Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Kejadian
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT INAP SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan atau menurunkan efeknya. Pasien skizofrenia menggunakan obat dalam jangka panjang sehingga ketika terjadi penyakit lain terdapat tambahan obat lain yang berpotensi menyebabkan peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi. Yang dapat memperberat efek samping, dan meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi interaksi obat pada pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode pengambilan sampel secara total sampling berdasarkan data rekam medis dari 108 pasien memenuhi kriteria iklusi dan ekslusi. Hasil ini menunjukan penderita penyakit skizofrenia terbanyak yaitu pria (51%) dengan usia terbanyak 36-45 tahun (29%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (87,96%). Penggunaan obat skizofrenia golonggan tunggal (27%), dua obat kombinasi (62%), dan tiga obat kombinasi (11%). Obat golongan tipikal terbanyak yaitu obat Haloperidol (56,48%) dan obat golongan atipikal terbanyak yaitu Risperidone (35%). Penggunaan obat selain skizofrenia terbanyak yaitu golongan obat CCB (Calcium Channel Blockers) (amlodipine) (49%). Terdapat 48 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (77%) dan level keparahan major (70%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK BIDAKARA MEDICAL CENTER JAKARTA SELATAN

2025Koleksi Perpustakaan

Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2 membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat (9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%) dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MEMPENGARUHI TEKANAN DARAH DI INSTALASI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

2025Koleksi Perpustakaan

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit (toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%). Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN SKABIES PADA SANTRI DI PESANTREN SPQ AT- TARTIL SUKABUMI TAHUN 2022

2023Koleksi Perpustakaan

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh adanya tungau Sarcoptes scabiei var hominis yang penularannya bisa secara kontak langsung maupun tidak langsung. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah serangkaian perilaku yang berperan aktif dalam mewujudkan dibidang kesehatan. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan PHBS dengan kejadian skabies di Pesantren SPQ At-Tartil Sukabumi. Penelitian ini bersifat non-eksperimental menggunakan metode cross sectional dan pengambilan data secara deskriptif dengan prospektif menggunakan kuesioner. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh santriwati di Pesantren SPQ At-Tartil. Sampel penelitian diambil secara total sampling yaitu sebanyak 110 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan metode uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan usia 12-13 sebanyak 48 responden (43,64%), kelas paling banyak 7- 8 sebanyak62 responden (67,27%), dimensi kebersihan pakaian cukup (51,8%), kebersihan kulit cukup (49,1%), kebersihan tangan dan kuku kurang (65,5%), kebersihan handuk cukup (53,6%), kebersihan tempat tidur dan sprei kurang (59,1%), PHBS kurang (46,36%), kejadian tungau skabies sebanyak (68,18%), Nilai signifikasi yang didapat 0,000 lebih kecil dari (0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan kejadian skabies di Pesantren SPQ At-Tartil Sukabumi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

EVALUASI KEJADIAN INTERAKSI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH SAREAL

2022Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskular yang paling banyak ditemukan dibandingkan dengan penyakit sistem kardiovaskular lainnya. Pada hipertensi pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat antihipertensi di Puskesmas Tanah Sareal periode Januari–Desember 2021. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian terhadap 290 pasien menunjukkan, sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 192 pasien (66,21%) dengan rentang usia terbanyak 56–65 tahun sebanyak 117 pasien (40%). Penyakit penyerta terbanyak adalah myalgia sebanyak 73 pasien (20%). Pasien mayoritas mendapatkan 2–4 obat dengan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan, yaitu amlodipin sebanyak 284 pasien (91,03%), sedangkan obat penyakit penyerta yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 171 pasien (17%). Kejadian interaksi obat terjadi pada 29,70% dari obat antihipertensi maupun obat- obat penyakit penyerta. Interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipin dengan ibuprofen sebanyak 16 kasus (27%), amlodipin dengan natrium diklofenak sebanyak 26 kasus (38%), dan amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 7 kasus (44%). Ketiga kejadian interaksi obat terjadi secara farmakodinamik dengan level keparahan moderat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

PEMETAAN KEJADIAN EFEK SAMPING OBAT ANTI TUBERKULOSIS PADA PASIEN TB-MDR (MULTI DRUG RESISTANT TUBERCULOSIS) DI RUMAH SAKIT PARU DR.M. GOENAWAN PARTOWIDIGDO CISARUA BOGOR

2022Koleksi Perpustakaan

Multi Drug Resistant Tuberculosis atau TB-MDR adalah TB resistan obat terhadap minimal 2 obat anti TB yang paling poten yaitu INH dan Rifampisin secara bersama sama atau disertai resistan terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti Etambutol, Streptomisin dan Pirazinamid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemetaan kejadian efek samping OAT pada pasien TB-MDR di RSPG Cisarua Bogor. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cross sectional yang dianalisis dan hasilnya dipaparkan secara deskriptif dengan metode pengambilan data secara purposive sampling pada rekam medik pasien. Hasil penelitian dari 67 pasien secara total sampling diperoleh: 26-35 tahun sebanyak 24 pasien (36%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 40 pasien (60%); OAT yang paling sering digunakan Levofloksasin 750mg sebanyak 55 orang (11,96%); efek samping OAT yang paling banyak dikeluhkan adalah mual muntah ringan sebanyak 60 pasien (25,32%); efek samping berdasarkan OAT paling banyak diterima adalah Etionamid (Eto) dengan efek samping mual muntah sebanyak 55 pasien (13,16%), disertai ruam kulit sebanyak 4 pasien (0,96%), sakit kepala sebanyak 21 pasien (5,02%), dan gangguan penglihatan sebanyak 5 pasien (1,20%); penggunaan OAT berdasarkan efek samping paling banyak dikeluhkan pasien TB-MDR adalah mual muntah dengan pemberian Etionamid (Eto) sebanyak 55 pasien (13,55%); waktu kejadian efek samping diperoleh data terbanyak pada bulan 1 sampai 6 yaitu sebanyak 96 keluhan (25,33%); total keluhan selama 20 bulan yang paling banyak adalah mual muntah ringan sebanyak 126 keluhan (33,25%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail