BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Epilepsi adalah suatu gangguan kondisi medis yang menyerang saraf
dengan ditandai adanya epileptik yang berulang pada sebagian atau seluruh tubuh
tanpa penyebab yang jelas. Pengobatan epilepsi dilakukan dengan 2 jenis terapi
yaitu monoterapi.dan politerapi. Monoterapi yaitu pemberian obat tunggal pada
pasien yang biasanya awal didiagnosa epilepsi sedangkan politerapi penggunaan
dua obat atau lebih pada pasien yang biasanya tidak bereaksi pada pengobatan
monoterapi. Pengobatan monoterapi diklaim menjadi pengobatan yang lebih baik
pada penyakit epilepsi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat data sosiodemografi,
melihat kesembuhan pasien setelah pemberian jenis terapi obat dan lama
pengobatan. Desain penelitian ini dilakukan dengan penelitian deskriptif
observasional dengan pengambilan data secara prospektif dan metode total
sampling pada sampel penelitian yang menjalani pengobatan monoterapi dan
politerapi. Dari hasil penelitian ini didapatkan 60 sampel dengan 30 sampel yang
menjalani pengobatan monoterapi dan 30 sampel yang menjalani pengobatan
politerapi dengan sampel terbanyak berjenis kelamin laki-laki (63,3%) dengan
kategori usia anak 5-11 tahun (36,7%), jumlah kesembuhan sampel (26,6%) untuk
sampel yang menjalani pengobatan monoterapi dan (6,6%) untuk sampel yang
menjalani pengobatan politerapi. Uji Mann-Whitney dihasilkan nilai p-Value
sebesar 0,039 atau <0,05 dimana terdapat perbedaan bermakna dari efektivitas
pengobatan monoterapi dan politerapi terhadap kesembuhan pasien epilepsi,
sehingga dinyatakan H0 ditolak dan H1 diterima.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang dicirikan
dengan karena adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pasien DM tipe 2
di RSUD Ciawi Bogor. Penelitian ini dilakukan secara prosfektif non eksperimental
selama periode Januari-Maret 2020. Subyek yang memenuhi kriteria inklusi adalah
53 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok monoterapi
sejumlah 17 pasien dan kelompok kombinasi terapi sejumlah 36 pasien.
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuisioner Diabetes
Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ) untuk mengukur kualitas
hidup dan rekam medis untuk mengetahui jenis terapi pasien. Hasil penelitian
menunjukan bahwa karakteristik subyek penelitian yaitu indeks masa tubuh, status
pernikahan dan penghasilan terdapat perbedaan bermakna terhadap kualitas hidup
(p<0,05) dan jenis kelamin, pendidikan, usia dan pekerjaan tidak terdapat
perbedaan yang bermakna terhadap kualitas hidup (p>0,05). Profil pengobatan pada
monoterapi terbanyak yaitu metformin sebanyak 14 responden (70%) dan pada
kombinasi terapi terbanyak yaitu metformin dan glimepirid sebanyak 13 responden
(26%). Gambaran kualitas hidup pasien yaitu nilai rata-rata pada kategori baik
sebesar 74,3 pada monoterapi didapatkan pada kategori sangat baik sebanyak 10
responden (55%) dan pada kombinasi terapi didapatkan pada kategori baik
sebanyak 26 responden (72%). Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas hidup
yaitu jenis kelamin, pendidikan, usia, pekerjaan, penghasilan dan terapi dengan
nilai (p<0,05). Pasien dengan monoterapi memiliki skor rata-rata kualitas hidup
lebih rendah daripada pasien dengan kombinasi terapi dengan skor rata-rata kualitas
hidup yaitu 72,8 ± 12,7 dan 78,2 ± 11,2 (p<0,05). Dengan demikian terdapat
perbedaan yang bermakna antara yang mendapat monoterapi dan kombinasi terapi.