Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

M

1.493 karya publik ditemukan.

2026: 982025: 2552024: 532023: 3282022: 3212021: 1192020: 142019: 642018: 2002017: 22016: 12014: 12005: 12004: 1

PERBANDINGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS DAN NON BPJS TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT FMC BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Kepuasan pasien merupakan sebuah perasaan yang didapatkan pasien setelah pelayanan dilakukan berupa perasaan senang atau kecewa yang didapatkan seseorang. Kepuasan dan Pelayanan adalah dua hal yang saling berkaitan, dimana dengan adanya kepuasan pihak terkait akan mampu memberikan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien BPJS dan non BPJS terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Family Medical Center Bogor. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan mengambil data secara prosfektif menggunakan kuesioner dan bersifat non-eksperimental. Pasien dalam penelitian ini adalah pasien BPJS dan non BPJS rawat jalan yang mendapat obat dari instalasi Rumah Sakit Family Medical Center Bogor periode Agustus 2023. Sampel penelitian sebanyak 365 pasien yang diambil secara purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kategori jenis kelamin tertinggi yaitu perempuan (59%), usia mayoritas 26-35 tahun (34%), pendidikan SMA (40%), dan pekerjaan karyawan swasta (45%). Tingkat kepuasan pasien BPJS dan non BPJS terhadap pelayanan kefarmasian di RS FMC Bogor menunjukan bahwa kategori tingkat kepuasan pada dimensi Penampilan adalah (78,1%), dimensi Empati (76,9%), dimensi Keandalan (76,6%), dimensi Jaminan (76,1%), dan dimensi ketanggapan (75,6%). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan pelayanan kefarmasian pada pasien rawat jalan diinstalasi RS FMC Bogor adalah puas dengan presentase sebanyak (76,7%). Dapat di simpulkan bahwa Pasien Non BPJS lebih puas pelayanannya dibandingkan dengan Pasien BPJS.

FORMULASI EKSTRAK UMBI BIT MERAH (Beta Vulgaris L) SEBAGAI PEWARNA BIBIR DALAM BENTUK SEDIAAN LIP TINT

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L) mengandung antosianin dan betasianin merupakan pigmen merah atau ungu-merah yang dapat digunakan sebagai pewarna alam. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L) menjadi sediaan lip tint yang memiliki stabilitas mutu fisik yang baik, disukai responden dan tidak menimbulkan iritasi. Sebelum ya dibuat sediaan lip tint dengan variasi ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L) 15g (F1), 20g (F2), 25g (F3). Dilakukan uji antosianin terhadap ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L), uji stabilitas mutu fisik sediaan lip tint dilakukan secara cycling test dengan parameter uji homogenitas, pH, viskositas dan uji daya oles, selain itu dilakukan uji kesukaan dan uji iritasi. Hasil uji stabilitas mutu fisik sediaan lip tint menunjukan bahwa sediaan stabil dan tidak menimbulkan iritasi.

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI PUSKESMAS SUKALARANG SUKABUMI

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Terdapat lima golongan utama obat antihipertensi yaitu ACEI, ARB, beta bloker, CCB dan diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dan evaluasi ketepatan penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukalarang Sukabumi periode Juli – Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data sekunder dari rekam medik. Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin dengan teknik purposive sampling dengan tingkat kepercayaan 90%. Populasi sebanyak 697 pasien, diambil sampel sebanyak 88 pasien. Hasil penelitian karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 59 pasien (67%), usia terbanyak adalah lansia akhir 56 – 65 tahun 30 pasien (34%), klasifikasi hipertensi terbanyak yaitu hipertensi derajat 1 sebanyak 42 pasien (48%) dan pasien tanpa penyakit penyerta 61%. Penggunaan obat antihipertensi lebih banyak secara monoterapi sebesar 68% dibandingkan obat kombinasi sebesar 32%. Monoterapi terbanyak adalah amlodipin sebesar 42% sedangkan kombinasi terbanyak adalah captopril – amlodipin sebesar 24%. Kemudian dilakukan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan pedoman Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi (PERHI) tahun 2019, yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 76%, tepat dosis 100% dan tepat frekuensi waktu pemberian obat 91%.

HUBUNGAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SETUKPA SUKABUMI

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Waktu tunggu yang menjadi suatu tolak ukur dalam standar pelayanan minimal farmasi di rumah sakit yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit sakit dan untuk menjamin kepuasan pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan waktu tunggu pelayanan resep dengan kepuasan pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa Sukabumi dengan metode cross sectional secara prospektif menggunakan kuesioner. Jumlah sampel yaitu 100 responden yang merupakan pasien atau keluarga pasien dihitung menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2022 di Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa Sukabumi. Hasil data sosiodemografi berdasarakan jenis kelamin laki-laki (52%), pada usia 17-25 tahun (38%), pekerja lain-lain (30%), dan BPJS lebih dominan (82%). Gambaran waktu tunggu resep non racik 14,7 menit dan racikan 31,1 menit, dengan kesesuaian yaitu (89%), untuk kepuasan berdasarkan 5 dimensi yaitu kehandalan (puas 45%), Ketanggapan (puas 43%), Jaminan (puas 62%), Empati (sangat puas 37%), dan Wujud / nyata (sangat puas 40%). Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tunggu dengan 4 dimensi kepuasan pasien diataranya variabel kenyataan (p-value=0.003), empati (p- value=0,007), ketanggapan (p-value=0.019) serta jaminan (p-value=0.008).

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK BIDAKARA MEDICAL CENTER JAKARTA SELATAN

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2 membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat (9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%) dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).

INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MEMPENGARUHI TEKANAN DARAH DI INSTALASI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit (toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%). Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X SUKABUMI

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) dan obat non anti tuberkulosis (Non OAT) dalam penggunaanya dilakukan dalam waktu bersamaan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan OAT dan Non OAT. Potensi terjadinya interaksi obat antar OAT, antar OAT dengan Non OAT dan antar Non OAT dalam peresepan pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Sukabumi. Jenis penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan deskriptif dan bersifat retrospektif. Pengambilan data berdasarkan data resep elektronik pasien ditinjau secara teoritis dari studi literatur Drugs Interaction Checeker. Terdapat 95 sampel pasien TB paru. Jenis kelamin terbanyak adalah Laki-laki (66,3%). Usia pasien terbanyak rentang usia 26-35 tahun (dewasa awal) (27,4%). Jenis OAT terbanyak digunakan adalah rifampisin (30,6%), dan isoniazid (30,6%). Jenis Non OAT terbanyak digunakan adalah golongan obat vitamin dan suplemen (27,8%). Terdapat (56,6%) obat yang mengalami potensi interaksi, dan (43,4%) tidak mengalami potensi interaksi. Potensi interaksi obat antar OAT terbanyak yaitu interaksi pada rifampisin dengan isoniazid (44,2%), dan rifampisin dengan pyrazinamide (27,8%) dengan level keparahan terbanyak Major (72,1%). Potensi interaksi obat antar OAT dan Non OAT terbanyak yaitu interaksi pada isoniazid dengan paracetamol (51,7%) dengan level keparahan terbanyak Moderate (55,8%). Sedangkan potensi interaksi obat antar Non OAT terbanyak yaitu interaksi pada methylprednisolon dengan salbutamol (28,6%) dengan level keparahan terbanyak Minor (38,1%).

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA DEMAM TIFOID ANAK DI KLINIK DENTI SARI KABUPATEN BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Pada perkiraan tahun 2019, terdapat 9 juta kasus demam tifoid setiap tahunnya, yang mengakibatkan sekitar 110.000 kematian per tahun. Risiko tifoid lebih tinggi terjadi pada populasi yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai, dan anak-anak mempunyai risiko paling tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil pasien, melihat gambaran penggunaan antibiotik dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari Januari – Juli 2023, meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pengambilan data secara retrospektif pada rekam medik dan resep anak yang terdiagnosa demam tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari-Juli 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 96. Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik pasien demam tifoid anak di Klinik Denti Sari Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki sebanyak 57 pasien (58,38%), usia terbanyak pada pasien demam tifoid adalah pada usia 5-11 tahun sebanyak 43 pasien (44,79%). Adapun berdasarkan berat badan lebih banyak yang memiliki berat badan normal sebanyak 38 pasien (39,59%). Berdasarkan gambaran penggunaan antibiotik didapatkan hasil penggunaan antibiotik terbanyak adalah Cotrimoxazole (Sulfametoxazole-Trimethoprim) sebanyak 41 pasien (42,71%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada demam tifoid anak untuk tepat pasien sebanyak 96 pasien (100%), tepat indikasi sebanyak 96 pasien (100%), pada tepat obat sebanyak 96 pasien (98,97%), pada tepat dosis sebanyak 14 pasien (14,58%), tepat frekuensi sebanyak 83 pasien (86,46%) dan tepat lama pemberian antibiotik sebanyak 96 pasien (100%) tidak tepat.