Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Siti Mariam

103 karya publik ditemukan.

2026: 112025: 212024: 32023: 372022: 202021: 42020: 22018: 5

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU SWAMEDIKASI OBAT ANALGESIK ANTIPIRETIK DI MASYARAKAT KELURAHAN GUNUNG BATU KECAMATAN BOGOR BARAT

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Swamedikasi adalah praktik dimana individu mengobati diri sendiri tanpa perlu bantuan atau resep dokter. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat. Analgesik antipiretik adalah jenis obat yang memiliki dua fungsi utama yaitu analgesik untuk meredakan rasa sakit dan antipiretik untuk menurunkan demam. Pengetahuan menjadi dominan paling penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, maka dari itu perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan bertahan lama dibandingkan perilaku yang tidak didasari ilmu pengetahuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran sosiodemografi, tingkat pengetahuan, perilaku, dan hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku masyarakat Kelurahan Gunung Batu Kecamatan Bogor Barat pada bulan Oktober tahun 2022. Pendekatan dalam penelitian ini yaitu jenis penelitian deskriptif observasional menggunakan data prospektif berdasarkan kuisioner. Sosiodemografi di dominasi 58,76% oleh perempuan, 38,94% usia 26-35 tahun, 49,15% pendidikan SMA, dan 37,29% pekerjaan IRT. Tingkat pengetahuan swamedikasi termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 59,66%, kategori cukup dengan persentase sebesar 32,95%, dan kategori kurang dengan persentase sebesar 7,39%. Perilaku swamedikasi termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 48,30%, kategori cukup dengan persentase sebesar 28,98%, dan kategori kurang dengan persentase sebesar 23,30%. Hasil analisis Spearman Rho menunjukan bahwa nilai sig 0,00 < 0,05, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi dengan korelasi sebesar 0,570 dimana hasil ini memiliki hubungan dengan kategori sedang.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN PADA ANAK PENDERITA TUBERKULOSIS DI APOTEK CIMAYA CIANJUR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis adalah infeksi kronis pada saluran pernafasan bagian bawah yang dapat menular, dan disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukungnya dalam kepatuhan pengobatan anak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi orang tua pasien yang terdiri dari usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan, gambaran tingkat pengetahuan orang tua pasien, kepatuhan orang tua pasien pada pengobatan penderita tuberkulosis anak, dan hubungan tingkat pengetahuan orang tua pasien dengan tingkat kepatuhan pengobatan pada anak penderita tuberkulosis di Apotek Cimaya Cianjur periode Februari - April 2024. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan deskriptif. Data primer ini diambil dengan menggunakan metode secara prospektif. Sampel yang diambil berdasarkan purposive sampling sebanyak 140 sampel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa data sosiodemografi paling banyak usia antara 26-35 tahun (67,9%) 95 sampel, jenis kelamin perempuan (69,29%) 97 sampel, pendidikan sarjana (44,29%) 62 sampel, pekerjaan ibu rumah tangga (41,43%) 58 sampel, tingkat pengetahuan baik (57,86%) 81 sampel, dan tingkat kepatuhan tinggi (47,14%) 66 sampel. Berdasarkan metode Korelasi Spearman terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua pasien dengan tingkat kepatuhan pengobatan pada anak penderita tuberkulosis di Apotek Cimaya Cianjur dengan nilai P Value yaitu sebesar 0,000 dimana p < α (0,05) yang artinya terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua pasien dengan tingkat kepatuhan pengobatan pada anak penderita tuberkulosis.

PERBANDINGAN RATA-RATA PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA PENGGUNAAN OBAT ANTIDIABETES ORAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT X BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 salah satu penyakit yang ditandai dengan adanya kenaikan kadar glukosa dalam darah, insulin tidak bisa membawa glukosa masuk kedalam jaringan karena resistensi insulin, yang ditandai kadar glukosa darah sewaktu ≥200. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien DM 2 meliputi jenis kelamin dan usia, untuk mengetahui perbandingan rata-rata penurunan GDS pada penggunaan obat Antidiabetes oral di Instalasi rawat Inap Rumah Sakit X Bogor. Metode penelitian ini dari prosedur retrospektif menggunakan data rekam medik periode Januari-Desember 2021, dan diolah menggunakan Microsoft Office Excel 2019 dan SPSS versi 26 dengan sample yang diambil dengan total sampling sebanyak 50 pasien, pengujian menggunakan analisis Kruskal Wallis. Hasil penelitian diperoleh data sosiodemografi pasien DM 2 Laki-laki paling banyak sebesar 53% dan usia paling banyak 46-55 tahun 38%, dengan penyakit tanpa penyerta 32 pasien dan dengan penyakit penyerta sebanyak 18 pasien. Obat yang digunakan gologan dengan obat biguanida (metformin) 35 pasien, glimepiride 4 pasien, glibenclamide 1 pasien dan metformin+glimepiride 10 pasien. Penurunan kadar glukosa darah dengan obat tunggal metformin 40%, glimepiride 42%, glibenclamide 5,20% dan penurunan kombinasi metformin+glimepiride 43%, Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan obat antidiabetes oral terhadap penurunan kadar glukosa darah sewaktu dengan nilai p-value 0,422>α 0,05.

AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) DAN DAUN STEVIA (Stevia rebaudiana Bertoni) BESERTA KOMBINASINYA TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA MENCIT PUTIH JANTAN

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Kadar glukosa di dalam darah dikendalikan oleh beberapa mekanisme homeostatik yang dalam keadaan sehat dapat mempertahankan kadar dalam rentang 70 sampai 110 mg/dl dalam keadaan puasa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dan daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni), beserta kombinasinya terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit. Penelitian ini menggunakan hewan percobaan mencit (Mus musculus) yang terdiri dari 7 kelompok. Semua kelompok diinduksi dengan aloksan 150 mg/kgBB. Pada hari ke 3 setelah induksi semua mencit di ukur kadar glukosanya. Mencit yang telah hiperglikemi diberi perlakuan dengan pemberian secara peroral yaitu ekstrak bunga rosella, ekstrak daun stevia, kombinasi ekstrak bunga rosella dari ekstrak daun stevia dengan perbandingan 1:1, 2:1, 3:1 , kontrol positif (Metformin) dan kontrol negatif ( Na-CMC 0,5%) selama 15 hari. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 70% pada bunga rosella dan daun stevia masing-masing mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan tritepernoid. Penurunan kadar glukosa darah puasa mencit yang mendapat ekstrak bunga rosella sebesar (73,04%), ekstrak daun stevia sebesar (74,75%), kombinasi ekstrak bunga rosella dan daun stevia dengan perbandingan 1:1 sebesar (80,08%), 2:1 sebesar (65,95 %), 3:1 sebesar (65,03%)

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA ANAK DI KLINIK KORPRI KOTA BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi di dunia. Demikian pula, ISPA merupakan salah satu penyebab utama rawat jalan atau rawat inap di institusi pelayanan kesehatan, terutama di sektor perawatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien terdiagnosa ISPA anak, gambaran jenis penyakit ISPA anak, gambaran penggunaan obat ISPA, dan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan obat pada pasien ISPA anak meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi, dan tepat lama pemberian dengan panduan Pharmaceutical Care 2005. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deksriptif yang bersifat retrospektif dengan pendekatan cross sectional. Data penelitian ini diambil dari data sekunder berupa data rekam medik pasien, dengan periode Oktober – Desember 2022. Sampel yang diambil sebanyak 104 pasien dengan metode total sampling. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan, rentang usia yang paling banyak 3 – 5 tahun sebanyak (52%), jenis kelamin yang paling banyak laki-laki sebanyak (63%), rentang berat badan terbanyak 13 – 19 kg sebanyak (33%). Jenis ISPA terdapat rhinitis sebanyak (14%), tonsilitis sebanyak (48%), faringitis sebanyak (38%), obat yang paling banyak digunakan amoksisilin sebanyak (76%). Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan obat diperoleh tepat obat 100%, tepat dosis 89,4%, tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian 62,5%.

KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK INSTALASI RAWAT JALAN RS. RST DOMPET DHUAFA KAB. BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Gagal Ginjal (renal atau kidney failure) merupakan kasus penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara akut (kambuhan) maupun kronik (menahun). Gagal kronik gejala awalnya muncul secara bertahap biasanya tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, sehingga penurunan fungsi ginjal tersebut tidak sering dirasakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji ketepatan obat berdasarkan tepat pasien, tepat obat, tepat dosis dan tepat frekuensi, pada pasien rawat jalan penderita gagal ginjal kronik di RS. RST Dompet Dhuafa. Data yang digunakan adalah data rekam medik, dengan data yang diambil meliputi , usia, jenis kelamin dan jenis obat yang digunakan pada pasien rawat jalan penderita gagal ginjal kronik periode Januari – Maret 2022. Data dianalisis dengan menggunakan data deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang ketepatan penggunaan obat pada pasien gagal ginjal kronik di RS. RST Dompet Dhuafa. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Sampel yang diambil sebanyak 103 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukan data sosiodemografi jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 55,3%, usia terbanyak 56-65 tahun 31,1%, berat badan terbanyak 51,60 kg 35%. Distribusi pasien berdasarkan diagnosis penyakit penyerta terbanyak yaitu penyakit hipertensi dengan persentase 72,82%. Evaluasi ketepatan pengobatan berdasarkan tepat pasien diperoleh hasil sebanyak 99%, pada tepat obat sebanyak 98%, pada tepat dosis diperoleh sebanyak 83%, dan tepat frekuensi sebanyak 99%.

ANALISA EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT PREGABALIN DAN GABAPENTIN PADA PASIEN NEUROPATI DIABETIK DI INSTALASI RAWAT JALAN RS. BMC MAYAPADA BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi kronis yang paling sering ditemukan pada penderita diabetes melitus. Neuropati diabetik terjadi karena hiperglikemia serta dapat melukai saraf di seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi, gambaran nyeri neuropati, lokasi nyeri dan perbedaan efektivitas penggunaan obat pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik di instalasi rawat jalan RS BMC Mayapada Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan pengambilan data primer menggunakan kuesioner Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numerical Rating Scale for Pain (NRS Pain), data sekunder diambil dari data rekam medis yaitu no. RM, profil penyakit dan awal peresepan pregabalin dan gabapentin. Kemudian data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan hasil disajikan dengan bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada penggunaan pregabalin didapatkan penurunan skala nyeri dengan rata-rata sebesar 0,87 dan pada penggunaan gabapentin didapatkan penurunan rata-rata sebesar 0,78. Pada hasil ujistatistik U-Mann-Whitney nilai P-value = 0,000 (p<0,05), hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan efektivitas pregabalin dan gabapentin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien neuropati diabetik selama 2 minggu.

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS FAMILY MEDICAL CENTER BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi secara menahun yang disebabkan gangguan pada metabolik ditandai kadar gula dalam darah meningkat. Beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki penyakit penyerta sehingga membutuhkan kombinasi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat pada pasien diabetes melitu tipe 2 pada pasien rawat jalan di RS FMC Bogor periode Januari- Maret 2023. Penelitian merupakan penelitian dekriptif-observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dari data sekunder rekam medis dan resep sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan website drug.com dan Medscape diolah dengan Microsoft excel. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien diabetes melitus tipe 2 terbanyak perempuan (70%) dengan rentang usia 56-65 tahun (41%). Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi (51,92%). Jumlah obat terbanyak adalah 2-3 jenis obat sebanyak (39%). Obat antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak (45,14%) dan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu amlodipine (17,37%). Potensi interaksi terjadi sebanyak 201 kasus, mekanisme terbanyak farmakodinamik (91%) dengan level keparahan moderate (96%). Kejadian interaksi terjadi sebanyak 29 kasus (14,43%) dengan mekanisme farmakodinamik dan level keparahan moderate dan kasus terbanyak pada metformin dengan sucralfate syr sebanyak 6 kasus (20,68%).

PERBANDINGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS DAN NON BPJS TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT FMC BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Kepuasan pasien merupakan sebuah perasaan yang didapatkan pasien setelah pelayanan dilakukan berupa perasaan senang atau kecewa yang didapatkan seseorang. Kepuasan dan Pelayanan adalah dua hal yang saling berkaitan, dimana dengan adanya kepuasan pihak terkait akan mampu memberikan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien BPJS dan non BPJS terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Family Medical Center Bogor. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan mengambil data secara prosfektif menggunakan kuesioner dan bersifat non-eksperimental. Pasien dalam penelitian ini adalah pasien BPJS dan non BPJS rawat jalan yang mendapat obat dari instalasi Rumah Sakit Family Medical Center Bogor periode Agustus 2023. Sampel penelitian sebanyak 365 pasien yang diambil secara purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kategori jenis kelamin tertinggi yaitu perempuan (59%), usia mayoritas 26-35 tahun (34%), pendidikan SMA (40%), dan pekerjaan karyawan swasta (45%). Tingkat kepuasan pasien BPJS dan non BPJS terhadap pelayanan kefarmasian di RS FMC Bogor menunjukan bahwa kategori tingkat kepuasan pada dimensi Penampilan adalah (78,1%), dimensi Empati (76,9%), dimensi Keandalan (76,6%), dimensi Jaminan (76,1%), dan dimensi ketanggapan (75,6%). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan pelayanan kefarmasian pada pasien rawat jalan diinstalasi RS FMC Bogor adalah puas dengan presentase sebanyak (76,7%). Dapat di simpulkan bahwa Pasien Non BPJS lebih puas pelayanannya dibandingkan dengan Pasien BPJS.

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK BIDAKARA MEDICAL CENTER JAKARTA SELATAN

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2 membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat (9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%) dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).

INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MEMPENGARUHI TEKANAN DARAH DI INSTALASI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit (toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%). Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X SUKABUMI

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) dan obat non anti tuberkulosis (Non OAT) dalam penggunaanya dilakukan dalam waktu bersamaan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan OAT dan Non OAT. Potensi terjadinya interaksi obat antar OAT, antar OAT dengan Non OAT dan antar Non OAT dalam peresepan pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Sukabumi. Jenis penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan deskriptif dan bersifat retrospektif. Pengambilan data berdasarkan data resep elektronik pasien ditinjau secara teoritis dari studi literatur Drugs Interaction Checeker. Terdapat 95 sampel pasien TB paru. Jenis kelamin terbanyak adalah Laki-laki (66,3%). Usia pasien terbanyak rentang usia 26-35 tahun (dewasa awal) (27,4%). Jenis OAT terbanyak digunakan adalah rifampisin (30,6%), dan isoniazid (30,6%). Jenis Non OAT terbanyak digunakan adalah golongan obat vitamin dan suplemen (27,8%). Terdapat (56,6%) obat yang mengalami potensi interaksi, dan (43,4%) tidak mengalami potensi interaksi. Potensi interaksi obat antar OAT terbanyak yaitu interaksi pada rifampisin dengan isoniazid (44,2%), dan rifampisin dengan pyrazinamide (27,8%) dengan level keparahan terbanyak Major (72,1%). Potensi interaksi obat antar OAT dan Non OAT terbanyak yaitu interaksi pada isoniazid dengan paracetamol (51,7%) dengan level keparahan terbanyak Moderate (55,8%). Sedangkan potensi interaksi obat antar Non OAT terbanyak yaitu interaksi pada methylprednisolon dengan salbutamol (28,6%) dengan level keparahan terbanyak Minor (38,1%).

