BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hepatitis C merupakan penyakit radang atau inflamasi pada sel-sel hati yang
disebabkan oleh Virus Hepatitis C. Hepatitis C dapat ditularkan melalui darah.
Secara global, diperkirakan 71 juta orang terinfeksi virus hepatitis C kronis.
Sejumlah besar dari mereka yang terinfeksi kronis akan berkembang menjadi
sirosis atau kanker hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
pemberian terapi obat Direct Acting Antiviral (DAA) di RSUD Kota Bogor serta
untuk mengetahui kesesuaian pemberian terapi obat antiviral berdasarkan
Pedoman Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C di Indonesia tahun
2017 meliputi data sosiodemografi pasien yaitu usia dan jenis kelamin, data
karakteristik pasien hepatitis C berdasarkan tipe infeksi dan tingkat keparahan,
dan pemberian terapi obat hepatitis C pada pasien yang sudah melakukan
pengobatan, sedangkan data pemberian kesuaian pemberian terapi obat meliputi
(Dosis, durasi, dan frekuensi pengobatan). Penelitian ini merupakan penelitian
retrospektif dengan menggunakan rancangan cross sectional. Sampel yang
digunakan sebanyak 166 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang
dikumpulkan berupa data sekunder yang diperoleh dari rekam medis rawat jalan.
Profil sosiodemografi berdasarakan jenis kelamin menujukan bahwa pasien
terbanyak yaitu laki-laki sebesar 69,9%, rentang usia yang paling banyak
mengidap hepatitis C adalah usia 36 sampai 45 tahun sebesar 41,6%, karakteristik
pasien hepatitis C dengan tipe infeksi monoinfeksi lebih banyak dari koinfeksi
yaitu sebesar 80,7%, serta tingkat keparahan non sirosis sebesar 62,7%.
Kombinasi obat paling banyak digunakan adalah Sofosbuvir dan Daclatasvir
sebanyak 50,6%. Kesesuaian durasi, dan kesesuaian frekuensi pengobatan
mencapai 100% dan dosis pengobatan mencapai 93,4%.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah dimana tekanan darah
meningkat melebihi nilai normal yaitu 140/90 mmHg. Prevalensi hipertensi di Jawa
Barat tahun 2018 sebanyak 39,6%. Hipertensi menempati urutan kelima dalam
kasus penyakit tertinggi di Puskesmas Cigudeg. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kesesuaian terapi obat hipertensi berdasarkan Joint National
Committee (JNC) VIII pada pasien hipertensi di Puskesmas Cigudeg Kabupaten
Bogor. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode retrospektif. Data
diperoleh dari rekam medis dengan kategori pasien yang mendapat pengobatan
rutin selama 2 bulan yaitu Juli - Desember 2023. Hasil penelitian berdasarkan total
sampel sebanyak 89 pasien, paling banyak mayoritas perempuan (70%), dengan
usia terbanyak berumur 46-55 tahun (36%). Obat yang paling umum digunakan
adalah amlodipin (93%). Hasil evaluasi kesesuaian terapi yang sesuai sebanyak
(21%), dan tercapainya tujuan terapi sebanyak (38%) berdasarkan Joint National
Committee (JNC) VIII . Hasil analisis statistik dengan menggunakan Chi-square
terdapat adanya hubungan bermakna antara kesesuaian terapi obat berdasarkan JNC
VIII dengan tercapainya target tekanan darah dengan p value (0,000) < (0,05).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Skabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei var
hominis, yang ditularkan melalui kontak langsung. Prevalensi skabies di Klinik
Mardi Waluya semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Gambaran hasil terapi penggunaan obat krim permethrin yang diresepkan terhadap
penyakit skabies di Klinik Mardi Waluya. Jenis dan desain penelitian adalah
deskriptif observasional, dengan menganalisis data pasien secara rektrospektif dari
rekam medis pasien rawat jalan pada bulan September – November 2022. Penelitian
ini telah dilakukan di Klinik Mardi Waluya Cianjur pada bulan Februari 2023.data
Diolah secara analisis deskriptif dengan menggunakan microsoft excel. Pasien
terbanyak penderita skabies yaitu pada usia remaja awal (12-16 tahun) sebanyak 75
orang (39%). Jumlah pasien laki-laki 66% (127 orang). Pekerjaan paling banyak
yang menderita penyakit skabies adalah pelajar dengan persentase 72% (138 orang)
dan pendidikan paling banyak penderita skabies adalah sekolah tingkat dasar
dengan persentase 36 % (68 ) pasien. Hasil efek terapi obat krim permethrin dalam
