Sebanyak 26 item atau buku ditemukan

Aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol 70% tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 539 Karies gigi adalah suatu proses patologis berupa interaksi yang terjadi di dalam mulut karena ada faktor yang terlibat yaitu bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis merupakan tanaman obat yang memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri tunggal serta kombinasi ekstrak etanol 70% serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis terhadap bakteri Streptococcus mutans. Tanaman serai wangi diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, sedangkan buah jeruk nipis diperas secara manual. Sampel ekstrak kental serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis dilakukan penapisan fitokimia dan sampel tunggal serta kombinasinya diuji aktivitas antibakteri secara in vitro menggunakan metode difusi cakram. Adanya aktivitas antibakteri ditandai dengan terbentuknya zona hambat disekitar sampel uji. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis masing-masing mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Konsentrasi 60% merupakan konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis tunggal dengan diameter zona hambat sebesar 14,71 mm dan 11,22 mm. Kombinasi ekstrak serai wangi dan air perasan jeruk nipis dengan perbandingan (3:1) adalah kombinasi terbaik dengan diameter zona hambat sebesar 15,77 mm. Maka kombinasi dengan konsentrasi 60% pada perbandingan (3:1) lebih baik dari masing-masing tunggal konsentrasi 60%. Ekstrak serai wangi dan air perasan buah jeruk nipis memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro terhadap bakteri Streptococcus mutans.

Aktivitas Analgesik kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun ranti (Solanum americanum Mill) terhadap mencit putih jantan yang diinduksi asam asetat

No. 537 Nyeri merupakan masalah umum yang sering dirasakan oleh masyarakat sehingga masyarakat berupaya mencari pereda rasa nyeri (analgesik). Penggunaan obat analgesik memang diakui masyarakat dapat menghilangkan rasa nyeri, namun penggunaan dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan efek samping sehingga masyarakat mulai beralih menggunakan tanaman obat sebagai alternatif pengobatannya. Daun kersen dan daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kombinasi infusa daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun ranti (Solanum americanum Mill.) terhadap mencit putih jantan (Deutschen Denken Yoken) yang diinduksi asam asetat. Kandungan senyawa kimia daun ditetapkan dengan uji Fitokimia, konsentrasi masing-masing infusa daun kersen dan daun ranti yang digunakan adalah 4 % dan konsentrasi kombinasi infusanya di uji dalam perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1. Mencit putih jantan yang digunakan sebanyak 28 ekor yang dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan. Penurunan nyeri pada mencit ditetapkan dengan metode geliat Writhing. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa daun kersen pada uji fitokimia mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin sedangkan pada daun ranti mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Hasil yang diperoleh menunjukkan efek analgesik dari kontrol positif, Infusa daun kersen [4%], Infusa daun ranti [4%], kombinasi infusa 1:1, kombinasi infusa 1:3 dan kombinasi infusa 3:1 berturut-turut sebesar sebesar 64,97 %, 59,35 %, 56,95 %, 27,67 %, 57,35 % dan 49,59 %. Infusa daun kersen [4%] memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan kontrol positif asam mefenamat, sedangkan untuk kombinasinya pada perbandingan 1:3 hasilnya tidak berbeda nyata dengan infusa daun kersen [4%].

Formulasi sediaan gel facial wash ekstrak etanol 70% daun pare (Momordica charantia L) dan uji aktivitas terhadap Staphylococcus epidermidis

No. 495 Gel Facial Wash adalah pembersih wajah menggunakan sabun wajah merupakan langkah awal mencegah terjadinya acne. Sabun merupakan sulfaktan yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan tegangan antarmuka, serta memiliki sifat penyabunan, dispersibilitas, emulsifikasi dan pembersih. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan ekstrak etanol 70% daun pare yang optimal dan dapat digunakan sebagai gel facial wash yang dapat memberikan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidemidis dan memiliki stabilitas yang baik. Penelitian ini diawali dengan maserasi simplisia daun pare tua dengan etanol 70%. Ekstrak yang diperoleh diuji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa dalam daun pare yaitu senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid dan streoid. Sediaan Gel Facial Wash dibuat dengan konsentrasi 0,05%, 7,5%, dan 20%. Evaluasi fisik dilakukan antara lain uji organoleptik, uji ketahanan busa, uji daya sebar, pH, uji viskositas, dan uji cycling test. Hasil penelitian menujukan bahwa ekstrak etanol 70% daun pare memiliki aktivitas antibakteri terhdap Staphlococcus epidermidis. Sediaan Gel Facial Wash dengan kosentrasi 20% memiliki nilai ph 5,5-6, viskositas 4490 Cp, daya sebar 6,3 cm, ketahanan busa 9 cm, dan DDH 16,1 mm.

Uji aktivitas antibakteri sediaan obat kumur ekstrak etanol wungu (Graptophyllum pictum L) terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 453 Karies gigi merupakan penyakit infeksi mulut yang paling umum. Di Indonesia, prevalensi penyakit karies gigi menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utamanya adalah bakteri Streptococcus mutans. Daun wungu (Graptophyllum pictum) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang mengandung flavonoid yang memiliki efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun wungu terhadap Streptococcus mutans yang dibuat dalam sediaan obat kumur untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). metodenya adalah daun wungu dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak tersebut dibuat obat kumur dengan 4 konsentrasi formulasi yang berbeda dan diuji daya hambat dengan metode cakram cara gores. Kemudian formula dengan daya hambat terbaik dilakukan uji dilusi menggunakan beberapa konsentrasi yaitu 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56%, 0,78%, 0,39 dan 0,195% dalam media Nutrient Broth. Setelah itu dilakukan penanaman ulang pada media Nutrient Agar untuk memastikan ada tidaknya pertumbuhan. Hasilnya adalah Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditemukan pada tabung 7 (1,56%) sementara Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ditemukan pada tabung ke-6 (3,125%) yang ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan Streptococcus mutans pada media. Obat kumur konsentrasi 10% memiliki aktivitas antibakteri dengan Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) sebesar 1,56% dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) sebesar 3,125% terhadap Streptococcus mutans.