EFEK NEKTAR CAIR TERHADAP PERUBAHAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUS HIPERGLIKEMIK

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hiperglikemik adalah keadaan glukosa darah meningkat sampai di atas 200 mg/dl. Nektar ialah cairan manis yang dihasilkan dari kelenjar nektaris tanaman pada bunga, daun, dan batang. Nektar mengandung laktosa, galaktosa, dan fruktosa dalam jumlah sedikit. Nektar juga mengandung ion K+, antioksidan asam askorbat, lipid fenol, dan alkaloid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam nektar cair, perubahan kadar glukosa darah pada tikus dengan dosis nektar cair 0,09 ml/200 gram, 0,18 ml/200 gram, 0,27 ml/200 gram. Tikus diukur kadar glukosa darah normal kemudian diiduksi dengan aloksan sebanyak 120 mg/KgBB. Setelah hari ke-3 tikus diukur kembali kadar glukosa darah kemudian tikus yang sudah memiliki kadar glukosa >200 mg/dl diberikan perlakuan nektar cair dan metformin. Kadar glukosa darah diukur kembali pada hari ke-10 dan 17 setelah pemberian perlakuan. Hasil penelitian menunjukan nektar cair mengandung golongan senyawa kimia alkaloid dan flavonoid. Hasil uji antihiperglikemik menunjukan bahwa nektar cair dapat menurunkan kadar glukosa darah, dimana penurunan yang paling tinggi terdapat pada dosis 2 sebesar 72,30% dibanding kontrol positif sebesar 57,58% dan kontrol negatifsebesar 14,82%. Hasil analisis data yang diperoleh menunjukan hasil tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap perlakuan dan kontrol.

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS FAMILY MEDICAL CENTER BOGOR

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi secara menahun yang disebabkan gangguan pada metabolik ditandai kadar gula dalam darah meningkat. Beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki penyakit penyerta sehingga membutuhkan kombinasi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat pada pasien diabetes melitu tipe 2 pada pasien rawat jalan di RS FMC Bogor periode Januari- Maret 2023. Penelitian merupakan penelitian dekriptif-observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dari data sekunder rekam medis dan resep sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan website drug.com dan Medscape diolah dengan Microsoft excel. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien diabetes melitus tipe 2 terbanyak perempuan (70%) dengan rentang usia 56-65 tahun (41%). Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi (51,92%). Jumlah obat terbanyak adalah 2-3 jenis obat sebanyak (39%). Obat antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak (45,14%) dan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu amlodipine (17,37%). Potensi interaksi terjadi sebanyak 201 kasus, mekanisme terbanyak farmakodinamik (91%) dengan level keparahan moderate (96%). Kejadian interaksi terjadi sebanyak 29 kasus (14,43%) dengan mekanisme farmakodinamik dan level keparahan moderate dan kasus terbanyak pada metformin dengan sucralfate syr sebanyak 6 kasus (20,68%).

GAMBARAN KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ISPA RACIKAN PADA PASIEN ANAK DI KLINIK BRUDER GLORIEUX CIOMAS-BOGOR

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Infeksi saluran ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat penyakit menular di dunia. Evaluasi ketepatan penggunaan obat ISPA perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak terjadi penggunaan obat secara tidak rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui obat-obat ISPA dan mengevaluasi ketepatan obat, ketepatan dosis dan ketepatan frekuensi dengan menggunakan metode penelitian secara deskriptif dan pengambilan data secara retrospektif. Hasil obat-obat ISPA yang digunakan Golongan Antihistamin yaitu CTM sebanyak 52 pasien (87%), Golongan Kortikosteroid yaitu prednison 54 pasien (90%), Dexamethasone 3 pasien (5%), Triamcinolone 3 pasien (5%), Golongan analgetik-Antipiretik 59 pasien (98%), Golongan Mukolitik 57 pasien (95%), Golongan Dekongestan 49 pasien (82%) dan Golongan Obat ekspektoran 30 pasien (50%). Ketepatan obat sebanyak 60 (100%) pasien sudah tepat, ketepatan dosis sebanyak 60 resep (60 pasien) 100 % dan tepat frekuensi dalam penggunaan aturan pakai pada resep sesuai yang tertera pada Informasi Spesialite Obat (ISO).

EFEKTIVITAS PENGOBATAN ANTIDABETIKA PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR.

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Diabetes Mellitus dengan karakteristik hiperglikemia terjadi karena adanya resistensi reseptor insulin. Penelitian ini bertujuan untuk menalisis efektivitas pengguaan obat antidiabetika pada pasien (CHF) Congestive Heart Failure di Rumah Sakit PMI Bogor. Desain pnelitian ini non eksperimeental observasional dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien congestive heart failure (CHF) pada penyakit penyerta diabetes yang memiliki nilai kadar glukosa darah sewaktu yang tinggi yang di berikan penggobatan antidiabetika periode Oktober 2022 – Maret 202. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 81 pasien. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk diagram lingkaran dan diagram batang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada pasien CHF yang mendapatkan pengobatan antidiabetika rata-rata paling banyak pada usia lansia sebesar 70,7%. Jenis kelamin yang paling terbanyak yaitu perempuan sebesar 58%. Pekerjaan terbanyak yaitu pekerjaan lainya atau tidak berkerja sebanyak 38,3%. Gambaran obat yang digunakan sebanyak 61,7% yaitu dengan pengobatan Tunggal oral. Pada jenis obat sebanyak 62, 96% yaitu dengan obat metformin golongan biguanide. Terdapat pengaruh terhadap perbandingan efektivitas yang signifikan antara pemberian obat antidiabetika dengan hasil penurunan kadar glukosa darah sewaktu di Rumah Sakit PMI Kota Bogor karena hasil uji Kruskal Walis menunjukan adalah < 0,05 yaitu (P-Value = 0.636).

AKTIVITAS INFUSA KOMBINASI DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) DAN DAUN STEVIA (Stevia rebaudiana) SEBAGAI ANTIHIPERGLIKEMIA TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus)

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hiperglikemia adalah suatu kondisi medis berupa peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal. Banyak jenis tanaman yang selama ini dipercaya dapat mengobati diabetes melitus diantaranya yaitu daun salam (Syzygium polyanthum) dan daun stevia (Stevia rebaudiana). Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antihiperglikemia dari infusa kombinasi daun salam dan daun stevia. Daun salam dan daun stevia didapatkan dalam bentuk serbuk simplisia dilakukan ekstraksi menggunakan metode infusa. Mencit yang digunakan pada penelitian ini yaitu 25 ekor yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok perlakuan masing-masing kelompok terdiri dari 5 mencit. Pengukuran kadar glukosa dilakukan tiap 3 hari selama 14 hari menggunakan alat glukometer Easy Touch. Golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun salam yaitu flavanoid, saponin dan tanin. Pada daun stevia yaitu flavanoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Pada setiap kelompok perlakuan terjadi penurunan kadar glukosa darah. Pada kelompok perlakuan kontrol negatif terjadi penurunan 26,11%, kontrol positif 48,18%, infusa kombinasi 1:1 39,56%, kombinasi 2:1 48,84% dan pada kombinasi 3:1 46,82%. Hasil analisis menunjukkan bahwa data tidak normal dan tidak homogen, dilakukan uji Kruskal-Wallis. Hasil uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai p-value < α menyatakan tidak berbeda nyata atau semua perlakuan kombinasi infusa tidak ada perbedaan yang bermakna dengan kontrol positif.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS OBAT ANTIPSIKOTIK GOLONGAN TIPIKAL, ATIPIKAL, DAN KOMBINASINYA TERHADAP OUTCOME TERAPI PASIEN SKIZOFRENIA DI RS MARZOEKI MAHDI

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Di seluruh dunia Diabetes Melitus tipe 2 merupakan kategori penyakit peningkatan kadar glukosa darah yang paling banyak dialami (>90%) oleh masyarakat. Daun pare (Momordica charantia L) dan daun stevia (Stevia rebaudiana) dibuat menjadi sediaan teh herbal agar mudah pemakaiannya dan dapat menjadi alternatif dalam menghambat kerja enzim α-glukosidase. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder, aktivitas inhibisi enzim α- glukosidase dan perbedaan nyata dengan akarbosa 0,0001% serta penilaian terhadap formula sediaan kombinasi teh herbal. Teh herbal kombinasi daun pare (Momordica charantia L) dan daun stevia (Stevia rebaudiana) dibuat menjadi formula 3,5:0,5, 3:1, 2,5:1,5, 2:2 dan 1,5:2,5 dimasukkan ke dalam kantung teh celup serta diseduh dengan air panas pada suhu 80-90°C selama ±15 menit untuk diuji fitokimia, aktivitas daya hambat enzim α-glukosidase menggunakan ELISA reader pada panjang gelombang 410 nm dan penilaian rasa suka menggunakan skala hedonik (0-6). Hasil menunjukan bahwa secara umum semua formula memiliki kandungan flavonoid, saponin dan tanin-polifenol. Formula (I,II,III,IV,V) 1% b/v dan akarbosa 0,0001% menginhibisi enzim α-glukosidase berturut-turut sebesar 20,03%, 36,73%, 44,26%, 53,84%, 57,91%, 67,95% yang berbeda nyata nilainya (p-value 0,00<0,05). Berdasarkan penilaian uji kesukaan Formula(IV) merupakan sediaan teh herbal yang paling disukai oleh panelis dengan nilai penerimaan keseluruhan 3,35, kemudian Formula(III) senilai 3,25 dan Formula(V) senilai 3,1.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTIHIPERTENSI OBAT AMLODIPINE DAN KOMBINASI AMLODIPINE DENGAN CANDESARTAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISA DI RS PMI BOGOR

