Profil penulis
ROHMAH
6 karya publik ditemukan.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KARAKTERISTIK KOMBUCHA DAUN SIRSAK ( Annona muricata L.) CAIR DAN SERBUK
Kombucha adalah minuman fermentasi dari campuran bakteri dan jamur yang disebut SCOBY (Symbiotic culture of bactery and yest) dengan tambahan gula sebagai nutrien. Daun sirsak ( Annona muricata L.) merupakan tumbuhan yang memiliki kandungan fenol yang cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan dari kombucha daun sirsak cair dan kombucha daun sirsak serbuk dan menentukan karakteristik (golongan metabolit, total fenol, kadar vitamin C, total asam, nilai pH, total gula, dan persen kelarutan) kombucha daun sirsak cair dan kombucha daun sirsak serbuk. Penelitian ini membuat kombucha daun sirsak dengan konsentrasi 100g/2000ml yang dipengaruhi suhu ruang ± 25°C dengan lama waktu fermentasi 8 hari. Pengamatan dilakukan terhadap uji fitokimia,total fenol, total asam, total vitamin C, total gula, pH, kelaruran, uji antiokidan. Kombucha daun sirsak cair dan serbuk dapat meredam radikal bebas DPPH masing-masing sebesar 11,93 % dan 4,48 %. Kombucha daun sirsak cair mengandung golongan alkaloid, saponin, tannin, steroid, kadar total fenol sebesar 199,92 ppm, kadar vitamin C sebesar 0,85 (mg/100ml), total asam sebesar 0,435 % , nilai pH sebesar 4, total gula sebesar 0,045 ppm, dan larut sempurna. Kombucha daun sirsak serbuk mengandung golongan saponin, tannin, kadar total fenol sebesar 198,78 ppm, kadar vitamin C sebesar 0,73 (mg/100ml), total asam sebesar 0,390 %, nilai pH sebesar 4, total gula sebesar 0,028 ppm, dan persentase kelarutan sebesar 99,87%. Kombucha daun sirsak memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan kombucha daun sirsak serbuk.
BUKU AJAR MATA KULIAH BAKTERIOLOGI DASAR
EVALUASI WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP BERDASARKAN KEPMENKES RI NOMOR 129/MENKES/SK/II/2008 PADA PASIEN BPJS DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RS SENTOSA BOGOR
Waktu tunggu merupakan salah satu standar pelayanan minimal yang harus di evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan atau obat racikan adalah tenggang waktu mulai dari pasien menyerahkan resep sampai dengan obat diberikan dengan standar waktu menurut Kepmenkes dengan rata-rata waktu tunggu obat racikan ≤ 60 menit, dan waktu tunggu obat non racikan ≤ 30 menit.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik resep, profil waktu tunggu dan evaluasi waktu tunggu berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 129/Menkes/SK/II/2008. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan menggunakan survey pendekatan prospektif. Pada penelitian ini digunakan sampel sebanyak 98 lembar resep yang terdiri dari 68 lembar resep obat non racikan dan 30 lembar resep obat racikan dari total 8 poliklinik, dengan persentase non racikan 69,4 % dan resep racikan 30.6 %. Gambaran karaketistik resep pada masing-masing poli menunjukan resep non racikan terbanyak berada pada poli kandungan dengan jumlah resep sebanyak 22,10 % dan resep racikan terbanyak berada pada poli anak sebanyak 46,70 %. Profil waktu tunggu resep berdasarkan poli pada resep non racikan tercepat poli bedah dengan rata-rata 8 menit dan terlama pada resep poli syaraf 26 menit. Sedangkan pada resep racikan waktu tunggu tercepat pada poli bedah dengan rata-rata 19 menit dan waktu tunggu terlama pada poli THT dengan waktu tunggu 35 menit. Evaluasi kesesuaian rata-rata waktu tunggu resep obat non racikan 18 menit dan untuk obat racikan 27,3 menit dinyatakan sesuai dengan standar Kepmenkes RI nomor 129/Menkes/SK/II/2008. Persentase kesuaian pada resep non racikan yaitu 95.58 % dan pada resep racikan yaitu 100%.
ANALISA TINGKAT.KEPATUHAN.PASIEN.HIPERTENSI TERHADAP.PENGGUNAAN.OBAT.ANTIHIPERTENSI.DI lNSTALASI.POLIKLINIK.RAWAT.JALAN.RUMAH.SAKIT SENTOSA.BOGOR
Hipertensi sering disebut sebagai silent killer. Analisa penggunaan obat antihipertensi untuk mengetahui kepatuhan penderita hipertensi terhadap penggunaan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sosiodemografi pasien hipertensi dan tingkat kepatuhan pasien hipertensi serta faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi cross sectional. menggunakan data primer secara prospektif dengan kuesioner kepatuhan MMAS-8. Hasil penelitian terhadap 68 responden berdasarkan data sosiodemografi yaitu jenis kelamin perempuan (51,5%), usia 46-55 tahun (36,8%), pendidikan terakhir SD (35,3%) dan pekerjaan ibu rumah tangga (44,1%). Hasil kuesioner MMAS-8 sebanyak 46 responden (67,6%) memiliki kepatuhan sedang, sebanyak 21 responden (30,9%) memiliki kepatuhan tinggi dan 1 responden (1,5%) memiliki kepatuhan rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan responden yaitu lupa meminum semua obat antihipertensi kemarin, responden terkadang lupa meminum obat antihipertensi yang diberikan oleh dokter dan selama 2 minggu terakhir terkadang tidak meminum obat antihipertensi.
POTENSI ANTIOKSIDAN BAKTERI ENDOFIT DARI TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai penghasil senyawa antioksidan. Bakteri endofit yang diisolasi dari tanaman kakao diduga dapat menghasilkan metabolit sekunder yang sama dengan tanaman inangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya senyawa antioksidan dari bakteri endofit tanaman kakao dengan menggunakan metode ABTS. Pada penelitian ini, uji aktivitas antioksidan dilakukan secara kualitatif menggunakan metode DPPH dan secara kuantitatif dengan metode ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 bakteri endofit yang diuji, diperoleh 2 isolat yang menunjukkan adanya aktivitas antioksidan secara kuantitatif. Isolat bakteri endofit tersebut adalah CGK DT 1 dengan nilai IC50 sebesar 51,36 ppm, CGK DM 6 dengan nilai IC50 sebesar 295.42 ppm dan trolox sebagai kontrol positif sebesar 4,04 ppm. Ekstrak etil asetat isolat CGK DT 1 selanjutnya dipilih untuk pengujian analisis GC-MS. Berdasarkan hasil analisis GC-MS, senyawa yang terkandung dalam ekstrak etil asetat fraksi II isolat CGK DT 1 diduga adalah senyawa 1-Heptacosanol dengan persentasi kemiripan 95% dan luas area yang 8,99%. Senyawa ini diduga mempunyai aktivitas antioksidan.