BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi menurut World Health Organization (WHO), adalah
pemilihan dan penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati penyakit
atau gejala yang dikenali sendiri. Parasetamol merupakan obat analgetik non-
narkotik dengan cara menghambat sintesis prostaglandin, terutama di sistem syaraf
pusat (SSP). Obat ini digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang serta
sebagai antipiretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat
pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi parasetamol. Metode yang digunakan
dalam penelitian yaitu metode penelitian dengan cross-sectional, yang dilakukan
secara prospektif. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang
sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian diperoleh mayoritas
responden adalah wanita (51,59%). Kategori remaja akhir (17-25 tahun) sebanyak
63,69%. Pekerjaan terbanyak adalah mahasiswa/pelajar, (42,68%). Pendidikan
terbanyak SMA (45,86%). Adapun tingkat pengetahuan terbanyak adalah tinggi
(49,68%) dan perilaku swamedikasi parasetamol tebanyak perilaku yang baik
(42,68%) dalam swamedikasi parasetamol. Hasil dari uji Chi-square menujukan
terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan terhadap perilaku
swamedikasi parasetamol di RT 01 RW 03 Desa Jabon Mekar Kabupaten Bogor
dengan hasil p value sebesar 0,000 (<0,005).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Sabut kelapa memiliki persentase terbesar dari komponen buah kelapa lainnya yaitu 35%. Sehingga limbah sabut kelapa yang dihasilkan sangat banyak, namun pemanfaatannya masih kurang. Sabut kelapa juga memiliki kandungan selulosa yang sangat tinggi yaitu sebesar 27%. Oleh karena itu, selulosa tersebut dimanfaatkan menjadi Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC). Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variasi NaOH terhadap HPMC, menghasilkan HPMC yang optimal berdasarkan nilai Molar Substitusi (MS) dan Derajat Substitusi (DS) dan mendapatkan HPMC dari sabut kelapa yang optimal dengan karakteristik yang memenuhi standar. HPMC sabut kelapa dibuat dengan mengisolasi selulosa terlebih dahulu. Dilanjutkan dengan mensintesis HPMC dengan variasi konsentrasi NaOH (15%, 20% dan 25%) dan jumlah propilen oksida yang ditambahkan 2,5 ml serta dimetil sulfat sebanyak 0,92 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi NaOH semakin tinggi pula nilai
MS dan DSnya. HPMC yang optimal ialah HPMC dengan konsentrasi 20%
karena memiliki nilai Molar Substitusi (MS) sebesar 0,300 dan Derajat Substitusi (DS) sebesar 1,119 yang memenuhi standar HPMC yang aman untuk pangan. Dengan karakteristik HPMC berbentuk butiran kasar, berwarna putih kekuningan dan memiliki bau yang samar, memiliki pH 7, nilai Water Holding Capacity (WHC) 7,3 g/g dan nilai Oil Holding Capacity (OHC) 6,6 g/g.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Daun kelor dan daun stevia merupakan tanaman obat tradisional yang
secara empiris dimanfaatkan untuk dijadikan antibakteri alami sebagai alternatif pengganti bahan sintesis dalam mencegah infeksi bakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui golongan senyawa tanaman, mendapatkan sediaan obat kumur kombinasi infusa daun kelor dan daun stevia, dan mendapakan nilai zona hambat sediaan obat kumur dari kombinasi infusa daun kelor dan daun stevia dengan menggunakan bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini dibuat dengan 6 formulasi dan 1 sediaan pembanding yaitu infusa daun kelor, infusa daun stevia,
kombinasi infusa daun kelor dan daun stevia perbandingan 1:1, 1:3 dan 3:1,
sediaan pembanding adalah obat kumur enkasari sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Pada penelitian ini masing-masing mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid dan tanin. Data diperoleh dari hasil uji organoleptis, uji pH, dan pengujian antibakteri dengan diukur zona hambat dari sediaan infusa. Hasil data antibakteri kontrol positif (19,58 mm), kontrol negatif (0 mm), infusa daun kelor (19,526 mm), infusa daun stevia (13,126 mm), kombinasi 1:1 (14,463 mm), kombinasi 1:3 (17,387 mm) dan kombinasi 3:1 (22,386 mm). Kandungan senyawa seperti flavonoid, saponin dan tanin yang berperan sebagai antibakteri.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol merupakan salah satu komponen lemak yang bermanfaat untuk
pembentukan dinding sel – sel dalam tubuh dan pembentukan hormon steroid.
