Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

16 hasil
Subjek: Interaksi
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN RAWAT INAP DENGAN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Skizofrenia adalah penyakit gangguan jiwa berat dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku individu dengan gejala positif dan negatif. Obat yang diberikan dapat berupa obat tunggal maupun kombinasi. Penggunaan kombinasi obat antipsikotik dalam pengobatan skizofrenia meningkatkan potensi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis kelamin dan usia, penggunaan kombinasi obat, kejadian interaksi, tingkat keparahan dan mekanisme potensi interaksi. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada bulan November 2023 – Mei 2024. Sampel penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien skizofrenia yang masuk ke dalam kriteria inklusi berupa pasien rawat inap skizofrenia, menerima obat antipsikotik, berusia 20-60 tahun. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian dari 49 sampel menunjukkan bahwa pasien skizofrenia terbanyak merupakan pasien laki-laki 38 pasien (77%), dan rentang usia terbanyak di 26- 35 tahun yaitu 19 pasien (39%). Pemberian antipsikotik sejumlah 6 pasien (12%) mendapatkan kombinasi 2 obat, 27 pasien (55%) dengan kombinasi 3 obat, dan 16 pasien (33%) sisanya mendapatkan kombinasi 4 obat. Ditemukan seluruhnya berpotensi mengalami kejadian interaksi obat sejumlah 153 kejadian (100%). Mekanisme potensi interaksi obat yang ditemukan sebanyak 24 (14%) potensi kejadian farmakokinetik dan 129 (86%) potensi kejadian farmakodinamik. Tingkat keparahan potensi interaksi sebanyak 19 (12%) termasuk ke dalam kategori mayor dan 134 (88%) kejadian berpotensi memiliki interaksi moderat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT INAP SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan atau menurunkan efeknya. Pasien skizofrenia menggunakan obat dalam jangka panjang sehingga ketika terjadi penyakit lain terdapat tambahan obat lain yang berpotensi menyebabkan peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi. Yang dapat memperberat efek samping, dan meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi interaksi obat pada pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode pengambilan sampel secara total sampling berdasarkan data rekam medis dari 108 pasien memenuhi kriteria iklusi dan ekslusi. Hasil ini menunjukan penderita penyakit skizofrenia terbanyak yaitu pria (51%) dengan usia terbanyak 36-45 tahun (29%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (87,96%). Penggunaan obat skizofrenia golonggan tunggal (27%), dua obat kombinasi (62%), dan tiga obat kombinasi (11%). Obat golongan tipikal terbanyak yaitu obat Haloperidol (56,48%) dan obat golongan atipikal terbanyak yaitu Risperidone (35%). Penggunaan obat selain skizofrenia terbanyak yaitu golongan obat CCB (Calcium Channel Blockers) (amlodipine) (49%). Terdapat 48 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (77%) dan level keparahan major (70%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK GEMA MEDICAL CENTER CICURUG

2025Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah dalam jangka waktu yang lama, yang dapat menyebabka] n kematian. Pada penyakit hipertensi membutuhkan pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan resiko terjadinya interaksi obat hipertensi dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat interaksi obat hipertensi di Klinik Gema Medical Center Cicurug periode bulan Januari – Maret 2023. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara total sampling. Hasil penelitian terhadap 84 pasien menunjukan, sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 53 pasien (63,09%) dengan rentang usia 46 – 55 tahun sebanyak 36 pasien (42,85%). Penyakit penyerta terbanyak yang diderita adalah Myalgia sebanyak 44 pasien (27,16%). Sebanyak 47 pasien (55,95%) mendapatkan 4 obat dengan obat hipertensi paling banyak diresepkan yaitu amlodipin sebanyak 77 pasien (94%). Obat penyakit penyerta yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 37 pasien (15%). Obat yang berpotensi terjadi interaksi paling banyak yaitu amlodipin dengan ibuprofen sebanyak 24 pasien (30,76%). Kejadian interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipine dengan ibuprofen sebanyak 7 kasus (18%), amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 6 kasus (16%), amlodipin dengan meloxicam sebanyak 4 kasus (22%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 1 kasus (21%) dan amlodipin dengan captropil sebanyak 1 kasus (30%). Kejadian interaksi obat yang terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS FAMILY MEDICAL CENTER BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi secara menahun yang disebabkan gangguan pada metabolik ditandai kadar gula dalam darah meningkat. Beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki penyakit penyerta sehingga membutuhkan kombinasi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat pada pasien diabetes melitu tipe 2 pada pasien rawat jalan di RS FMC Bogor periode Januari- Maret 2023. Penelitian merupakan penelitian dekriptif-observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dari data sekunder rekam medis dan resep sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan website drug.com dan Medscape diolah dengan Microsoft excel. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien diabetes melitus tipe 2 terbanyak perempuan (70%) dengan rentang usia 56-65 tahun (41%). Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi (51,92%). Jumlah obat terbanyak adalah 2-3 jenis obat sebanyak (39%). Obat antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak (45,14%) dan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu amlodipine (17,37%). Potensi interaksi terjadi sebanyak 201 kasus, mekanisme terbanyak farmakodinamik (91%) dengan level keparahan moderate (96%). Kejadian interaksi terjadi sebanyak 29 kasus (14,43%) dengan mekanisme farmakodinamik dan level keparahan moderate dan kasus terbanyak pada metformin dengan sucralfate syr sebanyak 6 kasus (20,68%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK BIDAKARA MEDICAL CENTER JAKARTA SELATAN

2025Koleksi Perpustakaan

Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2 membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat (9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%) dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MEMPENGARUHI TEKANAN DARAH DI INSTALASI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit (toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%). Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X SUKABUMI

2025Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) dan obat non anti tuberkulosis (Non OAT) dalam penggunaanya dilakukan dalam waktu bersamaan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan OAT dan Non OAT. Potensi terjadinya interaksi obat antar OAT, antar OAT dengan Non OAT dan antar Non OAT dalam peresepan pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Sukabumi. Jenis penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan deskriptif dan bersifat retrospektif. Pengambilan data berdasarkan data resep elektronik pasien ditinjau secara teoritis dari studi literatur Drugs Interaction Checeker. Terdapat 95 sampel pasien TB paru. Jenis kelamin terbanyak adalah Laki-laki (66,3%). Usia pasien terbanyak rentang usia 26-35 tahun (dewasa awal) (27,4%). Jenis OAT terbanyak digunakan adalah rifampisin (30,6%), dan isoniazid (30,6%). Jenis Non OAT terbanyak digunakan adalah golongan obat vitamin dan suplemen (27,8%). Terdapat (56,6%) obat yang mengalami potensi interaksi, dan (43,4%) tidak mengalami potensi interaksi. Potensi interaksi obat antar OAT terbanyak yaitu interaksi pada rifampisin dengan isoniazid (44,2%), dan rifampisin dengan pyrazinamide (27,8%) dengan level keparahan terbanyak Major (72,1%). Potensi interaksi obat antar OAT dan Non OAT terbanyak yaitu interaksi pada isoniazid dengan paracetamol (51,7%) dengan level keparahan terbanyak Moderate (55,8%). Sedangkan potensi interaksi obat antar Non OAT terbanyak yaitu interaksi pada methylprednisolon dengan salbutamol (28,6%) dengan level keparahan terbanyak Minor (38,1%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS FAMILY MEDICAL CENTER BOGOR

2024Koleksi Perpustakaan

Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi secara menahun yang disebabkan gangguan pada metabolik ditandai kadar gula dalam darah meningkat. Beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki penyakit penyerta sehingga membutuhkan kombinasi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat pada pasien diabetes melitu tipe 2 pada pasien rawat jalan di RS FMC Bogor periode Januari- Maret 2023. Penelitian merupakan penelitian dekriptif-observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dari data sekunder rekam medis dan resep sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan website drug.com dan Medscape diolah dengan Microsoft excel. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien diabetes melitus tipe 2 terbanyak perempuan (70%) dengan rentang usia 56-65 tahun (41%). Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi (51,92%). Jumlah obat terbanyak adalah 2-3 jenis obat sebanyak (39%). Obat antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak (45,14%) dan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu amlodipine (17,37%). Potensi interaksi terjadi sebanyak 201 kasus, mekanisme terbanyak farmakodinamik (91%) dengan level keparahan moderate (96%). Kejadian interaksi terjadi sebanyak 29 kasus (14,43%) dengan mekanisme farmakodinamik dan level keparahan moderate dan kasus terbanyak pada metformin dengan sucralfate syr sebanyak 6 kasus (20,68%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN HIV/AIDS DI RS MARZOEKI MAHDI BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan atau menurunkan efeknya. Penderita HIV/AIDS memerlukan pengobatan menggunakan Antiretroviral (ARV). Umumnya terapi ARV diberikan dalam bentuk kombinasi obat sehingga dapat menimbulkan potensi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat ARV dan non-ARV, dan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat. Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian observasional yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medik periode Oktober - Desember 2022. Interaksi obat HIV/AIDS dianalisis menggunakan aplikasi drugs.com , Medscape dan buku Stockley. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki 96 pasien (72,73%), rentang usia terbanyak yaitu 36-45 tahun dengan 54 pasien (40,91%), penyakit penyerta terbanyak adalah TBC dengan 58 pasien (48,74%), penggunaan jumlah obat terbanyak yaitu 5 jumlah obat sebanyak 49 pasien (37,12%). Obat ARV yang paling banyak digunakan yaitu Tenofovir 3 in 1 (TDF + 3TC + EFV) 67 pasien (50,76%), obat non-ARV paling banyak yaitu golongan OAT 182 obat (52,45%). Terdapat potensi interaksi obat pada 104 pasien (78,79%) dengan kasus terbanyak lamivudine + Efavirenz 69 kasus. Level keparahan terbanyak moderate 252 kasus (83,17%) dan mekanisme interaksi terbanyak farmakokinetik 301 kasus (99,34%)

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI POTENSI INTERAKSI OBAT RESEP RACIKAN PADA PASIEN ANAK DI KLINIK PANDAWA RAYA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Di Indonesia, masih banyak dokter yang memberikan obat dalam bentuk racikan. Peracikan obat menjadi perhatian karena banyak munculnya kejadian yang tidak dikehendaki seperti masalah interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji evaluasi potensi interaksi obat berdasarkan mekanisme kerja dan tingkat keparahan menggunakan aplikasi Medscape.com pada resep obat racikan anak di Klinik Pandawa Raya Bogor. Data yang digunakan adalah lembar resep, yang dilakukan secara retrospektif pada pasien anak yang mendapatkan resep racikan periode September – Oktober 2021. Penelitian ini bersifat observasional (non eksperimental) retrospektif dan dianalisis secara deskriptif berdasarkan data yang sudah ada dari penelusuran lembar resep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien anak yang mendapatkan resep racikan paling banyak berjenis kelamin laki- laki sebanyak 53,19% dengan rentang usia terbanyak 1-5 tahun sebanyak 62,77%. Obat yang pailng banyak diresepkan kedalam obat racikan yaitu ciproheptadin sebanyak 26,59%. Jumlah obat yang di gunakan dalam racikan terbanyak adalah 3-4 obat 57,44%. Interaksi obat yang terjadi dari 53 resep sebanyak 56,39% mengalami interaksi obat dan tidak berinteraksi sebanyak 43,61%. Mekanisme interaksi terbanyak adalah farmakokinetik sebanyak 56,73% dan farmakodinamik 43,27%. Keparahan interaksi kategori moderate 48,08%, major sebanyak 47,12%, dan minor 4,80%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

ANALISA INTERAKSI OBAT POTENSIAL PADA PASIEN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN RS SWASTA X TANGERANG

2023Koleksi Perpustakaan

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara kronis. Beberapa pasien hipertensi memiliki penyakit penyerta ataupun komplikasi sehingga membutuhkan kombinasi obat yang dapat meningkatkan risiko interaksi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa interaksi obat potensial pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RS Swasta X Tangerang periode Oktober – Desember 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-observasional berdasarkan data retrospektif dari data sekunder yang diambil dari rekam medis dan resep elektronik sebanyak 85 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan website drugs.com dan medscape.com serta diolah dengan Microsoft Excel. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien hipertensi terbanyak adalah laki - laki sejumlah 69% dengan rentang usia terbanyak ialah >65 tahun sejumlah 36%. Penyakit penyerta terbanyak adalah Coronary Artery Disease (CAD) sejumlah 40%. Jumlah terapi obat terbanyak adalah 5 jenis obat sebanyak 51%. Golongan obat yang paling sering digunakan adalah Angiotensin Receptor Blocker (ARB) sebanyak 60 kasus. Terapi obat penyakit penyerta terbanyak adalah Atorvastatin sebanyak 61 resep. Terdapat 80% interaksi obat potensial, dengan interaksi obat potensial terbanyak antara Amlodipin dan Atorvastatin sebanyak 35 kasus. Tingkat keparahan terbanyak yaitu moderat sejumlah 78%. Mekanisme interaksi terbanyak adalah interaksi farmakokinetik sejumlah 59%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT PASIEN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) RAWAT JALAN DI APOTEK KIMIA FARMA RSUPN Dr.CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA

2022Koleksi Perpustakaan

Potensi interaksi obat yaitu suatu kemungkinan interaksi yang terjadi ketika efek dari satu obat berubah karena penggunaan bersamaan dengan obat lain. Penggunaan obat dalam jumlah yang banyak adalah salah satu faktor potensi interaksi obat. Pasien dengan penyakit Systemic Erythematosus Lupus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan kerusakan jaringan dan sel oleh autoantibodi patogen dan kompleks imun, dimana selalu mendapatkan obat lebih dari satu sehingga berisiko terjadinya interaksi obat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pola penggunaan obat dan potensi interaksi obat pada pasien SLE rawat jalan di apotek Kimia Farma RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Observasional pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu menggunakan data rekam medis pasien. Jumlah sampel yang diambil yaitu 291 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa pola penggunaan obat pada pasien SLE terdiri dari terapi utama dan terapi lain. Terapi utama yang digunakan pasien SLE di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta yaitu obat golongan kortikosteroid (15%); NSAID (3,1%) dan antibiotik (1,7%), sedangkan terapi lain yang digunakan yaitu kalsium karbonat (12,1%); vitamin B complex (0,3%), vitamin B6 (0,3%) kolkatriol (4,4%) calcium laktat (0,1%). Dari 291 pasien yang berpotensi interaksi obat, diketahui terjadi 217 pasien yang mengalami interaksi obat. Berdasarkan tingkat keparahannya diketahui 3,3% Major, 56% moderat, dan 40,5% Minor.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KEJADIAN INTERAKSI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH SAREAL

2022Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskular yang paling banyak ditemukan dibandingkan dengan penyakit sistem kardiovaskular lainnya. Pada hipertensi pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat antihipertensi di Puskesmas Tanah Sareal periode Januari–Desember 2021. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian terhadap 290 pasien menunjukkan, sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 192 pasien (66,21%) dengan rentang usia terbanyak 56–65 tahun sebanyak 117 pasien (40%). Penyakit penyerta terbanyak adalah myalgia sebanyak 73 pasien (20%). Pasien mayoritas mendapatkan 2–4 obat dengan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan, yaitu amlodipin sebanyak 284 pasien (91,03%), sedangkan obat penyakit penyerta yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 171 pasien (17%). Kejadian interaksi obat terjadi pada 29,70% dari obat antihipertensi maupun obat- obat penyakit penyerta. Interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipin dengan ibuprofen sebanyak 16 kasus (27%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 26 kasus (38%), dan amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 7 kasus (44%). Ketiga kejadian interaksi obat terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN CORONARY ARTERY DISEASE (CAD) DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD R.SYAMSUDIN S.H KOTA SUKABUMI

2022Koleksi Perpustakaan

Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan, akibat yang tidak dikehendaki dari peristiwa interaksi ini ada dua kemungkinan yakni meningkatkannya efek toksik atau efek samping obat atau berkurangnya efek klinis yang diharapkan. Coronary Artery Disease (CAD) merupakan penyakit terbanyak dan menduduki peringkat pertama pada tahun 2019 di RSUD R.Syamsudin S.H Kota Sukabumi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil pasien CAD, mengetahui profil penggunaan obat, dan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat dengan obat, yang terjadi pada pasien yang menderita penyakit CAD di Instalasi Rawat Jalan RSUD R.Syamsudin S.H Kota Sukabumi. Penelitian ini dilakukan dengan desain observasi dengan metode analisis deskriptif, interaksi obat CAD dianalisis menggunakan aplikasi lexicomp untuk menganalisis potensi interaksi obat dengan mengambil data resep obat terapi CAD secara retrospektif pada bulan Januari- Desember 2019. Hasil penelitian dari 377 resep secara systematic random sampling diperoleh : pasien dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 277 pasien (73,47%); obat untuk terapi CAD yang paling banyak digunakan yaitu aspirin sebanyak 214 resep (14,11%); Jumlah interaksi obat dalam satu resep paling banyak yaitu 1 kejadian (36,07%). Hasil penelitian menunjukan jumlah interaksi obat secara potensial sebanyak 261 kejadian interaksi; potensi interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan yaitu kejadian moderate sebanyak 183 (64,66%), major sebanyak 63 (22,26%), minor sebanyak 37 (13,07%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN INTERAKSI OBAT POTENSIAL ANALGETIK ANTIINFLAMASI NON STEROID (AINS) PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS CIPAKU BOGOR PERIODE JULI-DESEMBER 2019

2021Koleksi Perpustakaan

Interaksi obat adalah keadaan saat suatu zat berpengaruh terhadap aktivitas obat yang akan menimbulkan peningkatan efek atau penurunan, atau mungkin akan menimbulkan efek baru. Interaksi ini akan terjadi dari kesalahan dalam penggunaan yang disengaja atau karena kurangnya pengetahuann mengenai bahan-bahan aktif yang terkandung dalam zat tersebut. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sosiodemografi pasien dan profil penggunaan obat Hipertensi dan Analgetik AINS secara bersamaan, dan tingkat keparahan interaksi obat potensial yang terjadi di Puskesmas Cipaku Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif pada bulan Juli sampai Agustus 2020. Hasil penelitian dari 141 data menunjukan, jenis kelamin pada pasien paling banyak terjadi pada perempuan sebesar 105 (74%) dan usia tertinggi terjadi pada 56-65 tahun sebanyak 50 pasien (36%), dan pekerjaan paling banyak sebagai IRT sebanyak 104 pasien (73,76%). Obat hipertensi yang paling banyak digunakan yaitu amlodipin sebanyak 129 (91%) dan obat analgetik AINS yang paling banyak digunakan yaitu natrium diklofenak sebesar 107 (76%). Hasil penelitian jumlah interaksi obat potensial sebanyak 141 kejadian interaksi dengan tingkat keparahan (100%) moderat, kejadian yang paling banyak terjadi pada kombinasi amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 97 kejadian (68.8%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT POLIFARMASI PADA PASIEN GERIATRI DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI DRUGS.COM DI KLINIK INSANI PERIODE JUNI – DESEMBER 2019

2021Koleksi Perpustakaan

Pemberian terapi obat lebih dari satu zat sering kali menimbulkan masalah salah satunya pada pasien geriatri dalam upaya pengobatan suatu penyakit, dimana obat – obatan yang digunakan tersebut dapat menyebabkan terjadinya interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran potensi interaksi obat polifarmasi yang terjadi pada pasien geriatri di Klinik Insani periode Juni- Desember 2019. Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling dimana sampel memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 83 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 pasien terdapat 29 (34,93%) pasien laki laki dan 54 (65,06%) pasien perempuan. Usia paling banyak pada usia 55 – 65 tahun 48 pasien (57,14%) dan >65 tahun 36 pasien (42,85%). Polifarmasi yang sering diberikan pada pasien geriatri adalah 5 jenis obat 68 pasien (81,92%), 6 jenis obat 12 pasien (14,45%), dan 7 jenis obat 3 pasien (3,61%). Obat yang paling banyak diresepkan adalah amlodipin sebanyak 38 (17,67%). Penyakit terbanyak adalah dispepsia sebanyak 28 pasien (40%). Potensi terjadi interaksi obat sebanyak 79 pasien (95,18%) dan sebanyak 4 pasien (4,81%) tidak berpotensi terjadi interaksi obat. Mekanisme interaksi tertinggi adalah farmakodinamik yaitu 133 (72,28%) dan farmakokinetik 51 (27,71%). Level keparahan interaksi obat paling banyak terjadi adalah moderate 127 (69,02%%), minor 54 (29,34%), dan mayor 3 (1,63%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail