BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg dengan pemeriksaan
yang berulang. Dalam keberhasilan terapi, penggunaan obat rasional sangat penting.
Keberhasilan terapi ditandai dengan penurunan tekanan darah sesuai dengan standar
Joint National Committee (JNC) 8 yaitu usia >60 tahun keberhasilannya <150/90
mmHg dan usia <60 tahun keberhasilannya <140/90 mmHg. Penelitian ini bertujan
untuk melihat gambaran sosiodemografi pasien, profil penggunaan obat
antihipertensi, ketepatan penggunaan obat antihipertensi dan keberhasilan terapi obat
antihipertensi berdasarkan JNC 8 di Puskesmas Ciambar Sukabumi. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif Observasional dengan pendekatan secara
retrospektif mengumpulkan data sekunder dari rekam medik dan resep sebanyak 99
pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian, usia paling banyak 46-55
tahun sebanyak 43 pasien (43,43%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 81 pasien
(81,82%). Penggunaan Obat terbanyak yaitu kombinasi sebanyak 47 pasien
(47.47%). Ketepatan penggunaan, Tepat obat, dosis, indikasi menunjukkan hasil
100% tepat dan tepat frekuensi 79 pasien (79,80%) tepat, 20 pasien (20,20%) tidak
tepat. Keberhasilan terapi berdasarkan JNC 8, 17 pasien (17,17%) berhasil, 82 pasien
(82,83%) tidak berhasil.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga memiliki tingkat
suhu dan kelembaban yang tinggi. Kelembaban yang tinggi dapat menjadi pemicu
tumbuhnya fungi Malassezia furfur penyebab penyakit infeksi fungi seperti Tinea
versicolor atau biasa disebut panu. Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan
sebagai antifungi adalah lengkuas merah (Alpinia galangal L. Swartz). Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas antifungi ekstrak
etanol 96% lengkuas merah dan perasan lengkuas merah terhadap Malassezia
furfur menggunakan metode difusi cakram dan difusi sumuran. Ekstrak etanol dan
perasan lengkuas merah yang digunakan adalah 20%, 40%, dan 60% lalu sampel
tersebut diuji komponen fitokimia dan uji aktivitas antifungi. Ekstrak etanol 96%
dan perasan lengkuas mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan
triterpenoid. Rata-rata nilai diameter zona hambat ekstrak etanol pada metode
difusi sumuran yaitu 14,08 mm, 17,42 mm, dan 19 mm. Rata-rata nilai diameter
zona hambat ekstrak etanol pada metode difusi cakram yaitu 8,08 mm, 10,83 mm,
dan 14,25 mm. Rata-rata nilai diameter zona hambat perasan lengkuas pada
metode difusi sumuran yaitu 0 mm, 5,58 mm, dan 7,5 mm. Rata-rata nilai
diameter zona hambat perasan lengkuas pada metode difusi cakram yaitu
seluruhnya 0 mm. Nilai diameter zona hambat ekstrak etanol lengkuas merah
lebih tinggi dan berbeda nyata (α<0,05) dibandingkan perasan lengkuas merah
sehingga ekstrak etanol lengkuas merah lebih berpotensi sebagai antifungi.
Berdasarkan perbandingan dua metode pengujian antifungi, metode difusi
sumuran memiliki nilai zona hambat yang lebih besar.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain
yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan, akibat yang tidak dikehendaki
dari peristiwa interaksi ini ada dua kemungkinan yakni meningkatkannya efek
toksik atau efek samping obat atau berkurangnya efek klinis yang diharapkan.
Coronary Artery Disease (CAD) merupakan penyakit terbanyak dan menduduki
peringkat pertama pada tahun 2019 di RSUD R.Syamsudin S.H Kota Sukabumi.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil pasien CAD, mengetahui profil
penggunaan obat, dan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat dengan
obat, yang terjadi pada pasien yang menderita penyakit CAD di Instalasi Rawat
Jalan RSUD R.Syamsudin S.H Kota Sukabumi. Penelitian ini dilakukan dengan
desain observasi dengan metode analisis deskriptif, interaksi obat CAD dianalisis
menggunakan aplikasi lexicomp untuk menganalisis potensi interaksi obat dengan
mengambil data resep obat terapi CAD secara retrospektif pada bulan Januari-
Desember 2019. Hasil penelitian dari 377 resep secara systematic random
sampling diperoleh : pasien dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 277 pasien
(73,47%); obat untuk terapi CAD yang paling banyak digunakan yaitu aspirin
sebanyak 214 resep (14,11%); Jumlah interaksi obat dalam satu resep paling
banyak yaitu 1 kejadian (36,07%). Hasil penelitian menunjukan jumlah interaksi
obat secara potensial sebanyak 261 kejadian interaksi; potensi interaksi obat
berdasarkan tingkat keparahan yaitu kejadian moderate sebanyak 183 (64,66%),
major sebanyak 63 (22,26%), minor sebanyak 37 (13,07%).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi.merupakan.salah.satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di
Indonesia. Pada pemberian obat antihipertensi sering terjadi Drug Related
Problems (DRPs) kategori dosis. DRPs merupakan suatu kejadian yang berpotensi
mengganggu keberhasilan penyembuhan yang dikehendaki. DRPs domain kategori
dosis meliputi dosis obat terlalu rendah, dosis obat terlalu tinggi, frekuensi
pemberian regimen dosis terlalu rendah, frekuensi pemberian regimen dosis terlalu
tinggi, informasi waktu dosis salah, tidak jelas atau hilang. Tujuan penelitian.ini
adalah untuk mengetahui.hubungan DRPs kategori dosis.pada pemberian obat
antihipertensi dengan kondisi tekanan darah penderita hipertensi di rawat inap
Rumah Sakit Dr. Hafiz Kabupaten Cianjur. Penelitian ini merupakan penelitian
analitik komparatif dengan desain retrospektif yang berasal dari rekam medis.
Analisis.data.yang.digunakan adalah univariat.dan bivariat. Analisis data bivariat
penelitian ini menggunakan analisis Chi square. Hasil penelitian dari 105 pasien
secara total sampling diperoleh: pasien paling banyak berusia 56-65 tahun sebanyak
40 pasien (38,1%); pasien jenis kelamin perempuan 61 pasien (58,1%) dan laki laki
44 pasien (41,9%);.obat antihipertensi yang paling.banyak digunakan adalah
Amlodipine sebanyak 75 resep (33,5%); kejadian DRPs kategori dosis pada pasien
hipertensi sebesar 18 kejadian (17,1%); DRPs kategori dosis yang mengalami
penurunan tekanan darah yang tidak tercapai yaitu 12 pasien (66,7%). Tidak ada
hubungan yang signifikan antara kejadian DRPs kategori dosis dengan
ketidaktercapaian.tekanan darah target.(p=0,418)
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Buah Bisbul (Diospyros discolor Willd.) dikenal juga sebagai Velvet Apple atau buah mentega. Buah bisbul merupakan buah yang awalnya tumbuh liar di hutan- hutan Filipina, namun kini telah menyebar di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Buah bisbul memiliki efek toksisitas dan kandungan kimia senyawa aktif
flavonoid, tanin, saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
ekstrak etanol 70 % buah bisbul dalam menurunkan kadar glukosa darah
(antidiabetes) yang diinduksi aloksan. Simplisia daging buah bisbul diekstraksi
dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan diuji secara in vivo.
Pengukuran kadar glukosa menggunakan alat glukometer selama 14 hari. Perlakuan
hari ke-14 pada kontrol negatif mengalami penurunan sebesar 1,24 %. Perlakuan
kontrol positif mengalami penurunan kadar glukosa darah sebesar 50,33%. Perlakuan
dengan pemberian ekstrak dosis 200mg/KgBB, 400mg/KgBB, 600mg/KgBB, dan
dosis 850 mg/KgBB menurunkan kadar glukosa sebesar 6 %,12,88%, 32,50 % dan
17,19 %. Hasil terbaik yang memiliki pengaruh menurunkan kadar glukosa darah
yang mekanisme kerjanya hampir sama dengan metformin adalah ekstrak daging
buah bisbul dengan dosis 600mg/KgBB.