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan penyakit umum yang dapat didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah arteri secara terus–menerus salah satu faktor resiko yang paling signifikan yaitu pada penyakit ginjal. Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan suatu kondisi dimana terdapat penurunan fungsi ginjal, salah satu terapi ginjal yang dilakukan yaitu dengan cara hemodialisa (HD). Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui perbandingan efektivitas penurunan tekanan darah obat amlodipine dan kombinasi amlodipine dengan candesartan pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik sebelum dan sesudah hemodialisa di RS PMI. Desain penelitian ini menggunakan metode retrospektif observasional dengan pengambilan data rekam medik berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, serta tekanan darah. Sampel pada penelitian ini adalah pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di rawat inap RS PMI Bogor Periode Oktober – Maret 2023. Jumlah subyek penelitian ini adalah 90 pasien. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata – rata usia pasien terbanyak 46 – 55 tahun yaitu 32%. Jenis kelamin laki – laki dan perempuan yaitu 50%. Pekerjaan terbanyak yaitu ibu rumah tangga (IRT) yaitu 36 %. Gambaran penurunan tekanan darah pada penggunaan amlodipin yaitu sistolik 6,96 mmHg dan diastolik 2,59 mmHg, sedangkan pada penggunaan amlodipine dengan candesartan yaitu sistolik 10,46 mmHg dan diastolik 4,0 mmHg. Tidak adanya perbedaan efektivitas obat amlodipine dan kombinasi amlodipine dengan candesartan terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik dengan hemodialisa yang dilihat dari nilai P- value > 0,05.

AKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIA INFUSA KOMBINASI DAUN PARE (Momordica charantia L) DAN DAUN STEVIA (Stevia rebaudiana) SECARA IN VIVO

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal. Hiperglikemia menjadi salah satu tanda khas penyakit diabetes melitus.Diabetes Melitus sendiri merupakan suatu kelompok penyakit metabolik, hiperglikemia yang terjadi pada pasien penderita diabetes terjadi karena kelainan sekresi insulin, kinerja insulin atau kedua-duanya. Tanaman yang dipercaya dapat mengobati diabetes melitus salah satunya yaitu daun Pare (Momordica charantia L.) dan daun stevia (Stevia rebaudiana). Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui senyawa kimia apa yang terkandung didalam infusa kombinasi daun pare dan daun stevia dan apakah infusa kombinasi daun pare dan daun stevia memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa secara in vivo pada mencit hiperglikemia yang diinduksi aloksan. Ekstrak diperoleh menggunakan metode infusa. Pengukuran kadar glukosamenggunakan alat glukometer Nesco selama 15 hari. Senyawa Metabolit sekunder daun pare memiliki kandungan fitokimia seperti flavanoid, saponin dan tanin. Sedangkan pada daun stevia mengandung flavanoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Hasil Penelitian menunjukkan kombinasi terbaik infus daun stevia dan daun pare yang memiliki aktivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit yang lebih baik dari kombinasi lainnya yaitu kombinasi 3:1 (pare:stevia) dengan penurunan kadar glukosa setelah 15 hari sebesar 123,20 mg/dL dari glukosa induksi 332,00 mg/dL.