Kolesterol berfungsi sebagai molekul prekursor dalam sintesis vitamin D dan
hormon steroid. Sedangkan kombucha adalah hasil fermentasi teh dan gula oleh
SCOBY (symbiotic culture of bacteria and yeast). Kombucha dapat dibuat dari
daun yang tinggi kandungan fenol salah satunya adalah daun salam. Penelitian ini
bertujuan menentukan aktivitas metabolit sekunder, pH, kadar total fenol dan
aktivitas inhibisi kolesterol dari infusa daun salam dan kombucha daun salam. Pada
penelitian ini menggunakan infusa daun salam dan kombucha daun salam dibuat
dengan konsentrasi 12,5 g/L; 25g/L; 37,5 g/L; dan 50 g/L. Kombucha daun salam
yang diperoleh akan di uji karakteristik kombucha daun salam meliputi uji
fitokimia, pH, serta pengujian kadar total fenol secara in vitro dan aktivitas
antikolesterol dengan metode Liebermann- Burchard. Aktivitas antikolesterol
infusa daun salam dan kombucha daun salam pada penelitian ini diperoleh Aktivitas
Inhibisi Kolesterol oleh Infusa daun salam 12,5 g/L- 50g/L berkisar 10,32- 27,97
sedangkan aktivitas inhibisi kolesterol oleh kombucha daun salam 12,5 g/L- 50g/L
berkisar 16,64- 39,65. Infusa daun salam mengandung flavonoid, alkaloid, tannin,
saponin, steroid, pH 5,44- 6,11, dan total fenol berkisar 22,38- 41,72 mg GAE/g.
Kombucha daun salam mengandung flavonoid, saponin, tanin, pH 2,63- 2,73, dan
total fenol berkisar 27,61- 44,79 mg GAE/g. Oleh karena itu, infusa dan kombucha
daun salam memiliki potensi sebagai agen antikolesterol.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kolesterol merupakan salah satu komponen lemak yang bermanfaat untuk
pembentukan dinding sel – sel dalam tubuh dan pembentukan hormon steroid.
Kolesterol berfungsi sebagai molekul prekursor dalam sintesis vitamin D dan
hormon steroid. Sedangkan kombucha adalah hasil fermentasi teh dan gula oleh
SCOBY (symbiotic culture of bacteria and yeast). Kombucha dapat dibuat dari
daun yang tinggi kandungan fenol salah satunya adalah daun salam. Penelitian ini
bertujuan menentukan aktivitas metabolit sekunder, pH, kadar total fenol dan
aktivitas inhibisi kolesterol dari infusa daun salam dan kombucha daun salam. Pada
penelitian ini menggunakan infusa daun salam dan kombucha daun salam dibuat
dengan konsentrasi 12,5 g/L; 25g/L; 37,5 g/L; dan 50 g/L. Kombucha daun salam
yang diperoleh akan di uji karakteristik kombucha daun salam meliputi uji
fitokimia, pH, serta pengujian kadar total fenol secara in vitro dan aktivitas
antikolesterol dengan metode Liebermann- Burchard. Aktivitas antikolesterol
infusa daun salam dan kombucha daun salam pada penelitian ini diperoleh Aktivitas
Inhibisi Kolesterol oleh Infusa daun salam 12,5 g/L- 50g/L berkisar 10,32- 27,97
sedangkan aktivitas inhibisi kolesterol oleh kombucha daun salam 12,5 g/L- 50g/L
berkisar 16,64- 39,65. Infusa daun salam mengandung flavonoid, alkaloid, tannin,
saponin, steroid, pH 5,44- 6,11, dan total fenol berkisar 22,38- 41,72 mg GAE/g.
Kombucha daun salam mengandung flavonoid, saponin, tanin, pH 2,63- 2,73, dan
total fenol berkisar 27,61- 44,79 mg GAE/g. Oleh karena itu, infusa dan kombucha
daun salam memiliki potensi sebagai agen antikolesterol.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Metil selulosa merupakan turunan selulosa yang dimanfaatkan dalam
industri makanan, kosmetik, farmasi dan lain-lain. Kandungan yang terdapat
dalam selulosa cukup banyak yaitu berkisar 66%, yang belum dimanfaatkan
secara optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mensintesis metil selulosa dari
selulosa daun nanas. Sintesis metil selulosa ini dilakukan melalui beberapa proses
yaitu isolasi selulosa daun nanas, metilasi (sintesis metil selulosa), karakterisasi,
uji organoleptik, uji kelarutan dan FTIR. Sintesis metil selulosa dilakukan
menggunakan metode refluks dengan pelarut aseton. Berdasarkan analisis FTIR
metil selulosa yang diperoleh, diketahui puncak khas metil selulosa yaitu 3303,86
untuk O-H, 2915,34 untuk C-H. Dari hasil uji organoleptik diperoleh hasil berupa
padatan berwarna coklat, tidak berbau. Pada uji kelarutan diperoleh hasil tidak
larut dalam air, NaOH 4%, dan asam asetat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
VCO adalah minyak yang diperoleh dari daging buah kelapa tua yang diambil
santannya dengan cara alami, dan secara khusus tanpa pemurnian kimia diantaranya
yaitu metode pengasaman dan enzimatik, metode ini tidak mengubah komposisi
atau sifat minyak. kulit nanas hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau
menjadi limbah. Limbah kulit nanas dapat dimanfaatkan menjadi Rendaman kulit
nanas. Rendaman kulit nanas memiliki karakteristik asam dan memiliki enzim yang
dapat memecahkan protein. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan VCO
hasil sintesis secara enzimatik menggunakan kulit buah nanas, mendapatkan
rendemen VCO tertinggi pada penambahan rendaman kulit buah nanas dan
mendapatkan VCO dengan kualitas yang sesuai SNI 7381-2008 secara kualitatif
dan kuantitatif. Pembuatan VCO diawali dengan pembuatan rendaman kulit nanas
yang didiamkan selama 28 hari, lalu pembuatan santan yang didiamkan selama 2
jam akan membentuk air dan krim santan, krim santan dicampur dengan rendaman
kulit nanas dengan variasi konsentrasi 10% (formula 1), 15% (formula 2), 20%
(formula 3) selama 24 jam akan terbentuk VCO. Dilakukan uji organoleptik, kadar
air, bobot jenis, bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan iodium, dan
bilangan peroksida. Hasil yang terbaik terdapat pada formula 3 dengan rendemen
VCO yaitu sebesar 14%, uji organoleptik meliputi warna, rasa, bau menunjukan
hasil yang normal, kadar air sebesar 0,06%; angka asam sebesar 0,145%; angka
penyabunan sebesar 250,56 mg-KOH/g; angka iodium sebesar 5,85 g iod/100 g,
dan angka peroksida sebesar 1,13 mg ek/kg. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa, sintesis VCO dapat dilakukan menggunakan rendaman kulit nanas, secara
kualitatif dan kuantitatif memberikan hasil sesuai dengan SNI 7381-2008.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Indonesia merupakan negara dengan panen nanas terbesar setelah Thailand
dan Filipina. Produksi massal tanaman nanas akan menghasilkan limbah yang
berlimpah. Limbah yang berlimpah sehingga dapat dimanfaatkan lebih lanjut
sebagai selulosa dan turunannya. Pada penelitian ini bertujuan untuk membuat metil
selulosa dari selulosa limbah daun nanas. Metil selulosa merupakan turunan
selulosa yang banyak digunakan sebagai bahan pangan. Sintesis metil selulosa ini
melalui beberapa tahap yaitu isolasi selulosa, sintesis metil selulosa, kemudian
dilakukan uji karakterisasi, meliputi identifikasi dan analisis hasil dari
spektrofotometri infra merah (FTIR). Sintesis metil selulosa dilakukan dengan
metode refluks dengan variasi waktu dan menggunakan pelarut air. Hasil yang
diperoleh yaitu didapatkan hasil terbanyak pada waktu 8 jam. Uji identifikasi
meliputi organoleptik metil selulosa daun nanas berupa serbuk berwarna putih
kecoklatan, tidak berbau, dan diuji kelarutan tidak dapat larut pada pelarut yang
digunakan. Hasil FTIR menunjukkan serapan selulosa yang khas untuk metil
selulosa daun nanas pada bilangan gelombang 3328,91 cm-1
untuk ikatan O-H dan
2917,65 cm-1
untuk ikatan C-H dan pada selulosa daun nanas yaitu 3332,51 cm-1
untuk ikatan OH dan 2913,36 cm-1
untuk ikatan C-H.
BookOpen AccessMetadata saja
2018•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2018•Koleksi Perpustakaan