BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyakit dispepsia di RS PMI Bogor cukup banyak. Dispepsia yang
diderita pasien lebih sering dikarenakan pola makan dan pola hidup yang tidak
baik serta penyakit maag yang telah diderita pasien sebelumnya. Tujuan penelitian
mengetahui efektivitas obat dispepsia yang digunakan pada pasien rawat inap
berdasarkan lama hari rawat. Pengambilan data secara retrospektif. Pada data
rekam medik pasien dispepsia yang dirawat inap sesuai dengan kriteria inklusi
yang terhitung mulai dari Januari 2020 – Desember 2021 di RS PMI Bogor.
Sebanyak 100 pasien penderita dispepsia yang telah memenuhi kriteria penelitian.
Hasil penelitian diperoleh data pasien pada jenis kelamin perempuan sebanyak
69%, rata-rata usia pasien dispepsia 36-45 tahun (53%), rata-rata pendidikan
SMA/SMK sebanyak 20% dan Sarjana sebanyak 20%, pada pekerjaan yaitu ibu
rumah tangga sebanyak 34%. Obat yang digunakan pada pasien dispepsia serta
rata-rata lama hari rawat ada 8 jenis obat tunggal dan kombinasi yaitu Sukralfat
1% (4,00 hari), Sukralfat + Esomeprazole 1% (4,00 hari), Sukralfat +
Pantoprazole 2% (4,00 hari), Sukralfat + Omeprazole 56% (3,53 hari),
Omeprazole 35% (3,22 hari), Sukralfat + Omeprazole + Ranitidin 1% (3,00
hari).Antasida + Omeprazole 2% (2,50 hari), Ranitidin + Sukralfat 1% (2,00 hari).
Efektifitas kombinasi obat dispepsia yang digunakan pada pasien rawat inap di RS
PMI Bogor pada periode bulan Januari 2020 sampai Desember 2021 tidak
berbeda nyata berdasarkan lama hari rawat dengan nilai p = 0,753 pada uji
Kruskal-wallis.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Dispepsia merupakan gangguan saluran pencernaan atas terutama dibagian
epigastrium meliputi rasa mual atau muntah, perut kembung, sendawa dan perut
terasa penuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sosiodemografi pasien
dispepsia rawat inap RSUD Kota Depok serta membandingkan lama rawat inap
pasien yang menggunakan obat dispepsia. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif observasional secara retrospektif melalui rekam medis pasien dispepsia
periode Januari-Desember 2019. Terdapat 97 pasien yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi. Data disajikan dalam bentuk diagram maupun grafik. Obat
tunggal yang paling banyak digunakan adalah PPI (24%). Obat Kombinasi yang
paling banyak digunakan adalah PPI + Antasida (21%). Obat tunggal yang
digunakan berdasarkan lama rawat inap pasien dispepsia paling cepat adalah
Antasida (3,3 hari) dan paling lama PPI (3,87 hari). Sedangkan obat kombinasi
paling cepat adalah Antagonis Reseptor H2 + Sitoprotektif (3,5 hari) dan paling
lama PPI + Prokinetik + Sitoprotektif (6 hari), PPI + Antasida + Prokinetik (6 hari),
Antasida + Antagonis Reseptor H2 + Sitoprotektif (6 hari). Hasil perbandingan
lama rawat inap pada pasien yang menggunakan obat dispepsia Januari-Desember
2019 tidak terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan lama hari rawat dengan
P-Value 0,253 pada uji Kruskal-Wallis.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Penyakit dispepsia di RSUD Ciawi cukup banyak. Dispepsia yang dialami
pasien dikarenakan pola makan yang tidak teratur dan penyakit saluran
pencernaan seperti maag yang telah diderita sebelumnya. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui sesiodemografi pasien rawat inap di RSUD Ciawi
dan membandingkan efektifitas obat dispepsia pada pasien rawat inap yang
menderita dispepsia berdasarkan lama hari rawat inap. Penelitian ini bersifat
restropektif observasional. Pengambilan data untuk gambaran sesiodemografi dan
lama rawat inap melalui rekam medis pasien instalasi rawat inap di RSUD Ciawi
periode Januari-Desember 2020. Terdapat 96 pasien yang memenuhi kriteri
penelitan dan didapatkan data sesiodemografi pasien seperti jenis kelamin, usia,
pendidikan dan pekerjaan pasien. Data dianalisa statistik dalam bentuk tabel dan
diagram. Obat yang digunakan pasien dispepsia adalah Antagonis Reseptor H2
(28,10%), PPI (39,60%), PPI + Antagonis Reseptor H2 (2,10%), PPI +
Sitoproktetif (19,80%), PPI + Sitoproktetif + Antasida (1%), PPI + Sitoproktetif +
Prokinetik (1%), PPI + Sitoproktetif + Antagonis Reseptor H2 (3,10%), Antagonis
Reseptor H2 + Sitoproktetif (5,20%). Lama rawat inap pasien dispepsia yang
menggunakan Antagonis Reseptor H2 (3,11 hari), PPI (3,89 hari), PPI +
Antagonis Reseptor H2 (1,50 hari), PPI + Sitoproktetif (3,68 hari), PPI +
Sitoproktetif + Antasida (3 hari), PPI + Sitoproktetif + Prokinetik (2 hari), PPI +
Sitoproktetif + Antagonis Reseptor H2 (4,33 hari), Antagonis Reseptor H2 +
Sitoproktetif (3,80 hari). Hasil efektifitas obat dispepsia yang digunakan pada
pasien rawat inap di RSUD Ciawi pada periode Januari-Desember 2020 tidak
terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan lama hari rawat dengan nilai P-
Value 0,273 pada uji kruskal wallis.