durasi pemakaian dalam 2 minggu yang sembuh yaitu 78% (149 orang) pasien yang
belum sembuh 22% (42 orang).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis berupa gangguan metabolisme,
ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Diabetes melitus
tipe 2 disebabkan oleh peningkatan kadar gula darah akibat rendahnya sekresi
insulin oleh pankreas dan penurunan resistensi insulin atau kepekaan terhadap
insulin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran profil pasien diabetes
melitus tipe 2 yang meliputi usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Untuk mengetahui
profil pengobatan antidiabetik oral dan keberhasilan terapi obat antidiabetik oral
yang diberikan mencapai target penurunan kadar glukosa darah. Desain penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif observasional (non eksperimental) yang
bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional serta pengambilan data
sekunder dilakukan secara retrospektif pada periode Juli-Desember 2022.
Pengambilan data berupa data rekam medis yang terdiri atas data profil pasien,
profil pengobatan pasien dan keberhasilan terapi antidiabetik oral. Sampel yang
diperoleh sebanyak 63 pasien. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan
menggunakan program Microsoft Excel 2010. Hasil penelitian didapatkan profil
pasien pada usia tertinggi yaitu 46-65 tahun sebanyak 43 pasien (68,25%), jenis
kelamin tertinggi pada laki-laki sebanyak 45 pasien (71,43%). Berdasarkan
pekerjaan tertinggi pada Karyawan BUMN sebanyak 37 pasien (58,73%), jumlah
pasien diabetes dengan penyakit penyerta hipertensi sebanyak 22 pasien (25,88%).
Obat antidiabetik oral dengan penyakit penyerta hipertensi adalah golongan
Calcium Channel Blocker yaitu amlodipin, obat antidiabetik oral tertinggi yaitu
monoterapi pada 44 pasien (69,84%). Obat antidiabetik oral tertinggi golongan
biguanida (metformin) sebanyak 38 pasien (60,32%). Serta keberhasilan
pengobatan diabetes melitus tipe 2 sebanyak 24 pasien (38,10%), yang mencapai
target penurunan glukosa darah puasa sesuai dengan PERKENI 2021.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Epilepsi adalah suatu gangguan kondisi medis yang menyerang saraf
dengan ditandai adanya epileptik yang berulang pada sebagian atau seluruh tubuh
tanpa penyebab yang jelas. Pengobatan epilepsi dilakukan dengan 2 jenis terapi
yaitu monoterapi.dan politerapi. Monoterapi yaitu pemberian obat tunggal pada
pasien yang biasanya awal didiagnosa epilepsi sedangkan politerapi penggunaan
dua obat atau lebih pada pasien yang biasanya tidak bereaksi pada pengobatan
monoterapi. Pengobatan monoterapi diklaim menjadi pengobatan yang lebih baik
pada penyakit epilepsi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat data sosiodemografi,
melihat kesembuhan pasien setelah pemberian jenis terapi obat dan lama
pengobatan. Desain penelitian ini dilakukan dengan penelitian deskriptif
observasional dengan pengambilan data secara prospektif dan metode total
sampling pada sampel penelitian yang menjalani pengobatan monoterapi dan
politerapi. Dari hasil penelitian ini didapatkan 60 sampel dengan 30 sampel yang
menjalani pengobatan monoterapi dan 30 sampel yang menjalani pengobatan
politerapi dengan sampel terbanyak berjenis kelamin laki-laki (63,3%) dengan
kategori usia anak 5-11 tahun (36,7%), jumlah kesembuhan sampel (26,6%) untuk
sampel yang menjalani pengobatan monoterapi dan (6,6%) untuk sampel yang
menjalani pengobatan politerapi. Uji Mann-Whitney dihasilkan nilai p-Value
sebesar 0,039 atau <0,05 dimana terdapat perbedaan bermakna dari efektivitas
pengobatan monoterapi dan politerapi terhadap kesembuhan pasien epilepsi,
sehingga dinyatakan H0 ditolak dan H1 diterima.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hepatitis B adalah kelainan hati berupa peradangan hati yang merupakan penyakit
dengan endemisitas tinggi di Indonesia. Hepatitis B dapat berkembang menjadi
sirosis atau bahkan kanker hati bila tidak mendapat pengobatan dengan tepat.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengobatan yang diberikan kepada pasien
hepatitis B meliputi profil dan kesesuaian pengobatan di RS Sekarwangi Sukabumi.
Metode penelitian berupa deskriptif observasional, pengumpulan data dilakukan
secara retrospektif dari 69 rekam medis pasien rawat jalan periode 2018-2021
berusia 17-65 tahun. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari keseluruhan terapi
yang sesuai dengan Kesesuaian dengan Konsensus Nasional Penatalaksanaan
Hepatitis B di indonesia tahun 2012 (PPHI) sebanyak 27 (39,13%) penggunaan
antiviral, sebanyak 47 (67,14%) sesuai berdasarkan terapi hepatoprotektor,
sebanyak 19 ( 27,53%) sesuai berdasarkan terapi simtomatik, sebanyak 17
(24,63%) sesuai berdasarkan terapi suportif.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh virus SARS-CoV 2, dapat menginfeksi manusia dan menyerang sistem
pernafasan. Penanganan Covid-19 sangat beragam, setiap negara mencoba berbagai
pengobatan yang berbeda untuk mengobati dengan mengembangkan protokol
pengobatan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
sosiodemografi pasien dan perbedaan terapi Covid-19 pada gelombang 1 dan
gelombang 2. Penelitian bersifat retrospektif dari rekam medis pasien terkonfirmasi
Covid-19 periode Maret 2020 sampai Desember 2021. Data dianalisis dengan
Microsoft excel dan disajikan secara deskriptif dengan uji proporsi 2 sampel dalam
bentuk gambar dan tabel. Berdasarkan hasil yang didapatkan penderita terbanyak
didominasi perempuan pada gelombang 1 (58%) dan gelombang 2 (62%) dengan
usia 45-55 pada gelombang 1 (30%) dan gelombang 2 (32%). Perbedaan terapi
Covid-19 gelombang 1 dengan gelombang 2 terdapat perbedaan secara bermakna
berdasarkan uji proporsi 2 sampel. Hal ini dikarenakan pada gelombang 1 lebih
banyak pasien dengan derajat keparahan ringan sampai sedang dan gelombang 2
lebih banyak pasien dengan derajat sedang hingga berat
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana peningkatan darah sistolik
melebihi batas normal 140 mmHg dan tekanan darah diastolik melebihi 90 mmHg.
Penggunaan obat pada penyakit hipertensi haruslah tepat dan efektif. Dampak
negatif dari pemilihan obat antihipertensi yang salah dapat mempersulit
pengontrolan tekanan darah dan menimbulkan penyakit lain seperti stroke dan
penyakit ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian
penatalaksanaan terapi pada pasien hipertensi di Puskesmas Tanah Sareal
berdasarkan Guideline Joint National Committee (JNC) VIII. Penelitian ini
dilakukan secara retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dengan kategori
pasien melakukan kontrol sebanyak 3 kali pada periode Januari – Desember 2021.
Hasil penelitian dari total pasien sebanyak 290 pasien, paling banyak berjenis
kelamin perempuan sebesar 74,48%, kelompok usia terbanyak dengan usia 46-55
tahun sebesar 36,55%, kelompok pekerjaan terbanyak yaitu Ibu Rumah Tangga
(IRT) sebesar 66,90%. Berdasarkan tingkatan hipertensi terbanyak yaitu hipertensi
stage 1 dengan rata-rata sebesar 57,47%. Obat yang paling banyak digunakan
adalah Amlodipine sebesar 97,36%. Hasil evaluasi kesesuaian berdasarkan
Guideline Joint National Committee (JNC) VIII, pada pasien hipertensi tanpa
penyakit penyerta sebesar 60,05% sudah sesuai dengan tatalaksana JNC VIII.
Sedangkan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus sebesar 64,10% sudah
sesuai dengan tatalaksana JNC VIII.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang dicirikan
dengan karena adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pasien DM tipe 2
di RSUD Ciawi Bogor. Penelitian ini dilakukan secara prosfektif non eksperimental
selama periode Januari-Maret 2020. Subyek yang memenuhi kriteria inklusi adalah
53 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok monoterapi
sejumlah 17 pasien dan kelompok kombinasi terapi sejumlah 36 pasien.
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuisioner Diabetes
Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ) untuk mengukur kualitas
hidup dan rekam medis untuk mengetahui jenis terapi pasien. Hasil penelitian
menunjukan bahwa karakteristik subyek penelitian yaitu indeks masa tubuh, status
pernikahan dan penghasilan terdapat perbedaan bermakna terhadap kualitas hidup
(p<0,05) dan jenis kelamin, pendidikan, usia dan pekerjaan tidak terdapat
perbedaan yang bermakna terhadap kualitas hidup (p>0,05). Profil pengobatan pada
monoterapi terbanyak yaitu metformin sebanyak 14 responden (70%) dan pada
kombinasi terapi terbanyak yaitu metformin dan glimepirid sebanyak 13 responden
(26%). Gambaran kualitas hidup pasien yaitu nilai rata-rata pada kategori baik
sebesar 74,3 pada monoterapi didapatkan pada kategori sangat baik sebanyak 10
responden (55%) dan pada kombinasi terapi didapatkan pada kategori baik
sebanyak 26 responden (72%). Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas hidup
yaitu jenis kelamin, pendidikan, usia, pekerjaan, penghasilan dan terapi dengan
nilai (p<0,05). Pasien dengan monoterapi memiliki skor rata-rata kualitas hidup
lebih rendah daripada pasien dengan kombinasi terapi dengan skor rata-rata kualitas
hidup yaitu 72,8 ± 12,7 dan 78,2 ± 11,2 (p<0,05). Dengan demikian terdapat
perbedaan yang bermakna antara yang mendapat monoterapi dan kombinasi terapi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg serta
tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg dengan pemeriksaan yang berulang.
Dalam hal meningkatkan keberhasilan terapi, penggunaan obat yang rasional sangat
penting. Jika penderita hipertensi tidak diobati maka terjadi komplikasi. Untuk
pasien hipertensi harus meminum obat antihipertensi untuk mencapai efek
terapinya. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran sosiodemografi pasien,
gambaran pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus, gambaran
penggunaan obat antihipertensi, mengetahui kesesuaian, keberhasilan dan
hubungan terapi obat antihipertensi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 di Puskesmas
Bogor Selatan. Penelitian ini, non-eksperimental dengan pendekatan cross
sectional menggunakan data retrospektif dengan data sekunder yang diambil dari
SIMPUS berupa rekam medik dan resep obat sebanyak 80 pasien dengan metode
total sampling. Hasil penelitian ini, usia paling tinggi 56 – 65 tahun sebanyak 38
pasien (47,5%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 68 pasien (85%). Hipertensi
tanpa diabetes melitus sebanyak 70 pasien (87,5%). Obat yang terbanyak digunakan
yaitu Amlodipin sebanyak 79 pasien (98,75%). Kesesuaian terapi berdasarkan JNC
VIII tahun 2014 sebanyak 41 pasien (51,25%). Keberhasilan terapi berdasarkan
JNC VIII tahun 2014 yang berhasil sebanyak 26 pasien (32,5%). Hasil statistika,
uji Chi-square nilai sig. 0,000 ≤ 0,05 yaitu ada hubungan yang signifikan antara
kesesuaian dengan keberhasilan terapi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hepatitis B adalah kelainan hati berupa peradangan hepar atau sel-sel hati yang
merupakan penyakit dengan endemisitas tinggi di Indonesia. Hepatitis B dapat
berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati bila tidak mendapat
pengobatan yang tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi terapi yang
diberikan kepada pasien hepatitis B meliputi obat, dosis, frekuensi serta profil
pasien dan profil pengobatan pasien di RSUD Ciawi Bogor. Metode penelitian
berupa observasional deskriptif potong lintang, pengumpulan data dilakukan
secara retrospektif melalui 86 rekam medis rawat jalan periode 2019-2020 berusia
17-65 tahun. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu, terapi antiviral (52,32%)
menggunakan lamivudin, terapi hepatoprotektor yaitu curcuma (72,09%), terapi
simtomatik ondansentron (45,35%), terapi supportif asam folat (9,30%).
Kesesuaian obat yang diberikan (93,33%) sesuai, kesesuaian dosis (100%) sesuai,
kesesuaian frekuensi (100%) sesuai.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Diare adalah terjadinya buang air besar, konsistensi cairan ekskresi lebih
tinggi dari biasanya, dan frekuensi ekskresi lebih dari tiga kali dalam waktu 24
jam. Diare juga merupakan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan, yang
disebabkan oleh infeksi mikroba, seperti bakteri, virus, parasit, protozoa, dan
menyebar melalui fecal-oral route (WHO). Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran pengobatan pada pasien diare pediatrik di ruang rawat inap,
dengan indikasi yang benar, pilihan obat yang tepat, dosis yang tepat, dan cara
pemberian MIMS 2019 yang benar. Penelitian menggunakan desain cross- sectional (penampang lintang) untuk pengambilan sampel dari keseluruhan desain, dan 116 pasien memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara 116 pasien diare, 78 (67%) lebih mungkin memiliki
anak laki-laki daripada 38 (33%) (distribusi usia terbesar antara 0 dan 5 tahun).
Sebanyak 73 pasien (63%).Profil terapi penggunaan obat diare di rawat inap RSIA
Sammarie Basra Jakarta adalah cairan elektrolit, zink, dan probiotik merupakan
terapi utama yang diberikan 100%. Evaluasi ketepatan dosis menunjukkan pada
aspek tepat tepat indikasi 100%, tepat pemilihan obat 100%, tepat dosis 87,89%,
dan tepat cara pemberian 100%.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi menjadi salah satu kasus dengan prevalensi cukup tinggi. Kepatuhan1adalah derajat dimana pasien mengikuti anjuran klinis dari dokter
yang mengobatinya maupun berupa terapi non-farmakologi sebagai modifikasi
gaya hidup. Terapi farmakologi dan non-farmakologi pada pengobatan hipertensi
dengan adanya hubungan dengan karakteristik responden1seperti usia, jenis
kelamin, pekerjaan, Pendidikan terakhir hal tersebut mempengaruhi tingkat
kepatuhan untuk mencapai keberhasilan pengobatan. Penelitian ini
bertujuan1untuk mengetahui gambaran tingkat kepatuhan2pasien hipertensi di
wilayah Gedong Panjang Kota Sukabumi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan
pendekatan yang dilakukan dengan cara cross senctional study. Penelitian ini
menggunakan2Teknik purposive sampling. data diperoleh dari pengamatan
langsung dan pengisian kuesioner. Wawancara dilakukan pada pasien2hipertensi
di wilayah Gedong Panjang. Hasil penelitian ini2menunjukan bahwa dari 100
responden yang diteliti pada tingkat kepatuhan terapi farmakologi dengan tingkat
kepatuhan tinggi yaitu 7 (7,00%), tingkat kepatuhan sedang yaitu 61 (61,00%), dan tingkat kepatuhan rendah yaitu 32 (32,00%) Responden. Sedangkan pada
terapi non-farmakologi menunjukan tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 5 (5,00%), tingkat kepatuhan sedang menunjukan 66 (66,00%), dan tingkat kepatuhan rendah
sebanyak 29 (29,00%) responden. Menunjukan bahwa tingkat kepatuhan pasien
hipertensi di wilayah Gedong Panjang Kota Sukabumi mayoritas berada pada
tingkat kepatuhan sedang, bahwa perlu adanya peningkatan seperti edukasi, dorongan dari lingkungan