Profil penulis
SE
245 karya publik ditemukan.
Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota
Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Rumah (home pharmacy care)
PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PENYAKIT TUBERKULOSIS
Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach
PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PENYAKIT DIABETES MELLITUS
PEDOMAN PELAYANAN KEFARMASIAN UNTUK ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA)
PEDOMAN PELAYANAN FARMASI UNTUK IBU HAMIL DAN MENYUSUI
PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER : FOKUS SINDROM KORONER AKUT
The Desk Encyclopedia of Microbiology
DAFTAR OBAT ESENSIAL NASIONAL
Inorganic Chemistry
High Performance Liquid Chromatography in Phytochemical Analysis
BIOACTIVE NATURAL PRODUCTS
PEDOMAN PENGGUNAAN OBAT BEBAS DAN BEBAS TERBATAS
PEDOMAN PENCAMPURAN OBAT SUNTIK DAN PENANGANAN SEDIAAN SITOSTATIKA
EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS(DRPs) PENGOBATAN ISPA PADA PASIEN BALITA
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan menyerang apabila ketahanan tubuh (immunitas) menurun. Dalam penatalaksanaan ISPA balita yang menjalani pengobatan akan berdampak munculnya masalah dalam pemberian obat obat Drug Related Problems (DRPs) di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Azra Bogor pada periode 1 Januari 2019 sampai 31 Maret 2020. Dengan teknik pengumpulan data secara retrospektif dan dianalisi secara deskriktif, metode yang dipakai menggunakan rumus Slovin dan didapat sampel sebanyak 109 sampel pasien dengan rentan 0-5 tahun. Hasil pengumpulan dan pengolahan data menunjukan bahwa pasien di Rumah Sakit Azra Bogor Jenis kelamin laki-laki 60 pasien dan perempuan 49 pasien. Terapi obat yang banyak diterima oleh penderita ISPA adalah obat tremenza, triamcinolon, ketotifen, paracetamol, salbutamol. Sedangkan obat lain yang digunakan bersamaan dengan obat ISPA untuk terapi ISPA adalah antibiotik. Hasil evaluasi menunjukan DRPs, yaitu interaksi obat 94 pasien, terapi tanpa indikasi 18 pasien, indikasi tanpa terapi 4 pasein, overdosis 6 pasien, dosis subterapeutik 8 pasien, pemilihan obat yang kurang tepat 0 pasien, reaksi obat yang dikehendaki 0 Pasien, kegagalan menerima obat 2 pasien.
EVALUASI KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG MENDAPATKAN MONOTERAPI DAN KOMBINASI TERAPI DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD CIAWI BOGOR
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang dicirikan dengan karena adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pasien DM tipe 2 di RSUD Ciawi Bogor. Penelitian ini dilakukan secara prosfektif non eksperimental selama periode Januari-Maret 2020. Subyek yang memenuhi kriteria inklusi adalah 53 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok monoterapi sejumlah 17 pasien dan kelompok kombinasi terapi sejumlah 36 pasien. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuisioner Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ) untuk mengukur kualitas hidup dan rekam medis untuk mengetahui jenis terapi pasien. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik subyek penelitian yaitu indeks masa tubuh, status pernikahan dan penghasilan terdapat perbedaan bermakna terhadap kualitas hidup (p<0,05) dan jenis kelamin, pendidikan, usia dan pekerjaan tidak terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kualitas hidup (p>0,05). Profil pengobatan pada monoterapi terbanyak yaitu metformin sebanyak 14 responden (70%) dan pada kombinasi terapi terbanyak yaitu metformin dan glimepirid sebanyak 13 responden (26%). Gambaran kualitas hidup pasien yaitu nilai rata-rata pada kategori baik sebesar 74,3 pada monoterapi didapatkan pada kategori sangat baik sebanyak 10 responden (55%) dan pada kombinasi terapi didapatkan pada kategori baik sebanyak 26 responden (72%). Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas hidup yaitu jenis kelamin, pendidikan, usia, pekerjaan, penghasilan dan terapi dengan nilai (p<0,05). Pasien dengan monoterapi memiliki skor rata-rata kualitas hidup lebih rendah daripada pasien dengan kombinasi terapi dengan skor rata-rata kualitas hidup yaitu 72,8 ± 12,7 dan 78,2 ± 11,2 (p<0,05). Dengan demikian terdapat perbedaan yang bermakna antara yang mendapat monoterapi dan kombinasi terapi.
PARAMETER STANDAR UMUM EKSTRAK TUMBUHAN OBAT
EVALUASI PENATALAKSANAAN DAN KEBERHASILAN TERAPI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg serta tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg dengan pemeriksaan yang berulang. Dalam hal meningkatkan keberhasilan terapi, penggunaan obat yang rasional sangat penting. Jika penderita hipertensi tidak diobati maka terjadi komplikasi. Untuk pasien hipertensi harus meminum obat antihipertensi untuk mencapai efek terapinya. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran sosiodemografi pasien, gambaran pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus, gambaran penggunaan obat antihipertensi, mengetahui kesesuaian, keberhasilan dan hubungan terapi obat antihipertensi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 di Puskesmas Bogor Selatan. Penelitian ini, non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional menggunakan data retrospektif dengan data sekunder yang diambil dari SIMPUS berupa rekam medik dan resep obat sebanyak 80 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian ini, usia paling tinggi 56 – 65 tahun sebanyak 38 pasien (47,5%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 68 pasien (85%). Hipertensi tanpa diabetes melitus sebanyak 70 pasien (87,5%). Obat yang terbanyak digunakan yaitu Amlodipin sebanyak 79 pasien (98,75%). Kesesuaian terapi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 sebanyak 41 pasien (51,25%). Keberhasilan terapi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 yang berhasil sebanyak 26 pasien (32,5%). Hasil statistika, uji Chi-square nilai sig. 0,000 ≤ 0,05 yaitu ada hubungan yang signifikan antara kesesuaian dengan keberhasilan terapi.