2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme, terutama penyakit yang
berhubungan dengan metabolisme karbohidrat, yang disebabkan oleh tidak cukup
atau tidak cukupnya hormon insulin dalam sel beta pankreas, disfungsi insulin, atau
keduanya. Nama latin daun gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke folium)
merupakan contoh efektivitas daun agar sebagai agen antidiabetes terkait dengan
kandungan metabolit sekundernya. Pada penelitian ini, sampel daun gaharu hijau
dengan simplisia disiapkan kemudian ekstrak daun stevia ditambahkan sebagai
pemanis kemasan pada formulasi teh untuk mengetahui efek hipoglikemik dan
mengukur kadar flavonoid pada mencit. Produksi teh herbal dari daun gahara diuji
pada tikus yang disuntik sukrosa dan diukur 1 jam, 2 jam, dan 3 jam kemudian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh formulasi teh herbal berbahan
daun gaharu terhadap kadar gula darah mencit dengan penurunan gula darah
terendah yaitu 46 n 45% pada komposisi 1, dan perbedaan nyata pada uji Manova.
Hal ini dapat dilihat sebagai nilai p antara kelompok. < 0,05 dan memiliki
kandungan flavonoid total tertinggi pada 0,214mgQE/100g.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Antioksidan merupakan zat yang dapat menangkal atau mencegah reaksi
oksidasi dari radikal bebas. Daun kelor mengandung tanin, steroid, triterpenoid,
flavonoid, saponin, antraquinon, dan alkaloid yang berfungsi sebagai antioksidan.
Untuk mempermudah penggunaan antioksidan dalam penelitian ini dibuat dalam
bentuk sediaan lotion dengan menggunakan ekstrak etanol 96% daun kelor 0,1%,
dengan memvariasikan gliserin sebagai pelembab. Penelitian ini bertujuan untuk
membuat formulasi sediaan lotion dari ekstrak daun kelor 0,1% dengan variasi
konsentrasi gliserin 5%, 10% dan 15% dan menguji stabilitas fisiknya dengan
metode cycling test yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji viskositas,
uji pH, daya sebar, daya lekat, uji efektivitas lotion sebagai pelembab dengan
menggunakan alat skin analyzer, uji aktivitas antioksidan lotion ekstrak etanol 96%
daun kelor pada konsentrasi ekstrak sebesar 0,1% dengan metode peredamanradikal
bebas DPPH, uji iritasi dari lotion. Lotion ekstrak etanol 96% daun kelor dibuat
deret konsentrasi 12,5, 25, 50, 100, dan 200 ppm, kemudian diukur absorbansinya
menggunakan spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 514,5 nm. Lotion
ekstrak etanol 96% daun kelor memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50
sebesar 135,072 μg/mL. Lotion ekstrak etanol 96% daun kelor dengan variasi
konsentrasi gliserin 5%, 10% dan 15% memiliki nilai efektivitas kelembaban
sebesar 44,56%, 50,05% dan 66,26%.
2021 · Book · Koleksi Perpustakaan
2021 · Book · Koleksi Perpustakaan
2021 · Book · Koleksi Perpustakaan
Ketergantungan dan penyalahgunaan Napza bukan merupakan masalah baru di
Indonesia. Diperkirakan di Indonesia terdapat peningkatan jumlah
penyalahgunaan Napza dari tahun ke tahun. Beberapa ilmuwan menganggap ganja
sebagai Gateway Drugs, dimana konsumsinya membuka kesempatan bagi
kemungkinan memakai zat-zat psikotropika atau narkotika yang lebih berbahaya.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Mengetahui hubungan tingkat
penggunaan ganja terhadap penyalahgunaan napza jenis lain di Jabodetabek.
penelitian ini bersifat Prosfektif Non Eksperimental dengan pengambilan data
menggunakan kuisioner CUDIT-R dan DAST-10. Penelitian ini dilakukan pada
60 responden pengguna ganja dan penyalahgunaan napza jenis lain di
Jabodetabek. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Snowball
Sampling. Hubungan tingkat pengguna ganja terhadap penyalahgunaan napza
jenis lain dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukan
Tingkat penyalahgunaan ganja Cannabis Use sebanyak (83,33%), dan tingkat
Cannabise Use Disorder sebanyak 16,67%. Tingkat penyalahgunaan napza jenis
lain tingkat sedang sebanyak (78,33%), dan tingkat Subtansial sebanyak
(21,67%). Hasil uji statistic (Chi-Square) nilai P Value = 0,123 > (0,05), hasil
tersebut menujukan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat
pengguna ganja dengan tingkat penyalahgunaan napza jenis lain di Jabodetabek.
2021 · Book · Koleksi Perpustakaan
2021 · Book · Koleksi Perpustakaan
Pemberian terapi obat lebih dari satu zat sering kali menimbulkan masalah
salah satunya pada pasien geriatri dalam upaya pengobatan suatu penyakit,
dimana obat – obatan yang digunakan tersebut dapat menyebabkan terjadinya
interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran potensi interaksi obat
polifarmasi yang terjadi pada pasien geriatri di Klinik Insani periode Juni-
Desember 2019. Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive
sampling dimana sampel memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 83
pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 pasien terdapat 29 (34,93%)
pasien laki laki dan 54 (65,06%) pasien perempuan. Usia paling banyak pada usia
55 – 65 tahun 48 pasien (57,14%) dan >65 tahun 36 pasien (42,85%). Polifarmasi yang
sering diberikan pada pasien geriatri adalah 5 jenis obat 68 pasien (81,92%), 6
jenis obat 12 pasien (14,45%), dan 7 jenis obat 3 pasien (3,61%). Obat yang
paling banyak diresepkan adalah amlodipin sebanyak 38 (17,67%). Penyakit
terbanyak adalah dispepsia sebanyak 28 pasien (40%). Potensi terjadi interaksi
obat sebanyak 79 pasien (95,18%) dan sebanyak 4 pasien (4,81%) tidak
berpotensi terjadi interaksi obat. Mekanisme interaksi tertinggi adalah
farmakodinamik yaitu 133 (72,28%) dan farmakokinetik 51 (27,71%). Level
keparahan interaksi obat paling banyak terjadi adalah moderate 127 (69,02%%),
minor 54 (29,34%), dan mayor 3 (1,63%).