadi
pasien umum 25 menit, Obat jadi pasien perusahaan 24 menit. Waktu tunggu
pelayanan resep farmasi rawat jalan pasien umum dan jaminan perusahaan sudah
sesuai dengan surat keputusan direktur rumah sakit Karya Bhakti Pratiwi Bogor
tahun 2022 untuk obat jadi ≥30 menit. obat racikan ≤60 menit.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Obat high alert adalah obat yang memiliki resiko tinggi membahayakan keselamatan
pada pasien jika tidak digunakan secara tepat. Menurut Permenkes No. 72 Tahun 2016
kategori high alert menjadi 3 diantaranya LASA (Look Alike Sound Alike), Elektrolit
konsentrasi tinggi dan sitostatik, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran
dan kesesuaian penyimpanan obat high alert di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan
Anak Pasutri Bogor.
Penelitian ini bersifat deskriptif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah
seluruh obat high alert yang ada di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak
Pasutri Bogor. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, karena semua
populasi dijadikan sampel. Alat penelitian pengumpulan data yang digunakan pada
hasil penelitian ini adalah lembar observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian
menunjukkan penyimpanan obat high alert sesuai dengan standar prosedur
operasional Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor dengan prosentase kesesuaian
100% pada penyimpanan obat high alert, penyimpanan obat LASA (Look Alike Sound
Alike) atau NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) dan penyimpanan obat
Elektrolit Konsentrat Pekat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu yang menjadi suatu tolak ukur dalam standar pelayanan minimal
farmasi di rumah sakit yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan
kefarmasian di rumah sakit sakit dan untuk menjamin kepuasan pasien. Tujuan
penelitian untuk mengetahui hubungan waktu tunggu pelayanan resep dengan
kepuasan pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa
Sukabumi dengan metode cross sectional secara prospektif menggunakan
kuesioner. Jumlah sampel yaitu 100 responden yang merupakan pasien atau
keluarga pasien dihitung menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria
inklusi dan ekslusi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2022 di
Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa Sukabumi. Hasil data sosiodemografi
berdasarakan jenis kelamin laki-laki (52%), pada usia 17-25 tahun (38%), pekerja
lain-lain (30%), dan BPJS lebih dominan (82%). Gambaran waktu tunggu resep non
racik 14,7 menit dan racikan 31,1 menit, dengan kesesuaian yaitu (89%), untuk
kepuasan berdasarkan 5 dimensi yaitu kehandalan (puas 45%), Ketanggapan (puas
43%), Jaminan (puas 62%), Empati (sangat puas 37%), dan Wujud / nyata (sangat
puas 40%). Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tunggu dengan 4
dimensi kepuasan pasien diataranya variabel kenyataan (p-value=0.003), empati (p-
value=0,007), ketanggapan (p-value=0.019) serta jaminan (p-value=0.008).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Tingkat kepuasan pasien ditinjau dari lima dimensi yakni dimensi keandalan, daya
tanggap, kepastian, empati, dan berwujud. Ketanggapan, yaitu berkaitan
kecepatan pelayanan obat .Kehandalan adalah pemberian informasi obat oleh
petugas apotek. Jaminan adalah kelengkapan obat dan kemurahan harga obat.
Empati adalah keramahan petugas apotek. Bukti langsung adalah kecukupan
tempat duduk di ruang tunggu apotek, kebersihan ruang tunggu, kenyamanan
ruang tunggu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran
sosiodemografi yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan
responden, serta mengetahui seberapa tingkat kepuasaan pasien rawat jalan
terhadap pelayanan kefarmasian di Instalasi Farmasi RSAU dr. M. Hassan Toto.
Peneliti akan menggunakan kuisioner kemudian disebarkan kepada pasien rawat
jalan atau keluarga pasien yang menebus resep di instalasi farmasi. Tujuan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi.
Waktu penelitian selama bulan februari 2023 di RSAU dr. M. Hassan Toto
dengan total sampel 98 orang responden. Hasil Penelitian berdasarkan
sosiodemografi usia terbanyak terdapat pada kelompok usia 35-49 tahun sebanyak
45 orang (45,92 %), berdasarkan jenis kelamin paling banyak perempuan
sebanyak 68 (69,39%), berdasarkan tingkat pendidikan sebanyak SMA 71 orang
(72,45%), dan berdasarkan jenis pekerjaan terbanyak sebagai lain-lain 68 orang
(69,39%). Nilai tertinggi yaitu pada dimensi kehandalan yaitu 82,58%, dimensi
bukti langsung 78,78%, dimensi empati 77, 86%, dimensi jaminan 77,55%,
dimensi ketanggapan 77,5%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan Mycobacterium
tuberculosis. Keberhasilan pengobatan tuberkulosis sangat ditentukan oleh tingkat
kepatuhan pasien dalam meminum obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui sosiodemografi penderita tuberkulosis yang meliputi usia, jenis
kelamin, pendidikan dan pekerjaan serta untuk mengetahui gambaran tingkat
kepatuhan pengobatan penderita tuberkulosis yang sedang melakukan pengobatan
rawat jalan di RS Trimitra Cibinong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional dengan pendekatan secara cross-sectional menggunakan data primer
berupa kuesioner MMAS-8 dari pasien tuberkulosis rawat jalan yang dilakukan di
RS Trimitra Cibinong periode Januari – Maret 2023 dengan total sampel sebanyak
70 orang yang dipilih secara purposive sampling yang sudah di masukan kedalam
rumus slovin. Hasil penelitian pasien tuberkulosis berdasarkan sosiodemografi
berdasarkan usia terbanyak terdapat pada kelompok usia 26-35 tahun sebanyak
24.3%, berdasarkan jenis kelamin paling banyak perempuan 55.7%, berdasarkan
tingkat pendidikan terbanyak SMA 60% dan berdasarkan jenis pekerjaan terbanyak
sebagai pegawai swasta 37 orang 52.9%. Gambaran tingkat kepatuhan pasien
tuberkulosis menunjukan 67.1% mempunyai tingkat kepatuhan tinggi dan sebanyak
32.9% mempunyai tingkat kepatuhan yang sedang.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Depo farmasi rawat jalan harus dilengkapi fasilitas yang cukup dan sistem
penyimpanan obat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem
penyimpanan obat, kesesuaian jumlah obat dengan kartu stok, persentase obat
kedaluwarsa, dan persentase obat yang tidak bergerak di RS. Ummi Bogor.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observatif dengan menggunakan
data retrospektif dan concurrent. Data penyajian yang diperoleh berupa laporan
obat kedaluwarsa, dan laporan obat yang tidak bergerak (dead stock). Instrumen
penelitian ini menggunakan lembar observasi data penyimpanan sediaan farmasi
berupa form ceklis kesesuaian penyimpanan. Sampel yang digunakan adalah
seluruh sediaan farmasi dengan jumlah 626 item. Hasil penelitian menunjukan
persentase kesesuaian metode penyimpanan berdasarkan bentuk sediaan dan
alfabetis 100%, berdasarkan stabilitas 99%, berdasarkan FIFO/FEFO 91%,
berdasarkan kelas terapi 10%, kesesuaian jumlah obat dengan kartu stok 43%, obat
kedaluwarsa 10%, obat yang tidak bergerak 29%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kualitas pelayanan kesehatan merupakan faktor yang harus
diperhatikan rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, Kualitas
pelayanan dapat dinilai dari tingkat kepuasan pasien. Aspek-aspek yang
harus terpenuhi untuk menunjang kualitas pelayanan kesehatan antara lain
aspek keandalan, aspek empati, aspek ketanggapan, aspek jaminan dan
aspek bukti nyata. Pelayanan kefarmasian adalah pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien terkait sediaan farmasi dengan tujuan
untuk mencapai hasil yang jelas guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional
dengan pengambilan data secara prospektif. Jenis penelitian kuantitatif
non eksperimental menggunakan rancangan cross sectional dengan
pengambilan data menggunakan kuesioner terhadap responden. Sampel
yang digunakan sebanyak 100 responden. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien berdasarkan 5 dimensi
kualitas pelayanan kefarmasian di poli rawat jalan Instalasi Farmasi
Rumah Sakit Melania pada periode Februari 2023. Kualitas pelayanan
kefarmasian di Rumah Sakit Melania Bogor berdasarkan dimensi daya
tanggap kategori puas sebanyak 73%, dimensi jaminan kategori puas
sebanyak 76%, dimensi empati kategori puas sebanyak 77%, dimensi
bukti nyata kategori puas sebanyak 78%, dan dimensi keandalan kategori
puas sebanyak 79%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Salah satu standar pelayanan kefarmasian rumah sakit adalah kesesuaian
penulisan resep sesuai dengan Formularium Rumah Sakit. Kesesuaian penulisan
resep dengan formularium rumah sakit berpengaruh terhadap mutu pelayanan
rumah sakit, dimana dapat menyebabkan adanya penumpukan stok obat yang
sudah masuk kedalam formularoium namun tidak diresepkan oleh dokter, selain
itu bisa menyebabkan adanya penurunan pendapatan rumah sakit. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian penulisan resepl pasien umuml di depo
rawat jalanl dengan Formularium Rumahl Sakit Karya Bhakti Pratiwi. Penelitianl
ini merupakan penelitianl deskriptip dengan pengambilanl data secara retrospektifl
dimana data sampel yang dipakai merupakan sampel resepl pasien umuml di depo
rawat jalanl periode Oktober-Desember 2021 sebanyakl 377 lembar lresep. Resep
dianggap sesuail dengan Formulariuml Rumah Sakitl apabila dalam satu lembar
resepl tersebut seluruh item obatnya terdapat dalam Formularium Rumah Sakit.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kesesuaian penulisan resep pasien umum
depo rawat jalan dengan Formularium Rumah Sakit pada periode Oktober-
Desember 2021 sebesar 94,57%. dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
persentasi kesesuaian resep Rumah Sakit masih belum memenuhi standar
pelayanan minimal rumah sakit, yaitu standar kesesuaian resep berdasarkan
Formularium Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi maupun sesuai dengan
Formularium Nasional sebesar 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pelayanan kefarmasian adalah pelayanan yang dilakukan secara langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien, berkaitan dengan sediaan farmasi untuk
mencapai hasil terapi yang pasti dalam meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Kualitas pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang dapat
menimbulkan kepuasan pada setiap pasien. Kepuasan menjadi bagian penting
dalam pelayanan kesehatan sebab kepuasan pasien tidak dapat dipisahkan kualitas
pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan
kefarmasian di Depo Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor. Jenis penelitian
yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data prospektif,
teknik mengumpulkan data menggunakan menggunakan kuesioner lalu data
diolah menggunakan aplikasi Microsoft Excell. Populasi adalah pasien yang
menebus resep dokter di Depo Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor pada bulan
Maret-April 2022 sebanyak 3886 pasien dan dan sampel yang diperoleh sebanyak
98 responden. Berdasarkan hasil penelitian ini dinyatakan bahwa responden
merasa sangat puas terhadap pelayanan yang telah diterima atas pelayanan yang
diberikan oleh petugas farmasi di Depo Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor.
Jika dilihat dari standar yang telah di tetapkan oleh Kepmenkes RI Nomor 129
Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit adalah penilaian
pada kepuasan pelanggan 80%. Berdasarkan analisis dengan menggunakan
metode perhitungan statistik untuk katagori keandalan 80,00%, ketanggapan 84,
69%, jaminan 84,90%, empati 88,37%, dan bukti fisik 87,96% dan rata-rata
keseluruhan adalah 85,18 % yang berati bahwa pelayanan kefarmasian di Depo
Farmasi Poliklinik Afiat RS PMI Bogor sudah memenuhi Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pelayanan resep merupakan titik terakhir pelayanan, sehingga rumah sakit harus
memperhatikan waktu tunggu. Kecepatan waktu pelayanan resep berperan penting
dalam peningkatan mutu pelayanan dan kepuasan pasien. Kecepatan waktu
pelayanan resep masih menjadi kendala bagi beberapa rumah sakit. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kesesuaian waktu tunggu
pelayanan resep pasien umum dan pasien asuransi di Depo Farmasi Afiat RS PMI
Bogor. Mengetahui berapa lama rata-rata waktu tunggu pelayanan obat jadi dan
obat racikan di Depo Farmasi Afiat RS PMI Bogor serta kesesuaian dengan
Kepmenkes RI Nomor 129 tahun 2008. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel pada penelitian ini
diambil dengan menggunakan teknik total sampling yang diambil pada bulan
Januari-Maret 2022, total sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah
10.138 lembar resep yang terdiri dari 7.405 lembar resep obat jadi dan 2.733 lembar
resep obat racikan. Gambaran waktu tunggu pelayanan resep pasien umum dan
resep pasien asuransi di Depo Farmasi Afiat RS PMI Bogor dengan persentase
kesesuaian waktu tunggu pelayanan pada resep jaminan umum adalah 73% untuk
resep obat jadi dan 79% untuk resep racikan sedangkan persentase kesesuaian
waktu tunggu pelayanan pada resep jaminan asuransi adalah 67% untuk resep obat
jadi dan 74% untuk resep obat racikan. Rata-rata waktu tunggu pelayanan resep di
Depo Farmasi Afiat RS PMI Bogor adalah 25 menit untuk obat jadi dan 45 menit
untuk obat racikan dengan kesesuaian 71% untuk resep obat jadi dan 77% untuk
resep obat racikan. Jika dilihat dari standar yang sudah ditetapkan oleh Kepmenkes
RI Nomor 129 tahun 2008, maka pelayanan resep di Depo Farmasi Afiat RS PMI
Bogor sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan penyimpanan dan memeliharaan cara
menempatkan sediaan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari
pencuri serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu sediaan farmasi. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpanan obat dan alat kesehatan di RS
Azra Bogor berdasarkan Permenkes RI No. 72 Tahun 2016. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif melalui pengumpulan data dan dokumentasi yang
dilakukan secara observatif sebagai evaluasi dan analisis kesesuaian. Pengambilan
data dimulai dari bulan Maret - April 2022 dengan tehnik total sampling dengan
subjek penelitian adalah obat dan alat kesehatan di RS Azra Bogor. Hasil penelitian
dari kesesuaian Permenkes RI No. 72 Tahun 2016 antara persyaratan penyimpanan
di IFRS Azra Bogor mencapai 100% yang berarti memenuhi standar, lalu antara
metode penyimpanan di IFRS Azra Bogor mencapai 60% yang berarti belum
maksimalnya metode penyimpanan obat dan alkes di IFRS Azra Bogor, lalu antara
peralatan penyimpanan di IFRS Azra Bogor mencapai 90% yang berarti sudah
memenuhi standar. Kesesuaian penyimpanan obat dan alat kesehatan dengan
standar Permenkes RI No. 72 Tahun 2016 menunjukan bahwa belum maksimalnya
penyimpanan obat dan alat kesehatan dengan standar tersebut.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu pelayanan resep adalah tenggang waktu mulai dari pasien
menyerahkan resep sampai dengan menerima obat. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui Evaluasi ketepatan waktu tunggu pelayanan resep rawat
jalan di Instalasi Farmasi RS Azra. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
dengan pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data dimulai dari bulan
Januari – Maret tahun 2022 dengan subjek penelitian adalah resep pasien rawat
jalan di Rumah Sakit Azra Bogor. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara
purposive sampling yakni dengan cara mengamati sampel sebanayak 346 lembar
resep pasien rawat jalan yang berobat ke dokter spesialis di Rs Azra. Analisis data
dilakukan dengan cara melihat waktu tunggu pelayanan resep , baik resep racikan
maupun resep non racikan. Kemudian hasil yang didapat dihitung rata-rata waktu
tunggu pelayanan resep menggunakan microsoft Excell. Hasil penelitian dengan
indikator jenis resep terbanyak adalah resep non racikan sebanyak 194 resep
dengan persentase 56,07 %. Resep racikan sebanyak 152 resep dengan persentase
43,93%. Untuk indikator waktu tunggu pelayanan resep racikan memperoleh rata-
rata waktu tunggu 54 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤60 menit) dan
untuk obat non racikan memperoleh hasil rata- rata waktu tunggu pelayanan
sebesar 29 menit yang berarti memenuhi standar SPM (≤30 menit), Sedangkan
persentase kesesuaian waktu tunggu terhadap obat racikan sebanyak 61,18% dan
untuk non racikan 61,86%. Hasil ini menunjukan bahwa waktu tunggu pelayanan
resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RS Azra sudah memenuhi standar
pelayanan minimal waktu tunggu pelayanan resep
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab
kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai
hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Standar pelayanan
minimal (SPM) rumah sakit merupakan jenis-jenis pelayanan rumah sakit yang
wajib dilaksanakan dengan standar kinerja yang ditetapkan dengan harapan
menjadi acuan bagi pengelolaan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis kualitas pelayanan kefarmasian dengan SPM pada pasien BPJS di
poli penyakit dalam Rumah Sakit Ridogalih Sukabumi. Desain penelitian ini
deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Alat ukur berupa data
primer yaitu menggunakan resep dan kuesioner secara prospektif, untuk
mengetahui kesesuaian kualitas pelayanan kefarmasian dengan SPM.
Pengambilan dilakukan pada 291 resep yang didapat dari populasi menggunakan
metode total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dan 81 responden
menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan
bahwa kategori yang sudah sesuai adalah rata-rata waktu tunggu pelayanan obat
jadi 16.52 menit, tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat 100%, dan rata-
rata kepuasan pasien 84,43%, dan penulisan resep sesuai formularium nasional
78%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator waktu tunggu pelayanan obat
jadi, tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat, dan kepuasan pasien sudah
sesuai dengan SPM, sedangkan indikator penulisan resep sesuai formularium
belum sesuai dengan SPM.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang menyerang paru-paru yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi penggunaan obat antituberkulosis Kombinasi Dosis Tetap
Kategori 1 meliputi tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis, tepat lama pemberian
serta keberhasilan pengobatan pada pasien tuberkulosis di RSU Jampangkulon
Sukabumi, berdasarkan Pedoman Pengendalian TB Nasional tahun 2016.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan
pendekatan cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada
bulan Juli-Desember 2021 dengan sampel sebanyak 66 pasien. Hasil dari
penelitian ini menunjukan sosiodemografi : jenis kelamin terbanyak yaitu laki-laki
45 pasien (68%), usia terbanyak terdapat pada kelompok usia 26-35 tahun
(Dewasa Awal) 31 pasien (47%.), berat badan terbanyak yaitu 38-54 kg sebanyak
43 pasien (65%). Profil penggunaan obat antituberkulosis Kombinasi Dosis Tetap
Kategori 1 dengan Fase intensif 66 pasien (100%), Fase lanjutan 61 pasien (92%).
Evaluasi pengobatan antituberkulosis menunjukan tepat obat fase intensif dan fase
lanjutan (100%), tepat indikasi fase intensif dan fase lanjutan (100%), tepat dosis
pada fase intensif (92,2%) dan fase lanjutan (92,2%), tepat lama pemberian obat
pada fase intensif (100%) fase lanjutan (92,2%). Keberhasilan pengobatan
antituberkulosis paru yang ditandai dengan pemeriksaan BTA negatif 59 pasien
(89%) BTA positif 7 pasien (11%).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis. Sebagian besar bakteri tuberkulosis menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan
OAT KDT pada terapi tuberkulosis meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan
tepat lama pemberian di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bogor, berdasarkan
Pedoman Pengendalian TB Nasional tahun 2014. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif observasional dengan menggunakan pendekatan cross-sectional.
Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada bulan Januari-Juni 2020 dengan
sampel sebanyak 64 pasien. Hasil dari penelitian ini menurut sosiodemografi jenis
kelamin terbanyak adalah perempuan (57,8%), usia terbanyak terdapat pada kelompok
usia 17-25 tahun (remaja akhir) (35,9%), berat badan terbanyak yaitu pada berat badan
38-54 kg (62,5%). Profil penggunaan OAT KDT Kategori 1 fase intensif (100%) fase
lanjutan (68,75%). Evaluasi pengobatan tuberkulosis menunjukkan tepat indikasi
(100%); tepat obat fase intensif (92,2%) fase lanjutan (100%); tepat dosis fase intensif
(96,9%) fase lanjutan (93,7%); dan tepat lama pemberian fase intensif (67,2%) fase
lanjutan (60,9%).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Salah satu pelayanan farmasi yang harus memenuhi standar dirumah sakit adalah
waktu tunggu. Belum tercapainya waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat
jalan di instalasi farmasi menyebabkan masih banyaknya komplain pasien atau
keluarga pasien yang merasa tidak puas dengan waktu tunggu pelayanan resep,
sehingga menjadi masalah bagi mutu pelayanan Farmasi Rumah Sakit Jiwa
Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang
didukung metode retrodeskriptif kualitatif, dengan mengambil data waktu tunggu
pelayanan resep pada bulan Desember 2020. Hasil penelitian menunjukan rata-
rata waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat jalan dengan jaminan BPJS di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor selama 40,77 menit
untuk resep non racikan dan 66,54 menit untuk resep racikan sehingga belum
memenuhi standar Kepmenkes RI No 129/Menkes/SK/II/2008.