BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang
melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian
bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan
menyerang apabila ketahanan tubuh (immunitas) menurun. Dalam
penatalaksanaan ISPA balita yang menjalani pengobatan akan berdampak
munculnya masalah dalam pemberian obat obat Drug Related Problems (DRPs)
di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Azra Bogor pada periode 1 Januari 2019
sampai 31 Maret 2020. Dengan teknik pengumpulan data secara retrospektif dan
dianalisi secara deskriktif, metode yang dipakai menggunakan rumus Slovin dan
didapat sampel sebanyak 109 sampel pasien dengan rentan 0-5 tahun. Hasil
pengumpulan dan pengolahan data menunjukan bahwa pasien di Rumah Sakit
Azra Bogor Jenis kelamin laki-laki 60 pasien dan perempuan 49 pasien. Terapi
obat yang banyak diterima oleh penderita ISPA adalah obat tremenza,
triamcinolon, ketotifen, paracetamol, salbutamol. Sedangkan obat lain yang
digunakan bersamaan dengan obat ISPA untuk terapi ISPA adalah antibiotik.
Hasil evaluasi menunjukan DRPs, yaitu interaksi obat 94 pasien, terapi tanpa
indikasi 18 pasien, indikasi tanpa terapi 4 pasein, overdosis 6 pasien, dosis
subterapeutik 8 pasien, pemilihan obat yang kurang tepat 0 pasien, reaksi obat
yang dikehendaki 0 Pasien, kegagalan menerima obat 2 pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi saluran
pernapasan akut yang menyerang saluran pernapasan bagian atas dan saluran
pernapasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis angka kejadian DRP pada
penatalaksanaan pasien ISPA di Klinik Azka Kecamatan Cicurug Sukabumi.
Penelitian ini bersifat retrospektif dilakukan dengan menggunakan data yang
dikumpulkan dari rekam medis pasien ISPA di Klinik Azka Kecamatan Cicurug
Sukabumi periode Juni – Agustus 2021 menggunakan metode deskriptif dan
analisis dengan menggunakan klasifikasi DRP menurut Pharmaceutical Care
Practice : The Clinician’s Guide yang telah dimodifikasi yaitu dosis rendah, dosis
tinggi, obat tanpa indikasi dan indikasi tanpa obat. Hasil penelitian menunjukan
bahwa Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi adalah dosis rendah sebanyak
18,19%, dosis tinggi sebanyak 33,33%, obat tanpa indikasi sebanyak 48,48% dan
indikasi tanpa obat sebanyak 0%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa telah
terjadi Drug Related Problems (DRPs) pada pengobatan infeksi saluran pernapasan
akut terhadap pasien anak di Klinik Azka Kecamatan Cicurug Sukabumi periode
Juni – Agustus 2021.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Menurut KEMENKES RI tahun 2018, penyakit diare merupakan penyakit
endemis dan juga merupakan penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa
(KLB) disertai dengan kematian. Pengobatan diare pada anak dapat menimbulkan
Drug Related Problems (DRP’s). DRP’s yaitu kejadian yang sangat tidak
diinginkan oleh pasien terkait terapi obat, yang secara nyata ataupun potensial
berpengaruh pada outcome yang diinginkan oleh pasien. Penelitian ini dilakukan
di Puskesmas Cirimekar Cibinong yang bertujuan untuk mengevaluasi ada atau
tidaknya kejadian DRP’s pada pasien pediatri yang menderita diare. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif observasional . Data yang digunakan adalah data
sekunder yang diambil dari rekam medis dan resep pasien diare pada anak.
Berdasarkan hasil penelitian dari sejumlah sampel 119 resep diperoleh kejadian
DRP’s sebanyak 25 kasus diantaranya kejadian DRP’s terbanyak yaitu pada dosis
subterapeutik 18 kejadian (15,1%), terapi tanpa indikasi 5 kejadian (4,2%),
indikasi tanpa terapi 2 kejadian (1,7%), dan yang tidak mengalami DRP’s yaitu
interaksi obat dan over dosis sebanyak 94 kejadian (79%). Profil penggunaan obat
yang paling banyak digunakan di Puskesmas Cirimekar Cibinong yaitu Zink
sebanyak 112 pasien (94,11%).
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Drug Related Problems (DRP’s) merupakan kejadian yang tidak
diinginkan yang menimpa penderita dengan terapi obat. Dalam pemberian terapi
obat kepada penderita seorang farmasis diharapkan dapat mengidentifikasi
masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat DRP’s baik yang telah
terjadi atau berpotensi terjadi. Identifikasi DRP’s dalam pengobatan penting
dalam rangka mengurangi kematian serta biaya terapi. Beberapa jenis masalah
yang berhubungan dengan obat yaitu adanya penyakit yang tidak terobati, adanya
obat yang tidak memiliki indikasi, adanya obat dengan dosis yang tidak tepat,
penggunaan obat yang tidak tepat waktu, dan terjadi Advere Drug Reaction
(ADR) seperti efek samping, keracunan, reaksi alergi makanan. Telah dilakukan
penelitian pada Penderita Pasien Kanker Payudara yang menjalani Kemoterapi Di
RSUD Kota Bogor yang bertujuan untuk mengevaluasi ada atau tidaknya kejadian
DRP’s, penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan kejadian DRP’s yang
dievaluasi sebanyak 100 pasien yang memenuhi kategori inklusi. Hasil evaluasi
menunjukan 40 kasus yang meliputi diantaranya DRP’s terbanyak terjadi pada
kasus interaksi obat yaitu sebesar 20 kejadian (20%), kemudian Drug Related
Problems (DRP’s) juga terjadi pada kasus terapi tanpa indikasi sebanyak 10
kejadian (10 %), over dosis sebanyak 9 kejadian (9%), dan dosis subterapetik 1
kejadian (1 %).