BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Obat high alert adalah obat yang memiliki resiko tinggi membahayakan keselamatan
pada pasien jika tidak digunakan secara tepat. Menurut Permenkes No. 72 Tahun 2016
kategori high alert menjadi 3 diantaranya LASA (Look Alike Sound Alike), Elektrolit
konsentrasi tinggi dan sitostatik, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran
dan kesesuaian penyimpanan obat high alert di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan
Anak Pasutri Bogor.
Penelitian ini bersifat deskriptif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah
seluruh obat high alert yang ada di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak
Pasutri Bogor. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, karena semua
populasi dijadikan sampel. Alat penelitian pengumpulan data yang digunakan pada
hasil penelitian ini adalah lembar observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian
menunjukkan penyimpanan obat high alert sesuai dengan standar prosedur
operasional Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor dengan prosentase kesesuaian
100% pada penyimpanan obat high alert, penyimpanan obat LASA (Look Alike Sound
Alike) atau NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) dan penyimpanan obat
Elektrolit Konsentrat Pekat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu yang menjadi suatu tolak ukur dalam standar pelayanan minimal
farmasi di rumah sakit yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan
kefarmasian di rumah sakit sakit dan untuk menjamin kepuasan pasien. Tujuan
penelitian untuk mengetahui hubungan waktu tunggu pelayanan resep dengan
kepuasan pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa
Sukabumi dengan metode cross sectional secara prospektif menggunakan
kuesioner. Jumlah sampel yaitu 100 responden yang merupakan pasien atau
keluarga pasien dihitung menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria
inklusi dan ekslusi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2022 di
Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa Sukabumi. Hasil data sosiodemografi
berdasarakan jenis kelamin laki-laki (52%), pada usia 17-25 tahun (38%), pekerja
lain-lain (30%), dan BPJS lebih dominan (82%). Gambaran waktu tunggu resep non
racik 14,7 menit dan racikan 31,1 menit, dengan kesesuaian yaitu (89%), untuk
kepuasan berdasarkan 5 dimensi yaitu kehandalan (puas 45%), Ketanggapan (puas
43%), Jaminan (puas 62%), Empati (sangat puas 37%), dan Wujud / nyata (sangat
puas 40%). Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tunggu dengan 4
dimensi kepuasan pasien diataranya variabel kenyataan (p-value=0.003), empati (p-
value=0,007), ketanggapan (p-value=0.019) serta jaminan (p-value=0.008).
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Salah satu pelayanan farmasi yang harus memenuhi standar dirumah sakit adalah
waktu tunggu. Belum tercapainya waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat
jalan di instalasi farmasi menyebabkan masih banyaknya komplain pasien atau
keluarga pasien yang merasa tidak puas dengan waktu tunggu pelayanan resep,
sehingga menjadi masalah bagi mutu pelayanan Farmasi Rumah Sakit Jiwa
Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang
didukung metode retrodeskriptif kualitatif, dengan mengambil data waktu tunggu
pelayanan resep pada bulan Desember 2020. Hasil penelitian menunjukan rata-
rata waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat jalan dengan jaminan BPJS di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor selama 40,77 menit
untuk resep non racikan dan 66,54 menit untuk resep racikan sehingga belum
memenuhi standar Kepmenkes RI No 129/Menkes/SK/II/2008.