Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

55 hasil
Penulis: None
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI PUSKESMAS TANAH SAREAL KOTA BOGOR

2023Koleksi Perpustakaan

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab penyakit utama morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pada pasien ISPA, untuk mengetahui penggunaan obat antibiotik, untuk mengetahui ketepatan indikasi, ketepatan obat, ketepatan dosis, ketepatan frekuensi dan ketepatan lama pemberian berdasarkan panduan Pharmaceutical Care 2005 dan IDI 2017. Penelitian ini merupakan non eksperimental dengan mengambil data secara retrosopektif menggunakan data sekunder rekam medik sebanyak 229 pasien dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan data sosiodemografi usia paling banyak 17-25 tahun sebanyak 57 pasien (24,57%), jenis kelamin laki-laki lebih banyakyaitu sebanyak 118 pasien (51,53%), diagnosa paling banyak yaitu faringitis sebanyak 138 pasien (60,26%). Obat- obatan ISPA yang digunakan yaitu Amoksisilin (79,40%), Sefadroksil (15,58%), Cefixime (3.02%), Siprofloksasin (2,01%), Parasetamol (8,54%), Deksametason (1,83%), CTM (17,58%), Cetirizine (61,59%), Ambroksol (5,49%), Vitamin B Kompleks (4,88%). Ketepatan Indikasi (89,96%), Ketepatan Obat (82,97%), Ketepatan Dosis (99,13%), Ketepatan Frekuensi (100,00%), Ketepatan Lama Pemberian (94,97%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS PADA PASIEN TIFOID RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH SAREAL TAHUN 2021

2023Koleksi Perpustakaan

Demam tifoid adalah infeksi akut pada usus halus dengan gangguan saluran cerna dan gejala demam lebih dari seminggu, atau tanpa gangguan kesadaran. Antibiotik yang digunakan pasien demam tifoid yaitu kloramfenikol, thiampenicol, cefixime, amoxicillin, cotrimoxazole, dan ciprofloxacin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan profil pasien demam tifoid dewasa paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 58 pasien dengan persentase (60%) dan rentang usia 17-25 tahun dan 36-45 sebanyak sebanyak 25 pasien (27 %). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal adalah thiampenikol dengan persentase (48%). Evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens pada pasien demam tifoid dewasa di Puskesmas Tanah Sareal dalam kategori III B yaitu penggunaan antibiotik terlalu singkat mendapatkan nilai presentasi tertinggi sebesar 52%, kategori II B 2 %, kategori II A 13%, kategori IV A 6%, kategori IV B 27%.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENATALAKSANAAN TERAPI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH SAREAL

2022Koleksi Perpustakaan

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana peningkatan darah sistolik melebihi batas normal 140 mmHg dan tekanan darah diastolik melebihi 90 mmHg. Penggunaan obat pada penyakit hipertensi haruslah tepat dan efektif. Dampak negatif dari pemilihan obat antihipertensi yang salah dapat mempersulit pengontrolan tekanan darah dan menimbulkan penyakit lain seperti stroke dan penyakit ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penatalaksanaan terapi pada pasien hipertensi di Puskesmas Tanah Sareal berdasarkan Guideline Joint National Committee (JNC) VIII. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dengan kategori pasien melakukan kontrol sebanyak 3 kali pada periode Januari – Desember 2021. Hasil penelitian dari total pasien sebanyak 290 pasien, paling banyak berjenis kelamin perempuan sebesar 74,48%, kelompok usia terbanyak dengan usia 46-55 tahun sebesar 36,55%, kelompok pekerjaan terbanyak yaitu Ibu Rumah Tangga (IRT) sebesar 66,90%. Berdasarkan tingkatan hipertensi terbanyak yaitu hipertensi stage 1 dengan rata-rata sebesar 57,47%. Obat yang paling banyak digunakan adalah Amlodipine sebesar 97,36%. Hasil evaluasi kesesuaian berdasarkan Guideline Joint National Committee (JNC) VIII, pada pasien hipertensi tanpa penyakit penyerta sebesar 60,05% sudah sesuai dengan tatalaksana JNC VIII. Sedangkan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus sebesar 64,10% sudah sesuai dengan tatalaksana JNC VIII.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KEJADIAN INTERAKSI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH SAREAL

2022Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskular yang paling banyak ditemukan dibandingkan dengan penyakit sistem kardiovaskular lainnya. Pada hipertensi pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat antihipertensi di Puskesmas Tanah Sareal periode Januari–Desember 2021. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian terhadap 290 pasien menunjukkan, sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 192 pasien (66,21%) dengan rentang usia terbanyak 56–65 tahun sebanyak 117 pasien (40%). Penyakit penyerta terbanyak adalah myalgia sebanyak 73 pasien (20%). Pasien mayoritas mendapatkan 2–4 obat dengan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan, yaitu amlodipin sebanyak 284 pasien (91,03%), sedangkan obat penyakit penyerta yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 171 pasien (17%). Kejadian interaksi obat terjadi pada 29,70% dari obat antihipertensi maupun obat- obat penyakit penyerta. Interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipin dengan ibuprofen sebanyak 16 kasus (27%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 26 kasus (38%), dan amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 7 kasus (44%). Ketiga kejadian interaksi obat terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail