Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: kesesuaian terapi.
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KESESUAIAN PEMBERIAN TERAPI OBAT DIRECT ACTING ANTIVIRAL ( DAA ) PADA PASIEN HEPATITIS C DI RSUD KOTA BOGOR PERIODE 2021-2023

2025Koleksi Perpustakaan

Hepatitis C merupakan penyakit radang atau inflamasi pada sel-sel hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis C. Hepatitis C dapat ditularkan melalui darah. Secara global, diperkirakan 71 juta orang terinfeksi virus hepatitis C kronis. Sejumlah besar dari mereka yang terinfeksi kronis akan berkembang menjadi sirosis atau kanker hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian terapi obat Direct Acting Antiviral (DAA) di RSUD Kota Bogor serta untuk mengetahui kesesuaian pemberian terapi obat antiviral berdasarkan Pedoman Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C di Indonesia tahun 2017 meliputi data sosiodemografi pasien yaitu usia dan jenis kelamin, data karakteristik pasien hepatitis C berdasarkan tipe infeksi dan tingkat keparahan, dan pemberian terapi obat hepatitis C pada pasien yang sudah melakukan pengobatan, sedangkan data pemberian kesuaian pemberian terapi obat meliputi (Dosis, durasi, dan frekuensi pengobatan). Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan menggunakan rancangan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 166 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder yang diperoleh dari rekam medis rawat jalan. Profil sosiodemografi berdasarakan jenis kelamin menujukan bahwa pasien terbanyak yaitu laki-laki sebesar 69,9%, rentang usia yang paling banyak mengidap hepatitis C adalah usia 36 sampai 45 tahun sebesar 41,6%, karakteristik pasien hepatitis C dengan tipe infeksi monoinfeksi lebih banyak dari koinfeksi yaitu sebesar 80,7%, serta tingkat keparahan non sirosis sebesar 62,7%. Kombinasi obat paling banyak digunakan adalah Sofosbuvir dan Daclatasvir sebanyak 50,6%. Kesesuaian durasi, dan kesesuaian frekuensi pengobatan mencapai 100% dan dosis pengobatan mencapai 93,4%.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KESESUAIAN PENGOBATAN HEPATITIS B DI RSUD SEKARWANGI SUKABUMI

2023Koleksi Perpustakaan

Hepatitis B adalah kelainan hati berupa peradangan hati yang merupakan penyakit dengan endemisitas tinggi di Indonesia. Hepatitis B dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati bila tidak mendapat pengobatan dengan tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengobatan yang diberikan kepada pasien hepatitis B meliputi profil dan kesesuaian pengobatan di RS Sekarwangi Sukabumi. Metode penelitian berupa deskriptif observasional, pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dari 69 rekam medis pasien rawat jalan periode 2018-2021 berusia 17-65 tahun. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari keseluruhan terapi yang sesuai dengan Kesesuaian dengan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis B di indonesia tahun 2012 (PPHI) sebanyak 27 (39,13%) penggunaan antiviral, sebanyak 47 (67,14%) sesuai berdasarkan terapi hepatoprotektor, sebanyak 19 ( 27,53%) sesuai berdasarkan terapi simtomatik, sebanyak 17 (24,63%) sesuai berdasarkan terapi suportif.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

KESESUAIAN PENATALAKSANAAN TERAPI PASIEN HEPATITIS B DI RSUD CIAWI BOGOR

2022Koleksi Perpustakaan

Hepatitis B adalah kelainan hati berupa peradangan hepar atau sel-sel hati yang merupakan penyakit dengan endemisitas tinggi di Indonesia. Hepatitis B dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati bila tidak mendapat pengobatan yang tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi terapi yang diberikan kepada pasien hepatitis B meliputi obat, dosis, frekuensi serta profil pasien dan profil pengobatan pasien di RSUD Ciawi Bogor. Metode penelitian berupa observasional deskriptif potong lintang, pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui 86 rekam medis rawat jalan periode 2019-2020 berusia 17-65 tahun. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu, terapi antiviral (52,32%) menggunakan lamivudin, terapi hepatoprotektor yaitu curcuma (72,09%), terapi simtomatik ondansentron (45,35%), terapi supportif asam folat (9,30%). Kesesuaian obat yang diberikan (93,33%) sesuai, kesesuaian dosis (100%) sesuai, kesesuaian frekuensi (100%) sesuai.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail