Profil penulis
SE
245 karya publik ditemukan.
EVALUASI PENGGUNAAN AMOKSISILIN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA PEDIATRI DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN
EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ORAL PADA PASIEN DIARE BALITA DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN
UJI INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE SECARA IN VITRO EKSTRAK ETANOL 70% KENTOS KELAPA (Cocos nucifera L.)
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) BAGIAN ATAS DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN TERHADAP KEPATUHAN PASIEN DALAM PENGOBATAN TB PARU DI PUSKESMAS CITEUREUP KABUPATEN BOGOR
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kepatuhan pengobatan tuberkulosis berlangsung cukup lama dan memerlukan tingkat kepatuhan tinggi untuk mencegah resistensi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan dalam pengobatan adalah faktor predisposing meliputi sosiodemografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan), pengetahuan, dan sikap. Faktor enabling meliputi ketersediaan sarana atau fasilitas kesehatan dan faktor reinfactoring yaitu dukungan keluarga dan peran PMO. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi faktor predisposing dan faktor reinfactoring terhadap kepatuhan dalam pengobatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Dalam penelitian ini 67 sampel ditentukan dengan metode purposive sampling. Instrument penelitian ini menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel faktor predisposing dan faktor reinfactoring dengan kepatuhan dalam pengobatan TB paru dengan nilai (p-value < 0,05) adalah ditunjukan tidak berhubungan dengan pengetahuan (p value = 0,514), sikap responden (p value = 0,233), motivasi keluarga (p value = 0,117), dan peran PMO (p value =0,077).
EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI POLIKLINIK RUMAH SAKIT FMC BOGOR
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan psikiatri yang kompleks , ditandai dengan adanya gangguan berpikir berupa delusi, halusinasi, pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penanganan skizofrenia salah satunya dengan menggunakan pengobatan antipsikotik. Obat antipsikotik merupakan terapi utama yang efektif mengobati skizofrenia. Antipsikotik dibedakan menjadi dua generasi, yaitu generasi pertama (tipikal) dan generasi kedua (atipikal). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit FMC Bogor. Parameter evaluasi meliputi tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi pemberian obat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode total sampling. Data yang digunakan diambil dari rekam medik 96 pasien yang berusia 16 – 45 tahun periode Januari – Desember 2019. Dari hasil penelitian, skizofrenia lebih banyak dialami oleh laki-laki (62%) dan berusia 26-35 tahun (42%). Gambaran penggunaan antipsikotik terbanyak adalah antipsikotik golongan atipkal : Risperidon, Klozapin sebanyak 50 pasien (52%), antipsikotik golongan tipikal : Haloperidol, Klorpromazin sebanyak 5 pasien (5,2%) dan antipsikotik kombinasi atipikal dan tipikal : Risperidon + Klozapin + Haloperidol sebanyak 29 pasien (30%). Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketepatan penggunaan obat antipsikotik yaitu kategori tepat obat 96%, tepat pasien 96%, tepat dosis 97%, tepat frekuensi pemberian obat 97%.
HUBUNGAN.DRUG RELATED.PROBLEMS (DRPs) KATEGORI.DOSIS.OBAT.ANTIHIPERTENSI.DENGAN KONDISI.TEKANAN.DARAH DI RAWAT INAP RUMAH SAKIT DR. HAFIZ KABUPATEN CIANJUR
Hipertensi.merupakan.salah.satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia. Pada pemberian obat antihipertensi sering terjadi Drug Related Problems (DRPs) kategori dosis. DRPs merupakan suatu kejadian yang berpotensi mengganggu keberhasilan penyembuhan yang dikehendaki. DRPs domain kategori dosis meliputi dosis obat terlalu rendah, dosis obat terlalu tinggi, frekuensi pemberian regimen dosis terlalu rendah, frekuensi pemberian regimen dosis terlalu tinggi, informasi waktu dosis salah, tidak jelas atau hilang. Tujuan penelitian.ini adalah untuk mengetahui.hubungan DRPs kategori dosis.pada pemberian obat antihipertensi dengan kondisi tekanan darah penderita hipertensi di rawat inap Rumah Sakit Dr. Hafiz Kabupaten Cianjur. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan desain retrospektif yang berasal dari rekam medis. Analisis.data.yang.digunakan adalah univariat.dan bivariat. Analisis data bivariat penelitian ini menggunakan analisis Chi square. Hasil penelitian dari 105 pasien secara total sampling diperoleh: pasien paling banyak berusia 56-65 tahun sebanyak 40 pasien (38,1%); pasien jenis kelamin perempuan 61 pasien (58,1%) dan laki laki 44 pasien (41,9%);.obat antihipertensi yang paling.banyak digunakan adalah Amlodipine sebanyak 75 resep (33,5%); kejadian DRPs kategori dosis pada pasien hipertensi sebesar 18 kejadian (17,1%); DRPs kategori dosis yang mengalami penurunan tekanan darah yang tidak tercapai yaitu 12 pasien (66,7%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian DRPs kategori dosis dengan ketidaktercapaian.tekanan darah target.(p=0,418)
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI ANTIBOTIK PADA TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN DI WILAYAH KECAMATAN BEJI DEPOK
Pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga teknis kefarmasian mengenai penggunaan antibiotik dapat mencegah terjadinya peningkatan risiko terhadap keamanan pasien, pengobatan yang kurang tepat dan kurang efektif, dan perluasan resistensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tenaga teknis kefarmasian tentang antibiotik berserta hubungannya dengan faktor sosiodemografi di wilayah Kecamatan Beji Depok. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dengan pengambilan data secara prospektif dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling dengan memberikan kuesioner secara online menggunakan Google Form yang disebarkan kepada 171 tenaga teknis kefarmasian di wilayah Kecamatan Beji Depok. Pertanyaan kuesioner menggunakan standar Permenkes RI No 2406, 2011 tentang pedoman umum tentang antibiotik. Data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan Microsoft Excel dengan hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% tenaga teknis kefarmasian memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai antibiotik. Hasil uji Pearson Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan wilayah kerja dengan tingkat pengetahuan tenaga teknis kefarmasian mengenai antibiotik. Hasil uji lanjut Bonferroni menunjukkan terdapat hubungan yang signfikan pada jenis kelamin laki-laki dengan tingkat pengetahuan antiobiotik pada tingkatan kurang dan wilayah kerja di Beji dan Kemiri Muka dengan tingkat pengetahuan antibotik pada tingkatan kurang.
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MASKER PEEL OFF EKSTRAK ETANOL BIJI DAN TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.)
Antioksidan adalah zat yang dapat menangkal atau mencegah reaksi oksidasi dari radikal bebas. Jagung diketahui mengandung saponin, tannin, flavonoid, fenol, steroid, glikosida, terpenoid, protein, mineral. Flavonoid dan fenol diketahui berfungsi sebagai aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder serta menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak tunggal dan sediaan masker peel off ekstrak biji jagung (XBJ) dan tongkol jagung (XTJ) dengan viariasi formula F1 (XBJ 0,035%), F2 (XTJ 0,035%), F3 (XBJ 0,070%) dan F4 (XTJ 0,070%) dengan metode peredaman radikal bebas yang diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 515,5 nm. Ektrak etanol 96% biji dan tongkol jagung mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Pada XBJ dan XTJ memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 berturut-turut yaitu 35,406 ppm dan 33,223 ppm serta pada masker peel off F1 (XBJ 0,035%), F2 (XTJ 0,035%), F3 (XBJ 0,070%) dan F4 (XTJ 0,070%) memiliki nilai IC50 berturut-turut yaitu 63,115 ppm, 57,094 ppm, 43,089 ppm dan 42,509 ppm.
FORMULASI SEDIAAN GEL DARI EKSTRAK DAUN RAMBUTAN (Naphelium lappaceum) DAN DAUN URANG ARING (Eclipta prostrata) SEBAGAI PEWARNA RAMBUT
Pewarna rambut adalah salah satu sediaan kosmetika yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mengganti ataupun mengembalikan warna rambut. Daun urang aring (Eclipta prostrata) dan daun rambutan (Naphelium lappaceum) merupakan tumbuhan yang memiliki senyawa tanin yang berfungsi sebagai penghasil warna dari warna kuning, coklat sampai keemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa ekstrak daun rambutan dan ekstrak daun urang aring dengan perbedaan bahan pembangkit warna dapat memberikan efek dan stabilitas warna pada rambut, mutu fisik dan kesukaan dari warna rambut yang dihasilkan sediaan pewarna rambut. Penelitian ini membuat formula pewarna rambut dengan membandingkan pembangkit warna. Pembangkit warna pirogalol ditambah tembaga (II) sulfat dan asam askorbat ditambah besi (II) sulfat dapat diformulasikan ke dalam sediaan pewarna rambut dengan bahan pembangkit tersebut didapatkan hasil dari warna light ivory hingga warna chocolate brown. Jangka waktu perendaman rambut mempengaruhi warna rambut yang dihasilkan, pada formula 2 memiliki daya lekat warna yang lebih kuat pada rambut dapat bertahan hingga 15 kali pencucian, dan untuk stabilitas warna terhadap sinar matahari menunjukkan hasil tetap stabil. Sediaan pewarna rambut dari ekstrak urang aring dan daun rambutan berbentuk gel, beraroma khas, memiliki pH sediaan 4,5-6,5, viskositas pada kisaran 3000-49400 cps. Formula yang banyak diminati oleh masyarakat ialah F1 urang aring.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL 70% DAGING BUAH BISBUL (Diospyros discolor Willd.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus) GALUR Sparague dawley YANG DIINDUKSI ALOKSAN
Buah Bisbul (Diospyros discolor Willd.) dikenal juga sebagai Velvet Apple atau buah mentega. Buah bisbul merupakan buah yang awalnya tumbuh liar di hutan- hutan Filipina, namun kini telah menyebar di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Buah bisbul memiliki efek toksisitas dan kandungan kimia senyawa aktif flavonoid, tanin, saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol 70 % buah bisbul dalam menurunkan kadar glukosa darah (antidiabetes) yang diinduksi aloksan. Simplisia daging buah bisbul diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan diuji secara in vivo. Pengukuran kadar glukosa menggunakan alat glukometer selama 14 hari. Perlakuan hari ke-14 pada kontrol negatif mengalami penurunan sebesar 1,24 %. Perlakuan kontrol positif mengalami penurunan kadar glukosa darah sebesar 50,33%. Perlakuan dengan pemberian ekstrak dosis 200mg/KgBB, 400mg/KgBB, 600mg/KgBB, dan dosis 850 mg/KgBB menurunkan kadar glukosa sebesar 6 %,12,88%, 32,50 % dan 17,19 %. Hasil terbaik yang memiliki pengaruh menurunkan kadar glukosa darah yang mekanisme kerjanya hampir sama dengan metformin adalah ekstrak daging buah bisbul dengan dosis 600mg/KgBB.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe pinnata) DAN DAUN SEREH WANGI (Cymbopogon nardus (L.) Rendle TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans
Karies gigi ialah proses patologis yang berlangsung pada rongga mulut yang berupa interaksi, karena melibatkan banyak faktor yaitu bakteri Streptococcus mutans. Daun cocor bebek dan sereh wangi merupakan tanaman obat yang memiliki efek antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 96% daun cocor bebek dan daun sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 20%, dan 25% dan untuk kombinasinya dengan perbandingan (1:1, 1:3, 3:1). Sampel ekstrak kental daun cocor bebek dan daun sereh wangi dilakukan penapisan fitokimia dan sampel tunggal serta kombinasinya diuji aktivitasnya terhadap Streptococcus mutans secara in vitro menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak Cocor bebek dan Sereh wangi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin. Konsentrasi 25% ekstrak tunggal Cocor bebek dan sereh wangi memiliki aktivitas terbaik dengan diameter daya hambat 15 mm dan 16.23 mm. Kombinasi daun cocor bebek dan sereh wangi dengan perbandingan (3:1) dengan diameter daya hambat sebesar 22.53 mm dengan kategori kuat. Konsentrasi daun cocor bebek dan sereh wangi 25% dan perbandingan 3:1 lebih baik dengan kedua ekstrak tunggal tersebut , dan hasilnya pada konsentrasi cocor bebek 25% yaitu 16.18 mm (kuat) dan untuk sereh wangi pada konsentrasi 25% yaitu 16.66 mm (kuat) dan untuk perbandingan 3:1 yaitu 18.13 mm (kuat), untuk kontrol positif yaitu 17.49 mm (kuat). Ekstrak cocor bebek dan sereh wangi memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro terhadap bakteri Streptococcus mutans.
FORMULASI DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN BODY LOTION KOMBINASI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH LEMON (Citrus limon (L.)Osbeck) dan HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.)Urb)
Lotion merupakan suatu sediaan kosmetika berbentuk emulsi cair yang digunakan pada daerah tangan dan tubuh dengan tujuan melembabkan dan melembutkan kulit. Berdasarkan penelitian sebelumnya, tanaman kulit buah lemon (Citrus limon (L.)Osbeck) dan herba Pegagan (Centella asiatica (L.)Urb) mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh formulasi sediaan body lotion kombinasi kulit buah lemon (Citrus limon (L.)Osbeck) dan herba pegagan (Centella asiatica (L.)Urb) sebagai antioksidan. Sediaan body lotion dibuat dengan mevariasikan setil alkohol yaitu pada F1 (2g), F2 (4g), dan F3 (8g) dengan perbandingan konsentrasi ekstrak 2:1 (4g:2g). Evaluasi fisik dilakukan antara lain uji organoleptik, viskositas, pH, daya sebar, dan stabilitas mutu fisik. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil uji menunjukkan nilai IC50 ekstrak etanol kulit buah lemon sebesar 48,951 μg/mL (sangat kuat), herba pegagan sebesar 56,435 μg/mL (kuat), kombinasi ekstrak sebesar 46,499 μg/mL (sangat kuat). Sedangkan nilai IC50 untuk aktivitas antioksidan pada sediaan F1 sebesar 54,959 μg/mL (kuat), F2 sebesar 54,604 μg/mL (kuat), F3 sebesar 54,006 μg/mL (kuat). Vitamin C sebesar 5,288 μg/mL (sangat kuat). Formulasi body lotion F3 terpilih karena nilai IC50 lebih baik dibanding formula lainnya dan stabil secara mutu fisik.
POTENSI ANTIOKSIDAN BAKTERI ENDOFIT TANAMAN SIRIH MERAH (Piper cf. fragile. Benth)
Bakteri endofit yang hidup di jaringan tanaman mampu menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang sama dengan tanaman inangnya. Bakteri endofit yang diperoleh dari tanamansirih merah (Piper cf. fragile. Benth) mempunyai potensi menghasilkan senyawa antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi bakteri endofit yang mempunyai aktivitas antioksidan yang berasal dari daun, batang, dan akar tanaman sirih merah (Piper cf. fragile. Benth) dan mengetahui kandungan senyawa aktifnya yang berperan sebagai antioksidan. Masing-masing isolat difermentasikan dalam media NB (NutrientBroth). Hasil fermentasi dipisahkan antara supernatan dan biomassa. Supernatan diekstraksi dengan etilasetat. Ekstrak kental yang diperoleh diuji aktivitas antioksidan secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan pereaksi ABTS. Hasil uji menunjukan dari 15 isolat bakteri endofit hanya 4 isolat yang menunjukan aktivitas antioksidan secara kualitatif. Isolat dengan kode SMB1 dan SMD 3.1 mempunyai nilai IC50 berturut –turut 23,11 ppm dan 94,88 ppmdan trolox sebagai kontrol positif mempunyai nilai IC50 sebesar 4,041 ppm. Dari hasil uji kuantitatif dipilih isolat dengan kode SMB 1 untuk dianalisis dengan GC-MS. Hasil GC-MS menunjukan isolat dengan kode SMB 1yang diduga mengandung senyawa1,2-Benzenediccarboxylic acid, bis(2-ethylhexyl)ester dengan persentase kemiripan 93%.
AKTIVITASlANTIOKSIDANlSEDUHANlDAUN SALAM (Syzygiumlpolyanthuml(Wight) Walp.) DAN DAUN STEVIA (StevialrebaudianalBertoni) SERTA KOMBINASINYA
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menangkal atau meredam efek negatif oksidan dalam tubuh. Daun salam (Syzygium polyanthum) memiliki kandungan alkaloid, saponin, quinon, fenolik, triterpenoid, steroid dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) merupakan daun yang sering digunakan sebagai pemanis alami untuk bahan makanan dan minuman. Keunggulan dari stevia yaitu bersifat non karsinogenik, memiliki nilai kalori rendah yang cocok bagi penderita diabetes, antimikroba, antidiabetik serta memiliki senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai antioksidan. Senyawa fitokimia yang terdapat dalam daun stevia adalah alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, glikosida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder serta menentukan aktivitas antioksidan dari kombinasi seduhan daun salam dan daun stevia dengan metode perendaman radikal bebas. Seduhan daun salam dibuat dengan deret konsentrasi 5, 10, 20, 40, 80 ppm dan daun stevia dengan deret konsentrasi 5, 10, 20, 40, 80 ppm serta kombinasinya dengan perbandingan 1:1, 1:3 dan 3:1 pada deret konsentrasi 5, 10, 20, 40 dan 80 ppm. Diseduh air panas lalu di tambahkan dengan akuades dan DPPH, kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 515,5 nm. Seduhan daun salam mengandung alkaloid, flavonoid, saponin tanin dan steroid dan pada daun stevia mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Seduhan daun salam memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 13,8 ppm (sangat kuat), daun stevia dengan nilai IC50 45,7 ppm (sangat kuat) serta pada kombinasi dengan perbandingan 1:1 diperoleh nilai IC50 sebesar 9,2 ppm, 1:3 nilai IC50 sebesar 9,44 ppm dan pada 3:1 sebesar 37,15 ppm.
EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA RAWAT JALAN DEWASA DIKLINIK CARITAS BOGOR PERIODE JULI–DESEMBER 2019
InfeksiSaluranPernafasanAkutmerupakanpenyakitinfeksiakutyang menyerangsalahsatubagianataulebihdarisalurannafasmulaidari hidung(saluranatas)hinggaalveoli(saluranbawah)termasukjaringan adneksanyasepertisinus,ronggatelingatengahdanpleura.Penggunaan obatsecaratepatmerupakanhalpentingyangperludilakukandalam meningkatkanmutupelayanankesehatankepadapasien.Berdasarkan KemenkesRI(2011)tentangPOR,penggunaanobatdapatdikatakan rasionalapabila pasien menerima obatyang sesuaidengan kondisi klinisnya,dalam periode waktu yang tepat,dan dengan biaya yang terjangkau untuk pasien dan kebanyakan masyarakat.Penelitian ini dilakukanuntukmengetahuigambarandatasosiodemografipasiendan rasionalitasantibiotikpadapasienISPA rawatjalandewasadiKlinik CaritasBogor.Penelitianinidilakukandenganmetodedeskriptifdengan mengambildatarekam medispasienISPAsecararetrospekifpadabulan JulisampaiDesember2019.Berdasarkandari82sampelyangteliti,hasil penelitianmenunjukkanbahwasosiodemografiberdasarkanusiayang palingbanyakmenderitaISPAyaitupadakategoridewasaakhirsebanyak 25pasien(30,49%),berdasarkanjeniskelaminyaitulaki-lakisebanyak51 paien(62,20%).Berdasarkanprofilpenggunaanantibiotikyangpaling banyakdigunakan yaitu Cefixime sebanyak48 pasien (58,54%).Dan berdasarkanrasionalitaspenggunaanobat,tepatindikasisebanyak77 pasien(93,90%),tepatdosissebanyak78pasien(95,12%),tepatlama pemberian sebanyak 79 pasien (96,34%)dan tepatintervalwaktu sebanyak78pasien(95,12%).
AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN GEL ANTI ACNE EKSTRAK ETANOL 70% DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala (Lam) de Wit) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes
Jerawat merupakan suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri diantaranya adalah Propionibacterium acnes. Penelitian Alamsyah 2019 menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% daun lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam) de Wit) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes pada konsentrasi 15% dengan diameter zona hambat sebesar 11,39 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan mutu fisik sediaan gel ekstrak etanol 70% daun lamtoro terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Pada penelitian ini ekstrak daun lamtoro diformulasikan kedalam bentuk sediaan gel dengan berbagai konsentrasi ekstrak yaitu 10%, 20%, dan 30% kemudian diuji mutu fisik meliputi: uji organoleptik, daya sebar, pH, viskositas, stabilitas Cycling test dan uji antibakteri terhadap Propionibacterium acnes menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan ekstrak daun lamtoro mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid. Aktivitas antibakteri ekstrak daun lamtoro terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan konsentrasi 10%, 20%, 30% adalah 10,6 mm, 15,9 mm, dan 18,3 mm. Sediaan gel ekstrak daun lamtoro memiliki mutu fisik yang baik, dan aktivitas antibakteri sediaan gel daun lamtoro dengan konsentrasi 10%, 20%, 30% secara berturut-turut 6,4 mm, 8,2 mm, 10,1 mm dengan kategori sedang yang menunjukan sediaan gel ini dapat berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes.