BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi menurut World Health Organization (WHO), adalah
pemilihan dan penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati penyakit
atau gejala yang dikenali sendiri. Parasetamol merupakan obat analgetik non-
narkotik dengan cara menghambat sintesis prostaglandin, terutama di sistem syaraf
pusat (SSP). Obat ini digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang serta
sebagai antipiretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat
pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi parasetamol. Metode yang digunakan
dalam penelitian yaitu metode penelitian dengan cross-sectional, yang dilakukan
secara prospektif. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang
sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian diperoleh mayoritas
responden adalah wanita (51,59%). Kategori remaja akhir (17-25 tahun) sebanyak
63,69%. Pekerjaan terbanyak adalah mahasiswa/pelajar, (42,68%). Pendidikan
terbanyak SMA (45,86%). Adapun tingkat pengetahuan terbanyak adalah tinggi
(49,68%) dan perilaku swamedikasi parasetamol tebanyak perilaku yang baik
(42,68%) dalam swamedikasi parasetamol. Hasil dari uji Chi-square menujukan
terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan terhadap perilaku
swamedikasi parasetamol di RT 01 RW 03 Desa Jabon Mekar Kabupaten Bogor
dengan hasil p value sebesar 0,000 (<0,005).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Talasemia adalah kelainan darah genetik atau diturunkan, dimana kemampuan
tubuh untuk menghasilkan hemoglobin terganggu. Kurangnya pengetahuan orang
tua talasemia mengenai pentingnya kelasi besi dapat mengakibatkan pasien kurang
patuh dalam penggunaan obat. Tujuan penelitian untuk mengetahui Hubungan
Tingkat Pengetahuan Orang Tua Terhadap Kepatuhan Minum Obat Kelasi Besi
Pada Pasien Talasemia Di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Penelitian ini
menggunakan data kuantitatif dengan pendekatan cross sectional data diambil
secara prospektif. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan
jumlah 48 responden dan pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner.
Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square.
Hasil penelitian menunjukan jenis kelamin responden laki-laki dan perempuan
memiliki jumlah yang sama yaitu 24 responden (50%), usia 5-6 tahun 26 responden
(54,2%), pendidikan SD 24 responden (50%), lama menderita talasemia 25
responden (52,08%) dengan tingkat pengetahuan baik 43 responden (89,6%),
kepatuhan tinggi sebanyak 27 responden (56,3%). Nilai signifikasi yang didapat
sebesar 0,021 < 0,05 yang menunjukan ada hubungan yang signifikan antara tingkat
pengetahuan orang tua dengan kepatuhan minum obat kelasi besi pada pasien
talasemia di RSUD Sekarwangi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana peningkatan tekanan darah sistolik atau diastolik ≥ 140/90 mmHg. Keberhasilan terapi hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kepatuhan minum obat hipertensi. Kepatuhan minum obat sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pengobatan dan mencegah komplikasi. Ketidakpatuhan konsumsi obat merupakan penyebab paling sering kegagalan terapi antihipertensi. Kepatuhan dapat dijadikan parameter tingkat pengetahuan pasien dalam menjalankan instruksi dari tenaga medis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada pasien di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain cross-sectional yaitu suatu rencana penelitian suatu penelitian untuk mempelajari dinamika hubungan antara variabel bebas (pengetahuan) dengan variabel terikat (tingkat kepatuhan). Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan total sampel diluar uji validitas dan uji reliabilitas sebanyak 76 responden pada periode Mei- Juni 2023 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Dari penelitian ini, hubungan tingkat pengetahuan pasien terhadap tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi di RSUD Sekarwangi Tidak Memiliki Hubungan, hal ini didapatkan dari uji Chi Square dengan nilai signifikasi p value 0,770 > 0,05.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Amoxicillin termasuk antibiotik spektrum luas dan memiliki bioavabilitas
oral yang tinggi. Di apotek Gema Pharma Sukabumi sering terjadi pembelian
amoxicillin tanpa resep dokter. Hal ini menyebabkan terjadinya resiko resistensi
bagi masyarakat yang kurang pengetahuan dan edukasi tentang penggunaan
antibiotik khususnya amoxicillin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
tingkat pengetahuan dan tingkat perilaku,serta meneliti hubungan antara
pengetahuan terhadap perilaku masyarakat dalam penggunaan amoxicillin di
Apotek Gema Pharma Sukabumi. Penelitian ini merupakan peneletian dalam
bentuk deskriptif observasional dengan pendakatan secara Cross Sectional.
Pengambilan sampel menggugunakan teknik purposive sampling sehingga
jumlah sampel 75 responden. Alat ukur menggunakan kuisioner yang berisi
tentang tingkat pengetahuan dan tingkat perilaku penggunaan amoxicillin.
Analisis data menggunakan analisis Chi Square. Hasil yang didapat yakni
mayoritas berjenis kelamin perempuan (60%), usia terbanyak dewasa awal 26-
35 tahun (27%). pendidikan terakhir terbanyak mayoritas SMA/SMK (44%).
Pekerjaan terbanyak ibu rumah tangga (27%). Tingkat pengetahuan masyarakat
kurang baik (41,3%), cukup baik (32%), dan baik (26,7%). Tingkat perilaku
penggunaan amoxicillin kurang baik (41,3 %), cukup baik (33,3%) dan baik
(25,3%), Hasil uji Chi Square diperoleh p-value 0,019 < dari 0,05 menunjukan
adanya hubungan bermakna antara pengetahuan terhadap perilaku penggunaan
amoxicillin di Apotek Gema Pharma Sukabumi.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Ketidaktepatan penggunaan antibiotik banyak ditemukan di masyarakat luas. Hal
ini dapat menjadi penyebab terjadinya resiko buruk seperti resistensi
antibiotik. Dalam pelaksanaan pengobatan sendiri banyak sering terjadi kesalahan
dalam pengobatan, dimana kesalahan ini disebabkan karena kurangnya ilmu
pengetahuan dari masyarakat terhadap cara penggunaan obat, informasi lain terkait
obat yang digunakan maupun melakukan pengobatan secara mandiri dengan
antibiotik tanpa resep dokter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap perilaku penggunaan antibiotik
di Kelurahan Kebon Pedes Sukabumi. Desain penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif observasional dengan menggunakan metode cross sectional.
Pengambilan data menggunakan data primer dilakukan dengan menggunakan
kuesioner, untuk mengetahui hubungan pengetahuan masyarakat terhadap perilaku
penggunaan antibiotik. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dari
jumlah populasi 1.790 menggunakan metode purposive sampling. kemudian
dianalisis menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini
menunjukan tingkat pengetahuan tentang antibiotik sebagian besar berkategori
cukup yaitu sebanyak 63% dan tingkat perilaku penggunaan antibiotik sebagian
besar berkategori cukup sebanyak 76%. Dari hasil uji Chi-square diperoleh p-value
0,032 (<0,05). Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan terdapat hubungan
signifikan antara tingkat pengetahuan masyarakat terhadap perilaku penggunaan
antibiotik.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Waktu tunggu pasien merupakan.salah satu komponen yang potensial
menyebabkan. ketidakpuasan. Penelitian.ini bertujuan untuk.mengetahui gambaran
waktu tunggu pelayanan resep tunai di Apotek Kimia Farma Juanda, kepuasan
pelanggan terkait waktu tunggu, dan hubungan.waktu,tunggu.resep,tunai dengan
kepuasan.pelanggan. Metodenya adalah deskriptif dengan teknik purposive
sampling. Data waktu tunggu di peroleh dari pencatatan waktu dari resep masuk
sampai obat di terima, meliputi resep obat jadi dan racikan. Data kepuasan di
peroleh dari kuesioner yang di berikan ke 120 responden. Kemudian di lakukan uji
chi square untuk mengetahui apakah ada hubungan antara waktu tungggu resep
dengan kepuasan pelanggan. Hasilnya menunjukkan waktu tunggu resep obat jadi,
yang sesuai standar 88,3 % dan yang tidak sesuai standar 11,7 %. Obat racikan yang
sesuai standar 61,7% dan yang tidak sesuai standar 38,3%. Data kepuasan untuk
obat jadi, yang puas 46,7%, yang tidak puas 53,3%. Untuk obat racikan, yang puas
45% dan yang tidak puas 55%. Rata-rataawaktuutungguapelayanannobat jadi 10,7
menitndannobatnracikan 32,4 menit. Pada uji stastistik chi square di peroleh hasil
dengan nilai Asymp.sig(2-sided) untuk obat jadi = 0,554 > 0,05 dan obat racik =
0,471n>0,05.nKesimpulannyanberartintidakaadaxhubunganaantaraawaktuatunggu
pelayanan resep.tunai dengan. Kepuasan.pelanggan.