Profil penulis
SITI MARIAM
103 karya publik ditemukan.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE PEDIATRI RAWAT INAP DENGAN METODE GYSSENS DI RSUD CIAWI BOGOR
AKTIVITAS ANTIPIRETIK KOMBINASI INFUSA DAUN KEMANGI (Ocimum americanum L) DAN KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa sinensis L) TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI PEPTON
Demam adalah mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh melebihi suhu normal yaitu 37,5°C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat penurun demam seperti parasetamol. Parasetamol bila digunakan dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan efek samping seperti kerusakan hati, sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan obat herbal seperti daun kemangi dan kembang sepatu untuk menurunkan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antipiretik dari kombinasi infusa daun kemangi (Ocimum americanum L) dan kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L) terhadap mencit putih jantan galur Deutschland Denden Yoken (DDY). Penelitian ini terdiri dari 7 kelompok dan tiap kelompok digunakan 4 ekor mencit putih jantan. Masing-masing perlakuan diberi infusa daun kemangi dan kembang sepatu serta kombinasinya dengan volume 1 ml. Hewan uji diinduksi demam menggunakan pepton sebanyak 0,2 ml secara intraperitoneal. Pengukuran suhu tubuh hewan uji menggunakan termometer digital tiap 30 menit hinggam 180 menit. Hasil penelitian menunjukkan infusa daun kemangi dan kembang sepatu serta kombinasi dengan perbandingan (1:1) (1:2) dan (2:1) pada menit ke 180 masing-masing menunjukkan ∆t yaitu 2,3°C, 1,8°C, 1,8°C, 2,1°C, dan 2,7°C, yang berarti memiliki aktivitas antipiretik terhadap mencit putih jantan. Serta pada kombinasi infusa (2:1) menunjukkan aktivitas antipiretik yang sama seperti parasetamol yaitu 2,7°C.
GAMBARAN POLA PENGOBATAN PADA PASIEN MULTI DRUG RESISTANCE TUBERCULOSIS (MDR – TB) DAN TINGKAT KEBERHASILAN DI RS PARU DR. M. GOENAWAN PARTOWIDIGDO
Multi Drug Resistance tuberculosis (MDR – TB) adalah keadaan dimana bakteri Mycobacterium tuberculosis resistan obat terhadap minimal 2 obat antituberkulosis yaitu INH dan Rifampisin secara bersama atau disertai resisten terhadap OAT lini pertama seperti etambutol, streptomisin dan pirazinamid. Desain penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan mengambil data yang diperoleh dari data rekam medis pasien secara retrospektif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adannya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Data anilisis secara deskriptif ini nantinya akan menghasilkan distribusi dan presentase dari setiap variabel dan disajikan dalam bentuk narasi, tabel dan diagram. Sampel yang di ambil sebanyak 139 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien MDR-TB paling banyak perempuan (51,1%), usia terbanyak 36-44 tahun (25,2%), Pendidikan terbanyak SD (39,6%), Pekerjaan terbanyak ibu rumah tangga (32,4%). Terapi yang digunakan pasien MDR- TB terbanyak terapi individual (72,7%) dengan regimen Z – E – Km – Lfx – Eto – Cs – B6 (28,1%). Lama pengobatan terbanyak 21- 24 bulan (21,3%). Efek samping obat yang terjadi sebayak 91,4% dengan efek samping terbanyak adalah mual muntah ringan (87 %). Kepatuhan berobat sebanyak (92,8%). Hasil terapi adalah sembuh (62,6%).
ANALISIS PERENCANAAN PENGADAAN OBAT PSIKOTROPIKA DAN NARKOTIKA BERDASARKAN ANALISIS ABC INDEKS KRITIS DI RSUD CIAWI
Perencanaan merupakan kegiatan pertama yang akan dilaksanakan guna menentukan keberhasilan kegiatan selanjutnya. Tujuan dari perencanaan tersebut untuk memperkirakan jenis dan jumlah obat yang mendekati permintaan, meningkatkan permintaan obat secara wajar, dan meningkatkan efisiensi penggunaan obat. Analisis indeks kritis digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana dengan mengelompokkan sediaan psikotropika dan narkotika berdasarkan dampaknya pada kesehatan. Nilai Indeks Kritis (NIK) dikelompokan dalam kriteria A dengan NIK 9,5 – 12, kelompok B dengan NIK 6,5 – 9,4, dan kelompok C dengan NIK 4 – 6,4. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kesesuaian perencanaan terhadap pengadaan obat psikotropika dan narkotika di RSUD Ciawi periode Januari – Desember 2020. Desain penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif. Pada hasil analisis ABC Indeks Kritis dari 61 item yang terdiri dari 47 item sediaan psikotropika dan 14 item sediaan narkotika. Pada Sediaan Psikotropika diperoleh kelompok A dengan NIK 9,5 – 12 : 5 item (10,64%), kelompok B dengan NIK 6,5 – 9,4 : 27 item (57,45%), kelompok C dengan NIK 4 - 6,4 : 15 item (31,91%). Pada sediaan Narkotika diperoleh kelompok A dengan NIK 9,5 -12 : 1 item (7,14%), kelompok B dengan NIK 6,5 – 9,4 : 7 item (50,00 %), dan kelompok C dengan NIK 4 – 6,4 : 6 item (42,86%).
TOKSISITAS SEDIAAN INFUSA KOMBINASI DAUN KEMANGI (Ocimum tenuiflorum L.) DAN BUNGA KEMBANG SEPATU (Hybiscus rosa-sinensis L.) DENGAN METODE Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
Daun kemangi memiliki khasiat sebagai obat antipiretik, memperbaiki pencernaan, encok, urat syaraf dan sebagainya. Sedangkan bunga kembang sepatumemiliki khasiat untuk menurunkan panas, infeksi saluran kencing, batuk berdahak, mimisan, dll. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji toksisitas teh daun kemangi dan teh kembang sepatu, serta kombinasinya, dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Infusa daun kemangi dan bunga kembang sepatu di uji fitokimia nya. Dilakukan uji toksisitas daun kemangi dan bunga kembang sepatu serta kombinasinya menggunakan metode BSLT untuk mendapatkan nilai LC50. Hasil penelitian menunjukkan daun kemangi mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. sedangkan bunga kembang sepatu mengandung metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Infusa daun kemangi memiliki nilai LC50 sebesar 1584,362 ppm, LC50 infusa bunga kembang sepatu sebesar 165,196 ppm, LC50 infusa kombinasi daun kemangi dan bunga kembang sepatu 1:1 sebesar 1119,383 ppm, kombinasi 1:2 sebesar 1146,783 ppm, kombinasi 2:1 sebesar 1180,189 ppm. Dengan demikian Kombinasi daun kemangiserta kombinasinya termasuk dalam kategori non toksik yang tidak berpotensi potensi sebagai antikanker, sedangkan untuk infusa bunga kembang sepatu termasuk kedalam kategori toksik sehingga memiliki potensi sebagai obat anti kanker.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK YANG DI RAWAT INAP DI RS AZRA DENGAN METODE GYSSENS
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Thypi, penyakit tifus merupakan masalah kesehatan di daerah tropis terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Gejala umum pada pasien demam tifoid adalah gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang tenggorokan. Antibiotik yang digunakan pada pasein demam tifoid yaitu kloramfenikol, ampisilin, kotrimoksasol, sefriakson dan sefiksim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak di Rawat Inap RS Azra berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan data sosiodemografi pasien demam tifoid anak paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 49 pasien dengan presentase (58,33%) dan pada rentang usia 0-5 tahun sebanyak 47 pasien dengan presentase (55,95%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid anak di RS Azra adalah seftriakson dengan presentase (82,14%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid anak yang di rawat di RS Azra dalam kategori 0 yaitu penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional mendapat nilai presentasi tertinggi sebesar 58,33%, kategori IIIB 29,77%, kategori IVB 7,14%, kategori IIIA 3,57%, dan kategori IVA 1,19%.
