Profil penulis
SE
245 karya publik ditemukan.
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 13, No 3 desember 2024
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Volume 15 No. 1 Januari 2024
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Volume 11 No.1 April 2025
The Indonesian Biomedical Journal Volume 16 Number 5 october 2024
Formularium Nasional
Suplemen 1 Farmakope Indonesia
POLA PERESEPAN PASIEN JANTUNG RAWAT JALAN RS. SENTRA MEDIKA CIBINONG PERIODE DESEMBER 2023
Penyakit jantung merupakan suatu kondisi dimana jantung tidak berfungsi secara maksimal sehingga menghambat sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh kelemahan otot jantung atau adanya celah antara serambi kiri dan kanan jantung sehingga mengakibatkan terganggunya peredaran darah bersih dan darah kotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sosiodemografi pasien jantung rawat jalan di fasilitas farmasi rumah sakit. Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong menentukan pola peresepan obat jantung bagi pasien rawat jalan yang terdiagnosis penyakit jantung di fasilitas ini selama Desember 2023 berdasarkan usia dan jenis kelamin. Usia pasien jantung tertinggi pada usia 56-65 tahun sebanyak 38,10 %. Proporsi pasien laki-laki sangat tinggi yaitu 60,95%. Golongan obat yang paling banyak digunakan oleh pasien BPJS yaitu antiplatelet sebesar 19,75%, dan golongan obat pasien non-BPJS yaitu beta-blocker sebesar 30,77%. Jenis obat yang paling banyak digunakan pasien BPJS yaitu bisoprolol sebanyak 17,75 % dan jenis obat yang paling banyak digunakan pasien non BPJS adalah bisoprolol sebanyak 23,08 %. Jumlah item obat dalam resep yang digunakan pasien BPJS yaitu 4-6 item dengan persentase 67,34% sedangkan jumlah item obat dalam resep yang digunakan pasien non-BPJS yaitu 1-3 item dengan persentase 100 %. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pola peresepan obat jantung di fasilitas farmasi rawat jalan RS. Sentra Medika Cibinong disesuaikan dengan kebutuhan individu berdasarkan kondisi spesifik pasien.
"AKTIVITAS ANTIOKSIDAN INFUSA DAN KOMBUCHA KULIT BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora)"
Kultur awal kombucha yang dikenal sebagai SCOBY memfermentasi teh dan gula untuk menghasilkan kombucha. Kombucha memiliki kualitas antioksidan. Kehadiran fenolik bebas yang dihasilkan selama proses fermentasi inilah yang membuat kombucha memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi semakin banyak kandungan fenolik yang dihasilkan, semakin tinggi aktivitasnya. Kulit biji kopi Robusta merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat dibuat menjadi minuman kesehatan dalam bentuk teh kombucha. Tujuan penelitian ini untuk menentukan golongan metabolit dan aktivitas antioksidan dari infusa dan kombucha kulit biji kopi Robusta. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dilakukan pada infusa dan kombucha kulit biji kopi Robuasta dengan konsentrasi 2%, 4% dan 6% menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penentuan golongan metabolit dilakukan secara kualitatif menggunakan uji fitokimia. Waktu fermentasi kulit biji kopi dilakukan selama 8 hari. Hasil skrinning fitokimia infusa dan kombucha kulit biji kopi Robusta positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, steroid dan terpenoid. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan optimum pada infusa dan kombucha kulit biji kopi konsentrasi 2%, dengan presentase peredaman radikal bebas infusa sebesar 80,81% dan kombucha sebesar 93,35%.
"UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA MINYAK BIJI SACHA INCHI (Plukenetia volubilis L) MENGGUNAKAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS"
Sacha Inchi adalah salah satu jenis tumbuhan yang cukup berpotensi sebagai antioksidan. Secara tradisional minyak biji sacha inchi digunakan sebagai minyak perawatan kulit yang dioleskan secara teratur untuk menjaga kelembutan dan kesehatan kulit di negara Peru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelompok senyawa fitokimia dan untuk mengetahui nilai IC50 dari Minyak Sacha Inchi dengan menggunakan Vitamin C sebagai kontrol positif. Uji skrinning fitokimia secara kualitatif dilakukan dengan uji warna menggunakan berbagai pereaksi untuk mengidentifikasi senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid-terpenoid dan uji aktivitas antioksidan minyak sacha inchi menggunakan metode peredaman radikal bebas dengan DPPH mengukur absorbansi menggunakan spektrofotometer Uv-vis pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menyatakan bahwa minyak biji Sacha Inchi mengandung kelompok senyawa metabolit sekunder alkaloid dan terpenoid. Hasil nilai IC50 minyak biji Sacha Inchi sebesar 96,12 ppm sedangkan Vitamin C sebagai kontrol positif menghasilkan nilai IC50 sebesar 9,512 ppm. Kesimpulan bahwa minyak biji Sacha Inchi memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat.
"KARAKTERISTIK DAN KADAR ASAM KLOROGENAT DARI KOPI HIJAU JENIS ROBUSTA (Coffea Canephora)"
Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia, karena hasil perkebunan kopinya cukup melimpah dan memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan. Kopi banyak diminati oleh masyarakat Indonesia sebagai minuman yang dikonsumsi setiap hari. Minat masyarakat terhadap minuman kopi semakin tinggi terutama kalangan muda karena salahsatu manfaatnya yaitu mampu membakar lemak dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakteristik dan kandungan asam klorogenat pada kopi hijau jenis robusta yang didapatkan di BALITRO dan di pasaran. Adapun uji yang dilakukan yaitu uji organoleptik, uji kadar air, uji pH, skrining fitokimia, dan penetapan kadar asam klorogenat pada kopi hijau jenis robusta. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu pada uji penentuan kadar air sampel serbuk, biji kopi, dan biji kopi di pasaran berturut-turut sebesar 8,54%, 12,3% dan 10,6%. Pada pengujian skrining fitokimia, senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam sampel antara lain Alkaloid, Saponin, dan Tanin. Pada penetapan kadar asam klorogenat yang terkandung dalam seduhan sampel serbuk, biji kopi, dan biji kopi di pasaran berturut-turut sebesar 3,20%; 0,64%; dan 1,28%. Hasil perbandingan dari ketiga sampel tersebut disimpulkan bahwa seduhan kopi hijau dalam bentuk serbuk memiliki kandungan asam klorogenat paling tinggi.
GAMBARAN PENYIMPANAN OBAT HIGH ALERT DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PASUTRI BOGOR
Obat high alert adalah obat yang memiliki resiko tinggi membahayakan keselamatan pada pasien jika tidak digunakan secara tepat. Menurut Permenkes No. 72 Tahun 2016 kategori high alert menjadi 3 diantaranya LASA (Look Alike Sound Alike), Elektrolit konsentrasi tinggi dan sitostatik, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan kesesuaian penyimpanan obat high alert di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif, populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh obat high alert yang ada di instalasi farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, karena semua populasi dijadikan sampel. Alat penelitian pengumpulan data yang digunakan pada hasil penelitian ini adalah lembar observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan penyimpanan obat high alert sesuai dengan standar prosedur operasional Rumah Sakit Ibu dan Anak Pasutri Bogor dengan prosentase kesesuaian 100% pada penyimpanan obat high alert, penyimpanan obat LASA (Look Alike Sound Alike) atau NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) dan penyimpanan obat Elektrolit Konsentrat Pekat.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI REBUSAN DAUN BIDARA PUTSA (Ziziphus mauritiana Lam.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan membahayakan kesehatan manusia dan hewan yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti salah satunya bakteri Staphylococcus aureus. Bidara putsa (Ziziphus mauritiana Lam.) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui golongan metabolit sekunder dalam rebusan daun bidara putsa yang ditetapkan melalui uji fitokimia serta mengetahui aktivitas antibakteri dari rebusan daun bidara putsa terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini rebusan daun bidara putsa dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 30% (%b/v) diekstraksi dengan cara perebusan pada suhu 90oC selama 15 menit dan ditentukan golongan senyawa fitokimia secara kualitatif. Selanjutnya diuji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan metode difusi cakram. Metabolit sekunder yang terkandung dalam rebusan daun bidara putsa konsentrasi 30% adalah alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rebusan daun bidara putsa dengan konsentrasi 30% memiliki aktivitas terbaik dengan diameter zona hambat 13,22 mm. Namun, aktivitas antibakteri rebusan daun bidara putsa 30% masih rendah dan berbeda nyata (α<0,05) dengan kontrol positif kloramfenikol 0,1%. Berdasarkan diameter zona hambat tersebut dapat disimpulkan bahwa rebusan daun bidara putsa memiliki potensi untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus.
ANALISIS DIMENSI KUALITAS PELAYANAN TERHADAP TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN DALAM PELAYANAN RESEP TUNAI DI APOTEK KIMIA FARMA 8 SUKABUMI
Kepuasan pelanggan memegang peranan penting dalam kelancaran suatu bisnis dan mempengaruhi strategi bisnis, dengan cara mengukur nilai kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Ketika kualitas pelayanan melebihi harapan, tentu akan menentukan tingkat kepuasan pelanggan. Pelayanan resep tunai merupakan bagian pelayanan kefarmasian di Apotek. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan dan kualitas pelayanan yang akan diprioritaskan dalam perbaikan pelayanan resep tunai di Apotek Kimia Farma 8 Sukabumi. Desain penelitian ini deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional secara prospektif menggunakan kuesioner. Jumlah sampel penelitian sebanyak 95 pelanggan yang merupakan pasien atau keluarga pasien secara purposive sampling yang memuat kriteria inklusi dan ekslusi. Metode yang digunakan yaitu Servqual (Service Quality) dan IPA (Importance Performance Analysis). Gambaran sosiodemografi berdasarkan usia 36-45 tahun yaitu dewasa akhir (36%), jenis kelamin perempuan (55%), pekerjaan swasta (56%), pendidikan SMA/SMK (66%). Hasil berdasarkan rata-rata metode Servqual kelima dimensi kualitas pelayanan menunjukan tingkat kepuasan pelanggan sangat puas (84,13). Berdasarkan metode IPA, prioritas perbaikan berada di kuadran I pada atribut P12 “Obat yang dibutuhkan pelanggan tersedia diapotek” (bagian dimensi Assurance) dan atribut P16 “Petugas melakukan 3S Senyum, Sapa, Salam” (bagian dimensi Empathy).
POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN RAWAT INAP DENGAN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR
Skizofrenia adalah penyakit gangguan jiwa berat dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku individu dengan gejala positif dan negatif. Obat yang diberikan dapat berupa obat tunggal maupun kombinasi. Penggunaan kombinasi obat antipsikotik dalam pengobatan skizofrenia meningkatkan potensi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis kelamin dan usia, penggunaan kombinasi obat, kejadian interaksi, tingkat keparahan dan mekanisme potensi interaksi. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada bulan November 2023 – Mei 2024. Sampel penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien skizofrenia yang masuk ke dalam kriteria inklusi berupa pasien rawat inap skizofrenia, menerima obat antipsikotik, berusia 20-60 tahun. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian dari 49 sampel menunjukkan bahwa pasien skizofrenia terbanyak merupakan pasien laki-laki 38 pasien (77%), dan rentang usia terbanyak di 26- 35 tahun yaitu 19 pasien (39%). Pemberian antipsikotik sejumlah 6 pasien (12%) mendapatkan kombinasi 2 obat, 27 pasien (55%) dengan kombinasi 3 obat, dan 16 pasien (33%) sisanya mendapatkan kombinasi 4 obat. Ditemukan seluruhnya berpotensi mengalami kejadian interaksi obat sejumlah 153 kejadian (100%). Mekanisme potensi interaksi obat yang ditemukan sebanyak 24 (14%) potensi kejadian farmakokinetik dan 129 (86%) potensi kejadian farmakodinamik. Tingkat keparahan potensi interaksi sebanyak 19 (12%) termasuk ke dalam kategori mayor dan 134 (88%) kejadian berpotensi memiliki interaksi moderat.
KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PENDERITA ISPA NON PNEUMONIADI PUSKESMAS SIMPENAN KABUPATEN SUKABUMI
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. ISPA merupakan suatu penyakit menular yang dapat menyerang semua umur dan masih menjadi masalah kesehatan baik di negara maju maupun negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketepatan obat berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan tepat frekuensi, pada pasien di Puskesmas Simpenan Kabupaten Sukabumi. Data yang digunakan adalah data rekam medik, dengan data yang diambil meliputi nama, usia, nomor rekam medik, jenis kelamin dan jenis obat yang digunakan pada pasien ISPA periode September- Desember 2022. Data dianalisis secara deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Sampel yang diambil sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan data sosiodemografi jenis kelamin terbanyak adalah perempuan dengan persentase 51%, kemudian klasifikasi usia terbanyak yaitu pada usia 0-5 tahun dengan persentase 43%. Distribusi pasien ISPA berdasarkan diagnosis terbanyak yaitu faringitis dengan persentase 66,7%. Evaluasi ketepatan pengobatan berdasarkan tepat indikasi diperoleh hasil sebanyak 100%, pada tepat obat sebanyak 97,8%, pada tepat dosis diperoleh sebanyak 97,8%, dan tepat frekuensi sebanyak 100%.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS PADA PASIEN BALITA PENDERITA DIARE RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT X
Diare merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Penyakit diare termasuk penyakit endemis yang dapat berpotensi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) dan menjadi salah satu faktor kematian tertinggi pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi, pola penggunaan antibiotik dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diare balita di Rumah Sakit X. Penelitian ini bersifat deskriptif, pengambilan data diperoleh secara retrospektif yang berasal dari data rekam medis kemudian data dianalisis secara kualitatif dengan Metode Gyssens. Data diperoleh secara Purposive Sampling sebanyak 85 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukan pasien diare balita terbanyak adalah laki-laki sebanyak 52 pasien (61,18%), dan dikelompok usia terbanyak yaitu usia ke >1-3 tahun sebanyak 42 pasien (49,41%) dan berat badan terbanyak direntang <10 kg sebanyak 39 pasien (45,88%). Antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu Ceftriaxone sebanyak 38 pasien (44,71 %). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dengan Metode Gyssens masuk kedalam kategori : Kategori IV C sebanyak 12 kasus (10,81%), kategori III B sebanyak 7 kasus (6,31%), kategori II A sebanyak 48 kasus (43,24%), kategori 0 sebanyak 44 kasus (39,64%).
HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN SWAMEDIKASI DIARE BALITA DI APOTEK SEHAT SUSUKAN CIREBON
Diare ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasanya, Diare salah satu gejala penyakit yang dapat diatasi dengan swamedikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik sosiodemografi, gambaran tingkat pengetahuan swamedikasi dan hubungan karakteristik sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan swamedikasi diare balita di Apotek Sehat Susukan Cirebon. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan data primer berupa kuesioner pada responden diare balita di Apotek Sehat Susukan Cirebon yang dilakukan pada April-Juni 2023 dengan jumlah sampel 100 responden, dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan karakteristik sosiodemografi responden bedasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 58%, usia 17-25 tahun sebesar 58%, pegawai swasta sebanyak 44% dengan tingkat Pendidikan 52% lulusan SMA dan memiliki hasil tingkat pengetahuan swamedikasi diare balita pada balita sebesar 96% dengan kategori baik. Hasil hubungan antara usia dan tingkat pengetahuan responden swamedikasi diare balita di uji dengan uji Chi-Square dengan nilai p-value (0,014)<0,05 artinya ada hubungan bermakna antara usia dengan tingkat pengetahuan responden swamedikasi diare balita, hasil hubungan antara jenis kelamin dengan nilai p-value (0,481)> 0,05, Pendidikan dengan nilai p-value (0,878)> 0,05, pekerjaan dengan nilai p-value (0,852)> 0,05 artinya tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin, Pendidikan dan pekerjaan dengan tingkat pengetahuan responden swamedikasi diare balita di Apotek Sehat Susukan Cirebon.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN PELANGGAN OBAT GENERIK DI APOTEK MADINA SENTUL KABUPATEN BOGOR
Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia (FI) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Penggunaan obat generik di masyarakat masih dipandang sebelah mata, hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat tentang obat generik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sosiodemografi dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan pelanggan obat generik di Apotek Madina Sentul. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif non eksperimental menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Alat ukur berupa kuesioner dengan menggunakan purposive sampling, dengan jumlah sampel 91 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosiodemografi paling banyak yaitu berusia 17-25 tahun sebesar (45,1%), jenis kelamin paling banyak perempuan sebesar (60,4%). Pendidikan paling banyak perguruan tinggi sebesar (50,5%), pekerjaan paling banyak tidak bekerja sebesar (75,8%). Tingkat pengetahuan pelanggan mengenai obat generik yaitu paling banyak responden memiliki pengetahuan kurang sebesar (41,8%), cukup (38,4%) dan tinggi (19,8%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan pengetahuan (p value 0.805), serta jenis kelamin dengan pengetahuan (p value 0,861), dimana p-value α > 0,05. Sedangkan terdapat hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan dan pekerjaan dengan pengetahuan obat generik dengan p-value 0,000 dimana p-value α < 0,05.
HUBUNGAN PENATALAKSANAAN DENGAN KEBERHASILAN TERAPI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS TEGAL GUNDIL BOGOR
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan tekanan darah diastolik melebihi 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu setelah lima menit pada keadaan cukup istirahat atau tenang. Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah terjadinya penurunan tekanan darah. Pengobatan yang digunakan di Puskesmas Tegal Gundil adalah Amlodipin dan Hidroklortiazid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi yang mencakup usia pasien dan jenis kelamin pada penggunaan obat antihipertensi, gambaran penggunaan obat antihipertensi, kesesuaian terapi obat antihipertensi, dan keberhasilan terapi obat antihipertensi, dan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian penatalaksanaan dengan keberhasilan terapi obat antihipertensi. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan data retrospektif dengan mengumpulkan data sekunder yang diambil dari Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) secara elektronik yang berupa data pasien dan resep obat. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tegal Gundil periode Januari-Maret 2023. Sampel yang diambil sebanyak 81 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukan data sosiodemografi terbanyak pada rentang usia 56-65 tahun (68%), dengan jenis kelamin terbanyak perempuan (74%), obat yang terbanyak digunakan adalah Amlodipin (93%), dan kesesuaian terapi obat antihipertensi dengan JNC VIII (41%), keberhasilan terapi obat antihipertensi (30%). Pada uji Chi-Square didapatkan nilai P-value 0,000 < 0,05 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian penatalaksanaan dengan keberhasilan terapi obat antihipertensi.