BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain
yang diberikan bersamaan dan mempengaruhi aktivitasnya dengan meningkatkan
atau menurunkan efeknya. Pasien skizofrenia menggunakan obat dalam jangka
panjang sehingga ketika terjadi penyakit lain terdapat tambahan obat lain yang
berpotensi menyebabkan peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi. Yang
dapat memperberat efek samping, dan meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi interaksi
obat pada pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode
pengambilan sampel secara total sampling berdasarkan data rekam medis dari 108
pasien memenuhi kriteria iklusi dan ekslusi. Hasil ini menunjukan penderita
penyakit skizofrenia terbanyak yaitu pria (51%) dengan usia terbanyak 36-45 tahun
(29%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi (87,96%). Penggunaan
obat skizofrenia golonggan tunggal (27%), dua obat kombinasi (62%), dan tiga obat
kombinasi (11%). Obat golongan tipikal terbanyak yaitu obat Haloperidol (56,48%)
dan obat golongan atipikal terbanyak yaitu Risperidone (35%). Penggunaan obat
selain skizofrenia terbanyak yaitu golongan obat CCB (Calcium Channel Blockers)
(amlodipine) (49%). Terdapat 48 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi
terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (77%) dan level keparahan major (70%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik
kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2
membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai
dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu
atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan
kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara
deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan
pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data
rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian
menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia
terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi
(71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat
(9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat
Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat
dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%)
dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36
kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik
(97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat
progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal
dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat
kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit
(toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan
terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan
penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau
kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada
pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional.
Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling
berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan
(53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta
paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi
terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain
antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%).
Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu
interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta
kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak
yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh adanya tungau Sarcoptes
scabiei var hominis yang penularannya bisa secara kontak langsung maupun tidak
langsung. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah serangkaian perilaku
yang berperan aktif dalam mewujudkan dibidang kesehatan. Tujuan dilakukan
penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan PHBS dengan kejadian skabies
di Pesantren SPQ At-Tartil Sukabumi. Penelitian ini bersifat non-eksperimental
menggunakan metode cross sectional dan pengambilan data secara deskriptif
dengan prospektif menggunakan kuesioner. Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh santriwati di Pesantren SPQ At-Tartil. Sampel penelitian diambil secara
total sampling yaitu sebanyak 110 responden. Analisis data menggunakan analisis
univariat dan bivariat dengan menggunakan metode uji chi-square. Hasil penelitian
menunjukkan usia 12-13 sebanyak 48 responden (43,64%), kelas paling banyak 7-
8 sebanyak62 responden (67,27%), dimensi kebersihan pakaian cukup (51,8%),
kebersihan kulit cukup (49,1%), kebersihan tangan dan kuku kurang (65,5%),
kebersihan handuk cukup (53,6%), kebersihan tempat tidur dan sprei kurang
(59,1%), PHBS kurang (46,36%), kejadian tungau skabies sebanyak (68,18%),
Nilai signifikasi yang didapat 0,000 lebih kecil dari (0,05) yang menunjukkan
terdapat hubungan yang signifikan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
dengan kejadian skabies di Pesantren SPQ At-Tartil Sukabumi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskular yang paling
banyak ditemukan dibandingkan dengan penyakit sistem kardiovaskular lainnya.
Pada hipertensi pengobatan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya
interaksi obat dengan obat penyakit penyerta yang diderita pasien. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat antihipertensi di Puskesmas
Tanah Sareal periode Januari–Desember 2021. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara
retrospektif terhadap data sekunder rekam medis pasien yang dipilih secara
purposive sampling. Hasil penelitian terhadap 290 pasien menunjukkan, sebagian
besar pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 192 pasien (66,21%) dengan
rentang usia terbanyak 56–65 tahun sebanyak 117 pasien (40%). Penyakit penyerta
terbanyak adalah myalgia sebanyak 73 pasien (20%). Pasien mayoritas
mendapatkan 2–4 obat dengan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan,
yaitu amlodipin sebanyak 284 pasien (91,03%), sedangkan obat penyakit penyerta
yang paling banyak diresepkan adalah paracetamol sebanyak 171 pasien (17%).
Kejadian interaksi obat terjadi pada 29,70% dari obat antihipertensi maupun obat-
obat penyakit penyerta. Interaksi obat yang terjadi pada pasien, yaitu amlodipin
dengan ibuprofen sebanyak 16 kasus (27%), amlodipin dengan natrium diklofenak
sebanyak 26 kasus (38%), dan amlodipin dengan asam mefenamat sebanyak 7
kasus (44%). Ketiga kejadian interaksi obat terjadi secara farmakodinamik dengan
level keparahan moderat.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Multi Drug Resistant Tuberculosis atau TB-MDR adalah TB resistan obat
terhadap minimal 2 obat anti TB yang paling poten yaitu INH dan Rifampisin
secara bersama sama atau disertai resistan terhadap obat anti TB lini pertama
lainnya seperti Etambutol, Streptomisin dan Pirazinamid. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui pemetaan kejadian efek samping OAT pada pasien TB-MDR di
RSPG Cisarua Bogor. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cross sectional
yang dianalisis dan hasilnya dipaparkan secara deskriptif dengan metode
pengambilan data secara purposive sampling pada rekam medik pasien. Hasil
penelitian dari 67 pasien secara total sampling diperoleh: 26-35 tahun sebanyak
24 pasien (36%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 40 pasien (60%); OAT yang
paling sering digunakan Levofloksasin 750mg sebanyak 55 orang (11,96%); efek
samping OAT yang paling banyak dikeluhkan adalah mual muntah ringan
sebanyak 60 pasien (25,32%); efek samping berdasarkan OAT paling banyak
diterima adalah Etionamid (Eto) dengan efek samping mual muntah sebanyak 55
pasien (13,16%), disertai ruam kulit sebanyak 4 pasien (0,96%), sakit kepala
sebanyak 21 pasien (5,02%), dan gangguan penglihatan sebanyak 5 pasien
(1,20%); penggunaan OAT berdasarkan efek samping paling banyak dikeluhkan
pasien TB-MDR adalah mual muntah dengan pemberian Etionamid (Eto)
sebanyak 55 pasien (13,55%); waktu kejadian efek samping diperoleh data
terbanyak pada bulan 1 sampai 6 yaitu sebanyak 96 keluhan (25,33%); total
keluhan selama 20 bulan yang paling banyak adalah mual muntah ringan
sebanyak 126 keluhan (33,25%).