AKTIVITAS ANALGESIK KOMBINASI INFUSA DAUN JAMBU BIJI BERDAGING MERAH (Psidium guajava L.) DAN DAUN KEMANGI (Ocimum americanum L.) TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN
Analgesik merupakan suatu obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengurangi dan menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Penggunaan obat tradisional digunakan untuk menjaga kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan tanaman tradisional yang relatif lebih aman dari efek samping yang merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas analgesik dari perbandingan konsentrasi daun jambu biji berdaging merah (Psidium guajava L.) dan daun kemangi (Ocimum americanum L.) serta kombinasi keduanya terhadap mencit putih jantan galur (Deutschen Denken Yoken) yang diinduksi asam asetat 0,7% v/v sebagai perangsang nyeri. Dalam penelitian ini digunakan metode geliat (Writhing Test Reflex) pada mencit putih jantan 28 ekor dalam 7 kelompok dengan konsentrasi yang digunakan pada masing-masing infusa daun jambu biji dan daun kemangi yaitu 20%, kombinasi infusa perbandingan 1:1, 1:2 dan 2:1, serta serbuk aspirin 1,3 mg/gr BB (65 mg/Kg BB) sebagai kontrol positif. Skripsi menunjukkan bahwa masing-masing pemberian infusa tunggal serta kombinasinya memiliki aktivitas analgesik, kombinasi infusa perbandingan 2:1 memiliki aktivitas analgesik terbaik dalam penurunan jumlah geliat terhadap mencit putih jantan dengan presentase proteksi sebesar 63,80% dan presentase efektivitas tertinggi yaitu 92,92% yang mendekati kontrol positif.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS OBAT DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD CIAWI
Penyakit dispepsia di RSUD Ciawi cukup banyak. Dispepsia yang dialami pasien dikarenakan pola makan yang tidak teratur dan penyakit saluran pencernaan seperti maag yang telah diderita sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sesiodemografi pasien rawat inap di RSUD Ciawi dan membandingkan efektifitas obat dispepsia pada pasien rawat inap yang menderita dispepsia berdasarkan lama hari rawat inap. Penelitian ini bersifat restropektif observasional. Pengambilan data untuk gambaran sesiodemografi dan lama rawat inap melalui rekam medis pasien instalasi rawat inap di RSUD Ciawi periode Januari-Desember 2020. Terdapat 96 pasien yang memenuhi kriteri penelitan dan didapatkan data sesiodemografi pasien seperti jenis kelamin, usia, pendidikan dan pekerjaan pasien. Data dianalisa statistik dalam bentuk tabel dan diagram. Obat yang digunakan pasien dispepsia adalah Antagonis Reseptor H2 (28,10%), PPI (39,60%), PPI + Antagonis Reseptor H2 (2,10%), PPI + Sitoproktetif (19,80%), PPI + Sitoproktetif + Antasida (1%), PPI + Sitoproktetif + Prokinetik (1%), PPI + Sitoproktetif + Antagonis Reseptor H2 (3,10%), Antagonis Reseptor H2 + Sitoproktetif (5,20%). Lama rawat inap pasien dispepsia yang menggunakan Antagonis Reseptor H2 (3,11 hari), PPI (3,89 hari), PPI + Antagonis Reseptor H2 (1,50 hari), PPI + Sitoproktetif (3,68 hari), PPI + Sitoproktetif + Antasida (3 hari), PPI + Sitoproktetif + Prokinetik (2 hari), PPI + Sitoproktetif + Antagonis Reseptor H2 (4,33 hari), Antagonis Reseptor H2 + Sitoproktetif (3,80 hari). Hasil efektifitas obat dispepsia yang digunakan pada pasien rawat inap di RSUD Ciawi pada periode Januari-Desember 2020 tidak terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan lama hari rawat dengan nilai P- Value 0,273 pada uji kruskal wallis.
KESESUAIAN PENATALAKSANAAN TERAPI PASIEN HEPATITIS B DI RSUD CIAWI BOGOR
Hepatitis B adalah kelainan hati berupa peradangan hepar atau sel-sel hati yang merupakan penyakit dengan endemisitas tinggi di Indonesia. Hepatitis B dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati bila tidak mendapat pengobatan yang tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi terapi yang diberikan kepada pasien hepatitis B meliputi obat, dosis, frekuensi serta profil pasien dan profil pengobatan pasien di RSUD Ciawi Bogor. Metode penelitian berupa observasional deskriptif potong lintang, pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui 86 rekam medis rawat jalan periode 2019-2020 berusia 17-65 tahun. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu, terapi antiviral (52,32%) menggunakan lamivudin, terapi hepatoprotektor yaitu curcuma (72,09%), terapi simtomatik ondansentron (45,35%), terapi supportif asam folat (9,30%). Kesesuaian obat yang diberikan (93,33%) sesuai, kesesuaian dosis (100%) sesuai, kesesuaian frekuensi (100%) sesuai.
AKTIVITAS ANALGESIK KOMBINASI INFUSA DAUN RANTI (Solanum nigrum L) DAN DAUN PEPAYA (Carica papaya) TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI ASAM ASETAT
Nyeri merupakan masalah umum yang sering dirasakan oleh masyarakat sehingga masyarakat berupaya mencari pereda rasa nyeri (analgesik). Daun ranti dan daun pepaya mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas analgetik kombinasi dari infusa daun ranti (Solanum nigrum L) dan infusa daun pepaya (Carica papaya) terhadap mencit putih jantan yang diinduksi asam asetat. Kandungan senyawa daun ranti dan daun pepaya ditetapkan dengan pengujian fitokimia. Konsentrasi yang digunakan untuk masing-masing infusa daun ranti dan infusa daun papaya adalah 8% dan konsentrasi kombinasi infusa yang digunakan dengan perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1. Mencit yang digunakan pada uji ini sebanyak 28 ekor yang dibagi menjadi 7 kelompok perlakuan uji. Penurunan nyeri pada mencit digunakan metode geliat writhing. Hasil uji fitokimia menunjukan bahwa daun ranti memiliki kandungan senyawa flavonoid, saponin, tanin, steroid sedangkan pada daun pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Hasil perlakuan menunjukkan efek analgetik pada infusa daun papaya 8% sebesar 66% lebih besar dari infusa daun ranti 8% sebesar 59% . Pada kombinasi infusa 1:3 sebesar 61% lebih tinggi dari kombinasi infusa 3:1 sebesar 49% dan pada kombinasi infusa 1:1 sebesar 29%. Pada kombinasi infusa 1:3 memiliki efek analgetik yang paling terbaik karena mendekati kontrol positif 67% namun tidak lebih baik dari infusa tunggalnya.
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF EKSTRAK ETANOL BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) DAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) SERTA KOMBINASINYA
Buah pepaya merupakan buah yang mengandung senyawa antioksidan tinggi antara lain vitamin C, polifenol dan β-karotena. Lidah buaya diantaranya mengandung senyawa flavonoid dan saponin yang berfungsi untuk melembabkan kulit dan membuat kulit tidak cepat kering. Masker gel peel off adalah salah satu jenis masker wajah yang penggunaannya dapat dengan mudah dilepas seperti membran elastis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol buah pepaya dan ekstrak etanol lidah buaya, membuat formulasi sediaan masker gel peel off dan menguji sediaan yang memiliki mutu fisik yang baik. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% disimpan 3 x 24 jam lalu diuapkan menjadi ekstrak kental. Setelah didapat ekstrak kental dilakukan uji fitokimia. Hasil uji fitokimia ekstrak etanol buah pepaya dan ekstrak etanol lidah buaya terdapat senyawa alkaloid dan polifenol. Dibuat formulasi sediaan masker dengan konsentrasi ekstrak etanol buah pepaya 2,5%, ekstrak etanol lidah buaya 2,5%, perbandingan 1:1, 1:2 dan 2:1. Dilakukan evaluasi sediaan yaitu uji organoleptik, homogenitas, daya sebar, pH, waktu mengering dan uji iritasi. Setelah dilakukan evaluasi sediaan memiliki bentuk setengah padat, bau khas serta berwarna coklat dan hijau. Homogen dengan tidak ada gumpalan dan tidak terdapat butiran kasar. Daya sebar sebesar 5,1 cm sampai 6,5 cm. pH sebesar 4,9 sampai 5,2. Waktu mengering 22,23 menit sampai 25,38 menit dan tidak menimbulkan iritasi. Kelima formula sediaan masker gel peel off memenuhi mutu fisik yang baik. Hasil terbaik terdapat pada formula II (masker dengan bahan aktif ekstrak etanol lidah buaya 2,5%) dengan nilai pH sebesar 5,2 dan waktu mengering selama 22,23 menit. Serta pada formula III (masker dengan bahan aktif kombinasi ekstrak etanol buah pepaya dan ekstrak etanol lidah buaya perbandingan 1:1) dengan daya sebar sebesar 6,5 cm.
ANALISIS KESESUAIAN PENULISAN RESEP PADA PASIEN JKN RAWAT JALAN TERHADAP FORMULARIUM NASIONAL DI DEPO FARMASI REGULER RUMAH SAKIT PMI BOGOR
EVALUASI PENATALAKSANAAN TERAPI PERDARAHAN PASCA PERSALINAN DI RUMAH SAKIT MARY CILEUNGSI HIJAU BOGOR
PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI YANG MENGGUNAKAN OBAT AMLODIPINE DAN CANDESARTAN PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD SEKARWANGI
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan didunia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode. Menurut Word Health Organizations (WHO) batasan normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg, sedangkan seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg. Batasan WHO tersebut tidak membedakan usia atau jenis kelamin. Penelitian bertujuan untuk membandingkan penurunan tekanan darah obat anti hipertensi amlodipine dan candesartan pada pasien hipertensi berdasarkan lama penggunaan obat terhadap outcome terapi, yaitu lama penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik di RSUD Sekarwangi. Desain penelitian yang dipilih obsevasi dan pengambilan data dilakukan secara cross-sectional dari data retrospektif pada pasien hipertensi rawat inap. Data yang dikumpulkan adalah rekam medik dan resep penderita hipertensi rawat inap dari bulan Januari- Desember 2019. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 128 sampel. Hasil penelitian diperoleh data pada pasien perempuan (55%), usia 56-65 tahun (40%), pendidikan SD (55%), status pekerjaan tidak bekerja (50%). Obat yang digunakan paling banyak amlodipine (93%). Lama rawat paling lama 4 hari (30%), dan 5 hari (30%). Rata-rata penurunan TD obat amlodipine untuk TD Sistol 64,07, diastolik 63,96 mmHg untuk candesartan TD sistol 70,17, dan diastolik 71,61. Berdasarkan uji statistik , uji Mann Whitney dengan nilai α 0,005, diperoleh nilai untuk sig sitolik 0,634, dan diastolik 0,546. Penurunan tekanan darah menggunakan obat antihipertensi yaitu amlodipine dan candesartan yang digunakan pada pasien hipertensi di rawat inap Di RSUD Sekarwangi periode Januari-Desember 2019 tidak berbeda nyata. Dari uji normalitas Mann-whitney test. Disimpulkan bahwa setelah 1-7 hari menjalani terapi, tekanan darah sitolik : 0,634 dan diastolik : 0,546 pasien yang mendapatkan amlodipine dan candesartan tidak berbeda nyata.
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK n-HEKSANA, ETIL ASETAT DAN ETANOL 70% DAUN KAKTUS CENTONG (Optuntia cochenillifera) TERHADAP UDEMA KAKI TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)
Inflamasi adalah suatu respon protektif tubuh terhadap cedera. Ditandai dengan adanya warna merah, panas serta nyeri akibat udema. Salah satu tanaman yang digunakan untuk pengobatan inflamasi yaitu daun kaktus centong. Daun kaktus centong mengandung flavonoid, alkaloid, dan saponin . Penelitian ini menggunakan tanaman daun kaktus centong (Optuntia cochenillifera) dengan tujuan untuk mengetahui ekstrak yang mempunyai aktivitas sebagai antiinflamasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tikus putih jantan sebanyak 24 ekor yang dibagi menjadi 8 kelompok. Yang terdiri dari kelompok CMC-Na (kontrol negatif), natrium diklofenak (kontrol positif), dan perlakuan ekstrak n- heksana dengan dosis 0,5g/kg BB, 1g/kg BB, ekstrak etil asetat dengan dosis 0,5g/kg BB, 1g/kg BB, dan ekstrak etanol 70% dengan dosis 0,5g/kg BB, 1g/kg BB diberikan secara oral. Telapak kaki tikus disuntikkan karagenin 1% untuk memicu inflamasi. Volume udema diukur dengan menggunakan alat plestimometer setiap 1 jam sekali selam 6 jam. Data dianalisis secara statistik (ANOVA). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% dengan dosis 1gr/kg BB (inhibisi : 68,212%) dan ekstrak etil asetat dengan dosis 1gr/kg BB (inhibisi : 52,77%) mempunyai efek antiinflamasi dengan persentase inhibisi diatas 50% dan adanya perbedaan bermakna pada pemberian ekstrak etanol 70% dan ekstrak etil asetat dengan kontrol negatif dan tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif.