Profil penulis
SE
245 karya publik ditemukan.
ANALISIS EFEKTIVITAS-BIAYA OBAT KAPTOPRIL DAN AMLODIPIN PADA PASIEN HIPERTENSI DI KLINIK RAWAT JALAN PERTIWI 1 KOTA DEPOK
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik dari 90 mmHg. Penelitian farmakoekonomi merupakan proses identifikasi, pengukuruan dan perbandingan biaya, akibat dan keuntungan suatu program pelayanan dan terapi, serta menentukan pilihan mana yang memberikan outcomes kesehatan terbaik untuk sumber yang diinvestasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril, biaya terapi yang dikeluarkan pasien, dan antihipertensi yang paling efektif biaya. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif, subyek penelitian adalah pasien hipertensi yang menggunakan terapi Amlodipin dan Kaptopril sebanyak 102 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data diolah menggunakan ACER dan ICER Hasil penelitian ini menunjukan terdapat perbedaan sosiodemografik pada pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 44 pasien dengan presentase 43,1% dan perempuan sebanyak 58 pasien dengan presentase 58,9%. Dengan usia terbanyak usia >65 sebanyak 41 pasien dengan presentase 40,2 %. Efektivitas pengobatan Amlodipin 74 % dan Kaptopril 58%. Berdasarkan nilai rasio efektivitas biaya rata-rata (ACER) yang paling cost effective terdapat pada kelompok terapi amlodipin dengan nilai Rp.7.901 dan rasio efektivitas biaya tambahan (ICER) yaitu Rp.6.811. Dapat disimpulkan bahwa terapi Amlodipin lebih cost effective.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP PERILAKU PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI KELURAHAN KEBON PEDES SUKABUMI 2022
Ketidaktepatan penggunaan antibiotik banyak ditemukan di masyarakat luas. Hal ini dapat menjadi penyebab terjadinya resiko buruk seperti resistensi antibiotik. Dalam pelaksanaan pengobatan sendiri banyak sering terjadi kesalahan dalam pengobatan, dimana kesalahan ini disebabkan karena kurangnya ilmu pengetahuan dari masyarakat terhadap cara penggunaan obat, informasi lain terkait obat yang digunakan maupun melakukan pengobatan secara mandiri dengan antibiotik tanpa resep dokter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap perilaku penggunaan antibiotik di Kelurahan Kebon Pedes Sukabumi. Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan metode cross sectional. Pengambilan data menggunakan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner, untuk mengetahui hubungan pengetahuan masyarakat terhadap perilaku penggunaan antibiotik. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dari jumlah populasi 1.790 menggunakan metode purposive sampling. kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukan tingkat pengetahuan tentang antibiotik sebagian besar berkategori cukup yaitu sebanyak 63% dan tingkat perilaku penggunaan antibiotik sebagian besar berkategori cukup sebanyak 76%. Dari hasil uji Chi-square diperoleh p-value 0,032 (<0,05). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan masyarakat terhadap perilaku penggunaan antibiotik.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK KULIT BUAH JERUK PURUT (Citrus hystrix D C), MINYAK BIJI PALA (Myristica fragrans Houtt) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP Streptococcus mutans
Penggunaan tumbuh-tumbuhan alami tanaman obat sedang populer pada saat ini. Salah satu bahan yang berpotensi adalah kulit buah jeruk purut dan biji pala yang digunakan sebagai antibakteri. Minyak atsiri yang terkandung pada kulit buah jeruk purut dan minyak biji pala mengandung senyawa turunan fenol dan terpenoid yang dimana pada kulit buah jeruk purut terbentuk kompleks protein fenol yaitu sitroneal sedangkan biji pala terdapat β-pinen senyawa terpenoid, yang memiliki aktivitas antibakteri. Maka dari itu perlu adanya pengujian untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak kulit buah jeruk purut (citrus hystrix d c), minyak biji pala (myristica fragrans houtt) serta kombinasinya terhadap Streptococcus mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan difusi cakram. Data diperoleh berupa uji karakteristik minyak atsiri, analisis data dengan Gas Kromatografi dan mendapatkan nilai rata-rata zona hambat yang didapatkan dari tiga pengulangan pada sampel tunggal minyak kulit buah jeruk purut dan biji pala pada konsentrasi 1%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 100%. Kontrol positif mengunakan chlorhexidine 0,2% dan kontrol negative DMSO 10%. Sampel kombinasi diambil dari masing-masing sampel tunggal 4%, dengan nilai zona hambat tungga minyak kulit buah jeruk purut 11,290 mm dan tunggal minyak biji pala 14,203 mm, serta pada kombinasi 1:1, 1:3 dan 3:1 dengan nilai zona hambatnya yang paling tinggi 1:3 yaitu 17,387 mm, jika dilihat pada ketiga konsentrasi tersebut masuk kedalam kategori zona hambat kuat.
HUBUNGAN SOSIODEMOGRAFI DAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT ANTITUBERKULOSIS PASIEN TB PARU DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ISLAM BOGOR
Tuberkulosis (TB paru) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycrobacterium tuberculosis, Untuk mencapai pengobatan yang optimal dibutuhkan pengetahuan dan kepatuhan minum obat anti TB. Tujuan penelitian iniuntuk mengetahui hubungan sosiodemografi dan tingkat pengetahuan mengenai penyakit tuberkulosis dengan kepatuhan minum obat anti TB pasien rawat jalan di Rumah Sakit Islam Bogor. Jenis penelitian kuantitatif observasional (non eksperimental) dengan pendekatan longitudinal dan pengamatan diambil secara prospektif dengan kuesioner tentang sosiodemografi, pengetahuan dan kepatuhan pada pasien TB paru. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Islam Bogor Periode Agustus sampai September 2022 dengan pemilihan sampel total sampling yang memenuhi keriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 52 pasien. Hasil penelitian menunjukan data sosiodemografi pasien laki-laki sebanyak 52%, rata- rata usia pasien terbanyak 17-25 tahun 36,5%, pendidikan terbanyak SMA sebanyak 51,9%, dan pekerjaan terbanyak yaitu pegawai swasta sebanyak 38,5%, pengetahuan dalam kategori tinggi sebanyak 75,0%, dan kepatuhan yang paling banyak adalah patuh yaitu 69,2%. Berdasarkan uji chi square sosiodemografi diperoleh nilai p-value usia 0,056, jenis kelamin 0,853, pendidikan 0,241, pekerjaan 0,173. Sedangkan nilai p -value tingkat pengetahuan menunjukan 0,379.Tidak ada hubungan sosiodemografi dan pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien TB paru di Rumah Sakit Islam Bogor.
EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANTIDIARE PADA PASIEN DIARE BALITA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT X BOGOR
Diare adalah penyakit dengan meningkatnya frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari disertai perubahan bentuk dan konsistensi feses. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil sosiodemografi pasien, mengevaluasi penggunaan obat antidiare meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian berdasarkan Manajemen Terpadu Balita Sakit 2015, Drug Information Handbook 2009, Pediatric Drug Doses 2012, MIMS 2019. Penelitian ini, non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif, dianalisis secara deskriptif. Sampel diambil sebanyak 63 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%), kelompok usia terbanyak > 1-3 tahun (53%), berat badan terbanyak <10 kg (81%). Penggunaan terapi obat zink sebanyak (19%), antibiotik dengan probiotik sebanyak (13%), antibiotik sebanyak (42%). Pemberian antibiotik yang sering digunakan yaitu kotrimoksazol (71%). Evaluasi ketepatan pemilihan obat zink, probiotik, antibiotik didapatkan sebanyak (100%). Evaluasi ketepatan dosis zink (68%), probiotik (70%), antibiotik (94%). Evaluasi ketepatan frekuensi zink (100%), probiotik (100%), antibiotik (78%). Evaluasi ketepatan lama pemberian zink, probiotik, antibiotik (100%).
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE ANAK DENGAN METODE GYSSENS DI RSUD SEKARWANGI SUKABUMI
Penyakit diare merupakan penyakit endemis yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan masih menjadi penyumbang angka kematian di Indonesia terutama anak. Pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat dengan tatalaksana terapi akan menimbulkan efek samping serta resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare anak di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara retrospektif yang berasal dari data rekam medik kemudian data dianalisis secara kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh dengan cara total sampling sebanyak 77 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukan pasien diare anak terbanyak adalah laki-laki sebanyak 42 pasien (54,55%), dengan kelompok usia 0 - 1 tahun sebanyak 35 pasien (45,45%) dan berat badan terbanyak < 10 kg sebanyak 48 pasien (62,34%). Antibiotik yang terbanyak digunakan adalah Sefotaksim sebanyak 42 kasus (54,54%) dan rute pemberian yang terbanyak digunakan adalah intravena sebanyak 67 peresepan (87,01%). Evaluasi keetepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens masuk ke dalam kategori: Kategori 0 sebanyak 48 pasien (62,34%), Kategori III B sebanyak 13 pasien (16,88%), Kategori II A sebanyak 9 pasien (11,69%), Kategori IVA sebanyak 7 pasien (9,09%).
EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE ANAK DENGAN METODE GYSSENS DI RAWAT INAP RS PMI BOGOR
Diare merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Diare juga merupakan 3 penyebab terbesar kesakitan dan kematian anak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien diare anak dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien diare anak yang di rawat inap dengan metode Gyssens di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan dengan data diambil secara retrospektif yaitu mengambil data rekam medis pada pasien anak rawat inap dengan diagnosa diare di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan dengan diagram alir Gyssens, menggunakan standar Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit. Dari 107 kasus yang diperoleh menunjukkan kasus terbanyak terjadi pada anak usia 28 hari-12 bulan (67%) dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%) dan berat badan terbanyak pada 5-15 kg sebanyak 85 pasien (79). Antibiotik yang terbanyak digunakan ceftriaxon injeksi (69%). Hasil evaluasi menggunakan metode Gyssens kesesuaian penggunaan antibiotik masuk ke dalam kategori 0 sebanyak 48 pasien (44%), kategori IIA sebanyak 34 pasien (31%), kategori IIIB sebanyak 10 pasien (9%), kategori IIIA sebanyak 7 pasien (7%), kategori IVA sebanyak 5 pasien (5%), kategori V sebanyak 4 pasien (4%).
AKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN PEPAYA (Carica papaya L.), UMBI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.), SERTA KOMBINASINYA TERHADAP Candida albicans
One of the natural ingredients that can be used as an alternative antifungal treatment is papaya leaves (Carica papaya L.) and garlic bulbs (Allium sativum L.). The purpose of this study was to determine the antifungal activity of a combination of ethanol extract 96% of papaya leaves (Carica papaya L.) garlic bulbs (Allium sativum L.) on the growth of Candida albicans fungi. Papaya leaves and garlic bulbs were extracted by maceration using 96% ethanol. The extract obtained was subjected to phytochemical tests and the determination of antifungal activity by the well method with concentration 15%, 20% and 25%. The phytochemical compounds contained in papaya leaves are tannins, alkaloids, saponins and flavonoids. Meanwhile, the garlic bulbs contains phytochemical compounds of flavonoids, alkaloids, and saponins. The diameter of the inhibition zone of the ethanol extract of papaya leaves and garlic buls was the highest at a concentration of 25% with a value of 13,38 mm (strong category) and 12,16 mm (strong category). The best antifungal activity against Candida albicans was in the combination of the ethanol extract of papaya leaves: garlic bulbs (2:1) with a value of 13,23 mm (strong category). Therefore, the ethanol extract of papaya leaves and garlic bulbs has potential antifungal against Candida albicans.
EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA DI KLINIK UTAMA dr. YATI ZARNUDJI CIBINONG KABUPATEN BOGOR
ISPA merupakan suatu penyakit menular yang menginfeksi saluran pernapasan manusia yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus yang masih menjadi perhatian karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Dalam kenyataannya antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini. Peresepan antibiotika yang berlebihan dapat menimbulkan peningkatan resistensi bakteri dan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data sosiodemografi berupa usia dan jenis kelamin, data profil penyakit ISPA, data profil penggunaan antibiotik serta data ketepatan penggunaan antibiotik meliputi tepat indikasi, tepat dosis, tepat obat, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian pasien penderita ISPA. Penelitian ini bersifat observasional dimana data sekunder dikumpulkan dari rekam medik pasien periode Januari – Desember 2021 yang dilakukan secara retrospektif dan dianalisis dengan metode analisa deskriptif di Klinik Utama dr. Yati Zarnudji Cibinong Kabupaten Bogor. Pada penelitian ini diperoleh data pasien yang terdiagnosa ISPA bagian atas dan bawah sebanyak 82 pasien terpilih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian diperoleh pasien ISPA paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 pasien (62%). Untuk usia yang paling banyak menderita penyakit ISPA berdasarkan data sosiodemografi pasien yaitu usia dewasa awal 26 – 35 tahun sebanyak 29 orang (35%). Penyakit ISPA yang paling banyak diderita yaitu faringitis sebanyak 54 pasien (66%). Untuk antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu cefixime sebanyak 32 resep (39%). Evaluasi ketepatan indikasi 82 sampel (100%), ketepatan dosis 65 sampel (79%), ketepatan obat 82 sampel (100%), ketepatan frekuensi 82 sampel (100%) dan ketepatan lama pemberian 40 sampel (49%).
EVALUASI KETEPATAN PENATALAKSANAAN DAN KEBERHASILAN TERAPI ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS CIAMBAR SUKABUMI
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg dengan pemeriksaan yang berulang. Dalam keberhasilan terapi, penggunaan obat rasional sangat penting. Keberhasilan terapi ditandai dengan penurunan tekanan darah sesuai dengan standar Joint National Committee (JNC) 8 yaitu usia >60 tahun keberhasilannya <150/90 mmHg dan usia <60 tahun keberhasilannya <140/90 mmHg. Penelitian ini bertujan untuk melihat gambaran sosiodemografi pasien, profil penggunaan obat antihipertensi, ketepatan penggunaan obat antihipertensi dan keberhasilan terapi obat antihipertensi berdasarkan JNC 8 di Puskesmas Ciambar Sukabumi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif Observasional dengan pendekatan secara retrospektif mengumpulkan data sekunder dari rekam medik dan resep sebanyak 99 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian, usia paling banyak 46-55 tahun sebanyak 43 pasien (43,43%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 81 pasien (81,82%). Penggunaan Obat terbanyak yaitu kombinasi sebanyak 47 pasien (47.47%). Ketepatan penggunaan, Tepat obat, dosis, indikasi menunjukkan hasil 100% tepat dan tepat frekuensi 79 pasien (79,80%) tepat, 20 pasien (20,20%) tidak tepat. Keberhasilan terapi berdasarkan JNC 8, 17 pasien (17,17%) berhasil, 82 pasien (82,83%) tidak berhasil.